• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV WATAK TOKOH UTAMA DALAM KUMPULAN CERPEN KACAMATA

4.1 Watak Tokoh Utama dalam Kumpulan Cerpen KTB

4.1.3 Status

Cerpen “Status” menceritakan suatu hal yang sangat diinginkan semua orang yakni tentang kesetaraan derajat atau status sosial. Tokoh Aku dalam cerita ini memiliki watak antagonis yakni pasrah akan keadaan yang sedang

dihadapinya. Tokoh Aku telah melepaskan segala sesuatu yang pernah dimilikinya yaitu status sosialnya.

Status sosialku telah kulemparkan ke dalam kolam. Aku bebas dari kungkungan attribut resmi. Ternyata banyak pihak-pihak yang tidak atau kurang setuju.

“Kau rugi,” kata suara pertama.

“Kau berlagak puritas,” sambung suara kedua. “Kau pasti menyesal,” cetus suara ketiga.

“Mungkin, mungkin saja,” teriakku menjawab laungan suara yang tak diundang itu. Diikat dengan ketentuan-ketentuan resmi memang menyakitkan. Hari ini menggunting pita disana, besok pidato resmi disini, lusa menyematkan tanda jasa diantara sini dan sana. Lensa kamera foto, tv dan film ternyata bukan pula sahabat-sahabat yang baik, tetapi lebih merupakan mata yang senantiasa mengintip kita kemana-mana. Tapi kini aku telah meninggalkan semua itu. “Menyenangkan,” kata mereka yang setuju.

“Sangat menggembirakan,” jawabku. (Status:99).

Kutipan di atas menjelaskan bahwa unsur id dalam diri tokoh Aku sangat lemah, id tidak dapat berkembang karena dapat ditahan oleh ego. Tokoh Aku lebih memilih untuk melepas atau melemparkan segala yang telah dia capai. Ego dalam diri tokoh aku sangat besar sekali dimana hasrat-hasrat dasar dalam diri tokoh Aku sudah tercapai. Kemudian tokoh Aku mengikuti kemauan ego dalam dirinya yakni dia rela melepas segala yang dimilikinya. Tokoh Aku merasa gembira dengan semua yang telah dia lakukan karena telah lepas dari semua atribut yang mengikatnya. watak tokoh Aku dalam hal ini dipengaruhi oleh suatu hal dalam dirinya yakni tidak mau terikat dengan pekerjaan yang membuat hidup tokoh Aku tidak bebas.

Unsur super ego tidak berfungsi dengan baik, tokoh Aku sudah menemukan kesempurnaan dalam hidup akan tetapi ego tokoh Aku yang ingin lepas dari atribut resmi membuat super ego tidak berdaya menahan tindakan yang dilakukan oleh ego tersebut.

Aku mulai khawatir, jangan-jangan kuman yang kubuat seekstrim lalat-lalat itu. Bagaimana ganjilnya dalam tubuhku ini tidak ada lagi kuman-kuman walaupun kehadiran mereka mungkin akan lebih banyak bersifat merugikan. Kontemplasi tidak banyak menolong, meditasi juga demikian dan mantera telah kujadikan ratusan puisi yang kuharapkan dapat membantuku kalau kesulitan dalam memberondong. Karena aku telah mempersiapkan diri, apa yang mula hanya muncul dalam imajinasi, ternyata mengambil bentuknya yang kongkret. Status resmi yang kutanggalkan membuatku terpencil dari segala mahluk termasuk mahluk yang paling kecil di dunia ini, kuman.

Nilai suatu yang kumiliki, baru sekarang ini kurasakan kehebatannya. Sudah terlambat untuk merebutnya kembali. (Status :100).

Dalam hal ini tokoh Aku mulai sadar bahwa dia telah salah melepaskan semua yang pernah tokoh Aku miliki. Unsur super ego dalam diri tokoh aku muncul kembali, dikarenakan tokoh aku telah sadar dengan semua yang telah diperbuatnya dan mulai menuntut kesempurnaan seperti yang dimilikinya dulu. Watak yang dimiliki tokoh Aku dalam kutipan tersebut yakni khawatir. Tokoh Aku tidak dapat lagi membuat dirinya seperti dulu, karena egonya telah membuatnya jatuh dan tidak bisa seperti dulu lagi.

“Ternyata kau menyesal,” kata yang tidak setuju.

“Tidak,” teriakku menggema. Kebohongan menjadi harta milikku yang baru dan anehnya aku senang dengan kebohongan itu. Aku menyesal. Memang jelas aku menyesal, tetapi untuk memberikan pengakuan seperti itu aku harus berpikir dulu secara kontemplatif, meditatif, disamping membacakan puisi-puisi mantera. Sampai saat

ini aku masih enggan berkata benar. Memang terlalu sukar untuk berkata benar dan puisi-puisi mantera tidak juga mau memberikan bantuan apa-apa. Mungkin saja karena aku sangat sekuler, sangat duniawi. Mungkin. Mungkin saja. (Statust:101).

Kutipan tersebut menjelaskan bahwa ego dalam diri tokoh Aku sangat mendominasi watak yang dimilikinya. Tokoh Aku sebenarnya menyesal telah melepaskan statusnya. Akan tetapi tokoh Aku berbohong ketika orang-orang menanyakan tentang status yang dilepaskannya itu kepadanya dan mengatakan kalau tokoh Aku tidak menyesal telah melakukan hal itu. Namun, dalam diri tokoh Aku sebaliknya. Tokoh Aku sebenarnya sangat menyesal telah melakukan hal tersebut dan tidak mudah untuk mengembalikan yang telah dimilikinya dulu.

Watak yang dimiliki tokoh Aku dalam kutipan di atas adalah keras kepala dan pembohong. Hal itu dapat dilihat ketika orang bertanya kepadanya. Apakah tokoh Aku menyesal?. Tokoh Aku berbohong kalau dia tidak menyesal telah melepaskannya, namun dalam hati tokoh Aku sebaliknya. Tokoh Aku sangat menyesal dan keras kepala untuk mengakui bahwa tokoh Aku sangat menyesal telah menyia-nyiakan status yang dimilikinya dulu.

Dan dunia semakin aneh, karena semakin banyak atribut baru yang dikukuhkan. Semuanya menjadi resmi semuanya menjadi kaku dan nilai sesuatu yang santai telah dideviluir begitu rupa.

Semua ini tentu tidak akan menjadi masalah kalau aku tidak menanggalkan dan kemudian melemparkan statusku ke dalam kolam. Pengurangan sebuah status toh tidak aka nada artinya kalau yang lain-lain masih bertahan kokoh di tempatnya. Tiba-tiba aku menjadi relihius dan mendekati Tuhan. Tuhan ternyata tumpuan pengaduan. Mata-mata yang mengintip bukanlah mata-mata yang buta dan semua diarahkan padaku.

Kebohongan ini menggema ke mana-mana dan terdengar di segala penjuru dunia. (Status:102).

Kutipan di atas menjelaskan bahwa penyesalan tokoh Aku menanggalkan status sosialnya begitu besar. Baginya pengurangan sebuah status tidak akan berpengaruh bila yang lain masih kokoh di tempatnya. Namun, kehidupan tokoh Aku menjadi berubah, dimana tokoh Aku menjadi pembohong dan tidak mudah untuk berkata yang benar. Tokoh Aku mengalami sederetan masalah yang datang menghampirinya setelah menanggalkan status sosialnya. Ego dalam diri tokoh Aku sangat besar sehingga super ego tidak dapat bekembang yaitu keinginan untuk mencapai kesempurnaan dengan mengembalikan statusnya seperti dulu lagi.

Dokumen terkait