• Tidak ada hasil yang ditemukan

TANAH BERBAHAN INDUK TUFA BATU APUNG 2.1. Pengertian Tufa Batu Apung

Amrizal Saidi

II. TANAH BERBAHAN INDUK TUFA BATU APUNG 2.1. Pengertian Tufa Batu Apung

Tufa batu apung adalah batuan dengan ciri berwarna terang serta sangat berpori. Batuan ini termasuk jenis batuan beku yang terbentuk dari hasil letusan gunung berapi. Ketika panas dan tekanan sangat tinggi, batuan itu dikeluarkan oleh gunung api secara serentak dan cepat mendingin sehingga meledak. Peledakan ini menghasilkan gelembung yang menurunkan larutan gas termasuk air dan CO2 yang terlarut dalam lava untuk berusaha meletup dengan cepat. Bila erupsi vulkanik terjadi di bawah permukaan air, maka batuan akan cepat mendingin dan menghasilkan tufa batu apung berukuran besar. Tufa batu apung juga disebut batuan gelas vulkanik silikat karena mengandung buih yang terdiri dari gelembung berdinding gelas vulkanik. Tufa batu apung mempunyai sifat vesikular dan mengandung banyak sel yang berstruktur selluler akibat ekspansi buih gas yang terkandung di dalamnya.

Batuan ini mempunyai banyak ruang pori (vesikel) yang dibatasi oleh dinding tipis sehingga batuan ini mempunyai bobot jenis kecil dari 1 sehingga batuan ini mengapung di atas air dan mudah

dihanyutkan (Gambar 8)

Gambar 8. Tufa batu apung (Foto Amrizal Saidi, 2018)

2.2. Penyebaran Tanah Berbahan Induk Tufa Batu Apung

Berdasarkan peta geologi lembar Padang (Kastowo et.al 1996)an Lembar Solok (Silitonga dan Kastowo, 1995), bahan induk tufa batu apung di Sumatera Barat berasal dari bahan induk vulkanik

152

berupa tufa batu apung yang rapuh dan ringan (Qpt) dan tufa batu

apung dengan mineral hyperstine dan hornblende (Qhpt) (Gambar 9).

Gambar 9. Peta Geologi tufa batu apung ( Qpt, dan Qhpt) (Kastowo et al., 1996 ; Silitonga & Kastowo, 1995)

Penyebaran bahan induk tufa batu apung di Sumatera Barat meliputi luas 148.389 ha yang tersebar di hampir seluruh kabupaten Padang Pariaman, kabupaten Agam (Palupuh, Malalak, Maninjau, Matur), kabupaten Pasaman (kecamatan Kumpulan, kecamatan tiga Nagari), Disamping itu juga terdapat tufa batu apung seperti di kabupaten Lima puluh kota (daerah kecamatan Payakumbuh, Bukit Barisan, Kecamatan Gunung Mas. Kecamatan Koto Tinggi), kabupaten Solok (kecamatan Lembah Gumanti yakni Nagari Air Dingin), kabupaten Tanah Datar (kecamatan Lintau Buo, kecamatan Lima Kaum, Sungai Tarab, kecamatan Salimpaung).

2.3. Potensi Tanah Berbahan Induk Batu Apung

Tanah adalah campuran kompleks dari partikel mineral dari berbagai bentuk dan ukuran, hidup dan mati bahan organik termasuk mikroorganisme, akar, dan tanaman dan residu hewan, udara, dan air. Di tanah, reaksi kimia fisika, dan biologi terjadi terus-menerus dan saling berkaitan erat, seperti halnya yang kita sebut kesuburan tanah.

153

2.3.1. Kondisi Fisik Tanah

Kesuburan tanah ditentukan oleh kondisi fisik, kimia dan biologi tanah. Kondisi fisik dari tanah berperan besar dalam mempengaruhi kimia dan reaksi biologi tanah. Pertumbuhan tanaman optimal bergantung kepada seberapa banyak lingkungan fisik yang menguntungkan yang tersedia bagi pertumbuhan tanaman seperti ruang pori yang tersedia bagi air dan udara dalam tanah serta kemampuan tanah untuk berjangkar tanaman di atasnya. Pada beberapa tahap dalam proses pelapukan, partikel mineral menjadi media yang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman, yaitu, mereka mampu menyediakan penyimpanan air, udara, dan nutrisi mineral, serta ruang di mana akar dapat tumbuh. Kondisi fisik tanah yang sangat penting dalam tanah terutama ditentukan oleh tekstur dan struktur tanah. Kondisi fisik tanah berbahan induk batu apung dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13 memperlihatkan bahwa tanah dari bahan induk batu apung mempunyai tekstur lempung sampai lempung berliat. Selanjutnya struktur tanah umumnya granuler baik lapisan atas maupun lapisan bawah. Struktur granuler umumnya mempunyai sifat fisik yang ideal untuk pertumbuhan tanaman dibandingkan dengan struktur tanah lain dengan kadar liat atau pasir yang tinggi. Jadi tanah berstruktur granuler berpotensi untuk pengembangan berbagai macam tanaman. Sebenarnya struktur ini menyediakan lingkungan yang cukup bagi penyediaan air dan udara bagi pertumbuhan tanaman, kecuali pada musim kemarau. Kerapatan isi tanah berasal dari tufa batu apung baik pada lapisan atas maupun pada lapisan bawah tergolong sangat rendah. Sesuai dengan pendapat Cavaleri et al. (2003) bahwa tufa batu apung mempunyai kerapatan isi rendah (0,35 gcm-3 –

154

Tabel 13. Kondisi fisik tanah berbahan induk tufa batu apung Padang Pariaman dan sumber lain

155

0,65 gcm-3) dan 0,40 - 0,80 gcm-3 tergolong rendah sampai sedang (Papapoulus, 2018) . Sebaliknya total ruang pori pada tufa batu apung sangat tinggi 70 - 80 %. Kemudian Sepehr et al. (2013) menyatakan bahwa total ruang pori dari tufa batu apung tinggi (rata rata 90 %). Kandungan bahan organik dari tanah berbahan induk tufa batu apung berkisar dari 5,02 % pada lapisan atas tergolong sedang dan 4,50 % pada lapisan bawah tergolong rendah. Karakteristik fisik tanah dari tufa batu apung adalah agregat ringan tergantung pada asalnya dan proses pengayakan / penggilingan. Tufa batu apung memiliki pori-pori besar dan akibatnya kadar air volumetriknya menurun tajam ketika ketegangan air meningkat (Raviv et al., 1999). Kapasitas pemegang air batu apung relatif rendah dibandingkan dengan wol batu, perlit atau substrat organik dan dapat membatasi penyerapan air dan nutrisi oleh tanaman, terutama di Indonesia iklim panas.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kondisi sifat fisik tanah ini cukup baik untuk pertumbuhan tanaman berbagai macam tanaman pangan, tanaman perkebunan. Namun, perbadingan ruang pori makro diisi udara dengan ruang pori mikro yang diisi air tidak seimbang (2:1), karena ruang pori tanah didominasi oleh ruang pori makro. Hal ini akan memudahkan air masuk ke dalam tanah sebagai perkolasi, sehingga air yang tertahan dalam tanah menjadi sedikit, walaupun jumlah air yang tersedia cukup tetapi kondisinya akan mudah menghilang sebagai perkolasi ke luar profil tanah.

Dengan demikian tanah kurang cocok untuk dijadikan untuk persawahan karena efisiensi air sangat rendah. Namun tanah ini sesuai untuk tanaman palawija atau tanaman tua seperti kelapa, kelapa sawit dan juga sesuai untuk tanaman hortikultura seperti buah-buahan (pepaya, buah naga, jeruk, dan lain-lain).

156