commit to user
DETERMINAN PERMASALAHAN EKONOMI SOSIAL
(STUDI KASUS ANAK JALANAN DI KOTA SURAKARTA)
Skripsi
Disusun Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat untuk
Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas
Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta
oleh :
Nama : Fibrianto Adie Nugroho NIM : F.1106030
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
HALAMAN PERSEMBAHAN
START
SJENAK MLUPAKAN EYD, RUMUS, TEORI, BAHASA APA DAN TATA BAHASA GIMANA. HALAMAN INI KHUSUS BUAT KITA.THITIK.
TANKS TO:
DEAR GOD, TANKS FOR CHANCE FOR ME, TANKS FOR ANYTHING AND EVERYTHING....U’R MY LORD MY GUIDANCE IN MY LIFE. I BELIEVE YOUR PLAN’S PERFECT, BEAUTIFUL AND TO EMBELLISH ME. DEAL and clear,
I believe that.
Tanks for my parents
for supporting until this thesis can be finis.
tanks for my big family. “FULL TEAM”
GREAT and TANKS FOR my lecture AM. Soesilo (turnumun BE)
Tanks for all my friend in Sebelas Maret University (EP 2006); Agus, Anggun, Adith, Aniep, Danang, Francismas, Sidiq, Yoeli, Yoedi, Yusnanto, Danu, Susan, Pipid, Ermawati, Feni, Fetri, Ayu,
Puji, Widar, Wawan, Nurul, Nisa. “ great Incha-INCHI, sTAnd Up bRoO...!!!!”
Tanks for all my friend ex SMA BATIK 2 SURAKARTA FROG KoDOx, zein topa, sebtiawan SiMLONK, simo MBAH MO, GATOD, YUDHIEX SATANIS, BRIAN KETHUL, GOMBLOH, ANDIKA, AGAS,
HARIS Rambak.
“ brother , u’R the real friend, real team !!! ”
Tanks for: bro wiwIEd, bro Fajar, BRO BEAN. “U STAY AT s.o.s”
TanKs for squad: 57060 8844646, 4992 98572, 339473866 232738, 4762 728482, 826426782.
“secreet”
NB; INI HALAMAM YANG PALING GW SUKA. BEBAS, GK RIBET. SORY BWT CREW YANG GK KSEBUT . TANKS.
commit to user
HALAMAN MOTTO
“In The Long Way We Are All Died”
(A. Smith)
“Berakit- Berakit Kehulu, Berenang-Berenang Kemudian
Bersakit-sakit Dahulu Bersenang-Senang Kemudian”
(N.N)
“Menggandeng Tangan, Membuka Pikiran, Membetuk
Masa Depan. Seorang Guru Berpengaruh Slamanya dan
Dirinya Tidak Pernah Tau Kapan Berakhirnya”
(Henry Adam)
“MAU= MAMPU”
(Penulis)
“Jika Keyakinan Itu Tetap Ada, Maka Impian Itu Akan
Tetap Terjaga. Bawa Slalu Nama Tuhan di dalamnya, maka
Impian Itu Akan Menjadi Nyata”
(Penulis)
”Logika, Rumus Matematika 1+1 = 2 Biasa
Nyata, Rumusnya Tuhan 1+1 = Lebih Dari 2
Tanya kenapa...???
commit to user KATA PENGANTAR
Puja serta puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan YME karena berkat rahmat dan karunia-Nya, skripsi ini dapat diselesaikan untuk memenuhi syarat dalam pencapaian gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan pada Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Dalam penyusunan skripsi ini banyak sekali kendala yang penulis hadapi. Namun, seiring dengan berlalunya waktu serta usaha yang tidak kenal lelah, kendala yang muncul bisa teratasi. Tidak lupa penulis menghaturkan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan bantuannya sehingga skripsi ini bisa diselesaikan. Oleh karena itu dengan kerendahan hati dan ketulusan yang mendalam penulis menghaturkan terima kasih kepada :
1. Bapak DR AM Soesilo, MSc selaku pembimbing yang dengan arif dan bijak telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam membimbing dan memberikan masukan yang berarti dalam penyusunan skripsi ini.
2. Bapak Dr. Bambang Sutopo, M.Com., Akt., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta yang secara langsung maupun tidak langsung telah banyak membantu penulis selama menuntut ilmu di Fakultas Ekonomi UNS.
commit to user
4. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta beserta seluruh staff dan karyawan yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan pelayanan kepada penulis.
5. Keluarga yang senantiasa selalu mendoakan, memberi dorongan dan bimbingan kepada penulis.
6. Teman-teman Ekonomi Pembangunan Non Reguler ankatan 2006.
7. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu baik secara langsung maupun tidak atas bantuannya kepada penulis hingga terselesaikannya penelitian ini.
Ibarat pribahasa tiada gading yang tak retak, penulis menyadari betul bahwa di dalam penulisan ini masih terdapat kekurangan-kekurangan, yang dikarenakan keterbatasan waktu & pikiran. Semoga skripsi ini bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Saran serta kritik akan penulis terima, sebagai bahan evaluasi bagi penulis.
Surakarta, 27 Desember 2010
commit to user
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……….. i
ABSTRAK………... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING………. HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI………... iii iv HALAMAN PERSEMBAHAN………. v
HALAMAN MOTTO………. vi
KATA PENGANTAR……… vii
DAFTAR ISI……….. viii
DAFTAR TABEL……….. DAFTAR GAMBAR………. xi xii BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah………... 1
B. Perumusan Masalah ………. 6
C. Tujuan Penelitian……….. 6
D. Manfaat Penelitian……… BAB II. LANDASAN TEORI 6 A. Pembangunan Ekonomi……… 8
1. Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi……….... 2. Kemiskinan Sebagai Penghambat Pembangunan………..
2.1 Pengertian dan Penjelasan Keluarga Miskin………. 3. Upaya Mengatasi Kemiskinan………
8 13 19 26
B. Determinan Permasalahan Ekonomi Sosial Anak Jalanan... 1. Tingkat Pendapatan Orang Tua………...
commit to user
2. Jumlah Saudara Dalam Keluarga……… 3. Tingkat Pendidikan Orang Tua….………... 4. Status Pekerjaan Orang Tua………...…...
30 32 34 C. Kemiskinan Antar Generasi……….. 34 D. Pengertian dan Karakteristik Anak Jalanan ………... 42
E. Penelitian Terdahulu………...……… F. Kerangka Teoritis... G. Hipotesis...
46 47 48
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian……….. 50 B. Jenis dan Sumber Data………. 50 C. Populasi Sampel dan Metode Sampling……….. 51 D. Metode Pengumpulan Data
1. Studi Lapangan ………...……….. 2. Studi Kepustakaan………..………. E. Definisi Operasional Variabel
1. Variabel Dependen... 2. Variabel Independen
a. Tingkat Pendapatan Orang Tua... b. Saudara Kandung... c. Tingkat Pendidikan Orang Tua... d. Status Pekerjaan Orang Tua... F. Teknik Pengolahan Data
1. Analisis Deskriptif...
2. Analisis Statistik...
commit to user
BAB IV. ANALISIS HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Wilayah Penelitian... 1. Kondisi Geografis... 2. Aspek Eonomi... 3. Indikator Kependudukan... a. Komposisi Penduduk...
68 68 70 72 72 b. Pendidikan... c. Kesehatan... d. IPM... B. Analisis Deskriptif.
1. Distribusi Tingkat Pendapatan Orang Tua... 2. Distribusi Jumlah Saudara Kandung... 3. Distribusi Tingkat Pendidikan Orang Tua ... 4. Distribusi Status Pekerjaan Orang Tua... C. Analisis Statistic... a. Model Logit (The Logistic Probability Distribution
Function)... b. Uji T (Tes Run WaldWolfowitz)... c. Uji F... d. KoefisienDeterminasi... D. Uji Ekonometrika (Asumsi Klasik)
1. Uji Multikolinearitas... 2. Uji Heteroskedastisitas... 3. Uji Autokorelasi... E. Interprestasi Ekonomi...
commit to user
BAB V. KESIMPULAN dan SARAN
A. Kesimpulan……….. 102
B. Saran……… 103
commit to user
ii
DETERMINAN PERMASALAHAN EKONOMI SOSIAL (STUDI KASUS ANAK JALANAN DI KOTA SURAKARTA)
ABSTRAK
Fibrianto Adie Nugroho
F1106030
Tujuan dari suatu bangsa adalah menciptakan kemakmuran bagi masyarakat yang ada dan tinggal di Negara tersebut. Kemakmuran suatu bangsa tercipta apabila masyarakat memperoleh dan tercukupi kebutuhan baik secara batiniyah dan lahiriyah. Kemakmuran suatu bangsa tidak hanya dilihat dari aspek ekonomi, tetapi juga aspek-aspek lain di luar ranah ekonomi. Masyarakat dapat dikatakan memperoleh kemakmuran jika tercukupi kebutuhan hidup secara ekonomi dan juga memperoleh keadilan hak yang sama sebagai warga Negara dan terbebas dari diskriminasi.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perameter pendapatan orang tua, jumlah saudara kandung, pendidikan orang tua dan status pekerjaan orang tua terhadap probabilitas seseorang menjadi anak jalanan di Kota Surakarta. Data dalam penelitian ini adalah data primer dan alat analisis dalam penelitian ini menggunakanan ML Binary Logit. Untuk ketepatan dalam menganalisi data yang diperoleh dari lapangan di gunakan program SPSS.16 yaitu untuk pengujian statistik dan asumsi klasik.
Hasil dari penelitian ini pendapatan orang tua mempunyai korelasi negatif dan secara signifikan mempengaruhi probabilitas seseorang menjadi anak jalanan. Jumlah saudara kandung mempunyai korelasi positif terhadap probabilitas seseorang menjadi anak jalanan. Pendidikan orang tua memiliki korelasi negatif dan secara signifikan mempengaruhi probablitas seseorang menjadi anak jalanan. Status pekerjaan orang tua memiliki korelasi negatif terhadap tetapi tidak signifikan mempengaruhi seseorang menjadi anak jalanan.
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang penyebab keberadaan anak jalanan. Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan terhadap pemeritah dan dinas terkait untuk menanggulangi semakin banyaknya keberadaan anak jalanan di Kota Surakarta.
commit to user
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Masa depan suatu bangsa tidak hanya tergantung pada pemimpin yang
berkuasa, namun juga pada kondisi generasi penerus bangsa yang harus
dipersiapakan sejak dini dari semua aspek (fisik, mental, sosial,
intelektualitas). Hal tersebut perlu dilakukan agar dapat memajukan dan
menciptan keadaan suatu negara ke arah yang lebih baik.
Kemiskinan sepertinya tidak pernah bisa lepas dari kehidupan
manusia. Banyak orang di dunia ini hidup di bawah garis kemiskinan.
Tinggi rendahnya tingkat kemiskinan di suatu negara tergantung dari 2 hal
yaitu : 1) tingkat pendapatan nasional rata–rata dan 2) lebar–sempitnya
kesenjangan dari distribusi pendapatan di Negara bersangkutan (Todaro,
2000). Dengan demikian tingkat pendapatan nasional yang rendah dan
lebarnya jurang pendapatan akan semakin memperparah kemiskinan. Ini
terjadi di sebagian besar Negara Dunia Ketiga termasuk Indonesia.
Secara umum negara–negara miskin di Negara Dunia Ketiga memiliki
karakteristik yang hampir sama. Karakteristik ini digunakan sebagai
komponen dalam menghitung kesejahteraan sosial. Karakteristik ini
diantaranya pengeluaran konsumsi yang relatif kecil, pendidikan rendah,
kondisi kesehatan yang buruk, banyaknya pengangguran, sulitnya akses
terhadap pelayanan umum serta kebutuhan dasar seperti air bersih,
commit to user
perumahan dan pakaian (Skoufias, Suryahadi, and Sumarto, 2000). Ini pula
yang terjadi di Indonesia. Untuk memperbaiki keadaan–keadaan tersebut
tentu tak semudah membalik telapak tangan dan tentunya memerlukan dana
yang tak sedikit. Oleh karena itulah banyak negara berusaha meningkatkan
pendapatan nasionalnya guna memperbaiki standar hidup masyarakatnya.
Kondisi perekonomian Indonesia mengalami goncangan sejak
terjadinya krisis ekonomi yang diawali dari pelemahan mata uang rupiah
pada pertengahan tahun 1997 kemudian berimbas pada sektor riil terbukti
beberapa industri dan infrastuktur mengalami kebangkrutan dan kemudian
terjadilah krisis multi dimensi yang belum tertangani sampai saat ini.
Kesenjangan ekonomi atau ketimpangan dalam distribusi pendapatan
antarkelompok masyarakat berpendapatan tinggi dan kelompok masyarakat
berpenghasilan rendah serta tingkat kemiskinan atau jumlah orang yang
berada di bawah garis kemiskinan (poverty line) merupakan dus masalah
besar di banyak negara berkembang, tidak terkecuali Indanesia. Akan tetapi,
sejarah menunjukkan bahwa setelah 10 tahun berlalu pada tahun 1969,
ternyata efek yang dimaksud itu mungkin tidak tepat untuk dikatakan sama
sekali tidak ada, tetapi proses mengalir ke bawahnya sangat lambat.
Akhirnya, sebagai akibat dari stategi tersebut, pada dekade 1980-an hingga
pertengahan dekade 1990-an, sebelum krisis ekonomi, Indonesia memang
menikmati laju pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto yang
relatif tinggi, tetapi tingkat kesenjangan juga semakin besar dan jumlah
commit to user
pemerintah sudah mulai menyadari keadan tersebut yang menunjukan
buruknya kualitas pembangunan yang telah dilakukan hingga saat itu. Oleh
karena itu, strategi pembangunan mulai diubah, tidak hanya pertumbuhan
tetapi juga kesejahteraan masyarakat, juga menjadi sasaran utama dari
pembangunan. Perhatian mulai diberikan pada usaha–usaha untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, misalnya dengan mengembangkan
industri – industri yang padat karya dan sektor pertanian. Banyak program
yang dilakukan oleh pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi (kalau
tidak bisa menghilangkan) jumlah orang miskin dan perbedaan pendapatan
antara kelompok miskin dan kelompok kaya di tanah air, misalnya inpres
desa tertinggal (IDT), pengembangan industri kecil dan rumah tangga,
khususnya di daerah pedesaan, transmigrasi, dan masih banyak lagi. Krisis
ini yang akhirnya menciptakan suatu resesi ekonomi yang besar dengan
sendirinya memperbesar tingkat kemiskinan dan gap dalam distribusi
pendapatan di tanah air, bahkan menjadi jauh lebih parah dengan kondisi
pada dekade 1980-an.
Masalah kemiskinan di belahan dunia manapun selalu menjadi pusat
perhatian karena kemiskinan jelas memberikan dampak yang buruk bagi
kelangsungan hidup masyarakat. Kemiskinan menyebabkan kehidupan
masyarakat tidak dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia seperti
pendidikan dan keterampilan, sehingga mereka tidak mampu mendapatkan
pekerjaan yang layak dan imbasnya adalah ketidak mampuan untuk
commit to user
merupakan gambaran rendahnya kualitas manusia dan masyarakat yang
menderita. Penduduk miskin adalah penduduk yang pendapatanya lebih
kecil dari kebutuhan yang diperlukan untuk hidup minimum (subsistem).
Jumlah penduduk miskin di Indonesia khususnya Jawa Tengah tergolong
cukup besar, meskipun beberapa tahun telah terjadi penurunan. Pada tahun
1999 garis kemiskinan adalah Rp 76.579,00 penduduk miskin sebanyak
8.755.400 orang, presentasi penduduk miskin pada tahun tersebut adalah
23,06% dan pada tahun 2003 batas kemiskinan disesuaikan lagi menjadi Rp
119.403 dan jumlah penduduk yang miskin menjadi 6.979.800 orang dengan
presentase penduduk miskin pada tahun tersebut sebesar 21,78% (BPS Jawa
Tengah 2004:190).
Terbatasnya lapangan kerja yang tersedia dan ditambah lagi ledakan
jumlah penduduk mengakibatkan persaingan dalam memperoleh pekerjaan
semakin ketat terutama pada sektor pekerjaan formal akibatnya hanya
mereka yang mempunyai nilai tambah dan potensi sejalan yang lebih mudah
mendapatkan pekerjaan. Pada kenyataan sektor formal tidak dapat
menampung jumlah pencari kerja yang semakin meningkat seiring
peningkatan jumlah penduduk. Kondisi yang demikian terkadang memaksa
seseorang mencari jalan pintas karena keterbatasanya, tidak jarang rela
mendapat upah yang tidak sesuai demi tetap memperoleh suatu pekerjaan
dan terkadang juga menghalalkan sagala cara meskipun beresiko.
Fenomena merebaknya ”gepeng” dan prostitusi merupakan persoalan
commit to user
PSK memang bukan impian dari semua orang, mungkin kerasnya hidup,
keterbatasan, minimnya perhatiaan dari pihak lain memaksa mereka untuk
menjalani kehidupan yang keras dan penuh ketidak pastian. Fenomena ini
tentunya akan menimbulkan efek negatif bagi individu, masyarakat dan
suatu bangsa. Apabila hal ini tidak segera ditangani sudah pasti akan
merusak citra bangsa dan menciptakan mental dan karakter bangsa karena
masih banyak warga negara yang harus hidup menjadi pengemis, pengamen,
hidup menjadi gelandangan dan memaksa seseorang untuk menjual
kehormatan, sehingga tidak sesuai dengan Pancasila sebagai ideologi
bangsa yang termuat pada sila ke 2 yang berbunyi kemanusiaan yang adil
dan beradab, Pancasila sila ke 4 (keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia) dan UUD 45 yang termuat dalam pasal 34 (fakir miskin dan
anak- anak terlantar dipelihara oleh negara).
Maka, berdasar pada latar belakan diatas penulis mengambil judul
penelitian:”Determinan Permasalahan Ekonomi Sosial (Studi Kasus
Anak Jalanan di Kota Surakarta)”.
B. Perumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut di atas maka, dapat dirumuskan
beberapa masalah sebagai berikut:
1. Apakah variabel jumlah saudara kandung, pendapatan orang tua, status
pekerjaan orang tua, dan tingkat pendidikan dapat mempengaruhi
commit to user
2. Variabel apa yang paling dominan mempengaruhi probabilitas seseorang
menjadi anak jalanan?
C. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis:
1. Untuk mengetahui apakah variabel pendapatan orang tua, jumlah
saudara kandung, pendidikan orang tua dan status pekerjaan orang tua
dapat mempengaruhi seseorang menjadi anak jalanan.
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel-variabel tersebut
terhadap probabilitas seseorang menjadi anak jalanan.
D. Manfaat penelitian
Dengan diadakan penelitian ini diharapkan dapat meberikan manfaat
dan kontribusi sebagai berikut:
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan saran
kepada Pemerintah Kota Surakarta dalam mengambil atau penerapan
kebijakan khususnya di sektor ekonomi sosial.
2. Memberikan masukan bagi para peneliti berikutnya mengenai
permasalahan ekonomi sosial.
3. Memberikan informasi bagi masyarakat tentang keberadaan pengamen
commit to user
BAB II
Landasan Teori
A. Pembangunan Ekonomi
1. Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi
Paham pertumbuhan ekonomi dan paham pembangunan ekonomi
memiliki perbedaan yang jelas, masing-masing pengertian mengandung
makna yang berbeda satu dengan yang lainya. Pertumbuhan ekonomi
merupakan suatu peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan
ekonomi masyarakat. Pertumbuhan menyangkut perkembangan
berdimensi tunggal dan diukur dengan meningkatnya hasil produksi dan
pendapatan. Dalam pertumbuhan ekonomi biasanya ditelaah proses
produksi yang melibatkan sejumlah jenis produk dengan menggunakan
sejumlah sarana produk tertentu. Dalam hubungan ini ditunjukan
hubungan perimbangan kuantitatif antara sejumlah sarana di satu pihak
dengan hasil seluruh produksi disatu pihak dengan hasil seluruh
produksi di pihak lain (Djoyohadikusumo 1994 : 1).
Sedangkan pembangunan ekonomi mengandung arti yang lebih
luas. Peningkatan produksi memang merupakan salah satu ciri pokok
dalam proses pembangunan. Dalam hal itu selain dari segi peningkatan
produksi secara kuantitatif, proses pembangunan mencakup perubahan
pada komposisi produksi, perubahan pada pola pembangunan (alokasi)
sumberdaya produksi diantara sektor-sektor kegiatan ekonomi,
commit to user
perubahan pada pembagian (distribusi) kekayaan dan pendapatan antara
berbagai golongan pelaku ekonomi, perubahan kerangka kelembagaan
dalam kehidupan masyarakat secara menyeluruh (Djoyohadikusumo
1994 : 2-3).
Terwujudnya pembangunan ekonomi pada dasarnya tidak hanya
bertumpu pada aspek ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu
proses yang tidak hanya mempengaruhi hubungan ekonomi tetapi
keseluruhan tatanan sosial dan budaya masyarakat (Hoselitz : 1999).
Aspek sosial budaya juga diperlukan dalam mewujudkan terciptanya
suatu kondisi terwujudnya pembangunan ekonomi, wawasan
sosio-budaya masyarakat haruslah diubah jikalau pembangunan diharapkan
dapat berjalan. Manakala terdapat hambatan sosial yang menghalangi
kemajuan ekonomi, hambatan tersebut harus disingkirkan atau
disesuaikan. Organisasi sosial seperti keluarga barsama, sistem kasta
warna kulit, dogma agama harus di modifikasi sehingga selaras dengan
pembangunan (Jingan : 70).
Menurut (Finer dalam Todaro: 26), dalam momentum
pertumbuhan Perekonomian diperlukan partisipasi dari masyarakat dan
juga dorongan pemerintah, tanpa pemerintahan yang stabil, perdamaian
dan ketentraman, kebijaksanaan publik akan selalu berubah-ubah.
Rencana ekonomi akan mengalami kemunduran, dan pembangunan akan
berantakan sehingga diperlukan perlengkapan administratif yang baik
commit to user
perundang-undangan yang berfungsi sebagai pedoman dan memberikan
kepastian tentang keuntungan yang sepadan dengan usaha dan
pengorbanan seperti yang dijanjikan oleh program pembangunan
ekonomi.
Pembagunan ekonomi merupakan suatu tujuan dalam ekonomi
untuk menciptakan suatu keadaan masyarakat yang terjamin pada
kehidupanya, terbebas dari ketakutan dalam menjalani hidupnya. Dalam
terwujudnya pembangunan terdapat tiga inti pembangunan menurud
ketiga inti tersebut itu adalah (Goulet dalam Todaro dan Stephen, 2008 :
26-29) :
a. Kecukupan (sutenence) :Kemampuan Memenuhi Kebutuhan Dasar
Kecukupan merupakan kemampuan seseorang dalam
memenuhi kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar meliputi pangan,
sandang, papan, kesehatan dan keamanan. Fungsi dasar dari semua
kegiatan ekonomi, pada hakikatnya, adalah menyediakan sebanyak
mungkin masyarakat yang dilengkapi perangkat dan bekal
menghindari kesengsaraan dan ketidakberdayaan yang diakibatkan
oleh keadaan kekurangan.
b. Harga Diri (self-esteem):Menjadi Manusia Seutuhnya
Komponen universal yang kedua dari kehidupan yang serba
baik adalah adaya dorongan diri sendiri untuk maju, untuk
menghargai diri sendiri, untuk merasa pantas dan layak melakukan
commit to user
c. Kebebasan Dari Sikap Menghamba: Kemampuan Memilih
Kebebasan meliputi kemampuan individu atau masyarakat
untuk memilih. Kebebasan terwujud dalam memperoleh rasa
aman, persamaan hak dalam memperoleh penghidupan, kebebasan
memperoleh pendidikan, kesehatan, rasa aman. Dengan rasa
kebebasan individu atau pun masyarakat akan lebih obtimal
menggali potensi yang ada pada diri dan potensi yang dimiliki
suatu bangsa. Buah terbesar dari pembangunan ekonomi bukanlah
kekayaan menambah kebahagiaan, melainkan menambah pilihan.
2. Kemiskinan Sebagai Penghambat Pembangunan
Negara yang maju dan makmur adalah negara yang mampu
memakmurkan masyarakatnya dan memajukan kehidupan
masyarakatnya dalam berbagai aspek kehidupan. Secara logika keadaan
perekonomian masyarakat akan berdampak pada baik dan buruknya
tingkat kehidupan masyarakat itu sendiri. Apabila suatu masyarakat
dalam kondisi perekonomian maju dan terkendali, maka secara logika
masyarakat dalam kondisi demikian akan memiliki tingkat kehidupan
yang layak dan lebih baik dibandingkan dengan suatu masyarakat yang
memiliki tingkat perekonomian yang rendah.
Tingkat kemiskinan merupakan indikator tingkat keberhasilan
suatu wilayah ataupun suatu negara dalam menciptakan suatu
commit to user
meningkat dari waktu-kewaktu menggambarkan suatu negara atau
wilayah tersebut memiliki pertumbuhan ekonomi yang rendah atau
negatif dan pada sebalikya apabila dalam suatu negara atau wilayah
memiliki tingkat kemiskinan yang rendah dan cenderung mengalami
penurunan dari waktu-kewaktu maka dapat dikatakan negara atau
wilayah tersebut memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang positif.
Kemiskinan merupakan suatu permasalahan yang berkaitan
dengan keterbelakangan ekonomi. Istilah kemiskinan muncul ketika
seorang atau kelompok orang tidak mampu menyukupi tingkat
kemakmuran ekonomi yang dianggap sebagai kebutuhan minimal
standar hidup tertentu. Di negara berkembang kemiskinan biasanya
dihubungkan dengan masalah kemakmuran (walfare economic) yang
menguak pada konsumsi barang dan jasa (Kuncoro 2003 : 103)
Pembangunan ekonomi bukan saja berarti perubahan dalam
stuktur ekonomi suatu negara yang menyebabkan peranan sektor
pertanian menurun dan kegiatan industri meningkat. Di samping
perubahan seperti itu pembangunan ekonomi berarti pula suatu proses
menyebabkan antara lain: (i) perubahan orientasi kegiatan ekonomi,
politik dan sosial yang pada mulanya mengarah ke dalam suatu daerah
menjadi beriorentasi ke luar; (ii) perubahan pandangan masyarakat
mengenai anak dalam keluarga; (iii) perubahan dalam kegiatan
penanaman modal yang tidak produktif, seperti membeli rumah, emas
commit to user
perubahan dalam pandangan masyarakat yang pada mulanya
berkeyakinan bahwa kehidupan manusia ditentukan alam sekitarnya dan
selanjutnya berpandangan bahwa manusia harus memanipulasi keadaan
alam sekitarnya untuk menciptakan kemajuan (Rostow dalam Sukirno,
1985:102).
(Sharp 1996 dalam Kuncoro 1997: 107) mengidentifikasi
penyebab kemiskinan di pandang dari sisi ekonomi:
a. Kemiskinan muncul karena karena ketidaksamaan pola kepemilikan
sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang
timpang.
b. kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumber daya
alam.
c. Kemiskinan muncul akibat perbedaan akses dalam modal, ketiga
penyebab kemiskinan berawal pada teori lingkaran setan kemiskinan
(vercious circle of poverty).
Menurud (Nurkse dalam Sukirno: 217), lingkaran perangkap
kemiskinan, atau dengan singkat lingkaran setan kemiskinan, adalah
suatu rangkaian kekuatan-kekuatan yang saling mempengaruhi satu
sama lain secara demikian rupa, sehingga menimbulkan keadaan di
mana suatu negara akan tetap miskin dan akan mengalami banyak
kesukaran untuk mencapai pembangunan lebih tinggi. Pada hakekatnya
commit to user
masa lalu tetapi juga menimbulkan hambatan kepada pembangunan di
masa datang , ”A country is poor becaus’ s it poor”.
Senada dengan pendapat Nurkse, (Meir dan Baldwin dalam
Sukirno: 219), lingkaran perangkap kemiskinan timbul dari hubungan
saling mempengaruhi antara keadaan masyarakat terbelakang dan
tradisional dengan kekayaan alam yang belum dikembangkan. Di negara
berkembang kekayaan alam belum sepenuhnya dikelola dan
dikembangkan secara maximal karena tingkat pendidikan masyarakat
masih relatif rendah, karena kurangnya tenaga ahli, dan dikarenakan
terbatasnya mobilitas dari sumber daya manusia. Di berbagai negara
menunjukan bahwa semakin kurang berkembang keadaan sosial dan
ekonomi suatu negara semakin sedikit pula jumlah sumber daya dan
kekayaan yang dimiliki dapat dikembangkan dan dapat dimanfaatkan.
Ketiga lingkaran perangkap kemiskinan di atas dapat digambarkan
commit to user
Gambar 2.1
Kemiskinan antar generasi Sumber: Sadono Sukirno
Dari gambar diatas diartikan teori perangkap kemiskinan
berpendapat bahwa: (i) ketidakmampuan untuk mengerahkan tabungan
yang cukup, (ii) kurangnya perangsang untuk penanaman modal, (iii)
taraf pendidikan, pengetahuan, dan kemahiran masyarakat yang relatif
rendah, merupakan tiga faktor utama penghambat terciptanya
pembentukan modal dan perkembangan ekonomi ke masa yang akan
datang.
Kemiskinan juga dapat dilihat dari faktor sosial-psikologis,
menunjuk pada kekurangan jaringan dan struktur sosial yang
mendukung dalam mendapatkan kesempatan-kesempatan peningkatan
Kekayaan alam kurang dikembangkan (3)
Masyarakat masih terbelakang
(1) Kekurangan modal
Pembentukan modal rendah produktifitas rendah
Pembentukan rendah pendapatan riil rendah
(2)
commit to user
produktivitas. Dimensi kemiskinan ini juga dapat diartikan sebagai
kemiskinan yang disebabkan oleh adanya faktor-faktor penghambat
yang mencegah atau merintangi seseorang dalam memanfaatkan
kesempatan-kesempatan yang ada di masyarakat. Faktor-faktor
penghambat tersebut secara umum meliputi faktor internal dan eksternal.
Faktor internal datang dari dalam diri seseorang itu sendiri sehingga
kemiskinan itu terjadi, seperti rendahnya pendidikan atau adanya
hambatan budaya.
Teori “kemiskinan budaya” (cultural poverty) dikemukakan
Oscar Lewis dalam artikel Edi Suharto, menyatakan bahwa kemiskinan
dapat muncul sebagai akibat adanya nilai-nilai atau kebudayaan yang
dianut oleh orang-orang miskin, seperti malas, mudah menyerah pada
nasib, kurang memiliki etos kerja. Faktor eksternal datang dari luar
kemampuan orang yang bersangkutan, seperti birokrasi atau
peraturan-peraturan resmi yang dapat menghambat seseorang dalam
memanfaatkan sumberdaya. Kemiskinan model ini seringkali
diistilahkan dengan kemiskinan struktural. Menurut pandangan ini,
kemiskinan terjadi bukan dikarenakan “ketidakmauan” si miskin untuk
bekerja (malas), melainkan karena “ketidakmampuan” sistem dan
struktur sosial dalam menyediakan kesempatan-kesempatan yang
memungkinkan si miskin dapat bekerja.
Jika kemiskinan didefinisikan sebagai keadaan kekurangan uang
commit to user
keberhasilan/kesejahteraan secara umum pula dapat didefinisikan
sebagai keadaan kecukupan bahkan lebih atas uang atau sumber daya.
Definisi serta pengukuran kemiskinan dan keberhasilan/kesejahteraan
diatas dapat dipaparkan sebagai berikut:
1. Keluarga Kaya
a. Bappenas (2004) mendefinisikan kesejahteraan/keberhasilan
apabila masyarakat, laki-laki dan perempuan dapat memenuhi
kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat secara umum antara
lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan,
pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam
dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman
tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan
sosial-politik.
b. Bank Dunia mendefinisikan kesejahteraan melalui Garis
kemiskinan. Garis kemiskinan yang ditetapkan Bank Dunia
adalah sebesar $US2 per kapita per hari (Suharto dalam
Rusmana, 2005), setelah dikonversi ke dalam rupiah (kurs:Rp
9.423,00/US$) maka jumlah ini menjadi sekitar Rp 18.800,00
per kapita per hari atau Rp 564.000,00 per bulan. Maka
seseorang dapat dikatakan sejahtera jika pendapatannya
melebihi Rp 564.000,00 per bulan, atau minimal sama.
c. Amartya Sen (dalam Nugroho, 2006) mendefinisikan bahwa
commit to user
kelaparan, atau kehinaan sosial serta dapat membesarkan dan
mendidik anak-anaknya.
d. BPS mengukur kemiskinan berdasarkan tingkat konsumsi
penduduk terhadap kebutuhan dasar yang meliputi kebutuhan
makanan dan non makanan (damandiri.or.id, dalam Wurie
2006). Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, pengukuran
tersebut menghasilkan Garis Kemiskinan yang membatasi
seseorang miskin atau tidak dimana angka ini berubah dari
waktu ke waktu mengikuti perkembangan harga. Publikasi
terakhir BPS mendasarkan bahwa Garis Kemiskinan tahun
2004 adalah Rp.154.749,00.
e. Sajogyo mendefinisikan orang miskin dengan indikator beras
yang dibedakan atas daerah perkotaan dan pedesaan, maka
definisi kesejahteraan di daerah perkotaan adalah jika sebuah
keluarga dapat mengkonsumsi beras sebanyak > 480 kg/tahun,
sementara di pedesaan keluarga dikatakan sejahtera bila
mampu mengkonsumsi beras sebanyak > 320 kg/tahun
(damandiri.or.id, 2006).
f. BKKBN sejak tahun 1994 menggunakan indikator
kesejahteraan untuk menggambarkan kondisi masyarakat dan
mengelompokkannya dalam tingkat kesejahteraan tertentu.
Keluarga Prasejahtera dan Sejahtera dikelompokkan dalam
commit to user
memenuhi indikator kategori sebagai berikut (damandiri.or.id,
2006):
1) Sejahtera II, memiliki indikator telah dapat rnemenuhi
kebutuhan sosial psikologisnya, namun belum mampu
memenuhi kebutuhan pengembangannya, seperti
kebutuhan menabung dan memperoleh informasi.
2) Sejahtera III, indikatornya adalah yang telah mampu
memenuhi kebutuhan dasar, sosial psikologis dan
pengembangan keluarga, tetapi belum dapat secara teratur
dan aktif memberikan sumbangan materi dan melakukan
kegiatan kemasyarakatan.
3) Sejahtera III Plus, memiliki indikator dapat memenuhi
seluruh kebutuhan, yakni dari kebutuhan dasar sampai
kebutuhan untuk berpartisipasi dalam aktivitas
kemasyarakatan.
2. Keluarga Miskin
Kemiskinan bukanlah kata yang asing bagi masyarakat saat
ini karena kemiskinan tidak hanya dapat dirasakan namun juga
dapat dilihat dengan jelas. Seseorang dapat melihat dengan jelas
apa dan bagaimana ”miskin” itu. Oleh sebab itu kemiskinan dapat
didefinisikan dalam berbagai kalimat yang berbeda namun
commit to user
kebutuhan konsumsi dasar dan memperbaiki keadaan, kurangnya
kesempatan berusaha, hingga pengertian yang lebih luas yang
menyangkut aspek sosial dan moral. Sahdan (2005) menyatakan,
bahwa dalam aspek sosial kemiskinan berkaitan erat dengan sikap,
budaya hidup dan lingkungan dalam suatu masyarakat. Selain itu
kemiskinan juga dapat merupakan suatu ketidakberdayaan
sekelompok masyarakat terhadap sistem pemerintahan sehingga
mereka berada pada posisi yang sangat lemah dan tereksploitasi
(kemiskinan struktural). Tetapi pada umumnya, ketika orang
berbicara mengenai masalah kemiskinan, yang dimaksud adalah
kemiskinan material. Dalam pengertian ini, maka seseorang masuk
dalam kategori miskin apabila tidak mampu memenuhi standar
minimum kebutuhan pokok untuk dapat hidup secara layak. Hal ini
sejalan dengan definisi yang dinyatakan oleh Kuncoro (2000)
bahwa kemiskinan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan
seseorang atau sekelompok orang untuk mencukupi kebutuhan
minimum standar hidup tertentu. Ini yang sering disebut dengan
kemiskinan konsumsi.
Beberapa definisi lain dari konsep kemiskinan ini adalah
sebagai berikut:
a. Bappenas (2004) mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi
dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan
commit to user
mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang
bermartabat. Hak-hak dasar masyarakat secara umum antara
lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan,
pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam
dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman
tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan
sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Untuk
mewujudkan hak-hak dasar masyarakat miskin ini,
BAPPENAS menggunakan beberapa pendekatan utama antara
lain (Joseph F. Stepanek, (ed) dalam Sahdan, 2005):
1) pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach),
kemiskinan sebagai suatu ketidakmampuan (lack of
capabilities) seseorang, keluarga dan masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan minimum, antara lain pangan,
sandang, papan, pelayanan kesehatan, pendidikan,
penyediaan air bersih dan sanitasi.
2) pendekatan pendapatan (income approach), kemiskinan
disebabkan oleh rendahnya penguasaan aset, dan alat-alat
produktif seperti tanah dan lahan pertanian atau
perkebunan, sehingga secara langsung mempengaruhi
pendapatan seseorang dalam masyarakat. Pendekatan ini,
menentukan secara rigid standar pendapatan seseorang di
commit to user
3) pendekatan kemampuan dasar (human capability
approach), menilai kemiskinan sebagai keterbatasan
kemampuan dasar seperti kemampuan membaca dan
menulis untuk menjalankan fungsi minimal dalam
masyarakat. Keterbatasan kemampuan ini menyebabkan
tertutupnya kemungkinan bagi orang miskin terlibat dalam
pengambilan keputusan.
4) pendekatan objective and subjective, sering juga disebut
sebagai pendekatan kesejahteraan (the welfare approach)
menekankan pada penilaian normatif dan syarat yang harus
dipenuhi agar keluar dari kemiskinan. Pendekatan subyektif
menilai kemiskinan berdasarkan pendapat atau pandangan
orang miskin sendiri.
b. Bank Dunia mendefinisikan kemiskinan sebagai
ketidakmampuan memperoleh standar hidup yang normal
(Mikkelsen dalam Nugroho, 2006).
c. Amartya Sen mendefinisikan kemiskinan adalah suatu keadaan
kelaparan dan ketidakmampuan untuk menghadapi kehinaan
sosial, membesarkan anak dan mendidiknya (Mikkelsen dalam
Nugroho, 2006).
d. BPS (1994) mendefinisikan kemiskinan adalah kondisi dimana
seseorang hanya dapat memenuhi kebutuhan makannya kurang
commit to user
dikombinasikan dengan kebutuhan non makanan yang berupa
kecukupan sandang, papan, pendidikan, kesehatan, yang
didasarkan atas sejumlah komoditas dengan ukuran tertentu.
Gambaran komoditas tersebut dipaparkan dalam Modul
SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) yaitu survei
konsumsi dan belanja rumah tangga tiap propinsi untuk
menggambarkan tingkat nasional. Pengukuran BPS ini
menghasilkan apa yang disebut Garis Kemiskinan (GK),
sebagai batas seseorang miskin atau tidak. Garis kemiskinan
yang telah ditetapkan BPS dari tahun ke tahun mengalami
perubahan.
Untuk tahun l976, misalnya, indikator ini
menghasilkan patokan GK sebesar Rp 4.522 per orang per
buian untuk perkotaan dan Rp 2.849 per orang per bulan untuk
pedesaan. Tapi, 20 tahun kemudian, pada 1996, karena
meningkatnya harga berbagai komoditas, maka angka GK telah
berubah menjadi Rp 38.246 untuk perkotaan dan Rp 27.413
untuk pedesaan (damandiri.or.id, 2006).
Pada tahun 2003 menurut Indonesian Nutrition
Network (INN) (dalam Rusmana, 2005) GK adalah Rp. 96.956
untuk perkotaan dan Rp. 72.780 untuk pedesaan. Kemudian
Menteri Sosial menyebutkan berdasarkan indikator BPS garis
[image:33.595.167.511.236.506.2]commit to user
penghasilan di bawah Rp. 150.000 per bulan. Bahkan
Bappenas yang juga mendasarkan pada indikator BPS tahun
2005 menetapkan batas kemiskinan keluarga adalah yang
memiliki penghasilan di bawah Rp. 180.000 per bulan.
Berdasarkan kesamaan indikator tersebut maka BPS dan
Bappenas dapat dikatakan mempunyai kesamaan dalam
penetapan Garis Kemiskinan tahun 2005.
e. Sajogyo menggunakan tingkat konsumsi ekuivalen beras per
kapita sebagai indikator kemiskinan dan dibedakan antara desa
dengan kota. Indikator tersebut adalah sebagai berikut ;
1) Pedesaan
a) < 320 kg/tahun ® miskin
b) < 240 kg/tahun ® sangat miskin
c) < 180 kg/tahun ® melarat
2) Perkotaan
a) < 480 kg/tahun ® miskin
b) < 270 kg/tahun ® melarat
c) < 360 kg/tahun ® sangat miskin
f. BKKBN sejak tahun 1994 menggunakan indikator
kesejahteraan untuk menggambarkan kondisi masyarakat dan
mengelompokkannya dalam tingkat kesejahteraan tertentu.
BKKBN membuat tingkat kesejahteraan dalam 5 kategori
sebagai berikut. Berikut ini adalah kategori beserta
commit to user
1) Prasejahtera, dengan indikator tidak mampu memenuhi
kebutuhan standar minimal yaitu ibadah agama, pangan,
sandang, papan dan kesehatan.
2) Sejahtera I, memiliki indikator dapat memenuhi kebutuhan
dasar tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan sosial
psikologisnya, yakni pendidikan, keluarga berencana,
interaksi dalam keluarga, interaksi dalam lingkungan
tempat tinggal dan transportasi.
3) Sejahtera II, memiliki indikator telah dapat rnemenuhi
kebutuhan sosial psikologisnya, namun belum mampu
memenuhi kebutuhan pengembangannya, seperti kebutuhan
menabung dan memperoleh informasi.
4) Sejahtera III, indikatornya adalah yang telah mampu
memenuhi kebutuhan dasar, sosial psikologis dan
pengembangan keluarga, tetapi belum dapat secara teratur
dan aktif memberikan sumbangan materi dan melakukan
kegiatan kemasyarakatan.
5) Sejahtera III Plus, memiliki indikator dapat memenuhi
seluruh kebutuhan, yakni dari kebutuhan dasar sampai
kebutuhan untuk berpartispasi dalam aktivitas
kemasyarakatan.
Dewasa ini muncul fenomena kemiskinan kronis, dimana
commit to user
lebih dari satu generasi (kemiskinan antar generasi akan
dibicarakan pada bagian lain). Clark dan Hulme (dalam Hulme dan
McKay, 2005) mengemukakan bahwa perspektif kemiskinan telah
lebih berkembang sekarang ini dengan pengertian yang lebih
meluas dari sekedar multidimensional alamiah kemiskinan, penting
untuk mengingat kedalaman dan kepelikan dari kemiskinan
tersebut karena terdapat perkembangan yang lambat dalam
mengenali dan merespon kemiskinan persisten dari waktu ke
waktu. Hulme dan McKay (2005), menyatakan bahwa diperlukan
perspektif multidimensi dan multidisipliner yang lebih luas untuk
memahami kemiskinan kronis karena terdapat banyak kasus
didalamnya dibandingkan kemiskinan secara umum.
3. Upaya Mengatasi Kemisknan
Menurut Hadiwiguno (2009), kemiskinan adalah masalah
yang kronis dan kompleks. Dalam menanggulangi kemiskinan
permasalahan yang dihadapi bukan hanya terbatas pada hal-hal
yang menyangkut pemahaman sebab-akibat timbulnya kemiskinan,
melainkan juga melibatkan preferensi, nilai, dan politik. Kemudian
menurut Nurhadi, dijelaskan bahwa untuk menanggulangi
kemiskinan dapat dilakukan melalui 2 pendekatan, yaitu:
a) Pendekatan peningkatan pendapatan.
commit to user
Kedua pendekatan tersebut ditopang oleh empat pilar utama,
yaitu :
a) Penciptaan kesempatan
b) Pemberdayaan masyarakat
c) Peningkatan kemampuan
d) Perlindungan sosial
Dalam mengatasi kemiskinan (Masyukur Wiratno 1992: 7 ;
M.L Jingan 1996: 53-71 dalam Vicha 2006), mengemukakan
bahwa mengatasi masalah kemiskinan dalam pembangunan atau
sebagai persyaratan dasar dalam pembangunan ekonomi
diperlukan upaya seperti:
a. Atas Dasar Kekuatan Sendiri
Proses pertumbuhan harus bertumpu pada
kemampuan perekonomian dalam negeri. Hasrat untuk
memperbaiki nasib dan prakarsa untuk menciptakan
kemajuan meteri harus muncul dari warga itu sendiri.
Pembangunan harus diprakarsai oleh negara dan tidak dapat
di cangkok dari luar, karena kekuatan dari luar hanya
membantu dan tidak mengganti kekuatan nasional.
Masyarakat dalam suatu negara seharusnya dapat
menggunakan sumber-sumber alam yang ada di dalam negeri
commit to user
b. Menghilangkan Ketidak Sempurnaan Pasar
Ketidaksempurnaan pasar menyebabkan immobilitas
faktor dan menghambat ekspansi sektoral pembangunan.
Untuk menghapus hal ini, lembaga sosio-ekonomi yang harus
diperbaiki atau diganti dengan yang lebih baik. Fasilitas
kredit yang mudah dan murah harus di sediakan bagi para
petani, pedagang kecil dan usahawan. Pengetahuan,
kesempatan, pasar dan teknik produksi harus di tingkatkan,
sehingga diharapkan produksi akan maksimun dan
penggunaan secara efisien sumber-sumber yang ada. Usaha
menghilangkan ketidaksempurnaan pasar dapat
meningkatkan produksi, sehingga diperlukan suatu
perubahan struktural.
c. Perubahan Struktural
Di Negara miskin kebanyakan penduduknya tidak
terlatih, tidak terdidik, buta huruf dan secara sosial
terbelakang. Oleh karena itu, penting pula mendatangkan
teknologi dari negara maju yang sesuai dengan tatanan sosio
ekonomi. Perubahan struktural merupakan peralihan dari
masyarakat pertanian tradisional menjadi ekonomi industri
modern yang mencakup peralihan lembaga, sikap sosial, dan
motifasi secara radikal. Perubahan-perubahan struktural ini
commit to user
produktifitas buruh semakin meningkat, pendayagunaan
sumber-sumber baru serta perbaikan teknologi semakin
tinggi.
d. Kriteria Investasi yang Tepat
Negara terbelakang tidak hanya menentukan besarnya
tingkat investasi tetapi juga komposisi investasi tersebut.
Negara bertanggung jawab untuk melakukan investasi yang
paling menguntungkan masyarakat. Pola obtimum investasi
sebagian besar tergantung iklim investasi yang tersedia dan
produktifitas marginal sosial dari berbagai jenis investasi.
Dalam hal ini investasi harus dapat memperbaiki distribusi
pendapatan, memenuhi kebutuhan dasar.
e. Sosio Budaya
Kesejahteraan ekonomi merupakan bagian dari
kesejahteraan sosial pada umumnya. Kenaikan pendapatan
nasional tidak membawa kenaikan kesejahteraan sosial jika
kenaikan pendapatan itu tidak disertai penyesuain budaya
yang ada.
f. Administratif
Administrasi suatu negara yang baik akan
mendukung rencana pembangunan. Dalam hal ini sebuah
pemerintahan kuat tidak korup dan mampu menegakan
commit to user
B. Determinan Permasalahan Ekonomi Sosial Anak Jalanan
1. Tingkat Pendapatan Orang Tua
Orang tua yang tidak mampu tentu adalah alasan yang masuk
akal untuk seseorang tidak memiliki pendidikan yang memadai.
Awalnya penghasilan orang tua rendah dan semakin rendah pada suatu
waktu tertentu. Dengan demikian orang tua tersebut tidak mampu
menginvestasikan pendapatannya untuk pendidikan anak-anaknya
(Beams dalam Nugroho, 2006; Corcoran dan Chaudry, 1997). Dengan
pendapatan yang rendah, maka sangat memungkinkan seorang anak dari
keluarga miskin menjalani kehidupan yang tidak layak karena
keterbatasan dalam memperoleh kehidupan yang lebih baik.
2. Jumlah Saudara Dalam Keluarga (Berdasar Teori Demografi)
Di negara berkembang pertumbuhan penduduk yang sangat
besar dan tidak seimbang dengan pertumbuhan ekonomi justru akan
menimbulkan permasalahan. Berdasar teori demografi Thomas Robert
Maltus dalam buku ”The Principal of As It Affects Future Improfment of
Society”, kematian sebagai bentuk paksaan alam guna mencapai
keseimbangan antara jumlah penduduk dan ketersediaan sumber daya.
Teori ini menerangkan bahwa akan selalu tejadi keseimbangan antara
jumlah penduduk dan jumlah sumber kehidupan karena, dalam
pandangan Malthus jumlah dan tingkat hidup penduduk langsung
berkaitan erat dengan sumber kehidupan manusia (Djoyohadikusumo
commit to user
Terdapat jarak yang cukup dekat antara variabel demografis
dengan kondisi kemiskinan sebuah keluarga. Demografis yang
dimaksudkan di sini antara lain: (i) Jumlah Anggota keluarga (Bhalotra
dan Heady, 2003), (ii) Hasrat Mempunyai anak/birth order.(iii) Tingkat
ketergantungan/dependency ratio (Basu dan Tzanatos, 2003). (iv)
Jumlah penduduk yang bekerja. (v) Tingkat mobilitas penduduk dan
sebagainya. Dikatakan cukup dekat karena kondisi demografis secara
tidak langsung dapat mempengaruhi tingkat kemakmuran sebuah
keluarga. Misalnya tingginya jumlah anggota keluarga dan hasrat
mempunyai anak akan semakin meningkatkan beban ketergantungan.
Beban ketergantungan yang tinggi dapat ditafsirkan pengeluaran yang
semakin besar. Dengan asumsi jumlah penduduk yang bekerja tidak
berubah, kondisi tersebut akan menyebabkan peluang keluarga menjadi
miskin lebih besar (Sutyastri dan Prijono, 2002; Alice Fabre And
Emmanuel Augeraud-Veron, 2004).
Michael Sadler (Lle Wellyin-Jones, 1974: 53), menyatakan
bahwa fecunditas (kemampuan memiliki anak) sama dengan ratio
inverse dari kondisi jumlah penduduk yang jarang dan sedikit akan
membantu manusia meningkatkan peradapan. Jumlah penduduk yang
kecil akan membuat lapangan pekerjaan yang tersedia terdistribusikan
dengan baik dan hal ini akan semakin memberi kesempatan manusia
commit to user
3. Tingkat Pendidikan Orang Tua (Berdasar Teori Model Politik Ekonomi)
Sesuai dengan UUD 1945, rakyat Indonesia tidak lagi
terstruktur dalam kelas yang didasarkan pada sistem feodal atau borjuasi
(setidaknya dalam teori/termaktub dalam undang-undang, walaupun
pada kenyataannya tidak demikian). Sistem pendidikan nasional yang
dirumuskan pemerintah masih cenderung menciptakan ketimpangan
struktur masyarakat seperti yang terlihat dalam praktik pendidikan
masyarakat kolonial. Melucuti kemapanan sekolah akan mempertajam
ketimpangan masyarakat. Sebagian besar porsi pendidikan terutama
pendidikan bermutu hanya dapat diakses oleh kalangan the have. Dalam
kenyataan yang demikian maka kecil harapan bagi rakyat miskin untuk
dapat mengakses pendidikan, apalagi pendidikan bermutu. Mereka akan
tetap bergulat dalam kemelaratan pendapat ini dikemukakan Ivan Illich
(2009).
Seseorang yang berpendidikan tinggi tentu akan memperoleh
ilmu pengetahuan dan keterampilan dari pendidikannya tersebut.
Dengan demikian ia akan dapat bekerja dan memberikan kontribusi pada
perusahaan yang dapat memberinya penghasilan tinggi, seandainya ia
tidak memiliki jiwa wirausaha. Penghasilan yang tinggi tentu dapat
membantu seseorang untuk lepas dari kondisi kemiskinan dan
kekurangan. Sebaliknya pengetahuan dan keterampilan yang
terbatas/kurang hanya dapat membuat seseorang memperoleh
commit to user
2006). Pendapat lain mengenai pengaruh pendidikan adalah studi
mengenai kemiskinan persisten di Rusia tahun 1994-2001 oleh
Kalugina; Montmarqutte dan Sofer (2004). Mereka menemukan bahwa
semakin tinggi pendidikan kepala rumah tangga maka probabilitas
rumah tangga tersebut menjadi miskin akan semakin kecil. Mereka juga
menemukan bahwa pendidikan yang dicapai pasangan pun turut andil
dalam keberhasilan ekonomi seseorang serta memberikan efek yang
sama terhadap kesejahteraan rumah tangga yang bersangkutan. Misal
keberhasilan seorang suami turut dipengaruhi oleh pendidikan istrinya,
begitu pula sebaliknya dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap
kesejahteraan rumah tangga.
Tingkat pendidikan ini pun tidak terbatas pada pendidikan
individu yang bersangkutan namun pendidikan orang tua pun turut andil
dalam mempengaruhi pendidikan anaknya yang pada akhirnya akan
berpengaruh terhadap keberhasilan ekonomi anak tersebut di masa
depan. Sebagai contoh orang tua yang berpengetahuan luas tentu akan
mendorong anak-anaknya untuk bersekolah sehingga mendapatkan
pendidikan yang memadai yang akan berguna untuk masa depannya.
Sebuah bukti yang dipublikasikan oleh BPS pun menunjukkan bahwa
tingkat pendidikan kepala rumah tangga yang rendah sangat
mempengaruhi indeks kemiskinan (dalam hal ini untuk konteks
kemiskinan desa). Penelitian BPS menghasilkan bahwa 72,01% dari
commit to user
tidak tamat SD, dan 24,32% dipimpin kepala rumah tangga yang
berpendidikan SD (Sahdan dalam Wurie, 2006).
4. Status Pekerjaan Orang Tua
Jenis pekerjaan orang tua turut menentukan keberhasilan
seorang anak. Hal ini dikemukakan Corcoran dan Chaudry (1997) dalam
studinya mengenai kemiskinan antar generasi di Amerika.
C. Kemiskinan Antar Generasi
Untuk banyak orang kemiskinan merupakan situasi yang sulit untuk
keluar/lepas darinya yang paling tegas digambarkan dengan
perampasan/kehilangan yang ditransmisi dari satu generasi ke generasi
selanjutnya (Hulme dan McKay, 2005). Perampasan/kehilangan yang
dimaksud adalah hak, kehidupan sejahtera, kebebasan, dan sebagainya. Oleh
karena itulah ciri yang paling terlihat dari orang miskin adalah tidak
terdapatnya kebebasan (berupa berpolitik, berpendapat dan lain-lain) serta
tidak sejahteranya hidup mereka.
Pola dari kemiskinan antar generasi ini dapat dilihat dari kemiskinan
anak-anak. Ada kemungkinan mereka dapat lepas dari kemiskinan tersebut
atau tetap hidup dalam kemiskinan ketika mereka dewasa. Inilah yang perlu
diperhatikan. Satu dari dua anak Negro Amerika serta tiga dari empat anak
kulit putih yang miskin persisten tidak mengalami kemiskinan ketika masa
dewasa. Namun demikian sejumlah kecil anak-anak miskin persisten,
commit to user
pada orang Negro Amerika. Sebanyak separuh dari orang Negro Amerika
yang miskin, minimal dari separuh masa kanak-kanak mereka dalam
keadaan miskin yang paling sedikit pada masa awal dewasa mereka. Sekitar
seperempat dari orang Negro Amerika tersebut tetap berada dalam
kemiskinan persisten ketika dewasa (Corcoran dan Chaudry, 1997).
Anak-anak dari keluarga miskin mengawali kehidupannya dengan
ketidakberuntungan yang lebih tinggi dari pada anak-anak yang berasal dari
keluarga kaya, akibatnya ketika dewasa mereka kalah siap untuk menjadi
anggota masyarakat yang produktif. Berbagai ketidaksetaraan dalam bidang
ekonomi, politik dan sosiokultural mendorong munculnya perbedaan dalam
kesempatan atau peluang kehidupan dan besar kemungkinan akan
diteruskan dari generasi ke generasi (Laporan Pembangunan Dunia 2006:
209).
Anak-anak yang tidak pernah mengalami kemiskinan memiliki
kemungkinan sangat kecil akan mengalami kemiskinan kembali pada awal
masa dewasanya apabila dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh
dalam kondisi kemiskinan persisten. Dari empat anak Negro Amerika yang
tidak miskin hanya satu yang pernah mengalami kemiskinan pada masa
dewasa mudanya dan kurang dari satu dari dua belas kemudian hidup dalam
kemiskinan jangka panjang. Pola seperti ini terjadi pula pada anak-anak
kulit putih. Anak-anak kulit putih yang mengalami kemiskinan persisten
commit to user
kemiskinan persisten kembali pada masa dewasanya dibandingkan
anak-anak kulit putih yang tidak miskin (Corcoran dan Chaudry, 1997).
Kemiskinan yang dialami pada masa kanak-kanak dengan
kemiskinan pada masa dewasa sangat berhubungan erat dan pada sebagian
kasus disebabkan oleh adanya kekurangan pada keluarga serta lingkungan
yang miskin pada masa kanak-kanak tersebut. Dengan menggunakan
variabel struktur keluarga, kesejahteraan orang tua, pendidikan orang tua,
pekerjaan orang tua serta keadaan lingkungan yang miskin maka anak-anak
dalam keadaan miskin persisten akan mengalami kemiskinan yang lebih
parah daripada anak-anak yang tidak miskin. Contohnya saja anak-anak
lelaki dari keluarga berpendapatan rata-rata memiliki pendapatan tahunan
50% lebih tinggi daripada anak-anak lelaki dari keluarga miskin setelah
memperhatikan latar belakang keluarga, kemiskinan lingkungan dan
tetangga (Corcoran dan Chaudry, 1997).
Moore (2004) dalam penelitiannya menyatakan bahwa transmisi
kemiskinan antar generasi (pewarisan kemiskinan) dapat dipahami dengan
pendekatan mata pencaharian yang berpusat pada perpindahan ataupun
ketidakhadiran modal (asset) dalam konteks sosial, kelembagaan dan
lingkungan kebijakan. Transmisi tersebut dapat melibatkan transmisi
pribadi dan ketiadaan transmisi maupun transmisi publik dan ketiadaannya.
Transmisi pribadi tidak semata-mata merupakan perpindahan kemiskinan
dari orang tua kepada anak-anaknya namun juga dapat berupa transmisi
commit to user
transmisi publik merupakan perpindahan sumber daya dari suatu generasi ke
generasi berikutnya. Transmisi tersebut dapat berupa sesuatu yang positif
(cita-cita atau harta tunai) maupun negatif (tenaga kerja terikat, gizi buruk,
diskriminasi jenis kelamin). Berbagai macam aset dapat ditransfer dengan
berbagai mekanisme. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Harper;
Marcus dan Moore (2002):
“Intergenerational transmission of poverty can involve the ‘private’
transmission of poverty from older generations of individuals and families
to younger generations (especially, but not solely, from parents to children),
and the ‘public’ transfer (or lack of transfer) of resources from one
generation to the next through, for example, redistribution of the taxed
income of older generations to support the education of the youngest”.
Transmisi antar generasi tersebut dipengaruhi oleh ekonomi, sosial,
politik, budaya serta kelembagaan dengan konteks dimana mereka terjadi.
Norma-norma yang terbentuk secara sosial dapat bersifat membantu atau
menghambat proses transmisi (Moore, 2004). Misalnya diskriminasi jenis
kelamin, ras atau warna kulit dapat membantu perpindahan kemiskinan
antar generasi (dari satu generasi ke generasi berikutnya) karena
diskriminasi tersebut dapat mengurangi bahkan menghalangi akses dari
generasi yang mengalami diskriminasi terhadap kesempatan ekonomi dan
pengakuan masyarakat. Diskriminasi ini pun sering bertahan dan bersifat
tetap dari generasi ke generasi. Generasi yang mendapat perlakuan
commit to user
diskriminatif pada generasi berikutnya. Hal ini dapat menunjukkan suatu
pola siklus kehidupan kemiskinan. Baik konsep transmisi kemiskinan antar
generasi maupun siklus kehidupan kemiskinan dapat memberikan peluang
untuk masuk dalam proses kemiskinan.
Siklus kehidupan kemiskinan membuka jalan bagi seorang anak
miskin untuk masuk dalam kemiskinan baru bahkan lebih miskin.
Diskriminasi dapat memegang peranan dimana ia dapat membuat orang tua
tidak mampu memberikan pendidikan layak kepada anaknya. Anak yang
tidak berpendidikan dapat tumbuh menjadi pengangguran (anak tersebut
menjalani proses siklus kehidupan kemiskinan). Kemiskinan kronis dapat
disebabkan oleh siklus ini maupun transmisi kemiskinan antar generasi, di
sisi lain dapat menjadi karakteristik dan efek dari kemiskinan kronis ini
(Moore, 2004).
Siklus kehidupan kemiskinan dan transmisi kemiskinan antar
generasi dapat menyebabkan seseorang mengalami kemiskinan kronis,
bahkan pada masa dewasanya. Ia menjalani siklus kemiskinan
bertahun-tahun serta mewariskan kemiskinannya pada generasi berikutnya, ia pun
diwarisi kemiskinan oleh generasi sebelumnya. Kemiskinan yang
dialaminya dapat menjadi lebih parah daripada generasi sebelumnya.
Kemiskinan kronis ditandai dengan adanya gejala bahwa kemiskinan
terus diwariskan dari generasi ke generasi (adanya transmisi kemiskinan
antar generasi). Selain itu keadaan ini juga ditunjukkan oleh pola
commit to user
seseorang pada suatu waktu. Misalnya saja contoh di atas, seorang anak
yang tidak berpendidikan karena dia memang tidak mampu mendapatkan
pendidikan layak akan berlanjut menjadi pengangguran. Seorang
pengangguran tentu akan tidak mampu memenuhi kebutuhan minimal
kebutuhan dasar. Dengan demikian ia akan terjebak dalam proses siklus
hidup kemiskinan terus menerus sepanjang hidupnya, bahkan bukan tidak
mungkin ia akan mewariskan kemiskinannya pada keturunannya kelak.
Kemiskinan kronis dapat menghasilkan adanya siklus hidup
kemiskinan dan transmisi antar generasi. Kemiskinan kronis dapat berupa
suatu kemiskinan yang berlangsung terus menerus sehingga seorang
individu/masyarakat sangat sulit melepaskan diri darinya. Seorang yang
miskin bisa jadi karena diwarisi kemiskinan oleh generasi sebelumnya dan
besar kemungkinan akan mewariskan pula kemiskinannya pada generasi
berikutnya. Disamping itu ia pun akan terhalang dari akses-akses modern
akibat keterbatasan dan kekurangan yang ia miliki sehingga ia akan tetap
miskin karena keterbatasan yang terus membelenggunya.
Transmisi kemiskinan antar generasi maupun siklus hidup kemiskinan
commit to user
Transfer antar generasi, ekstraktif, atau ketiadaan transfer
kemiskinan karena modal
Anak-anak miskin/tidak miskin disebabkan oleh transfer,
ekstraktif, keberadaan transfer kemiskinan karena modal, dan
faktor-faktor individual dan struktural
Pengaruh siklus hidup: anak-anak miskin/tidak miskin berubah
menjadi dewasa miskin/tidak miskin disebabkan oleh faktor-
faktor individual dan struktural
Gambar 2.2
Transmisi KemiskinanAntar Generasi Maupun Siklus Hidup
Sumber: Moore, 2004
anak-anak miskin
dewasa miskin
dewasa tidak miskin dewasa
tidak miskin
anak-anak tidak miskin dewasa
miskin
[image:50.595.110.520.89.512.2]commit to user
D. Pengertian dan Karakteristik Anak Jalanan
Sebenarnya istilah anak jalanan pertama kali diperkenalkan di
Amerika Selatan, tepatnya di Brazilia, Menimos de Ruas untuk menyebut
kelompok anak-anak yang hidup di jalanan dan tidak memiliki tali ikatan
dengan keluarga (B.S Bambang, 1993: 9). Namun di beberapa tempat lain
istilah anak jalanan berbeda-beda. Di Colombia mereka disebut gamain
(urchin atau melarat) dan ”chinches” (kutu kasur), “marginas” (kriminal
atau marginal) di Vietnam, “saligoman”. Istilah-istilah terrsebut
menggambarkan bagaimana posisi anak-anak jalanan di dalam kehidupan
bermasyarakat. Semua anak sebenarnya memiliki hak untuk memperoleh
kehidupan tidak terkecuali anak jalanan. Namun pada kenyataanya,
mayoritas dan dapat dikatakan semua anak jalanan terpinggirkan dalam
aspek kehidupan.
Pengertian anak jalanan telah banyak dikemukakan oleh para ahli.
Secara khusus, anak jalanan menurut PBB adalah anak yang menghabiskan
sebagian besar waktunya di jalan untuk bekerja, bermain atau beraktifitas
lain. Anak jalanan tinggal dijalanan kerena kemiskinan dan kehancuran
keluarganya. Umumnya anak jalanan bekerja sebagai pengasong,
pemulumg, tukang semir, pelacur anak, dan pengais sampah.
Dalam buku ”Intervensi Psikosial”, anak jalanan adalah anak yang
sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau
berkeliaran di jalan atau tempat-tempat umum lainya. Definisi tersebut
commit to user
1. Anak-anak
2. Menghabiskan sebagian waktunya
3. Mencari nafkah atau berkeliaran
4. Jalanan dan tempat-tempat lainya
Berdasar hasil kajian di lapangan, secara garis besar anak jalanan
di bedakan dalam tiga kelompok (Surbakti dkk: 1997);
Pertama, children of street, yakni anak-anak yang mempunyai
kegiatan ekonomi-sebagai pekerja anak di jalan, tetapi masih mempunyai
hubungan yang kuat dengan orang tua mereka di jalanan, pada kategori ini
adalah membantu memperkuat penyangga ekonomi keluarganya karena
beban atau tekanan kemiskinan yang harus di tanggung karena tidak dapat
diselesaikan oleh kedua orang tuanya.
Kedua, children of the street, yakni anak-anak yang berpartisipasi
penuh di jalanan, baik secara sosial maupun ekonomi. Beberapa diantara
mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tuanya, tetapi frekuensi
pertemuan mereka tidak menentu. Banyak diantara mereka anak-anak yang
karena suatu sebab – biasanya dikerenakan kekerasan lari atau pergi dari
rumah. Berbagai penelitian menunjukan bahwa anak-anak ini sangat rawan
terhadap perlakuan salah, baik secara sosial, emosional, fisik maupun
seksual (Irwanto, 1955).
Ketiga, children fromfamilies of the street, yakni anak-anak yang
berasal dari keluarga yang hidup di jalanan. Meskipun anak-anak ini
commit to user
terombang-ambing dari satu tempat ke tempat yang lain dengan segala
resikonya (Blanc dan Associates, 1900). Salah satu ciri penting dari kategori
ini adalah penampangan kehidupan jalanan sejak anak masih bayi bahkan
sejak dalam kandungan. Di Indonesia kategori ini dengan mudah ditemui di
kolong-kolong jembatan rumah-rumah liar sepanjang rel kereta api dan di
pinggiran sungai walaupun secara kualitatif jumlahnya belum diketahui
secara pasti.
Menurut penelitian Departemen Sosial dan UNDP di wilayah Jakarta
dan Surabaya (BKSN 200: 2-4) anak jalanan di kelompokan dalam empat
kategori:
1. Anak jalanan yang hidup di jalanan, dengan kriteria;
a. Putus hubungan atau lama tidak ketemu dengan orang tuanya;
b. 8-10 jam berada di jalanan untuk ”bekerja”;
c. Tidak lagi sekolah;
d. Rata-rata berusia di bawah 14 tahun.
2. Anak jalanan yang bekerja di jalanan, dengan kriteria;
a. Berhubungan tidak t