• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PENGEMBANGAN LAHAN GAMBUT MASA KINI

Teguh Budi Prasetyo

III. STRATEGI PENGEMBANGAN LAHAN GAMBUT MASA KINI

Strategi pengembangan lahan gambut yang telah banyak dilakukan meliputi beberapa upaya perbaikan untuk mengatasi permasalahan di atas yaitu: (1) pencucian bahan-bahan meracun, (2) pengapuran dan penambahan bahan mineral, (3) pemberian unsur hara makro dan unsur hara mikro dan (4) penggunaan jenis dan varietas tanaman yang toleran terhadap kemasaman tanah yang tinggi.

Pencucian pada tanah gambut dimaksudkan untuk mencuci bahan-bahan meracun tanaman seperti Cl, sulfat dan asam-asam organik terutama asam karboksilat dan fenolat. Pencucian merupakan salah satu usaha untuk mereklamasi tanah gambut di beberapa negara dan menunjukkan hasil dan kualitas air untuk mencuci. Pencucian yang terus menerus dengan air segar maupun air sungai dapat menurunkan kandungan sulfat, Cl, dan asam-asam karboksilat dan fenolat (Drissen & Suhardjo, 1976; Prasetyo, 1989). Namun pencucian yang berlebihan pada tanah gambut melalui pembuatan saluran-saluran drainase harus dihindarkan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya penurunan permukaan tanah atau subdensi yang berlebihan dan terungkapnya lapisan sulfat masam bila terdapat di bawahnya. Dengan terungkapnya lapisan sulfat masam tersebut menyebabkan terjadinya oksidasi pirit, sehingga kemasaman, kandungan Fe-bebas dan sulfat meningkat, yang dapat menyebabkan tanaman menderita keracunan. Sehingga untuk mengatasinya masalah ini dapat dilakukan dengan membatasi oksidasi pirit dan menetralisir kemasaman dengan mempertahankan muka air tanah setinggi mungkin. Rekomendasi untuk tanah berketebalan gambut di atas 100 cm yang di bawahnya terdapat lapisan sulfat masam, muka air tanah

133

sebaiknya tidak boleh turun lebih rendah dari 60-80 cm dari muka tanah, agar lapisan sulfat masamnya tetap jenuh air (Gayasih, 1977). Sedangkan hasil penelitian di Lunang dan Siak menunjukkan produksi jagung dan kedelai tertinggi pada tanah gambut masing-masing diperoleh pada kedalaman muka air tanah 20 cm dan 32 cm (Ahmad, 1986).

Upaya pengapuran dan pencampuran bahan mineral lebih ditujukan untuk mencapai pH ideal tanah gambut (5.0-5.5) dan kejenuhan basa (KB) kritis bagi kebanyakan tanaman (30 %). Dari penelitian pengaruh penggunaan abu gambut, pasir kuarsa, tanah mineral ber-KTK rendah, Ca-silikat, kalsit dan dolomit yang dicampur ke dalam tanah gambut terhadap tanaman padi, jagung, kedelai, kacang tanah dan berbagai sayur-sayuran diperoleh hasil bahwa persen KB terbaik diperoleh dengan pemberian abu gambut dan dolomit, yang menghasilkan produksi terbaik. Tetapi dari segi penerapan dan efisiensi yang lebih lama, maka pencampuran tanah ber-KTK rendah dan dolomit terlihat merupakan cara paling baik (Soepardi et al., 1987). Halim & Soepardi (1987) memperoleh produksi maksimum kedelai pada perlakuan 8 ton tanah mineral ber-KTK rendah, 3 ton kapur, dan 80 kg FeSO4/ha dengan pupuk dasar N, P, K, Mn, Zn dan Cu, yang semuanya dicampur ke dalam tanah gambut hingga kedalaman 20 cm. Sedangkan hasil penelitian Taryo & Bachtiar (1987) memperlihatkan bahwa pemberian kapur secara berlebihan mempunyai pengaruh yang merugikan, karena dapat mendorong pelindian hara N, K, dan Mg. Pada pemberian 100 g CaCO3/kg bahan gambut setara kering mutlak dengan pupuk dasar 46 mg N, 25 mg K dan 8 mg Mg/kg gambut terjadi peningkatan pencucian N dari 30 menjadi 205, mg K dari 12 menjadi 188 mg dan Mg dari 2 menjadi 32 mg/kg gambut setara kering mutlak.

Adapun cara untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara makro dan mikro di dalam tanah gambut adalah dengan cara pemupukan. Penelitian tentang pengaruh pupuk N, P, K, Ca, Mg, Zn, Mo, Si dan Cu terhadap padi sawah pada tanah gambut (Troposaprist) dari Karang Agung Sumatera Selatan menunjukkan bahwa pemberian Cu dan Ca mempunyai respon nyata dan respon terendah diperoleh

134

pada perlakuan N (Ardi & Adhi, 1987). Penelitian lain menunjukkan bahwa pada gambut dalam (200 cm), tanpa pemupukan, padi tidak dapat tumbuh. Kapur (Ca), unsur mikro (Cu dan Zn) dan unsur N, P, dan Mg merupakan unsur-unsur hara yang perlu ditambahkan pada gambut tersebut (Kosasih et al., 1989). Demikian juga dengan tanaman jagung dan kedelai, dimana dengan pengapuran dan pemupukan yang cukup dapat tumbuh dengan baik pada tanah gambut di daerah Karang Agung. Jagung varietas Arjuna dengan pemberian 500 kg

dolomit, 90 kg K2O, 5 kg CuSO4 dan 10 kg ZnSO4 dapat menghasilkan

4.47 ton/ha pipilan kering. Sedangkan tanaman kedelai dengan pemberian 1 ton dolomit, 22.5 kg N, 30 kg P, 2.5 kg ZnSO4 dan CuSO4/ha dapat menghasilkan 1.8 ton/ha (Asikin et al., 1992). Dari hasil penelitian ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pemupukan N, P, K dan unsur mikro yang dibarengi dengan pemberian kapur pada tanah gambut untuk memperoleh hasil yang memuaskan mutlak dilakukan.

Pemanfaatan lahan gambut dalam kenyataan cukup banyak diusahakan pada gambut yang dalam. Mengingat batas kritis ketebalan lapisan gambut adalah 150 cm, maka pembakaran gambut untuk pertanian sebaiknya hanya dilakukan pada tanah gambut yang berketebalan gambut lebih dari 150 cm. Pembakaran gambut tersebut harus dilakukan secara terkontrol dan dilokalisir dalam areal yang sempit, sehingga kebakaran lahan yang meluas dapat dihindari. Pengaruh abu gambut yang dikombinasi dengan pupuk-pupuk organik dapat meningkatkan hasil tanaman pangan, sayur-sayuran dan buah-buahan. Namun karena pengaruh abu gambut terhadap perbaikan kesuburan tanah hanya bersifat sementara, maka abu gambut ini hanya baik untuk tanaman semusim dan kurang baik untuk tanaman tahunan (Rachman & Sudarmo, 1987). Sedangkan pemanfaatan pada gambut tipis maka upaya pengawetan gambut diperlukan agar lapisan sulfat masam yang terletak di bawahnya tidak muncul ke permukaan atau setidaknya tidak terjangkau oleh perakaran tanaman dan tidak teroksidasi secara insentif, sehingga tidak membahayakan tanaman. Sebagian besar tanaman pertanian tumbuh baik pada ketebalan

135

gambut 20-150 cm. Hal ini berarti pengawetan gambut makin mutlak diperlukan apabila ketebalannya makin mendekati 20 cm.

Guna mencegah hilangnya lapisan gambut tipis dianjurkan agar: (1) jangan membakar sisa-sisa tanaman atau gulma, (2) melakukan pengolahan tanah secara minimum atau tanpa pengolahan tanah, (3) melakukan pemulsaan, (4) mengadakan pergiliran tanaman, mengusahakan jalur hijau di sekitar areal pertanian, (6) mengatur kedalaman air tanah untuk mempertahankan lapisan sulfat masam tetap jenuh, serta (7) melakukan drainase dan pencucian seminimum mungkin.

Selain upaya-upaya di atas kiranya perlu dilakukan upaya melalui penggunaan jenis dan varietas tanaman yang sesuai untuk tanah gambut. Hal ini penting dilakukan karena jenis dan varietas tanaman mempunyai tingkat toleransi yang berbeda-beda terhadap suatu tanah atau lingkungan tertentu. Dari hasil penelitian yang dilakukan pada tanah gambut Barambai, Kalimantan Selatan, varietas padi yang beradaptasi baik meliputi varietas lokal lemo dan pangambau, serta varietas unggul C4-63 (Notohadiprawiro, 1986). Di daerah Kalimantan Selatan lainnya mencakup varietas lokal duku, kuatik dan nugi, serta varietas unggul Kapuas dan Cisanggarung (Suhartina et al., 1987). Varietas padi unggul lainnya meliputi IR34, -36, -42, -54 (Quijano & Neue, 1987). Melalui percobaan jangka lama terlihat bahwa padi IR-32 merupakan varietas yang berproduksi paling stabil di tanah gambut Delta Upang, yaitu 3.4-4.8 ton per hektar dan varietas Barito serta Mahakam di Lampung yaitu rata-rata 6 ton per hektar.

Tanaman palawija yang dapat dianjurkan untuk ditanam Barambai-Kalimantan Selatan, Tamban luar-Kalimantan Tengah, dan Rassau Jaya- Kalimantan Barat adalah jagung (Genjah Kertas dan BC II), kedelai (Orba dan Taichung), kacang tanah (Banteng dan Kidang), kacang hijau (Bhakti), sorghum (UPCA S2 dan KD4) dan ubi jalar (Pangkur) (Isbandi et al., 1979).

136