• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Pengembangan

Dalam dokumen PROFIL PANGAN DAN PERTANIAN (Halaman 48-99)

BAB II. TANAMAN BAHAN MAKANAN

2.7. Strategi Pengembangan

Khusus untuk aspek produksi tanaman pangan, setahun ke depan Departemen Pertanian telah menyusun kebijakan, yaitu meliputi beberapa program yang mencakup: a) optimalisasi pemanfaatan sarana dan prasarana, b) percepatan peningkatan produktivitas, c) pengembangan perbenihan, d) pengamanan produksi dalam negeri, e) optimalisasi penanganan pengolahan dan pemasaran hasil, g) pengembangan kelembagaan tanaman pangan, serta h) pemantapan manajemen pembangunan tanaman pangan.

Secara nyata, langkah pemerintah dalam pengembangan produksi tanaman pangan adalah melalui pemberian subsidi pupuk dan

Tanaman Bahan Makanan

melalui Kredit Ketahanan Pangan. Dukungan dari sektor lain juga sangat diperlukan untuk pembangunan tanaman pangan ini. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah pengamanan pasokan air irigasi melalui rehabilitasi dan pembangunan jaringan irigasi.

Melalui berbagai upaya ini, secara makro, sub sektor tanaman pangan diharapkan mampu menyumbang sekitar 1,08% pada PDB sektor pertanian. Secara kuantitatif, berbagai upaya dimaksud diharapkan pula untuk dapat mencapai sasaran produksi padi 55,46 juta ton GKG, jagung 12,87 juta ton, kedele 0,90 juta ton, dan ubi kayu 21,75 juta ton.

Untuk komoditas bahan makanan selain pangan utama (termasuk sayur-sayuran dan buah-buahan), selama ini kebijakan yang dilaksanakan melalui pendekatan peningkatan produksi, produktivitas, dan luas panen. Selain itu, kebijakan lain juga telah dikembangkan adalah pengembangan sentra produksi melalui pendekatan usaha agribisnis.

Ke depan, kebijakan di atas perlu diperluas sehingga tidak hanya menyangkut aspek-aspek produksi, produktivitas, dan luas areal tanam. Pembangunan tanaman bahan makanan juga memerlukan dukungan kebijakan peningkatan mutu produk, promosi konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan, serta penataan kelembagaan yang dapat menghubungkan kemitraan antar pelaku. Antisipasi peningkatan produksi untuk penggunaan baru perlu dilakukan untuk komoditas ubi kayu yang potensial sebagai bahan bio-ethanol.

Perkebunan

BAB III PERKEBUNAN

Seperti telah dijelaskan pada Bab 1, sub sektor perkebunan merupakan salah satu sub sektor yang mengalami pertumbuhan PDB cukup besar. Hal ini dapat dilihat pada pertumbuhan PDB pada triwulan pertama dan kedua pada tahun 2005. Walaupun dari segi penyerapan tenaga kerjanya relatif rendah dibandingkan sub sektor lainnya, namun perannya sangat strategis bagi perekonomian Indonesia. Pertumbuhan PDB ini dipicu oleh besarnya porsi komoditas perkebunan yang diekspor dan prospek penggunaannya untuk bahan baku industri yang masih meningkat terus dengan penggunaannya untuk bahan baku nabati (biofuel).

3.1. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas

Tanaman perkebunan dapat dibagi berdasarkan karakteristik produksinya, menjadi tanaman setahun dan tahunan. Tanaman setahun yaitu tanaman yang siklus hidupnya satu tahun sekali misalnya tebu, kapas, tembakau, dan lain-lain. Tanaman tahunan memerlukan waktu panjang sebelum berproduksi meskipun dapat menghasilkan sampai puluhan tahun, misalnya sawit, karet, dan sebagainya, sehingga untuk tanaman tahunan dikenal tahap-tahap tanaman belum menghasilkan (TBM), tanaman menghasilkan (TM), dan tanaman tidak menghasilkan (TTM).

Perkembangan luas tanam kelapa sawit, kelapa, karet dan kakao diharapkan akan meningkat sejalan dengan upaya revitalisasi perkebunan yang mendorong peremajaan dan penggunaan bibit bermutu pada tahun 2007. Sementara itu, untuk kelapa sawit masih akan meningkat dengan adanya prospek penggunaan untuk biofuel. Yang perlu diantisipasi nantinya adalah kompetisi penggunaan minyak sawit untuk konsumen (pangan) dan untuk biofuel (energi).

Tabel III. 1. Luas Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), Tanaman Menghasilkan (TM) dan Tanaman Tidak Menghasilkan (TTM), 2004 - 2005

TBM (ribu ha) TM (ribu ha) TTM (ribu ha) TOTAL (ribu ha) Komoditas

2004 2005* 2004 2005* 2004 2005* 2004 2005*

Kopi 188,1 203,3 925,3 931,6 133,7 158,8 1.247,2 1.293,7

- Kopi Robusta 157,2 173,9 863,7 870,1 119,4 145,0 1.140,3 1.188,9

- Kopi Arabika 31,0 29,4 61,6 61,6 14,3 13,8 1069 104,8

Kakao 245,4 285,7 706,4 793,8 56,0 60,9 1.007,8 1.140,4 Teh 4,4 5,1 43,8 43,7 13,1 12,9 61,3 61,6 Karet t.a t.a t.a t.a t.a t.a 2.065,8 2.128,4 Kelapa Sawit t.a t.a t.a t.a t.a t.a 14.191,2 14.968,9

Keterangan: * data sementara; t.a: tidak ada data Sumber: Departemen Pertanian, 2006

Perkebunan

Untuk tanaman perkebunan setahun (Tabel III.2), dari ketiga komoditas perkebunan strategis Indonesia, yaitu tembakau, kapas dan tebu, tampak bahwa pada tahun 2005 hanya tembakau yang mengalami penurunan, baik luas tanam maupun luas panen yang masing – masing turun sekitar 8 dan 10 ribu ha. Sedangkan untuk kapas dan tebu mengalami peningkatan luas tanam dan luas panen yang cukup signifikan pada tebu, luas panennya mencapai 204 ribu ha pada tahun 2005 dibandingkan pada tahun 2004 yang hanya mencapai 71 ribu ha, atau terjadi peningkatan hampir mencapai tiga kali lipat.

Peningkatan luas panen tebu disebabkan oleh membaiknya harga tebu dan adanya revitalisasi produksi tebu melalui dukungan untuk ratoon.

Tabel III. 2. Luas Tanam dan Luas Panen Tanaman Perkebunan Setahun, 2004-2005

Luas Tanam (ha) Luas Panen (ton) No Komoditas

2004 2005* 2004 2005*

1 Tembakau 197.724 189.943 196.732 186.879 2 Kapas 9.414 10.858 7.999 10.214 3 Tebu 184.283 204.336 71.935 204.336 Keterangan: * Data Sementara

Sumber: Departemen Pertanian, 2006

Sementara itu, pola tanam dan produksi tembakau menurun yang diduga disebabkan oleh stagnannya peruntukan tembakau oleh industri rokok.

Tabel III. 3. Produksi dan Produktivitas Beberapa Tanaman Perkebunan, 2004-2005

Produksi (ton) Produktivitas (kg/ha) No Komoditas Sumber : Departemen Pertanian, 2006

Perkembangan produksi tanaman perkebunan tersebut dapat dilihat dalam Tabel III.3. Peningkatan produksi yang cukup besar terjadi pada tanaman tebu yang meningkat sekitar 160 ribu ton atau sekitar 15% (2004-2005). Demikian juga untuk kakao, tingkat produksinya meningkat sekitar 83 ribu ton atau sekitar 13%.

Khusus untuk komoditas gula, pemerintah telah menetapkan sasaran pengembangan gula nasional (Tabel III.4.). Dengan penetapan sasaran produksi ini, pemerintah merencanakan bahwa akan diupayakan peningkatan produksi gula nasional, baik melalui peningkatan luas tanam maupun peningkatan produktivitas. Selain itu, revitalisasi pabrik gula juga diharapkan mampu meningkatkan rendemen gula dari tahun ke tahun. Dalam jangka menengah dan panjang, swasembada gula nasional menjadi target bersama.

Tabel III. 4. Sasaran Produksi Gula Nasional, 2002-2007

Uraian 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Luas (ha) 350.722 338.244 370.064 373.816 377.930 385.773 Tebu (ton/ha) 75,8 77,9 81,7 84,9 86,4 88,1 Hablur (juta ton) 1,9 2,1 2,3 2,6 2,8 2,9 Hablur (ton/ha) 5,5 5,8 6,4 7,0 7,3 7,7

Rendemen (%) 7,2 7,4 7,8 8,2 8,5 8,8

Sumber : Departemen Pertanian, 2003

Bila membandingkan antara luas panen aktual dan rencana sasarannya, nampak bahwa pencapaian luas tanam maupun luas panen masih lebih rendah dari sasaran yang akan dicapai. Hal yang sama juga terjadi pada aspek produksi (Tabel III.5.), dimana pencapaian produksi selama ini belum bisa mencapai sasaran yang telah ditetapkan.

Tabel III. 5. Perkembangan Produksi Gula (ton), 2002-2005

Musim

Giling Jawa Luar

Jawa Total Program

Akselerasi % Pencapaian MG 2002 1.093.056 656.371 1.749.427 1.891.041 92,5 MG 2003 1.024.672 607.158 1.631.830 2.072.575 78,7 MG 2004 1.174.905 831.670 2.006.575 2.337.907 85,8 MG 2005 t.a t.a 2.242.311 2.597.113 86,3

Perkebunan

Namun demikian, dengan mempertimbangkan kecenderungan terjadinya peningkatan luas tanam, produktivitas, dan produksi, diharapkan revitalisasi pembangunan perkebunan ini akan mampu mewujudkan sasaran yang telah ditetapkan.

3.2. Wilayah Produksi/Agroekosistem

Gambaran nasional tentang produksi, produktivitas, dan luas areal beberapa komoditas perkebunan telah disajikan. Namun demikian, dipahami bahwa sebaran wilayah pengembangan komoditas perkebunan beragam. Bagian di bawah ini akan menyajikan sebaran wilayah yang dikelompokkan berdasarkan pulau-pulau besar, baik sebaran produksi maupun luas areal dari beberapa komoditas perkebunan (kopi, kakao, teh, tembakau, kapas, dan tebu).

3.2.1. Kopi

Pulau Sumatera mendominasi luas penanaman kopi di Indonesia;

sekitar 66% (2004) dan 64% (2005) luas tanaman kopi berada di Pulau Sumatera (Tabel III.6.). Pulau Sulawesi dan Pulau juga mempunyai andil yang relatif penting dengan luas penanaman sekitar 10-11%

(Sulawesi) dan 9-12% (Jawa) dari total luas tanam kopi. Dengan melihat perkembangan yang ada, nampaknya sebaran penanaman kopi tidak mengalami perubahan signifikan ke depan.

Tabel III. 6. Sebaran Wilayah Luas Tanaman Kopi, 2004-2005 Luas (Ha) Sebaran (%) Wilayah

2004 2005* 2004 2005*

Sumatera 823.344 828.319 66,0 64,0

Jawa 114.693 155.193 9,2 12,0

Bali - NT 112.135 108.792 9,0 8,4 Kalimantan 47.269 50.628 3,8 3,9 Sulawesi 133.110 135.254 10,7 10,5

Maluku-Papua 16.612 15.557 1,3 1,2 Indonesia 1.247.163 1.293.743 100,0 100,0

Keterangan: * Data Sementara

Sumber: Departemen Pertanian, 2006, diolah

Dari aspek produktivitas, tanaman kopi di Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi mempunyai produktivitas yang relatif lebih tinggi dibanding di tempat lain (Tabel III.7.). Sementara itu, sesuai dengan proporsi luas tanam dan tingkat produktivitas yang tinggi, sekitar 73,9% (2004) atau 71% (2005) produksi kopi nasional dihasilkan oleh Pulau Sumatera.

Tabel III. 7. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tanaman Kopi, 2004-2005

Produksi (ton)

Sebaran Produksi (%)

Produktivitas (kg/ha) Wilayah

2004 2005* 2004 2005* 2004 2005*

Sumatera 452.422 438.560 73,9 71,0 699 694 Jawa 43.367 47.347 7,1 7,7 528 455 Bali - NT 38.958 40.424 6,4 6,5 559 590 Kalimantan 15.512 16.777 2,5 2,7 536 555 Sulawesi 55.275 59.145 9,0 9,6 640 680 Maluku-Papua 6.884 15.557 1,1 2,5 616 657 Indonesia 612.418 617.810 100,0 100,0 662 663 Keterangan: * Data Sementara

Sumber: Departemen Pertanian, 2006, diolah

3.2.2. Kakao

Berbeda dengan tanaman kopi, tanaman kakao paling banyak ditanam di Pulau Sulawesi, yaitu sekitar 70,5% (2004) atau 68,1%

(2005) dari total luas tanam; sedangkan Pulau Sumatera hanya sekitar 10,6% (2004) atau 9,5% (2005) (Tabel III.8.). Satu hal yang patut dicatat dari perkembangan sebaran lokasi tanaman kakao ini adalah bahwa Pulau Bali-Nusa Tenggara mempunyai peningkatan luas tanam yang relatif tinggi dari 50,6 ribu ha (2004) menjadi 99,1 ribu ha (2005).

Sebaran wilayah produksi seiring dengan sebaran wilayah penanaman, begitu juga dengan tingkat produktivitas. Pulau Sulawesi mempunya tingkat produktivitas paling tinggi, diikuti oleh Pulau Sumatera. Pulau Sulawesi juga memproduksi 78,8% (2004) atau 75,8%

dari total produksi nasional. Terjadi juga di aspek luas tanam, terjadi

Perkebunan

Tabel III. 8. Sebaran Wilayah Luas Tanaman Kakao, 2004 - 2005 Luas (ha) Sebaran Luas Tanam (%)

Kalimantan 45.948 45.791 4,6 4,0 Sulawesi 710.643 777.122 70,5 68,1 Maluku-Papua 72.545 87.095 7,2 7,6

Indonesia 1.007.842 1.140.439 100,0 100,0 Keterangan: * Data Sementara

Sumber: Departemen Pertanian, 2006 diolah

Tabel III. 9. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tanaman Kakao, 2004 - 2005

2004 2005* 2004 2005* 2004 2005*

Sumatera 56.941 58.100 8,9 8,0 870 879 Keterangan: * Data Sementara

Sumber: Departemen Pertanian, 2006, diolah

3.2.3. Teh

Sentra produksi utama komoditas teh masih bertumpu di Jawa (Tabel III.10.). Bahkan secara nasional, hanya Jawa dan Sumatera yang berkontribusi terhadap tanaman teh. Sebagian besar teh ditanam di Jawa (97% dari total luas tanam), sedangkan luas tanam di Sumatera hanya 3% (tahun 2005). Dari tabel yang sama, nampak pula bahwa sedikit terjadi proporsi wilayah tanaman teh dimana luas tanam di Jawa menurun dan di Sumatera meningkat.

Tabel III. 10. Sebaran Wilayah Luas Tanaman Teh, 2004 - 2005 Luas (ha) Persentase Sebaran (%) Wilayah

2004 2005* 2004 2005*

Sumatera 1.569 1.850 2,6 3,0 Jawa 59.755 59.790 97,4 97,0

Bali - NT - - - -

Kalimantan - - - -

Sulawesi - - - -

Maluku-Papua - - - -

Indonesia 61.324 61.640 100,0 100,0 Sumber: Departemen Pertanian

Sebaran produksi teh seiring dengan sebaran luas tanamnya (Tabel III.11.). Namun demikian, proporsi antara persentase sebaran wilayah luas tanam tidak sama dengan proporsi persentase sebaran wilayah produksi. Di Pulau Jawa, dengan luas tanam sekitar 97%, mampu menghasilkan produksi sekitar 98% dari total produksi nasional. Hal ini disebabkan oleh relatif lebih tingginya produktivitas teh di Pulau Jawa dibanding dengan produktivitas di Pulau Sumatera.

Kecenderungan semakin meningkatnya produktivitas teh diharapkan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Tabel III. 11. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tanaman Teh, 2004 - 2005

Produksi (ton) Sebaran Produksi (%)

Produktivitas (kg/ha) Wilayah

2004 2005* 2004 2005* 2004 2005*

Sumatera 707 812 1,8 2,1 663 835 Jawa 38.756 38.824 98,2 97,9 907 910 Bali - NT - - - - - -

Kalimantan - - - - - - Sulawesi - - - - - - Maluku-Papua - - - - - - Indonesia 39.463 39.636 100,0 100,0 901 908

Perkebunan

3.2.4. Tembakau

Sebagian besar pertanaman tembaku masih berlokasi di Pulau Jawa, yaitu sekitar 83,7% (tahun 2005) dari total luas tanam nasional.

Pulau Bali-Nusa Tenggara juga mempunyai luas tanam yang relatif besar dibandingkan Pulau Sumatera dan Sulawesi (Tabel III.12.).

Berdasarkan perkembangan 2004-2005, persentase luas tanam tembaku mengarah ke luar Jawa, dimana peningkatan luas tanam terjadi di Pulau Sulawesi.

Tabel III. 12. Sebaran Wilayah Luas Tanam Tanaman Tembakau, 2004 - 2005

Luas Tanam (ha) Sebaran Wilayah (%) Wilayah

2004 2005* 2004 2005*

Sumatera 2.919 2.835 1,5 1,5 Jawa 167.189 158.936 84,6 83,7 Bali - NT 25.013 24.505 12,7 12,9

Kalimantan - -

Sulawesi 2.603 3.667 1,3 1,9 Maluku-Papua - -

Indonesia 197.724 189.943 100,0 100,0 Keterangan: * Data Sementara

Sumber: Departemen Pertanian, 2006

Sebaran wilayah produksi tembakau sama dengan sebaran wilayah penanamannya, namun dengan proporsi yang tidak seiring.

Dengan persentase luas tanam yang hanya sekitar 12,9%, Pulau Bali-Nusa Tenggara mampu berproduksi sekitar 21,4% dari total produksi nasional. Hal ini disebabkan oleh sangat tingginya produktivitas tembakau di pulau ini, yaitu sekitar 1,3 ton/ha. Bila angka produktivitas ini dibandingkan dengan tingkat produktivitas di pulau lain, nampaknya diperlukan verifikasi terhadap validitas angka produktivitas ini karena perbedaannya sangat tinggi (Tabel III.13.).

Tabel III. 13. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tembakau, 2004 - 2005

Produksi (ton)

Sebaran Produksi (%)

Produktivitas (kg/ha) Wilayah

2004 2005* 2004 2005* 2004 2005*

Sumatera 1.304 1.540 0,9 1,1 520 608

Jawa 111.880 109.125 74,7 76,0 671 698

Bali - NT 34.941 30.719 23,3 21,4 1.397 1.254

Kalimantan - - - -

Sulawesi 1.665 2.211 1,1 1,5 665 620 Maluku-Papua - - - - Indonesia 149.790 143.595 100,0 100,0 761 768 Keterangan: * Data Sementara

Sumber: Departemen Pertanian, 2006

3.2.5. Kapas

Hanya tiga kawasan pulau yang menghasilkan kapas, yaitu Pulau Sulawesi (49,4%), Pulua Jawa (30,9%), dan Pulau Bali-Nusa Tenggara (19,7%). Kecuali di Pulau Jawa, berdasarkan perkembangan 2004-2005, terjadi peningkatan luas tanam (Tabel III.14.). Perkembangan persentase sebaran wilayah penanaman juga menunjukkan hal yang sama, sehingga ke depan diperkirakan akan terus terjadi penurunan luas tanam kapas di Pulau Jawa seiring dengan meningkatnya luas tanam di luar Pulau Jawa.

Tabel III. 14. Sebaran Wilayah Luas Tanam Kapas, 2004 - 2005

Luas Tanam Sebaran Luas Tanam (%) Wilayah

2004 2005* 2004 2005*

Sumatera - - - -

Jawa 3.727 3.360 39,6 30,9

Bali - NT 1.492 2.138 15,9 19,7

Kalimantan - - - -

Sulawesi 4.195 5.360 44,6 49,4

Maluku-Papua - - - -

Perkebunan

Perkembangan produktivitas kapas kurang menggembirakan karena terjadi penurunan rata-rata produktivitas nasional dari 406 kg/ha tahun 2004 menjadi 349 kg/ha tahun 2005 (Tabel III.15.).

Peningkatan produktivitas di Pulau Jawa tidak mampu diimbangi oleh penurunan produktivitas di wilayah lain. Dari sisi produksi, dengan produktivitas yang relatif tinggi, Pulau Jawa mampu menghasilkan 59,4% dari total produksi kapas nasional; sedangkan Pulau Sulawesi, yang luas tanamnya paling besar (49,4% dari total luas tanam nasional), hanya berproduksi sekitar 22,8% dari total produksi nasional. Selain itu, di seluruh wilayah produksi terjadi peningkatan produksi (walaupun ada penurunan produktivitas di Pulau Sulawesi dan Pulau Bali-Nusa Tenggara). Di Pulau Jawa, peningkatan produksi disebabkan oleh peningkatan produktivitas, sedangkan di pulau lain peningkatan produksi disebabkan oleh peningkatan luas tanam.

Tabel III. 15. Sebaran Produksi dan Produktivitas Kapas, 2004-2005 Produksi Keterangan: * Data Sementara

Sumber: Departemen Pertanian, 2006

3.2.6. Tebu

Pulau Jawa masih merupakan wilayah penanaman tebu utama (94,8% dari total luas tanam nasional). Bahkan, terjadi peningkatan luas tanam yang relatif lebih tinggi (dibanding peningkatan luas tanam di Pulau Sumatera) di Pulau Jawa dalam kurun 2004-2005 (Tabel III.16.). Selain itu, perkembangan sebaran persentase luas tanam juga menunjukkan peningkatan persentase di Pulau Jawa (sementara terjadi penurunan di Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi).

Tabel III. 16. Sebaran Wilayah Luas Tanam Tanaman Tebu, 2004 -

2004 2005* 2004 2005* 2004 2005*

Sumatera 7.908 8.226 7.908 8.226 4,3 4,0

Indonesia 184.283 204.336 71.935 204.336 100,0 100,0 Keterangan: * Data Sementara

Sumber: Departemen Pertanian, 2006

Pola sebaran wilayah produksi sama dengan pola sebaran wilayah penanaman (Tabel III.17.) dimana Pulau Jawa mampu menghasilkan sekitar 97% dari total produksi nasional atau 1,2 juta ton tebu pada tahun 2005. Selain di Pulau Sulawesi, terjadi peningkatan produksi, baik dari aspek volume produksi maupun persentase sebaran wilayah produksinya.

Tabel III. 17. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tebu, 2004 - 2005

Indonesia 1.028.681 1.188.174 100,0 100,0 14.300 5.815 Keterangan: * Data Sementara

Perkebunan

3.3. Kelembagaan

Penyajian gambaran tentang kelembagaan dalam pembangunan perkebunan merupakan hal yang baru dalam profil pangan dan pertanian ini. Cakupan kelembagaan memang luas. Namun, dalam bagian berikut hanya akan mendiskusikan tentang dua hal, yaitu perkembangan jumlah perusahaan perkebunan serta gambaran kinerja (produksi dan produktivitas) pelaku perkebunan (yang meliputi perkebunan rakyat, perkebunan negara, dan perkebunan swasta).

3.3.1. Perusahaan Perkebunan

Secara umum, jumlah perusahaan perkebunan relatif sama dari tahun ke tahun (2002-2005) walaupun ada kecenderungan fluktuasi yang menurun. Peningkatan jumlah perusahaan hanya terjadi di pengusahaan kelapa sawit. Sedangkan, penurunan jumlah perusahaan terjadi pada jumlah perusahaan yang bergerak dalam tanaman karet, kopi, dan tebu (Tabel III.18.).

Tabel III. 18. Jumlah Perusahaan Perkebunan menurut Jenis Tanaman Jenis Tanaman 2002 2003 2004* 2005**

Karet 418 418 414 414

Kelapa Sawit 882 882 885 885

Kopi 132 132 131 131

Kakao 150 150 145 145

Tebu 88 86 85 85

Tembakau 19 19 19 19 Sumber: Statistik Indonesia 2005/2006, BPS, 2006

Keterangan: * : angka sementara; **: angka sangat sementara

Khusus mengenai perkebunan negara atau Perusahaan Perkebunan Nasional (PTPN), terdapat empat belas (14) PTPN. Bila dikelompokkan menurut jenis komoditas yang diusahakan, terdapat 6 (enam) komoditas yang menjadi fokus pengusahaan PTPN, yaitu sawit, karet, kakao, kopi, teh, dan gula. Tabel III.19. mencoba menyajikan kinerja setiap PTPN yang didekati dengan memperhitungkan kapasitas terpasang dan kapasitas terpakai dari setiap unit kegiatan pengusahaan di setiap PTPN.

Tabel III. 19. Kapasitas Perusahaan Perkebunan Negara

Perusahaan Jenis Pabrik % Kapasitas

PTPN I PKS Pulau Tiga 100,00

PKS Tanjung Seumantoh 66,67

PIS Tanjung Seumantoh 80,00

PKS Cot Girek 66,67

PTPN II PKS (8 unit) 65,36

Pabrik Fraksionasi (1 unit) t.a

Pabrik Karet :

a. Pabrik Crumb Rubber (2 unit) 33,83 b. Pabrik RSS (3 unit) 38,48 c. Pabrik Lateks (1 unit) t.a

Pabrik Kakao (4 unit) 7,94

Pabrik Gula (2 unit) 45,10

PTPN III PKS (11 unit) 61,28

Pabrik Karet :

a. Lateks pekat (2 unit) 49,73

b. Sheet (6 unit) 66,47

c. Crumb Rubber (3 unit) 58,39

PTPN IV PKS (16 unit) 78,22

Pabrk Fraksionasi & Rafinasi (1 unit) 103,33 Pabrik Pengolahan Inti Sawit (1 unit) 75,50

Pabrik Kakao (4 unit) 34,87

Pabrik Teh (6 unit) 62,72

Pabrik perakitan Mesin (1 unit) t.a

Pabrik Kompos t.a

PTPN V PKS (12 unit) 73,83

Pengolahan Karet t.a

PTPN VI PKS (4 unit) 78,24

Pabrik Karet / Crumb Rubber (2 unit) 40,71

Pabrik Teh (2 unit) 91,20

Mesin Pengepakan Teh Kemasan (2 unit) t.a PTPN VII Pabrik Karet (15 unit) 100,00

PKS (7 unit) 100,00

Pabrik Pengolahan Inti Sawit (2 unit) 66,67

Pabrik Teh (1 unit) 92,50

Perkebunan

Perusahaan Jenis Pabrik % Kapasitas

PTPN VIII Kopi Arabika t.a

Kopi Robusta t.a

Kakao Edel t.a

Kakao Bulk t.a

Karet t.a

Teh t.a

PTPN IX Pabrik Karet (19 unit) 51,20

Pabrik Teh (3 unit) 67,19

Pabrik Kopi (4 unit) 28,04

Pabrik Kakao (4 unit) 35,90

Pabrik Gula (8 unit) 91,03

PTPN X Pabrik Gula (11 unit) 91,97

PTPN XI Pabrik Gula (17 unit) t.a

Pabrik Karung Plastik/Goni (1 unit) 112,00 Pabrik Alkohol & Spiritus (1 unit) t.a

Rumah sakit (4 unit) 100,97

PTPN XII Pabrik Pengering Kakao Edel & Bulk t.a Pabrik Pengering Kopi Arabika 48,22 Pabrik Pengering Kopi Robusta 61,08

Pabrik Karet (RSS) 78,87

Pabrik Karet (Crumb Rubber) t.a Pabrik Karet (Lateks pekat) t.a PTPN XIII Pabrik Minyak Sawit (7 unit) 100,00 Pabrik Karet Remah (2 unit) 100,00 PTPN XIV Pabrik Gula (3 unit) 68,50

Pabrik CPO (1 unit) 82,25

Pabrik Inti Sawit (1 unit) 41,67

Pabrik Tapioka (1 unit) 10,08

Pabrik karet / sheeter (4 unit) 29,08 Pabrik karet / Creeper (4 unit) 39,15

Asaran Kopra (10 unit) 85,71

Kakao Dryer (6 unit) 73,33

Lantai Jemur Kako (3 unit) 49,20 Keterangan: PKS (Pabrik Kelapa Sawit); PIS (Pabrik Inti Sawit); t.a (tidak ada data) Sumber: Departemen Pertanian, 2006

3.3.2 Perkebunan Rakyat, Perkebunan Negara, dan Perkebunan Swasta

Berdasarkan pelaku perkebunan, perkebunan dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu perkebunan rakyat, perkebunan negara, dan perkebunan swasta. Gambar 3.1 menyajikan pangsa (persentase) produksi perkebunan berdasarkan ketiga kategori tersebut. Untuk komoditas tebu, kakao, dan karet, perkebunan rakyat mempunyai kontribusi terbesar dalam produksi nasional. Sedangkan, perkebunan swasta berkontribusi besar dalam produksi kelapa sawit.

Sumber: Departemen Pertanian, 2006, diolah

Gambar III. 1. Perkembangan Pangsa Produksi antar Pelaku pada Perkebunan Tebu, Kelapa Sawit, Kakao, dan Karet, 2001-2005 Walaupun demikian, perkebunan rakyat pada kelapa sawit juga mempunyai kontribusi produksi yang signifikan, yaitu sekitar 30,8%

dari produksi nasional pada tahun 2005. Sementara itu, dibandingkan dengan perkebunan rakyat dan perkebunan swasta, perkebunan negara mempunyai kontribusi produksi yang relatif rendah dimana pada

47,1 55,1 51,4 50,1 53,0

18,0 17,0 22,7 18,7 20,2

34,8 27,9 25,9 31,1 26,8

0%

2001 2002 2003 2004 2005

Pangsa Produksi Tebu

Perkebunan Rakyat Perkebunan Negara Perkebunan Swasta

88,8 89,5 90,9 90,0 89,9

6,3 6,0 4,6 5,1 5,1

2001 2002 2003 2004 2005

Pangsa Produksi Kakao

Perkebunan Rakyat Perkebunan Negara Perkebunan Swasta

75,2 75,2 77,9 80,5 81,0

11,4 11,4 10,7 9,5 9,2

2001 2002 2003 2004 2005

Pangsa Produksi Karet

Perkebunan Rakyat Perkebunan Negara Perkebunan Swasta Produksi Tebu

Produksi Kakao Produksi Karet

3 3 ,3 3 5,3 3 3 ,4 3 1,4 3 0 ,8

Perkeb unan Rakyat Perkeb unan Neg ara Perkeb unan Swas t a

Produksi Kelapa Sawit

Perkebunan

Dari sisi temporal, selama kurun waktu 2001-2005, pangsa produksi perkebunan rakyat meningkat untuk komoditas tebu dan karet, di lain pihak, mengalami penurunan dan stagnasi untuk komoditas kelapa sawit dan kakao. Peningkatan pangsa produksi dari perkebunan negara hanya terjadi pada komoditas tebu; sedangkan peningkatan pangsa produksi dari perkebunan swasta terjadi pada komoditas kelapa sawit dan kakao.

Tabel III. 20. Perkembangan Produktivitas Beberapa Komoditas Perkebunan, 2001-2005 (dalam ton/ha)

Tahun Perkebunan Rakyat

Sumber: Diolah dari Departemen Pertanian, 2006

Secara umum, baik perkebunan rakyat, perkebunan negara, dan perkebunan swasta mampu meningkatkan produktivitasnya dari tahun ke tahun. Pengecualian terjadi pada perkebunan kakao rakyat, perkebunan karet negara, dan perkebunan karet swasta yang produktivitasnya mengalami stagnasi (Tabel III.20.).

Untuk komoditas tebu, perkebunan swasta mempunyai tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Produktivitas perkebunan swasta juga unggul dalam pengusahaan tanaman karet. Sementara itu, perkebunan negara mempunyai tingkat produktivitas kelapa sawit yang sedikit lebih tinggi daripada perkebunan swasta. Sedangkan, perkebunan rakyat mempunyai tingkat produktivitas kakao yang paling tinggi dibandingkan perkebunan negara maupun swasta.

Dari Tabel III.20., nampak pula bahwa upaya peningkatan produktivitas masih dapat dilakukan berdasarkan pengelompokan ketegori tersebut. Upaya peningkatan produktivitas ini juga dapat difokuskan pada jenis perkebunan yang mempunyai pangsa produksi tinggi tetapi masih mempunyai tingkat produkvitas yang rendah (lihat Gambar III.1. dan Tabel III.20.), misal perlu upaya peningkatan produktivitas pada perkebunan karet rakyat (pangsa produksi perkebunan karet rakyat tertinggi tetapi mempunyai tingkat produktivitas terendah).

3.4. Neraca Perdagangan (Ekspor – Impor)

Nilai ekspor yang dihasilkan oleh komoditas perkebunan belum dapat disajikan dalam bagian ini; data yang ada baru pada volume ekspor dari beberapa komoditas perkebunan (Tabel III.21.). Volume ekspor ini tidak dapat dijumlahkan menjadi volume total ekspor komoditas perkebunan. Oleh karena itu, gambaran mengenai perkembangan ekspor perkebunan dari tahun ke tahun hanya diperoleh dari gambaran perkembangan volume ekspor per komoditas.

Untuk komoditas kopi, terdapat kecenderungan meningkatnya volume ekspor kopi sejak 2001 (kecuali pada tahun 2002). Bahkan, peningkatan volume ekspor tahun 2005 meningkat secara signifikan dibandingkan tahun 2004. Pola kecenderungan peningkatan volume

Perkebunan

Tabel III. 21. Perkembangan Volume Ekspor Beberapa Komoditas Perkebunan (ton)

Komoditas 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Kopi 339.201 250.818 325.010 323.904 344.077 442.700 Karet t.a 1.453,4 1.496,0 1.663,0 1.874,3 2.023,8

Teh t.a 95,0 95,5 84,6 55,8 45,7

Tembakau t.a 35.601,0 30.707,0 27.508,6 27.650,3 18.810,3 Minyak

Sawit t.a 4.903,2 6.333,7 6.386,4 8.661,6 10.376,2 Kakao 424.098 393.244 465.621 357.737 368.758 t.a Lada 65.011 53.638 63.214 51.546 32.364 t.a Sumber: Departemen Pertanian, beberapa tahun penerbitan

Pada sisi volume impor, sub sektor perkebunan harus menaruh perhatian pada komoditas kakao yang kecenderungan volume impornya terus meningkat dari tahun ke tahun (Tabel III.22.).

Komoditas lain yang mempunyai kecenderungan peningkatan volume impor sejak tahun 2003, yaitu kopi dan lada. Untuk komoditas kelapa sawit, sejak tahun 2002 terjadi penurunan volume impor.

Tabel III. 22. Perkembangan Volume Impor Beberapa Komoditas Perkebunan (ton)

Komoditas 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Kakao 10.143,4 37.480 36.584,7 41.339,3 51.017 t.a Kelapa Sawit 1.258,0 5.223 11.897,1 5.613,1 4.320 t.a Kopi 8.630,0 8.294 7.664,6 4.328,0 5.691 t.a Lada 536,0 3.308 2.282,7 251,0 343 t.a Sumber: Departemen Pertanian, beberapa tahun penerbitan

3.5. Perbandingan Produktivitas dengan Negara Lain

Data tentang produktivitas dari beberapa komoditas perkebunan di beberapa negara disajikan pada Tabel III.23. Dengan menggunakan data tahun 2004, produktivitas kakao dan teh Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas komoditas tersebut di beberapa negara yang lain. Namun demikian, untuk komoditas tebu, produktivitas Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan

dengan produktivitas tebu di Filipina, Malaysia, dan Amerika Serikat.

Selain itu, produktivitas kelapa sawit Indonesia juga masih lebih rendah daripada produktivitas kelapa sawit di Malaysia.

Tabel III. 23. Perbandingan Produktivitas dari Beberapa Komoditas Perkebunan di Beberapa Negara, 2000-2004

Komoditas / Negara 2000 2001 2002 2003 2004 Kakao (ton/ha)

Indonesia 0,9 0,9 1,2 1,2 1,2 Malaysia 0,9 1,0 1,0 0,8 0,8 Filipina 0,6 0,5 0,5 0,5 0,5 Thailand 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5

Tebu (ton/ha)

Filipina 62,0 73,7 70,9 76,7 82,3 Malaysia 74,8 75,9 70,7 76,5 75,0 Amerika Serikat 78,4 75,4 77,9 76,3 69,3 Indonesia 54,7 55,1 60,5 56,8 64,2 Thailand 59,2 56,5 59,4 65,2 57,9 Vietnam 49,8 50,4 53,5 53,8 55,3

Teh (ton/ha)

Indonesia 1,3 1,4 1,4 1,5 1,4 Malaysia 1,9 1,6 1,5 1,2 1,1 Vietnam 1,0 1,0 1,0 1,0 1,1 Thailand 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3

Kelapa Sawit (ton/ha)

Malaysia 18,4 17,8 17,6 20,5 20,5 Indonesia 18,1 18,2 16,8 17,3 18,2 Thailand 15,6 17,6 15,2 17,0 16,7 Filipina 13,3 13,0 13,3 12,8 13,1 Sumber : FAO Statistics Division 2006, diakses pada 22 Desember 2006

Dengan melihat tingkat produktivitas negara lain tersebut, terutama untuk komoditas tebu dan kelapa sawit, peluang peningkatan produktivitasnya masih mungkin untuk diupayakan. Aspek lain yang perlu diperhatikan pula adalah sisi kualitas produksi, termasuk tingkat rendemen.

Perkebunan

3.6. Strategi Pengembangan

Pada tahun 2007, pembangunan perkebunan akan dilaksanakan melalui beberapa fokus kegiatan, yaitu:

a) program akselerasi peningkatan produksi dan produktivitas (misal pada komoditas tebu);

b) program revitalisasi perkebunan untuk peningkatan produksi dan produktivitas; serta

c) program pengembangan bahan bakar nabati, termasuk pengembangan produksi tanaman jarak, kelapa sawit, dan tebu.

Melalui ketiga program besar tersebut, pembangunan perkebunan ke depan ditujukan untuk: a) meningkatkan produksi, produktivitas, nilai tambah dan daya saing perkebunan, b) meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia perkebunan, c) meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat perkebunan, d) meningkatkan penerimaan dan devisa negara, e) meningkatkan

Melalui ketiga program besar tersebut, pembangunan perkebunan ke depan ditujukan untuk: a) meningkatkan produksi, produktivitas, nilai tambah dan daya saing perkebunan, b) meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia perkebunan, c) meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat perkebunan, d) meningkatkan penerimaan dan devisa negara, e) meningkatkan

Dalam dokumen PROFIL PANGAN DAN PERTANIAN (Halaman 48-99)

Dokumen terkait