BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Penyajian Data dan Analisis Data
4.4.1 Strategi Komunikasi Pada Dinas Koperasi Dan Usaha Mikro, Kecil
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan pada masing-masing informan peneliti ingin mengetahui bagaimana strategi komunikasi dari pihak Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya dalam sosialisasi serta pencapaian hasil dari program penataan PKL, dan berikut ini hasil wawancara peneliti dengan informan.
Pada informan 1, 2, dan 3 memberi penjelasan bahwa awal terjadinya penataan PKL yaitu sejak berlakunya Perda no 17 tahun 2003 tentang penataan dan pemberdayaan PKL. Informan 2 dan 3 menambahi bahwa penataan ini terjadi saat adanya krisis global tahun 1997 dimana banyak sekali PHK yang terjadi di Indonesia sehingga banyak yang beralih profesi sebagai pedagang sektor informal atau pedagang kaki lima (PKL).
“...Setiap tahun kita ada agenda kegiatan dengan cara mengadakan bimbingan teknis, rapat koordinasi dan penyuluhan serta peristiwa insedentil pada saat momen 17 agustus, ulang tahun Surabaya dan saat bulan puasa..”
Dalam memberikan Sosialisasi terhadap penataan PKL informan 2 selaku dari pihak Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya melakukan sosialisasi rutin pada tiap tahunnya, akan tetapi pada informan 1 menyatakan bahwa pihak Dinas bekerja sama dengan ormas media Jawa Pos, LSM, Perguruan tinggi, tokoh-tokoh PKL nya dan dinas terkait. Rutin setiap Jum’at mengadakan diskusi di Jawa Pos. Disini terlihat bahwa terdapat media partner yang membantu menyebarkan informasi kepada masyarakat khususnya PKL dalam penataan ini, hal ini sesuai dengan teori Laswell sebagai pengantar teori strategi komunikasi sendiri.
“...Sosialisasi, kerjasama dengan camat lurah masing-masing sentra dan wilayah untuk sosialisasi karena prinsip kita adalah relokasi, sehingga setiap pembangunan sentra itu dikaitkan dengan lokasi setempat jadi tanggung jawabnya ke wilayah...”
Pelaksanaan sosialisasi yang di kemukakan oleh informan 1 melibatkan orang-orang penting yang mempunyai kedekatan tersendiri oleh pihak komunikan agar informasi yang akan mereka sampaikan dapat diterima dan pihak PKL pun mampu melaksanakan penataan PKL dengan menempati sentra PKL sehingga terjadilah feedback dalam proses komunikasi ini sendiri. Seperti ditunjukan pada model, jelas bahwa setiap orang dalam proses komunikasi adalah segaligus sebagai encoder dan decoder. Secara konstan menyandi-balik tanda-tanda dari lingkungan kita, menafsirkan tanda-tanda tersebut dan menyandi sesuatu sebagai hasilnya. Umpan balik (feedback) yang memainkan peran sangat penting dalam komunikasi, karena hal itu memberi tahu kita bagaimana pesan kita ditafsirkan.
“...Pembinaan disini baik pembinaan tentang tempat usaha, manajemen, produksinya maksudnya gimana cara menyajikan serta bagaimana cara mengelola keuangan karena kelompok PKL ini mempunyai latar belakang pendidikan yang beragam dan untuk ngomong PKL dan talent, karena meskipun dia berpendidikan tinggi belum tentu mereka bisa menyajikan sesuatu yang menarik, disitu ada dalam bintek yang kita selenggarakan. Kita juga sering menghadirkan narasumber dari sekolah perhotelan kita libatkan sebagai pembicara.untuk tahun 2014 akan diperuntukkan lagi perihal sertifikasi kesehatan agar masyarakat tidak perlu ragu bahwa makanan PKL itu higenis, bersih dan contohnya yang sudah ada di sentra PKL gayungsari sudah ditempel stiker yang lolos sertifikasi ini...”
Seperti yang diutarakan oleh informan 3 lagi-lagi bawasaanya menghadirkan narasumber dalam sosialisasi sangat mempengaruhi jalannya komunikasi sehingga komunikan (PKL) dapat dengan mudah dipengaruhi sehingga pesan yang disampaikan mampu diolah dan diimplementasikan pada program penataan PKL karena komunikasi senantiasa membutuhkan setidaknya tiga unsur: sumber (source), pesan (message), dan sasaran (destination).
“...Gak tau mbak-mbak, yowes ero-ero dewe ngono gak onok sing ngandani (tidak tau mbak-mbak, ya tau-tau sendiri gitu tidak ada yang ngasi tau)...”
Berbeda dengan pernyataan informan 1, 2, dan 3. Informan 9 yang menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi dan sosialisasi tentang penataan PKL ini. Begitu juga pengakuan informan 7 dan 8, mereka bahkan mengetahui program penataan PKL dari rekan-rekan sesama PKL dan bahkan ada yang tau dengan sendirinya tanpa pemberitahuan langsung dari pihak Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Pemerintah Kota Surabaya. Dengan demikian sosialisasi yang dilakukan belum menyebar luas sehingga masih ada pihak PKL yang belum mengerti program pemerintah dalam penataan PKL dan pesan yang disampaikan juga belum diterima oleh PKL. Hal ini sangat bertolak belakang dengan teori yang dikemukakan oleh Schramm bahwa setiap orang dalam proses komunikasi adalah sekaligus sebagai encoder dan decoder. Secara konstan menyandi-balik tanda-tanda dari lingkungan kita, menafsirkan tanda-tanda tersebut dan menyandi sesuatu sebagai hasilnya.
“...Loh ini bukan, ini dulu bukan dulu ini kayak, gini mbak saya bukan asli orang sini, saya asli kenjeran Cuma suami saya asli sini. Ini dulu kayak hotel gitu loh mbak, hotelnya itu kan kosong, sama pengurus RW 14 itu dikelola begini, tapi kalau aslinya PKL itu gak tau. (dengan mimik muka yang bingung)...”
Informan 5 menyatakan bahwa beliau mendapatkan informasi tentang sentra PKL bukan melalui Dinas melainkan dari pengurus RW setempat. Beliau menyatakan juga bahwa pengurus RW setempat memberikan melalui rapat koordinasi kepada para PKL yang berjualan di area rusun Urip Sumoharjo.
“...Ada 2 kemungkinan yaitu pihak PKL yang aktif atau kita yang aktif, kalau pihak PKL yang aktif kita juga kebingungan karena jumlah sentra PKL dan PKL nya sendiri tidak seimbang, kapasitas sentra tidak mencukupi, makanya perlu adanya verifikasi dan yang perlu memverifikasi adalah camat, camat harus aktif karena pembangunan sentra berbasis lingkungan khusus untuk merelokasi PKL yang masih menggunakan fasum dan fasos yang melanggar aturan. Akan tetapi masih ada tempat yang masih kosong. Maka dari itu untuk proses awal untuk pembangunan sentra kita ikuti untuk sosialisasi ke kecamatan sehingga bisa minimal memilih, mengunci jumlah PKL sesuai dengan kapasitas sentra...”
Informan 2 mengataan bahwa PKL yang masih menggunakan fasum (fasilitas umum) dan fasos (fasilitas sosial) akan di relokasikan ke sentra PKL dengan cara memilih dan mengunci jumlah PKL sesuai dengan kapasitas sentra, jadi memang tidak semua PKL yang menempati trotoar langsung dipindahkan begitu saja, tetapi ada kriteria-kriteria khusus yang ditentukan, karena keberadaan sentra PKL saat ini sudah diperebutkan oleh banyak PKL akan kesuksesan para PKL yang telah menempati sentra PKL. Informan 6 menyatakan bahwa ada peningkatan dari sisi pendapatan.
“...Perubahannya sih lumayan ada pendapatan lebih...”
Dengan demikian pedagang yang sudah menempati sentra PKL (informan 6) mengaku bahwa pembangunan sentra PKL membuat pemasukan mereka jauh lebih baik dari pada sebelumnya, begitu juga menurut informan 4, beliau mengaku bahwa pendapatannya meningkat sejak menempati sentra PKL, ujar pedagang penjual soto daging ini.
“...Dilakukan bintek, kita undang narasumber yang kita anggap kompeten. Pihak koperasi sendiri melakukan monitoring rutin secara menyeluruh dan melakukan pengawasan hingga ke sejumlah titik PKL...” (informan 3)
“...Dengan mengajak dinas-dinas yang tekait seperti dari dinas koperasi, DKV, Satpol PP, Dishub, dan sebagainya untuk bersosialisasi karena merekalah yang biasanya kewilayahan kerjanya yang digunakan PKL, contohnya dishub jalan-jalannya banyak yang digunaka PKL, mereka menguasai jalan kan. Lalu DKV penguasa taman, banyak taman-taman yang digunakan PKL, kita ajak mereka untuk mensosialisasikan aturan-aturan mereka kepada PKL sehingga pada akhirnya ada penggusuran mereka sudah tau betul tentang permasalahannya sehingga tidak ada gesekan fisik. Akan tetapi tidak ada strategi khusus untuk sosialisasi ini ya seperti tadi setiap tahun diadakan bimbingan teknis kepada mereka...” (informan 2)
Strategi yang dikemukakan oleh informan 3 dan 2 cukup memberikan pengertian untuk para PKL karena mereka membawa pakar-pakar yang dianggap orang hebat dalam bidangnya. Sesuai dengan Schramm memperkenalkan gagasan bahwa kesamaan dalam
bidang pengalaman sumber dan sasaranlah yang sebenarnya dikomunikasikan, karena bagian sinyal itulah yang dianut sama oleh sumber dan sasaran.
“...Walah mbak ruwet koyok sekolah ae, sing penting iku mbak yo wong dodol iku payu wes ngono tok, saiki loh masio notone panganan iku apik tapi rasane gak enak yo podo ae mbak, lek sego bungkus enak masio rego 2000 yo dituku, ruwet leren belajar barang, wes kene iku gak tau sekolah, sekolah yo ngono iku mbak. (wah mbak sulit seperti sekolah saja, yang penting itu mbak ya orang jualan itu laku sudah gitu saja, sekarang loh meskipun natanya makanan bagus tapi rasanya tidak enak ya sama saja mbak, kalau nasi bungkus enak meskipun 2000 ya dibeli aja, sulit harus belajar segala, sini saja sudah tidak pernah sekolah, sekolah ya begitu itu mbak)...”
Lain halnya dengan informan 9, beliau bahkan menganggap bahwa bimbingan teknis ini merupakan hal yang memberatkan bagi beliau. Yang beliau pikirkan hanya keuntungan saja, jika jualannya laku terjual sudah merasa puas tanpa adanya alasan lain. Pada kenyataan pemerintah memberi bimbingan teknis ini sangat menguntungkan bagi PKL selain meraup untung yang banyak, tetapi membuat hidup mereka semakin sehat, karena PKL menjaga kebersihan. Menjadi nilai tambah tersindiri bagi konsumen dalam membeli dagangannya, inilah yang menjadi momok besar dari pihak Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah karena lemahnya pola pikir PKL dalam menjalankan bisnis.
“...Dengan sedikit banyak pendekatan, pendekatan kepada pedagang untuk pemahaman-pemahaman terhadap bagaimana sebagai warga kota surabaya untuk memahami apa maksud tujuan daripada pembangunan sentra itu dan bagaimana cara kita memberikan pemahaman kepada pedagang itu terhadap aspek-aspek hukum yang harus mereka pahami sebagai pengusaha, tidak boleh kan orang usaha dijalan-jalan...”
Melakukan pendekatan secara intens memberikan point tersendiri bagi informan 1 merupakan strategi yang digunakan demi kelancaran sosialisasi penataan ini, beliau mencoba merangkul dan memberi penjelasan secara pelan-pelan agar PKL mengerti maksud yang telah disampaikan oleh pihak Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah Pemerintah Kota Surabaya. Itulah yang seharusnya dilakukan oleh komunikator dalam mempengarui komunikannya.
“...dari dulu PKL ada di depan sini Cuma direloksikan ke sini oleh pemkot, dari dinas sudah di kasi tahu kalau akan di pindahkan ke sentra PKL...”
Dengan dilakukan pendekatan sesuai yang diutarakan informan 1, informan 4 menerima informasi dengan baik sehingga informan 4 yang awalnya berdagang di fasum (fasilitas umum) depan masjid Agung sekarang beliau bisa menempati sentra PKL gayungan. Terbukti beliau telah menempati stand di sentra PKL gayungan sejak tahun 2011 lalu. Sesuai dengan pendapat Schramm yang mengemukakan bahwa komunikasi sebagai interaksi dengan kedua pihak yang menyandi, menafsirkan, menyandi balik, mentransmisikan dan menerima sinyal.
Disisi lain pihak PKL yang merasa tidak mendapatkan sosialisasi seperti informan 9 merasa kalau berdagang di sentra PKL akan kehilangan pelanggan tetapnya dan pendapatannya akan berkurang karena beliau menganggap kalau sentra PKL itu kerap tempatnya sepi dan kurang strategis.
“...Yo ndelok-ndelok nggone mbak, lek nggone enak terus strategis, akeh sing tuku yo gelem-gelem ae, tapi lek sepi yo males mbak, podo ae karo nunggoni nggon tok la’an, gak dodolan iku jenenge. (ya lihat-lihat tempatnya mbak, kalau tempatnya enak lalu stategis, banyak yang beli ya mau-mau aja, tapi kalau sepi ya malas mbak, sama saja nunggui tempat aja dong, tidak jualan itu namanya)...”
Dengan logat bahasa jawa ibu yang menempati kawasan Jl. Ketintang ini keberatan jika harus dipindahkan ke Sentra PKL dengan alasan takut kalau degangannya akan sepi dari pembeli. Pada kenyataan kawasan sentra PKL memang tak semuanya ramai tergantung lahan yang dimiliki pemerintah, dimana ada lahan yang mempunyai kemungkinan untuk dibangun sebuah sentra PKL, maka pemerintah berupaya untuk
mengkaji ulang lahan tersebut dengan wacana akan di jadikan sentra PKL sebagai bentuk penataan PKL.
“...pernah didatangi mbak Cuma ya dulu tapi ya sekali dua kali aja, terus yang jualan kan bukan yang punya anak yatim aja gak mau, apalagi aku...”
Informan 8 mengaku pernah didatangi oleh pemerintah (pihak kecamatan) tetapi beliau tetap bersikukuh untuk berjualan di fasum daerah Ngagel Timur dengan alasan warung yang beliau tempati dekat dengan rumahnya sehingga beliau bisa berjualan dengan merawat anaknya yang masih menempati sekolah dasar.
“...Yang jelas tindakan kita tetap persuasif menghimbau mereka bawasannya ada area-area yang memang tidak boleh digunakan untuk berdagang karena kita sifatnya adalah membina kita terus melaksanakan intensitas sampai pada titik penertiban, dan penertiban ini sudah wewenangnya Satpol PP ...”
Bawasannya selalu ada tindakan yang harus dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak mau menjalankan sebuah aturan pemerintah yang ada. Penjelasan informan 3 memang menunjukkan bahwa sebuah peraturan daerah harus dilakukan dan dilaksanakan, jika tidak sanksi yang ditentukan akan menjerat pihak PKL yang tidak melaksanakannya. “...Saya tidak maksa, kalau tidak mau ya sudah, kan itu urusanya camat ketika kita membangun urusannya bawako lokasi harus steril, kalau tidak mau ya sudah pulang kampung. Kan kita sudah melaksanakan sosialisasi, jumlah PKL dan sentranya juga lebih banyak PKLnya lebih banyak yang butuh juga, kalau satu mokong urusannya pak camat, Satpol PP untuk mensterilkan,jadi kita melakukan cara dengan cara persuasif, jadi memberikan pemahaman, jadi kalau tidak bisa dijawil ya dijiwit, lek wedok yo diambung (kalo perempuan ya dicium) hahaha...”
Jika informan 1 sudah melakukan komunikasi dengan benar dan sesuai dengan teori Wilbur Schramm, komunikasi senantiasa membutuhkan setidaknya tiga unsur: sumber (source), pesan (message), dan sasaran (destination). Sumber boleh jadi seorang individu (berbicara, menulis, menggambar, memberi isyarat) atau suatu organisasi komunikasi (seperti sebuah surat kabar, penerbit, stasiun televisi, atau studio film). Pesan
dapat dibentuk tinta pada kertas, gelombang suara di udara, implus dalam arus listrik, lambaian tangan, bendera diudara atau setiap tanda yang dapat ditafsirkan. Maka tergantung dengan Komunikannya sendiri mau atau tidak melaksanakan apa yang seharusnya mereka laksanakan.