• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Resistensi Malathion dan Sipermethrin Terhadap Nyamuk Aedes aegypti di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue Kota Medan Tahun 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Uji Resistensi Malathion dan Sipermethrin Terhadap Nyamuk Aedes aegypti di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue Kota Medan Tahun 2016"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

Lampiran 1. Form Pengisian Hasil Uji Resistensi di Laboratorium

Form Pengisian Hasil Uji Resistensi di Laboratorium

Nama Kecamatan :

Tanggal Terakhir Penyemprotan :

Spesies Nyamuk :

Sumber Jentik :

Tempat Peristirahatan Nyamuk : Tanggal Pengujian di Laboratorium :

Metode Pengukuran :

Jenis insektisida :

Dosis yang Digunakan :

Suhu

- Periode Paparan (1jam) : - Periode Holding (1hari) : Kelembaban

(2)

Tabel Hasil pengujian dikoreksi denga rumus Abbort, yaitu :

(3)

Lampiran 2. Lembar Observasi Pengambilan Jentik

Di dalam rumah Di luar rumah Penyemprotan Tgl

(4)

Tabel Lanjutan 13

14 15 16 17 18 19 20

Keterangan :

A = Jumlah tempat yang berisi air

(5)

Lampiran 3. Lembar Informasi Insektisida

Lembar Informasi Insektisida

No

Nama

Kecamatan

Jenis

Insektisida

Tahun

Produksi Formulasi Dosis Frekuensi

(6)
(7)
(8)
(9)
(10)

Lampiran 5. Output Hasil Uji Statistik

MEDAN SELAYANG

Tests of Normalityb

jenis pestisida

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Jumlah Nyamuk Mati

Malathion 0,8% ,250 4 . ,927 4 ,577

Sipermethrin 0,75%

,215 4 . ,946 4 ,689

a. Lilliefors Significance Correction

b. Jumlah Nyamuk Mati is constant when jenis pestisida = Kontrol. It has been omitted.

Test of Homogeneity of Variances Jumlah Nyamuk Mati

Levene Statistic df1 df2 Sig.

3,900 2 9 ,060

ANOVA

Jumlah Nyamuk Mati

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 88,667 2 44,333 11,400 ,003

Within Groups 35,000 9 3,889

(11)

Post Hoc Tests

Multiple Comparisons Jumlah Nyamuk Mati

LSD

(I) jenis pestisida (J) jenis pestisida

Mean

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.

MEDAN MAIMUN

b. Jumlah Nyamuk Mati is constant when jenis pestisida = Kontrol. It has been omitted.

Test of Homogeneity of Variances Jumlah Nyamuk Mati

Levene Statistic df1 df2 Sig.

(12)

ANOVA

(I) jenis pestisida (J) jenis pestisida

Mean

(13)
(14)
(15)
(16)
(17)

Lampiran 9. Lokasi Penelitian

Gambar 1 : Peta Kecamatan Medan Selayang

(18)

Lampiran 10. Dokumentasi Penelitian

Gambar 1. Proses pengambilan Jentik

(19)

Gambar 3. Kurungan Nyamuk

(20)

Gambar 5. Nyamuk yang Mati Ketika diberi Perlakuan

(21)

Gambar 7. Proses Pemindahan Nyamuk dari Tabung Uji ke dalam Tabung Holding

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, U.F., 2008. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Universitas Indonesia Pers. Jakarta.

--- 2011. Dasar-dasar Penyakit Berbasis Lingkungan. Edisi Revisi. Cetakan ke-2. Rajawali Pers. Jakarta.

--- 2014. Dasar-dasar Penyakit Berbasis Lingkungan. Edisi Revisi. Cetakan ke-4, Rajawali Pers. Jakarta.

Ahmad, I. dkk., 2009. Status Kerentanan Aedes aegypti (Diptera: Culicidae) pada Tahun 2006-2007 Terhadap Malation di Bandung, Jakarta, Surabaya, Palembang dan Palu. Bandung.

Ambarita, L.P., 2014. Tingkat Kerentanan Aedes aegypti Terhadap Malathion di Provinsi Sumatera Selatan. Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang. Baturaja. Vol 8-13.

Balitbangkes, 2002. Rumus Abbot. Dirjen PPM dan PLP Depkes RI. Jakarta. Bina Kimia, 2001. Mustang 25 EC. PT. Bina Guna Kimia. Jakarta.

Crosskey, 1993. Classification. http://www.museums.org.za/bio/insect.flies /index.htm. 7 Februari 2008.

Dahlan, M.S., 2011. Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan. Salemba Medika. Jakarta.

Darmono, 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran. Universitas Indonesia. Jakarta.

Depkes RI., 2000. Inventarisasi Tanaman Obat. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian. Jakarta.

--- 2001. Petunjuk Teknis Pemberantasan Nyamuk Penular penyakit DBD.

Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. Jakarta.

--- 2003. Pedoman Penanggulangan Demam Berdarah Dengue., Depkes RI, Jakarta.

--- 2004. Perilaku Hidup Nyamuk Aedes aegypti Sangat Penting Diketahui Dalam Melakukan Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk Termasuk Pemantauan Jentik Berkala. Buletin Jendela. Jakarta.

(23)

--- 2007. Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Depkes RI. Jakarta.

--- 2008. Profil Kesehatan Indonesia. Depkes RI. Jakarta.

--- 2010. Demam Berdarah Dengue. Buletin Jendela Epidemiologi. Depkes RI. Jakarta

--- 2014., Perkembangan Kasus Demam Berdarah di Indonesia. http://www.depkes.go.id. 5 Juni 2014.

Diana, W. 2009. Dampak Negatif Penggunaan Pestisida di Lingkungan. Skripsi Online (http://repository.usu.ac.id) Diakses Juni 2012.

Dinas Kesehatan Kota Medan, 2015. Profil Kesehatan Kota Medan. Medan. Djojosumarto, P., 2004. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Cetakan ke-4,

Kanisius. Yogyakarta.

--- 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Agromedia Pustaka. Jakarta. Erna, K., 2013. Uji Resistensi Sipermetrin dan Malathion Pada Aedes aegypti di

Daerah Endemis DBD Kabupaten Lombok Barat. Poltekkes Kemenkes Mataram. Jurnal Kesehatan.

Ginanjar, G., 2006. Demam Berdarah. Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Bandung.

Hadinegoro, S.R.H. dan Satari H.I., 2004. Demam Berdarah Dengue. Fakiultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Hadi, U.K., 2006. Hama Pemukiman Indonesia. Fakultas Kedokteran Hewan. IPB. Bogor.

Hamid, H., 2014. Bahan Ajar Pestisida. Fakultas Pertanian Agroekoteknologi. Universitas Andalas. Sumatera Barat.

Haryati, S., 2006. Optimalisasi Penggunaan Bawang Putih Sebagai Pengawet Alami Dalam Pengolahan Ikan Asin Jambal Roti. Thesis-IPB. Bogor.

Jumar, 2000. Entomologi Pertanian. PT. Rineka Cipta. Jakarta.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia., 2012. Pedoman Penggunaan Insektisida (Pestisida) dalam Pengendalian Vektor. Jakarta.

(24)

Magallona, E.D., 1980. Pesticide Management. Business day Corp. Inc – Philipiness.

Muchlastriningsih, E. dkk., 2004. Beberapa Pemeriksaan Yang Dapat Dilakukan Pada Kasus DBD, Berita Epidemiologi. Edisi Januari.

Notoatmodjo, S., 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan.Rineka Cipta. Jakarta. Peraturan Menteri Kesehatan RI, 2010. Pengendalian Vektor. Dirjen PP dan PL Palembang. Loka Litbang P2B2. Baturaja. Vol 9.

Sembel, D.T.. 2009. Entomologi Kedokteran. ANDI. Yogyakarta.

Sembiring, O., 2009. Thesis : Efektivitas Beberapa Jenis Insektisida Terhadap Nyamuk Aedes aegypti. Pasca Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Medan.

Shinta, Supratman S. dan Asri F., 2006. Kerentanan Nyamuk Aedes aegypti di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Bogor terhadap Insektisida Malathion dan Lambdacyhalothrin. Jurnal Kesehatan.

Siswanto, H., 2003. Kamus Populer Kesehatan Lingkungan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Sitio A., 2008. Hubungan Perilaku Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Kebiasaan Keluarga dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan Tahun 2008. Thesis. Universitas Dipenogoro. Semarang.

Soegijanto, S., 2006. Demam Berdarah Dengue. Airlangga University Press. Surabaya.

Sutanto, I. dkk., 2008. Parasitologi Kedokteran. Cetakan ke-4. Departemen Parasitologi fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

--- 2012. Demam Berdarah Dengue. Edisi Kedua. Airlangga University Press. Surabaya

Soemirat, J., 2009. Toksikologi Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

(25)

Sudarmo, S., 2007. Pestisida. Kanisius. Yogyakarta.

Sumantri, A., 2011. Metodologi Penelitian Kesehatan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.

Tabashnik, B.E., (2011). Pesticide Resistance - History and Extent of Insecticide Resistance, Genetics and Biochemistry of Resistance, Delaying Evolution of Resistance".

Tarumingkeng, R., 1992. Insektisida. Ukrida. Jakarta.

Tarumingkeng, 2008. Pestisida dan Penggunaannya. IPB. Bogor

Untung, K., 2004. Manajemen Resistensi Pestisida Sebagai Penerapan Pengelolaan Hama Terpadu. Universitas Gajahmada. Yogyakarta.

Widiarti, dkk., 2000. Peta Resistensi Vektor DBD Aedes aegypti Terhadap Insektisida Kelompok Organofosfat, Karbamat, dan Piretroid di Provinsi Jawa Tengan dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga.

--- 2011. Studi Resistensi Nyamuk Aedes aegypti terhadap Berbagai Kelompok Insektisida di Berbagai Wilayah di Indonesia. Salatiga. Vol 39

World Health Organization (WHO)., 1992. Insect and Rodent Control Through Environmental Management. Geneva.

--- 2004. Climate Change and Human Health. Geneva.

--- 2013. Panduan Lengkap Pencegahan dan Pengendalian Dengue dan Demam Berdarah Dengue. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

--- 2013. Test Procedures for Insecticide Resistance Monitoring in Malaria vector Mosquitoes. ISBN. Geneva.

(26)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang bersifat eksperimen semu (quasi eksperiment). Uji resistensi ini dilakukan untuk mengetahui status kerentanan nyamuk Aedes aegypti di daerah endemis DBD Kota Medan terhadap Malathion dan Sipermethrin sebagai bahan aktif pengendali vektor yang di aplikasikan dengan metode pengasapan atau thermal fogging. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah post test only control group design yaitu melakukan pengukuran atau observasi sesudah perlakuan diberikan tanpa melakukan tes awal. Percobaan dilakukan dengan tiga perlakuan yaitu perlakuan kontrol (tanpa insektisida) dan 2 perlakuan lainnya diberi kontak antara nyamuk Aedes aegypti dengan Insecticide impregnated paper (Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75%). Semua perlakuan tersebut diberi pengulangan sebanyak 4 kali untuk mendapatkan hasil yang akurat.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

(27)

Lokasi pengambilan sampel dilakukan di daerah endemis DBD Kota Medan yaitu Kecamatan Medan Selayang dan Kecamatan Medan Maimun. Adapun alasan pemilihan lokasi pengambilan sampel adalah :

1. Menurut data penyakit DBD dari Dinas Kesehatan Kota Medan tahun 2015 Kecamatan Medan Selayang adalah daerah endemis tertinggi dari 21 Kecamatan yang berada di Kota Medan

2. Kecamatan Medan Maimun adalah daerah endemis terendah di Kota Medan.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Mei 2016.

3.3 Objek Penelitian dan Sampel

3.3.1 Objek Penelitian

(28)

3.3.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah jentik nyamuk yang diambil dari lingkungan rumah warga yang sudah pernah di fogging (hanya pada tahun 2015 dan 2016) yang berada di Kecamatan Medan Selayang dan Kecamatan Medan Kota. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling dengan kriteria jentik yang diambil adalah jentik yang berada di seluruh penampungan air yang tidak beralaskan tanah dan barang-barang bekas yang berada di lingkungan rumah warga.

3.4 Metode Pengumpulan Data

3.4.1 Data Primer

Data primer diperoleh dari hasil uji Susceptibility Malathion dan Sipermethrin terhadap nyamuk Aedes aegypti di Laboratorium Entomologi Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas I Medan. Resistensi nyamuk Aedes aegypti digambarkan oleh banyaknya nyamuk Aedes aegypti yang mati, knockdown (pingsan) dan yang bertahan hidup akibat

pemaparan Malathion dan Sipermethrin .

3.4.2 Data Sekunder

(29)

3.5 Defenisi Operasional

1. Malathion adalah insektisida yang berasa dari golongan organophospat yang digunakan sebagai bahan aktif fogging untuk pengendalian nyamuk Aedes aegypti.

2. Sipermethrin adalah insektisida yang berasal dari golongan pyrethroid yang digunakan sebagai bahan aktif fogging untuk pengendalian nyamuk Aedes aegypti.

3. Uji Susceptibility adalah uji di Laboratorium untuk mengetahui status resistensi nyamuk Aedes aegypti terhadap Malathion dan Sipermethrin dengan menggunakan impregnated paper.

4. Status resistensi adalah tingkat ketahanan hidup nyamuk Aedes aegypti yang telah terpapar Malathion dan Sipermethrin.

5. Kematian nyamuk Aedes aegypti adalah nyamuk dewasa yang tidak dapat terbang lagi akibat apa saja yang merobohkan nyamuk seperti kehilangan kaki atau sayap.

6. Suhu adalah keadaan udara ruangan yamg diukur dengan thermometer pada saat penelitian dilaksanakan dengan satuan derajat celcius.

7. Kelembaban adalah kelembaban udara di lokasi penelitian yang diukur dengan hygrometer dengan satuan persen.

3.6 Metode Pengukuran

Metode pengukuran pada penilitian ini adalah menggunakan uji susceptibility sesuai standar WHO (World Health Organization) dengan

(30)

Kematian setiap unit uji insektisida dihitung persentase kematiannya dengan

rumus : % kematian = x 100%

dan apabila persentase kematian pada kelompok kontrol 5-20% maka data dikoreksi denga rumus Abbort, yaitu :

% kematian = x 100%

Data persentase kematian nyamuk Aedes aegypti selanjutnya dengan kriteria susceptibility terhadap insektisida menurut WHO (World Health Organization, 1975) untuk menentukan status resistensinya, yaitu kebal/resistensi bila kematian <80%, toleran bila kematian antara 80%-98%, dan rentan bila kematian antara 99%-100%.

3.7 Instrumen Penelitian

3.7.1 Alat Penelitian

(31)

Gambar 3.Tabung Plastik Untuk Uji Resistensi

2. Empat unit slide, masing-masing dilengkapi dengan sekrup-cap di kedua sisi sebagai penutup dan pembuka lobang pada tabung.

(32)

3. Aspirator digunakan untuk memindahkan nyamuk dari dalam kurungan nyamuk kedalam tabung tersebut.

Gambar 5.Aspirator 4. Pencatat waktu.

(33)

Gambar 6.Kurungan Nyamuk

6. Kain kasa terbuat dari bahan seperti kelambu halus yang digunakan untuk mencegah nyamuk dewasa lepas.

(34)

7. Lembar form isian hasil uji. 8. Masker dan sarung tangan.

3.7.2 Bahan Penelitian

1. Delapan lembar kertas bersih/HVS (12 x15cm) untuk melapisi tabung holding. 2. Empat lembar kertas uji berinsektisida Malathion 0,8%.

3. Empat lembar kertas uji berinsektisida Sipermethrin 0,75%. 4. Nyamuk Aedes aegypti dewasa.

5. Larutan glukosa 10%.

3.8 Tata Cara Penelitian

3.8.1 Cara Pengambilan Jentik

Cara pengambilan jentik pada penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Mengumpulkan jentik sebanyak 300 dari lingkungan rumah warga yang sudah pernah di fogging (hanya pada tahun 2015 dan 2016) yang berada di Kecamatan Medan selayang dan Kecamatan Medan Kota. Nyamuk yang dibutuhkan dalam penelitian di Laboratorium adalah 240 ekor nyamuk dewasa Aedes aegypti, tetapi jentik yang diambil sebanyak 300 sebagai antisipasi di

Laboratorium jika proses rearing terhadap jentik ada yang gagal atau mati. 2. Jentik yang diambil dari lingkungan rumah warga minimal nya 20 rumah. 3. Jentik diambil dengan menggunakan pipet kemudian dimasukkan ke dalam

botol yang berisi air dengan volume setengah dari besar botol tersebut.

(35)

5. Kemudian nyamuk dewasa tersebut yang akan dijadikan objek dalam penelitian ini.

3.8.2 Prosedur Penelitian di Laboratorium

1. Enam lembar kertas putih bersih (12x15cm), digulung menjadi bentuk silinder, yang dimasukkan ke dalam enam tabung dengan perincian dua tabung untuk perlakuan Sipermethrin, dua tabung untuk Malathion dan dua tabung lagi untuk tabung kontrol. Kemudian pada tabung diletakkan klip tembaga untuk mencegah nyamuk terjepit diselah-selah kertas tersebut.

2. Kemudian 20 ekor nyamuk Aedes aegypti yang kenyang gula diambil menggunakan aspirator dari kandang nyamuk dipindahkan ke dalam 4 tabung yang bertanda titik hijau.

3. Kemudian tabung hijau dan tabung merah direkatkan menggunakan slide dengan sekrup cup.

4. Nyamuk dipindahkan ke dalam tabung bertanda titik merah yang telah diisi dengan kertas uji berinsektisida dengan cara membuka slide penutup dan setelah seluruh nyamuk berpindah slide ditutup kembali.

5. Dua tabung kontrol dilapisi kertas tanpa insektisida masing-masing diikat ke posisi dengan klip tembaga.

6. Nyamuk disimpan dalam tabung paparan, yang diatur dalam posisi vertikal dengan mesh layar berakhir paling atas, untuk jangka waktu 1 jam (60 menit). 7. Tabung diatur dalam posisi tegak selama satu jam. Pada akhir waktu ini, setiap

(36)

8. Pada akhir periode paparan 1 jam, nyamuk ditransfer kembali ke tabung yang bertanda titik hijau (tabung holding).

9. Nyamuk dibiarkan dalam tabung hijau selama 24 jam (pemulihan periode). Selama pemulihan ini, penting untuk menjaga tabung holding ditempat yang terlindung bebas dari temperatur yang ekstrem. Suhu dan kelembaban harus dicatat selama periode pemulihan.

10. Pada akhir periode pemulihan (24 jam pasca pajanan), jumlah nyamuk mati dihitung dan dicatat. Nyamuk dewasa dianggap hidup jika mampu terbang, terlepas dari jumlah kaki yang tersisa. Apa saja yang merobohkan nyamuk, apakah mereka telah kehilangan kaki atau sayap dihitung sebagai mati.

3.9 Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil uji di Laboratorium akan dianalisis secara statistik dengan menggunakan program statistik komputer. Program statistik yang digunakan akan ditampilkan dalam bentuk tabel.

3.9.1 Uji Shapiro Wilk

Uji Shapiro Wilk digunakan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak. Adapun hipotesis yang akan diuji adalah :

Ho : Distribusi data kematian nyamuk berdistribusi normal. Ha : Distribusi data kematian nyamuk berdistribusi tidak normal. Dengan dasar pengambilan keputusan :

(37)

3.9.2 Uji Levene

Uji Levene digunakan untuk mengetahui varians data homogen atau tidak. Adapun hipotesis yang akan diuji adalah :

Ho : Varians data populasi darimana data sampel ditarik seragam (homogen) Ha : Varians data populasi darimana data sampel ditarik tidak seragam (tidak

homogen)

3.9.3 Uji ANOVA

Uji ANOVA digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan rerata kematian nyamuk Aedes aegypti yang berada di dalam tabung kontrol dengan kematian nyamuk yang berada di dalam tabung yang telah diisi kertas berinsektisida (Malathion dan Sipermethrin). Uji ANOVA digunakan apabila data berdistribusi normal dan datanya homogen. Apabila data yang diolah berdistribusi tidak normal maka digunakan uji Kruskal-wallis.

Jika hasil uji Anova menunjukkan adanya perbedaan rata-rata kematian nyamuk Aedes aegypti yang berada di dalam tabung kontrol dengan tabung yang telah diisi kertas berinsektisida (Malathion dan Sipermethrin) maka analisis dilanjutkan dengan uji lanjutan/post hoc test. Post hoc test digunakan karena uji Anova hanya memberikan informasi tentang ada tidaknya beda antar rata-rata dari keseluruhan perlakuan, namun belum memberikan informasi tentang ada tidaknya perbedaan antara perlakuan yang satu dengan perlakuan yang lainnya. Salah satu post hoc test yang dapat digunakan adalah prosedur uji Tukey atau metode uji LSD

(Least Significance Different).

(38)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Medan merupakan salah satu daerah endemis DBD di Indonesia dengan kejadian yang memiliki risiko tinggi. Kota Medan dengan luas 26.510 Hektar (265,10 Km2) ini memiliki 21 Kecamatan. Kecamatan yang memiliki data laporan DBD paling tinggi adalah Kecamatan Medan Selayang dan yang paling rendah adalah Kecamatan Medan Maimun. Kedua Kecamatan ini dijadikan lokasi pengambilan sampel penelitian.

Kecamatan Medan Selayang secara geografis berada di wilayah Barat Daya Kota Medan. Kecamatan Medan Selayang dibagi menjadi 6 kelurahan dan 63 lingkungan dengan status kelurahan swasembada. Adapun luas wilayah Kecamatan Medan Selayang adalah ± 2.379 Ha. Wilayah-wilayah yang berdekatan dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Medan Selayang adalah : Sebelah Utara dengan Kecamatan Medan Baru dan Medan Sunggal, Selatan dengan Kecamatan Medan Tuntungan dan Medan, Timur dengan Kecamatan Medan Polonia dan Sebelah Barat dengan Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang.

(39)

Lokasi pengujian dilakukan di Laboratorium Entomologi Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas I Medan. Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Kementrian Kesehatan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. BTKLPP Medan mempunyai tugas melaksanakan surveilans epidemiologi, kajian dan penapisan teknologi, laboratorium rujukan, kendali mutu, kalibrasi, pendidikan dan pelatihan, pengembangan model dan teknologi tepat guna, kewaspadaan dini dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) di bidang pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan serta kesehatan matra.

BTKL Medan resmi didirikan pada tahun 1998 berdasarkan surat Kepmenkes 392/MENKES/SK/IV/1998 dan beroperasi pada tahun 1998. Pada tahun 2004 BTKL Medan Berubah Menjadi BTKLPP Kelas I Medan. Saat ini lokasi Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas I Medan terletak di Jalan KH. Wahid Hasyim No. 15 Medan. Kepala balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas I Medan saat ini adalah Dr. Dra. Indah Anggraini, M.Si.

4.2 Pengukuran Suhu dan Kelembaban

(40)

4.2.1 Pengukuran Suhu

Hasil pengukuran suhu di dalam ruangan Laboratorium yang diukur menggunakan thermometer pada seluruh perlakuan dan pada setiap pengulangan sebanyak 4 kali selama 7 hari penelitian sekitar 27˚C - 30˚C.

4.2.2 Pengukuran Kelembaban

Hasil pengukuran kelembaban di dalam ruangan Laboratorium yang diukur menggunakan hygrometer pada seluruh perlakuan dan pada setiap pengulangan sebanyak 4 kali selama 7 hari penelitian sekitar 70% - 74%.

4.3 Kematian Nyamuk Aedes aegypti dalam Uji Resistensi Malathion 0,8%

dan Sipermethrin 0,75%

Penelitian ini dilakukan untuk melihat status resistensi nyamuk Aedes aegypti terhadap Malathion dan Sipermethrin. Resistensi nyamuk Aedes aegypti

(41)

Pada perlakuan kontrol yang dikontakkan dengan kertas yang tidak mengandung insektisida tidak didapat nyamuk yang mengalami pingsan (knock down) (setelah 1 jam perlakuan) dan juga nyamuk yang mati (setelah 24 jam perlakuan) atau jumlah kematian 0. Kematian pada nyamuk kontrol ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh lingkungan (suhu dan kelembaban didalam ruangan) terhadap kematian nyamuk yang berada didalam tabung uji tersebut.

Hasil pengamatan untuk uji resistensi terhadap Malathion 0,8% dapat dilihat pada tabel 4.1 :

Tabel 4.1 Jumlah Nyamuk yang Mati dalam Uji Resistensi Malathion 0,8% Terhadap Nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang Tahun 2016

Suhu paparan (selama 1 jam) 29˚C 29˚C 29˚C 30˚C

Suhu holding (selama 24 jam) 28˚C 28˚C 28˚C 29˚C

(42)

rata-rata nyamuk yang pingsan sebanyak 3-4 ekor, dan rata-rata kematian nyamuk setelah 24 jam adalah sebanyak 1-2 ekor nyamuk.

Tabel 4.2 Jumlah Nyamuk yang Mati dalam Uji Resistensi Malathion 0,8% Terhadap Nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Maimun Tahun 2016

28˚C 27˚C27˚C 28˚C28˚C 28˚C28˚C Kelembaban paparan (selama

(43)

Tabel 4.3 Jumlah Nyamuk yang Mati dalam Uji Resistensi Sipermethrin 0,75% Terhadap Nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang Tahun 2016

Suhu paparan (selama 1 jam) 28˚C 28˚C 29˚C 30˚C

Suhu holding (selama 24 jam) 28˚C 29˚C 30˚C 30˚C

Kelembaban paparan (selama 1

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa rata-rata kematian nyamuk yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang yang dikontakkan dengan Sipermethrin 0,75% selama 60 menit didapatkan efek knock-down (setelah 1 jam perlakuan) dengan rata-rata nyamuk yang pingsan sebanyak 5-6 ekor, dan rata-rata kematian nyamuk setelah 24 jam adalah sebanyak 6-7 ekor nyamuk.

Tabel 4.4 Jumlah Nyamuk yang Mati dalam Uji Resistensi Sipermethrin 0,75% Terhadap Nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Maimun Tahun 2016

Suhu paparan (selama 1 jam) 28˚C 27˚C 28˚C 28˚C

Suhu holding (selama 24 jam) 28˚C 28˚C 29˚C 29˚C

Kelembaban paparan (selama

(44)

Tabel 4.4 Lanjutan Tabel 4.4 menunjukkan bahwa rata-rata kematian nyamuk yang berasal dari Kecamatan Medan Maimun yang dikontakkan dengan Sipermethrin 0,75% selama 60 menit didapatkan efek knock-down (setelah 1 jam perlakuan) dengan rata-rata nyamuk yang pingsan sebanyak 7-8 ekor, dan rata-rata kematian nyamuk setelah 24 jam adalah sebanyak 11-12 ekor nyamuk.

Tabel 4.5 Rata-rata Kematian Nyamuk dalam Uji Resistensi Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75% pada Nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang dan pada tabung Kontrol Tahun 2016

Tabung Perlakuan Jumlah nyamuk

(45)

Tabel 4.6 Rata-rata Kematian Nyamuk dalam Uji Resistensi Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75% pada Nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Maimun dan pada tabung kontrol Tahun 2016

Tabung Perlakuan Jumlah nyamuk

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa rata-rata kematian nyamuk yang berada di pada tabung kontrol dengan pengulangan 4 kali dan setiap pengulangan menggunakan 20 ekor nyamuk didapatkan didapatkan rata-rata persentase kematian nyamuk sebesar 0%, tabung perlakuan Malathion didapatkan rata-rata persentase kematian nyamuk sebesar 27,5% dan pada tabung perlakuan Sipermethrin 0,75 didapatkan rata-rata persentase kematian nyamuk sebesar 56,25%.

(46)

Gambar 9. Diagram Kematian Nyamuk yang berasal dari Kecamatan Medan Maimun pada tabung Kontrol dan yang diberi perlakuan (Malathion dan Sipermethrin)

4.4. Hasil Uji Shapiro Wilk

Tabel 4.7 Uji Kenormalan Data Jumlah kematian Nyamuk di Kecamatan Medan Selayang Tahun 2016

(47)

menunjukkan bahwa distribusi data kematian nyamuk yang berada di Kecamatan Medan Selayang berdistribusi normal.

Tabel 4.8 Uji Kenormalan Data Jumlah kematian Nyamuk di Kecamatan Medan Maimun Tahun 2016 berasal dari Kecamatan Medan Maimun yang dikontakkan dengan Malathion menunjukkan bahwa nilai signifikansi atau probabilitas adalah 0,850, p=0,850 > 0,05 artinya Ho diterima, dan Sipermethrin menunjukkan bahwa nilai signifikansi atau probabilitas adalah 0,103, p=0,103 > 0,05 artinya Ho diterima. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi data kematian nyamuk yang berada di Kecamatan Medan Maimun berdistribusi normal.

4.5 Hasil Uji Levene

(48)

4.6 Hasil Uji Anova One Way

Uji Anova One Way dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan rata-rata kematian nyamuk Aedes aegypti yang berada di dalam tabung kontrol dengan tabung Malathion dan Sipermethrin. Hasil Uji Anova One Way pada kematian nyamuk yang berada di tabung kontrol dengan tabung yang sudah diisi kertas insektisida dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.9 Hasil uji Anova One Way Jumlah Kematian Nyamuk dalam tabung Uji (Malathion dan Sipermethrin) dan tabung kontrol yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang Tahun 2016

Berdasarkan tabel 4.9 hasil uji statistik Anova One Way diperoleh p-value = 0,003 < 0,005 artinya Ho ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan rerata kematian nyamuk Aedes aegypti yang berada di dalam tabung kontrol dengan kematian nyamuk yang berada di dalam tabung uji (Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75%) sehingga dilanjutkan dengan melakukan analisis Post Hoc. Tabel 4.10 Hasil uji Anova One Way Jumlah Kematian Nyamuk dalam tabung Uji

(49)

Berdasarkan tabel 4.10 hasil uji statistik Anova One Way diperoleh p-value = 0,0001 < 0,005 artinya Ho ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan rerata kematian nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Maimun yang berada di dalam tabung kontrol dengan kematian nyamuk yang berada di dalam tabung uji (Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75%) sehingga dilanjutkan dengan melakukan analisis Post Hoc.

4.7 Hasil Uji LSD (Least Significance Different)

Uji Anova hanya memberikan indikasi tentang ada tidaknya beda antar rata-rata dari keseluruhan perlakuan, namun belum memberikan informasi tentang ada tidaknya perbedaan signifikan antar rata-rata perlakuan yang satu dengan perlakuan yang lainnya, maka itu diperlukan uji lanjutan (post hoc test). Uji LSD (Least Significance Different) merupakan salah satu uji lanjutan yang dapat digunakan untuk menentukan apakah rata-rata dua perlakuan berbeda secara statistik atau tidak. Hasil uji LSD (Least Significance Different) dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.11 Hasil Uji LSD (Least Significance Different) pada Kematian Nyamuk yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang Tahun 2016

Jenis Insektisida Beda Rerata

(I-J) p-value

Jenis Insektisida (I) Jenis Insektisida (J)

(50)

Tabel 4.11 menunjukkan bahwa tabung Kontrol dengan Malathion 0,8% memiliki p-value 0,185 > 0,05, maka Ho diterima yang berarti tidak ada perbedaan kematian nyamuk yang berada di tabung Kontrol dengan tabung Malathion 0,8% disebabkan kematian pada tabung Malathion sangat rendah dan tabung Kontrol dengan Sipermetrhin 0,75% memiliki p-value 0,001 < 0,005 maka Ho ditolak yang berarti ada perbedaan nyata kematian nyamuk antara tabung Kontrol dengan tabung Sipermethrin 0,75%. Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75% memiliki p-value 0,010 < 0,05, maka Ho ditolak yang berarti ada perbedaan nyata daya bunuh

antara Malathion dan Sipermethrin.

Tabel 4.12 Hasil Uji LSD (Least Significance Different) pada Kematian Nyamuk yang berasal dari Kecamatan Medan Maimun Tahun 2016

Jenis Insektisida Beda Rerata

(I-J) p-value Jenis Insektisida (I) Jenis Insektisida (J)

(51)

BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Suhu dan Kelembaban

Suhu dan kelembaban adalah faktor yang mempengaruhi perkembangan hidup nyamuk selama di Laboratorium.

5.1.1 Suhu

Selama penelitian berlangsung dilakukan pengukuran suhu dengan menggunakan thermometer untuk mengetahui berapa suhu ruangan ketika pengujian dilakukan, dan didapatkan rata-rata suhu ruangan sekitar 29°C.

Suhu merupakan satu faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan nyamuk. Berdasarkan standar dari WHO (2009), suhu optimal ruangan laboratorium adalah 27 ± 2˚C, dan menurut Yotopranoto, et al. dalam Yudhastuti (2005), pertumbuhan nyamuk akan berhenti sama sekali bila suhu kurang dari 10°C atau lebih dari 40°C.

Berdasarkan hasil pengukuran suhu yang didapatkan, dapat disimpulkan bahwa suhu dalam ruangan Laboratorium selama penelitian cukup ideal bagi kehidupan nyamuk sehingga faktor suhu tidak mempengaruhi kematian nyamuk dalam penelitian ini, yang dibuktikan oleh kematian nyamuk pada tabung Kontrol (tabung yang tidak mengandung kertas berinsektisida) sebesar 0% .

(52)

Selama penelitian berlangsung kelembaban udara didalam ruangan diukur dengan menggunakan hygrometer dengan hasil rata-rata didapatkan kelembaban udara ruangan sebesar 71%.

Kelembaban udara juga merupakan salah satu kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup nyamuk. Menurut Jumar (2000), kelembaban yang sesuai untuk perkembangan nyamuk dan serangga pada umumnya adalah sekitar 70% - 89%. Sedangkan menurut Mardihusodo dalam Yudhasuti (2005), kelembaban udara yang berkisar 81,5 - 89,5% merupakan kelembaban yang optimal untuk proses embriosasi dan ketahanan hidup embrio nyamuk. Standar yang diberikan WHO (2009) untuk kelembaban udara optimal ruangan Laboratorium saat penelitian adalah 80 ± 10%.

Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa kondisi kelembaban dalam ruangan Laboratorium cukup ideal untuk kebutuhan dan kelangsungan hidup nyamuk, sehingga faktor kelembaban tidak mempengaruhi kematian nyamuk dalam penelitian ini, yang dibuktikan oleh kematian nyamuk pada tabung Kontrol (tabung yang tidak mengandung kertas berinsektisida) sebesar 0% .

5.2 Status Resistensi Nyamuk Aedes aegypti Terhadap Malathion 0,8%

dan Sipermethrin 0,75% di Kecamatan Medan Selayang

(53)

tabung uji Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75% dibawah 80% yang berarti nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang sudah resisten terhadap kedua insektisida tersebut. Persentase kematian nyamuk yang diuji dalam tabung Malathion 0,8% sebesar 5% sedangkan persentase kematian nyamuk yang diuji dalam tabung Sipermethrin 0,75% sebesar 32,5%.

Persentase kematian nyamuk pada Malathion 0,8% hampir mendekati 0 % yang berarti nyamuk Aedes aegypti hampir 100% resisten terhadap Malathion 0,8%. Hal ini disebabkan karena penggunaan Malathion secara terus menerus dan tidak pernah digunakan secara bergantian selama pemakaian puluhan tahun dengan insektisida lain. Persentase kematian nyamuk pada tabung Sipermethrin 0,75% lebih tinggi dibandingkan dengan Malathion 0,8%. Meskipun demikian Sipermethrin juga sudah dikatakan resisten karena persentase kematian nyamuk Aedes aegypti dibawah 80%. Oleh karena itu kedua bahan aktif ini harus diganti dengan bahan aktif lain yang dapat membunuh nyamuk Aedes aegypti secara efektif agar dapat menurunkan kasus DBD di Kota Medan.

(54)

Menurut Sucipto (2015) penggunaan insektisida secara terus menerus cenderung mempercepat proses terjadinya resistensi serangga. Sementara penggunaan insektisida secara bergantian dengan insektisida dari kelompok kimia yang berbeda dan cara kerja yang berbeda akan menghambat terjadinya resistensi serangga. Menurut penelitian Ahmad (2009) bahwa resistensi serangga terhadap insektisida apapun jenisnya akan muncul ke permukaan setelah 2 -20 tahun digunakan secara terus menerus. Penggunaan insektisida dapat bertindak sebagai agen seleksi populasi secara alami yang akan membuat serangga yang mempunyai gen resisten yang tetap hidup dan akan diturunkan ke generasi berikutnya. Akibatnya persentase serangga yang resisten akan terus bertambah sedangkan serangga rentan akan tereliminasi karena insektisida. Pada akhirnya penggunaan insektisida menjadi tidak efektif karena jumlah serangga resisten jauh lebih banyak dibandingkan dengan serangga rentan.

Pada setiap pengulangan yang dilakukan sebanyak 4 kali didapatkan kematian nyamuk yang berbeda beda yang diduga disebabkan oleh ketahanan tubuh nyamuk. Menurut penelitian Hasanuddin (2012) bahwa umur 2-5 hari ketahanan tubuh nyamuk sudah kuat dan sudah produktif sehingga umur nyamuk dapat mengakibatkan tingkat kematian nyamuk yang terlalu cepat jika nyamuk masih memiliki umur 1 hari atau sudah lebih 5 hari.

(55)

down yang berarti tidak mencapai 50% dari jumlah nyamuk yang diuji. Hal ini

menunjukkan bahwa Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75% memiliki daya knock-down atau daya melumpuhkan nyamuk yang cukup rendah.

Menurut penelitian Erna Kristinawati (2008) penggunaan insektisida bila digunakan terus-menerus mengakibatkan jumlah vektor peka dalam populasi menjadi semakin sedikit sehingga yang tersisa adalah yang tahan. Vektor akan kawin satu dengan lainnya sehingga menghasilkan keturunan yang tahan pula. Akhirnya populasi didominasi oleh vektor-vektor tahan yang dapat tetap hidup, berkembang biak, dan tahan terhadap insektisida yang diaplikasikan. Setiap jenis serangga seperti nyamuk Aedes aegypti mampu mempertahankan dan mewariskan sifat resistensi pada keturunannya dalam waktu yang lama.

(56)

mengendalikan vektor dan disaat yang bersamaan dimasuki oleh serangga rentan maka proses ke arah resistensi menjadi diperlambat. Strain yang berasal dari laboratorium dan telah lama dikolonisasi diketahui secara umum bebas dari resistensi (rentan) karena tidak terpapar dengan insektisida baik yang diaplikasikan oleh pelaksana program bidang kesehatan dan pertanian termasuk aplikasi di tingkat rumah tangga. Faktor-faktor lainnya yang dapat mempengaruhi terjadinya resistensi antara lain frekuensi aplikasi, dosis pemakaian, laju reproduksi dan isolasi populasi. Laju resistensi silang meningkat khususnya pada insektisida dari kelompok yang sama dan memiliki mode of action yang sama.

Insektisida kalau digunakan secara tepat sasaran, tepat dosis, tepat waktu dan cakupan akan mampu mengendalikan vektor dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Sebaliknya apabila penggunaannya tidak sesuai dengan kaidah tersebut, perkembangan resisten vektor terhadap insektisida dapat menjadi lebih cepat. Perkembangan nyamuk menjadi resisten terhadap insektisida mengakibatkan tindakan pengendalian vektor DBD menjadi lebih sulit karena insektisida sangat diperlukan pada saat terjadinya peningkatan kasus atau saat KLB yang berguna untuk memutus mata rantai penularan.

5.3 Status Resistensi Nyamuk Aedes aegypti Terhadap Malathion 0,8%

dan Sipermethrin 0,75% di Kecamatan Medan Maimun

(57)

Sipermethrin 0,75%. Meskipun demikian persentase kematian nyamuk pada tabung uji Malathion 0,8% dan Sipermethrin 0,75% dibawah 80% yang berarti nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Maimun sudah resisten terhadap kedua insektisida tersebut. Persentase kematian nyamuk yang diuji dalam tabung Malathion 0,8% sebesar 27,5% sedangkan persentase kematian nyamuk yang diuji dalam tabung Sipermethrin 0,75% sebesar 56,25%.

Pada saat penelitian juga dilakukan pengamatan jumlah nyamuk yang pingsan (knock down) setelah 1 jam perlakuan. Dari data knock down didapatkan rata-rata jumlah kejadian knock-down pada nyamuk yang dikontakkan dengan Malathion 0,8% memiliki rerata kejadian knock down 8 ekor. Hal ini menunjukkan bahwa Malathion memiliki daya knock down atau daya melumpuhkan nyamuk yang cukup rendah. Sipermethrin 0,75% memiliki rerata kejadian knock down 12 ekor yang berarti mencapai 50% dari jumlah nyamuk yang diuji. Hal ini menunjukkan bahwa Sipermethrin 0,75% masih mampu melumpuhkan nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Maimun.

Kematian nyamuk yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang lebih rendah dibandingkan dengan kematian nyamuk yang berasal dari Kecamatan Medan Maimun. Hal ini menunjukkan bahwa status resistensi Malathion dan Sipermethrin terhadap nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang lebih tinggi dibandingkan dengan status resistensi nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Maimun.

(58)

disebabkan karena Kecamatan Medan Selayang adalah Kecamatan dengan kasus tertinggi di Kota Medan, sehingga fogging sangat sering dilakukan di daerah tersebut. Menurut penelitian Widiarti (2000) Insektisida apabila digunakan dalam skala luas, dalam jangka waktu cukup lama dan frekuensi tinggi dapat menimbulkan terjadinya penurunan kerentanan pada nyamuk sasaran.

Munculnya sifat serangga resisten dipicu dengan adanya pajanan yang berlangsung lama. Hal ini terjadi karena nyamuk Aedes aegypti mampu mengembangkan sistim kekebalan terhadap insektisida yang sering dipakai (Nusa dkk, 2008).

5.4 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang bersifat eksperimen semu (quasi esperiment) dengan menggunakan rancangan post test only control group design yaitu melakukan pengukuran atau observasi sesudah perlakuan diberikan tanpa melakukan tes awal. Penelitian ini dilakukan dengan uji susceptibility berdasarkan uji standard who secara in vitro/skala laboratorium.

(59)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai uji resistensi Malathion dan Sipermethrin terhadap nyamuk Aedes aegypti dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Persentase kematian nyamuk dalam uji resistensi Malathion 0,8% adalah < 80% yang berarti sudah resisten terhadap nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang maupun Kecamatan Medan Maimun dengan masing-masing persentase 5% dan 27,5%.

2. Persentase kematian nyamuk dalam uji resistensi Sipermethrin 0,75% adalah < 80% yang berarti sudah resisten terhadap nyamuk Aedes aegypti yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang maupun Kecamatan Medan Maimun dengan masing-masing persentase 32,5% dan 56,25%.

3. Kecamatan Medan Selayang lebih resisten dibandingkan dengan Kecamatan Medan Maimun.

(60)

6.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :

1. Kecamatan Medan Selayang diupayakan untuk mengganti Malathion dan Sipermethrin dengan bahan aktif lain agar program fogging dalam mengendalikan penyakit DBD menjadi efektif.

2. Kecamatan Medan Maimun diupayakan untuk mengganti Malathion dan masih menggunakan Sipermethrin sebagai bahan aktif fogging tetapi untuk satu tahun kedepan diupayakan untuk merotasi Sipermethrin dengan bahan aktif lain untuk mencegah terjadinya resistensi terhadap Sipermethrin.

3. Penggantian Malathion dan Sipermethrin sebaiknya diganti dengan bahan aktif yang berasal dari golongan yang berbeda untuk mencegah terjadinya resistensi.

4. Bagi Dinas Kesehatan Kota Medan diharapkan lebih memonitoring izin operasional untuk pelaksaan fogging di masyarakat terhadap pihak swasta maupun pihak Dinas Kesehatan itu sendiri.

(61)

6. Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai hubungan tingkat resistensi nyamuk Aedes aegypti dengan tingginya kasus DBD dan analisis faktor yang mempengaruhi tingkat resistensi nyamuk Aedes aegypti terhadap Malathion dan Sipermethrin.

(62)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Resistensi Nyamuk

2.1.1 Pengertian Resistensi Nyamuk

Menurut WHO (1992) dalam Sucipto (2015) resistensi terhadap insektisida adalah kemampuan individu serangga dalam populasi untuk bertahan hidup terhadap suatu dosis insektisida yang dalam keadaan normal dapat membunuh spesies serangga tersebut. Resistensi merupakan suatu fenomena evolusi yang disebabkan oleh seleksi serangga hama yang diberi perlakuan insektisida secara terus menerus. Secara prinsip mekanisme resistensi ini akan mencegah insektisida berikatan dengan titik targetnya atau tubuh serangga menjadi mampu untuk mengurai bahan aktif insektisida sebelum sampai pada titik sasaran. Jenis atau tingkatan resistensi itu sendiri meliputi tahap rentan, toleran baru kemudian tahap resisten.

Resistensi insektisida merupakan suatu kenaikan proporsi individu dalam populasi yang secara genetik memiliki kemampuan untuk tetap hidup meski terpapar satu atau lebih senyawa insektisida. Peningkatan individu ini terutama oleh karena matinya individu-individu yang sensitif insektisida sehingga memberikan peluang bagi individu yang resisten untuk terus berkembangbiak dan meneruskan gen resistensi pada keturunannya (Tabashnik, 2011).

(63)

(cross resistance). Resistensi tunggal adalah resistensi pada populasi serangga terhadap satu jenis insektisida sedangkan resistensi ganda (silang) adalah perkembangan resistensi pada populasi serangga termasuk nyamuk akibat penekanan secara selektif insektisida lain dengan mekanisme sama/target site sama, tetapi bukan dari satu kelompok insektisida (WHO, 1992).

Menurut Herat (1997) yang dikutip oleh Sucipto (2015) bahwa status resistensi terhadap serangga, diukur menggunakan prosedur standar WHO dengan uji Susceptibility, yaitu metode standar yang tepat untuk mengukur resistensi insektisida khususnya di lapangan. Kriteria yang digunakan untuk menginterpretasi hasil Letal Concentration (LC50) atau LC100 adalah :

1. Kematian 99-100 % = Susceptible/Rentan/Peka 2. Kematian 80-98 % = Toleran

3. Kematian <80 % = Resisten

2.1.2 Jenis-jenis Resistensi

Menurut WHO (1975) penggunaan insektisida pada pengendalian populasi nyamuk, menyebabkan tekanan seleksi atas individu nyamuk yang memiliki kemampuan untuk tetap hidup bila kontak dengan insektisida dengan mekanisme berbeda. Resistensi secara umum dikenal 3 tipe, yaitu :

(64)

seperti, ukuran kutikula tebal dan tingginya kandungan lemak berperan dalam fenomena resistensi non spesifik.

2. Resistensi fisiologis, populasi serangga mungkin terseleksi untuk tetap hidup terhadap tekanan insektisida tertentu oleh mekanisme fisiologis yang berbeda (enzim mendetoksifikasi timbunan insektisida dalam lemak). Contoh resistensi fisiologis adalah nyamuk yang resisten dapat meningkat akibat penggunaan insektisida seperti Malathion dan Sipermethrin. Tipe resistensi ini adalah reversible (dapat pulih seperti semula) ketika tekanan insektisida dihilangkan, tetapi kerentanannya jarang dapat kembali ke nilai sebelumnya dan menurun kembali dengan cepat manakala penggunaan insektisida dimulai lagi.

3. Resisten Perilaku (resistance behavioristic), adalah kemampuan populasi nyamuk lari/menghindar dari efek insektisida karena perilaku alamiah atau modifikasi perilaku mereka (induced behavior) akibat insektisida. Hal ini dilakukan dengan cara menghindari permukaan atau udara yang mendapat perlakuan insektisida atau memperpendek periode kontak (Sucipto 2015).

2.1.3 Mekanisme Resistensi Serangga

(65)

Menurut WHO (1980) ada 3 mekanisme dasar yang berperan dalam proses terjadinya resistensi/penurunan status kerentanan serangga terhadap insektisida, diantaranya :

1. Peningkatan metabolisme toksikan (insektisida) dalam tubuh serangga dengan enzim mixed function oxisade, hidrolase, esterase dan glutathione-S-transferase.

2. Perubahan sensitivitas tempat sasaran dalam tubuh serangga, yang berupa insensitivitas saraf dan insensitivitas enzim asetilkholinesterase (AChE). 3. Penurunan penetrasi toksikan (insektisida) ke arah tempat aktif (saraf dan

AChE).

Mekanisme resistensi serangga terhadap insektisida organofosfat dan karbamat yang dilaporkan oleh French-Constant dan Bonning (1989), Mardihusodo (1996), Mulyaningsih (2004), yaitu terjadinya peningkatan aktivitas enzim esterase nonspesifik dan insensitivitas asetilkholinesterase. Peningkatan aktivitas enzim esterase nonspesifik akan menurunkan dosis letal insektisida organofosfat menjadi subletal, sehingga tidak mematikan serangga sasaran. Kedua mekanisme tersebut berperan dalam penurunan status kerentanan pada sebagian besar serangga, baik di bidang kesehatan maupun pertanian.

Menurut Sucipto (2015) proses terjadinya penurunan kerentanan (resistensi) pada beberapa serangga termasuk nyamuk dapat dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu :

(66)

heterozygote yang terdapat pada nyamuk maupun serangga lainnya. Faktor genetik seperti gen-gen yang menjadi pembentukan enzim esterase, yang dapat menyebabkan resistensi serangga terhadap insektisida organofosfat dan pyrethroid. Faktor genetik lain seperti adanya gen knock down resistence (kdr) sehingga serangga resisten terhadap DDT dan dieldrin.

2. Faktor biologis, meliputi biotik (adanya pergantian generasi, perkawinan monogamy atau poligami dan waktu berakhirnya perkembangan setiap generasi pada serangga di alam), perilaku serangga misalnya: migrasi, isolasi, monofagi atau polifagi serta kemampuan serangga di luar kebiasaannya dalam melakukan perlindungan terhadap bahaya atau perubahan tingkah laku.

3. Faktor operasional, meliputi bahan kimia yang digunakan dalam pengendalian vektor (golongan insektisida, kesamaan target dan sifat insektisida yang pernah digunakan, persistensi residu dan formulasi insektisida yang digunakan) serta aplikasi insektisida tersebut di lapangan (cara aplikasi, frekuensi dan lama penggunaan).

(67)

cross resistance antara insektisida organofosfat dan karbamat. Populasi serangga yang sudah resisten terhadap insektisida DDT cenderung resisten terhadap piretroid. Demikian halnya populasi serangga yang sudah kebal terhadap insektisida golongan organofosfat cenderung resisten terhadap insektisida karbamat. Penggunaan insektisida secara terus menerus cenderung mempercepat proses terjadinya resistensi serangga. Sementara penggunaan insektisida secara bergantian dengan insektisida dari kelompok kimia yang berbeda dan cara kerja yang berbeda akan menghambat terjadinya resistensi serangga.

2.1.4 Deteksi Resistensi Vektor Terhadap Insektisida

Penentuan status kerentanan spesies nyamuk vektor secara berkala sangat diperlukan untuk mendapatkan data dasar deteksi lebih lanjut dan monitoring terjadinya resistensi. Dengan mengetahui status kerentanan spesies vektor, maka akan memberikan masukan terhadap kebijakan program dalam menentukan jenis insektisida dan strategi yang akan digunakan. Disamping itu hasil uji resistensi dapat digunakan dalam memahami mekanisme terjadinya penurunan kerentanan vektor (resistensi). Pemantauan resistensi vektor terhadap insektisida pada setiap spesies vektor di setiap strata eko-epidemiologi seharusnya dilakukan secara berkala 1-2 tahun oleh sektor kesehatan tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota (Kementerian Kesehatan RI, 2012).

(68)

1. Deteksi secara konvensional dengan metode standar WHO susceptibility test menggunakan impregnated paper. Deteksi secara susceptibility adalah uji tingkat resistensi yang digunakan oleh WHO dengan menggunakan impregnated paper (lembaran yang sudah mengandung insektisida). Uji susceptibility dilakukan menggunakan stadium dewasa dari serangga uji. Persyaratan untuk uji susceptibility yang harus dipenuhi adalah jumlah yang cukup serta kondisi fisiologis serangga yang baik. Kondisi fisiologis yang baik diantaranya keseragaman umur serangga, stadium, ukuran, harus hidup dan kenyang darah atau kenyang gula. Pada uji susceptibility kematian serangga uji dicatat setelah pemaparan insektisida dan setelah diholding (dipisahkan dari paparan insektisida) selama semalam (24 jam).

2. Deteksi secara biokimia atau enzimatis menggunakan mikroplat. Deteksi secara biokimia adalah uji resistensi nyamuk terhadap insektisida yang sangat esensial berdasarkan kuantifikasi enzim yang bertanggung jawab pada proses resistensi seperti uji mikroplat untuk insensitive asetilkholinesterase dan uji mikroplat untuk aktivitas enzim esterase non-spesifik. Keunggulan dari uji biokimia adalah informasi status kerentanan diperoleh lebih cepat dan dapat menunjukan mekanisme penurunan kerentanan (Resistensi dan toleransi) yang di ukur pada serangga secara individu (Widiarti, 2002).

(69)

konvensional, yang salah satunya adalah gen voltage gated sodium channel (VGSC). Gen VGSC merupakan mekanisme resistensi serangga terhadap insektisida DDT dan golongan piretroid yang ditunjukkan dengan adanya titik mutasi. Mutasi gen VGSC pada nyamuk Aedes Aegypti terjadi pada sembilan lokus yang berbeda (Brengues, et al., 2003).

2.2 Demam Berdarah Dengue (DBD)

2.2.1 Defenisi DBD

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan di tularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini dapat menyerang semua orang serta dapat mengakibatkan

kematian terutama pada anak – anak dan sering menimbulkan wabah. Jika nyamuk Aedes aegypti menggigit penderita demam berdarah maka virus dengue akan masuk kedalam tubuh bersama darah yang diisapnya kemudian virus dengue berkembang biak dan menyebar ke seluruh tubuh nyamuk dan sebagian besar berada di kelenjar liur, selanjutnya apabila nyamuk menggigit orang lain maka air liur bersama virus dengue akan dilepas terlebih dahulu agar darah yang akan di hisap tidak membeku dan pada saat yang bersamaan virus dengue ditularkan ke orang lain tersebut (Soegijanto, 2006).

(70)

DEN-4 dari genus Flavivirus. Penyakit ini merupakan penyakit yang timbul di negara-negara tropis, termasuk di Indonesia (Depkes RI, 2010 ; Dantje, 2009).

2.2.2 Epidemiologi DBD

Wabah dengue pertama kali ditemukan di dunia tahun 1635 di Kepulauan Karibia dan selama abad 18, 19 dan awal abad 20, wabah penyakit yang menyerupai dengue telah digambarkan secara global di daerah tropis dan beriklim sedang. Vektor penyakit ini berpindah dan memindahkan penyakit dan virus dengue melalui transportasi laut. Seorang pakar bernama Rush telah menulis tentang dengue berkaitan dengan break bone fever yang terjadi di Philadelphia tahun 1780. Kebanyakan wabah ini secara klinis adalah demam dengue walaupun ada beberapa kasus berbentuk haemorrhargia. Penyakit DBD di Asia Tenggara ditemukan pertama kali di Manila tahun 1954 dan Bangkok tahun 1958 (Soegijanto, 2006).

Di Indonesia Demam Berdarah pertama kali ditemukan di kota Surabaya pada tahun 1968, dimana sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia (Angka Kematian (AK) : 41,3 %). Dan sejak saat itu, penyakit ini menyebar luas ke seluruh Indonesia. Demam Berdarah Dengue banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita DBD setiap tahunnya. Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga tahun 2009, World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara (Depkes RI 2014).

(71)

Penyakit demam berdarah dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini mendapat virus dengue sewaktu mengisap darah orang yang sakit demam berdarah dengue atau tidak sakit tetapi didalam darahnya terdapat virus dengue. Seseorang yang di dalam darahnya mengandung virus dengue merupakan

sumber penularan penyakit demam berdarah. Virus dengue berada dalam darah selama 4 - 7 hari mulai 1 - 2 hari sebelum demam. Bila penderita tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terisap masuk kedalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar diberbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk didalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 minggu setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik). Menurut WHO (1999) lama waktu yang diperlukan untuk inkubasi ekstrinsik tergantung pada kondisi lingkungan sekitarnya Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya (Soegijanto, 2012).

Nyamuk Aedes aegypti yang telah mengisap virus dengue itu menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menusuk/mengigit, sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya (proboscis) agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain (Soegijanto, 2006).

(72)

a. Wilayah yang banyak kasus DBD atau rawan endemis DBD.

b. Tempat-tempat umum yang merupakan tempat berkumpulnya orang, orang datang dari berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup besar seperti sekolah, pasar, hotel, puskesmas, rumah sakit dan sebagainya.

c. Pemukiman baru di pinggir kota, karena dilokasi ini, penduduk umumnya berasal dari berbagai wilayah, maka memungkinkan diantaranya terdapat penderita atau karier yang membawa tipe virus dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi asal.

2.3 Nyamuk Aedes aegypti

Taksonomi nyamuk Aedes aegypti adalah sebagai berikut: Filum : Artropoda

Kelas : Hexapoda/lnsecta Subklas : Pterygota

Ordo : Diptera

Familia : Culicidae Subfamilia : Culicinae

Genus : Aedes

Spesies : Aedes aegypti (C'rosskey, 1993)

(73)

Pada dasarnya siklus hidup nyamuk berawal dari peletakan telur oleh nyamuk betina. Dari telur muncul fase kehidupan air yang masih belum matang disebut larva yang berkembang melalui empat tahap kemudian bertambah ukuran hingga mencapai kepompong nyamuk dewasa membentuk diri sebagai betina atau jantan dan tahap nyamuk dewasa muncul dari pecahan di belakang kulit kepompong. Nyamuk dewasa makan, kawin dan nyamuk betina memproduksi telur untuk melengkapi siklus dan memulai generasi baru. Beberapa spesies nyamuk hanya satu generasi per tahun yang lainnya bisa mempunyai beberapa generasi selama musim dengan kondisi iklim yang menguntungkan. Mereka sangat bergantung pada iklim dari kondisi lingkungan lokal terutama suhu dan curah hujan (Achmadi, 2011).

(74)

Gambar 1.Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti

2.3.2 Morfologi Nyamuk Aedes aegypti

1. Telur

Setiap kali bertelur, nyamuk betina Aedes aegypti dapat mengeluarkan telur sebanyak 100 butir, dengan ukuran 0,5-0,8 mm, berbentuk elips atau oval memanjang, berwarna hitam, permukaan poligonal yang mengapung satu persatu pada permukaan air yang jernih, atau menempel pada dinding tempat penampungan air. Telur ini ditempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan sampai 6 bulan, dan menetas menjadi jentik dalam waktu lebih kurang 2 hari setelah terendam air. Dilaporkan bahwa dari telur yang dilepas, sebanyak 85% melekat di dinding TPA, sedangkan 15% lainnya jatuh kepermukaan (Soegijanto, 2006).

(75)

Larva nyamuk Aedes aegypti tubuhnya memanjang tanpa kaki dengan bulu-bulu sederhana yang tersusun bilateral simetris. Larva ini dalam pertumbuhan dan perkembangannya mengalami 4 kali pergantian kulit. Ada 4 tingkat (instar) jentik sesuai dengan pertumbuhan larva tersebut yaitu :

a. Instar I : berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm, duri-duri (spinae) pada dada (thorax) belum begitu jelas, dan corong pernapasan (siphon) belum menghitam.

b. Instar II : berukuran 2,5-3,9 mm, duri-duri dada belum jelas, dan corong pernapasan sudah berwarna hitam.

c. Instar III: berukuran lebih besar sedikit dari larva instar II.

d. Instar IV: berukuran paling besar 5 mm, telah lengkap struktur anatominya dan jelas tubuh dapat dibagi menjadi bagian kepala (chepal), dada (thorax), dan perut (abdomen).

Jenis Aedes aegypti akan selalu bergerak aktif dalam air, gerakan berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan air untuk bernafas (mengambil udara) kemudian turun, kembali kebawah dan seterusnya. Pada waktu istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air. Biasanya berada disekitar dinding tempat penampungan air. Setelah 6-8 hari jentik akan berkembang / berubah menjadi kepompong (Soegijanto, 2006).

(76)

Kepompong atau pupa seperti “koma”, bentuknya lebih besar namun lebih

ramping dibanding larva atau jentiknya. Pupa berukuran lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata pupa nyamuk lain, gerakan lamban, sering berada di permukaan air, setelah 1-2 hari akan menjadi nyamuk dewasa (Soegijanto, 2006).

4. Nyamuk Dewasa

Nyamuk dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lain dan mempunyai warna dasar hitam dengan bintik- bintik putih pada bagian badan dan kaki. Hidup di dalam dan di sekitar rumah, juga ditemukan di tempat-tempat umum, dan mampu terbang sampai 100 meter. Nyamuk betina aktif menggigit (menghisap) darah pada pagi hari sampai sore hari. Nyamuk jantan biasa menghisap sari bunga/ tumbuhan yang mengandung gula. Umur nyamuk betina dapat mencapai 2-3 bulan atau rata-rata 1,5 bulan . Perbedaan morfologi antara nyamuk Aedes aegypti yang betina dengan jantan terletak pada perbedaan morfologi antenanya. Aedes aegypti betina memiliki antena berbulu jarang sedangkan yang jantan memiliki antena berbulu lebat. Dada nyamuk ini tersusun atas 3 ruas, porothorax, mesothorax, dan metathorax. Perut terdiri dari 8 ruas dan pada ruas-ruas tersebut terdapat bintik-bintik putih (Soegijanto, 2006).

2.3.3 Bionomik Aedes aegypti

(77)

1. Perilaku Makan

Nyamuk Aedes aegypti mempunyai perilaku makan yaitu mengisap nectar dan jus tanaman sebagai sumber energinya. Tetapi setelah kawin, nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur. Menurut Achmadi (2011), nyamuk betina membutuhkan protein untuk memproduksi telur yang didapatkannya dari darah. Nyamuk tertarik pada host berdasarkan faktor-faktor yang berbeda. Semakin hangat suhu dan semakin tinggi kelembaban sekitar host ditambah dengan gerakan host dan perbedaan warna disekitar mereka akan lebih mempermudah nyamuk untuk mendekati host dan menghisap darahnya demi kelangsungan keturunannya. Sumber darah secara epidemiologis adalah penting karena beberapa mikroorganisme patogen dan parasit yang menyebabkan penyakit dihubungkan dengan host tertentu. Nyamuk yang mencari makan pada burung dan/atau host mamalia dan juga pada manusia disebut perilaku mencari makan oportunistik.

Menurut Sutanto (2008), sebagai hewan nocturnal (kebiasaan yang aktif pada malam hari) nyamuk betina memiliki dua periode aktivitas menggigit, pertama di pagi hari (diurnal) selama beberapa jam setelah matahari terbit dan sore hari selama beberapa jam sebelum gelap. Aedes aegypti biasanya tidak menggigit di malam hari tetapi akan menggigit saat malam di kamar yang terang. Kebiasaan menggigit Aedes aegypti pada pagi hari hingga sore yaitu pukul 08.00 - 10.00 dan pukul 15.00 -17.00. Lebih banyak menggigit di dalam rumah daripada di luar rumah.

(78)

Aedes aegypti suka beristirahat di tempat yang gelap, lembap dan tersembunyi dalam rumah atau bangunan termasuk kamar tidur, kamar mandi, kamar kecil maupun di dapur (Achmadi, 2008).

3. Jarak Terbang

Penyebaran nyamuk Aedes aegypti betina dewasa dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk ketersediaan tempat bertelur dan darah, tetapi tampaknya terbatas sampai jarak 100 meter dari lokasi kemunculan (WHO, 2004).

4. Lama Hidup

Menurut Achmadi (2011), semakin tua nyamuk semakin penting dalam penyebaran penyakit. Nyamuk harus bertahan selama mungkin agar cukup bagi mikroorganisme yang dikandungnya cukup waktu untuk ditransmisikan. Ketika nyamuk ada kesempatan menggigit manusia atau hewan untuk kedua kali, maka transmisi akan terjadi. Masa inkubasi ini bervariasi tergantung dari iklim, beberapa nyamuk bereproduksi sepanjang tahun. Sebagian besar cenderung menghabiskan masa hidup pada kondisi yang berlawanan pada musim dingin atau selama musim kemarau dalam keadaan tidur atau istirahat.

(79)

semakin membaiknya transportasi menyebabkan penyebaran virus DBD semakin mudah dan semakin luas.

5. Tempat Perkembangbiakan

Menurut Depkes RI (2008), tempat perkembangbiakan utama Aedes aegypti ialah tempat-tempat penampungan air berupa genangan air yang tertampung disuatu tempat atau bejana di dalam atau sekitar rumah atau tempat-tempat umum, biasanya tidak melebihi jarak 500 meter dari rumah. Nyamuk ini biasanya tidak dapat berkembang biak di genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah. Jenis tempat perkembang-biakan nyamuk Aedes aegypti dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a. Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari, seperti: drum, tangki reservoir, tempayan, bak mandi/wc, dan ember.

b. Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari seperti: tempat minum burung, vas bunga, perangkap semut dan barang-barang bekas (ban, kaleng, botol, plastik dan lain-lain).

c. Tempat penampungan air alamiah seperti: lobang pohon, lobang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang dan potongan bambu.

Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina akan meletakan telurnya di dinding tempat perkembangbiakannya, sedikit di atas permukaan air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu ±2 hari setelah telur terendam air.

(80)

Sebagaimana telah diketahui Aedes aegypti merupakan vektor utama penyakit DBD. Untuk mengatasi penyakit DBD sampai saat ini masih belum ada cara yang efektif, karena sampai saat ini masih belum ditemukan obat anti virus Dengue yang efektif maupun vaksin yang dapat melindungi diri terhadap infeksi virus Dengue. Oleh karena itu perlu dipikirkan cara penanggulangan penyakit DBD dengan melalui pengendalian terhadap nyamuk Aedes aegypti.

Tujuan pengendalian vektor utama adalah upaya untuk menurunkan kepadatan populasi nyamuk Aedes aegypti sampai serendah mungkin sehingga kemampuan sebagai vektor menghilang. Menurut Soegijanto (2006), pengendalian vektor dapat dilakukan dengan cara : kimiawi, biologis, radiasi, dan mekanik/pengelolaan lingkungan.

2.4.1 Pengendalian Secara Kimiawi

Gambar

Tabel Hasil pengujian
Gambar 1 : Peta Kecamatan Medan Selayang
Gambar 2. Wadah Pemeliharaan Jentik
Gambar 3. Kurungan Nyamuk
+7

Referensi

Dokumen terkait

aegypti dari daerah Kota Jambi, yaitu dari Kelurahan Simpang III Sipin (daerah endemis DBD) dan Kelurahan Sijenjang (daerah non endemis DBD) terhadap insektisida golongan

Penentuan status resistensi aedes aegypti dari daerah endemis Demam Berdarah Dengue di kota depok terhadap malathion.. Buletin Penelitian

Penelitian ini bertujuan menganalisis status kerentanan Aedes aegypti terhadap insektisida yang sering digunakan program untuk pengendalian vektor DBD yaitu kelompok

aegypti dari daerah Kota Jambi, yaitu dari Kelurahan Simpang III Sipin (daerah endemis DBD) dan Kelurahan Sijenjang (daerah non endemis DBD) terhadap insektisida golongan

Untuk mengetahui salah satu factor risiko peneularan DBD di kedua wilayah tersebut, telah dilakukan penelitian dengan judul Penentuan Bionomik Nyamuk Aedes aegypti

Jumlah Nyamuk Mati is constant when jenis pestisida = Kontrol.. It has

Peta resistensi vektor demam berdarah dengue Aedes aegypti terhadap insektisida kelompok (organofosfat, karbamat, dan pyrethroid) di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa

Penelitian ini bertujuan menganalisis status kerentanan Aedes aegypti terhadap insektisida yang sering digunakan program untuk pengendalian vektor DBD yaitu kelompok