KERANGKA BERPIKIR DAN PROPOSISI PENELITIAN Kerangka Berpikir
B. Strategi Pengembangan dalam Meningkatkan Kompetensi Pelaku Usaha Pengolahan Pangan Makanan Ringan “Ceprek Melinjo”
Perumusan strategi ini dilakukan dengan mencoba menggali dan menganalisa kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman dalam meningkatkan kompetensi pelaku usaha pengolahan pangan makanan ringan “Ceprek Melinjo”:
1. Faktor Kekuatan
1) Memiliki jumlah pekerja yang cukup banyak: memiliki jumlah pekerja yang cukup banyak memungkinkan untuk dapat meningkatkan kompetensi pengembangan mutu produk bagi pekerja yang potensial sehingga dapat membantu pemilik dalam meningkatkan kemampuan pekerja lainnya, terutama dalam lebih bervariasi lagi dan kreatif dalam menentukan kemasan produk. Terlebih pekerja ini dilatih langsung oleh pemilik usaha ceprek melinjo. Sejauh ini, pelaku usaha mikro makanan ringan ceprek melinjo memiliki potensi kreativitas dalam hal keahlian pengolahan pangan yang tinggi, seperti rasa yang diciptakan pada ceprek melinjo yang dijual Rumah Emping Sari Jaya ini tersedia dalam 3 rasa yang dapat dinikmati, yaitu: manis (gula merah), pedas, dan original (gurih). Awalnya hanya ada rasa gurih saja akan tetapi sekarang sudah bervariasi menjadi tersedianya rasa manis (gula merah) dan pedas. Hal ini merupakan kekuatan yang bisa dikembangkan lebih lanjut mengingat produk yang dihasilkan mayoritas berupa makanan ringan khas Pandeglang- Banten.
2) Mutu produk yang dihasilkan baik: Ceprek melinjo merupakan makanan khas yang berasal dari Labuan, Pandeglang, Banten bahan bakunya adalah melinjo. Bahan baku, buah melinjo tersedia di Pandeglang-Banten. Pelaku usaha mikro Ceprek Melinjo mempunyai kompetensi yang tinggi dalam sehingga selalu mengutamakan mutu produk yang dihasilkan, baik dari segi bahan baku yang digunakan dalam pengolahan ceprek melinjo, warna, variasi bentuk atau ukuran.
2. Faktor Kelemahan
1) Kurangnya kreativitas dalam menentukan kemasan pada produk ceprek melinjo: sejauh ini kemasan dalam produk ceprek melinjo masih menggunakan kantong plastik.
2) Promosi: Kemampuan pelaku usaha mikro Gipang dalam melakukan promosi masih kurang efektif karena masih secara sendiri dalam promosi serta kurang optimalnya pemerintah dalam mempromosikan produk Makanan Ringan oleh-oleh Khas Banten.
63 Tabel 9. Kekuatan dan Kelemahan Pelaku Usaha Makanan Ringan “Ceprek Melinjo”
No Kekuatan Kelemahan
1 Memiliki jumlah pekerja yang cukup banyak
Kurangnya kreativitas dalam menentukan kemasan pada produk ceprek melinjo
2 Mutu produk yang dihasilkan baik. Promosi
3. Faktor Peluang
1) Ditingkatkannya pendampingan dan pelatihan tentang daya saing dan mutu produk, sehingga meningkatkan kompetensi pelaku usaha untuk memperbaiki produknya: Pemerintah, BUMN, Perusahaan Swasta, dan Perguruan Tinggi dan Institusi Pendamping dapat membantu memberikan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan keterampilan dan manajemen berusaha kepada pelaku usaha mikro Ceprek Melinjo.
2) Peningkatan kompetensi hasil pendampingan dan pelatihan tentang mutu produk dan daya saing.
3) Terbukanya toko online: Berkembangnya teknologi infomasi membuat pasar bagi usaha mikro menjadi lebih luas. Di masa depan pelaku usaha ceprek melinjo bisa membuat toko online di berbagai portal bisnis online yang saat ini menjamur di Indonesia bahkan luar negeri. Dengan peningkatan kompetensi pengelolaan secara online, membuka peluang adanya toko online sehingga diharapkan mereka akan mampu menjualkan produknya dengan lebih mudah serta lebih luas.
4. Faktor Ancaman
1) Ada kemungkinan pelaku usaha di daerah lain sudah menghasilkan mutu produk yang lebih baik karena pelatihan yang dilakukan di daerahnya sehingga kompetensi mereka berkembang.
2) Pesaing: dari dalam negeri → pesaing makanan ringan terdapat di beberapa wilayah di Indonesia. Jika produk Gipang Lestari ini tidak berusaha menjaga kualitas mutu produk, maka akan dapat terkalahkan dengan gipang yang lainnya.
Tabel 10. Peluang dan Ancaman Pelaku Usaha Pengolahan Pangan Makanan Ringan
No Peluang Ancaman
1 Ditingkatkannya pendampingan dan pelatihan tentang daya saing dan mutu produk, sehingga meningkatkan kompetensi pelaku usaha untuk memperbaiki produknya
Adanya kemungkinan pelaku usaha di daerah lain sudah menghasilkan mutu produk yang lebih baik karena
pelatihan yang dilakukan di daerahnya sehingga kompetensi mereka
berkembang 2 Peningkatan kompetensi hasil
pendampingan dan pelatihan tentang mutu produk dan daya saing
Pesaing: dari dalam negeri
64
Adapun matriks SWOT dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi oleh pelaku usaha ceprek melinjo dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matriks ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan altenatif strategis sebagai berikut ini: Tabel 11. Strategi dalam Meningkatkan Kompetensi Pelaku Usaha Makanan
Ringan “Ceprek Melinjo”
Faktor Internal
Faktor Eksternal
KEKUATAN (S)
1. Memiliki jumlah pekerja yang cukup banyak
2. Mutu produk yang dihasilkan baik.
KELEMAHAN (W)
1. Kurangnya kreativitas dalam menentukan kemasan pada produk ceprek melinjo.
2. Promosi PELUANG (O)
1. Ditingkatkannya pendampingan dan pelatihan tentang daya saing dan mutu produk, sehingga meningkatkan kompetensi pelaku usaha untuk memperbaiki produknya
2. Peningkatan kompetensi hasil pendampingan dan pelatihan tentang mutu produk dan daya saing.
3. Terbukanya toko online
STRATEGI SO 1) Memanfaatkan pembinaan/pelatihan untuk mempelajari inovasi di wilayah lain. 2) Memberikan pelatihan kepada SDM untuk mengembangkan kemampuan dalam penjaminan mutu produk 3) Meningkatkan kemampuan
pengelolaan usaha secara
online
STRATEGI WO 1) Meningkatkan desain
bentuk, rasa dan kemasan yang kreatif dan menarik. 2) Meningkatkan kemampuan
untuk promosi dengan efektif terutama ke wisatawan luar Banten. 3) Meningkatkan keberanian
berinovasi (menjadi berbeda) dan meningkatkan mutu dengan memperhatikan kualitas bahan baku 4) Meningkatkan kemampuan
dalam memperhatikan atau memenuhi keinginan konsumen.
ANCAMAN (T) 1. Adanya kemungkinan
pelaku usaha di daerah lain sudah menghasilkan mutu produk yang lebih baik karena pelatihan yang dilakukan di daerahnya sehingga kompetensi mereka berkembang. 2. Pesaing: dari dalam negeri
STRATEGI ST 1) Meningkatkan kemampuan
untuk memberikan kualitas pelayanan terhadap pelanggan
2) Meningkatkan kemampuan untuk desain bentuk, rasa dan kemasan yang kreatif dan menarik.
3) Meningkatkan kemampuan untuk memperkuat atau menonjolkan ciri khas kedaerahan 4) Menambah atau menciptakan variasi produk STRATEGI WT 1) Meningkatkan promosi
menambah inovasi guna menghadapi pesaing. 2) Membuat kemasan yang
65 Berdasarkan analisis SWOT dengan membandingkan faktor peluang dan kekuatan (Strategi SO), peluang dan kelemahan (Strategi WO), kekuatan dan ancaman (Strategi ST), serta kelemahan dan ancaman (Strategi WT), maka dapat dimunculkan beberapa strategi dalam pengembangan usaha yang bisa dilakukan oleh pemilik dan pekerja usaha mikro makanan ringan sebagai berikut:
1) Memanfaatkan pembinaan/pelatihan untuk mempelajari inovasi di wilayah lain.
2) Memberikan pelatihan kepada SDM untuk mengembangkan kemampuan dalam pengawasan kualitas produk.
3) Meningkatkan kemampuan pengelolaan usaha secara online
4) Meningkatkan desain bentuk, rasa dan kemasan yang kreatif dan menarik. 5) Meningkatkan kemampuan untuk promosi dengan efektif terutama ke
wisatawan luar Banten.
6) Meningkatkan keberanian berinovasi (menjadi berbeda) dan meningkatkan mutu dengan memperhatikan kualitas bahan baku.
7) Meningkatkan kemampuan dalam memperhatikan/memenuhi keinginan konsumen.
8) Meningkatkan kemampuan untuk memberikan kualitas pelayanan terhadap pelanggan.
9) Meningkatkan kemampuan untuk memperkuat/menonjolkan ciri khas kedaerahan.
10)Menambah atau menciptakan variasi produk.
11)Meningkatkan promosi menambah inovasi guna menghadapi pesaing. 12)Membuat kemasan yang inovatif dengan merk khas.
66
5
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan, maka kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut:
1. Profil usaha Gipang dan Ceprek Melinjo memiliki kekhasan tersendiri. Usaha Gipang didapat secara turun sedangkan tingkat kompetensi pelaku usaha ceprek melinjo pemilik usaha mewarisi kompetensi usaha orangtuanya yang kemudian melatih dan membina 50 orang pekerjanya. Kemasan pada produk Gipang dengan menggunakan toples agar terlihat rapih sedangkan kemasan pada produk Ceprek Melinjo dengan menggunakan plastik.
2. Tingkat kompetensi dalam pengolahan makanan ringan pelaku usaha mikro gipang termasuk tinggi, sedangkan kompetensi pelaku usaha mikro makanan ringan ceprek melinjo termasuk dalam kategori rendah. Tingkat kompetensi pelaku usaha gipang diperoleh secara turun temurun dengan fasilitasi oleh pemilik usaha, sedangkan kompetensi pelaku usaha ceprek melinjo diperoleh dari pelatihan oleh pemilik usaha dan keluarganya, yang sebelumnya telah memperoleh secara turun temurun. 3. Strategi Pengembangan yang bisa dilakukan pelaku usaha mikro
makanan ringan gipang: meningkatkan desain bentuk, rasa dan kemasan yang kreatif dan menarik, memperkuat/menonjolkan ciri khas kedaerahan, menambah atau menciptakan variasi produk. Sedangkan strategi yang dapat dilakukan oleh pelaku usaha mikro makanan ringan ceprek melinjo diantaranya: Meningkatkan kemampuan pengelolaan usaha secara online, meningkatkan desain bentuk, rasa dan kemasan yang kreatif serta menarik dan meningkatkan kemampuan untuk promosi dengan efektif terutama ke wisatawan luar Banten.
Saran
Adapun saran yang dapat direkomendasikan penulis berdasarkan kesimpulan di atas adalah sebagai berikut:
1. Pelaku usaha mikro makanan ringan makanan ringan Gipang perlu meningkatkan desain bentuk, rasa dan kemasan yang kreatif dan menarik, memperkuat atau menonjolkan ciri khas kedaerahan, menambah atau menciptakan variasi produk.
2. Pelaku usaha mikro makanan ringan makanan ringan Ceprek Melinjo perlu peningkatan skill dari SDM yang ada inovasi produk dan bagaimana memperoleh bahan untuk pembuatan ceprek melinjo yang berkualitas tinggi dan dalam pengemasan pelaku usaha ceprek melinjo
67 hal yang harus diperhatikan ialah bagaimana cara meningkatkan pengemasan produk agar lebih menarik minat konsumen. Misalnya dengan cara menggunakan toples plastik.
68