Taare Zameen Par
Cara yang digunakan dalam awal pendekatan untuk mengubah sikap persuader adalah dengan melihat situasi terlebih dahulu. Informasi sekecil apapun tentang persuadee sangatlah penting guna mengubah sikap atau pandangannya.
Ketahui kendala yang dialami persuadee, jika tidak mendapat jawaban langsung dari persuadee, perhatikan sekelilingnya.
Hal apa saja yang mengganggunya sehingga membuat depresi.
Seperti yang dilakukan tokoh Nikumbh dalam film tersebut, ia tidak hanya bertanya pada kawan terdekat Ishaan, tapi ia juga memeriksa buku-buku pelajarannya. Akhirnya ia pun mendapatkan hasil bahwa penyebab depresi Ishaan adalah disleksia. Persuasi dapat dilakukan secara rasional dan secara emosional. Secara rasional kognitif seseorang dapat dipengaruhi, aspek-aspek yang dipengaruhi dapat berupa ide, konsep ataupun pandangan sehingga pada orang yang dipersuasif terbentuk keyakinan (belief).3
2 Solicha. Agustyawati. Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. h.
209
3 Soemirat, Soleh, Hidayat, Safari dkk. 2008. Komunikasi Persuasif. Jakarta:
Universitas Terbuka . 2014
81
Esensi dari strategi psikodinamika untuk persuasi adalah pesan yang efektif bersifat mampu yang mengubah fungsi psikologis individual dengan berbagai cara di mana anak akan merespon secara terbuka dengan bentuk perilaku seperti yang diinginkan oleh persuader.
Guru bisa melakukan pendekatan dengan cara menyentuh atau ‘memainkan’ emosional anak yang mengalami masalah disleksia. Cara yang pertama dilakukan bisa dengan sindiran halus, atau berkomunikasi secara dua arah secara empat mata.
Seperti dengan cara meyakinkan persuadee bahwa yang mengalami permasalahan tersebut bukan hanya dirinya saja, bisa di berikan contoh seperti tokoh-tokoh terkenal yang mengalami masalah yang sama. Akan lebih efektif lagi jika persuader ini pernah mengalami masalah yang sama, sehingga mudah mengerti mengatasinya dan mudah melakukan sesuatu tanpa harus menyakitinya. Guru menggugah perasaan empati anak sehingga mereka tersentuh dan secara sadar menjadi termotivasi untuk lebih baik.
Setelah mendapat banyak informasi yang cukup mengenai anak disleksia, sangat penting juga interaksi yang dilakukan secara terus menerus agar menumbuhkan rasa percaya sehingga sang persuader mampu mengubah sikap persuadee sesuai dengan apa yang diinginkan.
Pada proses pembelajaran anak disleksia, perlu diperhatikan bahwa cara mengajarnya itu haruslah sesuai
82
dengan kemampuan yang dimiliki. Karena Ishaan suka melukis dan memiliki imajinasi yang tinggi, Nikumbh mengajarkan Ishaan dengan cara yang berbeda, seperti menggambar dipasir, menghitung anak tangga dan lain sebagainya. Kemudian hal tersebut dilakukan secara terus menerus sehingga terdapat perubahan yang dirasakan oleh persuadee. Metode pendidikan seperti ini pula yang mampu membangkitkan aspek kepercayaan diri anak disleksia khususnya dalam aspek kepercayaan diri “keyakinan kemampuan diri” yang digagas oleh Lauster. Pada aspek ini anak disleksia yang depresi mulai terbuka terhadap gurunya. Yang semula tidak mau menjawab, kini berani menjawab pertanyaan. Jika aspek ini sudah tercapai, maka aspek kepercayaan diri “optimis” pun akan bangkit. Sehingga dia tidak ragu lagi untuk melakukan sesuatu.
Faktor keberhasilan peningkatan kepercayaan diri anak disleksia lainnya adalah dengan cara memberi dukungan dalam setiap hal positif yang dilakukan serta melarang suatu hal yang merugikan tetapi dibarengi dengan solusi yang efektif.
Apresiasi juga penting agar meningkatkan semangat belajar anak. Hal sekecil apapun jika diberi apresiasi oleh guru, anak akan merasa bahwa pekerjaannya itu dihargai.
Perlu juga diadakan kegiatan yang mendukung bakat anak disleksia, pada kasus ini Nikumbh mengadakan lomba melukis untuk seluruh anak dimana melukis merupakan keahlian terbaik yang dimiliki Ishaan saat itu. Ternyata benar, Ishaan
83
keluar sebagai juara dan saat ditemui oleh kedua orang tuanya, Ishaan tidak lagi menunjukkan raut wajah putus asa. Ini membuktikan bahwa strategi komunikasi persuasif psikodinamika yang dilakukan oleh Nikumbh berhasil karena mampu mengembalikan kepercayaan diri anak disleksia yang depresi dari berbagai aspek. Jika sudah mencapai tahap ini, maka kepercayaan dirinya sudah sepenuhnya bangkit, karena dia berani untuk mencoba hal baru yang lebih positif serta ia mampu menerima dirinya sendiri.
B. Strategi Komunikasi Persuasif Konstruksi Makna dalam Membangun Kepercayaan Diri Anak Disleksia pada Film Taare Zameen Par
Untuk menghadapi anak disleksia tidak cukup berkomunikasi dengannya saja, namun anak disleksia ini membutuhkan dukungan dari orang terdekatnya yaitu orang tuanya. Akan sangat merepotkan jika orang tua anak tersebut tidak mengetahui gejala yang dialami oleh anaknya. Jika orang tua tersebut menganggap semua anak itu sama cara mendidikannya, hal tersebutlah yang mungkin membuat anak menjadi depresi. Anak yang mengalami disleksia akan kehilangan kepercayaan dirinya karena tidak sesuai dengan harapan yang orang tuanya inginkan. Ketika sang anak menyukai melukis, kemudian melukis dianggap oleh orang tuanya itu sebagai hal yang tidak bermanfaat, maka anak
84
tersebut akan berhenti melukis karena merasa tidak mendapat dukungan apalagi anak disleksia itu sangat kurang dalam bidang akademis.
Oleh karenanya sangat diperlukan bagi persuader untuk meyakinkan orangtua anak disleksia bahwa anaknya mengalami gangguan pembelajaran. Minimal sampai mendapat dukungan agar persuader lebih mudah untuk melakukan pendidikan.
Jika orang tua anak tersebut sangat idealis terhadap pendapatnya, maka diperlukan strategi komunikasi persuasif konstruksi makna yang esensinya memanipulasi makna untuk memberikan pengertian yang mudah dimengerti oleh persuade dengan memberikan perumpamaan-perumpamaan tanpa mengurangi arti dari pengertian itu sendiri. Targetnya adalah membuat perilaku persuadee sesuai dengan apa yang diharapkan oleh persuader.
Seorang anak sangatlah perlu untuk dipedulikan, diperhatikan dan paling utama adalah didukung. Kedua orang tua sangat berperan penting untuk melakukan ini dibanding orang lain.
Orang tua juga haruslah sadar bahwa mendidik anak itu tidak bisa dengan paksaan, tetapi harus dengan kelembutan dan cara yang pas agar bakat yang ada didalamnya bisa terus berkembang. Paling penting untuk diperhatikan adalah jika
85
anak tidak bisa dalam 1 bidang, maka jangan memaksakan harus bagus dibidang tersebut.
86 BAB VI KESIMPULAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dipaparkan beberapa kesimpulan bahwa penyebab anak disleksia adalah karena salah komunikasi antar orang tua dan anak mereka sehingga dibutuhkan strategi yang tepat. Tokoh guru dalam film ini yaitu Ram Shankar Nikumbh yang diperankan oleh Amir Khan memiliki kemampuan untuk membangun kepercayaan anak disleksia dengan strategi komunikasi persuasif. Strategi ini belum banyak digunakan oleh sebagian guru pada umumnya.
Pada film Taare Zameen Par penulis melihat Nikumbh menggunakan 2 dari 3 strategi komunikasi persuasif yang digagas oleh Melvin L. De Fleur dan Sandra J. Ball-Rokeach yaitu strategi komunikasi persuasif psikodinamika yang berfokus pada perkembangan muridnya, Ishaan yang mengalami disleksia dan strategi komunikasi persuasif konstruksi makna yang berfokus dalam membuat keluarga dekatnya percaya sepenuhnya bahwa Ishaan mengalami disleksia.
Oleh karena itu, strategi yang tepat digunakan adalah
a) Strategi Komunikasi Persuasif Psikodinamika (berfokus pada murid)
1. Cari informasi mengenai persuadee sekecil apapun itu.
2. Ketahui kendala yang dialami oleh persuadee.
3. Cari sumber informasi dari berbagai sumber.
87
4. Guru melakukan pendekatan dengan cara ‘memainkan’
emosional anak disleksia.
5. Setelah mendapat empati, ajarilah dengan cara yang unik sehingga anak disleksia tersebut betah dalam belajar.
6. Lakukan secara konsisten.
7. Berikan dukungan serta apresiasi terhadap setiap hal yang dikerjakan.
8. Adakan kegiatan disekolah yang mendukung untuk pengembangan bakat anak disleksia.
b) Strategi Komunikasi Persuasif Konstruksi Makna (Berfokus pada orang tua murid)
1. Yakinkan orang tua anak disleksia agar mereka dapat menerima keadaan anaknya.
2. Yakinkan pula kedua orang tuanya agar mereka mendukung setiap hal yang dikerjakan anaknya.
3. Persuader harus memberi pengertian bahwa disleksia merupakan permasalahan yang harus diatasi.
B. Implikasi
Penelitian ini memiliki implikasi terhadap perspektif lain yang kesinambungan dan memiliki hubungan yang positif. Implikasi tersebut dapat dijelaskan sebagai:
1. Implikasi teoritis
a. Membuka pandangan bahwa banyak film yang mengandung unsur akhlak yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran.
88
b. Membuka peluang bagi guru dalam mengatasi masalah pembelajaran anak disleksia.
c. Membuka pikiran pada para orang tua tentang permasalahan disleksia dan cara mengatasinya.
2. Implikasi pedagodis
Film Taare Zameen Par ini digunakan sebagai media pembelajaran karena banyak mengandung nilai penting untuk para pendidik, orang tua dan peserta didik.
3. Implikasi Praktis
a. Menambawh wawasan yang berhubungan dengan strategi pengajar dalam mendidik anak yang mengalami masalah gangguan pembelajaran, sehingga nantinya dapat menjadi motivasi bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
b. Penelitian ini juga menjadi bahan pertimbangan dalam memilih tontonan film yang mendidik.
C. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah diperoleh, peneliti memberikan saran yaitu:
A. Film-film edukasi seperti Taare Zameen Par ini sebaiknya digunakan sebagai media pembelajaran di sekolah-sekolah.
Minimal satu bulan sekali diadakan kegiatan nonton bersama.
B. Hendaknya masyarakat dapat mencontoh perilaku yang ada pada film-film edukasi
C. Hendaknya sekolah-sekolah tingkat dasar bisa menjadikan film Taare Zameen Par sebagai bahan edukasi untuk para pendidik
89
agar bisa menerapkan strategi yang digunakan dalam mendidik anak yang mengalami disleksia.
90
DAFTAR PUSTAKA Buku
Akhlis Suryapati, Hari Film Nasional Tinjauan dan Restropeksi (Jakarta: Panitia hari Film Nasional ke-60 Direktorat perfilman tahun 2010).
Askurifai Baksin. Membuat Film Indie Itu Gampang, (Bandung:
Kataris, 2003), cet. Ke-1.
Ath-Thobarii, Ja’far Muhmaad ibn Jarir, 1996, Tafsir Ath-Thobari
; Jami’ul BAyan Ta’wilul Qur’an, Bairut-Libanon: Darul kutubul Ilmiuah.
Basuki, Sulistyo. 2006. Metode Penelitian. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Busro, M. 2018. Teori-Teori Manajemen Sumber Daya Manusia.
Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004).
Zakiyah, Daradjat. 1982. Pendidkan Agama dalam Pembinaan Mental, Jakarta : penerbit Bulan Bintang. Departemen Agama, 1984. At Qur',an.
Davies, Philippa.Meningkatkan Rasa Percaya Diri, Alih Bahasa Saut Pasaribu. Yogyakarta: Torrent Books.
91
De Fleur, Melvin L; Ball-Rokeach, Sandra J.1989. Theories of mass communication. Book. English. 5th ed. (New York;
London: Longman).
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1997).
Derek Wood, dkk,. Kiat Mengatasi Gangguan Belajar.
(Jogjakarta: Kata Hati, 2007).
Drummond, Helga. 2007. Pengambilan Keputusan yang Efektif : Petunjuk Praktis dan Komprehensif untuk Manajemen. Alih bahasa: T. Hermaya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Fanu, James Le. Irham Ali Saifuddin. 2006. Deteksi dini masalah-masalah psikologi anak dan proses terapinya / James Le Fanu; alih-bahasa, Ibrahim Ali Saifudidin. (Jogjakarta:
think).
Herdiansyah, Haris. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial. (Jakarta: Salemba Humanika, 2012).
Effendy, Heru. Mari Membuat Film; Panduan Menjadi Produser, (Jakarta: Pustaka Konfiden, 2008) cet. Ke-6.
Gunawan, Imam. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013).
Devito, Joseph A. Komunikasi Antarmanusia (Tangerang Selatan:
Karisma Publishing Group, 2011).
92
Loeziana, Pengertian Disleksia, URGENSI MENGENAL CIRI DISLEKSIA, Vol. III 2017.
Ghufron, M. Nur dan Rini Risnawita S, Teori-Teori Psikologi (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2011).
Munawaroh, Madinatul dan Novi Trisna Anggrayani, Prosiding, Mengenali TandaTanda Disleksia pada Anak Usia Dini.
Universitas PGRI Yogyakarta
DeFLeur, Melvin L. dan Sandra Ball-Rokeach, Theories of Mass Communication, 5th Edition.
Morissan, Teori Komunikasi Individu hingga Massa. (Jakarta:
Kencana Prenadamedia Group, 2014).
Mr. AG. Pringgodigdo dkk, Ensiklopedi Umum (Yogyakarta:
kanisius, 1987).
Mulyana, Deddy. Ilmu komunikasi : suatu pengantar. (Bandung:
Remaja Rosda Karya, 2003).
Najib Sulhan, Pembangunan Karakter Pada Anak Manajemen Pembelajaran Guru Menuju Sekolah Efektif, (Surabaya:
SIC, 2006).
Nazir, M. 1988. Metode Penelitian, Ghalia Indonesia: Jakarta.
Neuman, W.Lawrence. Social Research Methods: Qualitative And Quantitative Approaches. (Boston : Allyn and Bacon, 2003).
93
Onong U, Effendy. Kepemimpinan dan komunikasi (Bandung:
Alumni, 1986).
Phill. Astrid S. Sumarti Susanto. Komunikasi dalam Teori dan Praktek. (Bandung: Binacipta, 1974).
Pito, Abdul Haris. 2019. Jurnal METODE PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN. Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan. Vol. VII No. 1 (link download https://bit.ly/3pK6aFa).
Pratista, Himawan. Memahami Film, (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008).
Raudonah. Ilmu Komunikasi (Edisi Revisi). (Depok: PT RajaGrafindo Persada, 2019).
Soemirat, Soleh, Hidayat, Safari dkk. 2008. Komunikasi Persuasif.
Jakarta: Universitas Terbuka . 2014.
Soemirat, Soleh dan Asep Suryana, Komunikasi Persuasif Cetakan keenam. (Banten: Universitas Terbuka, 2014).
Soemirat, Soleh. dkk. Komunikasi Persuasif. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007).
Solicha. Agustyawati. Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus.
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif. (Bandung: Alfabeta, 2010).
94
Surya, Hendra. 2009. Menjadi Manusia Pembelajar. (Jakarta: PT Elex Media Komputindo).
Arifin, Tatang M, Menyusun Rencana Penelitian, (Jakarta:Rajawali, 2003).
Thantaway. Kamus Istilah Bimbingan dan Konseling.(Yogyakarta:
Kanisius,2005).
Auryn, Virzara, How to Create A Smart Kids (Cara Praktis Menciptakan Anak Sehat dan Cerdas), (Yogyakarta: Kata Hati, 2007).
Jensen, William L. Rivers-Jay W dan Theodore Peterson. Media Massa dan Masyarakat Modern. (Jakarta:Kencana,2004).
Jurnal & Skripsi
Jurnal Fathul Jannah Rangkuti Dkk, Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok Terhadap Peningkatan Rasa Percaya Diri Dan Keterampilan Menyelesaikan Masalah Di Sekolah Menengah Atas (Sma) Negeri 1 Kota Tebing Tinggi.
Pascasarjana UIN Sumatera Utara.
Jurnal Loeziana. Urgensi Mengenal Ciri Disleksia. (Aceh:Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, 2017). Vol. III. No 2.
95
Ikfiyah, Avivatul. 2021. Skripsi Motivasi, Ketenangan Dalam Bekerja Dan Kinerja Karyawan; Manajemen Sumber Daya Manusia
Website
Channel Youtube OrroIt. Taare Zameen Par Full Movie 2007 | Like Stars on Earth | Darsheel Safary, Aamir Khan, Tisca
Chopra. diakses melalui
https://www.youtube.com/watch?v=n4udX8-ZG3Q pada 22 November 2020 jam 01.05
Komunikasi (Def.1) (n.d) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) Daring. Diakses melalui
https://kbbi.web.id/komunikasi , 22 november 2020 pukul 00.17.
Heru, Komunikasi Persuasif – Pengertian, Bentuk, Unsur, Tujuan,
dan Penjelasannya.
https://pakarkomunikasi.com/komunikasi-persuasif diakses pada tanggal 22 November 2020 pukul 01.01 WIB.
96
Gambar 1
Saat pertama kali Nikumbh masuk kelas.
Gambar 2
Saat Nikumbh mengetahui bahwa Ishaan mengalami disleksia.
LAMPIRAN A. Film Taare Zameen Par
97
Gambar 3
Saat Nikumbh menjelaskan bahwa Ishaan mengalami disleksia kepada orang tuanya.
Gambar 4
Ayah Ishaan tidak percaya bahwa anaknya mengalami disleksia dan menganggapnya malas belajar.
Gambar5
Ketika Nikumbh memberikan motivasi kepada para murid khususnya Ishaan yang mengalami disleksia.
98
Gambar 6
Ketika Nikumbh membuat Ishaan percaya kepadanya.
Gambar 7
Saat Nikumbh intens mengajarkan Ishaan cara membaca dan menulis.
99
Gambar 8
Ishaan yang mulai percaya diri.
Gambar 9
Lomba melukis yang di ikuti oleh seluruh peserta asrama
100
B. Wawancara Kajur Ilmu Komunikasi Universitas Gajah Putih Aceh Subhan AB, S.Sos, I.S.pd, M.Ikom via Whatsapp
1. Strategi Psikodinamika
Strategi psikodinamika didasari oleh asumsi bahwa ciri-ciri biologis manusia itu merupakan hal yang diwariskan, terdapat sekumpulan faktor lain yang bersifat mendasari bagian dari biologis dan merupakan hasil belajar, seperti pernyataan dan kondisi emosional, terdapat sekumpulan faktor yang diperoleh atau dipelajari yang membentuk struktur kognitif individu. Berasal dari Sigmund Freud, asal kata Psice:
pikiran, namun mencakup perasaan, pengalaman masalalu, roh dan jiwa. Kata Dinamic: mengacu pada pandangan bahwa psikis individu bersifat dinamis, tidak statis. Teori dasar Freud menekankan pada dorongan insting dari individu untuk melakukan hubungan, baik internal maupun eksternal.
Strategi persuasi psikodinamika dipusatkan pada faktor emosional dan faktor kognitif, dan rasanya sangat tidak mungkin untuk mengubah faktor-faktor biologis (seperti tinggi, berat, sex, ras, dan lain-lain) dengan pesan persuasif.
Hal yang mungkin adalah menggunakan pesan persuasi untuk pernyataan emosional, seperti marah dan takut. Asumsi berikutnya bahwa faktor-faktor kognitif berpengaruh besar pada perulaku manusia. Oleh karena itu, faktor-faktor kognitif dapat diubah maka tentunya perilaku pun dapat diubah.
101
Pandangan psikodinamika tentang perilaku menekankan pada aspek kekuatan pengaruh pada faktor-faktor perilaku, kondisi, pernyataan, dan kekuatan dalam diri individu yang membentuk perilaku. Pendekatan kognitif sebagai strategi persuasi menekankan struktur internal jiwa sebagai hasil dari belajar. Dalam penekanan ini memungkinkan menggunakan media massa untuk mengubah struktur tersebut, seperti perubahan perilaku.
Salah satu dasarnya bahwa faktor-faktor kognitif berpengaruh besar pada perilaku manusia. Esensinya bahwa pesan yang efektif mampu mengubah fungsi psikologis individu dengan berbagai cara, dimana sasaran akan merespons secara terbuka dengan bentuk perilaku seperti yang diinginkan persuader. Dalam perkembangan kepribadian manusia, tercatat ada 3 hal, yaitu Id (insting dan dorongan kepuasan), Ego (daya nalar, proses mental, pikiran sehat, dan realitas), dan Super ego (nilai-nilai sosial). Mekanisme pertahanan dalam seorang individu saat menerima stimulant dari luar adalah repression (penekanan) berkenaan dengan dorongan hati yang tidak pantas dikeluarkan sehingga didesak kedalam pikiran bahaw sadar. Regression (kemunduran) kembali ke bentuk-bentuk perilaku awal perkembangan.
Sublimation mengganti perilaku yang tidak wajar dengan perilaku awal perkembangan. Sublimation mengganti perilaku wajar dengan perilaku yang lebih baik. Displacement
102
(penggantian) mengubah sasaran pelampiasan dari emosi kepada objek lain. Reaction formation (pembentukan reaksi) bertindak yang berlawanan dengan apa yang dirasakan atau di inginkan.
2. Strategi Kontruksi Makna/ The Meaning Construction Strategi yang dikemukakan oleh Melvin l. Defluer dan Sandra J.Ball Rokeach adalah dengan memanipulasi pengertian. Hal ini berawal dari konsep bahwa hubungan antara pengetahuan dan perilaku dapat dicapai sejauh apa yang dapat diingat. Berdasarkan pemikiran Defluer dan Rokeach tersebut, tampak bahwa yang menjadi asumsi utama strategi kontruksi makna bahwa pengetahuan dapat memengaruhi perilaku. Apa yang luput merupakan elaborasi asumsi tentang predisposisi dan proses internal, seperti perubahan sikap, disonasi kognitif atau kejadian sosial yang rumit dan pengharapan kultural. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa strategi ini dicirikan oleh “belajar-berbuat” (learn-do), seperti yang dilawankan dengan belahar-merasa-berbuat (learn-feel-do) dan pendekatan belajar penyesuaian diri.
Asumsi dasar strategi persuasi kontruksi makna adalah bahwa pengetahuan dapat membentuk perilaku. Strategi ini dicirikan oleh belajar-berbuat (learn-do).
Strategi ini berawal dari konsep di mana hubungan antara pengetahuan dan perilaku dapat dicapai sejauh apa yang dapat diingat. Persuader berupaya memberikan
pengetahuan-103
pengetahuan mengenai suatu hal kepada calon orang yang dipersuasif. Selain itu dengan adanya pengetahuan yang diterima orang yang dipersuasif melalui lingkungan sekitar maupun berita-berita yang beredar menimbulkan suatu pemahaman di benak masyarakat inilah yang harus diikuti, tentunya yang diinginkan oleh persuader. Pada strategi ini persuader berupaya memanipulasi suatu makna, untuk lebih dapat memberikan pengertian yang mudah dimengerti dan dipahami orang yang dipersuasi. Persuader memberikan perumpamaan-perumpamaan terhadap suatu makna tanpa mengurangi arti dari pegertian itu sendiri. Komunikasi merupakan aktivitas dasar manusia, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Hal ini disebabkan oleh identitas manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri-sendiri melainkan saling membutuhkan satu sama lain.
Melalui interaksi setiap hari dengan sesaama, manusia berhubungan satu sama lain dengan berbagai tujuan. Menurut George Herbert Mead yang dikutip oleh Dedy Mulyana, Setiap manusia mengembangkan konsep dirinya melalui interaksi dengan orang lain dalam masyarakat dan itu dilakukan lewat komunikasi.
104
Chat 3 Chat 2
Chat 1
Chat 4 Chat 5 Chat 6