• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA

5.5. Strategi Pengembangan Kewirausahaan

Strategi pengembangan kewirausahaan meliputi menumbuh kembangkan jiwa kewirausahan, serta membuka ruang dan kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk menggali sumber pendapatan. Kemampuan tiap pegawai memberikan kontribusi penuh pada keberhasilan dalam upaya meningkatkan

kualitas pelayanan publik serta memiliki jiwa untuk wirausaha dalam mengembangkan instansi untuk menjadikan pelayanan yang tanggap dan mendorong upaya mengefektifkan pelayanan yang dapat diselenggarakan secara berdaya guna dan berhasil guna.

Oleh karena itu akan terciptanya kepuasan masyarakat dapat memberikan berbagai manfaat, diantaranya hubungan antara masyarakat dan pemberi layanan menjadi baik, sehingga memberikan dasar yang baik bagi terciptanya loyalitas masyarakat terhadap pelayananya dan mampu membangun pengembangan lembaga pelayanan agar nilai dan kualitas yang diinginkan masyarakat terwujud, saling menguntungkan satu sama lain demi terlaksananya program yang dijalankan.

Untuk meningkatkan sumber daya dari segi kualitas, para pegawai KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan aktif mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) yang diselenggarakan oleh Pemerintah. BPPT Kota Medan selalu mengikutsertakan para pegawainya secara bergantian untuk mengikuti kegiatan diklat yang bertujuan agar para pegawai KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan memiliki pengetahuan dan kemampuan yang semakin baik dalam melaksanakan pelayanan perijinan bagi masyarakat Kabupaten Humbang Hasundutan. Kegiatan diklat memang cukup membantu para aparatur pelayanan publik untuk meningkatkan kualitas dirinya masing-masing. Namun, jika kesempatan diklat tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya maka peningkatan kualitas dari aparatur tidak akan terpenuhi. Dalam konteks mengimplementasikan strategi dibutuhkan tenaga-tenaga implementor dengan kapabilitas yang baik,

tujuannya agar strategi yang sudah diciptakan sedemikian rupa dapat terlaksana secara maksimal dan mampu mencapai tujuan yang diharapkan.

Dalam meningkatkan partisipasi mmasyarakat dalam penerbitan perizinan KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan melakukan program “jemput bola” yaitu sutau program untuk menjangkau masyrakat yang berada didaerah yang memiliki jarak yang cukup jauh dengan KPPT. Program ini dilaksanakan sejak awal tahun 2015 yang kegitannya tidak han ya sosialisasi, tetapi juga memberikan akses bagi masyarakat di 10 Kecamatan Humbang Hasundutan untuk melakukan proses pengurusan perizinan didaerah masing-masing sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.

Pelaksanaan strategi sosialisasi terbukti cukup mampu meningkatkan kualitas pelayanan perijinan yang diselenggarakan KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan, dimana hal tersebut mampu meningkatkan respon masyarakat Kabupaten Humbang Hasundutan terhadap pelayanan perijinan yang diselenggarakan oleh KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan yang terlihat dari semakin banyaknya masyarakat Kabupaten Humbang Hasundutan yang telah datang ke KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan Medan untuk mengurus perijinan. Strategi sosialisasi yang dilaksanakan KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan berjalan dengan cukup baik karena dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung adanya brosur dan buku panduan yang berisikan prosedur dan syarat-syarat mengenai perijinan yang ditangani KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan, dan tersedianya website guna memudahkan seluruh masyarakat Kota Medan untuk dapat mengakses informasi mengenai pelayanan perijinan yang diselenggarakan oleh BPPT Kota Medan.

2013 2014 2015

Perizinan 639 636 1007

Non Perizinan 249 160 203

Jumlah 888 796 1210

Table1.3 Rekapitulasi penerbitan izin di Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Humbang Hasundutan

Dari table diatas terlihat adanya peningkatan jumlah izin yang dikeluarkan oleh KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan pada tahun 2015. Pada tahun 2015 merupakan awal diterapkannya strategi jemput bola di KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan. Hal ini menandai keberhasilan KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perizinan. Dengan adanya peningkatan jumlah izin yang dikeluarkan tentu akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan yang bersumber dari retribusi penerbitan izin dan pajak, meskipun retribusi tidak terlalu banyak menghasilakan pendapatan dikarenakan kebanyakan penerbitan izin bersifat gratis.

BAB VI

PENUTUP

6.1.Kesimpulan

Berdasarkan penelitian dan pengamatan yang dilakukan penulis, maka dapat disimpulkan bahwa:

1) Dalam strategi pengembangan struktur organisasi, KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan menerapkan struktur organisasi yang cukup sederhana, yang terdiri dari Kepala Kantor, Kepala Sub Bagian Tatausaha, Kepala Seksi Perizinan dan Non Perizinan, Kepala Seksi Sosialisasi dan Standarisasi, Kepala Seksi Evaluasi dan Monitoring, dan Tim Teknis dari SKPD/Dinas lain. Dengan struktur organisasi yang sederhanan KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan dapat menjalankan setiap program dan strategi yang telah ditetapkan dengan lebih efektif dan efisien. Dengan struktur organisasi yang sederhana setiap pelaksanaan program dan orang yang terlibat dalam program dapat lebih mudah dikoordinir dan diawasi. Dalam melakukan koordinasi dengan Dinas lain, KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan mengalami beberapa kendala diantaranya, kurang tepatnya waktu antara tim teknis Dinas terkait dengan Tim tekni KPPT, dan adanya tugas yang lebih penting yang harus dikerjakan dinas terkait. Sehingga hal ini memiliki dampak pada lamanya proses penerbitan izin. 2) Dalam strategi pengembangan dan penyederhanaan prosedur, KPPT

Kabupaten Humbang Hasundutan mengeluarkan SOP yang disesuaikan dengan kemampuan masyarkat sesuai yang diamanatkan dalam peraturan.

Selalu dikembangkannya peraturan tentang penyederhanaan prosedur pelayanan agar masyarakat tidak merasa terbebani dalam mengurus perizinan. Standard Operational Procedure (SOP) KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan diatur dalam Keputsan Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Humbang Hasundutan No. 6 Tahun 2015. Alur pengurusan perizinan yang sangat sederhana dan persyaratan yang sederhana bertujuan untuk membuat proses pelayanan perizinan menjadi lebih efektif, efisien, tidak kaku dan berbelit.

3) Dalam pengembangan infrastruktur, KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan memiliki Gedung Kantor yang terletak di Jl. Merdeka Dolok Sanggul, memiliki kendaraan dinas, memiliki ruang tunggu yang nyaman dan rapi yang dilengkapi dengan kursi, telivisi, kamar mandi yang dapat digunakan para pemohon, serta perlengkapan kantor lainnya yang menunjang pelayanan perizinan. Dalam memberikan informasi kepada masyarakat, KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan menyediakan brosur, spanduk yang berisi persyaratan pengurusan izin, dan juga melakukan kerja sama dengan salah satu Radio di daerah tersebut. Dalam pemanfaatan teknologi, KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan belum maksimal hal ini ditandai dengan belum adanya jaringan internet yang terintegrasi, dan belum diterapkannya pengurusan izin secara online . 4) Proses komunikasi dan kerjasama yang terjalin diantara para pegawai di

KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan sudah terjalin dengan baik. Semua pegawai terlibat dalam perumusan dan pelaksanaan program dan kegiatan yang telah ditetapkan. Untuk menjaga kestabilan dan

kekondusifan setiap kegiatan di KPPT, Kepala Kantor selalu memberikan arahan setiap apel pagi agar para pegawai selalu memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Dilaksanakan evaluasi secara rutin dan rapat rutin untuk memperbaiki kinerja para pegawai. KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan menjalankan setiap program sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5) Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan kepada setiap pegawainya. Hal ini bertujuan agar pegawai KPPT memiliki kemampuan dan pengatahuan yang semakin baik dalam memberikan pelayanan perizinan kepada masyarakat. Kegiatan ini cukup membantu para pegawai untuk meningkatkan kualitas dirinya, sehingga setiap program dan kegiatan yang telah ditetapkan dapat berjalan secara maksimal dan mampu mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk meningkatkan partisipasi dan pelayanan kepada masyarakat, KPPT menerapkan strategi Jemput Bola sejak tahun 2015. Strategi ini cukup mampu meningkatkan jumlah perizinan yang diterbitkan. Dengan demikian maka hal ini dapat meningkatkan PAD yang bersumber dari pajak dan retribusi setiap izin yang diterbitkan.

6.2.Saran

Adapun saran dari penulis adalah sebagai berikut:

1. Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan sebaiknya mendelegasikan semua wewenang urusan penerbitan perizinan kepada KPPT, dengan kata lain mengembangkan KPPT menjadi pelayanan terpadu satu atap sesuai dengan program pemerintah pusat.

2. Membuat inovasi program yang baru untuk meningkatkan dan memudahkan masyarakat dalam pengurusan perizinan. Segera menerapkan system pelayanan perizinan online sehingga pengurusan perizinan lebih mudah dan cepat, serta praktis.

3. Bagi masyarakat Humbang Hasundutan agar mengurus sertifikat izin usahanya. Sertifikat izin usaha sangat bermanfaat terhadap keamanan, ketertiban, dan legalitas usaha anda. Dengan mengurus sertifikat izin kita turut memajukan daerah Humbang Hasundutan karena dapat meningkatkan pendapatan Kabupaten Humbang Hasundutan. Segeralah urus izin usaha anda di KPPT Kabupaten Humbang Hasundutan, kerena persyaratannya tidak susah, pelayanannya bagus, dan biayanya sangat terjangkau.

BAB II

METODE PENELITIAN

2.1. Jenis Metode Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Moleong (2006:3) penelitian deskriptif kualitatif yakni sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati, yang diarahakan untuk menjelaskan hal-hal atau masalah yang terjadi dan digambarkan sesuai dengan fokus masalah penelitian. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mengungkap informasi dan pemahaman mendalam terhadap masalah proses dan makna dengan mendeskripsikan suatu masalah. Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu untuk menggambarkan kenyataan dari kejadian yang diteliti (Sugiyono, 2011:11). Menurut Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2006:3), penelitian kualitatif merupakan tradisi tertentu dalam penelitian sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.

2.2. Lokasi Penelitian

Untuk memperoleh data sebagai bahan penelitian ini, maka penulis akan melakukan penelitian di Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Humbang Hasundutan, Jl. Merdeka, Dolok Sanggul.

2.3. Informan Penelitian

Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitiannya.Oleh karena itu, didalam penelitian kualitatif tidak dikenal dengan adanya teknik penentuan populasi dan sampel. Informan penelitian adalah subjek yang memahami informasi objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami objek penelitian (Bungin, 2007:76). Adapun informan penelitian menurut Moleong (2006:3) adalah sebagai berikut :

1. Informan kunci, yaitu mereka yang tidak hanya bisa memberikan keterangan tentang sesuatu kepada peneliti, tetapi juga dapat memberikan saran tentang sumber bukti yang mendukung serta menciptakan sesuatu terhadap sumber yang bersangkutan. Adapun informan kunci dalam penelitian ini adalah Kepala Kantor Bapak Drs. Jamilin Purba, M.M.

2. Informan utama adalah mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Adapun informan utama adalah Kepala seksi Pelayanan perizinan dan non perizinan bapak Indra Marlina Tambunan S.Sos, Kepala Seksi Monitoring dan Evaluasi Bapak Iwan F Manalu, S.H, dan Kepala Seksi Standarisasi dan Sosialisasi Bapak Sunaryo Sinaga, S.T.

2.4. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini diperluka data atau keterangan dan informasi. Untuk itu peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

1. Teknik pengumpulan data primer

Teknik pengumpulan data primer, yaitu teknik pengumpulan data yang diperoleh langsung dari lokasi penelitian untuk mencari data yag lengkap dan berkaitan dengan masalah yang diteliti. Pengumpulan data primer tersebut dapat dilakuakan dengan cara berikut :

a. Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan langsung pada pihak yang terkait dengan suatu tujuan untuk memperoleh informasi.

b. Observasi, yaitu pengamatan mendalam secara langsung suatu kegiatan yang sedang dilakukan. Melalui observasi peneliti dapat memperoleh pandangan mengenai apa yang sebenarnya dilakukan dan melihat langsung keterkaitan yang terdapat didalamnya dan kemudian mencatat gejala-gejala yang ditemukan dilapangan untuk melengkapi data-data yang diperlukan sebagai acuan yang berkenaan dengan topik.

2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder

Teknik pengumpulan data sekunder adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui pengumpulan kepustakaan yang dapat mendukung data primer. Teknik pengumpulan data sekunder dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen sebagai berikut (Saifuddin Azwar,2004:91) :

a. Penelitian kepustakaan, yaitu cara untuk mengumpulkan data dengan menggunakan dan mempelajari literatur buku-buku kepustakaan yang ada untuk mencarikonsepsi-konsepsi dan teori-teori yang

beruhubungan dengan permasalahan. Studi kepustakaan bersumber dari laporan-laporan, dokumen-dokumen yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.

b. Dokumentasi, yaitu cara yang digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, skripsi, buku, surat kabar dan majalah.

2.5.Teknik Analisi Data

Dalam penelitian initeknik analisi data dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, data yang diperoleh akan diorganisasikan dan diurutkan kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga ditemukan uraian tentang permasalahan yang diteliti. Data yang diperoleh dan teknik yang diperoleh dari teknik wawancara akan dilakuakan analisis model interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman didalam Sugiyono (2009:246) yang terdiri dari tiga komponen analisis, yaiu :

1. Reduksi Data

Reduksi data dilakuakn dengan cara merangkum dan memfokuskan hal- hal yang terpenting tentang penelitian dengan mencari tema dan pola hingga memberikan gambaran yang lebih jelas serta mempermudah peneliti untuk melakuakan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data.Dalam penelitian kualitatif, penyajian dat bisa saja dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan dan hubungan antar kategori. Dengan menyajiakan data maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi.

3. Penarikan Kesimpulan

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif merupakan temuan baruyang sebelumnya belum pernah ada. Temuan baru deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi lebih jelas, dapat berupa kausal atau interaktif, atau teori.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah dapat mendekatkan dan memberikan pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Perbaikan pelayanan itu dapat terus membaik apabila pemerintahan dijalankan secara terbuka, akuntabel, dan memberi ruang partisipasi bagi masyarakat. Hal ini sesuai dengan amanat yang terdapat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik yang menyebutkan bahwa “Negara berkewajiban melayani setiap warga negara dan penduduk untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan publik”. Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa negara mempunyai kewajiban dalam memenuhi hak dan pelayanan kebutuhan dasar masyarakatnya misalnya dalam hal kesehatan, pendidikan dasar dan bahan kebutuhan pokok (Hardiyansyah, 2011:20).

Selain masalah infrastruktur, masalah perizinan usaha juga merupakan aspek yang menentukan bagi kondusifitas iklim usaha di daerah. Dalam aspek perizinan usaha, ternyata otonomi daerah belum secara signifikan memperbaiki kualitas pelayanan dalam bidang perizinan usaha. Bahkan ada kecenderungan pasca penerapan otonomi daerah jumlah biayanya meningkat. Tingginya biaya perizinan tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan. Banyak pelaku usaha yang mengeluh karena kecewa terhadap kualitas pelayanan yang diberikan oleh birokrasi perizinan, seperti tidak adanya transparansi biaya dan prosedur

yang berbelit, tingginya biaya yang harus dikeluarkan, sampai diskriminasi terhadap golongan tertentu (Adrian Sutedi, 2011:49).

Berdasarkan hasil penelitian dari Dewi Puspita Sari Darman (2015) yang berjudul “Inovasi Pelayanan Perizinan Dalam Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu Di Kota Makassar” mengatakan bahwa pelayanan perizinan masih banyak mengalami hambatan-hambatan karena masih belum dapat memuaskan pelanggan, hal ini disebabkan karena kualitas kinerja aparat pelayanan perizinan belum optimal, kurang sederhananya prosedur pelayanan, lamanya proses pengurusan izin, dan biaya yang dianggap masyarakat masih mahal serta ditambah lagi pejabat yang berwenang menandatangani berkas kadang-kadang tidak berada ditempat ketika mengurus perizinan, sikap yang dimiliki oleh aparat yang mementingkan prosedur (aturan) daripada substansi pelayanan, sehingga aparat birokrasi garis depan belum nampak ke arah profesionalisme.

Hal ini yang kadang kala dalam menjalankan Otonomi Daerah tidak pernah berhasil, karena adanya pelaku birokrasi yang tidak mengutamakan kulitas dalam pelayanan publik, terlebih khusus untuk pemberian izin mendirikan usaha. Ada tiga level pembahasan dalam kerangka meningkatkan pelayanan publik, pertama kebijakan (peraturan perundang-undangan), apakah kebijakan dalam pemberian pelayanan publik sudah benar-benar ditujukan untuk kepentingan masyarakat; kedua, kelembagaan, apakah lembaga-lembaga yang dibentuk pemerintah daerah sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau hanya berdasar pada kebutuhan eksistensi lembaga-lembaga di daerah agar tidak dilakukan likuidasi lembaganya termasuk juga kepentingan-kepentingan politis yang sangat kental

terutama ketika masuk dalam pembahasan di tingkat legislatif; ketiga, sumber daya manusia, apakah sumber daya manusia yang memberikan pelayanan juga memerlukan kecakapan-kecakapan tertentu, karena saat ini telah terjadi berbagai perubahan dimana masyarakat juga memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik, maka administrasi negara tidak bisa bertindak hanya berdasar pada perintah atasan, namun tuntutan masyarakat juga menjadi bagian penting. Sebenarnya jika pelayanan publik di Indonesia khususnya bidang perizinan bisa berjalan sesuai Undang-Undang yang berlaku maka dapat menunjang perekonomian di Negara Indonesia sendiri.

Salah satu tujuan dari pemberian perizinan adalah sebagai sumber pendapatan daerah. Dengan adanya permintaan permohonan izin, maka secara langsung pendapatan pemerintah akan bertambah karena setiap izin yang dikelurkan pemohon harus membayar retribusi terlebih dahulu. Semakin banyak pula pendapatan dibidang retribusi tujuan akhirnya yaitu untuk membiayai pembangunan (Adrian Sutedi, 2011:200). Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah, yang bertujuan untuk memberikan keleluasaan kepada daerah dalam menggali pendanaan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas desentralisasi. Pendapatan asli daerah (PAD) digunakan untuk membiayai segala kegiatan dan program yang telah dibuat oleh pemerintah daerah tersebut. PAD juga digunakan untuk membangun sarana dan prasarana diberbagai sektor, dan sebesar-besarnya digunakan untuk menciptakan kesejahteraan rakyat.

Yang menjadi fokus penelitian adalah menyangkut strategi birokrasi dalam Pelayanan Perizinan Terpadu di Kabupaten Humbang Hasundutan. Pelayanan ini merupakan salah satu penopang dan pendukung dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah, dalam hal ini ada pemasukan keuangan daerah dalam hal ini adalah pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor perizinan. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk mengefektifkan sumber-sumber pendapatan asli daerah untuk meningkatkan penerimaan daerah. Dengan berasumsi bahwa strategi peningkatan kualitas pelayanan dalam pelayanan perizinan yang baik dan memuaskan masyarakat akan berdampak terhadap peningkatan penerimaan Pendapatan Asli Daerah. Asumsi tersebut senada dengan yang diungkapkan Nawawi, (2003) bahwa pelayanan yang berkualitas akan menjadi nilai tambah, seperti rasa puas dan kesediaan masyarakat yang dilayani untuk mengikuti ketentuan dan peraturan yang berlaku.

Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Humbang Hasundutan memiliki visi “terwujudnya pelayanan perizinan dan non perizinan yang proaktif terhadap kepentingan masyarakat menuju daerah yang mandiri dan sejahtera”, yang selanjutnya dijabarkan melalui misi sebagai berikut:

1. Mendekatkan kepada pelayanan prima dengan penyederhanaan pelayanan perizinan

2. Meningkatkan ketersediaan data informasi di bidang perizinan dan non perizinan.

3. Meningkatkan pelayanan perizinan dan non perizinan dalam rangka peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).

Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Humbang Hasundutan memproses sebanyak 33 jenis perizinan. Hal ini merupakan sumber pendapatan yang sangat potensial dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Humbang Hasundutan. Retribusi perizinan merupakan potensi yang cukup besar dalam penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi suatu kabupaten/kota apabila retribusi tersebut dimaksimalkan dalam pengelolaannya. Disini dibutuhkan strategi pemerintah daerah dalam hal ini Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Humbang Hasundutan untuk menggali dan mengakselarasi potensi tersebut. Pada tahun 2013 pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Humbang Hasundutan dari Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu hanya terealisasi sebesar Rp38.138.360 dari target PAD sebesar Rp164 juta. Pada tahun 2015 PAD Kabupaten Humbang Hasundutan tidak mencapai target, hanya 24,12 miliar yang terealisasi dari Rp 27,75 miliar target. Sejumlah SKPD gagal mencapai target yang telah ditentukan, seperti dinas peternakan, dinas perhubungan, termasuk di dalamnya Kantor Pelayanan Terpadu Kabupaten Humbang Hasundutan. Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KPPT) Kabupaten Humbang Hasundutan hanya memperoleh penerimaan dari retribusi izin penjualan minuman keras (minuman beralkohol) dengan target yang diminta Rp3 juta, terealisasi Rp500 ribu dan, retribusi izin gangguan dari target ditentukan Rp100 juta terealisasi sebesar Rp253,86 juta. Berdasarkan data diatas, terlihat bahwa Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Humbang Hasundutan kurang mampu memaksimalkan penerimaan dari perizinan. Data diatas juga

menunjukkan bahwa dari 33 jenis perizinan yang menjadi wewenang Kantor Pelayanan Terpadu Kabupaten Humbang Hasundutan, KPPT hanya menerima retribusi dari 2 jenis perizinan saja.

19:05).

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana strategi peningkatan kualitas pelayanan di Kabupaten Humbang Hasundutan. Adapun judul penelitian ini adalah “Strategi Peningkatan Kualitas Pelayanan Perizinan dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Humbang Hasundutan”.

1.2. Rumusan Masalah

Arikunto (1993) menguraikan agar suatu penelitian dapat dilaksanaka dengan sebaik-baiknya, maka penulis harus merumuskan maslahnya sehinggga jelas dari mana harus memulai, kemana harus pergi, dan dengan apa is melakukan penelitian. Kemena ia harus pergi dan dengan apa ia melakukan penelitian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pentingnya perumusan masalah agar diketahui tukuan penelitian. Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan sebelumnya, maka pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah “bagaimana strategi peningkatan kualitas pelayanan perizinan dalam meningkatkan pendapatan asli daerah di Kabupaten Humbang Hasundutan”.

1.3.Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi peningkatan kualitas pelayanan perizinan di Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu dalam meningkatkan pendapatan asli daerah di Kabupaten Humbang

Dokumen terkait