BAB V PEMBAHASAN
5.2 Status Resistensi Nyamuk Aedes aegypti Terhadap
dan Sipermethrin 0,75% di Kecamatan Medan Selayang
Secara statistik kematian nyamuk antara tabung Kontrol dengan tabung uji Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75% didapatkan bahwa ada perbedaan rerata kematian nyamuk Aedes aegypti yang berada di dalam tabung kontrol dengan kematian nyamuk yang berada di dalam tabung uji (Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75%. Meskipun demikian persentase kematian nyamuk pada
tabung uji Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75% dibawah 80% yang berarti nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang sudah resisten terhadap kedua insektisida tersebut. Persentase kematian nyamuk yang diuji dalam tabung Malathion 0,8% sebesar 5% sedangkan persentase kematian nyamuk yang diuji dalam tabung Sipermethrin 0,75% sebesar 32,5%.
Persentase kematian nyamuk pada Malathion 0,8% hampir mendekati 0 % yang berarti nyamuk Aedes aegypti hampir 100% resisten terhadap Malathion 0,8%. Hal ini disebabkan karena penggunaan Malathion secara terus menerus dan tidak pernah digunakan secara bergantian selama pemakaian puluhan tahun dengan insektisida lain. Persentase kematian nyamuk pada tabung Sipermethrin 0,75% lebih tinggi dibandingkan dengan Malathion 0,8%. Meskipun demikian Sipermethrin juga sudah dikatakan resisten karena persentase kematian nyamuk Aedes aegypti dibawah 80%. Oleh karena itu kedua bahan aktif ini harus diganti dengan bahan aktif lain yang dapat membunuh nyamuk Aedes aegypti secara efektif agar dapat menurunkan kasus DBD di Kota Medan.
Menurut Depkes RI (2007) salah satu upaya penanggulangan DBD adalah dengan cara penyemprotan insektisida yang diaplikasikan dengan pengasapan (thermal fogging). Pengasapan (fogging) yaitu suatu teknik yang digunakan untuk mengendalikan DBD dengan menggunakan insektisida tertentu yang berguna untuk mengurangi penularan sampai batas waktu tertentu. Penggunaan insektisida dalam waktu lama atau dipakai secara terus menerus dapat menimbulkan kekebalan nyamuk (resisten).
Menurut Sucipto (2015) penggunaan insektisida secara terus menerus cenderung mempercepat proses terjadinya resistensi serangga. Sementara penggunaan insektisida secara bergantian dengan insektisida dari kelompok kimia yang berbeda dan cara kerja yang berbeda akan menghambat terjadinya resistensi serangga. Menurut penelitian Ahmad (2009) bahwa resistensi serangga terhadap insektisida apapun jenisnya akan muncul ke permukaan setelah 2 -20 tahun digunakan secara terus menerus. Penggunaan insektisida dapat bertindak sebagai agen seleksi populasi secara alami yang akan membuat serangga yang mempunyai gen resisten yang tetap hidup dan akan diturunkan ke generasi berikutnya. Akibatnya persentase serangga yang resisten akan terus bertambah sedangkan serangga rentan akan tereliminasi karena insektisida. Pada akhirnya penggunaan insektisida menjadi tidak efektif karena jumlah serangga resisten jauh lebih banyak dibandingkan dengan serangga rentan.
Pada setiap pengulangan yang dilakukan sebanyak 4 kali didapatkan kematian nyamuk yang berbeda beda yang diduga disebabkan oleh ketahanan tubuh nyamuk. Menurut penelitian Hasanuddin (2012) bahwa umur 2-5 hari ketahanan tubuh nyamuk sudah kuat dan sudah produktif sehingga umur nyamuk dapat mengakibatkan tingkat kematian nyamuk yang terlalu cepat jika nyamuk masih memiliki umur 1 hari atau sudah lebih 5 hari.
Pada saat penelitian juga dilakukan pengamatan jumlah nyamuk yang pingsan (knock down) setelah 1 jam perlakuan. Dari data knock down didapatkan rata-rata jumlah kejadian knock-down pada nyamuk yang dikontakkan dengan Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75% memiliki rerata 5 ekor kejadian knock
down yang berarti tidak mencapai 50% dari jumlah nyamuk yang diuji. Hal ini menunjukkan bahwa Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75% memiliki daya knock-down atau daya melumpuhkan nyamuk yang cukup rendah.
Menurut penelitian Erna Kristinawati (2008) penggunaan insektisida bila digunakan terus-menerus mengakibatkan jumlah vektor peka dalam populasi menjadi semakin sedikit sehingga yang tersisa adalah yang tahan. Vektor akan kawin satu dengan lainnya sehingga menghasilkan keturunan yang tahan pula. Akhirnya populasi didominasi oleh vektor-vektor tahan yang dapat tetap hidup, berkembang biak, dan tahan terhadap insektisida yang diaplikasikan. Setiap jenis serangga seperti nyamuk Aedes aegypti mampu mempertahankan dan mewariskan sifat resistensi pada keturunannya dalam waktu yang lama.
Sipermethrin sendiri termasuk dalam golongan Piretroid. Penelitian pada insektisida rumah tangga yang beredar di masyarakat menunjukkan kebanyakan insektisida rumah tangga bahan aktifnya termasuk dalam golongan Piretroid, sehingga penggunaan insektisida rumah tangga diduga turut berperan dalam terjadinya resistensi. Berdasarkan kenyataan tersebut perlu pemikiran bersama untuk menyusun strategi mengantisipasi terjadinya resistensi vektor penular DBD dengan merotasi penggunaan insektisida untuk pengendalian vektor. Menurut David & Gilles (2002) rotasi atau pergiliran kelompok dan jenis insektisida dilakukan berdasarkan cara kerja atau mode of action dan target site yang berbeda. Menurut penelitian Ambarita (2014) migrasi dan penyebaran serangga menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan terjadinya resistensi di suatu wilayah. Apabila di suatu wilayah mengaplikasikan insektisida untuk
mengendalikan vektor dan disaat yang bersamaan dimasuki oleh serangga rentan maka proses ke arah resistensi menjadi diperlambat. Strain yang berasal dari laboratorium dan telah lama dikolonisasi diketahui secara umum bebas dari resistensi (rentan) karena tidak terpapar dengan insektisida baik yang diaplikasikan oleh pelaksana program bidang kesehatan dan pertanian termasuk aplikasi di tingkat rumah tangga. Faktor-faktor lainnya yang dapat mempengaruhi terjadinya resistensi antara lain frekuensi aplikasi, dosis pemakaian, laju reproduksi dan isolasi populasi. Laju resistensi silang meningkat khususnya pada insektisida dari kelompok yang sama dan memiliki mode of action yang sama.
Insektisida kalau digunakan secara tepat sasaran, tepat dosis, tepat waktu dan cakupan akan mampu mengendalikan vektor dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Sebaliknya apabila penggunaannya tidak sesuai dengan kaidah tersebut, perkembangan resisten vektor terhadap insektisida dapat menjadi lebih cepat. Perkembangan nyamuk menjadi resisten terhadap insektisida mengakibatkan tindakan pengendalian vektor DBD menjadi lebih sulit karena insektisida sangat diperlukan pada saat terjadinya peningkatan kasus atau saat KLB yang berguna untuk memutus mata rantai penularan.
5.3 Status Resistensi Nyamuk Aedes aegypti Terhadap Malathion 0,8%
dan Sipermethrin 0,75% di Kecamatan Medan Maimun
Secara statistik kematian nyamuk antara tabung Kontrol dengan tabung uji Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75% didapatkan bahwa ada perbedaan rerata kematian nyamuk Aedes aegypti yang berada di dalam tabung kontrol dengan kematian nyamuk yang berada di dalam tabung uji (Malathion 0,8% dan
Sipermethrin 0,75%. Meskipun demikian persentase kematian nyamuk pada tabung uji Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75% dibawah 80% yang berarti nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Maimun sudah resisten terhadap kedua insektisida tersebut. Persentase kematian nyamuk yang diuji dalam tabung Malathion 0,8% sebesar 27,5% sedangkan persentase kematian nyamuk yang diuji dalam tabung Sipermethrin 0,75% sebesar 56,25%.
Pada saat penelitian juga dilakukan pengamatan jumlah nyamuk yang pingsan (knock down) setelah 1 jam perlakuan. Dari data knock down didapatkan rata-rata jumlah kejadian knock-down pada nyamuk yang dikontakkan dengan Malathion 0,8% memiliki rerata kejadian knock down 8 ekor. Hal ini menunjukkan bahwa Malathion memiliki daya knock down atau daya melumpuhkan nyamuk yang cukup rendah. Sipermethrin 0,75% memiliki rerata kejadian knock down 12 ekor yang berarti mencapai 50% dari jumlah nyamuk yang diuji. Hal ini menunjukkan bahwa Sipermethrin 0,75% masih mampu melumpuhkan nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Maimun.
Kematian nyamuk yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang lebih rendah dibandingkan dengan kematian nyamuk yang berasal dari Kecamatan Medan Maimun. Hal ini menunjukkan bahwa status resistensi Malathion dan Sipermethrin terhadap nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang lebih tinggi dibandingkan dengan status resistensi nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Maimun.
Rendahnya kematian nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang menunjukkan bahwa tingkat resistensinya sudah tinggi. Hal ini
disebabkan karena Kecamatan Medan Selayang adalah Kecamatan dengan kasus tertinggi di Kota Medan, sehingga fogging sangat sering dilakukan di daerah tersebut. Menurut penelitian Widiarti (2000) Insektisida apabila digunakan dalam skala luas, dalam jangka waktu cukup lama dan frekuensi tinggi dapat menimbulkan terjadinya penurunan kerentanan pada nyamuk sasaran.
Munculnya sifat serangga resisten dipicu dengan adanya pajanan yang berlangsung lama. Hal ini terjadi karena nyamuk Aedes aegypti mampu mengembangkan sistim kekebalan terhadap insektisida yang sering dipakai (Nusa dkk, 2008).