BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.6 Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah
Sekolah memiliki peran yang amat penting dalam menanamkan budaya literat pada anak didik. Untuk itu tiap sekolah tanpa terkecuali harus memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan literasi. Agar sekolah mampu menjadi garis depan dalam pengembangan budaya literat, beers, dkk. (2009) dalam buku A Principal’s Guide to Literacy Instruction menyampaikan beberapa strategi untuk menciptakan budaya literasi yang positif di sekolah. Sekolah memiliki peran yang
amat penting dalam menanamkan budaya literat dan harus memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan literasi.
. Agar sekolah mampu menjadi garis depan dalam pengembangan budaya literat, beers, dkk. (2009) dalam buku A Principal’s Guide to Literacy Instruction menyampaikan beberapa strategi untuk menciptakan budaya literasi yang positif di sekolah.
1. Mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi.
Lingkungan fisik adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan warga sekolah. Oleh karena itu, lingkungan fisik perlu terlihat ramah dan kondusif untuk pembelajaran. Sekolah yang mendukung pengembangan budaya literasi sebaiknya memajang karya peserta didik dipajang di seluruh area sekolah, termasuk koridor, kantor.
Selain itu karya peserta didik diganti secara rutin untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta didik. Selain itu, peserta didik dapat mengakses buku dan bahan bacaan lain di sudut baca di semua kelas.
2. Mengupayakan lingkungan sosial dan efektif sebagai model komunikasi dan intraksi yang literat. Lingkungan sosial dan afektif dibangun melalui model komunikasi dan interaksi seluruh komponen sekolah. Hal itu dapat dikembangkan dengan pengakuan atas capaian peserta didik sepanjang tahun. Pemberian penghargaan dapat dilakukan saat upacara bendera setiap minggu untuk menghargai kemajuan peserta didik di semua aspek. Prestasi yang dihargai bukan hanya akademik, tetapi juga sikap dan upaya peserta didik. Dengan demikian, setiap peserta didik mempunyai kesempatan untuk memperoleh penghargaan sekolah. Selain itu, literasi diharapkan dapat mewarnai semua perayaan penting di sepanjang tahun pelajaran. Ini bisa direalisasikan dalam bentuk festival buku, lomba poster, mendongeng, karnaval tokoh buku cerita, dan sebagainya. Pimpinan sekolah selayaknya berperan aktif dalam menggerakkan literasi, antara lain dengan membangun budaya kolaboratif antar guru dan tenaga kependidikan. Dengan demikian, setiap orang dapat terlibat sesuai kepakaran masing-masing. Peran orang tua sebagai relawan gerakan literasi akan semakin memperkuat komitmen sekolah dalam pengembangan budaya literasi.
3. Mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademik yang literat.
Lingkungan fisik, sosial, dan afektif berkaitan erat dengan lingkungan akademik. Ini dapat dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan literasi di sekolah. Sekolah sebaiknya memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan guru membacakan buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung.
Untuk menunjang kemampuan guru dan staf, mereka perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti program pelatihan tenaga kependidikan untuk peningkatan pemahaman tentang program literasi, pelaksanaan, dan keterlaksanaannya.
BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN LITERASI SEKOLAH PADA SMA NEGERI 2 MEDAN
3.1 Gambaran Umum Sekolah SMA Negeri 2 Medan 3.1.1 Sejarah Sekolah SMA Negeri 2 Medan
SMA Negeri 2 Medan dipimpin oleh Bapak Drs. Buang Agus S yang berlokasi di Jalan Karangsari Polonia medan. Awalnya pada tahun 1950 sekolah ini bernama SMA pelajar tentara dan pada tahun 1957, barulah diganti menjadi SMA Negeri 2 Medan. SMA Negeri 2 Medan memiliki 93 guru pengajar, 3 orang pegawai pembantu, 3 orang satpam, 4 orang staf perpustakaan, 4 orang kebersihan dan 1.598 peserta didik. SMA Negeri 2 Medan mempunyai visi dan misi yaitu :
Visi :
Terwujudnya warga sekolah berakhlak mulia, disiplin, berdaya saing, dan mencintai lingkungan
Misi :
1. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dengan mengoptimalkan kegiatan keagamaan di sekolah.
2. Meningkatkan budaya disiplin dan tanggung jawab seluruh elemen sekolah.
3. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam kegiatan pembelajaran yang terintegrasi nilai kepramukaan.
4. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana sekolah.
5. Meningkatkan kesadaran dalam pengelolaan dan pelestarian lingkungan sekolah yang hijau, bersih, nyaman, dan terawat.
6. Meningkatkan kemampuan akademik dan bakat yang sesuai dengan kebutuhan siswa pada konteks global.
7. Meningkatkan pelayanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik secara intensif.
8. Meningkatkan jumlah lulusan yang melanjutkan ke perguruan tinggi negeri terbaik.
9. Meningkatkan hubungan baik dengan unsur staekholder dalam pengembangan sekolah.
SMA Negeri 2 Medan memiliki 39 kelas ruang belajar siswa, 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang kurikulum, 1 ruang Tata usaha, 1 ruang guru, 1 ruang humas, 1 ruang lab komputer, 1 ruang lab bahasa, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang kesiswaan, 1 sarana prasarana, l ruang koperasi dan 1 ruang poliklinik.
3.2 Pelaksanaan Kegiatan Literasi di SMA Negeri 2 Medan
Dalam pelaksaan kegiatan literasi sekolah SMA Negeri 2 Medan sebenarnya kegiatan ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2014. Dalam pelaksanaan kegiatan literasi sekolah ini juga mengikuti aturan yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam panduan gerakan literasi dari Kemendikbud SMA Negeri 2 Medan terdapat tahapan-tahapan gerakan literasi yaitu tahap pembiasaan, tahap pengembangan dan pembelajaran. Dengan adanya panduan gerakan literasi yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pelaksanaanya dapat menjadi lebih mudah untuk membantu dan mewujudkan siswa gemar membaca.
Setiap hari siswa membaca buku 15 menit sebelum pembelajaran. Selain itu siswa juga didorong menulis resensi buku dan mempresentasikannya. SMA Negeri 2 memiliki Tim Literasi khusus dan bukan memakai pegawai yang ada di perpustakaan. SMA Negeri 2 Medan memiliki Tim literasi SMA Negeri 2 Medan dipimpin oleh bapak Alexander Zulkarnain serta melibatkan Guru – Guru bahasa Indonesia, dan Siswa yang juga memiliki peran penting dalam pelaksanaan Gerakan Literasi di SMA Negeri 2 Medan.
3.2.1 Kegitan Literasi Galaksi di SMA Negeri 2 Medan
Di tahun 2018 atas prakarsa kepala sekolah bapak Drs. Buang Agus membuat kegiatan ekstrakurikuler literasi yang diberi nama Galaksi atau Gerakan literasi kreatif siswa. Bapak Alexander Zulkarnain ditugaskan sebagai pembina kegiatan serta ibu Fella Felia sebagai pengawas pelaksanaan kegiatan serta guru-guru bahasa indonesia juga termasuk didalam tim literasi.
Kegiatan ini adalah hasil realisasi kepala sekolah atas permintaan murid SMA Negeri 2 Medan dengan tujuan memperluas pengetahuan murid lebih dalam khususnya tentang bahasa indonesia. Bentuk dukungan kepala sekolah lainnya atas pelaksanaan kegiatan literasi ialah menyediakan taman literasi sebagai fasilitas dalam melaksanakan kegiatan ekstrakulikuler galaksi. Kegiatan ini dilakukan setiap seminggu sekali tepatnya dilaksanakan pada tiap hari selasa.
Kegiatan dilakukan dalam beragam bentuk seperti membaca puisi, membaca novel atau meresensi novel atau bahan bacaan lainnya. bentuk pelaksanaan kegiatan biasa dilakukan dengan berkumpul di taman literasi sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Kegiatan galaksi ini merupakan suatu program yang dilakukan oleh sekolah dalam upaya untuk pencapaian kegiatan literasi sekolah. Kegiatan yang dibuat oleh sekolah dalam satu program tersebutlah semua kegiatan yang berkaitan dengan literasi dilakukan, seperti membaca wajib, membaca 15 menit, pemilihan duta membaca, dan lomba literasi antar kelas.
Pada awal pelaksanaan kegiatan menemukan sedikit masalah yaitu minimnya ilmu membuat murid sedikit kesulitan dalam memahami suatu topik pembahasan, namun setelah kegiatan berlangsung sampai sekarang murid sudah dapat mengatasi kesulitan tersebut dikarenakan sudah terbiasa dengan materi pembahasan yang diberikan. Beberapa kegiatan besar juga sudah dilakukan seperti membuat seminar baca kilat dengan pemateri duta baca provinsi Sumatera Utara.
3.2.2 Metode Pelaksanaan Kegiatan Galaksi
Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler galaksi ini dilaksanakan dengan mengikuti beberapa tahap yang sudah dibentuk secara sistematis agar pelaksanaan kegiatan ini dapat berjalan dengan baik. Beberapa tahapan pelaksanaan kegiatan meliputi :
1. Persiapan
Persiapan yang dimaksud adalah tim kegiatan literasi sekolah melakukan musyawarah atau syuro. Tim kegiatan literasi sekolah akan membahas langkah-langkah atau pola penerapan agar kegiatan dapat berjalan dengan baik.
2. Pelaksanaan
Melaksanakan kegiatan yang sudah direncanakan sesuai dengan langkah-langkah pelaksanaan yang ditentukan.
3. Evaluasi
Berupa diskusi pembahasan mengenai suatu hal ataupun kendala yang terjadi selama berlangsungnya kegiatan
3.3 Permasalahan/ Hambatan Saat Pelaksanaan Kegiatan Literasi
Dalam pelaksanaan kegiatan literasi di SMA Negeri 2 Medan pelaksanaan kegiatan berdasarkan indikator ketercapaian belum sepenuhnya dapat terlaksanakan. Misalnya sekolah belum dapat menerapkan kepada peserta didik untuk memiliki jurnal membaca harian. Hal ini dikarenakan tahapan awal yang membutuhkan proses bagi siswa untuk minat membaca siswa SMA Negeri 2 Medan masih rendah. Sekolah juga belum dapat melibatkan orangtua ataupun alumni karena sekolah saat ini hanya fokus dalam kegiatan literasi dan penyebarannya kepada elemen masyarakat di sekolah.
Kemudian, masih sedikit siswa yang berminat ikut ambil bagian dalam kegiatan ekstrakurikuler menjadi hambatan dalam pelaksanaan kegiatan literasi.
Akibat dari hal ini ialah para siswa yang lain beranggapan kegiatan ini terlihat kurang menarik. Kurangnya ketersediaan tenaga pustakawan profesional di
sekolah juga menjadi permasalahan dalam pelaksanaan kegiatan literasi di SMA Negeri 2 Medan.
Agar pelaksanaan kegiatan berjalan dengan baik sekolah seharusnya memiliki tenaga pustakawan profesional. Sekolah juga tidak memiliki format untuk menyampaikan hasil bacaan baik dalam bentuk lisan dan tulisan. Kemajuan teknologi memiki dampak positif dan negatif bagi siswa. Dampak postifnya ialah siswa dapat dengan bebas mencari informasi apapun yang ia butuhkan akan tetapi dampak negatif nya ialah kemudahan yang dimiliki teknologi membuat siswa malas dan membuat rendahnya minat baca pada siswa.
3.4 Cara Mengatasi Permasalahan Dalam Pelaksanaan Kegiatan Literasi di SMA Negeri 2 Medan
Cara mengatasi permasalahan atau hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan kegiatan literasi sekolah ialah dengan cara :
1. Melakukan pendekatan dengan siswa, dengan memberikan penjelasan mengenai kegiatan dan memotivasi agar minat baca maupun penggiat kegiatan literasi menjadi lebih meningkat.
2. Membuat bazar buku adalah cara untuk mengatasi kendala dalam pelaksanaan kegiatan literasi sekolah. Para siswa dapat mempromosikan kegiatan dengan cara membuat stan ekstrakurikuler literasi agar dapat meningkatkan ketertarikan siswa pada kegiatan ataupun dapat meningkatkan minat baca pada siswa.
3.5 Peran Perpustakaan Terhadap Pelaksanaan Kegiatan Literasi di Sekolah
Literasi sekolah dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah kemampuan, mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis,dan/atau berbicara. GLS sebagai salah satu alternatif untuk menumbuh
kembangkan budi pekerti siswa melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Peran utama Perpustakaan dalam kegiatan ini ialah menyediakan buku, memberikan waktu khusus untuk siswa saat melakukan kunjungan ke perpustakaan agar pegawai perpustakaan yang ada di ruangan saat waktu kunjungan, untuk melakukan kunjungan dalam pelaksanaan kegiatan literasi pihak Tim Literasi ataupun guru lain bekerjasama dengan pihak Perpustakaan ketika melakukan kegiatan berkunjung agar waktu kunjungan tidak bertabrakan dengan kegiatan lainnya.
Peran perpustakaan pada Pelaksanaan Kegiatan Literasi di SMA Negeri 2 Medan ini tidak begitu besar dikarenakan SMA Negeri 2 Medan sudah memiliki Tim Literasi yang khusus memegang peran khusus terhadap Pelaksaan kegiatan Literasi tersebut, Namun perpustakaan di SMA Negeri 2 Medan tetap menyediakan koleksi buku yang menarik dan buku wajib untuk mendukung kegiatan literasi agar berjalan dengan baik.
3.6 Indikator Ketercapaian Pelaksanaan Kegiatan Literasi di SMA Negeri 2 Medan
1. Indikator Ketercapaian Tahap Pembiasaan
Tahap pembiasaan adalah tahap untuk mengukur ketercapaian sekolah dalam pelaksanaan kegiatan literasi, dari tabel indikator tahap pembiasaan kita bisa melihat kegiatan yang dilaksanakan apakah sudah terlaksanakan dengan sempurna atau masih ada yang perlu diperbaiki dan dikembangkan. Tujuan tahap pembiasaan ini adalah untuk meningkatkan rasa percaya diri sebagai pembaca yang baik. Pada tahap pembiasaan di SMA Negeri 2 Medan sudah membuat jadwal wajib baca selama 15 menit bagi Siswa dan Guru sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan waktu yang ditentukan tergantung pada jadwal dan kondisi di sekolah.
Di SMA Negeri 2 Medan juga sudah menyediakan fasilitas tempat membaca di setiap halaman sekolah, jadi para siswa tidak hanya dapat membaca
yang mereka inginkan untuk membaca. Lingkungan yang bersih juga merupakan salah satu yang mendukung dengan baik berjalannya kegiatan pada tahap pembiasaan.
Bahan kaya teks yang terpampang dikelas juga ada terlihat dikelas. Poster-poster kampanye membaca dikelas ataupun di area lain seperti di mading juga terlihat dikelas. Peserta didik terlihat menikmati dengan santai kegiatan karena siswa bebas membaca buku berdasarkan apa yang mereka inginkan tanpa ada tugas-tugas yang bersifat tagihan atau penilaian.
2. Indikator Ketercapaian Tahap Pengembangan
Tahap pengembangan adalah tahapan lanjutan dari tahap pembiasaan yang membedakan tahapan pengembangan dengan tahapan pembiasaan ialah kegiatan 15 menit membaca yang diikuti dengan kegiatan tulisan. Tujuan dari tahapan pengembangan ini ialah untuk mengasah kemampuan peserta didik dalam menanggapi buku secara lisan dan tulisan.
Pada tahap pengembangan pelaksanaan kegiatan dilakukan setelah membaca buku siswa diminta untuk menuliskan resensi. Mereka diminta untuk mempresentasikan didepan teman-temannya dengan cara menceritakan kembali isi buku yang sudah dibaca. Pada pelaksanaan kegiatan ini guru membacakan kutipan buku dengan nyaring dan mendiskusikannya.
Setelah kegiatan 15 menit membaca selesai siswa diminta untuk menceritakan kembali buku yang mereka baca. Tujuannya dilakukan kegiatan ini agar siswa dapat benar-benar memahami isi buku yang dibacanya. Kemudian tujuan selanjutnya ialah agar mereka terbiasa berpendapat dan lebih percaya diri.
Selain itu, SMA Negeri 2 Medan juga menggelar kegiatan festival literasi, yaitu festival bulan bahasa.
Kegiatan festival ini dibuat dalam bentuk lomba dan kegiatan ini terbuka untuk semua peserta didik SMA Negeri 2 Medan, sehingga siapapun dapat ikut serta dalam kegiatan festival ini. Untuk acara festival nya sendiri pihak sekolah menetapkan waktu pelaksanaan nya, pihak sekolah akan mengadakan acara festival tersebut bila anggaran biayanya sudah terpenuhi dan waktu yang tepat,
karena pada saat acara festival berlangsung tidak boleh mengganggu kegiatan belajar yang ada.
Adapun kegiatan pada Festival Literasi tersebut, antara lain lomba membaca puisi, lomba wawancara, lomba pidato dan pertunjukan teater. Seluruh elemen masyarakat sekolah juga turut menghadiri dan memeriahkan Festival Literasi tersebut. Bagi peserta didik yang dapat memenangkan lomba kegiatan festival bulan bahasa sekolah akan memberikan penghargaan berupa uang tunai dan sertifikat.
3. Indikator Ketercapaian Tahap Pembelajaran
Tahap pembelajaran adalah tahapan terakhir dan tahapan pembelajaran adalah kegiatan lanjutan dari tahapan pengembangan untuk dinilai secara akademik. Tujuan dari tahapan pembelajaran ialah mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi sehingga terbentuk pribadi pembelajar sepanjang hayat. Pada Tahap pembelajaran keterampilan literasi diintegrasikan melalui pembelajaran aktif. Sebagai contoh siswa telah membuat karya berupa poster yang berkaitan dengan gerakan literasi, dan gerakan ayo membaca. Hasil karya siswa yang dinilai bagus akan dipajang dikelas atau dimading sebagai bentuk penghargaan terhadap pencapaian para siswa.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan mengenai Pelaksaan Kegiatan Literasi Sekolah SMA Negeri 2 Medan dapat disimpulkan bahwa :
1. SMA Negeri 2 Medan telah melakukan kegiatan gerakan literasi sekolah dan memasukkan kegiatan ini kedalam bagian dari kegiatan ekstrakurikuler agar para murid SMA Negeri 2 Medan dapat mengikutinya di luar jam pelajaran sekolah.
2. Untuk tahap pembiasaan kegiatan ini sudah dilakukan dengan cukup baik, dimana siswa dan Guru melakukan 15 menit membaca sebelum kegiatan belajar dimulai. Guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan juga menjadi model dalam pelaksanaan kegiatan literasi membaca selama kegiatan berlangsung.
3. Dalam tahap pengembangan tahap ini juga sudah dilakukan dengan cukup baik. Melakukan pengembangan 15 menit membaca kemudian siswa menyampaikan kembali apa yang mereka baca di depan kelas dengan tujuan agar mengetahui apakah mereka memahami buku yang dibaca. SMA Negeri 2 Medan juga sudah membentuk tim literasi sekolah Peran tim literasi sekolah dalam mengembangkan literasi sekolah bekerja sama dengan kepala sekolah, pustakawan, dan guru kelas.
4. Tahap terakhir yaitu tahap pembelajaran, kegiatan membaca 15 menit sudah membudaya dan menjadi kebutuhan sekolah. SMA Negeri 2 Medan juga telah melakukan hasil unjuk karya dalam berliterasi dari hasil kemampuan para peserta didik.
5. Dapat disimpulkan berdasarkan indikator ketercapaian pelaksanaan pada tahap pembiasaan, tahap pengembangan, tahap pembelajaran, bahwa Sekolah SMA Negeri 2 Medan dapat melakukan dengan baik kegiatan pelaksanaan literasi sekolah.
4.2 Saran
Berdasarkan pembahasan serta kesimpulan yang terkait pada Pelaksanan Kegiatan Literasi Sekolah SMA Negeri 2 Medan, Maka penulis memberi saran serta masukan agar kegiatan ini dapat berjalan dengan lebih baik.
1. Pada tahap pembiasaan sekolah sebaiknya menyediakan perpustakaan sudut baca ditiap kelas dengan koleksi buku akademik maupun non akademik untuk mendukung pelaksanaan kegiatan agar dapat berjalan dengan baik.
2. Untuk tahap pengembangan, sebaiknya sekolah melakukan hasil unjuk jurnal tanggapan para peserta didik agar memotivasi para siswa dalam proses belajar. Sekolah juga sebaiknya melakukan kegiatan akademik seperti melakukan kunjugan wisata ke perpustakaan atau kunjungan perpustakaan keliling ke sekolah untuk mendukung kegiatan budaya literasi di sekolah
3. Pada tahap pembelajaran agar pelaksanaan berjalan dengan baik sekolah sebaiknya melakukan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk menghasilkan tanggapan secara lisan maupun tulisan dalam bentuk tagihan akademik agar memotivasi para siswa untuk lebih baik dalam proses belajar.
4. Sekolah sebaiknya melakukan inovasi dalam kegiatan seperti bentuk kegiatan literasi teknologi maupun literasi visual, misalnya seperti melakukan kegiatan diskusi film pendek atau memanfaatkan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar agar kegiatan tidak terlihat membosankan sehingga dapat meningkatkan ketertarikan siswa dan penggiat literasi terhadap kegiatan literasi sekolah.
5. Diharapkan kepada Tim Literasi, Kepala Sekolah, Guru – Guru dan pegawai sekolah atau pustakawan SMA Negeri 2 Medan, untuk bekerja sama dalam mengembangkan kegiatan literasi sekolah dan budaya literasi di sekolah dengan tujuan agar dapat mengetahui perkembangan pelakasanaan kegiatan literasi sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Amad, Bukhari. (2005). Menciptakan gerakan literat. Diunduh pada http://pribadi.or.id/diary/2005/06/22/menciptakan-generasi-literat.
Diakses pada 1 Juli 2019
Beers, C. S., Beers, J. W. & Smith, J. O. (2009). A Principal’s Guide to Literacy Instruction . New York: Guilford Press
Depdiknas .2003. Undang-undang RI No.20 tahun (2003). tentang sistem pendidikan nasional
Harsono, Hanifah. (2002). Implementasi Kebijakan Dn Politik. Jakarta: Grafindo Jaya
KBBI. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Online Available at :http://kbbi.web.id/rehabilitasi. Diakses pada 1 Juli 2019
Kemendikbud. (2016). Desain Induk Literasi Sekolah. Jakarta: Direktorat jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia.
Kemendikbud. (2016). Panduan Gerakan Literasi Sekolah. Jakarta: Direktorat jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RepublikIndonesia.
Nurdin Usman, (2002), Konteks implementasi berbasis Kurikulum, Bandung, CV Sinar Baru.
R. Terry, George dan Leslie W.Rue. (2010). Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta: PT Bumi Aksara
Setiawan, Guntur. (2004). Implementasi Dalam Birokrasi Pembangunan.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Suyono dan Hariyanto.(2012). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Rosdakarya Remaja
UNESCO. (2005) Development of information literacy: through school libraries in South-East Asia Countries,Bangkok
UNESCO. (2003). World Declaration on Education for ALL and Framework for Action to Meet Basic Learning Needs. International Consultative Forum on Education For All.
Paris: UNESCO
Widodo, Slamet. Gio M. Johan, dan Dyoty A. V. Ghasya (2015). Membangun Kelas Literat Berbasis Pendidikan Lingkungan Hidup Untuk Melatihkan Kemampuan Literasi Siswa Di Sekolah Dasar. Prosding Seminar
Lampiran I : Panduan Wawancara
PANDUAN WAWANCARA PELAKSANAAN KEGIATAN LITERASI SEKOLAH PADA SMA NEGERI 2 MEDAN
1. Kapan mulai dilaksanakan kegiatan literasi di SMA Negeri 2 Medan?
2. Apakah kegiatan 15 menit membaca sudah dilaksanakan?
3. Adakah bentuk dukungan dari kepala sekolah agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan dengan baik?
4. Di dalam tiga tahapan pelaksanaan kegiatan literasi, apakah ada indikator yang belum terlaksana?
5. Apakah ada bentuk kegiatan lanjut yang dilakukan berdasarkan tahap pelaksanaan kegiatan literasi sekolah?
6. Apakah sekolah melibatkan orangtua ataupun alumni dalam pelaksanaan kegiatan?
7. Apakah ada hambatan lain selama pelaksanaan kegiatan berlangsung?
8. Bagaimana menurut bapak tentang dampak kemajuan teknologi terhadap siswa dalam pelaksaan kegiatan literasi sekolah?
9. Apa yang dilakukan sekolah dalam mengatasi permasalahan selama pelaksanaan kegiatan literasi sekolah berlangsung?
LAMPIRAN II : Transkip Wawancara dengan Alexander Zulkarnain Pembina kegiatan literasi sekolah
Tempat : Taman Literasi SMA Negeri 2 Medan Waktu : Rabu, 10 Juli 2019, Pukul 10.00 – 10.31 wib
Hasil Wawancara
1. Kalau boleh saya tahu pak sejak kapan kegiatan literasi sekolah dilaksanakan?
Kegiatan literasi sudah sejak lama dilaksanakan, setahu saya dimulai sekitar tahun 2014.
2. Apakah dalam awal pelaksanaan sudah menerapkan kegiatan wajib membaca 15 menit pak?
Ya, pada awal kegiatan itu dilakukan dengan kegiatan 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai dan siswa bebas membaca buku sesuai dengan apa yang ia ingin baca.
3. Kemudian pak dalam pelaksanaan kegiatan, ada tidak bentuk dukungan kepala sekolah terhadap pelaksanaan kegiatan literasi sekolah agar pelaksanaan dapat berjalan dengan baik?
Ya tentu ada, kepala sekolah membuat kegiatan literasi dan menjadikannya kedalam bagian kegiatan ekstrakurikuler dengan menyediakan beberapa fasilitas seperti taman literasi untuk mendukung kegiatan tersebut.
4. Untuk indikator yang sudah saya berikan ke bapak, ada tidak tahapan yang
4. Untuk indikator yang sudah saya berikan ke bapak, ada tidak tahapan yang