• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stop Press: Publikasi ICW (Indonesian Christian Webwatch)

Dalam dokumen publikasi e-binasiswa (Halaman 62-66)

Apakah Anda pernah mengalami kebingungan mencari situs Kristen yang sesuai kebutuhan Anda? Anda perlu referensi situs-situs Kristen maupun umum yang dapat dipercaya?

GRATIS! Publikasi ICW (Indonesian Christian Webwatch) yang diterbitkan oleh

Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org >. Publikasi ICW menyajikan berbagai

informasi dan ulasan lengkap tentang situs-situs Kristen maupun umum, situs blog, jejaring sosial, forum diskusi online, dan artikel-artikel menarik seputar dunia teknologi. Publikasi ICW dapat menjadi tempat pertama yang dapat Anda tuju untuk mencari referensi situs-situs yang dapat dipercaya dan bermutu sesuai kebutuhan Anda. Pastikan Anda sudah berlangganan Publikasi ICW! Kirimkan email Anda ke < subscribe-i-kan-icw(at)hub.xc.org > atau ke < icw(at)sabda.org >.

63

e-BinaSiswa 016/5/2013: Remaja dan

Pendidikan (2)

Editorial

Shalom,

Sebagai seorang pendamping remaja, memang sudah tugas kita untuk mengajarkan firman Tuhan kepada mereka. Tujuan kita tentunya adalah agar mereka terus

bertumbuh dan hidup seturut dengan firman Tuhan. Namun, yang kita lakukan

seharusnyalah bukan sebatas menanamkan firman Tuhan kepada remaja saja, namun juga menolong mereka mengerti tentang Amanat Agung, dan memiliki kerinduan untuk mengajarkan kebenaran firman Tuhan kepada teman-teman mereka dan kepada anak- anak mereka kelak. Kisah hidup Kyai Pendhita Den Bei Samidjo Wirdjotenojo di bawah ini dapat menginspirasi remaja untuk belajar firman Tuhan dengan baik agar nantinya mereka dapat mengajarkannya kepada orang lain. Simak juga bahan mengajar bertema "Diajar untuk Mengajar" yang akan menolong Anda dalam menyampaikan pesan firman Tuhan kepada para remaja Anda. Selamat menyimak, Tuhan Yesus memberkati. Staf Redaksi e-BinaSiswa,

Yusak

64

Tokoh: Kyai Pendhita Den Bei Samidjo Wirdjotenojo

Pdt. Samidjo Wirdjotenojo dilahirkan di Desa Palihan, menjalani masa kecil di Desa Temon, dan selanjutnya di desa Tlepok ia mulai mengajar sebagai guru Zendingschool selama lima tahun, dan sepuluh tahun sebagai Pendeta Jemaat. Ia dilahirkan pada tanggal 12 Mei 1888 dari pasangan suami istri Wirdjodikromo, namun ia tumbuh

sebagai anak yatim piatu karena orang tuanya meninggal ketika ia masih kanak-kanak. Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyatnya, Samidjo melanjutkan sekolahnya di Eerste Afdelieling Keucheniusschool, satu-satunya sekolah bagi calon guru Sekolah Rakyat dan perawat rumah sakit. Melihat bakat-bakat yang ada padanya, para Misionaris dari Predikanten Zending van de Gereformeerde Kerken in Nederland ([ZGKN] Pendeta Misi Gereja Reformed di Belanda) menetapkannya sebagai guru bantu di sekolah Zending di kawasan Banyumas. Pernikahannya dengan Bidan Mariana Moeso Djojosentono

dikaruniai sebelas orang putra dan putri.

Mengawali tugasnya sebagai guru Injil di Purworejo pada tahun 1922, setahun

kemudian, tepatnya 13 Februari 1923, ia dialihtugaskan ke Desa Tlepok sebagai guru sekolah, sekaligus guru Injil di sana. Secara periodik, Guru Wirdjo mengundang masyarakat untuk datang ke rumahnya dan ia selalu menyampaikan kabar Injil

keselamatan kepada para tamunya. Pekabaran Injil juga dilakukan dengan melakukan perjalanan dari rumah ke rumah. Tutur kata yang halus, "adem", tetapi penuh

keteguhan tentang Tuhan yang welas asih membuat banyak warga di Tlepok dibawa ke jalan yang benar, meninggalkan cara hidup yang menyimpang, dan rela menempatkan diri sebagai murid yang mau belajar tentang hidup yang benar dalam kesucian dan ketenangan. Sebagai gambaran buah-buah pekerjaan Guru Wirdjo (dibantu Guru Sojo Kertotenojo), pada tanggal 18 Oktober 1952, di Tlepok diadakanlah baptisan sebelas orang dewasa ditambah tiga anak-anak oleh Ds. L. Netelenbos, pendeta utusan Zending GKN untuk wilayah Purworejo.

Kebaktian Minggu yang dilayani Guru Wirdjo di Tlepok dengan cepat meningkat dihadiri oleh sekitar 75 pengunjung. Oleh karena itu, "pepanthan" kecil ini segera bangkit untuk membangun rumah ibadah secara gotong royong. Rumah ibadah ini terwujud pada tahun 1924 dan diresmikan pada 10 Maret 1925, dua tahun sejak kehadiran Guru Wirdjo. Satu tahun kemudian, tepatnya 24 Oktober 1926, pepanthan Tlepok

mengadakan pemilihan Majelis Gereja, dan pada tanggal 19 Desember 1926 ditetapkan sebagai gereja dewasa kelima di wilayah Purworejo, sesudah Purworejo, Temon,

Kesingi, dan Palihan. Setelah menyelesaikan pendidikan tambahan di Theologische Opleidingschool Yogyakarta, pada tanggal 10 Mei 1928, ia menghadapi ujian

peremptoir, dan dinyatakan layak memangku jabatan sebagai Pendeta Jemaat. Beliau ditahbiskan oleh Ds. L. Netelenbos sebagai pendeta jemaat Gereja Tlepok pada 28 Mei 1928, bertepatan dengan Hari Pentakosta II, dengan kewenangan melayani orang Kristen Jawa maupun orang Kristen Belanda. Sampai dengan 31 Juni 1933, Gereja Tlepok memiliki warga gereja dewasa dan anak-anak sebanyak 97 jiwa, terdiri dari 30 warga laki-laki, 31 warga perempuan, serta 36 anak-anak.

65

Sebagai pendeta pertama di lingkungan Klasis Purworejo, sejak terbentuknya Sinode tahun 1931, Pdt. Wirdjotenojo senantiasa terpilih menjadi utusan Klasis Purworejo untuk menghadiri persidangan dan sering ditunjuk menjadi wakil Sinode, salah satunya

menjadi wakil Zending Lampung.

Setelah cukup lama melayani di Gereja Tlepok, pada tanggal 21 September 1938, majelis Gereja Tlepok dengan dilandasi keluhuran sikap menyelenggarakan perpisahan dan pemberian surat lulusan kepada Pendeta Wirdjotenojo dan keluarga untuk menyatu dengan gereja baru yang dilayaninya, Gereja Kutoarjo.

Sebagai satu-satunya Pendeta Senior di kawasan Purworejo, ketika tentara

pendudukan Jepang masuk dan menduduki nusantara, pada bulan Maret 1942, Pdt. Wirdjo ditunjuk oleh Sinode GKDTS untuk bersama-sama Pdt. R. Saptojo

Joedokoesoemo dari Majelis Agung GKDW, melakukan kunjungan ke Gereja Margorejo yang menjadi bagian dari Patoenggilanipoen Pasamoewan Kristen Tata Indjil ing

Wengkon Kaboepaten Koedoes, Pati, lan Djepara (hasil pekabaran Injil Zending Doopsgezinde Belanda (Gereja Injili di Tanah Jawa). Pdt. Wirdjotenojo juga pernah mengalami masa-masa sulit selama di penjara pada zaman pendudukan Jepang. Oleh karena tuduhan sebagai mata-mata pemerintah Belanda tidak terbukti, akhirnya ia dibebaskan dan kembali menggembalakan pasamuwan Kutoarjo.

Di awal-awal kemerdekaan tahun 1945-1946, ketika Sekolah Calon Pendhita

Yogyakarta direncanakan untuk dibuka kembali bersama Pdt. Josaphat Darmohatmodjo yang kini melayani Gereja Gondokusuman, Pdt. Samidjo Wirdjotenojo ditetapkan oleh Sinode Geredja-Geredja Kristen Djawa Tengah Selatan (GKDTS) menjadi 'tempat' para calon murid mempersiapkan diri.

Setelah melayani gereja Tuhan selama dua puluh tahun, pada bulan Juli 1948 Pdt. Wirdjotenojo memasuki masa emeritus, dan untuk seterusnya tugas pelayanannya di Kutoarjo digantikan oleh Pdt. Joram, menantunya. Pdt. Wirdjo memutuskan kembali ke Tlepok dan menjalani masa emeritusnya di sana. Walaupun sudah emeritus, Pdt. Wirdjotenojo tetap diminta sumbang sarannya dalam pelayanan gereja sampai beliau dipanggil Tuhan pada 20 November 1967, menyusul istrinya yaitu Ibu Mariana

Wirdjotejo yang telah lebih dahulu dipanggil Tuhan pada 16 Maret 1963. Diambil dan disunting dari:

Nama situs : Sinode Gereja-Gereja Kristen Jawa

Alamat URL : http://www.gkj.or.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=100

Penulis artikel : Tidak dicantumkan Tanggal akses: 13 Mei 2013

66

Bahan Mengajar: Diajar untuk Mengajar

Dalam dokumen publikasi e-binasiswa (Halaman 62-66)