• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Paparan Data dan Temuan Penelitian:

3. Strategi Pembinaan Keagamaan

Adapun strategi dalam pembinaan nilai-nilai keberagamaan di sekolah dapat dilakukan melalui:

a. Power strategy, yaitu strategi pembinaan agama di sekolah dengan cara menggunakan kekuasaaan atau melalui people’s power, dalam hal ini kepala sekolah dengan segala kekuasaannya sangat dominan dalam melakukan perubahan. 19 Ibid,. hal: 42 20 Ibid,. hal: 54

b. Persuasive strategy, yang dijalankan lewat pembentukan opini dan pandangan

masyarakat atau warga sekolah.

c. Normative re-education, norma adalah aturan masyarakat. Norma termasyarakatkan lewat edukasi. Normative digandengkan dengan

re-education (pendidikan ulang) untuk menanamkan dan mengganti

peradigma berpikir masyarakat sekolah yang lama dengan yang baru. Pada strategi yang pertama tersebut, dikembangkan melalui pendekatan perintah dan larangan atau reward and punishment. Sedangkan pada pendekatan kedua dan ketiga tersebut dapat dikembangkan melalui pembiasaan, keteladanan, dan pendekatan persuasive atau mengajak kepada warganya dengan cara yang halus, dengan memberikan alasan dan prospek baik yang bisa meyakinkan mereka.21

1) Bentuk-bentuk reward a) Pujian yang baik

Pujian yang baik ditujukan pada peserta didik yang berprestasi, akan memberi motivasi dan memperkuat semangatnya serta memberikan pengaruh yang baik bagi jiwanya. Akibatnya ia akan berusaha mempertahankan prestasinya dan rajin belajar.

b) Pemberian hadiah-hadiah material

Merupakan karakter seorang anak apabila ia senang mendapatkan hadiah materi yang disukainya. Pemberian hadiah

21

merupakan motivasi tersendiri bagianak untuk terus belajar agar mendapat hadiah.

c) Berdo’a

Medoakan murid dengan doa yang baik apabila ia dapat menjawab atau melakukan tugas dengan benar, sebab doa yang baik merupakan penyemangat bagi murid untuk terus berusaha menjadi lebih baik terutama doa tersebut diberikan oleh orang yang dihormatinya.

d) Papan prestasi

Adanya papan prestasi yang mencantumkan nama-nama anak yang berprestasidan diletakkan di tempat yang strategis di sekolah merupakan salah satu cara untuk memotivasi siswa agar selalu berusaha menjadi yang terbaik. Sebab termuatnya nama siswa di papan prestasi merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi siswa e) Tepuk tangan

Siswa akan senang ketika seorang guru memberikan applous (tepuk tangan) untuknya dan diikuti oleh teman atau siswa lainnya bertepuk tangan. Hal tersebut merupakan sebuah semangat sekaligus penghargaan untuknya

f) Memberi pesan

Seorang guru memberikan pesan kepada siswa lainnya atau guru-guru lain dalam suatu forum tentang keberhasilan siswa yang berprestasi agar menjadi teladan bagi yang lain

g) Persahabatan

Siswa yang berprestasi biasanya dikenal di kalangan guru, sehingga ia pun sering dipanggil oleh guru baik untuk dimintai bantuan ataupun untuk diajakdiskusi. Dengan demikian ia merasa senang .

2) Bentuk-bentuk Punishment

a) Menesehati dan memberi arahan

Siswa yang melakukan kesalahan, handaknya dinasehati terlebih dahulu dan diberikan arahan yang baik sebelum memberikan sangsi-sangsi lain yang lebih berat.

b) Bermuka masam

Seorang guru dapat kadang-kadang menunjukkan muka masam di hadapan siswa ketika terjadi kegaduhan yang menghambat proses belajar mengajar. Hal ini dilakukan, agar siswa menjadi takut dan sadar hingga akhirnya suasana menjadi terkontrol dan terkondisikan.

c) Membentak

Membentak dilakukan guru apabila dalam keadaan terpaksa untuk menakut-nakuti atau menyadarkan siswa agar tidak melakukan atau mengulangi kesalahannya.

d) Melarang melakukan sesuatu

Pada saat menjelaskan pelajaran, guru melarang peserta didiknya untuk melakukan sesuatu yang bisa menghambat proses

belajar mengajar, seperti tidur, bermain, melamun, mengganggu temannya, dan sebagainya.22

Dengan adanya punishment seperti diatas diharapkan siswa lebih tertib dan taat pada saat kegiatan, dan guru juga memberikan hal-hal yang berbeda dalam mengajar agar tidak monoton sehingga siswa tidak jenuh dan merasa bosan.

Adapun Model adalah pola (contoh, acuan, ragam) dari sesuatu akan dibuat atau dihasilkan yang dianggap benar, tetapi bersifat kondisional. Oleh karena itu model pembinaan keagamaan sama dengan penciptaan suasana religius yang sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi tempat model itu akan diterapkan beserta penerapan nilai-nilai yang mendasarinya.23 Ada 4 model penciptaan suasana religius/agamis di sekolah.

a. Model Struktural

Penciptaan suasana religius dengan model struktural, yaitu suasana penciptaan suasana religius yang disemangati oleh adanya peraturan-peraturan-peraturan, pembangunan kesan, baik dari dunia luar atas kepemimpinan atau kebijakan suatu lembaga pendidikan atau suatu oragnisasi. Model ini biasanya bersifat “top down”, yakni kegiatan keagamaan yang dibuat atas prakarsa atau instruksi dari pejabat atau pimpinan atasan.24

22

Muhammad bin Jamil Zainul, Solusi Pendidikan Anak Masa Kini, (Jakarta: Mustaqiim, 2002), hal: 26-31

23

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2008), hal: 305

24

Pengembangan dari model ini yaitu sekolah dalam hal ini di prakarsai oleh para pemimpinnya seperti para kepala sekolah dan guru menentukan kegiatan keagamaan yang dicantumkan dalam program harian, mingguan, bulanan atau tahunan. Untuk kegiatan keagamaan biasanya berada di bawah susunan program kegiatan waka kesiswaan, yang nantinya diteruskan pada program kerja OSIS, misalnya sie Kerohanian Islam, dan lain sebagainya.

b. Model Fungsional

Model Fungsional dalam penciptaan suasana religius yaitu didasari dengan pemahaman bahwa pendidikan agama maupun penciptaan suasana religius di sekolah bukan semata-mata tanggung jawab pimpinan atau guru agama saja, melainkan menjadi tugas separuh elemen yang ada di sekolah, baik kepala sekolah, guru agama islam. Sekolah merupakan kesatuan fungsional dari bagian masing-masing yang mempunyai tugas dan fungsi masing-masing, namun setiap bagian itu mempunyai kewajiban yang sama dalam mencapai satu tujuan bersama.

Hal ini sebagaimana di ungkapkan oleh Muhaimin dalam bukunya yang berjudul “Nuansa Baru Pendidikan Islam” sebagai berikut:

“ Terdapat Perubahan baru dalam paradigma pendidikan agama di sekolah, yaitu pendidikan agama bukan hanya menjadi tugas guru saja, tetapi merupakan tugas bersama antara kepala sekolah, guru agama, guru umum serta seluruh warga sekolah dan orang tua siswa. Hal ini di dasarkan atas

undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional”.25

c. Model Mekanik

Model mekanik dalam penciptaan suasana religius adalah penciptaan suasana religius yang didasari oleh pemahaman bahwa kehidupan terdiri dari beberapa aspek dan pendidikan di pandang sebagai penanaman dan pengembangan seperangkat nilai kehidupan, yang masing-masing berjalan dan bergerak sesuai fungsinya. Masing-masing-masing gerak bagaikan sebuah mesin yang terdiri atas beberapa komponen atau elemen– elemen, yang masing-masing menjalankan fungsinya sendiri-sendiri, dan antara satu dengan yang lain bisa saling berkonsultasi atau tidak dapat berkonsultasi.

Model mekanik tersebut berimplikasi terhadap terhadap pengembangan pendidikan agama yang lebih menonjolkan fungsi moral dan spiritual atau dimensi afektif dari pada kognitif dan psikomotor. Artinya dimensi kognitif dan psikomotor di arahkan untuk pembinaan afektif (moral dan spiritual), yang berbeda dengan mata pelajaran lainya (kegiatan dan kajian-kajian keagamaan hanya untuk pendalaman agama dan kegiatan spiritual).

d. Model Organik

Penciptaan suasana religius dengan model organik, yaitu penciptaan suasana religius yang disemangati oleh adanya pandangan bahwa

25

Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hal: 129

pendidikan agama adalah kesatuan atau sebagai sistem (yang terdiri atas komponen-komponen yang rumit) yang berusaha untuk mengembangkan pandangan/semangat hidup agamis, yang di manifestasikan dalam sikap hidup dan ketrampilan hidup yang religius.

Model penciptaan suasana religius organik tersebut tersebut berimplikasi terhadap pengembangan pendidikan agama yang dibangun dari

fundamental doctrins dan fundamental values yang tertuang dan terkandung

dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah shahihah sebagai sumber pokok. Kemudian bersedia dan mengambil kontribusi pemikiran para ahli dan mempertimbangkan konteks historisitasnya. Karena itu nilai-nilai ilahi/agama/wahyu didudukan sebagai sumber konsultasi yang bijak, sementara aspek-aspek kehidupan lainya didudukan sebagai nilai-nilai insani yang mempunyai relasi horizontal-lateral atau lateral-sekuensial, tetapi harus berhubungan vertical-linear dengan nilai ilahi/agama.