• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ....................................................... KAJIAN PUSTAKA

2. Stilistika

Stilistika (stylistic) dapat diterjemahkan sebagai ilmu tentang gaya. Secara

etimologis stylistic berhubungan dengan kata style yang berarti gaya. Aminuddin

(1997: 13) mengemukakan style dapat diartikan sebagai bentuk pengungkapan

ekspresi kebahasaan sesuai dengan kedalaman emosi dan sesuatu yang ingin direfleksikan pengarang secara tidak langsung. Menurut Keraf (2000: 112) istilah style yang berasal dari kata Latin stilus, yaitu semacam alat tulis yang berkembang maknanya menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah.

Dengan demikian stilistika adalah ilmu pemanfaatan gaya bahasa dalam karya sastra, penggunaan gaya bahasa secara khusus dalam karya sastra, gaya bahasa yang muncul ketika pengarang mengungkapkan idenya. Gaya bahasa ini merupakan efek seni dan dipengaruhi oleh hati nurani. Melalui gaya bahasa itu seorang penyair mengungkapkan idenya. Pengungkapan ide yang diciptakan melalui keindahan dengan gaya bahasa pengarangnya (Endraswara, 2011: 72-73).

Atmazaki (1990: 93) mengemukakan stilistika sebagai ilmu mengenai penggunaan bahasa dalam karya sastra yang berpusat kepada pemakaian bahasa. Obyek kajiannya adalah karya sastra, karya yang sudah ada. Jadi kajian terhadap suatu karya sastra dari sudut pandang stilistika tidak menyangkut bagaimana proses penciptaan karya sastra tersebut.

Chvatik (dalam Aminuddin, 1997: 21) mengemukakan bahwa stilistik sebagai studi bahasa dalam teks sastra merujuk pada bentuk penggunaan bahasa sebagai kode estetik, sebagai hasil kreasi seni yang memiliki ciri semantis dan isi tertentu.

commit to user

Style is the aesthetic quality of the highest semantic and content synthesis of a work which is realized in the aesthetic object throught the receptive activity of the receiver. Whithout an understanding of the style of a work its specific artistic semantic system, its over all artistic meaning, cannot be adequately interpreted.

Melalui ide dan pemikirannya pengarang membentuk konsep gagasannya untuk menghasilkan karya sastra. Namun yang menjadi perhatian adalah kompleksitas dari kekayaan unsur pembentuk karya sastra yang dijadikan sasaran kajian adalah wujud penggunaan sistem tandanya.

Secara sederhana menurut Sudiman dikutip Nurhayati (2008: 8) “Stilistika

adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya

sastra”. Konsep utamanya adalah penggunaan bahasa dan gaya bahasa.

Bagaimana seorang pengarang mengungkapkan karyanya dengan dasar dan pemikirannya sendiri.

Dalam hal ini untuk memahami konsep stilistik secara seksama Nurhayati (2008: 7) mengemukakan pada dasarnya stilistika memiliki dua pemahaman dan jalan pemikiran yang berbeda. Pemikiran tersebut menekankan pada aspek gramatikal dengan memberikan contoh-contoh analisis linguistik terhadap karya sastra yang diamati. Selain itu pula stilistika mempunyai pertalian juga dengan aspek-aspek sastra yang menjadi objek penelitiannya adalah wacana sastra.

Stilistika secara definitif adalah ilmu yang berkaitan dengan gaya dan gaya bahasa. Tetapi pada umumnya lebih banyak mengacu pada gaya bahasa. Dalam pengertiannya secara luas stilistika merupakan ilmu tentang gaya, meliputi berbagai cara yang dilakukan dalam kegiatan manusia (Ratna, 2009: 167).

Menurut Situmorang (1980: 11) analisis stilistis berusaha memahami dan menjelaskan lapis arti dengan kemungkinan gaya yang ditimbulkannya. Ketatabahasaan memegang peranan penting dalam menimbulkan gaya.

Karya sastra pada analisis stilistika memiliki kaitan erat dengan bahasa yang menjadi medium utamanya. Ratna (2009: 330) menyatakan bahwa analisis yang baik adalah kajian yang memelihara keseimbangan antara prinsip linguistik dan sastra kebudayaan atau yang mendasar pada pencapaian aspek estetis.

Dalam kajian stilistika hendaknya sampai pada dua hal yaitu makna dan fungsi. Makna dicari melalui penafsiran yang dikaitkan melalui totalitas karya,

commit to user

sedangkan fungsi terbesit dari peranan stilistika dalam membangun karya (Endraswara, 2011: 76).

Bradford (1997: 35) mengemukakan bahwa kritik baru dari stilistika tidak hanya berkaitan dengan identifikasi fitur linguistik yang membuat puisi berbeda dengan wacana lain, tapi dengan puisi sebagai bentuk signifikasi yang misterius yang mengubah hubungan akrab antara bahasa dan makna.

New Critical stylistics is concerned not only with the identification of linguistic feature that make poetry different from other discourses, but with poetry as a form of signification which mysteriously transforms the familiar relationship between language and meaning.

Studi stilistika hanya terfokus pada aspek gaya, bahwa aspek gaya secara esensial berkaitan dengan wujud pemaparan karya sastra sebagai bentuk penyampaian gagasan pengarangnya. Penggunaan stilistika sebagai metode analisis sastra adalah untuk menghindari kritik sastra yang bersifat impresionistis dan subjektif (Aminuddin, 1997: 42).

Sejalan dengan pernyataan di atas dalam kajian stilistik dipengaruhi oleh karya sastra dan bentuk pendekatan yang digunakan. Nurhayati (2008: 13-20) mengemukakan lima pendekatan yang dapat digunakan yaitu, sebagai berikut:

 Pendekatan Halliday

Dalam pendekatan ini Halliday mengilustrasikan bagaimana kategori-kategori dan metode-metode linguistik deskriptif dapat diaplikasikan ke dalam analisis teks-teks sastra seperti dalam materi analisis teks yang lainnya. Melalui hal ini analisis bukan hanya kepada interprestasi atau evaluasi estetika terhadap pesan-pesan sastra yang dianalisisnya tetapi hanya kepada deskripsi unsur-unsur bahasa. Dalam kajiannya ia tidak mengungkapkan bagaimana bentuk-bentuk verbal tersebut disusun sehingga berhubungan dengan bentuk-bentuk lainnya pada hubungan intratekstual.

commit to user

 Pendekatan Sinclair

Pendekatan ini searah dengan teori pendekatan Halliday. Ia menerapkan kategori-kategori deskripsi linguistik Halliday. Sinclair mengemukakan terdapat dua aspek yang berperan penting dalam pengungkapan pola-pola intratekstual karya sastra.

 Pendekatan Goeffrey Leech

Leech mengemukakan bahwa karya sastra mengandung dimensi-dimensi makna tambahan yang beroperasi pula di dalam wacana lainnya. Leech mengungkapkan tiga gejala ekspresi sastra, yaitu cohesion, foregrounding,

dan cohesion of foregrounding. Ketiga gejala ekspresi ini menghadirkan

dimensi-dimensi makna yang berbeda yang tidak tercakup oleh deskripsi

linguistik dengan kategori-kategori normalnya. Cohesion merupakan

hubungan interatekstual antara unsur gramatikal dengan unsur leksikal yang jalin-menjalin dalam sebuah teks sehingga menjadi sebuah unit wacana yang lengkap. Foregrounding merupakan gejala khas yang hanya terdapat dalam karya sastra. Sedangkan cohesion of foregrounding adalah penyimpangan-penyimpangan dalam teks yang dihubungkan dengan bentuk lain untuk membentuk pola-pola intratekstual.

 Pendekatan Roman Jakobson

Pendekatan ini menggolongkan fungsi puitik bahasa sebagai sebuah penggunaan bahasa yang berpusat kepada bentuk aktual dari pesan itu sendiri. Tulisan sastra tidak seperti bentuk-bentuk lainnya. Dalam tulisan sastra ditemukan pesan yang berpusat pada pesan itu sendiri.

 Pendekatan Samuel R. Levin

Pendekatan Levin dalam analisis stilistika serupa dengan pendekatan Halliday dan Sinclair yang berpusat pada analisis butir-butir linguistik. Levin juga mengembangkan gagasan kesejajaran yang juga dikemukakan oleh Jakobson. Dalam hal ini kesejajaran tersebut berlaku pada level fonologi, sintaksis, dan semantik yang untuk menghasilkan ciri-ciri struktural.

commit to user

Sementara itu menurut Wellek dan Warren (dalam Sutejo, 2010: 7) paling tidak ada dua pendekatan yang dapat dipergunakan dalam mendekati dan menganalisis stilistika. Pertama, diawali dengan analisis sistematis tentang sistem linguistik karya sastra, dilanjutkan dengan interpretasi tentang ciri-cirinya dilihat

dari tujuan estetis karya tersebut sebagai “makna total”. b. Bidang Kajian Stilistika

Kajian stilistika dalam karya sastra terfokus pada bentuk dan tanda linguistik yang terdapat pada sebuah karya sastra. Menurut Aminuddin (1997: 44) karya sastra sebagai kajian stilistik antara lain terwujud sebagai tulisan, yang dapat berupa kata-kata, tanda baca, gambar, serta bentuk tanda lain yang dapat dianalogikan sebagai kata-kata.

Sudjiman (dalam Asis, 2010: 103) mengemukakan bahwa pusat perhatian stilistika adalah style, yaitu cara yang digunakan seseorang pembicara atau penulis untuk menyatakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai sarana. Selanjutnya Junus (dalam Asis, 2010: 103) berpendapat bahwa gaya sebagai penyimpangan dianggap sebagai pemakaian bahasa yang berbeda dari bahasa biasa. Hal ini dapat dipahami sebagai pemakaian bahasa yang lain atau sebagai pemakaian bahasa yang menyalahi tata bahasa. Dalam hal ini, penyimpangan

dapat dihubungkan dengan konsep licentia poeitica „kebebasan penyair‟ yang

dipahami sebagai kebebasan penyair atau penulis untuk melanggar hukum atau tata bahasa. Jadi cara penyair dalam menyatakan maksud dan gaya bahasa merupakan hal yang harus diperhatikan dalam kajian stilistika.

Keraf (2000: 112) berpendapat bahwa persoalan gaya bahasa meliputi semua hierarki kebahasaan: pilihan kata secara individual, frasa, klausa dan kalimat, bahkan mencakup pula sebuah wacana secara keseluruhan.

Unsur-unsur stilistika sebagai tanda dapat berupa gaya bunyi (fonem), gaya kata (diksi), gaya kalimat (sintaksis), gaya wacana (discourse), bahasa figuratif (figurative language) dan citraan (imagery).

commit to user

1) Gaya Bunyi (fonem)

Fonem merupakan unsur bahasa terkecil dalam satuan bahasa yang terbagi menjadi dua, yaitu vokal (bunyi hidup) dan konsonan (bunyi mati). Masing-masing fonem dapat menimbulkan atau membedakan arti tertentu. Misalnya

“suka” dan “duka”, memiliki makna atau arti yang berbeda karena adanya fonem

/s/ dan /d/. Fonem memegang peranan penting dalam penciptaan efek estetik pada sebuah karya sastra khususnya pada genre puisi.

Pemanfaatan gaya bunyi pada sebuah karya sastra berhubungan erat dengan irama dan rima. Timbulnya irama dalam sebuah puisi karena adanya asonansi dan aliterasi yang menimbulkan orkestrasi bunyi yang menciptakan nada dan suasana tertentu.

Asonansi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama, dipergunakan untuk memperoleh efek penekanan atau sekedar keindahan. Misalnya: sepisau luka sepisau duri, sepikul dosa sepukau sepi. Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud pengulangan konsonan yang sama. Misalnya: sepisau luka sepisau duri, sepikul dosa sepukau sepi (Keraf, 2000: 130).

Masing-masing fonem dapat menciptakan suasana yang berbeda. Misalnya saja fonem /a/ menciptakan nada dan suasana gembira sedangkan fonem /u/ menciptakan nada dan suasana sendu. Dalam sebuah puisi, orkestrasi bunyi dapat menimbulkan apa yang disebut dengan efoni dan kakafoni. Efoni adalah bunyi-bunyi yang merdu dan menyenangkan yang menciptakan musikalisasi bunyi-bunyi yang indah. Sedangkan kakafoni adalah bunyi-bunyi parau, aneh, berat, kasar, terkadang tidak menyenangkan dan tidak menimbulkan musikalisasi bunyi. Walaupun demikian kakafoni tetap dibutuhkan untuk mencapai efek makna tertentu.

Gaya bunyi sebagai unsur kajian stilistika adalah pemanfaatan bunyi-bunyi tertentu sehingga menimbulkan orkestrasi bunyi yang indah. Menurut Aminuddin (1997: 147) penggunaan bunyi dalam karya sastra, khususnya puisi meliputi asonansi, mesodiplosis, konsonansi, aliterasi, rima, rima vokal dan bunyi

commit to user

suprasegmental. Dalam penelitian ini gaya bunyi meliputi rima (termasuk rima vokal), irama, asonansi, aliterasi, efoni dan kakafoni.

2) Gaya Kata (diksi)

Diksi secara sederhana dapat dinyatakan sebagai pilihan kata yang digunakan oleh penyair dalam puisinya. Puisi adalah bentuk karya tulis yang tidak memakai banyak kata-kata, cendurung tidak deskriptif dan naratif, sehingga pemilihan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan maksud dan nuansa tulisan haruslah dicermati dengan seksama. Termasuk di dalamnya menghindari pengulangan kata yang sama terlampau sering, pemilihan sinonim yang mewakili, sampai ke penggunaan tanda baca dan susunan bahasa. Misalnya mengungkapkan rasa kesepian, kata mana yang akan digunakan; sunyi, diam, nelangsa, sendiri, sedih, sepi, senyap atau hening. Meski berkonotasi sama, tiap kata yang terpilih akan memberi warna yang berbeda apabila disandingkan dengan kata-kata lainnya dalam keseluruhan puisi.

Selanjutnya Keraf (2000: 24) mengemukakan bahwa diksi atau pilihan kata mencakup tiga hal, yakni: (1) pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik dalam suatu situasi; (2) kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar; (3) penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu.

Berdasarkan pendapat di atas, makna diksi ternyata tidak hanya mencakup pilihan kata akan tetapi juga meliputi kemampuan penggunaan kata secara tepat, pengelompokkkan dan penyusunan kata serta penggunaan ungkapan dan gaya bahasa untuk menimbulkan efek estetis dalam karya sastra.

Kata-kata yang digunakan dalam puisi umumnya sama saja dengan kata-kata yang digunakan untuk komunikasi sehari-hari. Hal yang membedakan

commit to user

penggunaan kata dalam puisi adalah penempatannya serta penggunaannya dilakukan secara hati-hati dan teliti serta lebih tepat.

Menurut Nurgiyantoro (1995: 290) gaya kata harus dibedakan apakah kata tersebut kompleks atau sederhana, formal atau kolokial, denotasi atau konotasi. Sebuah kata termasuk dalam kelompok gaya kata kompleks apabila dalam melakukan pilihan kata mempertimbangkan bentuk dan makna, sehingga kata yang digunakan mampu mengkomunikasikan makna, pesan serta gagasan yang akan disampaikan. Selain itu pilihan kata yang digunakan tentu saja harus mampu mendukung tercapainya tujuan estetis yang diinginkan oleh pengarang. Sedangkan yang dimaksud dengan pilihan kata sederhana jika diksi yang digunakan hanya untuk mencapai keindahan tanpa mempertimbangkan kata serta bentuknya.

Diksi formal adalah diksi yang mempertimbangkan aspek fonologis, misalnya untuk kepentingan aliterasi, irama, dan efek bunyi tertentu. Diksi dikatakan kolokial jika diksi yang digunakan mampu mewakili gagasan yang akan disampaikan.

Makna kata denotatif dan konotatif merupakan aspek yang sangat penting yang tidak boleh diabaikan dalam penelitian ini. Makna denotatif atau biasa disebut makna lugas yaitu makna yang sesuai dengan kamus adalah makna kata yang sebenarnya. Suatu kata dikatakan memiliki makna denotatif apabila kata tersebut tidak mengandung makna atau perasaan-perasaan tambahan. Sedangkan konotasi atau makna konotatif merupakan makna kias. Sebuah kata mengandung makna konotatif apabila kata tersebut mengandung arti tambahan, perasaan tertentu atau nilai rasa tertentu disamping makna dasar yang umum. Oleh karena itu, pilihan kata atau diksi dalam karya sastra lebih banyak bertalian dengan pilihan kata yang bersifat konotatif.

Kata sebagai unsur esensial dalam sebuah karya sastra mendapatkan perhatian khusus dari para sastrawan karena tersampainya pesan atau gagasan yang ingin disampaikan dipengaruhi oleh kata dan susunannya. Oleh karena itu, dalam proses penciptaan karyanya para sastrawan sangat berhati-hati dalam memilih kata dan menyusunnya. Sastrawan memilih kata dengan tepat agar kata yang dipilih bisa dengan tepat mengkomunikasikan pemikiran dan gagasannya.

commit to user

Apalagi dalam proses penciptaan terjadi pemadatan kata, sehingga kata-kata yang digunakan dalam puisi harus benar-benar dipilih secara cermat.

Chaer (2007: 68) mengemukakan permasalahan yang termasuk dalam lingkup kajian mengenai diksi secara umum adalah: (a) kesamaan makna kata (sinonimi); (b) kebalikan makna kata (antonimi); (c) ketercakupan makna (hiponimi, hipernimi); (d) keberlainan makna (polisemi, homonimi).

Menurut Keraf (2000: 25) kata sebagai satuan dari perbendaharaan kata sebuah bahasa mengandung dua aspek, yaitu aspek bentuk atau ekspresi dan aspek

isi makna. Bentuk atau ekspresi adalah segi yang dapat diserap dengan

pancaindera, yaitu dengan mendengar atau dengan melihat. Sebaliknya segi isi atau makna adalah segi yang menimbulkan reaksi dalam pikiran pendengar atau pembaca karena rangsangan aspek bentuk tadi. Reaksi yang timbul itu dapat

berwujud “pengertian” atau “tindakan” atau kedua-duanya.

Makna kata dapat dibatasi sebagai hubungan antara bentuk dengan hal atau barang yang diwakilinya. Dalam hal ini kata dalam kaitannya sebagai media

komunikasi mengandung beberapa unsur yaitu: pengertian, perasaan, nada dan

tujuan.

Wellek (dalam Pradopo, 1987: 60) mengemukakan bahwa bahasa sastra itu

penuh arti ganda, penuh homonim, kategori-kategori “arbitraire”, atau irrasional,

menyerap peristiwa-peristiwa sejarah, ingatan-ingatan, dan asosiasi-asosiasi. Pendeknya bahasa sastra itu sangat konotatif. Selanjutnya menurut Pradopo (1987: 59) kumpulam asosiasi-asosiasi perasaan yang terkumpul dalam sebuah

kata diperoleh dari setting yang dilukiskan itu disebut konotasi. Konotasi

menyempurnakan denotasi dengan menunjukkan sikap-sikap dan nilai-nilai. Senada dengan pendapat Pradopo, Tarigan (1984: 29) juga menyatakan bahwa konotasi atau nilai kata inilah yang justru lebih banyak memberi efek bagi para penikmatnya. Sementara itu, Kridalaksana (1988: 91) mengemukakan bahwa kata konotatif adalah kata yang memiliki makna tambahan yang terlepas dari makna harfiahnya yang didasarkan pada perasaan atau pikiran yang timbul pada pengarang atau pembaca.

commit to user

Makna konotatif merupakan makna kata yang terlepas dari makna sebenarnya. Makna ini umumnya berbeda dengan makna kata dalam komunikasi pada umumnya. Perbedaan ini didasarkan pada perasaan, pikiran, maupun persepsi pengarang terhadap apa yang dibahasakan.

Kata konkret (concrete words) merupakan kata yang dapat melukiskan dengan tepat pikiran atau gagasan yang akan disampaikan oleh pengarang. Penggunaan kata konkret bertujuan untuk mempermudah pembaca dan penikmat karya sastra dalam memahami sebuah karya sastra. Menurut Situmorang (1980: 26) tidak ada kata lain yang setepat dan sekonkrit kata-kata tersebut dalam melukiskan hal tersebut.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gaya kata (diksi) yang harus diperhatikan dalam kajian stilistika adalah kata yang digunakan dalam puisi sederhana atau kompleks, formal dan kolokial, makna denotasi dan konotasi kata-kata konkret, sinonimi, antonimi, hiponimi dan hipernimi, polisemi dan homonimi.

3) Gaya Kalimat (sintaksis)

Kalimat merupakan wujud verbal karya sastra yang menentukan gaya pengarang, yakni cara pengarang menyusun kalimat-kalimat dalam karyanya. Dalam dunia sastra, pengarang mempunyai kebebasan penuh dalam mempergunakan dan mengkreasikan bahasa (licentia poetica) untuk mencapai efek yang diinginkan, sehingga adanya penyimpangan kebahasaan, termasuk penyimpangan struktur kalimat merupakan hal yang wajar.

Gaya kalimat menurut Pradopo (2003: 11) ialah penggunaan suatu kalimat untuk memperoleh efek tertentu, misalnya inverse, gaya kalimat tanya, perintah dan elips; karakteristik, panjang pendek, struktur dan proporsi sederhana-majemuknya termasuk gaya kalimat. Demikian pula sarana retorika yang berupa kalimat hiperbola, paradoks, klimaks, antiklimaks, antitesis dan koreksio.

Selanjutnya sarana retorika untuk tiap periode kesusastraan Indonesia berbeda-beda. Sarana retorika yang dominan dalam puisi-puisi Pujangga Baru

commit to user

adalah tautologi, pleonasme, keseimbangan, retorik retisense, paralelisme, dan penjumlahan (enumerasi) (Pradopo, 1987: 94).

Dalam analisis gaya kalimat perlu diperhatikan struktur kalimat yang membentuk kalimat tersebut, sederhana atau kompleks, hubungan antar klausanya jika merupakan struktur kompleks, bentuk sintaksisnya, deklaratif, interogatif, imperatif, atau ekslamatif. Sebuah kalimat dikatakan kompleks jika dalam satu kalimat terdiri dari dua klausa atau lebih (Nurgiyantoro, 2005: 294).

Penggunaan kalimat dalam karya sastra mempunyai tujuan yang sedikit berbeda dengan penggunaan kalimat dalam karya ilmiah. Kalimat dalam karya sastra disusun dengan pertimbangan tertentu dari pengarang untuk mencapai efek yang diinginkan. Dalam hal ini penyiasatan struktur kata menjadi hal yang diperbolehkan guna mencapai tujuan tersebut. Wujud penyiasatan tersebut bisa berupa pembalikan, pemendekan, pengulangan, penghilangan unsur tertentu dan sebagainya. Penggunaan konjungsi di awal kalimat mungkin dilakukan untuk memperoleh efisiensi dan menekankan unsur tertentu. Menurut Nurgiyantoro (2005: 302) ada bermacam-macam gaya bahasa yang terlahir dari penyiasatan struktur kalimat misalnya gaya repetisi, paralelisme, anafora, polisindeton, asindeton, antitesis, aliterasi, klimaks, antiklimaks, dan pertanyaan retoris. Selanjutnya Keraf (2000: 124-136) menyebutkan gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat dan retorika antara lain: klimaks, antiklimaks, paralelisme, antitesis, repetisi, aliterasi, asonansi, anastrof, apofasis, apostrof, asindeton, polisindeton, kiasmus, elipsis, eufemisme, litotes, histeron, prosteron, pleonasme dan tautologi, perifrasis, prolepsis, erotesis, silepsis dan zeugma, koreksio, hiperbola, paradoks dan oksimoron.

a) Klimaks

Gaya bahasa klimaks adalah semacam gaya bahasa yang urutan penyampaiannya menunjukkan semakin meningkatnya kadar pentingnya gagasan itu (Nurgiyantoro, 2005: 303). Sejalan dengan pengertian tersebut Sutejo (2010: 29) mengemukakan bahwa klimaks termasuk jenis gaya bahasa penegasan dan menyatakan beberapa hal berturut-turut, makin lama makin memuncak intensitasnya. Contoh: Sejak kecil, dewasa, sampai tua lelaki itu terus sengsara.

commit to user

b) Antiklimaks

Bertolak belakang dengan gaya bahasa klimaks, gaya bahasa antiklimaks adalah gaya bahasa yang gagasan-gagasannya diuraikan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting (Keraf, 2000: 125). Antiklimaks membuat sebuah kalimat atau wacana menjadi kurang efektif.

Contoh: Bahasa Indonesia diajarkan kepada mahasiswa, siswa SLTA, SLTP, dan SD.

c) Paralelisme

Paralelisme adalah gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama (Keraf, 2000: 126). Penggunaan gaya bahasa paralelisme tepat digunakan untuk menonjolkan kata atau kelompok kata yang sama fungsinya. Akan tetapi penggunaan yang terlalu banyak akan menyebabkan kalimat-kalimat tersebut menjadi kaku.

Contoh: Ningrat atau jelata tetap sama di mata hukum.

d) Antitesis

Menurut Sutejo (2010: 28) antitesis termasuk dalam gaya bahasa pertentangan. Antitesis merupakan jenis gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata secara berlawanan. Sejalan dengan pendapat tersebut Keraf (2000: 126) mengemukakan bahwa antitesis adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan.

Contoh: Tua muda, besar kecil, miskin kaya menghadiri pengajian akbar di alun-alun Pacitan.

e) Repetisi

Keraf (2000: 127) mengemukakan bahwa repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Repetisi lahir dari kalimat yang berimbang.

commit to user

Sutejo (2010: 31) juga berpendapat bahwa repetisi adalah gaya bahasa penegasan dengan jalan mengulang sepatah kata berkali-kali dalam kalimat yang lain, biasanya dipergunakan oleh ahli retorika (orator).

Contoh: Kita hidup butuh cinta, butuh kasih sayang, butuh sesama.

f) Aliterasi

Nurgiyantoro (2005: 303) berpendapat bahwa bentuk aliterasi adalah penggunaan kata-kata yang sengaja dipilih karena memiliki kesamaan

Dokumen terkait