Sebagaimana telah diuraikan di muka, tanah dengan berbagai atribut yang dimilikinya, ia mempunyai nilai dan fungsi yang sangat tinggi bagi kehidupan manusia, baik dari perspektif okonomi, politik maupun dari aspek sosial budaya. Dari perspektif ekonomi, tanah bernilai sebagai "barang modal" atau “kapital”; sedang jika dilihat dari perspektif sosial budaya, tanah bernilai sebagai "sumber penghidupan" yang paling utama, dan sebagai "barang pusaka" yang bernilai tinggi. Karena dalam perspektif sosial budaya, eksistensi tanah merupakan karunia Tuhan kepada umat
manusia yang harus disyukuri, dipelihara dan dimanfaatkan sebanyak-banyaknya bagi kehidupan manusia. Sebab tanah sebagai "barang milik" harus mempunyai status dalam kepastian hukum yang tetap.
Jauh sebelum berlakunya UUPA-1960, masyarakat Moronene telah memberlakukan sistem pemilikan tanah secara tradisional yaitu "hak milik adat”. karena status pemilikan tanah bagi masyarakat tersebut pada mulanya "hanya nengenal" adanya "tanah milik keluarga" yang memiliki status "hak milik adat”.
Termasuk dalam kategori "hak milik adat" adalah tanah-tanah seperti yang telah diuraikan terdahulu yang dalam istilah lokal disebut: (a) "Wawongkura / kura’ate", yaitu meliputi pengertian: bekas kebun, ladang / tegalan, dan sawah; (b) "daa ngkampo " yaitu bekas pekampungan / tapak rumah - rumah tinggal; (c) "wawo ngkoburu” yaitu tanah pekuburan yang dibuktikan dengan adanya kuburan leluhur dan tanda-tanda alam lainnya; (d) "walaka" yaitu suatu kawasan padang rumput sebagai tempat penggembalaan ternak. Demikian juga tanah olahan / garapan sendiri, tanah pemberian (wakaf), dan tanah yang dibeli dan belum memiliki sertifikat, adalah juga termasuk kategori "tanah hak adat".
Dengan pola dan status pemilikan tanah cara tradisional tersebut, ternyata tidak jarang menimbulkan permasalahan tersendiri, baik terhadap kepentingan pembangunan pada umumnya maupun kepentingan di kalangan penduduk itu sendiri. Kita mengetahui kebanyakan para pemilik tanah generasi pertama dengan "status hak adat”, kini sudah tiada (meninggal dunia), yang ada hanyalah para ahli waris. Di antara ahli waris tersebut, ada yang tetap bermukin di kampung hingga sekarang, tetapi ada juga yang sejak usia muda pergi merantau ke daerah lain. Bagi mereka (ahli waris) yang tetap berdomicili di kampung halaman samapai pada saat kebijaksanaan pemukiman kembali (resettlement) dilaksanakan, maka tanah-tanah warisan mereka tersebut, sejak awal tetap dapat diolah sendiri, karena hal yang demikian tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi berbeda halnya dengan mereka yang merantau, dan dewasa ini kembali mengklaim tanah warisannya tersebut.
Pada saat penelitian, para ahli waris tersebut sudah banyak yang kembali ke kampung halaman, baik untuk tinggal menetap maupun untuk menelusuri tanah-tanah peninggalan leluhurnya. Atas pengaruh "nilai tanah" yang semakin berharga, baik sebagai "barang pusaka" maupun sebagai "barang ekonomi", telah mendorong para ahli waris untuk memiliki tanah warisan tersebut dengan jalan melakukan "gugatan"
terhadap para pemukim baru (pendatang) tidak terkecuali dari kalangan keluarga mereka sendiri.
Pada waktu pelaksanaan kebijakan pemukiman kembali (resettlement) tersebut, sebagian besar penduduk kembali menempati tanah-tanah kosong. Dengan adanya anjuran pemerintah lokal pada waktu itu, bahwa penduduk dapat menempati kapling-kapling yang kosong tersebut, maka tidak sedikit penduduk yang menempati kapling milik orang lain. Namun akibatnya kemudian, tidak sedikit dari pemukim baru tersebut telah "digugat" oleh ahli waris yang datang dari perantauan mengklaim tanah warisan mereka tersebut. Penyelesaian masalah-masalah tanah tersebut menjadi semakin sulit, karena pada umumnya, batas tanah / pekarangan leluhur tersebut tidak memiliki bukti-bukti yang cukup, baik berupa surat-surat tertulis maupun tanam tumbuh dan / atau saksi-saksi hidup lainnya yang menguatkan. Sementara penduduk yang baru menempati kintal tersebut telah memiliki tanam tumbuh yang sudah produktif dan bahkan sudah punya rumah yang permanent serta telah memiliki sertifikat.
Tabel 3.2 Luas T an ah Me nur ut B u kti K ep emilik an nya Sta tus Ta na h Lu as T an ah K eter an gan
B uah H ekta r H a k M ilik H a k P a k a i ( P BB) H a k Ad a t 2 1 7 2 3 7 * ) 1 4 6,00 4 7 4,00 * ) Seb ag ia n p emilik tid ak b erd o misili d i d esa ini
S u mb er : D a ta seku nd er d i d esa , tah un 1 99 6 .
*) T id a k d ip ero leh da ta yan g p a sti.
Dari luasan areal tersebut, status kepemilikannya terdistribusi dalam 217 buah sertifikat dengan rincian 57 buah persil masing-masing seluas 2 hektar atau sejumlah 114,00 hektar untuk lahan usaha; dan 160 buah persil masing--masing seluas 0,2 hektar atau sejumlah 32 hektar untuk lahan pekarangan. Dari jumlah tersebut terdapat 20 orang penduduk yang memilki lebih dari satu buah sertifikat dengan nama yang sama, tetapi juga diduga ada yang menggunakan nama-nama anggota keluarga yang lain seperti istri dan anak-anak. Dengan demikian, jumlah sertifikat tanah tersebut tidaklah mencerminkan jumlah kepala keluarga (rumah tangga).
Dari penuturan masyarakat dapat pula diketahui, bahwa jumlah bantuan sertifikat kepada penduduk desa yang diberikan melalui program
(PRONA) yang masih sangat terbatas, maka kepada “siapa" dan "berapa" sertifikat tanah itu akan diberikan sangat tergantung bagaimana kehendak Kepala Desa. Sehingga dengan demikian pelayanannya masih sangat timpang. Hal ini menyebabkan peningkatan status tanah pada level penduduk tidak banyak mengalami kemajuan. Hingga akhir tahun 1996, baru tercatat sebagian kecil masyarakat di Desa Hukaea yang memiliki bukti-bukti pemilikan yang kuat dalam kedudukan hukum. Sebagian dari mereka baru dengan bukti pembayaran pajak buni (PBB). Karena dengan demikian, bukti kepemilikan tanah bagi penduduk di desa ini belum memiliki kepastian hukum yang tetap. Kondisi seperti ini cukup memprihatinkan, sebab jika hanya dengan pemilikan tanah atas dasar "hak adat", tidak mustahil akan semakin mengundang spekulasi masyarakat dalam usaha pemilikan dan penguasaan tanah, yang pada gilirannya dapat menimbulkan kerawanan dan konflik di masa depan.