• Tidak ada hasil yang ditemukan

STIGMA POLISI DAN TA- polisi beda paruna, stigma yang diha-

UNTUK MEMBENTUK TARUNA STIK-PTIK DI LEMBAGA AKPOL MENJADI PERWIRA POLISI YANG BERKARAKTER

B. STIGMA POLISI DAN TA- polisi beda paruna, stigma yang diha-

diha-RUNA AKPOL dapi taruna sudah muncul dari awal

Polri dan taruna pada dasarnya semenjak penerimaan, bahwa yang adalah satu kesatuan yang tidak dapat masuk adalah membayar, yang ma-dipisahkan. Sebagai cikal bakal suk adalah anaknya pejabat, dll. perwira polisi, taruna Akpol meru- Adanya stigma ini merupakan

tantangan yang harus dicari jawa- da polisi yang tidak berperikemanu-banya, sehingga dapat memberikan siaan dan menjunjung HAM juga penjelasan kepada pemberi stigma. menjadi bahasan yang asyik untuk Taruna sebagai generasi yang akan dibicarakan, mulai dari pencurian menjawab stigma ini harus disiapkan pisang, pencurian kakao, pencurian dari awal salah satunya adalah mela- sandal jepit, dan pencurian semangka lui kualitas yang menjadi kompe- menjadi paradoks tugas polisi yang tensinya. Sebab untuk menjawab seharusnya menjadi pelindung, pe-stigma ini bukan dari kepandaian ngayom, pelayan masyarakat dan pe-dalam mengolah kata-kata sebagai negak hukum, berubah menjadi bentuk balasan pertanyaan, tetapi petugas yang tidak menjunjung ting-dengan perbuatan anggota Polri yang gi keadilan. Inilah yang kemudian dilandasi dengan profesionalisme di melahirkan stigma bahwa karakter bidangnya dan proporsional dalam polisi sudah tidak ada lagi. Mengapa dalam kapasitasnya. Satu lagi Polisi ini bisa terjadi? Mengapa keber-sebagai Penjaga Kehidupan, Pem- hasilan polisi yang sudah sekian

bangun Peradaban, dan Pejuang banyak tidak termemory, tetapi

kesa-Kemanusiaan diperlukan sebuah lahan sedikit menjadi terus terung-karakter, sehingga di yakini publik kit. Kemudian karakter bagaimana bahwa Polisi ke depan sudah berubah yang sesuai dengan polisi? Perta-dan dapat mengikuti kebutuhan ma- nyaan ini harus dijawab sekaligus syarakat sebagaimana tugas dan untuk menghapus stigma negatif bagi fungsinya sebagai, pelindung, penga- polisi.

yom dan pelayan masyarakat,

peme-lihara keamanan dan penegak hu- 1. Kompetensi

kum. Kompetensi berasal dari kata

competence (kecakapan) merupakan C. KOMPETENSI DAN KA- kemampuan dalam menjalankan

RAKTER (PERWIRA) PO- tugas, menyelesaikan pekerjaan atau

LISI menangani persoalan. Banyak

pe-Akhir-akhir ini banyak sekali ngertian tentang kompetensi, menu-orang mengatakan, bahwa saat ini rut Frinch dan Crunkhilton (1979 : bangsa Indonesia sudah kehilangan 222) kompetensi adalah penguasaan karakter, carut marut masalah politik, terhadap suatu tugas, ketrampilan, ekonomi, sosial, hingga sampai pada sikap dan apresiasi yang diperlukan masalah hukum, seolah tak tersele- untuk menunjang tugas. Kompetensi saikan dengan tuntas. Cemoohan pa- setiap orang berbeda bisa berasal

karena pendidkan yang di peroleh ilmu yang disebut interdisipliner (an-secara formal, pengalaman dan pe- tar bidang), yang memiliki epistemo-kerjaan yang dilakukan dalam waktu logi, ontologi dan aksiologi sendiri, yang cukup lama. Jika demikian ma- dalam arti tidak menginduk pada ka kompetensi dapat di latihkan di ilmu-ilmu pendukungnya.

pelajari dan dibiasakan. setiap indi- Akademi Kepolisian (Akpol) vidu memiliki kemampuan / kompe- sebagai lembaga pembentuk perwira tensi yang berbeda, kompetensi dapat polisi yang profesional dan akade-di bangun dan akade-dikembangkan pada misi berkewajiban untuk memberi-setiap orang, hal ini tergantung kapa- kan landasan/dasar pendidikan dan sitas dan motivasi setiap individu pengembangan ilmu kepolisian. sesuai dengan kondisi dan pekerjaan Penyesuaian ini tentunya memerlu-yang dijalani. kan langkah yang signifikan dengan

Perubahan status AKPOL men- berbagai metode sehingga diperoleh jadi STK AKPOl merupakan bentuk hasil yang tepat. Salah satu metode dari upaya peningkatan kompetensi yang dapat digunakan untuk pening-lulusan Akpol yang bukan hanya ahli katan kompetensi ini adalah dengan dalm bidang vokasi tetapi juga se- inquiry.

orang ahli dalam ilmu kepolisian,

melalui lembaga/organisasi yang 2. Karakter

merupakan tempat dilaksanakannya Kata karakter berasal dari pembentukan seorang polisi. Konse- bahasa Inggris character artinya pe-kuensi dari perubahan status ini ten- rilaku, padanan kata lainnya adalah tunya harus diikuti dengan pening- attitude. Dalam penggunakaan

baha-katan di berbagai aspek dengan mela- sa sehari-hari layaknya kata-kata kukan rasionalisasi. Kita ketahui ber- yang lain seperti konspirasi, sindikat sama bahwa basic dari pelaksanaan dsb, di Indonesia dikonotasikan ber-kegiatan kepolisian dalam melak- beda dengan kata aslinya. Karakter sanakan tugas fungsi dan peran ada- dikonotasikan sebagai perilaku yang lah ilmu kepolisian (lihat Ilmu baik, sementara tabiat, dikonotasikan

Kepolisian Parsudi Suparlan). Ber- dengan arti yang cenderung negatif, awal dari ilmu kepolisian ini, kemu- demikian juga dengan penggunaan dian kemampuan di kembangkan kata sindikat dan konspirasi. Ari melalui berbagi bidang ilmu lainnya Sudewo (2011) memaknai bahwa yang relevan dan berhubungan de- karakter merupakan attitude kum-ngan ilmu kepolisian, sebab Ilmu ke- pulan tingkah laku yang baik, polisian merupakan salah satu jenis sedangkan tabiat adalah attitude

yang tidak baik. dan menyiapkan perwira polisi yang Dalam pembentukan kualitas profesional, bermoral dan modern. manusia peran karakter tidak dapat Melihat perkembangan yang terjadi, dipisahkan, karena karakter inilah sebagai lembaga pendidikan dituntut yang menempatkan baik tidaknya se- untuk selalu mampu melakukan pe-seorang. Karakter dapat di bedakan mutahiran program pendidikan. Sis-atas dua kategori. Yaitu karakter po- tim pendidikan dari waktu ke waktu kok dan karakter pilihan. Karakter senantiasa disesuaikan dengan per-pokok dibedakan atas tiga bagian kembangan tugas yang dihadapi penting yaitu karakter dasar (disip- berdasarkan evaluasi dan prediksi lin, jujur, tidak egois); karakter ung- melalui analis. Melakukan inovasi-gul (ihlas, sabar, bersyukur, bertang- inovasi, bahkan jika perlu melakukan gung jawab, mau berkorban, mau perubahan terhadap sistim pendidik-memperbaiki diri, dan sungguh); kar- an dan pembelajaran dalam lembaga-akter pemimpin (adil, arif, bijak- nya. Sistim evaluasi pembelajaran sana, komunikatif, solutif dan inspi- kepada taruna saat ini sudah bukan ratif) sedangkan karakter pilihan jamannya lagi hanya mengandalkan merupakan perilaku yang berkem- pada paradigma rasionalistik yang bang sesuai dengan profesi peker- hanya mengukur keberhasilan taruna jaan. (Ari Sudewo, 2011:15) setiap berdasarkan nilai dan rangking sema-profesi memiliki karakter yang ber- ta, tetapi perlu dipertimbangkan lagi beda, demikian juga polisi mem- kemampuan dan kecakapan emosi-punyai karakter yang berbeda de- onal dan spiritualnya. Hal ini meru-ngan, dokter, pengusaha dan seba- pakan langkah antisipasi agar ke gainya. Namun demikian yang perlu depan tidak hanya menghasilkan per-menjadi perhatian adalah, apapun wira polisi yang profesional dan ahli profesi dan pekerjaannya tiap orang saja, akan tetapi juga berkarakter. harus memiliki karakter. Sehingga tercapai perwira polisi

yang kompeten dan berkarakter.

3. Doktrin Polri Bicara tentang polisi,

sebenar-Pembentukan karakter atau nya bukan hanya ditentukan oleh ke-membangun kembali karakter yang terampilan dan keahliannya saja. Jika mulai rubuh perlu dilakukan dari polisi hanya dipacu pada keteram-awal dan dimulai dari ”sekarang”! pilan dan kecerdasannya saja tanpa Akademi Kepolisian adalah sebagai mengindahkan karakter maka yang salah satu pengelola sumber daya terlahir adalah polisi-polisi yang manusia yang bertugas membentuk hanya berbuat dan menjalankan

tu-gasnya tanpa memiliki nurani dan kum; memelihara perasaan tentram mengindahkan hak-hak orang lain, dan damai.

padahal tugas polisi pada dasarnya Jika kita lihat antara karakter adalah memecahkan masalah-masa- dan doktrin polisi sebenarnya terda-lah sosial dan pencegahannya agar ti- pat kesesuaian antara sifat pendu-dak timbul kejahatan. kung pembentuk karakter dengan

Karakter polisi (Polri) sebe- karakter (yang seharusnya dimiliki) narnya telah didoktrinkan dan telah polisi. Permasalahan yang timbul ditanamkan dari awal pada setiap adalah bahwa karakter tersebut mulai anggota polisi, akan tetapi hingga pudar karena perkembangan dan per-saat ini karena pengaruh dari berba- ubahan sosial yang terjadi. Perubah-gai macam situasi dan perkembangan an sosial yang terjadi akan memberi doktrin tersebut tinggal hafalan. pengaruh terhadap karakter polisi, Karakter polisi yang diharapkan ada suatu teori yang mengatakan adalah sebagaimana terdapat dalam bahwa polisi adalah produk dari ma-Tri Brata dan Catur Prasetya. ma-Tri syarakatnya, jika masyarakatnya

ru-Barata : kami Polisi Indonesia: satu, sak polisinya juga rusak, jika masya-berbakti kepada nusa dan bangsa rakatnya baik maka polisinya akan dengan penuh ketaqwaan terhadap baik (Raharjo, 2002: 99).

Tuhan Yang Maha Esa. Dua, men- Berbeda teori, berbeda pula junjung tinggi kebenaran, keadilan tuntutan, masyarakat atau stake hol-dan kemanusiaan dalam menegakkan der polisi tidak lagi berpikir tentang

hukum Negara Kesatuan Republik apakah polisi harus mengikuti teori Indonesia yang berdasarkan Pancasi- tersebut atau tidak, bukanlah urusan la dan Undang-Undang Dasar 1945. masyarakat, meskipun teori itu me-Tiga: senantiasa melindungi, menga- ngandung kebenaran. Jika masya-yomi dan melayani masyarakat rakat tidak memberi kesempatan, dengan keihlasan untuk mewujudkan tidak mengajak, tidak memberi keamanan dan ketertiban. Catur peluang dan bahkan tidak memberi

Prasetya, sebagai insan bhayangkara contoh atau mendahului (lihat Rahar-kehormatan saya adalah berkorban jo 2002) maka polisi juga tidak. Hal demi masyarakat, bangsa dan negara ini berarti bahwa masyarakat juga untuk: satu, meniadakan segala ben- mulai melupakan tugas yang sama tuk gangguan keamanan; dua: menja- dalam menjaga ketertiban, dan yang ga keselamatan jiwa raga, harta ben- telah timbul adalah tuntutan, dan hal da, dan hak azasi manusia; tiga: ini kembali menjadi sebuah paradoks menjamin kepastian berdasarkan hu- terhadap wewenang polisi.

“kepo-lisian untuk selamanya harus meme- dijadikan referensi dalam memben-lihara hubungan baik dengan masya- tuk dan membangun karakter taruna rakat yang telah membentuk realitas polisi yang dinaungi Individualized sejarah bahwa: polisi adalah masya- Consideration the lead Policy.

rakat dan masyarakat adalah polisi.” Dapat kita lihat terlebih dahulu Sir Robert Pell (Kelling & Catherin, apa yang menarik dari konsep ini. Ap-1994 : vi, sad : Kunarto). preciative Inquiry menurut Whitney

&Trosten-Bloom, 2003:1 adalah D. APPRECIATIVE INQUIRY sebuah eksplorasi mengenai sesuatu Akademi Kepolisian adalah yang dapat memberikan ruh pada lembaga pendidikan yang berbasis system kehidupan kita karena ia pada ilmu kepolisian dalam membe- mampu memberikan yang terbaik pa-rikan kemampuan dan profesio- da komunitas kita. Pengertian appre-nalisme polisi dalam menjalankan ciative Inquiry dapat di lihat dari dua

tugas. Ilmu kepolisian menurut Par- kata dengan arti sebagai berikut. Ap-sudi Suparlan (1999) adalah ilmu preciative: memberi apresiasi

terha-antar bidang yang mempelajari dap nilai positif, menemukan hal ter-masalah-masalah sosial, isu-isu pen- baik dalamdiri manusia dan ling-ting mengenai pengelolaan keteratur- kungan di sekeliling kita; menonjol-an sosial dmenonjol-an masyarakat, mempela- kan atau menggarisbawahi semua jari upaya-upaya penegakan hukum potensi, kekuatan dan keberhasilan dan keadilan, mempelajari teknik pada saat ini maupun masa lalu. penyelidikan dan penyidikan tindak Inquiry: merupakan kegiatan untuk

kejahatan serta pencegahannya. mengeksplorasi dan menemukan; Dalam operasionalnya sebagai ilmu kegiatan bertanya; membuka dan antar bidang yang mempelajari ma- member kesempatan untuk melihat salah masalah sosial, konsep appre- potensi dan

kemungkinan-kemung-ciative Inquiry dapat diadopsi untuk kinan baru.

dirasionalisasikan ke dalam ilmu ke- Selama ini sudah menjadi hal polisian, seperti dalam mengatasi yang lazim bahwa dalam mengeva-permasalahan yang dihadapi Polisi, luasi hasil kegiatan ataupun produk harus dimulai sejak awal yaitu ketika selalu mencantumkan faktor yang mulai mendidik seorang calon polisi, mempengaruhi dengan menyebutkan dan ini berarti termasuk di dalamnya “masalah yang dihadapi”. Jika sudah adalah bagian dari permasalahan demikian untuk tidak terulang kem-polisi khususnya bidang pendidikan. bali maka kebanyakan langkah yang Mengapa appreciative Inquiry dapat harus dilakukan adalah “upaya

me-ngatasi permasalahan.” Hal ini sa- kendala-kendala dan masalah yang ngat berbeda dengan konsep appre- dihadapi dalam berbagai bidang.

ciative Inquiry. Bahkan dalam 10 komponen

pen-Terdapat beberapa perban- didikan yang harus dipenuhi, masih dingan antara appreciative Inquiry didapati kekurangan-kekurangan dan penyelesaian masalah, dan ini yang apabila tidak disiasati dengan dapat dijadikan bahan kajian bagi benar dapat menjadi penghambat Akademi Kepolisian sebagai lemba- terlaksananya proses kegiatan penga-ga transformer ilmu kepolisian dalam jaran, pelatihan dan pengasuhan mendidik para taruna untuk mem- taruna.

bentuk perwira polisi. Sebagai lem- Perbandingan antara penye-baga pendidikan yang bertanggung lesaian masalah dengan appreciative jawab membentuk perwira polisi Inquiry dapat dilihat sebagai berikut :

yang profesional tidak terlepas dari

Penyelesaian Masalah Appreciative Inquiry

- Mencari masalah - Menghargai kekuatan

- Analisa penyebab masalah - Melihat apa yang bisa dikem-bangkan

- Mendiskusikan apa yang perlu dilakukan.

- Fokus pada masa lalu - Fokus pada masa Depan

- Melihat masalah sebagai hal yang - Melihat masalah sebagai misteri harus di selesaikan yang mesti dirangkul.

Melihat dua konsep dalam berkualitas. Selama mengikuti masa perbandingan di atas, merupakan hal pendidikan taruna tentunya menga-positif yang apabila dipadukan lami masa penyesuaian dari masya-tentunya akan dapat membangun rakat yang bebas menjadi peserta suatu konsep baru untuk memajukan didik yang harus dengan ketat meng-Akademi kepolisian dalam memben- ikuti segala macam peraturan, hal ini tuk para taruna sebagai perwira polisi dapat menjadi masalah tersendiri di masa yang akan datang. Setiap bagi taruna secara personil yang tidak taruna telah melewati proses seleksi biasa dengan kondisi yang serba yang cukup ketat, dengan kondisi dibatasi. Untuk itu perlu metode yang demikian itu pada dasarnya para tersendiri untuk menjadikan taruna taruna berasal dari bahan baku yang menjadi terbiasa dan bahkan

mung-kin dapat menikmati kehidupan da- tu. Hal ini disebabkan bahwa tidak lam situasi serba di batasi. Melalui setiap orang, tempat dan waktu me-inquiry para taruna akan lebih dapat miliki karakter dan kondisi yang lagi ditingkatkan kemampuannya sama. sebagaimana dikemukakan o-untuk dididik dan dibentuk menjadi leh Dahniel 2008: tidak ada satu gaya perwira polisi yang handal. kepemimpinan yang tepat dan cocok Ada beberapa hal yang dapat di- untuk semua organisasi dan untuk se-jadikan alasan mengapa appreciative mua situasi.

Inquiry dapat di masukkan dalam In- Di antara sekian banyak model

dividualized Consideration the lead gaya kepemimpinan, terdapat salah

Policy. Melakukan Inquiry berarti satu model gaya kepemimpinan yang

bertanya & menggali, tentang (1) po- cukup relevan dioprasionalkan untuk tensi dan kekuatan, (2) kompetensi, melakukan pengembangan atau (3) nilaikehidupandantradisi, (4) cer- memperbaiki organisasi melalui pen-ita kebijakan local, (5) momen spe- dekatan yang lebih humanis, model

cial, (6) pemikiran, (7) peluang & tersebut adalah individuallized kesempatan, (8) pencapaian, dan (9) consideration yaitu gaya

kepemim-visi masa depan yang didambakan. pinan yang mampu memanusiakan Sementara itu dalam inquiry berpen- manusia lainnya, mau dan mampu dapat bahwa fokus: root of success, mengangkat harkat dan martabat bukan pada faktor penyebab manusia. Memperlakukan bawahan-kegagalan. nya sebagai pribadi yang utuh dan

menghargai sikap peduli dan