BAB VIII JENIS-JENIS STRATEGI PEMBELAJARAN
A. Strategi Pembelajaran Ekspositori
A.A.
A.A. Strategi Pembelajaran EkspositoriStrategi Pembelajaran EkspositoriStrategi Pembelajaran EkspositoriStrategi Pembelajaran EkspositoriStrategi Pembelajaran Ekspositori
I
stilah ekspositori berasal dari konsep eksposisi, yang berarti memberikan penjelasan. Dalam konteks pembelajaran eksposisi merupakan strategi yang dilakukan pendidik untuk mengatakan atau menjelaskan fakta-fakta, gagasan-gagasan, dan informasi-informasi penting lain kepada para peserta didik (Jarolimek dan Foster, 1981: 110-111). Menurut Sanjaya (2006: 177), strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang pendidik kepada sekolompok peserta didik dengan maksud agar peserta didik dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Strategi pembelajaran ekspositori cenderung menekankan penyampaian informasi yang bersumber dari buku teks, referensi atau pengalaman pribadi.Menurut Romiszowski (1984: 56), strategi pembelajaran ekspositori berlangsung melalui beberapa tahap sebagai berikut. Pertama, penyajian informasi. Penyajian informasi ini dapat dilakukan dengan ceramah, latihan, atau demonstrasi. Kedua, tes penguasaan dan penyajian ulang bila dipandang perlu. Ketiga, memberikan kesempatan penerapan dalam bentuk contoh dan soal, dengan jumlah dan tingkat kesulitan yang bertambah. Keempat, memberikan kesempatan penerapan informasi baru dalam situasi dan masalah sebenarnya.
Sementara itu, menurut Ausubel, sebelum penyajian pelajaran dalam strategi pembelajaran ekspositori digunakan advanced organizer (Tomei, 2004: 1). Advanced organizer adalah suatu pernyataan pendahuluan dengan menjelaskan skema keseluruhan organisasi pengetahuan atau materi yang akan disajikan.Suatu advanced organizer biasanya mencakup gagasan-gagasan dan konsep-konsep pokok dari pelajaran dan menunjukkan bagaimana
gagasan-gagasan dan konsep-konsep ini dihubungkan satu sama lain (Ormrod, 2000: 535).
Fungsi utama advance organizer adalah untuk menjembatani kesenjangan apa yang sudah diketahui peserta didik dengan apa yang peserta didik butuhkan untuk diketahui sebelum peserta didik dapat belajar tentang tugas-tugas yang ada dengan penuh makna. Hal ini sejalan dengan pendapat Ormrod (Ormrod, 2000: 535) yang menyatakan bahwa advance
orga-nizer berfungsi untuk memberikan dukungan bagi informasi baru dan
mengoptimalkan belajar.
Salah satu tujuan dari strategi pembelajaran ekspositori adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik (Ausubel, Novak, Hanesian, 1978: 171-172). Pengetahuan dan keterampilan yang dianggap penting untuk peserta didik seperti informasi-informasi yang berkaitan dengan sains, matematika, kajian sosial, kesehatan, keselamatan dan lain-lain sering dapat dilakukan secara efisien dan efektif dengan menggunakan strategi pembelajaran ekspositori. Di samping itu, strategi pembelajaran ini lebih tepat untuk menjelaskan hubungan antara beberapa konsep dan lebih sesuai untuk diterapkan pada peserta didik kelas lima dan kelas enam (Al Rasydin dan Nasution, 2015: 136-137).
Dalam strategi pembelajaran ekspositori pendidik merupakan sumber data yang penting dan sekaligus komponen penting dalam proses pembelajaran. Pendidik mengatur program belajar dan pendidik juga yang menentukan buku-buku dan materi-materi pembelajaran yang akan digunakan. Di samping itu, pendidik juga berperan dalam membimbing peserta didik untuk memperoleh jawaban yang benar sebagaimana yang dituntut dalam kurikulum. Pengarahan dan penjelasan pendidik dalam strategi pembelajaran ekspositori harus jelas sehingga bisa dipahami peserta didik. Pertanyaan dan penjelasan yang kurang jelas dapat membingungkan dan menghambat belajar peserta didik (Jarolimek dan Foster, 1981: 113-114).
Sementara itu, peserta didik dalam strategi pembelajaran ekspositori diharapkan dapat mencapai tuntutan-tuntutan belajar yang dibangun oleh pendidik. Tuntutan ini mencakup membaca materi, menjawab pertanyaan, dan menunjukkan keterampilan yang dianggap penting. Peserta didik dapat menjadi dan sering sangat aktif dalam pembelajaran ekspositori, tetapi aktivitas belajarnya diarahkan kepada pencapaian hasil yang telah ditetapkan sebelumnya (Jarolimek dan Foster, 1981: 114).
Menurut Jarolimek dan Foster (1981: 111-114), peserta didik memperoleh informasi dan keterampilan dari sumber-sumber pembelajaran yang digunakan, khususnya, materi-materi belajar yang disusun oleh pendidik, pengarang buku teks dan lain-lain. Beberapa sumber-sumber belajar standar yang dapat dan sering digunakan dalam strategi pembelajaran ekspositori adalah film, gambar, ensklopedia, perpustakaan, dan sumber-sumber masyarakat. Di samping itu, para peserta didik diharapkan telah siap secara mental untuk menerima apa yang diberikan pendidik atau mengikuti apa yang akan diprogramkan pendidik. Pendidik biasanya melaksanakan eksperimen dengan mendemonstrasikan sesuatu untuk menjelaskan konsep, prinsip, hukum, dan atau teori-teori tertentu. Misalnya, dalam pembelajaran IPA/ sains, pendidik biasanya menjelaskan suatu konsep atau hukum secara naratif melalui ceramah, kemudian membuktikan hukum itu melalui demonstrasi dan selanjutnya menjelaskan aplikasi dari hukum itu dalam kehidupan sehari-hari (Al Rasyidin dan Nasution, 2015: 137).
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam strategi pembelajaran ekspositori pendidik cenderung melakukan pengawasan proses pembelajaran dengan aktif, sementara peserta didik menerima dan mengikuti apa yang diprogramkan dan disajikan oleh pendidik.
Selanjutnya, strategi pembelajaran ekspositori merupakan proses pembelajaran yang lebih berpusat pada pendidik (teacher centered), pendidik menjadi sumber dan pemberi informasi utama (Jacobson, Eggen, dan Kauchack, 1989: 166). Dalam strategi pembelajaran ekspositori, media seperti video pendidikan dan alat bantu visual digunakan untuk mendukung penjelasan yang diberikan oleh pendidik. Alat bantu visual yang dapat digunakan dalam strategi pembelajaran ekspositori antara lain; contoh-contoh fisik, gambar-gambar, diagram, dan peta. Menurut Ormrod penambahan penjelasan verbal dengan alat bantu visual akan meningkatkan efektivitas penyimpanan informasi dalam memori jangka panjang dan memudahkan untuk men-dapatkannya kembali (Ormrod, 2000: 539).
Meskipun dalam strategi pembelajaran ekspositori digunakan metode selain ceramah dan dilengkapi atau didukung dengan penggunaan media, penekanannya tetap pada proses penerimaan pengetahuan (reception learning) bukan pada proses pencarian dan konstruksi pengetahuan (Al Rasyidin dan Nasution, 2015: 138).
Strategi pembelajaran ekspositori betapapun tidak mungkin ditinggalkan sama sekali dalam proses pembelajaran. Belajar menerima konsep-konsep
merupakan landasan bagi belajar pada tingkat tinggi, tanpa penguasaan konsep secara benar dan memadai tidak mungkin belajar penemuan (discovery) maupun penyelidikan (inquiry) (Carin and Sund, 1989: 4).
Strategi pembelajaran ekspositori memberikan dua keuntungan utama, yaitu dari segi waktu dan pengawasan. Melalui strategi pembelajaran ekspositori materi dapat cepat disampaikan dan diterima peserta didik. Lebih dari itu strategi pembelajaran ini relatif diperlukan dalam pembelajaran yang diikuti oleh jumlah peserta didik yang terlalu besar untuk dapat digunakan pendekatan yang lain (Al Rasyidin dan Nasution, 2015: 138).
Berdasarkan pendapat-pendapat para pakar pendidikan di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran ekspositori adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses deduksi. Strategi pembelajaran ini merupakan strategi yang sering atau biasa digunakan pendidik dalam praktek pembelajaran secara aktual dilapangan.
Tahapan pembelajaran dalam strategi pembelajaran ekspositori adalah sebagai berikut; (1) pada tahap pendahuluan pendidik menyampaikan pokok-pokok materi yang akan dibahas dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, peserta didik mendengarkan dan mencatat hal-hal yang dianggap penting, (2) pada tahap penyajian atas materi pendidik menyampaikan materi pembelajaran dengan ceramah dan tanya jawab, kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi untuk memperjelas materi yang disajikan dan diakhiri dengan penyampaian latihan, (3) pada tahap penutup pendidik melaksanakan evaluasi berupa tes dan kegiatan tindak lanjut seperti penugasan dalam rangka perbaikan dan pemantapan atau pendalaman materi (Al Rasyidin dan Nasution, 2015: 138-139).