• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Kepala Desa Mempengaruhi Masyarakat Untuk

BAB III HASIL PENELITIAN

B. Analisis Kekuasaan

2. Strategi Kepala Desa Mempengaruhi Masyarakat Untuk

a. Pembahasan

Menurut pendapat bapak Ciptadi saat diwawancarai adalah untuk menjadi seorang kepala desa merupakan suatu tantangan karena di era saat ini. Karena, untuk berdemokrasi saat ini biaya politik yang dibutuhkan sangatlah mahal. Untuk itu pendekatan yang dilakukan dengan masyarakat bukan pendekatan dengan uang karena ia merasa secara ekonomis keluarganya tergolong ekonomi yang tidak mampu. Karena sadar dengan hal itu, maka pendekatan yang dilakukan yaitu dengan pendekatan sosial. Beliau meyakinkan pada masyarakat bahwa ia mampu untuk membawa desa Ngeposari ini menjadi desa yang lebih maju.

72

Kemudian tidak semudah itu masyarakat menerima sosialisasi darinya, tetapi beliau tidak pantang menyerah dan tetap terus dilakukan. Karena untuk biaya-biaya politik kalau misalnya ada money politic dan sebagainya ia tidak bisa apa-apa. Karena yang terpenting masyarakat desa di Desa Ngeposari ini betul-betul masih mempunyai jiwa demokasi yang tinggi. Artinya tanpa membeli suara, mereka ternyata percaya apa yang telah disampaikan kepada masyarakat bahwa bapak Ciptadi mampu untuk memimpin Ngeposari ini ke arah yang lebih baik. Motivasi bapak ciptadi ingin menjadi kepala desa yaitu dia merasa mempunyai andil dalam membangun desanya sendiri. Selain itu, beliau mempunyai keinginan untuk memajukan desanya karena beliau tidak mau desanya tertinggal dari desa-desa yang lain.

Dari hasil wawancara bersama bapak ciptadi menjelaskan :

“Karena saya terjun langsung kemasyarakat saya mengenalkan diri secara langsung supaya masyarakat mengenal saya mengenal program-program, visi dan misi disampaikan seperti apa saja dan Ngeposari kedepannya harus seperti apa. Ini terus saya lakukan langsung ke masyarakat yang paling bawah jadi mereka tau mereka percaya saya mampu dan akhirnnya ketika pilkades tanpa uang saya ternyata diberikan kepercayaan oleh masyarakat.”

Bapak ini juga turun langsung ke masyarakat jadi perintahnya disampaikan kepada warga masyarakat bahwa mengurus surat ke desa itu gratis. Kalau masyarakat ditarik biaya silahkan melaporkan akan tindak tegas perangkatnya dan itu ternyata bisa berjalan dengan baik aparatnya

73

menerima dan masyarakat juga menerima dan masyarakat juga merespon dengan baik.

Kondisi masyarakat saat itu ternyata setelah beliau memimpin menjadi kepala desa sekarang dibuktikan dengan apa yang sudah dijanjikan. Bahwa akan dibawanya pemerintah desa Ngeposari ini menjadi pemerintah yang bersih dan berwibawa. Contohnya sebelum presiden jokowi membuat saberpungli (Sapu Bersih Pungutan Liar) beliau sudah duluan karena setelah dilantik pada tanggal 17 desember 2015 awal januari sudah melakukan gebrakan kepada aparatnya yang melaksanakan pungutan-pungutan tanpa payung hukum itu sudah dilarang untuk memungut pungutan-pungutan yang tidak ada payung hukumnya.

Inilah demokrasi yang semestinya bisa dituru oleh para elit-elit politik Jakarta karena sebenarnya untuk menduduki posisi jabatan sekecil apapun itu tanpa harus dengan biaya yang mahal bisa, yang terpenting dalam hal ini adalah masyarakat itu percaya setelah terpilih tidak mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan oleh masyarakat. Maka ini sebenarnya hal yang demikian bisa dikembangkan ternyata tergantung bagaimana figure itu bisa dipercaya apa tidak.

Diakuinya dalam wawancara terkait proses pencalonan Kepala desa apakah ada masyarakat yang meminta bantuan berupa barang dengan janji dukungannya dan bagaimana respon yag diberikan ketika hal itu terjadi :

74

“Ada yang meminta seperti itu tetapi saya kembali meyakinkan kalau anda atau saudara mendukung saya karena saya memberikan imbalan itu adalah demokrasi yang tidak baik. Silahkan jika anda memiliki keinginan seperti itu tapi maaf untuk saya tidak mampu memberikan apa yang saudara minta kalau memang itu menjadi tolak ukur menjadi target saudara memberikan suara kepada yang memberikan saja itu silahkan saya jawab seperti itu saya yakinkan seperti itu. Ini demokrasi jika kalian ingin akan menggunakan hak suara anda dengan calon memberi sesuatu itu silahkan . Tapi maaf saya tidak bisa karena memang saya tidak memiliki modal untuk ini itu bantuan ini itu pada saudara.”

Hal seperti itu tidak banyak terjadi karena masyarakat di Desa Ngeposari itu paham betul dengan kondisi perekonomiannya. Jadi masyarakat memilih mungkin karena dari pandangan masyarakat salah satu dari dua calon ini adalah Bapak Ciptadi yang bisa di percaya. Maka dari dia memanfaatkan peluang adalah modal kepercayaan. Sedangkan lawan bapak ciptadi ini bukan orang yang berdomisili asli di Desa Ngeposari tetapi duluan yang berdomisili lawannya karena bapak Ciptadi ini walaupun beliau lahir di desa Ngeposari tetapi dia besar di Jogja. Pada saat di wawancarai beliau berkata :

“Sejak lulus SMP saya sudah merantau dan kembali ke desa tahun 1999 tepatnya bulan september sedangkan lawannya walaupun asli Cilacap tetapi sudah tinggal di desa Ngeposari sejak tahun 1994”.

Ketika diperkenankan memasang poster ataupun baliho Bapak Ciptadi kalah jauh sekitar 50:1. Tetapi ketika telah dilakukan perhitungan suara dari 19 TPS yang ada, Bapak Ciptadi menang di 90% TPS.

Setelah beliau menjabat menjadi kepala desa cara beliau mengatur mempengaruhi mengajak masyarakat dalam wawancara:

75

“Saya sampaikan kepada masyarakat bahwa kalau kita ini sudah diberikan kepercayaan kepada masyarakaat kuncinya adalah saya harus menjaga kepercayaan itu baik tingkah laku, maupun dalam cara saya memimpin pemerintahan desa ini harus bersih dan berwibawa dengan itu karena masyarakat itu menaruh kepercayaan yang tinggi apapun yang saya sampaikan kepada masyarakat baik itu tentang pembangunan, sosial kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat merespon dengan positif. Dan saya selalu mengajak masyarakat mari kita membangun Desa Ngeposari ini secara partisipatif jika hanya seorang kepala desa tidak didukung oleh lembaga, tokoh masyarakat dan masyarakat maka saya tidak mungkin untuk mewujudkan visi dan misi saya. Saya selalu meyakinkan masyarakat bahwa saya mampu mengemban amanat yang sudah diberikan”.

Modal sosial adalah yang paling kuat karena jika mengandalkan modal ekonomi hanya habis sekitar 13 juta itu sudah untuk biaya operasional sampai dengan pelantikan. Telah disampaikan kepada perangkat desa secara keseluruhan untuk tetap berdisiplin bekerja dengan disiplin kemudian disampaikan kepada warga masyarakat bahwa untuk mengantisipasi kecurigaan masyarakat bahwa kita harus benar-benar bersih itu bukan dalam slogan tetapi dilaksanakan didalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Bapak Ciptadi menekankan kepada perangkat desa secara keseluruhan bahwa era sekarang perangkat desa itu harus melayani masyarakat bukan untuk dilayani. Jadi kita melayani masyarakat kami punya motto bagaimana kami melayani masyarakat motto kami adalah sebagai berikut :

“Melayani dengan hati, sepenuh hati, dengaan hati-hati dan

tidak sesuka hati”

Maksudnya dengan hati-hati itu karena jangan sampai pelayanan yang kita berikan kepada masyarakat itu menabrak aturan yang telah

76

dibuat maka dari itu kita harus melayani dengan hati-hati sekali supaya tetap sesuai jalur dan aturannya jangan sampai melaksanakan pelayanan maksudnya untuk melayani masyarakat dengan baik tapi manakala menabrak aturan maka itulah yang jangan sampai terjadi maka dari itu harus dengan penuh kehati-hatian.

Sebagai penutup bab ini penulis akan mencantumkan kronologis penelitian dalam tabel observasi berikut ini :

Tabel 3.21 Observasi Penelitian

No Hari/ Tanggal Kegiatan KET 1. Senin, 31 Oktober 2016 Mengantar surat ke kantor

Desa Ngeposari

2. Selasa, 1 November 2016 Melakukan penyebaran kuesioner

Melakukan wawancara ke responden

4. Rabu, 2 November 2016 Melakukan wawancara dengan kepala desa Bapak Ciptadi

Melakukan wawancara dengan Kepala Bagian Pemerintahan

77

5. Selasa, 8 November 2016 Meminta data-data yang diperlukan terkait penelitian.

6. Rabu, 9 November 2016 Kembali untuk mengambil data hasil Rekapitulasi suara

Sumber: Hasil Penelitian Tahun 2016

b. Implikasi Hasil

1. Pemilihan kepala desa bertujuan untuk memilih calon kepala desa yang bersaing dalam pemilihan kepala desa untuk dapat memimpin desa. Menurut hasil keputusan panitia pemilihan kepala desa di Desa Ngeposari Kecamatan Semanu Kabupaten Gunung Kidul ada dua pasangan calon yang akan maju sebagai kepala desa di Desa Ngeposari, calon tersebut adalah :

1. Ciptadi 2. Aziz Istiyanto

Kedua calon tersebut berkompetisi untuk merebut hati nurani masyarakat Desa Ngeposari agar diberikan kepercayaan untuk memimpin Desa Ngeposari 2015-2021. Maka pada hari Sabtu tanggal 24 Oktober 2015 telah dilaksanakan Rekapitulasi Perhitungan Suara Pemilihan Kepala Desa. Hal ini dilakukan untuk menentukan siapa kepala desa yang akan memimpin Desa Ngeposari 6 tahun kedepan.

78

Modal politik yang paling kuat digunakan oleh Ciptadi adalah modal sosial. Karena Ciptadi merasa dengan biaya politik yang terbatas beliau tidak merasa terhambat dan pantang menyerah karena financial yang dimiliki. Sedangkan di dalam melakukan manajemen kampanye politik untuk mengorganisir massa, financial sangat dibutuhkan dilapangan. Modal sosial yang dimiliki menjadi kekuataan Ciptadi untuk memenangkan pemilihan kepala desa. Karena ia merasa ternyata calon itu harus betul-betul dikenal masyarakat dan msyarakat harus mengetahui program-program, visi dan misi disampaikan seperti apa saja. Calon itu harus membuka baju supaya masyarakat mengetahui persis siapa nanti calon yang akan dipilih. Dan akhirnya ketika penentuan hasil rekpitulasi suara Bapak Ciptadi ini diberikan kepercayaan oleh masyarakat untuk memimpin desa Ngeposari.

2. Kita telah mengetahui bahwa di era sekarang ini untuk merebutkan jabatan baik dimulai dari yang terendah maupun yang tertinggi itu memerlukan biaya politiknya sangatlah mahal. Karena jika kita hanya mengandalkan modal ekonomi untuk mengukur tingkat kepecayaan masyarakat itu sangatlah sulit. Maka dari itu kita harus memperkuat modal sosial agar masyarakat mengetahui siapa calon yang akan mereka pilih nantinya. Contohnya didalam pemilihan kepala desa di Desa Ngeposari ini bapak Ciptadi yang merupakan salah satu calon terpilih itu mengandalkan modal sosial sebagai kekuatannya dalam berpolitik. Karena dia menyadari jika hanya mengandalkan financial

79

yang dimilikinya tidaklah mungkin. Maka seharusnya demokrasi seperti inilah yang harus ditiru oleh para elit-elit politik di kalangan manapun. Dapat di buktikan oleh bapak Ciptadi untuk menduduki posisi jabatan sekecil apapun tanpa harus dengan biaya yang mahal itu bisa, yang terpenting dalam hal ini adalah masyarakat itu percaya kemudian ketika sudah terpilih tidak akan menghiatanati kepercayaan yang sudah diberikan oleh masyarakat.

80

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sebagai penutup penulis sampaikan kesimpulan sebagai berikut : 1. Modal politik yang paling penting baik sebelum pemilihan maupun

sudah menjadi kepala desa termasuk di desa Ngeposari tahun 2015 adalah adanya keabsahan, adanya kemampuan untuk merubah, adanya keahlian pemerintahan, adanya kemampuan memberikan Reward dan Punishment. Kemudian diperlukan juga kekuatan untuk merubah ketika bawahan dan masyarakat bersalah (Nahi Munkar) dan kemampuan melayani (Amar Ma’ruf).

2. Selama ini kemampuan kepala desa hanya karena memiliki naluri kepemimpinan dalam strateginya membawa desa dan oleh sebab itu di masa yang akan datang diperlukan peningkatan keilmuan melalui berbagai kursus yang dilakukan oleh pihak kecamatan dan kabupaten. B. Saran

Akhirnya penulis ingin memberikan saran tindak antara lain sebagai berikut :

1. Hendaknya para kepala desa di seluruh wilayah Tanah Air Negara Kesatuan Republik Indonesia termasuk dalam hal ini Desa Ngeposari yang menjadi wilayah penelitian penulis. Hendaknya menjadi ujung tombak pemerintahan karena merupakan wilayah tingkat terendah pemerintahan tetapi menjadi potensi awal bangsa dan negara. Kepala

81

desa harus diberikan ilmu pemerintahan, administrasi negara, politik dan hukum tata negara sehingga mereka tidak hanya bekerja dengan nalurinya.

2. Dalam kepemimpinan kepala desa mereka tidak hanya berbicara benar dan salah logika pemerintahan, begitu juga baik dan buruk etika pemerintahan tetapi juga harus berbicara tentang indah dan jelek seni pemerintahan sehingga lahir estetika pemerintahan dalam pendekatan pada masyarakat. Inilah yang dimaksud dengan kepatutan serta kepantasan seorang pemimpin dengan warganya.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Firmanzah. 2007. Marketing Politik Antara Pemahaman dan Realitas. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Tanjung, Bahdin Nur & Ardial. 2005. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah : (Proposal, Skripsi, dan Tesis) dan Mempersiapkan Diri Menjadi Penulis Artikel Ilmiah. Jakarta: Kencana.

Saebani. 2008. Metode Penelitian. Bandung: CV. Pustaka Setia. Hermawanti, Mefi. 2002. Penguatan dan Pengembangan Modal Sosial

Masyarakat Adat: Laporan Need Assesment Pemberdayaan Masyarakat Adat di Nusa Tenggara timur. Yogyakarta: IRE.

Narbuko, Cholid & Achmadi, Abu. 2015. Metodologi Penelitian: memberikan bekal teoretis pada mahasiswa tentang metodologi penelitian serta diharapkan dapat melaksanakan penelitian dengan langkah-langkah yang benar. Jakarta: Bumi Aksara.

Sayafiie, Inu Kencana. 2013. Ilmu Pemerintahan. Bandung: Mandar Maju Suwignjo. 1986. Administrasi Pembangunan Desa dan Sumber-sumber

Pendapatan Desa. Jakarta Timur: Ghalia Indonesia.

Wijaya, H.A.M. 2008. Otonomi Desa. Jakarta: PT. Grafindo Persada

Subakti, Ramlan. 2005. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Kencana Prenada.

Ndraha, Taliziduhu. 2001. Dimensi-Dimensi Pemerintahan Desa. Jakarta: Bina Aksara

Sugiyono. 2015. Metode penelitian pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta CV

Data Monografi Desa Ngeposari Kecamatan Semanu Tahun : 2016 Semester :I, Disusun Oleh :Desa Ngeposari Kecamatan Semanu

B. Skripsi, Tesis, Disertasi dan eJurnal

Yovaldri Riki Putra. 2012. Optimalisasi Modal Politik Pasangan Ismet Amzis-Harma Zaldi Pada Pemilihan Umum Kepala Daerah Kota Bukit Tinggi Tahun 2010. Padang: Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Andalas Padang.

Stella Maria Ignasia Pantouw. 2012. Modalitas Dalam Kontestasi Politik (Studi tentang Modalitas dalam Kemenangan Pasangan Hanny Sondakh dan Maximiliaan Lomban pada Pemilukada di Kota

Bitung Sulawesi Utara tahun 2010). Semarang: Program

Pascasarjana, Universitas Diponegoro Semarang.

Rezky Brilianto. 2016. Strategi Pasangan Dr. Yunni Satia Rahayu dan Danang Wicaksono dalam Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Sleman Tahun 2015. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Kurnia Rifqi Febrian. 2016. Peran Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dalam Mewujudkan Program Bela Beli Kulon Progo. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Muhammad Ramadhan Iqbal. 2016. Akuntabilitas Keuangan Desa(Studi kasus Alokasi Dana Desa (ADD) di Desa baru Kecamatan Manggar Kabupaten Belitung Timur Tahun 2014. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

C. Produk Hukum

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa.

Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa D. Jurnal

Janwandri. 2013. PROSES PEMILIHAN KEPALA DESA Di Desa Tanjung Nanga Kecamatan Malinau Selatan Kabupaten Malinau.

eJournal IlmuPemerintahan, (Online), Volume 1, Nomor 1.

(ejournal.ip.fisip-unmul.org., di akses 10 Oktober 2016)

Irawan, Dedi. 2015. Politik Uang ( Money Politics) dalam pemilu legislatif tahun 2014 (studikasus di kelurahan Sempaja Selatan). eJournal

Dokumen terkait