• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM)

2.4.4 Tahapan Pelaksanaan PHBM

Dalam pelaksanaannya program PHBM memiliki beberapa tahapan, sebagai berikut:

1. Pengenalan program (sosialisasi).

2. Persiapan Prakondisi Sosial (PDP), pembentukan kelembagaan baik kelompok maupun forum.

3. Pelaksanaan program baik teknis maupun nonteknis (pemberdayaan masyarakat).

4. Pengembangan ekonomi kerakyatan. 5. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2011. Dengan mengambil lokasi penelitian di Desa Buniwangi Kabupaten Sukabumi.

3.2. Alat dan Objek Penelitian

Penelitian ini memerlukan beberapa alat bantu, yaitu: alat perekam, kamera dan kuisioner yang akan dibagikan kepada responden. Sedangkan objek penelitian adalah Perum Perhutani KPH Sukabumi dan penggarap areal PHBM.

3.3. Jenis dan Sumber Data

Sumber data yang digunakan untuk melakukan penelitian ini ada 2 (dua) jenis data yaitu:

1. Data primer adalah data yang diambil langsung dari masyarakat sebagai responden.

2. Data sekunder adalah data yang berasal atau yang didapatkan dari instansi atau lembaga yang terkait, meliputi: keadaan fisik, sosial ekonomi masyarakat dan data lain yang berhubungan dengan objek penelitian.

3.4. Metode Pengambilan Contoh

Pengambilan contoh pada penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu:

1. Pengambilan contoh desa yang akan dijadikan lokasi penelitian, didasarkan pada desa yang pernah mengalami kerusakan sebelum adanya program PHBM, serta ada atau tidaknya keterlibatan masyarakat dalam PHBM.

2. Pemilihan responden peserta PHBM dilakukan secara acak agar keterwakilan pendapat secara keseluruhan bisa didapatkan.

3.5. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan beberapa teknik, yaitu: 1. Metode Angket.

2. Metode Pengamatan Langsung (observasi). 3. Metode Wawancara.

4. Metode Dokumentasi.

3.6. Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Data yang diperoleh disusun berdasarkan golongan dan kategori. Selanjutnya diinterpretasikan dengan menjelaskan gejala-gejala yang ada dan terus mencari keterkaitan antara gejala yang telah ditemukan di lapangan.

Metode deskriptif menggunakan rumus:

Persentase = x 100%

Untuk mencapai tulisan akhir harus dilakukan evaluasi sehingga menjadi kesimpulan sebagai hasil penelitian akhir. Dengan demikian fenomena yang kompleks akan dapat di deskripsikan dan dijelaskan sampai mendekati kenyataan.

Jumlah responden Jumlah seluruh

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Hasil penelitian ini diawali dengan menggambarkan kondisi umum lokasi penelitian. Gambaran umum mengenai lokasi penelitian diungkapkan guna memberikan deskripsi yang jelas mengenai keadaan lokasi penelitian. Penelitian dilaksanakan di wilayah RPH Buniwangi BKPH Pelabuhan Ratu KPH Sukabumi di Desa Buniwangi. Secara administratif Desa Buniwangi masuk wilayah Kecamatan Pelabuhan Ratu dan Kabupaten Sukabumi. Desa Buniwangi secara geografis letaknya dikelilingi oleh kawasan hutan lindung dan hutan yang dikelola oleh pihak Perum Perhutani KPH Sukabumi. Desa Buniwangi sebelah utara berbatasan dengan Desa Gandasoli, sebelah timur berbatasan dengan Desa Cikadu, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Citepus dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Cibodas.

Pada tahun 2010 jumlah penduduk Desa Buniwangi tercatat sejumlah 9454 jiwa. Terdiri dari laki-laki 4798 orang dan perempuan 4656 orang. Mayoritas masyarakat di Desa Buniwangi bermata pencaharian sebagai buruh tani. Dari data yang diperoleh sebanyak 1300 orang bermata pencaharian sebagai buruh tani, 1091 sebagai pedagang, 252 orang petani, 131 orang dalam pertukangan dan 42 orang sebagai pegawai negeri sipil.

Sebanyak 2359 orang dari penduduk Desa Buniwangi merupakan tamatan sekolah dasar. Sedangkan 1730 orang tamatan SLTP, 1760 orang tamatan SLTA, 42 orang tamatan D1-D3 dan 22 orang merupakan sarjana. Rendahnya tingkat pendidikan di Desa Buniwangi ditandai dengan mayoritas penduduknya hanya merupakan lulusan sekolah dasar.

Dalam nota kesepahaman kawasan hutan yang direhabilitasi dengan model PHBM di RPH Buniwangi seluas 54,1 ha, peserta bearasal dari kedua desa tersebut. Kenyataanya kawasan hutan yang digarap masyarakat mencapai luas lebih dari 1000 ha. Pada areal yang belum ada nota kesepahaman, beberapa petani mengikuti pola PHBM dengan melakukan rehabilitasi hutan secara swadaya tetapi ada juga yang menunggu tersedianya bibit tanaman pohon hutan dari Perhutani.

4.2 Identitas Responden

Responden yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 50 orang, terdiri dari kelompok peserta PHBM (kelompok A) 30 orang dan kelompok bukan peserta PHBM (kelompok B) 20 orang. Mata pencaharian responden umumnya masih tergantung pada sektor pertanian, baik sebagai petani maupun buruh atau pedagang hasil-hasil pertanian

Untuk peserta PHBM, variasi penguasaan lahan garapan antara 0,25 , 0.5 dan diatas 0,5 ha. Luasan lahan garapan ini dibandingkan dengan ketentuan yang tercantum dalam nota kesepahaman yaitu 0,25 ha untuk setiap peserta.

Tabel 1 Karakteristik responden

N0 Uraian Kelompok A Kelompok B Rata-rata

1 2 3 4 5 Rata-rata umur

Jumlah anggota keluarga Jumlah anak

Mata pencaharian pokok (%)  Tani  Buruh  Dagang  Lain-lain Mata pencaharian sampingan (%)  Tani  Lain-lain  Tidak ada 44,75 4,50 3,75 43,75 40,63 12,50 3,12 40,63 25,01 34,56 39,20 5,00 2,50 22,22 66,67 5,56 5,55 22,22 13,89 63,89 41,975 4,75 3,125 32,98 53,65 9,03 4,33 31,41 19,45 49,12

Sumber : Data primer

4.3 Konsep Pola Pengelolaan PHBM

Sebagai sebuah pola pengelolaan hutan, PHBM memiliki perbedaan yang cukup mendasar dibandingkan dengan social forestry. PHBM dicanangkan oleh Perum Perhutani sebagai tonggak transformasi Perum Perhutani menuju perubahan. Pengelolaan hutan Perum Perhutani tidak lagi berorientasi kepada

produk kayu saja, melainkan kepada semua komponen sumberdaya hutan. Kemudian pola manajemen yang dulunya state based forest management berubah menjadi community based forest management, artinya proses pengelolaan hutan Perum Perhutani dilaksanakan bersama masyarakat dengan prinsip saling berbagi, kesetaraan dan keterbukaan. Prinsip berbagi yang dimaksud adalah pembagian peran, tanggungjawab dan faktor produksi bahkan hingga pembagiaan hasil.

Pengelolaan ruang yang semula diperuntukan bagi tanaman masyarakat hanya seluas 3m2 (jarak tanam 3m x 1m), sekarang dengan adanya pola PHBM jarak tanam menjadi 12m 2 (jarak tanam 6m x 2m). Masyarakat memiliki keleluasaan dalam mengelola ruang tanaman setelah adanya PHBM.

Pengelolaan waktu yang semula hanya 3 sampai 4 tahun saja namun pada pola PHBM masyarakat dapat melakukan pengelolaan hutan hingga satu daur umur tanaman pokok. Sebagai ilustrasi dapat dicontohkan, jika tanaman pokok ditebang pada umur 30 tahun, maka selama 30 tahun itu juga masyarakat masih diperkenankan mengelola hutan.

Pengelolaan produk merupakan bentuk kegiatan dalam PHBM yang tidak hanya berorientasi produk kayu namun juga mengembangkan berbagai jenis produk selain kayu. Melalui kegiatan PHBM seluruh sumberdaya dan potensi hutan termasuk jasa lingkungan dapat dikerjasamakan.

Pengelolaan peran yaitu dalam kegiatan PHBM masyarakat memiliki peran sebagai pelaku utama disamping perum perhutani. Masyarakat memiliki peran yang sangat besar mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi hingga proses permanenan hasil. Hal ini untuk meningkatkan kualitas kerjasama dalam melaksanakan pengelolaan hutan.

Pengelolaan pembagian hasil yaitu mekanisme pembagian keuntungan dari proses kegiatan PHBM. Besarnya nilai pembagian hasil dalam pelaksanaan kegiatan PHBM dituangkan dalam Surat Keputusan Direksi Perum Perhutani Nomer 001 Tahun 2002. Dalam surat keputusan ini, masyarakat akan memperoleh pembagian hasil dari tanaman pokok sebesar 25%, sementara Perum Perhutani memperoleh sebesar 75%.

4.4. Proses Implementasi PHBM di Desa Buniwangi

Pada bulan Oktober tahun 2001 rancangan mengenai pola PHBM mulai diimplementasikan di Kabupaten Sukabumi yang ditandai dengan dilakukannya penandatanganan Surat Perjanjian Kesepakatan (SPK) pengelolaan hutan antara Pemerintah Desa Buniwangi dengan Perum Perhutani KPH Sukabumi. Kemudian Surat Perjanjian Kesepakatan (SPK) tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan dilakukannya penandatanganan Surat Perjanjan Kerjasama (SPKSS) pada bulan November 2001 antara Kelompok Tani Hutan dengan Perum Perhutani. Perjanjian ini menyangkut perjanjian obyek pengelolaan kawasan hutan seluas 20 Ha yg berlokasi di petak 8b blok pasir bilik RPH Buniwangi.

Tabel 2 Areal Perhutani yang direhabilitasi melalui Program PHBM

RPH Desa Petak Lokasi Luas (ha) KTH Anggota Nota Kesepahaman Buniwangi Buniwangi Sampora 8b 50 49a/c 48 41 42 43 44 Buniwangi Buniwangi Buniwangi Buniwangi Sampora Sampora Sampora Sampora 21,8 32,3 45,2 49,5 190 106 59 101 3 4 4 3 4 4 3 4 Buniwangi Buniwangi Buniwangi Buniwangi Sampora Sampora Sampora Sampora Sudah Sudah Belum Belum Belum Belum Belum Belum Sumber : KPH Sukabumi

Kegiatan sosialisasi PHBM yang dilakukan di Kabupaten Sukabumi dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan atau studi banding. Kegiatan ini bermanfaat untuk memberikan wawasan dan pengetahuan secara komprehensif kepada KTH mengenai pelaksanaan PHBM. Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan oleh pengelola hutan, pihak lain yang berkepentingan dan Dinas atau Instansi lainnya yang akan melaksanakan PHBM dan dikoordinasikan oleh Dinas Kabupaten Sukabumi.

Sosialisasi juga dilakukan dalam tubuh Perhutani sendiri dan dilakukan mulai dari tingkat Unit sampai tingkat terendah yaitu Resort Polisi Hutan (RPH) dan dilakukan oleh pihak Perhutani sendiri sebagai penagggungjawab. Sosialisasi ini bertujuan untuk membangun kesadaran dan pemahaman para aparat Perhutani mengenai Program PHBM.

Tabel 3 Lokasi sosialisasi PHBM

Lokasi Peserta PHBM Persentase (%)

Di sekitar hutan Di Balai Desa Di RT/RW setempat Di Kantor Perhutani 4 20 3 3 13,33 66,67 10,00 10,00

Sumber : Data primer

Balai desa merupakan lokasi yang paling baik untuk melakukan sosialisasi kegiatan PHBM. Karena hasil dari wawancara kepada peserta sebagian besar peserta PHBM mengikuti sosialisasi kegiatan PHBM di Balai Desa sebanyak 20 orang atau 66,67 %, mengikuti kegiatan PHBM di sekitar hutan sebanyak 4 orang atau 13,33 %, mengikuti pengenalan kegiatan PHBM di Rt/Rw setempat sebanyak 3 orang atau 10 % dan mengikuti pengenalan program di kantor perhutani sebanyak 3 orang atau sebanyak 10%.

Tabel 4 Kegiataan Pengelolaan PHBM

Kegiatan Peserta PHBM Persentase (%)

Pembersihan lahan Pemasangan ajir Penanaman pohon Penanaman padi Penanaman palawija Penanaman padi-palawija Penanaman buah-buahan Penyiangan Pemupukan Penyemprotan Pengawasan Pemanenan (tengkulak) Pemanenan (penggarap) Pemanenan tanaman pokok

13 30 30 12 16 02 30 30 30 30 30 20 10 0 43,3 100,0 100,0 40,0 53,3 6,7 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 66,7 33,3 0,0

Persiapan lahan merupakan usaha petani dalam menyiapkan lokasi untuk kegiatan penanaman. Pembersihan lahan adalah kegiatan membersihkan lahan dari semak belukar, gulma, dan liana yang berpengaruh negatif terhadap bibit tanaman yang hendak mereka tanam. Metode yang petani lakukan adalah dengan membersihkan lahan secara manual menggunakan arit atau parang yang digunakan untuk memangkas semak dan cangkul untuk membersihkan rumput dan liana yang menjalar di permukaan tanah serta membersihkan akar-akar semak. Kriteria lahan bersih menurut petani adalah jika lahan sudah terbuka seluruhnya dari semak hingga ke akar-akarnya. Alasan petani melakukan pembersihan lahan agar lahan menjadi bersih dan pertumbuhan bibit menjadi baik dan sesuai dengan yang diharapkan. Sedangkan 56,7% peserta PHBM tidak melakukan kegiatan pembersihan lahan tersebut, karena lahan tersebut telah dibersihkan ketika terjadi penyerobotan lahan.

Pembuatan jarak tanam berbarengan dengan kegiatan pemasangan ajir, tujuan pemasangan ajir adalah sebagai penanda letak lubang tanam yang akan dibuat dan agar bibit yang ditanam dapat tumbuh lurus. Jarak tanam disesuaikan dengan nota kesepahaman yang telah disepakati yaitu 6 m x 2 m. Seluruh peserta PHBM melakukan kegiatan pemasangan ajir karena dilakukan sesuai dengan nota kesepahaman yang telah disepakati.

Penanaman dilakukan setelah bibit dan lahan siap, bibit yang digunakan ada sebagian yang merupakan bibit yang diberikan oleh Perum Perhutani, namun sebagian peserta PHBM mengaku menyediakan bibit secara swadaya. Tanaman pokok ditentukan sesuai dengan nota kesepahaman yang telah disepakati yaitu pinus dan mahoni. Tetapi tanaman sela dan tanaman pertanian disesuaikan kebutuhan petani. Sebesar 40% peserta PHBM menanam padi sebagai tanaman pertaniannya, 53,3% peserta PHBM menanam palawija sebagai tanaman pertaniannya dan 6,7% peserta PHBM menanam padi dan palawija sebagai tanaman pertaniannya.

Kegiatan pemeliharaan tanaman seperti penyiangan, pemupukan dan penyemprotan dilakukan oleh seluruh peserta PHBM. Tujuan kegiatan pemeliharan adalah untuk memperoleh hasil produksi sesuai dengan yang diharapkan. Metode penyiangan yang digunakan peserta PHBM adalah dengan

membersihkan seluruh lahan garapan dari semak belukar dan tanaman penganggu dengan menggunakan arit dan cangkul. Dalam kegiatan pemupukan, pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang, pupuk kompos dan pupuk buatan seperti urea dan NPK. Kegiatan pemeliharaan selain memelihara tanaman pada areal PHBM para petani juga berpartisipasi untuk menjaga keamanan hutan dari para pencuri kayu yang dilakukan dengan cara meronda dan melakukan pengontrolan secara periodik.

Kegiatan pemanenan yang dilakukan oleh peserta PHBM dibagi menjadi dua, yaitu: kegiatan pemanenan tanaman tumpang sari dan kegiatan pemanenan tanaman pokok. Peserta PHBM melakukan pemanenan tumpang sari dengan cara diborong oleh tengkulak sebanyak 66,7% peserta dan dilakukan oleh petani sendiri sebanyak 33,3% peserta. Untuk meringankan pekerjaannya penggarap lebih cenderung menjual hasil panen tumpangsarinya kepada tengkulak, selain itu kurangnya modal dan peralatan yang menunjang juga menjadi faktor pendorong penggarap untuk menjual hasil panennya kepada tengkulak. Peserta PHBM belum ada yang melakukan pemanenan tanaman pokok karena pada saat pengambilan data belum ada kegiatan tersebut.

Tabel 5 Proses Pengambilan Keputusan

Kegiatan Diskusi Tidak diskusi

Keikutsertaan PHBM Memutuskan jenis tanaman Memutuskan jenis pupuk

Memutuskan tempat pemanenan Memutuskan waktu pemanenan menentukan waktu penjualan

30 18 24 30 10 19 - 12 6 - 20 11

Sumber : Data primer

Pengambilan keputusan dalam kegiatan pengelolaan PHBM dibagi menjadi dua pilihan, yaitu: dilakukan dengan diskusi dengan anggota KTH lainnya dan tidak didiskusikan terlebih dahulu dengan anggota lainnya. Dalam keikutsertaanya dalam PHBM para peserta harus masuk terlebih dahulu menjadi anggota KTH karena sesuai dengan PERDA Kabupaten Sukabumi No. 13 tahun 2003 pasal 11. Dalam penentuan jenis tanaman selain tanaman pokok, sebanyak

18 orang peserta melakukan diskusi terlebih dahulu dengan anggota lainnya dan 12 orang peserta lainnya tidak melakukan diskusi terlebih dahulu. Dalam penentuaan jenis pupuk yang digunakan, sebanyak 24 orang peserta melakukan diskusi terlebih dahulu dan sisanya tidak melakukan diskusi terlebih dahulu. Tempat penanaman para peserta PHBM ditentukan berdasarkan kesepakatan yang telah didiskusikan terlebih dahulu oleh para peserta PHBM. Sebanyak 10 orang peserta PHBM mendiskusikan terlebih dahulu waktu panen kepada anggota KTH lainnya, sedangkan 20 orang lainnya tidak. Sebanyak 25 orang peserta PHBM mendiskusikan terlebih dahulu tempat penjualan hasil panen kepada anggota KTH lainnya, sedangkan 5 orang peserta lainnya tidak melakukan diskusi terlebih dahulu dengan anggota lainnya.

4. 5. Dampak Kegiatan PHBM

Akibat kepemilikan lahan yang sempit dan kurangnya alternatif kesempatan kerja di luar sektor pertanian, program PHBM menjadi tumpuan harapan petani dalam meningkatkan kesejahteraannya. Petani dengan penuh semangat memanfaatkan lahan garapan yang disediakan Perum Perhutani, terbukti dengan kerelaan dari mereka mengeluarkan biaya untuk upah dan membeli bibit, baik untuk tanaman tumpangsari maupun buah-buahan dan bibit pohon hutan. Bahkan beberapa responden menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan berjalan kaki selama 0,5 – 1 jam dari rumah atau tempat tinggal ke lokasi lahan PHBM.

Sebagian besar dampak positif yang dirasakan dengan adanya kegiatan PHBM, yaitu: 1) Menambah penghasilan, diungkapkan oleh responden sebanyak 19 orang peserta: 2) Mempunyai hak lahan garapan, diungkapkan oleh responden sebanyak 5 orang peserta; 3) Menambah wawasan, diungkapkan oleh responden sebanyak 3 orang peserta; 4) Merasa senang ikut berpartisipasi dalam program PHBM, diungkapkan sebanyak 3 orang peserta. Dampak positif lainnya yang diungkapkan oleh para responden, yaitu: 1) Mendapatkan pekerjaan, diungkapkan oleh 3 orang peserta; 2) Membantu biaya sekolah diungkapkan oleh 4 orang peserta.

Sebagian besar responden umumnya sulit mengungkapkan dampak negatif dari kegiatan PHBM. Hal ini mungkin dikarenakan para peserta takut salah bicara atau belum merasakan dampak negatif dari kegiatan program PHBM. Sebagian saja dari responden mengungkapkan bahwa sekarang sulit untuk mencari kayu bakar ataupun kayu untuk membuat kandang ternak. Dan secara tidak langsung responden mengungkapkan bahwa dampak negatif dari program PHBM adalah adanya kecemburuan sosial akibat adanya pembagian lahan yang kurang merata dan adanya kecemburan dari peserta PHBM yang mendapatkan lahan tandus karena sebagian peserta lainnya mendapatkan lahan yang produktif, sehingga dikhawatirkan terjadinya konflik antar penggarap.

4.6. Manfaat Kegiatan PHBM

Bagi masyarakat desa yang mayoritas kurang mampu, PHBM membuka kesempatan untuk terlibat langsung dalam pengelolaan hutan dan diharapkan mampu memberi kontribusi bagi pemenuhan kebutuhan pangan keluarga. Beberapa manfaat yang diperoleh peserta dari PHBM, antara lain: tersedia lahan garapan untuk tumpangsari dan sebagai sumber pendapatan, baik berupa pangan dari hasil tumpangsari, hasil dari buah-buahan (HHBK) dan hasil kayu dari sistim bagi hasil pengelolaan hutan.

Dari hasil wawancara dengan para peserta PHBM dapat disimpulkan bahwa dari segi manfaat ekonomi, yaitu: pada tahun pertama, peserta rata-rata mengalami kerugian karena cukup besar biaya untuk tenaga kerja penyiapan lahan dan penyediaan bibit. Sementara hasil yang didapatkan baru dari padi-palawija dan sayuran untuk dikonsumsi pribadi. Pada tahun kedua, ada keuntungan meskipun kecil karena ada hasil dari penjualan pisang. Pada tahun ketiga petani mendapatkan keuntungan tertinggi dari hasil panen pisang dan padi-palawija. Dan menurun kembali pada tahun keempat karena pohon pisang yang menjadi andalan produktifitasnya mulai menurun dan tanaman buah-buahan belum mendapatkan hasil. Karena pada tahun 2004 tanaman pisang sebagai tanaman sisipan semakin berkurang produktifitasnya, sehingga timbulnya ide untuk mengganti tanaman pisang sebagai tanaman sisipan dengan menanam pohon karet. Karena masyarakat beranggapan bahwa dengan menanam pohon karet, masyarakat akan mendapatkan

hasil setiap minggunya dari hasil sadapan getah karet. Sehingga pada tahun 2005 pohon karet mulai dilegalitaskan sebagai tanaman sisipan. Dan hingga saat ini petani peserta PHBM mulai merasakan hasilnya dari getah tanaman karet yang telah mereka tanam.

Manfaat lain yang dirasakan oleh peserta PHBM adalah dari segi manfaat sosial adalah kepemilikan status hak garapan. Hak garapan merupakan aset penting bagi kaum miskin karena lahan merupakan aset produktif untuk sumber pangan. Selain itu mendapatkan hasil dari kayu-kayuan dan buah-buahan yang sewaktu-waktu dapat menjadi sumber penghasilan. Maka itu timbullah anggapan bahwa lahan garapan sebagai tabungan atau harta yang bisa diwariskan kepada anak cucu.

Sedangkan dari segi manfaat lingkungan, kegiatan rehabilitasi hutan dari kegiatan program PHBM dapat dirasakan baik oleh peserta PHBM maupun bukan peserta PHBM. Diantaranya dengan kembalinya sumber mata air dan lingkungan yang mulai menjadi sejuk.

4. 7. Faktor yang Membatasi Masyarakat Tidak Mengikuti Kegiatan PHBM 4.7.1 Alasan tidak ikut PHBM

Sasaran peserta PHBM adalah masyarakat sekitar hutan yang penghidupannya miskin sehingga masyarakat berkesempatan untuk meningkatkan pendapatannya. Akan tetapi tidak semua masyarakat dapat ikut berpartisipasi karena berbagai hal seperti yang diungkapkan oleh Kelompok B.

Dari hasil wawancara responden Kelompok B, para responden yang tidak ikut PHBM dengan alasan sibuk bekerja sebagai buruh pada sektor lain, tidak terbiasa bertani dan lokasi jauh umumnya mereka tidak tertarik kegiatan PHBM. Sedangkan dengan alasan tidak mendapat lahan garapan, sedang tidak ada di desa, tidak punya modal dan takut, umumnya mereka tertarik menjadi peserta PHBM.

Bagi yang tertarik PHBM merasa sangat kecewa karena dia kehilangan kesempatan mendapatkan manfaatnya. Hal ini terjadi karena informasi tentang adanya program PHBM kurang terdistribusi secara merata kepada masyarakat. Pelaksanaan kegiatan PHBM kurang dipersiapkan secara matang, baik pada tingkat perencanaan maupun pelaksanaan.

4.7.2 Hambatan Modal

Untuk menjadi peserta PHBM sebetulnya tidak membutuhkan modal. Namun pada pelaksanaanya, peserta PHBM membutuhkan dana untuk membeli bibit, pupuk, pestisida dan tenaga kerja. Peserta PHBM yang memiliki keterbatasan dana berusaha mencari modal dengan berbagai cara, diantaranya dari menyisihkan upah buruh, mencari pinjaman dari handai tolan dan menjual ternak. Oleh karena itu modal merupakan salah satu hambatan bagi masyarakat untuk ikut terlibat kegiatan PHBM.

Agar model PHBM dapat berperan menanggulangi masalah kebutuhan akan modal, maka diperlukan bantuan untuk penguatan kelembagaan KTH agar anggota KTH bisa mempunyai akses ke sumber modal. Berkaitan dengan pendanaan pun harus fleksibel dan persyaratannya tidak rumit. Pendanaan harus direncanakan dengan baik untuk mendukung jalannya kegiatan program PHBM.

4.7.3 Informasi PHBM

Informasi memegang peranan yang penting untuk menambah wawasan masyarakat dan membantu dalam pengambilan keputusan yang efektif dan efisien. Ketidakjelasan informasi akan menjadikan pembangunan kurang berhasil. PHBM merupakan kegiatan baru bagi masyarakat, maka perlu penyampaian informasi yang jelas dan akurat.

Hasil wawancara dari masyarakat yang menjadi peserta PHBM, diketahui bahwa 56,7% dari peserta PHBM memperoleh informasi dari teman, saudara dan tetangga; 30% dari peserta PHBM memperoleh informasi dari aparat desa dan 13,3% dari peserta PHBM memperoleh informasi dari staf Perhutani. Hal ini memberikan gambaran bahwa informasi tentang PHBM tidak terdistribusi secara merata kepada seluruh anggota masyarakat pedesaan.

4.7.4 Kesan Sebagai Petani

Kesan atau image sebagai petani juga mempengaruhi keterlibatan masyarakat dalam kegiatan PHBM. Keluarga yang masih muda-muda umumnya belum tertarik pada kegiatan PHBM, karena mereka lebih senang bekerja sebagai buruh, pedagang dan tukang ojek. Alasan mereka karena pekerjaan sebagai buruh, pedagang, dan tukang ojek akan mendapatkan hasil yang lebih pasti dibandingkan mengikuti kegiatan PHBM. Mereka juga berfikir bahwa sifat pekerjaan di sektor

pertanian lebih berat dibandingkan dengan sektor lain. Disamping itu kaum muda memiliki kesan sebagai petani kurang bergengsi, sehingga lebih tertarik untuk melakukan urbanisasi ke kota yang dapat memberikan nilai ekonomi dan sosial yang lebih tinggi.

4.8 Ganti Rugi Lahan Garapan

Kegiatan jual beli lahan garapan atau ganti rugi lahan garapan sudah dilakukan oleh pemegang hak garapan sejak kegiatan sosial forestri mulai diimplementasikan oleh Perum Perhutani yaitu pada kegiatan tumpangsari. Namun, masyarakat lebih sering menyebutnya dengan ganti rugi lahan garapan. Karena masyarakat beranggapan bahwa, masyarakat yang menjual lahan

Dokumen terkait