BAB II. LANDASAN TEORI
4. Status Pekerjaan Orang Tua
Jenis pekerjaan orang tua turut menentukan keberhasilan
seorang anak. Hal ini dikemukakan Corcoran dan Chaudry (1997) dalam
studinya mengenai kemiskinan antar generasi di Amerika.
C. Kemiskinan Antar Generasi
Untuk banyak orang kemiskinan merupakan situasi yang sulit untuk
keluar/lepas darinya yang paling tegas digambarkan dengan
perampasan/kehilangan yang ditransmisi dari satu generasi ke generasi
selanjutnya (Hulme dan McKay, 2005). Perampasan/kehilangan yang
dimaksud adalah hak, kehidupan sejahtera, kebebasan, dan sebagainya. Oleh
karena itulah ciri yang paling terlihat dari orang miskin adalah tidak
terdapatnya kebebasan (berupa berpolitik, berpendapat dan lain-lain) serta
tidak sejahteranya hidup mereka.
Pola dari kemiskinan antar generasi ini dapat dilihat dari kemiskinan
anak-anak. Ada kemungkinan mereka dapat lepas dari kemiskinan tersebut
atau tetap hidup dalam kemiskinan ketika mereka dewasa. Inilah yang perlu
diperhatikan. Satu dari dua anak Negro Amerika serta tiga dari empat anak
kulit putih yang miskin persisten tidak mengalami kemiskinan ketika masa
dewasa. Namun demikian sejumlah kecil anak-anak miskin persisten,
commit to user
pada orang Negro Amerika. Sebanyak separuh dari orang Negro Amerika
yang miskin, minimal dari separuh masa kanak-kanak mereka dalam
keadaan miskin yang paling sedikit pada masa awal dewasa mereka. Sekitar
seperempat dari orang Negro Amerika tersebut tetap berada dalam
kemiskinan persisten ketika dewasa (Corcoran dan Chaudry, 1997).
Anak-anak dari keluarga miskin mengawali kehidupannya dengan
ketidakberuntungan yang lebih tinggi dari pada anak-anak yang berasal dari
keluarga kaya, akibatnya ketika dewasa mereka kalah siap untuk menjadi
anggota masyarakat yang produktif. Berbagai ketidaksetaraan dalam bidang
ekonomi, politik dan sosiokultural mendorong munculnya perbedaan dalam
kesempatan atau peluang kehidupan dan besar kemungkinan akan
diteruskan dari generasi ke generasi (Laporan Pembangunan Dunia 2006:
209).
Anak-anak yang tidak pernah mengalami kemiskinan memiliki
kemungkinan sangat kecil akan mengalami kemiskinan kembali pada awal
masa dewasanya apabila dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh
dalam kondisi kemiskinan persisten. Dari empat anak Negro Amerika yang
tidak miskin hanya satu yang pernah mengalami kemiskinan pada masa
dewasa mudanya dan kurang dari satu dari dua belas kemudian hidup dalam
kemiskinan jangka panjang. Pola seperti ini terjadi pula pada anak-anak
kulit putih. Anak-anak kulit putih yang mengalami kemiskinan persisten
commit to user
kemiskinan persisten kembali pada masa dewasanya dibandingkan
anak-anak kulit putih yang tidak miskin (Corcoran dan Chaudry, 1997).
Kemiskinan yang dialami pada masa kanak-kanak dengan
kemiskinan pada masa dewasa sangat berhubungan erat dan pada sebagian
kasus disebabkan oleh adanya kekurangan pada keluarga serta lingkungan
yang miskin pada masa kanak-kanak tersebut. Dengan menggunakan
variabel struktur keluarga, kesejahteraan orang tua, pendidikan orang tua,
pekerjaan orang tua serta keadaan lingkungan yang miskin maka anak-anak
dalam keadaan miskin persisten akan mengalami kemiskinan yang lebih
parah daripada anak-anak yang tidak miskin. Contohnya saja anak-anak
lelaki dari keluarga berpendapatan rata-rata memiliki pendapatan tahunan
50% lebih tinggi daripada anak-anak lelaki dari keluarga miskin setelah
memperhatikan latar belakang keluarga, kemiskinan lingkungan dan
tetangga (Corcoran dan Chaudry, 1997).
Moore (2004) dalam penelitiannya menyatakan bahwa transmisi
kemiskinan antar generasi (pewarisan kemiskinan) dapat dipahami dengan
pendekatan mata pencaharian yang berpusat pada perpindahan ataupun
ketidakhadiran modal (asset) dalam konteks sosial, kelembagaan dan
lingkungan kebijakan. Transmisi tersebut dapat melibatkan transmisi
pribadi dan ketiadaan transmisi maupun transmisi publik dan ketiadaannya.
Transmisi pribadi tidak semata-mata merupakan perpindahan kemiskinan
dari orang tua kepada anak-anaknya namun juga dapat berupa transmisi
commit to user
transmisi publik merupakan perpindahan sumber daya dari suatu generasi ke
generasi berikutnya. Transmisi tersebut dapat berupa sesuatu yang positif
(cita-cita atau harta tunai) maupun negatif (tenaga kerja terikat, gizi buruk,
diskriminasi jenis kelamin). Berbagai macam aset dapat ditransfer dengan
berbagai mekanisme. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Harper;
Marcus dan Moore (2002):
“Intergenerational transmission of poverty can involve the ‘private’
transmission of poverty from older generations of individuals and families to younger generations (especially, but not solely, from parents to children), and the ‘public’ transfer (or lack of transfer) of resources from one generation to the next through, for example, redistribution of the taxed income of older generations to support the education of the youngest”.
Transmisi antar generasi tersebut dipengaruhi oleh ekonomi, sosial,
politik, budaya serta kelembagaan dengan konteks dimana mereka terjadi.
Norma-norma yang terbentuk secara sosial dapat bersifat membantu atau
menghambat proses transmisi (Moore, 2004). Misalnya diskriminasi jenis
kelamin, ras atau warna kulit dapat membantu perpindahan kemiskinan
antar generasi (dari satu generasi ke generasi berikutnya) karena
diskriminasi tersebut dapat mengurangi bahkan menghalangi akses dari
generasi yang mengalami diskriminasi terhadap kesempatan ekonomi dan
pengakuan masyarakat. Diskriminasi ini pun sering bertahan dan bersifat
tetap dari generasi ke generasi. Generasi yang mendapat perlakuan
commit to user
diskriminatif pada generasi berikutnya. Hal ini dapat menunjukkan suatu
pola siklus kehidupan kemiskinan. Baik konsep transmisi kemiskinan antar
generasi maupun siklus kehidupan kemiskinan dapat memberikan peluang
untuk masuk dalam proses kemiskinan.
Siklus kehidupan kemiskinan membuka jalan bagi seorang anak
miskin untuk masuk dalam kemiskinan baru bahkan lebih miskin.
Diskriminasi dapat memegang peranan dimana ia dapat membuat orang tua
tidak mampu memberikan pendidikan layak kepada anaknya. Anak yang
tidak berpendidikan dapat tumbuh menjadi pengangguran (anak tersebut
menjalani proses siklus kehidupan kemiskinan). Kemiskinan kronis dapat
disebabkan oleh siklus ini maupun transmisi kemiskinan antar generasi, di
sisi lain dapat menjadi karakteristik dan efek dari kemiskinan kronis ini
(Moore, 2004).
Siklus kehidupan kemiskinan dan transmisi kemiskinan antar
generasi dapat menyebabkan seseorang mengalami kemiskinan kronis,
bahkan pada masa dewasanya. Ia menjalani siklus kemiskinan
bertahun-tahun serta mewariskan kemiskinannya pada generasi berikutnya, ia pun
diwarisi kemiskinan oleh generasi sebelumnya. Kemiskinan yang
dialaminya dapat menjadi lebih parah daripada generasi sebelumnya.
Kemiskinan kronis ditandai dengan adanya gejala bahwa kemiskinan
terus diwariskan dari generasi ke generasi (adanya transmisi kemiskinan
antar generasi). Selain itu keadaan ini juga ditunjukkan oleh pola
commit to user
seseorang pada suatu waktu. Misalnya saja contoh di atas, seorang anak
yang tidak berpendidikan karena dia memang tidak mampu mendapatkan
pendidikan layak akan berlanjut menjadi pengangguran. Seorang
pengangguran tentu akan tidak mampu memenuhi kebutuhan minimal
kebutuhan dasar. Dengan demikian ia akan terjebak dalam proses siklus
hidup kemiskinan terus menerus sepanjang hidupnya, bahkan bukan tidak
mungkin ia akan mewariskan kemiskinannya pada keturunannya kelak.
Kemiskinan kronis dapat menghasilkan adanya siklus hidup
kemiskinan dan transmisi antar generasi. Kemiskinan kronis dapat berupa
suatu kemiskinan yang berlangsung terus menerus sehingga seorang
individu/masyarakat sangat sulit melepaskan diri darinya. Seorang yang
miskin bisa jadi karena diwarisi kemiskinan oleh generasi sebelumnya dan
besar kemungkinan akan mewariskan pula kemiskinannya pada generasi
berikutnya. Disamping itu ia pun akan terhalang dari akses-akses modern
akibat keterbatasan dan kekurangan yang ia miliki sehingga ia akan tetap
miskin karena keterbatasan yang terus membelenggunya.
Transmisi kemiskinan antar generasi maupun siklus hidup kemiskinan
commit to user
Transfer antar generasi, ekstraktif, atau ketiadaan transfer
kemiskinan karena modal
Anak-anak miskin/tidak miskin disebabkan oleh transfer,
ekstraktif, keberadaan transfer kemiskinan karena modal, dan
faktor-faktor individual dan struktural
Pengaruh siklus hidup: anak-anak miskin/tidak miskin berubah
menjadi dewasa miskin/tidak miskin disebabkan oleh faktor-
faktor individual dan struktural
Gambar 2.2
Transmisi KemiskinanAntar Generasi Maupun Siklus Hidup
Sumber: Moore, 2004 anak-anak miskin dewasa miskin dewasa tidak miskin dewasa tidak miskin anak-anak tidak miskin dewasa miskin keturunan (anak-anak)
commit to user
D. Pengertian dan Karakteristik Anak Jalanan
Sebenarnya istilah anak jalanan pertama kali diperkenalkan di
Amerika Selatan, tepatnya di Brazilia, Menimos de Ruas untuk menyebut
kelompok anak-anak yang hidup di jalanan dan tidak memiliki tali ikatan
dengan keluarga (B.S Bambang, 1993: 9). Namun di beberapa tempat lain
istilah anak jalanan berbeda-beda. Di Colombia mereka disebut gamain
(urchin atau melarat) dan ”chinches” (kutu kasur), “marginas” (kriminal
atau marginal) di Vietnam, “saligoman”. Istilah-istilah terrsebut
menggambarkan bagaimana posisi anak-anak jalanan di dalam kehidupan
bermasyarakat. Semua anak sebenarnya memiliki hak untuk memperoleh
kehidupan tidak terkecuali anak jalanan. Namun pada kenyataanya,
mayoritas dan dapat dikatakan semua anak jalanan terpinggirkan dalam
aspek kehidupan.
Pengertian anak jalanan telah banyak dikemukakan oleh para ahli.
Secara khusus, anak jalanan menurut PBB adalah anak yang menghabiskan
sebagian besar waktunya di jalan untuk bekerja, bermain atau beraktifitas
lain. Anak jalanan tinggal dijalanan kerena kemiskinan dan kehancuran
keluarganya. Umumnya anak jalanan bekerja sebagai pengasong,
pemulumg, tukang semir, pelacur anak, dan pengais sampah.
Dalam buku ”Intervensi Psikosial”, anak jalanan adalah anak yang
sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau
berkeliaran di jalan atau tempat-tempat umum lainya. Definisi tersebut
commit to user
1. Anak-anak
2. Menghabiskan sebagian waktunya
3. Mencari nafkah atau berkeliaran
4. Jalanan dan tempat-tempat lainya
Berdasar hasil kajian di lapangan, secara garis besar anak jalanan
di bedakan dalam tiga kelompok (Surbakti dkk: 1997);
Pertama, children of street, yakni anak-anak yang mempunyai
kegiatan ekonomi-sebagai pekerja anak di jalan, tetapi masih mempunyai
hubungan yang kuat dengan orang tua mereka di jalanan, pada kategori ini
adalah membantu memperkuat penyangga ekonomi keluarganya karena
beban atau tekanan kemiskinan yang harus di tanggung karena tidak dapat
diselesaikan oleh kedua orang tuanya.
Kedua, children of the street, yakni anak-anak yang berpartisipasi
penuh di jalanan, baik secara sosial maupun ekonomi. Beberapa diantara
mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tuanya, tetapi frekuensi
pertemuan mereka tidak menentu. Banyak diantara mereka anak-anak yang
karena suatu sebab – biasanya dikerenakan kekerasan lari atau pergi dari
rumah. Berbagai penelitian menunjukan bahwa anak-anak ini sangat rawan
terhadap perlakuan salah, baik secara sosial, emosional, fisik maupun
seksual (Irwanto, 1955).
Ketiga, children fromfamilies of the street, yakni anak-anak yang
berasal dari keluarga yang hidup di jalanan. Meskipun anak-anak ini
commit to user
terombang-ambing dari satu tempat ke tempat yang lain dengan segala
resikonya (Blanc dan Associates, 1900). Salah satu ciri penting dari kategori
ini adalah penampangan kehidupan jalanan sejak anak masih bayi bahkan
sejak dalam kandungan. Di Indonesia kategori ini dengan mudah ditemui di
kolong-kolong jembatan rumah-rumah liar sepanjang rel kereta api dan di
pinggiran sungai walaupun secara kualitatif jumlahnya belum diketahui
secara pasti.
Menurut penelitian Departemen Sosial dan UNDP di wilayah Jakarta
dan Surabaya (BKSN 200: 2-4) anak jalanan di kelompokan dalam empat
kategori:
1. Anak jalanan yang hidup di jalanan, dengan kriteria;
a. Putus hubungan atau lama tidak ketemu dengan orang tuanya;
b. 8-10 jam berada di jalanan untuk ”bekerja”;
c. Tidak lagi sekolah;
d. Rata-rata berusia di bawah 14 tahun.
2. Anak jalanan yang bekerja di jalanan, dengan kriteria;
a. Berhubungan tidak teratur dengan orang tuanya;
b. 8-16 jam berada di jalanan;
c. Mengontrak kamar sendiri, bersama teman, ikut orang
tua/suaudara, umumya di daerah kumuh;
d. Tidak lagi sekolah;
e. Pekerjaan: Penjual koran, pengasong, pencuci bus, pemulung,
commit to user
f. Rata-rata berusia di bawah 16 tahun.
3. Anak-anak yang rentan menjadi anak-anak jalanan, dengan kriteria;
a. Bertemu teratur setiap hari/ tinggal dan tidur dengan keluarganya;
b. 4-5 jam berada di jalan;
c. Masih bersekolah;
d. Pekerjaan : penjual koran, penyemir, pengamen dll;
e. Usia rata-rata di bawah 14 tahun.
4. Anak jalanan berusia diatas 16 tahun, dengan kriteria:
a. Tidak lagi berhubungan dengan/berhubungan dengan orang
tuanya;
b. 8-24 jam berada di jalanan;
c. Tidur di jalan atau rumah oarang tua;
d. Sudah tamat SD atau SLTP, namun tidak melanjutkan sekolah lagi;
e. Pekerjaan : calo,mencuci bis, menyemir dll.
Adapun ciri-ciri fisik dan psikis anak jalanan dapat dijelaskan pada
tabel sebagai berikut:
Tabel 2.1
Ciri-ciri Fisik dan Psikis Anak Jalanan Ciri Fisik Cara Psikis Warna kulit kusam
Rambut kemerah-marahan Pakaian tidak terurus
Mobilitas tinggi Acuh tak acuh Penuh curiga Sangat sensitif Berwatak keras
Semangat hidup tinggi Mandiri
Berani menanggung resiko
commit to user