BAB I PENDAHULUAN
B. Status Hukum Setoran BPHTB Yang Dikembalikan Kepada
BPHTB Akibat Surat Walikota Pematangsiantar Nomor
975/007/I/DPPKAD/2011, tanggal 04 Januari 2011 Sebagai Dasar Pemungutan BPHTB Yang Bertentangan Dengan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Adalah Hak Wajib Pajak Bukan Utang ( Kewajiban ) Wajib Pajak.
Pemungutan BPHTB yang dilakukan oleh Surat Walikota Pematangsiantar tanpa Peraturan Daerah adalah bertentangan dengan peraturan perundang-undangan khususnya Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah karena itu pungutan tersebut adalah pungutan liar atau ilegal, karena Walikota Pematangsiantar tidak memiliki dasar hukum untuk melakukan pemungutan BPHTB.
Karena Peraturan Daerah belum terbit maka demi hukum kewajiban wajib pajak BPHTB belum lahir dan karenanya wajib pajak BPHTB belum terutang pajak.
Menurut Rochmat Soemitro, utang pajak adalah utang yang timbulnya secara khusus karena negara (kreditur) terikat dan tidak dapat memilih secara bebas siapa yang akan dijadikan debiturnya seperti dalam hukum perdata. Hal ini terjadi karena utang pajak lahir karena peraturan perundang-undangan.84
Mengenai cara dan lahirnya utang pajak dikenal dua ajaran yakni ajaran formal dan ajaran material. Menurut ajaran formal, utang pajak timbul karena peraturan perundang-undangan, dalam hal ini lahirnya utang pajak menurut ajaran formal terjadi karena peraturan perundang-undangan. Utang pajak menurut ajaran material timbul dengan sendirinya karena pada saat yang ditentukan oleh peraturan
perundang-undangan sekaligus dipenuhi syarat subjek dan syarat objek. Dengan sendirinya artinya bahwa untuk timbulnya utang pajak itu tidak diperlukan campur tangan atau perbuatan dari pejabat pajak asal syarat-syarat yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan telah dipenuhi.85
Menurut Pasal 90 ayat 1 Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retrbusi Daerah saat terutangnya pajak BPHTB ditetapkan :
1. Jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; 2. Tukar menukar adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; 3. Hibah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;
4. Hibah wasiat adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;
5. Waris adalah sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke Kantor Pertanahan;
6. Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;
7. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;
8. Putusan hakim adalah sejak tanggal putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap;
9. Pemberian hak baru atas Tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah sejak tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak;
10. Pemberian hak baru diluar pelepasan hak adalah sejak tanggal diterbitkannya surat keputusan pemberian hak;
11. Penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; 12. Peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; 13. Pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; 14. Hadiah adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta; dan 15. Lelang adalah sejak tanggal penunjukan pemenang lelang.
Kemudian dalam Pasal 90 ayat 2 Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retrbusi Daerah Pajak ditentukan bahwa BPHTB yang terutang harus dilunasi pada saat terjadinya perolehan hak.
Menurut keterangan informan dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara II Pematangsiantar, oleh karena Peraturan Daerah tentang BPHTB belum terbit maka terjadilah kevacuman hukum artinya pada saat terjadinya transaksi atau pada saat perbuatan hukum (jual beli, hibah dan lain-lain) dilakukan tidak ada dasar hukum pemungutan BPHTB di Kota Pematangsiantar, karena itu wajib pajak yang melakukan transaksi atau yang melakukan perbuatan hukum (jual beli, hibah dan lain-lain) tidak terhutang pajak dan kewajiban pajak BPHTB dianggap belum lahir atau timbul dan oleh karena itu wajib pajak tidak mempunyai kewajiban untuk membayar BPHTB dan pajak tersebut tidak dapat ditagih kembali meskipun belum melampaui kedaluwarsa pajak selama 5 (lima) tahun terhitung sejak terutangnya
pajak, karena wajib pajak tidak dalam keadaan terhutang pajak dan karenanya tidak dapat ditagih.86
Selanjutnya menurut informan dari Bagian Pelayanan Kantor Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Pematangsiantar, pengembalian BPHTB tidak dapat ditagih kembali sampai kapanpun karena pemungutan BPHTB yang dipungut berdasarkan Surat Walikota Pematangsiantar yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan tersebut bukan bersifat utang pajak sehingga tidak dapat ditagih kembali dan pada saat dikembalikan telah dilengkapi dengan Surat Perintah Pencairan Dana ( SP2D ) yang dikeluarkan bagian Perbendaharaan Daerah Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kota Pematangsiantar.87
Hal ini sejalan dengan Pasal 23 A Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 menentukan bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan peraturan perundang-undangan dan ketentuan Pasal 95 ayat 1 dan ayat 2 Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menyebutkan bahwa pajak BPHTB harus ditetapkan dengan peraturan daerah dan peraturan daerah tentang pajak BPHTB tidak dapat berlaku surut serta ketentuan Surat Menteri Keuangan Republik Indonesia, Nomor S-632/MK.07/2010, tanggal 30 November 2010 yang ditujukan kepada
86
Hasil wawancara dengan Bapak Luhut Sinaga, SH, MH, Kepala Sub Bagian Bantuan Hukum dan Pelaporan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara II Pematangsiantar
87
Hasil wawancara dengan Ibu Sri Rahayu Pegawai Bagian Pelayanan Kantor Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Pematangsiantar
seluruh Gubernur dan Bupati / Walikota di seluruh Indonesia perihal Percepatan Penyusunan Peraturan Daerah tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang antara lain menyatakan :
Sehubungan dengan pelaksanaan pemungutan BPHTB oleh daerah mulai tanggal 1 Januari 2011, sebagaimana diatur dalam UU 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, kami meminta perhatian Saudara akan hal-hal sebagai berikut :
1. Berdasarkan Pasal 180 angka 6 UU 28/2009, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat memungut BPHTB mulai tanggal 1 Januari 2011, dengan menerbitkan Peraturan Daerah.
2. Sesuai Pasal 87 ayat 4 UU 28/2009, Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ( NPOPTKP ) ditetapkan paling rendah sebesar Rp. 60.000.000,-. Dengan ketentuan tersebut penerimaan BPHTB untuk jangka pendek akan mengalami penurunan. Namun seiring dengan pertumbuhan dan pembangunan perekonomian daerah, nilai jual objek pajak berupa tanah dan/atau bangunan akan turut berkembang sehingga untuk jangka menengah dan panjang penerimaan BPHTB akan semakin meningkat.
3. Mengingat masa transisi pengalihan BPHTB yang semakin pendek, kami mengharapkan Pemerintah Kabupaten / Kota dapat segera mempercepat penyusunan Perda sebagai dasar pemungutan BPHTB.
4. Kepada para Gubernur kami harapkan dapat mendukung upaya optimalisasi BPHTB oleh Kabupaten / Kota dengan mempercepat proses evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten / Kota tentang BPHTB agar pada tahun 2011 pemungutan BPHTB dapat dilaksanakan.
5. Dalam hal Pemerintah Daerah tidak menetapkan Perda tentang BPHTB, maka terhadap peralihan hak atas tanah dan/atau bangunan di wilayah tersebut tidak dapat dipungut BPHTB. Dengan demikian persyaratan lunas bayar BPHTB yang digunakan untuk memproses penetapan akta kepemilikan tanah dan / atau bangunan menjadi gugur. Namun demikian perlu kami sampaikan pula bahwa dengan tidak ditetapkannya Perda BPHTB, maka Pemerintah Kabupaten / Kota akan kehilangan data dan informasi terkait dengan peralihan hak atas tanah dan / atau bangunan.
dan juga Surat Menteri Keuangan Republik Indonesia, Nomor S-690/MK.07/2010, tanggal 27 Desember 2010 yang ditujukan kepada seluruh Bupati / Walikota di seluruh Indonesia perihal Pemungutan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang antara lain menyatakan :
Menyusul surat kami No. 632/MK.07/2010 tanggal 30 November 2010 tentang Percepatan Penyusunan Peraturan Daerah tentang BPHTB, dapat kami sampaikan sebagai berikut :
1. Berdasarkan Pasal 180 angka 6 UU 28/2009, Pemerintahan Daerah dapat memungut BPHTB mulai tanggal 1 Januari 2011, dengan menerbitkan Peraturan Daerah (Perda). Sejak tanggal tersebut, Pemerintah Pusat tidak lagi memungut dan menyalurkan dana bagi hasil (DBH) BPHTB kepada Pemerintah Daerah.
2. Dalam hal Pemerintah Daerah tidak menetapkan Perda tentang BPHTB, maka terhadap peralihan hak atas tanah dan/ atau bangunan di wilayah tersebut tidak dapat dipungut BPHTB. Selain akan kehilangan data dan informasi terkait dengan kepemilikan tanah dan/ atau bangunan, Pemerintah Daerah tidak akan memperoleh lagi Dana Bagi Hasil BPHTB, yang berdasarkan data tahun 2009, realisasinya dari wilayah saudara adalah sebesar tercantum pada daftar lampiran.
Dari kedua Surat Menteri Keuangan tersebut di atas dinyatakan jika pemerintah daerah kota / kabupaten sampai dengan tanggal 31 Desember 2010 tidak menetapkan peraturan daerah tentang BPHTB maka terhadap peralihan hak atas tanah dan atau bangunan di daerah kota / kabupaten tersebut tidak dapat dipungut BPHTB sampai dengan ditetapkannya peraturan daerah. Dengan demikian persyaratan lunas bayar BPHTB yang digunakan untuk memproses penetapan akta kepemilikan tanah dan / atau bangunan menjadi gugur.
Pasal 180 angka 6 Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menyebutkan bahwa Undang-undang Nomor 21 tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 21 tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan hanya berlaku paling lama 1 (satu) tahun sejak diberlakukannya Undang- undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mulai berlaku 1 Januari 2010, oleh karena itu terhitung sejak tanggal 1 Januari 2011 Undang-undang Nomor 21 tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 21 tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan tidak berlaku lagi dan seiring dengan itu pula pemungutan BPHTB tidak lagi menjadi pajak pemerintah pusat dan dialihkan menjadi pajak pemerintah daerah kota / kabupaten dengan ketentuan pemerintah kota / kabupaten hanya dapat memungut BPHTB mulai tanggal 1 Januari 2011 dengan terlebih dahulu menerbitkan peraturan daerah pemerintah kota / kabupaten masing- masing.
Sehubungan dengan itu Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan Suratnya Nomor S-632/MK.07/2010, tanggal 30 November 2010 yang ditujukan kepada seluruh Gubernur dan Bupati / Walikota di seluruh Indonesia perihal
Percepatan Penyusunan Peraturan Daerah tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) telah meminta kepada seluruh pemerintah kota / kabupaten untuk mempercepat penyusunan peraturan daerah sebagai dasar pemungutan BPHTB.
Jika pemerintah daerah kota / kabupaten sampai dengan tanggal 31 Desember 2010 tidak menetapkan peraturan daerah tentang BPHTB maka terhadap peralihan hak atas tanah dan atau bangunan di daerah kota / kabupaten tersebut tidak dapat dipungut BPHTB sampai dengan ditetapkannya peraturan daerah. Dengan demikian persyaratan lunas bayar BPHTB yang digunakan untuk memproses penetapan akta kepemilikan tanah dan / atau bangunan menjadi gugur.
Pemerintah Kota Pematangsiantar sampai dengan tanggal 31 Desember 2010 belum menerbitkan peraturan daerah Kota Pematangsiantar tentang Pemungutan BPHTB, padahal menurut Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 186/PMK.07/2010, Nomor 53 Tahun 2010 tentang Tahapan Persiapan Pengalihan Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan Sebagai Pajak Daerah, batas waktu penyelesaian persiapan pengalihan kewenangan pemungutan BPHTB oleh Pemerintah Kota Pematangsiantar yang berkaitan dengan Peraturan Daerah ditetapkan paling lambat tanggal 31 Desember 2010, namun demikian Walikota Pematangsiantar justru mengeluarkan Surat Nomor 975/007/I/DPPKAD/2011, tanggal 4 Januari 2011, perihal Penyetoran Titipan BPHTB yang ditujukan kepada seluruh Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah di Kota Pematangsiantar agar mengarahkan wajib pajak BPHTB untuk menyetorkan BPHTB kepada Bendahara
Penerima Pajak Daerah pada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kota Pematangsiantar menunggu selesainya pembahasan Ranperda Pajak Daerah tentang BPHTB oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pematangsiantar untuk ditetapkan sebagai Perda BPHTB Kota Pematangsiantar.
Surat Walikota Pematangsiantar Nomor 975/007/I/DPPKAD/2011, tanggal 4 Januari 2011, perihal Penyetoran Titipan BPHTB tersebut telah melanggar peraturan perundang-undangan dan karenanya setoran BPHTB yang dikembalikan kepada wajib pajak adalah hak dari wajib pajak bukan kewajiban wajib pajak atau bukan utang pajak.
Menurut R. Santoso Brotodihardjo, sama halnya dengan perikatan perdata, utang pajak pada waktunya juga akan berakhir, berakhirnya utang pajak adalah karena pembayaran oleh wajib pajak, selain dengan pembayaran, cara lain berakhirnya atau hapusnya utang pajak adalah melalui pembebasan (kwijtschelding) dan atau penghapusan utang pajak. Pembebasan utang pajak adalah berakhirnya utang pajak atau hapusnya utang pajak bukan karena pembayaran oleh wajib pajak namun karena sebab-sebab tertentu yang oleh peraturan perundang-undangan tidak mengenakan atau meniadakan pajak terhadap wajib pajak, oleh karena itu fiskus sebagai instansi yang harus melaksanakan pemungutan pajak terpaksa meniadakan utang pajak itu dengan jalan pembebasan (kwijtschelding). Kemungkinan untuk
pembebasan ini harus dimuat dengan nyata-nyata dalam peraturan perundang- undangan yang bersangkutan.88
Surat Menteri Keuangan Republik Indonesia, Nomor S-632/MK.07/2010, tanggal 30 November 2010 yang ditujukan kepada seluruh Gubernur dan Bupati / Walikota di seluruh Indonesia perihal Percepatan Penyusunan Peraturan Daerah tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Surat Menteri Keuangan Republik Indonesia, Nomor S-690/MK.07/2010, tanggal 27 Desember 2010 yang ditujukan kepada seluruh Bupati / Walikota di seluruh Indonesia perihal Pemungutan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), secara tegas dan jelas serta nyata-nyata menyatakan membebaskan wajib pajak dari kewajiban untuk membayar utang pajak BPHTB manakala peraturan daerah belum diterbitkan, oleh karena itu status hukum setoran BPHTB yang dikembalikan kepada wajib pajak bukan utang pajak dan karena itu pula tidak dapat ditagih kembali oleh siapapun dan sampai kapanpun.
Bila ditinjau dari segi hukum, pajak juga dapat disamakan dengan perikatan perdata, namun perikatan pajak berbeda dengan perikatan perdata. Dalam perikatan perdata timbulnya perikatan dapat terjadi karena perjanjian dan dapat terjadi pula karena undang-undang, sedangkan perikatan pajak adalah perikatan yang timbul karena undang-undang selain itu perikatan perdata dilingkupi oleh suasana hukum privat yang mengatur hubungan-hubungan hukum dari subyek-subyek yang sederajat,
88
sedangkan perikatan pajak dilingkupi oleh hukum publik di mana salah satu pihaknya adalah negara yang mempunyai kewenangan untuk memaksa. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam kaitan ini antara lain ialah mengenai saat timbulnya utang pajak itu sendiri.89
Menurut Rochmat Sumitro, utang pajak adalah utang yang timbulnya secara khusus karena negara (kreditur) terikat dan tidak dapat memilih secara bebas siapa yang akan dijadikan debiturnya, seperti dalam hukum perdata. Hal ini terjadi karena utang pajak lahir karena undang-undang.90
Mengenai cara dan saat lahirnya utang pajak dikenal adanya dua ajaran, yakni ajaran formal dan ajaran material. Untuk membicarakan hal ini, kiranya akan lebih mudah apabila terlebih dahulu dibicarakan lahirnya perikatan yang lahir karena undang-undang di dalam Hukum Perdata. Di dalam hal perikatan perdata berdasarkan Pasal 1352 KUHPerdata, perikatan yang timbul karena undang-undang dapat dibedakan menjadi dua yakni perikatan yang dilahirkan karena undang-undang saja dan perikatan yang dilahirkan karena undang-undang akibat perbuatan orang.
Subekti mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perikatan-perikatan yang lahir dari undang-undang saja ialah perikatan-perikatan yang timbul oleh karena hubungan kekeluargaan. Sedangkan perikatan yang lahir dari undang-undang karena
89
Y. Sri Pudyatmoko, op.cit, hal. 40.
90
perbuatan orang dapat dibedakan lagi menjadi dua yakni perbuatan yang tidak melanggar hukum dan perbuatan yang melanggar hukum.91
Utang pajak menurut ajaran material timbul dengan sendirinya karena pada saat yang ditentukan oleh undang-undang sekaligus dipenuhi syarat subyek dan syarat obyek. Yang dimaksud dengan sendirinya adalah bahwa untuk timbulnya utang pajak itu tidak diperlukan campur tangan atau perbuatan dari pejabat Pajak, asal syarat- syarat yang ditentukan oleh undang-undang telah dipenuhi. Sedangkan menurut ajaran formal, utang pajak timbul karena undang-undang pada saat dikeluarkan Surat Ketetapan Pajak oleh Direktur Jenderal Pajak. Dalam hal ini lahirnya utang pajak menurut ajaran formal terjadi karena undang-undang sebagai akibat perbuatan manusia, yakni perbuatan dari aparatur pajak untuk mengeluarkan Surat Ketetapan Pajak, Jadi selama belum ada Surat Ketetapan Pajak, maka belum ada utang pajak dan tidak akan dilakukan penagihan walaupun syarat subyek dan syarat obyek telah dipenuhi bersamaan. Dengan demikian, berdasarkan ajaran formal lebih mudah bagi wajib pajak untuk mengetahui kapan ia mempunyai utang pajak, karena selama belum ada Surat Ketetapan Pajak, maka belum ada utang pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak.92
Di dalam Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) misalnya, menurut ketentuan Undang-Undang tentang Pajak Bumi dan Bangunan, tahun pajak yang digunakan
91
Subekti,Pokok-pokok Hukum Perdata, PT.Internusa, Jakarta, 1984, hal. 132.
92
adalah jangka waktu satu tahun takwim (kalender masehi), di mana untuk saat yang menentukan pajak yang terutang adalah menurut keadaan obyek pajak pada tanggal 1 Januari. Dari ketentuan tersebut maka apakah seseorang akan dikenai pajak atau tidak, dan berapa besarnya, itu semua ditentukan oleh kondisi obyek pajak pada tanggal 1 Januari tahun pajak yang bersangkutan.
Perubahan-perubahan yang terjadi setelah tanggal 1 Januari terhadap obyek pajak yang bersangkutan tentunya tidak akan mempengaruhi pengenaan pajak untuk tahun pajak yang bersangkutan, dan apabila perubahan itu terjadi baru akan diperhatikan untuk tahun pajak berikutnya yakni pada tanggal 1 Januari tahun berikutnya. Apabila mengikuti ajaran material, maka dengan demikian timbulnya utang pajak adalah tanggal 1 Januari tersebut, yakni pada saat syarat subyek dan syarat obyek sudah dipenuhi. Akan tetapi, dalam Undang-undang tentang Pajak Bumi dan Bangunan ditentukan pula bahwa pajak yang terutang harus dilunasi selambat-lambatnya enam bulan sejak diterimanya Surat Pemberitahuan Pajak Terutang atau satu bulan sejak diterimanya Surat Ketetapan Pajak oleh wajib pajak. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut, Rochmat Soemitro berpendapat bahwa untuk Pajak Bumi dan Bangunan lebih condong untuk diterapkan ajaran formal.93
Dengan demikian, selama belum ada Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) atau Surat Ketetapan Pajak (SKP), maka tidak mungkin ada penagihan dan utang pajak. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Keputusan Administrasi yang
93
terwujud dalam SPPT maupun SKP itulah yang menimbulkan kewajiban pajak atau utang pajak.
Dalam kaitannya dengan pemungutan BPHTB tanpa melalui peraturan daerah di Kota Pematangsiantar, status hukum setoran BPHTB yang dikembalikan kepada wajib pajak karena dipungut berdasarkan Surat Walikota Pematangsiantar yang melanggar peraturan perundang-undangan baik menurut ajaran formal maupun ajaran material bukanlah utang pajak karena utang pajak belum lahir atau belum timbul disebabkan belum ada peraturan daerah maka belum ada utang pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak. Dengan demikian status hukum setoran BPHTB yang dikembalikan kepada wajib pajak karena dipungut berdasarkan Surat Walikota Pematangsiantar yang melanggar peraturan perundang-undangan adalah merupakan hak dan kepunyaan wajib pajak bukan utang pajak yang harus dibayar dan tidak dapat ditagih kembali.
C. Hapusnya Utang Pajak BPHTB Akibat Surat Walikota Pematangsiantar