• Tidak ada hasil yang ditemukan

DETERMINAN PERMASALAHAN EKONOMI SOSIAL (STUDI KASUS ANAK JALANAN DI KOTA SURAKARTA)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "DETERMINAN PERMASALAHAN EKONOMI SOSIAL (STUDI KASUS ANAK JALANAN DI KOTA SURAKARTA)"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

DETERMINAN PERMASALAHAN EKONOMI SOSIAL

(STUDI KASUS ANAK JALANAN DI KOTA SURAKARTA)

Skripsi

Disusun Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat untuk

Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas

Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta

oleh :

Nama : Fibrianto Adie Nugroho NIM : F.1106030

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)
(3)

commit to user

HALAMAN PERSEMBAHAN

START

SJENAK MLUPAKAN EYD, RUMUS, TEORI, BAHASA APA DAN TATA BAHASA GIMANA. HALAMAN INI KHUSUS BUAT KITA.THITIK.

TANKS TO:

DEAR GOD, TANKS FOR CHANCE FOR ME, TANKS FOR ANYTHING AND EVERYTHING....U’R MY LORD MY GUIDANCE IN MY LIFE. I BELIEVE YOUR PLAN’S PERFECT, BEAUTIFUL AND TO EMBELLISH ME. DEAL and clear,

I believe that.

Tanks for my parents

for supporting until this thesis can be finis.

tanks for my big family. “FULL TEAM”

GREAT and TANKS FOR my lecture AM. Soesilo (turnumun BE)

Tanks for all my friend in Sebelas Maret University (EP 2006); Agus, Anggun, Adith, Aniep, Danang, Francismas, Sidiq, Yoeli, Yoedi, Yusnanto, Danu, Susan, Pipid, Ermawati, Feni, Fetri, Ayu,

Puji, Widar, Wawan, Nurul, Nisa. “ great Incha-INCHI, sTAnd Up bRoO...!!!!”

Tanks for all my friend ex SMA BATIK 2 SURAKARTA FROG KoDOx, zein topa, sebtiawan SiMLONK, simo MBAH MO, GATOD, YUDHIEX SATANIS, BRIAN KETHUL, GOMBLOH, ANDIKA, AGAS,

HARIS Rambak.

“ brother , u’R the real friend, real team !!! ”

Tanks for: bro wiwIEd, bro Fajar, BRO BEAN. “U STAY AT s.o.s”

TanKs for squad: 57060 8844646, 4992 98572, 339473866 232738, 4762 728482, 826426782.

“secreet”

NB; INI HALAMAM YANG PALING GW SUKA. BEBAS, GK RIBET. SORY BWT CREW YANG GK KSEBUT . TANKS.

(4)

commit to user

HALAMAN MOTTO

“In The Long Way We Are All Died”

(A. Smith)

“Berakit- Berakit Kehulu, Berenang-Berenang Kemudian

Bersakit-sakit Dahulu Bersenang-Senang Kemudian”

(N.N)

“Menggandeng Tangan, Membuka Pikiran, Membetuk

Masa Depan. Seorang Guru Berpengaruh Slamanya dan

Dirinya Tidak Pernah Tau Kapan Berakhirnya”

(Henry Adam)

“MAU= MAMPU”

(Penulis)

“Jika Keyakinan Itu Tetap Ada, Maka Impian Itu Akan

Tetap Terjaga. Bawa Slalu Nama Tuhan di dalamnya, maka

Impian Itu Akan Menjadi Nyata”

(Penulis)

”Logika, Rumus Matematika 1+1 = 2 Biasa

Nyata, Rumusnya Tuhan 1+1 = Lebih Dari 2

Tanya kenapa...???

(5)

commit to user KATA PENGANTAR

Puja serta puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan YME karena berkat rahmat dan karunia-Nya, skripsi ini dapat diselesaikan untuk memenuhi syarat dalam pencapaian gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan pada Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Dalam penyusunan skripsi ini banyak sekali kendala yang penulis hadapi. Namun, seiring dengan berlalunya waktu serta usaha yang tidak kenal lelah, kendala yang muncul bisa teratasi. Tidak lupa penulis menghaturkan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan bantuannya sehingga skripsi ini bisa diselesaikan. Oleh karena itu dengan kerendahan hati dan ketulusan yang mendalam penulis menghaturkan terima kasih kepada :

1. Bapak DR AM Soesilo, MSc selaku pembimbing yang dengan arif dan bijak telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam membimbing dan memberikan masukan yang berarti dalam penyusunan skripsi ini.

2. Bapak Dr. Bambang Sutopo, M.Com., Akt., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta yang secara langsung maupun tidak langsung telah banyak membantu penulis selama menuntut ilmu di Fakultas Ekonomi UNS.

(6)

commit to user

4. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta beserta seluruh staff dan karyawan yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan pelayanan kepada penulis.

5. Keluarga yang senantiasa selalu mendoakan, memberi dorongan dan bimbingan kepada penulis.

6. Teman-teman Ekonomi Pembangunan Non Reguler ankatan 2006.

7. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu baik secara langsung maupun tidak atas bantuannya kepada penulis hingga terselesaikannya penelitian ini.

Ibarat pribahasa tiada gading yang tak retak, penulis menyadari betul bahwa di dalam penulisan ini masih terdapat kekurangan-kekurangan, yang dikarenakan keterbatasan waktu & pikiran. Semoga skripsi ini bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Saran serta kritik akan penulis terima, sebagai bahan evaluasi bagi penulis.

Surakarta, 27 Desember 2010

(7)

commit to user

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……….. i

ABSTRAK………... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING………. HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI………... iii iv HALAMAN PERSEMBAHAN………. v

HALAMAN MOTTO………. vi

KATA PENGANTAR……… vii

DAFTAR ISI……….. viii

DAFTAR TABEL……….. DAFTAR GAMBAR………. xi xii BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah………... 1

B. Perumusan Masalah ………. 6

C. Tujuan Penelitian……….. 6

D. Manfaat Penelitian……… BAB II. LANDASAN TEORI 6 A. Pembangunan Ekonomi……… 8

1. Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi……….... 2. Kemiskinan Sebagai Penghambat Pembangunan………..

2.1 Pengertian dan Penjelasan Keluarga Miskin………. 3. Upaya Mengatasi Kemiskinan………

8 13 19 26

B. Determinan Permasalahan Ekonomi Sosial Anak Jalanan... 1. Tingkat Pendapatan Orang Tua………...

(8)

commit to user

2. Jumlah Saudara Dalam Keluarga……… 3. Tingkat Pendidikan Orang Tua….………... 4. Status Pekerjaan Orang Tua………...…...

30 32 34 C. Kemiskinan Antar Generasi……….. 34 D. Pengertian dan Karakteristik Anak Jalanan ………... 42

E. Penelitian Terdahulu………...……… F. Kerangka Teoritis... G. Hipotesis...

46 47 48

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian……….. 50 B. Jenis dan Sumber Data………. 50 C. Populasi Sampel dan Metode Sampling……….. 51 D. Metode Pengumpulan Data

1. Studi Lapangan ………...……….. 2. Studi Kepustakaan………..………. E. Definisi Operasional Variabel

1. Variabel Dependen... 2. Variabel Independen

a. Tingkat Pendapatan Orang Tua... b. Saudara Kandung... c. Tingkat Pendidikan Orang Tua... d. Status Pekerjaan Orang Tua... F. Teknik Pengolahan Data

1. Analisis Deskriptif...

2. Analisis Statistik...

(9)

commit to user

BAB IV. ANALISIS HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Wilayah Penelitian... 1. Kondisi Geografis... 2. Aspek Eonomi... 3. Indikator Kependudukan... a. Komposisi Penduduk...

68 68 70 72 72 b. Pendidikan... c. Kesehatan... d. IPM... B. Analisis Deskriptif.

1. Distribusi Tingkat Pendapatan Orang Tua... 2. Distribusi Jumlah Saudara Kandung... 3. Distribusi Tingkat Pendidikan Orang Tua ... 4. Distribusi Status Pekerjaan Orang Tua... C. Analisis Statistic... a. Model Logit (The Logistic Probability Distribution

Function)... b. Uji T (Tes Run WaldWolfowitz)... c. Uji F... d. KoefisienDeterminasi... D. Uji Ekonometrika (Asumsi Klasik)

1. Uji Multikolinearitas... 2. Uji Heteroskedastisitas... 3. Uji Autokorelasi... E. Interprestasi Ekonomi...

(10)

commit to user

BAB V. KESIMPULAN dan SARAN

A. Kesimpulan……….. 102

B. Saran……… 103

(11)

commit to user

ii

DETERMINAN PERMASALAHAN EKONOMI SOSIAL (STUDI KASUS ANAK JALANAN DI KOTA SURAKARTA)

ABSTRAK

Fibrianto Adie Nugroho

F1106030

Tujuan dari suatu bangsa adalah menciptakan kemakmuran bagi masyarakat yang ada dan tinggal di Negara tersebut. Kemakmuran suatu bangsa tercipta apabila masyarakat memperoleh dan tercukupi kebutuhan baik secara batiniyah dan lahiriyah. Kemakmuran suatu bangsa tidak hanya dilihat dari aspek ekonomi, tetapi juga aspek-aspek lain di luar ranah ekonomi. Masyarakat dapat dikatakan memperoleh kemakmuran jika tercukupi kebutuhan hidup secara ekonomi dan juga memperoleh keadilan hak yang sama sebagai warga Negara dan terbebas dari diskriminasi.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perameter pendapatan orang tua, jumlah saudara kandung, pendidikan orang tua dan status pekerjaan orang tua terhadap probabilitas seseorang menjadi anak jalanan di Kota Surakarta. Data dalam penelitian ini adalah data primer dan alat analisis dalam penelitian ini menggunakanan ML Binary Logit. Untuk ketepatan dalam menganalisi data yang diperoleh dari lapangan di gunakan program SPSS.16 yaitu untuk pengujian statistik dan asumsi klasik.

Hasil dari penelitian ini pendapatan orang tua mempunyai korelasi negatif dan secara signifikan mempengaruhi probabilitas seseorang menjadi anak jalanan. Jumlah saudara kandung mempunyai korelasi positif terhadap probabilitas seseorang menjadi anak jalanan. Pendidikan orang tua memiliki korelasi negatif dan secara signifikan mempengaruhi probablitas seseorang menjadi anak jalanan. Status pekerjaan orang tua memiliki korelasi negatif terhadap tetapi tidak signifikan mempengaruhi seseorang menjadi anak jalanan.

Berdasarkan hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang penyebab keberadaan anak jalanan. Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan terhadap pemeritah dan dinas terkait untuk menanggulangi semakin banyaknya keberadaan anak jalanan di Kota Surakarta.

(12)

commit to user

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masa depan suatu bangsa tidak hanya tergantung pada pemimpin yang

berkuasa, namun juga pada kondisi generasi penerus bangsa yang harus

dipersiapakan sejak dini dari semua aspek (fisik, mental, sosial,

intelektualitas). Hal tersebut perlu dilakukan agar dapat memajukan dan

menciptan keadaan suatu negara ke arah yang lebih baik.

Kemiskinan sepertinya tidak pernah bisa lepas dari kehidupan

manusia. Banyak orang di dunia ini hidup di bawah garis kemiskinan.

Tinggi rendahnya tingkat kemiskinan di suatu negara tergantung dari 2 hal

yaitu : 1) tingkat pendapatan nasional rata–rata dan 2) lebar–sempitnya

kesenjangan dari distribusi pendapatan di Negara bersangkutan (Todaro,

2000). Dengan demikian tingkat pendapatan nasional yang rendah dan

lebarnya jurang pendapatan akan semakin memperparah kemiskinan. Ini

terjadi di sebagian besar Negara Dunia Ketiga termasuk Indonesia.

Secara umum negara–negara miskin di Negara Dunia Ketiga memiliki

karakteristik yang hampir sama. Karakteristik ini digunakan sebagai

komponen dalam menghitung kesejahteraan sosial. Karakteristik ini

diantaranya pengeluaran konsumsi yang relatif kecil, pendidikan rendah,

kondisi kesehatan yang buruk, banyaknya pengangguran, sulitnya akses

terhadap pelayanan umum serta kebutuhan dasar seperti air bersih,

(13)

commit to user

perumahan dan pakaian (Skoufias, Suryahadi, and Sumarto, 2000). Ini pula

yang terjadi di Indonesia. Untuk memperbaiki keadaan–keadaan tersebut

tentu tak semudah membalik telapak tangan dan tentunya memerlukan dana

yang tak sedikit. Oleh karena itulah banyak negara berusaha meningkatkan

pendapatan nasionalnya guna memperbaiki standar hidup masyarakatnya.

Kondisi perekonomian Indonesia mengalami goncangan sejak

terjadinya krisis ekonomi yang diawali dari pelemahan mata uang rupiah

pada pertengahan tahun 1997 kemudian berimbas pada sektor riil terbukti

beberapa industri dan infrastuktur mengalami kebangkrutan dan kemudian

terjadilah krisis multi dimensi yang belum tertangani sampai saat ini.

Kesenjangan ekonomi atau ketimpangan dalam distribusi pendapatan

antarkelompok masyarakat berpendapatan tinggi dan kelompok masyarakat

berpenghasilan rendah serta tingkat kemiskinan atau jumlah orang yang

berada di bawah garis kemiskinan (poverty line) merupakan dus masalah

besar di banyak negara berkembang, tidak terkecuali Indanesia. Akan tetapi,

sejarah menunjukkan bahwa setelah 10 tahun berlalu pada tahun 1969,

ternyata efek yang dimaksud itu mungkin tidak tepat untuk dikatakan sama

sekali tidak ada, tetapi proses mengalir ke bawahnya sangat lambat.

Akhirnya, sebagai akibat dari stategi tersebut, pada dekade 1980-an hingga

pertengahan dekade 1990-an, sebelum krisis ekonomi, Indonesia memang

menikmati laju pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto yang

relatif tinggi, tetapi tingkat kesenjangan juga semakin besar dan jumlah

(14)

commit to user

pemerintah sudah mulai menyadari keadan tersebut yang menunjukan

buruknya kualitas pembangunan yang telah dilakukan hingga saat itu. Oleh

karena itu, strategi pembangunan mulai diubah, tidak hanya pertumbuhan

tetapi juga kesejahteraan masyarakat, juga menjadi sasaran utama dari

pembangunan. Perhatian mulai diberikan pada usaha–usaha untuk

meningkatkan kesejahteraan masyarakat, misalnya dengan mengembangkan

industri – industri yang padat karya dan sektor pertanian. Banyak program

yang dilakukan oleh pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi (kalau

tidak bisa menghilangkan) jumlah orang miskin dan perbedaan pendapatan

antara kelompok miskin dan kelompok kaya di tanah air, misalnya inpres

desa tertinggal (IDT), pengembangan industri kecil dan rumah tangga,

khususnya di daerah pedesaan, transmigrasi, dan masih banyak lagi. Krisis

ini yang akhirnya menciptakan suatu resesi ekonomi yang besar dengan

sendirinya memperbesar tingkat kemiskinan dan gap dalam distribusi

pendapatan di tanah air, bahkan menjadi jauh lebih parah dengan kondisi

pada dekade 1980-an.

Masalah kemiskinan di belahan dunia manapun selalu menjadi pusat

perhatian karena kemiskinan jelas memberikan dampak yang buruk bagi

kelangsungan hidup masyarakat. Kemiskinan menyebabkan kehidupan

masyarakat tidak dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia seperti

pendidikan dan keterampilan, sehingga mereka tidak mampu mendapatkan

pekerjaan yang layak dan imbasnya adalah ketidak mampuan untuk

(15)

commit to user

merupakan gambaran rendahnya kualitas manusia dan masyarakat yang

menderita. Penduduk miskin adalah penduduk yang pendapatanya lebih

kecil dari kebutuhan yang diperlukan untuk hidup minimum (subsistem).

Jumlah penduduk miskin di Indonesia khususnya Jawa Tengah tergolong

cukup besar, meskipun beberapa tahun telah terjadi penurunan. Pada tahun

1999 garis kemiskinan adalah Rp 76.579,00 penduduk miskin sebanyak

8.755.400 orang, presentasi penduduk miskin pada tahun tersebut adalah

23,06% dan pada tahun 2003 batas kemiskinan disesuaikan lagi menjadi Rp

119.403 dan jumlah penduduk yang miskin menjadi 6.979.800 orang dengan

presentase penduduk miskin pada tahun tersebut sebesar 21,78% (BPS Jawa

Tengah 2004:190).

Terbatasnya lapangan kerja yang tersedia dan ditambah lagi ledakan

jumlah penduduk mengakibatkan persaingan dalam memperoleh pekerjaan

semakin ketat terutama pada sektor pekerjaan formal akibatnya hanya

mereka yang mempunyai nilai tambah dan potensi sejalan yang lebih mudah

mendapatkan pekerjaan. Pada kenyataan sektor formal tidak dapat

menampung jumlah pencari kerja yang semakin meningkat seiring

peningkatan jumlah penduduk. Kondisi yang demikian terkadang memaksa

seseorang mencari jalan pintas karena keterbatasanya, tidak jarang rela

mendapat upah yang tidak sesuai demi tetap memperoleh suatu pekerjaan

dan terkadang juga menghalalkan sagala cara meskipun beresiko.

Fenomena merebaknya ”gepeng” dan prostitusi merupakan persoalan

(16)

commit to user

PSK memang bukan impian dari semua orang, mungkin kerasnya hidup,

keterbatasan, minimnya perhatiaan dari pihak lain memaksa mereka untuk

menjalani kehidupan yang keras dan penuh ketidak pastian. Fenomena ini

tentunya akan menimbulkan efek negatif bagi individu, masyarakat dan

suatu bangsa. Apabila hal ini tidak segera ditangani sudah pasti akan

merusak citra bangsa dan menciptakan mental dan karakter bangsa karena

masih banyak warga negara yang harus hidup menjadi pengemis, pengamen,

hidup menjadi gelandangan dan memaksa seseorang untuk menjual

kehormatan, sehingga tidak sesuai dengan Pancasila sebagai ideologi

bangsa yang termuat pada sila ke 2 yang berbunyi kemanusiaan yang adil

dan beradab, Pancasila sila ke 4 (keadilan sosial bagi seluruh rakyat

Indonesia) dan UUD 45 yang termuat dalam pasal 34 (fakir miskin dan

anak- anak terlantar dipelihara oleh negara).

Maka, berdasar pada latar belakan diatas penulis mengambil judul

penelitian:”Determinan Permasalahan Ekonomi Sosial (Studi Kasus

Anak Jalanan di Kota Surakarta)”.

B. Perumusan Masalah

Dari latar belakang masalah tersebut di atas maka, dapat dirumuskan

beberapa masalah sebagai berikut:

1. Apakah variabel jumlah saudara kandung, pendapatan orang tua, status

pekerjaan orang tua, dan tingkat pendidikan dapat mempengaruhi

(17)

commit to user

2. Variabel apa yang paling dominan mempengaruhi probabilitas seseorang

menjadi anak jalanan?

C. Tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis:

1. Untuk mengetahui apakah variabel pendapatan orang tua, jumlah

saudara kandung, pendidikan orang tua dan status pekerjaan orang tua

dapat mempengaruhi seseorang menjadi anak jalanan.

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel-variabel tersebut

terhadap probabilitas seseorang menjadi anak jalanan.

D. Manfaat penelitian

Dengan diadakan penelitian ini diharapkan dapat meberikan manfaat

dan kontribusi sebagai berikut:

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan saran

kepada Pemerintah Kota Surakarta dalam mengambil atau penerapan

kebijakan khususnya di sektor ekonomi sosial.

2. Memberikan masukan bagi para peneliti berikutnya mengenai

permasalahan ekonomi sosial.

3. Memberikan informasi bagi masyarakat tentang keberadaan pengamen

(18)

commit to user

BAB II

Landasan Teori

A. Pembangunan Ekonomi

1. Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi

Paham pertumbuhan ekonomi dan paham pembangunan ekonomi

memiliki perbedaan yang jelas, masing-masing pengertian mengandung

makna yang berbeda satu dengan yang lainya. Pertumbuhan ekonomi

merupakan suatu peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan

ekonomi masyarakat. Pertumbuhan menyangkut perkembangan

berdimensi tunggal dan diukur dengan meningkatnya hasil produksi dan

pendapatan. Dalam pertumbuhan ekonomi biasanya ditelaah proses

produksi yang melibatkan sejumlah jenis produk dengan menggunakan

sejumlah sarana produk tertentu. Dalam hubungan ini ditunjukan

hubungan perimbangan kuantitatif antara sejumlah sarana di satu pihak

dengan hasil seluruh produksi disatu pihak dengan hasil seluruh

produksi di pihak lain (Djoyohadikusumo 1994 : 1).

Sedangkan pembangunan ekonomi mengandung arti yang lebih

luas. Peningkatan produksi memang merupakan salah satu ciri pokok

dalam proses pembangunan. Dalam hal itu selain dari segi peningkatan

produksi secara kuantitatif, proses pembangunan mencakup perubahan

pada komposisi produksi, perubahan pada pola pembangunan (alokasi)

sumberdaya produksi diantara sektor-sektor kegiatan ekonomi,

(19)

commit to user

perubahan pada pembagian (distribusi) kekayaan dan pendapatan antara

berbagai golongan pelaku ekonomi, perubahan kerangka kelembagaan

dalam kehidupan masyarakat secara menyeluruh (Djoyohadikusumo

1994 : 2-3).

Terwujudnya pembangunan ekonomi pada dasarnya tidak hanya

bertumpu pada aspek ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu

proses yang tidak hanya mempengaruhi hubungan ekonomi tetapi

keseluruhan tatanan sosial dan budaya masyarakat (Hoselitz : 1999).

Aspek sosial budaya juga diperlukan dalam mewujudkan terciptanya

suatu kondisi terwujudnya pembangunan ekonomi, wawasan

sosio-budaya masyarakat haruslah diubah jikalau pembangunan diharapkan

dapat berjalan. Manakala terdapat hambatan sosial yang menghalangi

kemajuan ekonomi, hambatan tersebut harus disingkirkan atau

disesuaikan. Organisasi sosial seperti keluarga barsama, sistem kasta

warna kulit, dogma agama harus di modifikasi sehingga selaras dengan

pembangunan (Jingan : 70).

Menurut (Finer dalam Todaro: 26), dalam momentum

pertumbuhan Perekonomian diperlukan partisipasi dari masyarakat dan

juga dorongan pemerintah, tanpa pemerintahan yang stabil, perdamaian

dan ketentraman, kebijaksanaan publik akan selalu berubah-ubah.

Rencana ekonomi akan mengalami kemunduran, dan pembangunan akan

berantakan sehingga diperlukan perlengkapan administratif yang baik

(20)

commit to user

perundang-undangan yang berfungsi sebagai pedoman dan memberikan

kepastian tentang keuntungan yang sepadan dengan usaha dan

pengorbanan seperti yang dijanjikan oleh program pembangunan

ekonomi.

Pembagunan ekonomi merupakan suatu tujuan dalam ekonomi

untuk menciptakan suatu keadaan masyarakat yang terjamin pada

kehidupanya, terbebas dari ketakutan dalam menjalani hidupnya. Dalam

terwujudnya pembangunan terdapat tiga inti pembangunan menurud

ketiga inti tersebut itu adalah (Goulet dalam Todaro dan Stephen, 2008 :

26-29) :

a. Kecukupan (sutenence) :Kemampuan Memenuhi Kebutuhan Dasar

Kecukupan merupakan kemampuan seseorang dalam

memenuhi kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar meliputi pangan,

sandang, papan, kesehatan dan keamanan. Fungsi dasar dari semua

kegiatan ekonomi, pada hakikatnya, adalah menyediakan sebanyak

mungkin masyarakat yang dilengkapi perangkat dan bekal

menghindari kesengsaraan dan ketidakberdayaan yang diakibatkan

oleh keadaan kekurangan.

b. Harga Diri (self-esteem):Menjadi Manusia Seutuhnya

Komponen universal yang kedua dari kehidupan yang serba

baik adalah adaya dorongan diri sendiri untuk maju, untuk

menghargai diri sendiri, untuk merasa pantas dan layak melakukan

(21)

commit to user

c. Kebebasan Dari Sikap Menghamba: Kemampuan Memilih

Kebebasan meliputi kemampuan individu atau masyarakat

untuk memilih. Kebebasan terwujud dalam memperoleh rasa

aman, persamaan hak dalam memperoleh penghidupan, kebebasan

memperoleh pendidikan, kesehatan, rasa aman. Dengan rasa

kebebasan individu atau pun masyarakat akan lebih obtimal

menggali potensi yang ada pada diri dan potensi yang dimiliki

suatu bangsa. Buah terbesar dari pembangunan ekonomi bukanlah

kekayaan menambah kebahagiaan, melainkan menambah pilihan.

2. Kemiskinan Sebagai Penghambat Pembangunan

Negara yang maju dan makmur adalah negara yang mampu

memakmurkan masyarakatnya dan memajukan kehidupan

masyarakatnya dalam berbagai aspek kehidupan. Secara logika keadaan

perekonomian masyarakat akan berdampak pada baik dan buruknya

tingkat kehidupan masyarakat itu sendiri. Apabila suatu masyarakat

dalam kondisi perekonomian maju dan terkendali, maka secara logika

masyarakat dalam kondisi demikian akan memiliki tingkat kehidupan

yang layak dan lebih baik dibandingkan dengan suatu masyarakat yang

memiliki tingkat perekonomian yang rendah.

Tingkat kemiskinan merupakan indikator tingkat keberhasilan

suatu wilayah ataupun suatu negara dalam menciptakan suatu

(22)

commit to user

meningkat dari waktu-kewaktu menggambarkan suatu negara atau

wilayah tersebut memiliki pertumbuhan ekonomi yang rendah atau

negatif dan pada sebalikya apabila dalam suatu negara atau wilayah

memiliki tingkat kemiskinan yang rendah dan cenderung mengalami

penurunan dari waktu-kewaktu maka dapat dikatakan negara atau

wilayah tersebut memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang positif.

Kemiskinan merupakan suatu permasalahan yang berkaitan

dengan keterbelakangan ekonomi. Istilah kemiskinan muncul ketika

seorang atau kelompok orang tidak mampu menyukupi tingkat

kemakmuran ekonomi yang dianggap sebagai kebutuhan minimal

standar hidup tertentu. Di negara berkembang kemiskinan biasanya

dihubungkan dengan masalah kemakmuran (walfare economic) yang

menguak pada konsumsi barang dan jasa (Kuncoro 2003 : 103)

Pembangunan ekonomi bukan saja berarti perubahan dalam

stuktur ekonomi suatu negara yang menyebabkan peranan sektor

pertanian menurun dan kegiatan industri meningkat. Di samping

perubahan seperti itu pembangunan ekonomi berarti pula suatu proses

menyebabkan antara lain: (i) perubahan orientasi kegiatan ekonomi,

politik dan sosial yang pada mulanya mengarah ke dalam suatu daerah

menjadi beriorentasi ke luar; (ii) perubahan pandangan masyarakat

mengenai anak dalam keluarga; (iii) perubahan dalam kegiatan

penanaman modal yang tidak produktif, seperti membeli rumah, emas

(23)

commit to user

perubahan dalam pandangan masyarakat yang pada mulanya

berkeyakinan bahwa kehidupan manusia ditentukan alam sekitarnya dan

selanjutnya berpandangan bahwa manusia harus memanipulasi keadaan

alam sekitarnya untuk menciptakan kemajuan (Rostow dalam Sukirno,

1985:102).

(Sharp 1996 dalam Kuncoro 1997: 107) mengidentifikasi

penyebab kemiskinan di pandang dari sisi ekonomi:

a. Kemiskinan muncul karena karena ketidaksamaan pola kepemilikan

sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang

timpang.

b. kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumber daya

alam.

c. Kemiskinan muncul akibat perbedaan akses dalam modal, ketiga

penyebab kemiskinan berawal pada teori lingkaran setan kemiskinan

(vercious circle of poverty).

Menurud (Nurkse dalam Sukirno: 217), lingkaran perangkap

kemiskinan, atau dengan singkat lingkaran setan kemiskinan, adalah

suatu rangkaian kekuatan-kekuatan yang saling mempengaruhi satu

sama lain secara demikian rupa, sehingga menimbulkan keadaan di

mana suatu negara akan tetap miskin dan akan mengalami banyak

kesukaran untuk mencapai pembangunan lebih tinggi. Pada hakekatnya

(24)

commit to user

masa lalu tetapi juga menimbulkan hambatan kepada pembangunan di

masa datang , ”A country is poor becaus’ s it poor”.

Senada dengan pendapat Nurkse, (Meir dan Baldwin dalam

Sukirno: 219), lingkaran perangkap kemiskinan timbul dari hubungan

saling mempengaruhi antara keadaan masyarakat terbelakang dan

tradisional dengan kekayaan alam yang belum dikembangkan. Di negara

berkembang kekayaan alam belum sepenuhnya dikelola dan

dikembangkan secara maximal karena tingkat pendidikan masyarakat

masih relatif rendah, karena kurangnya tenaga ahli, dan dikarenakan

terbatasnya mobilitas dari sumber daya manusia. Di berbagai negara

menunjukan bahwa semakin kurang berkembang keadaan sosial dan

ekonomi suatu negara semakin sedikit pula jumlah sumber daya dan

kekayaan yang dimiliki dapat dikembangkan dan dapat dimanfaatkan.

Ketiga lingkaran perangkap kemiskinan di atas dapat digambarkan

(25)

commit to user

Gambar 2.1

Kemiskinan antar generasi Sumber: Sadono Sukirno

Dari gambar diatas diartikan teori perangkap kemiskinan

berpendapat bahwa: (i) ketidakmampuan untuk mengerahkan tabungan

yang cukup, (ii) kurangnya perangsang untuk penanaman modal, (iii)

taraf pendidikan, pengetahuan, dan kemahiran masyarakat yang relatif

rendah, merupakan tiga faktor utama penghambat terciptanya

pembentukan modal dan perkembangan ekonomi ke masa yang akan

datang.

Kemiskinan juga dapat dilihat dari faktor sosial-psikologis,

menunjuk pada kekurangan jaringan dan struktur sosial yang

mendukung dalam mendapatkan kesempatan-kesempatan peningkatan

Kekayaan alam kurang dikembangkan (3)

Masyarakat masih terbelakang

(1) Kekurangan modal

Pembentukan modal rendah produktifitas rendah

Pembentukan rendah pendapatan riil rendah

(2)

(26)

commit to user

produktivitas. Dimensi kemiskinan ini juga dapat diartikan sebagai

kemiskinan yang disebabkan oleh adanya faktor-faktor penghambat

yang mencegah atau merintangi seseorang dalam memanfaatkan

kesempatan-kesempatan yang ada di masyarakat. Faktor-faktor

penghambat tersebut secara umum meliputi faktor internal dan eksternal.

Faktor internal datang dari dalam diri seseorang itu sendiri sehingga

kemiskinan itu terjadi, seperti rendahnya pendidikan atau adanya

hambatan budaya.

Teori “kemiskinan budaya” (cultural poverty) dikemukakan

Oscar Lewis dalam artikel Edi Suharto, menyatakan bahwa kemiskinan

dapat muncul sebagai akibat adanya nilai-nilai atau kebudayaan yang

dianut oleh orang-orang miskin, seperti malas, mudah menyerah pada

nasib, kurang memiliki etos kerja. Faktor eksternal datang dari luar

kemampuan orang yang bersangkutan, seperti birokrasi atau

peraturan-peraturan resmi yang dapat menghambat seseorang dalam

memanfaatkan sumberdaya. Kemiskinan model ini seringkali

diistilahkan dengan kemiskinan struktural. Menurut pandangan ini,

kemiskinan terjadi bukan dikarenakan “ketidakmauan” si miskin untuk

bekerja (malas), melainkan karena “ketidakmampuan” sistem dan

struktur sosial dalam menyediakan kesempatan-kesempatan yang

memungkinkan si miskin dapat bekerja.

Jika kemiskinan didefinisikan sebagai keadaan kekurangan uang

(27)

commit to user

keberhasilan/kesejahteraan secara umum pula dapat didefinisikan

sebagai keadaan kecukupan bahkan lebih atas uang atau sumber daya.

Definisi serta pengukuran kemiskinan dan keberhasilan/kesejahteraan

diatas dapat dipaparkan sebagai berikut:

1. Keluarga Kaya

a. Bappenas (2004) mendefinisikan kesejahteraan/keberhasilan

apabila masyarakat, laki-laki dan perempuan dapat memenuhi

kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat secara umum antara

lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan,

pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam

dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman

tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan

sosial-politik.

b. Bank Dunia mendefinisikan kesejahteraan melalui Garis

kemiskinan. Garis kemiskinan yang ditetapkan Bank Dunia

adalah sebesar $US2 per kapita per hari (Suharto dalam

Rusmana, 2005), setelah dikonversi ke dalam rupiah (kurs:Rp

9.423,00/US$) maka jumlah ini menjadi sekitar Rp 18.800,00

per kapita per hari atau Rp 564.000,00 per bulan. Maka

seseorang dapat dikatakan sejahtera jika pendapatannya

melebihi Rp 564.000,00 per bulan, atau minimal sama.

c. Amartya Sen (dalam Nugroho, 2006) mendefinisikan bahwa

(28)

commit to user

kelaparan, atau kehinaan sosial serta dapat membesarkan dan

mendidik anak-anaknya.

d. BPS mengukur kemiskinan berdasarkan tingkat konsumsi

penduduk terhadap kebutuhan dasar yang meliputi kebutuhan

makanan dan non makanan (damandiri.or.id, dalam Wurie

2006). Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, pengukuran

tersebut menghasilkan Garis Kemiskinan yang membatasi

seseorang miskin atau tidak dimana angka ini berubah dari

waktu ke waktu mengikuti perkembangan harga. Publikasi

terakhir BPS mendasarkan bahwa Garis Kemiskinan tahun

2004 adalah Rp.154.749,00.

e. Sajogyo mendefinisikan orang miskin dengan indikator beras

yang dibedakan atas daerah perkotaan dan pedesaan, maka

definisi kesejahteraan di daerah perkotaan adalah jika sebuah

keluarga dapat mengkonsumsi beras sebanyak > 480 kg/tahun,

sementara di pedesaan keluarga dikatakan sejahtera bila

mampu mengkonsumsi beras sebanyak > 320 kg/tahun

(damandiri.or.id, 2006).

f. BKKBN sejak tahun 1994 menggunakan indikator

kesejahteraan untuk menggambarkan kondisi masyarakat dan

mengelompokkannya dalam tingkat kesejahteraan tertentu.

Keluarga Prasejahtera dan Sejahtera dikelompokkan dalam

(29)

commit to user

memenuhi indikator kategori sebagai berikut (damandiri.or.id,

2006):

1) Sejahtera II, memiliki indikator telah dapat rnemenuhi

kebutuhan sosial psikologisnya, namun belum mampu

memenuhi kebutuhan pengembangannya, seperti

kebutuhan menabung dan memperoleh informasi.

2) Sejahtera III, indikatornya adalah yang telah mampu

memenuhi kebutuhan dasar, sosial psikologis dan

pengembangan keluarga, tetapi belum dapat secara teratur

dan aktif memberikan sumbangan materi dan melakukan

kegiatan kemasyarakatan.

3) Sejahtera III Plus, memiliki indikator dapat memenuhi

seluruh kebutuhan, yakni dari kebutuhan dasar sampai

kebutuhan untuk berpartisipasi dalam aktivitas

kemasyarakatan.

2. Keluarga Miskin

Kemiskinan bukanlah kata yang asing bagi masyarakat saat

ini karena kemiskinan tidak hanya dapat dirasakan namun juga

dapat dilihat dengan jelas. Seseorang dapat melihat dengan jelas

apa dan bagaimana ”miskin” itu. Oleh sebab itu kemiskinan dapat

didefinisikan dalam berbagai kalimat yang berbeda namun

(30)

commit to user

kebutuhan konsumsi dasar dan memperbaiki keadaan, kurangnya

kesempatan berusaha, hingga pengertian yang lebih luas yang

menyangkut aspek sosial dan moral. Sahdan (2005) menyatakan,

bahwa dalam aspek sosial kemiskinan berkaitan erat dengan sikap,

budaya hidup dan lingkungan dalam suatu masyarakat. Selain itu

kemiskinan juga dapat merupakan suatu ketidakberdayaan

sekelompok masyarakat terhadap sistem pemerintahan sehingga

mereka berada pada posisi yang sangat lemah dan tereksploitasi

(kemiskinan struktural). Tetapi pada umumnya, ketika orang

berbicara mengenai masalah kemiskinan, yang dimaksud adalah

kemiskinan material. Dalam pengertian ini, maka seseorang masuk

dalam kategori miskin apabila tidak mampu memenuhi standar

minimum kebutuhan pokok untuk dapat hidup secara layak. Hal ini

sejalan dengan definisi yang dinyatakan oleh Kuncoro (2000)

bahwa kemiskinan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan

seseorang atau sekelompok orang untuk mencukupi kebutuhan

minimum standar hidup tertentu. Ini yang sering disebut dengan

kemiskinan konsumsi.

Beberapa definisi lain dari konsep kemiskinan ini adalah

sebagai berikut:

a. Bappenas (2004) mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi

dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan

(31)

commit to user

mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang

bermartabat. Hak-hak dasar masyarakat secara umum antara

lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan,

pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam

dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman

tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan

sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Untuk

mewujudkan hak-hak dasar masyarakat miskin ini,

BAPPENAS menggunakan beberapa pendekatan utama antara

lain (Joseph F. Stepanek, (ed) dalam Sahdan, 2005):

1) pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach),

kemiskinan sebagai suatu ketidakmampuan (lack of

capabilities) seseorang, keluarga dan masyarakat dalam

memenuhi kebutuhan minimum, antara lain pangan,

sandang, papan, pelayanan kesehatan, pendidikan,

penyediaan air bersih dan sanitasi.

2) pendekatan pendapatan (income approach), kemiskinan

disebabkan oleh rendahnya penguasaan aset, dan alat-alat

produktif seperti tanah dan lahan pertanian atau

perkebunan, sehingga secara langsung mempengaruhi

pendapatan seseorang dalam masyarakat. Pendekatan ini,

menentukan secara rigid standar pendapatan seseorang di

(32)

commit to user

3) pendekatan kemampuan dasar (human capability

approach), menilai kemiskinan sebagai keterbatasan

kemampuan dasar seperti kemampuan membaca dan

menulis untuk menjalankan fungsi minimal dalam

masyarakat. Keterbatasan kemampuan ini menyebabkan

tertutupnya kemungkinan bagi orang miskin terlibat dalam

pengambilan keputusan.

4) pendekatan objective and subjective, sering juga disebut

sebagai pendekatan kesejahteraan (the welfare approach)

menekankan pada penilaian normatif dan syarat yang harus

dipenuhi agar keluar dari kemiskinan. Pendekatan subyektif

menilai kemiskinan berdasarkan pendapat atau pandangan

orang miskin sendiri.

b. Bank Dunia mendefinisikan kemiskinan sebagai

ketidakmampuan memperoleh standar hidup yang normal

(Mikkelsen dalam Nugroho, 2006).

c. Amartya Sen mendefinisikan kemiskinan adalah suatu keadaan

kelaparan dan ketidakmampuan untuk menghadapi kehinaan

sosial, membesarkan anak dan mendidiknya (Mikkelsen dalam

Nugroho, 2006).

d. BPS (1994) mendefinisikan kemiskinan adalah kondisi dimana

seseorang hanya dapat memenuhi kebutuhan makannya kurang

(33)

commit to user

dikombinasikan dengan kebutuhan non makanan yang berupa

kecukupan sandang, papan, pendidikan, kesehatan, yang

didasarkan atas sejumlah komoditas dengan ukuran tertentu.

Gambaran komoditas tersebut dipaparkan dalam Modul

SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) yaitu survei

konsumsi dan belanja rumah tangga tiap propinsi untuk

menggambarkan tingkat nasional. Pengukuran BPS ini

menghasilkan apa yang disebut Garis Kemiskinan (GK),

sebagai batas seseorang miskin atau tidak. Garis kemiskinan

yang telah ditetapkan BPS dari tahun ke tahun mengalami

perubahan.

Untuk tahun l976, misalnya, indikator ini

menghasilkan patokan GK sebesar Rp 4.522 per orang per

buian untuk perkotaan dan Rp 2.849 per orang per bulan untuk

pedesaan. Tapi, 20 tahun kemudian, pada 1996, karena

meningkatnya harga berbagai komoditas, maka angka GK telah

berubah menjadi Rp 38.246 untuk perkotaan dan Rp 27.413

untuk pedesaan (damandiri.or.id, 2006).

Pada tahun 2003 menurut Indonesian Nutrition

Network (INN) (dalam Rusmana, 2005) GK adalah Rp. 96.956

untuk perkotaan dan Rp. 72.780 untuk pedesaan. Kemudian

Menteri Sosial menyebutkan berdasarkan indikator BPS garis

[image:33.595.167.511.236.506.2]
(34)

commit to user

penghasilan di bawah Rp. 150.000 per bulan. Bahkan

Bappenas yang juga mendasarkan pada indikator BPS tahun

2005 menetapkan batas kemiskinan keluarga adalah yang

memiliki penghasilan di bawah Rp. 180.000 per bulan.

Berdasarkan kesamaan indikator tersebut maka BPS dan

Bappenas dapat dikatakan mempunyai kesamaan dalam

penetapan Garis Kemiskinan tahun 2005.

e. Sajogyo menggunakan tingkat konsumsi ekuivalen beras per

kapita sebagai indikator kemiskinan dan dibedakan antara desa

dengan kota. Indikator tersebut adalah sebagai berikut ;

1) Pedesaan

a) < 320 kg/tahun ® miskin

b) < 240 kg/tahun ® sangat miskin

c) < 180 kg/tahun ® melarat

2) Perkotaan

a) < 480 kg/tahun ® miskin

b) < 270 kg/tahun ® melarat

c) < 360 kg/tahun ® sangat miskin

f. BKKBN sejak tahun 1994 menggunakan indikator

kesejahteraan untuk menggambarkan kondisi masyarakat dan

mengelompokkannya dalam tingkat kesejahteraan tertentu.

BKKBN membuat tingkat kesejahteraan dalam 5 kategori

sebagai berikut. Berikut ini adalah kategori beserta

(35)

commit to user

1) Prasejahtera, dengan indikator tidak mampu memenuhi

kebutuhan standar minimal yaitu ibadah agama, pangan,

sandang, papan dan kesehatan.

2) Sejahtera I, memiliki indikator dapat memenuhi kebutuhan

dasar tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan sosial

psikologisnya, yakni pendidikan, keluarga berencana,

interaksi dalam keluarga, interaksi dalam lingkungan

tempat tinggal dan transportasi.

3) Sejahtera II, memiliki indikator telah dapat rnemenuhi

kebutuhan sosial psikologisnya, namun belum mampu

memenuhi kebutuhan pengembangannya, seperti kebutuhan

menabung dan memperoleh informasi.

4) Sejahtera III, indikatornya adalah yang telah mampu

memenuhi kebutuhan dasar, sosial psikologis dan

pengembangan keluarga, tetapi belum dapat secara teratur

dan aktif memberikan sumbangan materi dan melakukan

kegiatan kemasyarakatan.

5) Sejahtera III Plus, memiliki indikator dapat memenuhi

seluruh kebutuhan, yakni dari kebutuhan dasar sampai

kebutuhan untuk berpartispasi dalam aktivitas

kemasyarakatan.

Dewasa ini muncul fenomena kemiskinan kronis, dimana

(36)

commit to user

lebih dari satu generasi (kemiskinan antar generasi akan

dibicarakan pada bagian lain). Clark dan Hulme (dalam Hulme dan

McKay, 2005) mengemukakan bahwa perspektif kemiskinan telah

lebih berkembang sekarang ini dengan pengertian yang lebih

meluas dari sekedar multidimensional alamiah kemiskinan, penting

untuk mengingat kedalaman dan kepelikan dari kemiskinan

tersebut karena terdapat perkembangan yang lambat dalam

mengenali dan merespon kemiskinan persisten dari waktu ke

waktu. Hulme dan McKay (2005), menyatakan bahwa diperlukan

perspektif multidimensi dan multidisipliner yang lebih luas untuk

memahami kemiskinan kronis karena terdapat banyak kasus

didalamnya dibandingkan kemiskinan secara umum.

3. Upaya Mengatasi Kemisknan

Menurut Hadiwiguno (2009), kemiskinan adalah masalah

yang kronis dan kompleks. Dalam menanggulangi kemiskinan

permasalahan yang dihadapi bukan hanya terbatas pada hal-hal

yang menyangkut pemahaman sebab-akibat timbulnya kemiskinan,

melainkan juga melibatkan preferensi, nilai, dan politik. Kemudian

menurut Nurhadi, dijelaskan bahwa untuk menanggulangi

kemiskinan dapat dilakukan melalui 2 pendekatan, yaitu:

a) Pendekatan peningkatan pendapatan.

(37)

commit to user

Kedua pendekatan tersebut ditopang oleh empat pilar utama,

yaitu :

a) Penciptaan kesempatan

b) Pemberdayaan masyarakat

c) Peningkatan kemampuan

d) Perlindungan sosial

Dalam mengatasi kemiskinan (Masyukur Wiratno 1992: 7 ;

M.L Jingan 1996: 53-71 dalam Vicha 2006), mengemukakan

bahwa mengatasi masalah kemiskinan dalam pembangunan atau

sebagai persyaratan dasar dalam pembangunan ekonomi

diperlukan upaya seperti:

a. Atas Dasar Kekuatan Sendiri

Proses pertumbuhan harus bertumpu pada

kemampuan perekonomian dalam negeri. Hasrat untuk

memperbaiki nasib dan prakarsa untuk menciptakan

kemajuan meteri harus muncul dari warga itu sendiri.

Pembangunan harus diprakarsai oleh negara dan tidak dapat

di cangkok dari luar, karena kekuatan dari luar hanya

membantu dan tidak mengganti kekuatan nasional.

Masyarakat dalam suatu negara seharusnya dapat

menggunakan sumber-sumber alam yang ada di dalam negeri

(38)

commit to user

b. Menghilangkan Ketidak Sempurnaan Pasar

Ketidaksempurnaan pasar menyebabkan immobilitas

faktor dan menghambat ekspansi sektoral pembangunan.

Untuk menghapus hal ini, lembaga sosio-ekonomi yang harus

diperbaiki atau diganti dengan yang lebih baik. Fasilitas

kredit yang mudah dan murah harus di sediakan bagi para

petani, pedagang kecil dan usahawan. Pengetahuan,

kesempatan, pasar dan teknik produksi harus di tingkatkan,

sehingga diharapkan produksi akan maksimun dan

penggunaan secara efisien sumber-sumber yang ada. Usaha

menghilangkan ketidaksempurnaan pasar dapat

meningkatkan produksi, sehingga diperlukan suatu

perubahan struktural.

c. Perubahan Struktural

Di Negara miskin kebanyakan penduduknya tidak

terlatih, tidak terdidik, buta huruf dan secara sosial

terbelakang. Oleh karena itu, penting pula mendatangkan

teknologi dari negara maju yang sesuai dengan tatanan sosio

ekonomi. Perubahan struktural merupakan peralihan dari

masyarakat pertanian tradisional menjadi ekonomi industri

modern yang mencakup peralihan lembaga, sikap sosial, dan

motifasi secara radikal. Perubahan-perubahan struktural ini

(39)

commit to user

produktifitas buruh semakin meningkat, pendayagunaan

sumber-sumber baru serta perbaikan teknologi semakin

tinggi.

d. Kriteria Investasi yang Tepat

Negara terbelakang tidak hanya menentukan besarnya

tingkat investasi tetapi juga komposisi investasi tersebut.

Negara bertanggung jawab untuk melakukan investasi yang

paling menguntungkan masyarakat. Pola obtimum investasi

sebagian besar tergantung iklim investasi yang tersedia dan

produktifitas marginal sosial dari berbagai jenis investasi.

Dalam hal ini investasi harus dapat memperbaiki distribusi

pendapatan, memenuhi kebutuhan dasar.

e. Sosio Budaya

Kesejahteraan ekonomi merupakan bagian dari

kesejahteraan sosial pada umumnya. Kenaikan pendapatan

nasional tidak membawa kenaikan kesejahteraan sosial jika

kenaikan pendapatan itu tidak disertai penyesuain budaya

yang ada.

f. Administratif

Administrasi suatu negara yang baik akan

mendukung rencana pembangunan. Dalam hal ini sebuah

pemerintahan kuat tidak korup dan mampu menegakan

(40)

commit to user

B. Determinan Permasalahan Ekonomi Sosial Anak Jalanan

1. Tingkat Pendapatan Orang Tua

Orang tua yang tidak mampu tentu adalah alasan yang masuk

akal untuk seseorang tidak memiliki pendidikan yang memadai.

Awalnya penghasilan orang tua rendah dan semakin rendah pada suatu

waktu tertentu. Dengan demikian orang tua tersebut tidak mampu

menginvestasikan pendapatannya untuk pendidikan anak-anaknya

(Beams dalam Nugroho, 2006; Corcoran dan Chaudry, 1997). Dengan

pendapatan yang rendah, maka sangat memungkinkan seorang anak dari

keluarga miskin menjalani kehidupan yang tidak layak karena

keterbatasan dalam memperoleh kehidupan yang lebih baik.

2. Jumlah Saudara Dalam Keluarga (Berdasar Teori Demografi)

Di negara berkembang pertumbuhan penduduk yang sangat

besar dan tidak seimbang dengan pertumbuhan ekonomi justru akan

menimbulkan permasalahan. Berdasar teori demografi Thomas Robert

Maltus dalam buku ”The Principal of As It Affects Future Improfment of

Society”, kematian sebagai bentuk paksaan alam guna mencapai

keseimbangan antara jumlah penduduk dan ketersediaan sumber daya.

Teori ini menerangkan bahwa akan selalu tejadi keseimbangan antara

jumlah penduduk dan jumlah sumber kehidupan karena, dalam

pandangan Malthus jumlah dan tingkat hidup penduduk langsung

berkaitan erat dengan sumber kehidupan manusia (Djoyohadikusumo

(41)

commit to user

Terdapat jarak yang cukup dekat antara variabel demografis

dengan kondisi kemiskinan sebuah keluarga. Demografis yang

dimaksudkan di sini antara lain: (i) Jumlah Anggota keluarga (Bhalotra

dan Heady, 2003), (ii) Hasrat Mempunyai anak/birth order.(iii) Tingkat

ketergantungan/dependency ratio (Basu dan Tzanatos, 2003). (iv)

Jumlah penduduk yang bekerja. (v) Tingkat mobilitas penduduk dan

sebagainya. Dikatakan cukup dekat karena kondisi demografis secara

tidak langsung dapat mempengaruhi tingkat kemakmuran sebuah

keluarga. Misalnya tingginya jumlah anggota keluarga dan hasrat

mempunyai anak akan semakin meningkatkan beban ketergantungan.

Beban ketergantungan yang tinggi dapat ditafsirkan pengeluaran yang

semakin besar. Dengan asumsi jumlah penduduk yang bekerja tidak

berubah, kondisi tersebut akan menyebabkan peluang keluarga menjadi

miskin lebih besar (Sutyastri dan Prijono, 2002; Alice Fabre And

Emmanuel Augeraud-Veron, 2004).

Michael Sadler (Lle Wellyin-Jones, 1974: 53), menyatakan

bahwa fecunditas (kemampuan memiliki anak) sama dengan ratio

inverse dari kondisi jumlah penduduk yang jarang dan sedikit akan

membantu manusia meningkatkan peradapan. Jumlah penduduk yang

kecil akan membuat lapangan pekerjaan yang tersedia terdistribusikan

dengan baik dan hal ini akan semakin memberi kesempatan manusia

(42)

commit to user

3. Tingkat Pendidikan Orang Tua (Berdasar Teori Model Politik Ekonomi)

Sesuai dengan UUD 1945, rakyat Indonesia tidak lagi

terstruktur dalam kelas yang didasarkan pada sistem feodal atau borjuasi

(setidaknya dalam teori/termaktub dalam undang-undang, walaupun

pada kenyataannya tidak demikian). Sistem pendidikan nasional yang

dirumuskan pemerintah masih cenderung menciptakan ketimpangan

struktur masyarakat seperti yang terlihat dalam praktik pendidikan

masyarakat kolonial. Melucuti kemapanan sekolah akan mempertajam

ketimpangan masyarakat. Sebagian besar porsi pendidikan terutama

pendidikan bermutu hanya dapat diakses oleh kalangan the have. Dalam

kenyataan yang demikian maka kecil harapan bagi rakyat miskin untuk

dapat mengakses pendidikan, apalagi pendidikan bermutu. Mereka akan

tetap bergulat dalam kemelaratan pendapat ini dikemukakan Ivan Illich

(2009).

Seseorang yang berpendidikan tinggi tentu akan memperoleh

ilmu pengetahuan dan keterampilan dari pendidikannya tersebut.

Dengan demikian ia akan dapat bekerja dan memberikan kontribusi pada

perusahaan yang dapat memberinya penghasilan tinggi, seandainya ia

tidak memiliki jiwa wirausaha. Penghasilan yang tinggi tentu dapat

membantu seseorang untuk lepas dari kondisi kemiskinan dan

kekurangan. Sebaliknya pengetahuan dan keterampilan yang

terbatas/kurang hanya dapat membuat seseorang memperoleh

(43)

commit to user

2006). Pendapat lain mengenai pengaruh pendidikan adalah studi

mengenai kemiskinan persisten di Rusia tahun 1994-2001 oleh

Kalugina; Montmarqutte dan Sofer (2004). Mereka menemukan bahwa

semakin tinggi pendidikan kepala rumah tangga maka probabilitas

rumah tangga tersebut menjadi miskin akan semakin kecil. Mereka juga

menemukan bahwa pendidikan yang dicapai pasangan pun turut andil

dalam keberhasilan ekonomi seseorang serta memberikan efek yang

sama terhadap kesejahteraan rumah tangga yang bersangkutan. Misal

keberhasilan seorang suami turut dipengaruhi oleh pendidikan istrinya,

begitu pula sebaliknya dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap

kesejahteraan rumah tangga.

Tingkat pendidikan ini pun tidak terbatas pada pendidikan

individu yang bersangkutan namun pendidikan orang tua pun turut andil

dalam mempengaruhi pendidikan anaknya yang pada akhirnya akan

berpengaruh terhadap keberhasilan ekonomi anak tersebut di masa

depan. Sebagai contoh orang tua yang berpengetahuan luas tentu akan

mendorong anak-anaknya untuk bersekolah sehingga mendapatkan

pendidikan yang memadai yang akan berguna untuk masa depannya.

Sebuah bukti yang dipublikasikan oleh BPS pun menunjukkan bahwa

tingkat pendidikan kepala rumah tangga yang rendah sangat

mempengaruhi indeks kemiskinan (dalam hal ini untuk konteks

kemiskinan desa). Penelitian BPS menghasilkan bahwa 72,01% dari

(44)

commit to user

tidak tamat SD, dan 24,32% dipimpin kepala rumah tangga yang

berpendidikan SD (Sahdan dalam Wurie, 2006).

4. Status Pekerjaan Orang Tua

Jenis pekerjaan orang tua turut menentukan keberhasilan

seorang anak. Hal ini dikemukakan Corcoran dan Chaudry (1997) dalam

studinya mengenai kemiskinan antar generasi di Amerika.

C. Kemiskinan Antar Generasi

Untuk banyak orang kemiskinan merupakan situasi yang sulit untuk

keluar/lepas darinya yang paling tegas digambarkan dengan

perampasan/kehilangan yang ditransmisi dari satu generasi ke generasi

selanjutnya (Hulme dan McKay, 2005). Perampasan/kehilangan yang

dimaksud adalah hak, kehidupan sejahtera, kebebasan, dan sebagainya. Oleh

karena itulah ciri yang paling terlihat dari orang miskin adalah tidak

terdapatnya kebebasan (berupa berpolitik, berpendapat dan lain-lain) serta

tidak sejahteranya hidup mereka.

Pola dari kemiskinan antar generasi ini dapat dilihat dari kemiskinan

anak-anak. Ada kemungkinan mereka dapat lepas dari kemiskinan tersebut

atau tetap hidup dalam kemiskinan ketika mereka dewasa. Inilah yang perlu

diperhatikan. Satu dari dua anak Negro Amerika serta tiga dari empat anak

kulit putih yang miskin persisten tidak mengalami kemiskinan ketika masa

dewasa. Namun demikian sejumlah kecil anak-anak miskin persisten,

(45)

commit to user

pada orang Negro Amerika. Sebanyak separuh dari orang Negro Amerika

yang miskin, minimal dari separuh masa kanak-kanak mereka dalam

keadaan miskin yang paling sedikit pada masa awal dewasa mereka. Sekitar

seperempat dari orang Negro Amerika tersebut tetap berada dalam

kemiskinan persisten ketika dewasa (Corcoran dan Chaudry, 1997).

Anak-anak dari keluarga miskin mengawali kehidupannya dengan

ketidakberuntungan yang lebih tinggi dari pada anak-anak yang berasal dari

keluarga kaya, akibatnya ketika dewasa mereka kalah siap untuk menjadi

anggota masyarakat yang produktif. Berbagai ketidaksetaraan dalam bidang

ekonomi, politik dan sosiokultural mendorong munculnya perbedaan dalam

kesempatan atau peluang kehidupan dan besar kemungkinan akan

diteruskan dari generasi ke generasi (Laporan Pembangunan Dunia 2006:

209).

Anak-anak yang tidak pernah mengalami kemiskinan memiliki

kemungkinan sangat kecil akan mengalami kemiskinan kembali pada awal

masa dewasanya apabila dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh

dalam kondisi kemiskinan persisten. Dari empat anak Negro Amerika yang

tidak miskin hanya satu yang pernah mengalami kemiskinan pada masa

dewasa mudanya dan kurang dari satu dari dua belas kemudian hidup dalam

kemiskinan jangka panjang. Pola seperti ini terjadi pula pada anak-anak

kulit putih. Anak-anak kulit putih yang mengalami kemiskinan persisten

(46)

commit to user

kemiskinan persisten kembali pada masa dewasanya dibandingkan

anak-anak kulit putih yang tidak miskin (Corcoran dan Chaudry, 1997).

Kemiskinan yang dialami pada masa kanak-kanak dengan

kemiskinan pada masa dewasa sangat berhubungan erat dan pada sebagian

kasus disebabkan oleh adanya kekurangan pada keluarga serta lingkungan

yang miskin pada masa kanak-kanak tersebut. Dengan menggunakan

variabel struktur keluarga, kesejahteraan orang tua, pendidikan orang tua,

pekerjaan orang tua serta keadaan lingkungan yang miskin maka anak-anak

dalam keadaan miskin persisten akan mengalami kemiskinan yang lebih

parah daripada anak-anak yang tidak miskin. Contohnya saja anak-anak

lelaki dari keluarga berpendapatan rata-rata memiliki pendapatan tahunan

50% lebih tinggi daripada anak-anak lelaki dari keluarga miskin setelah

memperhatikan latar belakang keluarga, kemiskinan lingkungan dan

tetangga (Corcoran dan Chaudry, 1997).

Moore (2004) dalam penelitiannya menyatakan bahwa transmisi

kemiskinan antar generasi (pewarisan kemiskinan) dapat dipahami dengan

pendekatan mata pencaharian yang berpusat pada perpindahan ataupun

ketidakhadiran modal (asset) dalam konteks sosial, kelembagaan dan

lingkungan kebijakan. Transmisi tersebut dapat melibatkan transmisi

pribadi dan ketiadaan transmisi maupun transmisi publik dan ketiadaannya.

Transmisi pribadi tidak semata-mata merupakan perpindahan kemiskinan

dari orang tua kepada anak-anaknya namun juga dapat berupa transmisi

(47)

commit to user

transmisi publik merupakan perpindahan sumber daya dari suatu generasi ke

generasi berikutnya. Transmisi tersebut dapat berupa sesuatu yang positif

(cita-cita atau harta tunai) maupun negatif (tenaga kerja terikat, gizi buruk,

diskriminasi jenis kelamin). Berbagai macam aset dapat ditransfer dengan

berbagai mekanisme. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Harper;

Marcus dan Moore (2002):

Intergenerational transmission of poverty can involve the ‘private’

transmission of poverty from older generations of individuals and families

to younger generations (especially, but not solely, from parents to children),

and the ‘public’ transfer (or lack of transfer) of resources from one

generation to the next through, for example, redistribution of the taxed

income of older generations to support the education of the youngest”.

Transmisi antar generasi tersebut dipengaruhi oleh ekonomi, sosial,

politik, budaya serta kelembagaan dengan konteks dimana mereka terjadi.

Norma-norma yang terbentuk secara sosial dapat bersifat membantu atau

menghambat proses transmisi (Moore, 2004). Misalnya diskriminasi jenis

kelamin, ras atau warna kulit dapat membantu perpindahan kemiskinan

antar generasi (dari satu generasi ke generasi berikutnya) karena

diskriminasi tersebut dapat mengurangi bahkan menghalangi akses dari

generasi yang mengalami diskriminasi terhadap kesempatan ekonomi dan

pengakuan masyarakat. Diskriminasi ini pun sering bertahan dan bersifat

tetap dari generasi ke generasi. Generasi yang mendapat perlakuan

(48)

commit to user

diskriminatif pada generasi berikutnya. Hal ini dapat menunjukkan suatu

pola siklus kehidupan kemiskinan. Baik konsep transmisi kemiskinan antar

generasi maupun siklus kehidupan kemiskinan dapat memberikan peluang

untuk masuk dalam proses kemiskinan.

Siklus kehidupan kemiskinan membuka jalan bagi seorang anak

miskin untuk masuk dalam kemiskinan baru bahkan lebih miskin.

Diskriminasi dapat memegang peranan dimana ia dapat membuat orang tua

tidak mampu memberikan pendidikan layak kepada anaknya. Anak yang

tidak berpendidikan dapat tumbuh menjadi pengangguran (anak tersebut

menjalani proses siklus kehidupan kemiskinan). Kemiskinan kronis dapat

disebabkan oleh siklus ini maupun transmisi kemiskinan antar generasi, di

sisi lain dapat menjadi karakteristik dan efek dari kemiskinan kronis ini

(Moore, 2004).

Siklus kehidupan kemiskinan dan transmisi kemiskinan antar

generasi dapat menyebabkan seseorang mengalami kemiskinan kronis,

bahkan pada masa dewasanya. Ia menjalani siklus kemiskinan

bertahun-tahun serta mewariskan kemiskinannya pada generasi berikutnya, ia pun

diwarisi kemiskinan oleh generasi sebelumnya. Kemiskinan yang

dialaminya dapat menjadi lebih parah daripada generasi sebelumnya.

Kemiskinan kronis ditandai dengan adanya gejala bahwa kemiskinan

terus diwariskan dari generasi ke generasi (adanya transmisi kemiskinan

antar generasi). Selain itu keadaan ini juga ditunjukkan oleh pola

(49)

commit to user

seseorang pada suatu waktu. Misalnya saja contoh di atas, seorang anak

yang tidak berpendidikan karena dia memang tidak mampu mendapatkan

pendidikan layak akan berlanjut menjadi pengangguran. Seorang

pengangguran tentu akan tidak mampu memenuhi kebutuhan minimal

kebutuhan dasar. Dengan demikian ia akan terjebak dalam proses siklus

hidup kemiskinan terus menerus sepanjang hidupnya, bahkan bukan tidak

mungkin ia akan mewariskan kemiskinannya pada keturunannya kelak.

Kemiskinan kronis dapat menghasilkan adanya siklus hidup

kemiskinan dan transmisi antar generasi. Kemiskinan kronis dapat berupa

suatu kemiskinan yang berlangsung terus menerus sehingga seorang

individu/masyarakat sangat sulit melepaskan diri darinya. Seorang yang

miskin bisa jadi karena diwarisi kemiskinan oleh generasi sebelumnya dan

besar kemungkinan akan mewariskan pula kemiskinannya pada generasi

berikutnya. Disamping itu ia pun akan terhalang dari akses-akses modern

akibat keterbatasan dan kekurangan yang ia miliki sehingga ia akan tetap

miskin karena keterbatasan yang terus membelenggunya.

Transmisi kemiskinan antar generasi maupun siklus hidup kemiskinan

(50)

commit to user

Transfer antar generasi, ekstraktif, atau ketiadaan transfer

kemiskinan karena modal

Anak-anak miskin/tidak miskin disebabkan oleh transfer,

ekstraktif, keberadaan transfer kemiskinan karena modal, dan

faktor-faktor individual dan struktural

Pengaruh siklus hidup: anak-anak miskin/tidak miskin berubah

menjadi dewasa miskin/tidak miskin disebabkan oleh faktor-

faktor individual dan struktural

Gambar 2.2

Transmisi KemiskinanAntar Generasi Maupun Siklus Hidup

Sumber: Moore, 2004

anak-anak miskin

dewasa miskin

dewasa tidak miskin dewasa

tidak miskin

anak-anak tidak miskin dewasa

miskin

[image:50.595.110.520.89.512.2]
(51)

commit to user

D. Pengertian dan Karakteristik Anak Jalanan

Sebenarnya istilah anak jalanan pertama kali diperkenalkan di

Amerika Selatan, tepatnya di Brazilia, Menimos de Ruas untuk menyebut

kelompok anak-anak yang hidup di jalanan dan tidak memiliki tali ikatan

dengan keluarga (B.S Bambang, 1993: 9). Namun di beberapa tempat lain

istilah anak jalanan berbeda-beda. Di Colombia mereka disebut gamain

(urchin atau melarat) dan ”chinches” (kutu kasur), “marginas” (kriminal

atau marginal) di Vietnam, “saligoman”. Istilah-istilah terrsebut

menggambarkan bagaimana posisi anak-anak jalanan di dalam kehidupan

bermasyarakat. Semua anak sebenarnya memiliki hak untuk memperoleh

kehidupan tidak terkecuali anak jalanan. Namun pada kenyataanya,

mayoritas dan dapat dikatakan semua anak jalanan terpinggirkan dalam

aspek kehidupan.

Pengertian anak jalanan telah banyak dikemukakan oleh para ahli.

Secara khusus, anak jalanan menurut PBB adalah anak yang menghabiskan

sebagian besar waktunya di jalan untuk bekerja, bermain atau beraktifitas

lain. Anak jalanan tinggal dijalanan kerena kemiskinan dan kehancuran

keluarganya. Umumnya anak jalanan bekerja sebagai pengasong,

pemulumg, tukang semir, pelacur anak, dan pengais sampah.

Dalam buku ”Intervensi Psikosial”, anak jalanan adalah anak yang

sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau

berkeliaran di jalan atau tempat-tempat umum lainya. Definisi tersebut

(52)

commit to user

1. Anak-anak

2. Menghabiskan sebagian waktunya

3. Mencari nafkah atau berkeliaran

4. Jalanan dan tempat-tempat lainya

Berdasar hasil kajian di lapangan, secara garis besar anak jalanan

di bedakan dalam tiga kelompok (Surbakti dkk: 1997);

Pertama, children of street, yakni anak-anak yang mempunyai

kegiatan ekonomi-sebagai pekerja anak di jalan, tetapi masih mempunyai

hubungan yang kuat dengan orang tua mereka di jalanan, pada kategori ini

adalah membantu memperkuat penyangga ekonomi keluarganya karena

beban atau tekanan kemiskinan yang harus di tanggung karena tidak dapat

diselesaikan oleh kedua orang tuanya.

Kedua, children of the street, yakni anak-anak yang berpartisipasi

penuh di jalanan, baik secara sosial maupun ekonomi. Beberapa diantara

mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tuanya, tetapi frekuensi

pertemuan mereka tidak menentu. Banyak diantara mereka anak-anak yang

karena suatu sebab – biasanya dikerenakan kekerasan lari atau pergi dari

rumah. Berbagai penelitian menunjukan bahwa anak-anak ini sangat rawan

terhadap perlakuan salah, baik secara sosial, emosional, fisik maupun

seksual (Irwanto, 1955).

Ketiga, children fromfamilies of the street, yakni anak-anak yang

berasal dari keluarga yang hidup di jalanan. Meskipun anak-anak ini

(53)

commit to user

terombang-ambing dari satu tempat ke tempat yang lain dengan segala

resikonya (Blanc dan Associates, 1900). Salah satu ciri penting dari kategori

ini adalah penampangan kehidupan jalanan sejak anak masih bayi bahkan

sejak dalam kandungan. Di Indonesia kategori ini dengan mudah ditemui di

kolong-kolong jembatan rumah-rumah liar sepanjang rel kereta api dan di

pinggiran sungai walaupun secara kualitatif jumlahnya belum diketahui

secara pasti.

Menurut penelitian Departemen Sosial dan UNDP di wilayah Jakarta

dan Surabaya (BKSN 200: 2-4) anak jalanan di kelompokan dalam empat

kategori:

1. Anak jalanan yang hidup di jalanan, dengan kriteria;

a. Putus hubungan atau lama tidak ketemu dengan orang tuanya;

b. 8-10 jam berada di jalanan untuk ”bekerja”;

c. Tidak lagi sekolah;

d. Rata-rata berusia di bawah 14 tahun.

2. Anak jalanan yang bekerja di jalanan, dengan kriteria;

a. Berhubungan tidak t

Gambar

Gambaran komoditas tersebut dipaparkan dalam Modul
  Gambar 2.2 Transmisi KemiskinanAntar Generasi
tabel sebagai berikut:
  Gambar 2.3  Kerangka Teoritis
+7

Referensi

Dokumen terkait

Jika dianggap semua eksperimen untuk mendapatkan berbagai besaran termodinamika bagi sistem zarah identik (dengan berbagai macam je- nis statistika) telah dapat dilakukan, dan

meningkatkan keamanan karena hanya dapat diakses oleh pengguna yang telah terdaftar, dapat diakses dengan fleksibel karena bersifat on line, lebih mudah dalam pencatatan

Pada penelitian ini akan dibuat arang aktif dari tongkol jagung dan diaktivasi secara fisika dan kimia dengan aktivator KOH dimana KOH adalah agen yang paling efektif

Mitra tidak dapat mengangsur sesuai proyeksi bagi hasil dalam akad pembiayaan musyarakah yang ditetapkan oleh BMT Beringharjo Yogyakarta. Pembiayaan yang digunakan

Judul : Pelatihan bolavoli mini bagi guru-guru penjas

Oleh karena itu, penting kiranya untuk mengukur kepuasan pelanggan bagi travel haji dan umroh di Banjarmasin dengan menggunakan strategi yang sesuai karena hasilnya

Gambar 4.15 menunjukkan bahwa penilaian postur kerja sisi kanan operator pada saat membawa batako dari stasiun pencetakan menuju stasiun pengeringan menghasilkan

Berdasarkan pada paparan tersebut maka wilayah kajian manajemen dakwah secara keseluruhan adalah : 80 format dilihat pada aspek unsur-unsur dakwah dikombinasikan