PROFIL
PANGAN DAN PERTANIAN 2003-2006
Direktorat Pangan dan Pertanian
Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2006
PROFIL
PANGAN DAN PERTANIAN 2003-2006
Direktorat Pangan dan Pertanian
Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2006
Pengarah:
Bemby Uripto Penanggung Jawab:
Endah Murniningtyas Koordinator Penyusun:
Nono Rusono; Jarot Indarto; Noor Avianto Alamat:
Direktorat Pangan dan Pertanian BAPPENAS
Gedung 2A, Lantai 5, Jalan Taman Suropati No. 2, Jakarta 10310 Telepon: +62 21 31934323; Faksimili: +62 21 3915404
Website: www.bappenas.go.id Cover:
Sumber gambar sampul depan: www.worldcycle.free.fr
Kata Pengantar
KATA PENGANTAR
Penyediaan data dan informasi merupakan aspek yang cukup penting di dalam proses penyusunan perencanaan pembangunan pertanian karena dengan data dan informasi tersebut dapat memberikan gambaran atau profil pangan dan pertanian pada masa lalu dan saat ini, dan berdasarkan gambaran tersebut dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk menentukan rencana pembangunan pangan dan pertanian kedepan. Oleh karena itu Direktorat Pangan dan Pertanian akan terus melakukan penyusunan profil pangan dan pertanian secara berkelanjutan.
Tahun 2006 merupakan tahun ketiga dalam penyusunan dan penerbitan profil pangan dan pertanian. Oleh karena itu, pada tahun ini, kegiatan pengembangan data base pembangunan pertanian merupakan kegiatan lanjutan yang pada dasarnya adalah kegiatan memelihara dan memperbaharui (update) data profil pangan dan pertanian yang sudah disusun pada tahun sebelumnya. Walaupun demikian kegiatan perbaikan atau pembaharuan (up-dating) pada penyusunan profil pangan dan pertanian tahun 2006 ini masih lebih besar porsinya daripada kegiatan untuk memelihara data dan informasi yang sudah ada.
Beberapa perbaikan atau penambahan substansi telah dilakukan dalam penyusunan basis data profil pangan pertanian tahun 2006, diantaranya penambahan Bab yang khusus terkait dengan Prasarana dan Sarana Pertanian, penambahan penjelasan pada masing-masing sub sektor, serta memperbaharui (update) data dengan yang terbaru.
Data dan informasi yang terdapat dalam profil pangan dan pertanian tahun 2006 meliputi kurun waktu 2003-2006 sebagai up- dating dari profil yang telah disusun sebelumnya. Namun demikian beberapa data hanya dapat diterbitkan sampai tahun 2005, karena karakteristik data dan belum dapat dikeluarkannya data tahun 2006 oleh lembaga yang berwenang.
Kegiatan penyusunan basis pangan dan pertanian akan diupayakan secara berkelanjutan dengan harapan agar data dan informasi yang sudah tersusun beserta perbaikannya dapat dijaga terus kesinambungannya dan dimanfaatkan untuk kepentingan perencanaan
pembangunan pangan dan pertanian baik yang jangka pendek, jangka menengah, maupun panjang.
Akhirnya, ucapan terima kasih disampaikan kepada Badan Pusat Statistik dan Departemen Pertanian yang telah membantu dalam penyediaan data dan informasi sebagai bahan yang cukup penting dalam penyusunan profil pangan dan pertanian. Demikian pula, penghargaan disampaikan kepada seluruh staf Direktorat Pangan dan Pertanian BAPPENAS yang telah bekerja dengan baik sehingga Profil Pangan dan Pertanian ini dapat tersusun.
Jakarta, Desember 2006
Direktur Pangan dan Pertanian
Endah Murniningtyas
Daftar Isi
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... ix
BAB I. PERTANIAN DAN PEREKONOMIAN NASIONAL ... 1
1.1. Sumbangan Pertanian dalam PDB dan Eskpor ... 1
1.2. Perdagangan... 4
1.3. Tenaga Kerja ... 6
1.4. Rumah Tangga Pertanian... 8
1.5. Pendapatan dan Nilai Tukar Petani... 9
BAB II. TANAMAN BAHAN MAKANAN ... 11
2.1. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas... 11
2.1.1. Padi... 11
2.1.2. Palawija ... 13
2.1.3. Sayur-sayuran dan Buah-buahan... 15
2.2. Sebaran Produksi/Agroekosistem ... 16
2.2.1. Padi... 16
2.2.2. Palawija ... 20
2.2.3. Sayur-sayuran dan Buah-buahan... 21
2.3. Pola Panen Tahunan: Padi ... 26
2.4. Ketersediaan, Kebutuhan, dan Tingkat Kecukupan Beras ... 27
2.5. Neraca Perdagangan (Ekspor-Impor) ... 29
2.6. Perbandingan Produktivitas dengan Negara Lain .. 31
2.7. Strategi Pengembangan... 32
BAB III. PERKEBUNAN ... 35
3.1. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas... 35
3.2. Wilayah Produksi/Agroekosistem ... 39
3.2.1. Kopi ... 39
3.2.2. Kakao... 40
3.2.3. Teh ... 41
3.2.4. Tembakau ... 43
3.2.5. Kapas... 44
3.2.6. Tebu ... 45
3.3. Kelembagaan ... 47
3.3.1. Perusahaan Perkebunan ... 47
3.3.2. Perkebunan Rakyat, Perkebunan Negara, dan Perkebunan Swasta ... 50
3.4. Neraca Perdagangan (Ekspor-Impor) ... 52
3.5. Perbandingan Produktivitas dengan Negara Lain.. 53
3.6. Strategi Pengembangan ... 55
BAB IV. PETERNAKAN... 57
4.1. Populasi, Produksi, dan Produktivitas ... 57
4.1.1. Populasi Ternak... 57
4.1.2. Produksi... 59
4.1.3. Produktivitas ... 60
4.2. Konsumsi ... 64
4.3. Wilayah Produksi/Egroekosistem... 66
4.4. Kelembagaan ... 69
4.5. Perusahaan Pakan Ternak ... 70
4.6. Akses terhadap Sumber Kredit... 71
BAB V. SARANA DAN PRASRANA PERTANIAN ... 73
5.1. Lahan dan Air... 73
5.2. Pupuk... 74
5.3. Permodalan... 77
5.4. Prasarana Teknologi Pertanian ... 77
5.5. Pengembangan Sumberdaya Manusia (SDM) Pertanian dan Penyuluhan Pertanian... 79
5.6. Kesehatan Hewan ... 80
5.7. Karantina Pertanian... 81
TABEL LAMPIRAN... 83
Daftar Tabel
DAFTAR TABEL
Tabel I.1. Prosentase Kontribusi Sektor terhadap PDB Nasional Tahun 2005-2006... 2 Tabel I.2. PDB Sektor Pertanian Berdasar Harga Konstan
(Miliar Rupiah) ... 3 Tabel I.3. Perkembangan Nilai Ekspor Beberapa Komoditas
Pertanian (Nilai FOB Juta US $) ... 5 Tabel I.4. Nilai Ekspor Indonesia Menurut Sektor Januari –
Oktober 2005 dan 2006 ... 5 Tabel I.5. Tenaga Kerja (TK) menurut Sektor tahun 2006... 6 Tabel I.6. Jumlah Tenaga Kerja Sektor Pertanian, 2000 dan 2005 7 Tabel I.7. Jumlah Rumahtangga menurut Jenisnya... 9 Tabel I.8. Jumlah Rumahtangga Sektor Pertanian Tahun 2003 ... 9 Tabel I.9. Perkembangan Nilai Tukar Petani ... 10
Tabel II.1. Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Padi
Indonesia... 12 Tabel II.2. Produksi Palawija di Indonesia (juta ton), 2000-2006.. 13 Tabel II.3. Perkembangan Produktivitas dan Luas Panen Kedele
dan Jagung, 2000-2006 ... 14 Tabel II.4. Perkembangan Produksi Sayur-sayuran dan Buah-
buahan (ton)... 15 Tabel II.5. Perkembangan Produksi dan Luas Panen Beberapa
Sayur-sayuran dan Buah-buahan... 16 Tabel II.6. Sebaran Wilayah Produksi Padi di Indonesia, 2002-
2006 ... 17 Tabel II.7. Perkembangan Persentase Sebaran Luas Panen dan
Produksi Padi menurut Agroekosistem, 2000-2006 ... 18 Tabel II.8. Sebaran Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Padi
menurut Agro-Ekosistem, 2000-2006 ... 19 Tabel II.9. Perkembangan Sebaran Wilayah Produksi Jagung,
Ubi Kayu, dan Kedele, 2005-2006 ... 20 Tabel II.10. Sebaran Produksi Kentang, Bawang Merah, dan Kubis
menurut Wilayah (ribu ton) ... 22
Tabel II.11. Perkembangan Distribusi Sebaran Wilayah Produksi
Kentang, Bawang Merah, dan Kubis (%)... 23
Tabel II.12. Sebaran Produksi Mangga, Durian, dan Pisang menurut Wilayah (ribu ton)... 25
Tabel II.13. Sebaran Distribusi Wilayah Produksi Mangga, Durian, dan Pisang (%)... 26
Tabel II.14. Perkembangan Tingkat Kecukupan Beras Dalam Negeri ... 28
Tabel II.15. Perkembangan Ekspor-Impor Beberapa Komoditas Tanaman Bahan Makanan, 2000-2005 ... 30
Tabel II.16. Perbandingan Produktivitas Padi Indonesia dengan Negara Lain (ton/ha) ... 31
Tabel II.17. Perbandingan Produktivitas Kedele Indonesia dengan Negara Lain (ton/ha) ... 32
Tabel III.1. Luas Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), Tanaman Menghasilkan (TM) dan Tanaman Tidak Menghasilkan (TTM), 2004 - 2005... 36
Tabel III.2. Luas Tanam dan Luas Panen Tanaman Perkebunan Setahun, 2004-2005... 37
Tabel III.3. Produksi dan Produktivitas Beberapa Tanaman Perkebunan, 2004-2005... 37
Tabel III.4. Sasaran Produksi Gula Nasional, 2002-2007 ... 38
Tabel III.5. Perkembangan Produksi Gula (ton), 2002-2005 ... 38
Tabel III.6. Sebaran Wilayah Luas Tanaman Kopi, 2004-2005... 39
Tabel III.7. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tanaman Kopi, 2004-2005... 40
Tabel III.8. Sebaran Wilayah Luas Tanaman Kakao, 2004 - 2005 .. 41
Tabel III.9. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tanaman Kakao, 2004 - 2005 ... 41
Tabel III.10. Sebaran Wilayah Luas Tanaman Teh, 2004 - 2005 ... 42
Tabel III.11. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tanaman Teh, 2004 - 2005 ... 42
Tabel III.12. Sebaran Wilayah Luas Tanam Tanaman Tembakau, 2004 - 2005 ... 43
Daftar Tabel
Tabel III.15. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Kapas,
2004-2005... 45 Tabel III.16. Sebaran Wilayah Luas Tanam Tanaman Tebu, 2004 -
2005 ... 46 Tabel III.17. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tebu,
2004 - 2005... 46 Tabel III.18. Jumlah Perusahaan Perkebunan menurut Jenis
Tanaman Perkebunan ... 47 Tabel III.19. Kapasitas Perusahaan Perkebunan Negara... 48 Tabel III.20. Perkembangan Produktivitas Beberapa Komoditas
Perkebunan, 2001-2005 ... 51 Tabel III.21. Perkembangan Volume Ekspor Beberapa Komoditas
Perkebunan (ton)... 53 Tabel III.22. Perkembangan Volume Impor Beberapa Komoditas
Perkebunan (ton)... 53 Tabel III.23. Perbandingan Produktivitas dari Beberapa Komoditas
Perkebunan di Beberapa Negara, 2000-2004 ... 54
Tabel IV.1. Populasi Ternak Tahun 2000 – 2006 ... 58 Tabel IV.2. Produksi Daging, Telur dan Susu, 2004-2006 ... 59 Tabel IV.3. Perbandingan Rata-rata Berat Hidup Ternak
Ruminansia dan Babi Hasil, 1995 dan 2002 (dalam kg) 61 Tabel IV.4. Perbandingan Rata-rata Berat Karkas Ternak
Ruminansia dan Babi Hasil, 1976, 1995 dan 2002 ... 62 Tabel IV.5. Rasio Rata-rata Berat Karkas Terhadap Rata-rata
Berat Hidup menurut Jenis Ternak, Hasil Studi Tahun 1995 dan 2002 (dalam kg) ... 63 Tabel IV.6. Parameter Produktivitas Ternak Sapi Perah dan
Unggas ... 64 Tabel IV.7. Konsumsi Daging, Telur, dan Susu, 2004-2006 ... 65 Tabel IV.8. Konsumsi Hasil Ternak dan Protein Hewani Tahun
2006 ... 65 Tabel IV.9. Persebaran Ternak Besar menurut Wilayah... 67 Tabel IV.10. Persebaran Ternak Unggas menurut Wilayah... 68 Tabel IV.11. Jumlah Rumah Tangga Peternakan dan Perusahaan
Ternak ... 69 Tabel IV.12. Keterlibatan Rumah Tangga Peternakan dalam
Koperasi dan Kelompok Tani... 69
Tabel IV.13. Perusahaan Pakan Ternak, 1997 – 2001 (dalam unit).. 70
Tabel IV.14. Persentase Rumah Tangga Peternakan yang Mendapat Kredit/Tambahan menurut Sumber Kredit dan Jenis Ternak... 71
Tabel V.1. Luas Lahan Irigasi ... 73
Tabel V.2. Kondisi dan Keandalan Prasarana Irigasi... 74
Tabel V.3. Kebutuhan Pupuk untuk Pertanian... 75
Tabel V.4. Kapasitas dan Produksi Pupuk ... 75
Tabel V.5. Produksi, Pengadaan dan Kebutuhan Pupuk, Januari– Maret 2006... 76
Tabel V.6. Persentase Rumahtangga Pertanian menurut Sumber Permodalan Usaha ... 77
Tabel V.7. Prasarana Penelitian Pertanian ... 78
Tabel V.8. Prasarana Diklat dan Penyuluhan Pertanian ... 79
Tabel V.9. Lembaga Kesehatan Hewan yang Mendukung Sistem Kesehatan Hewan Nasional ... 81
Tabel V.10. Prasarana Karantina Pertanian... 82
Daftar Gambar
DAFTAR GAMBAR
Gambar II.1. Perkembangan Produksi, Produktivitas, dan Luas Panen Padi, 1999-2006... 12 Gambar II.2. Perkembangan Produksi Beberapa Komoditas
Palawija, 2000-2006... 14 Gambar II.3. Perkembangan Pangsa Produksi dan Luas Panen
Padi antara Jawa dan Luar Jawa, 2002-2006 ... 18 Gambar II.4. Perkembangan Sebaran Wilayah Produksi Jagung,
Ubi Kayu, dan Kedele, 2005-2006 (dalam %) ... 21 Gambar II.5. Perkembangan Pangsa Produksi Kentang, Bawang
Merah, dan Kubis antara Jawa dan Luar Jawa,
2003-2005... 24 Gambar II.6. Pola Panen Padi Sawah, Padi Ladang, dan Padi,
2000-2006... 27 Gambar II.7. Perkembangan Persentase Kecukupan Beras,
1997-2004... 28 Gambar II.8. Perkembangan Nilai Ekspor Sayur-sayuran dan
Buah-buahan, 2001-2004 ... 31
Gambar III.1. Perkembangan Pangsa Produksi antar Pelaku pada Perkebunan Tebu, Kelapa Sawit, Kakao, dan
Karet, 2001-2005... 50
Pertanian dan Perekonomian Nasional
BAB I
PERTANIAN DAN PEREKONOMIAN NASIONAL
Peran sektor pertanian dalam perekonomian Indonesia dapat dilihat dari kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB), perolehan devisa/perdagangan, penyerapan tenaga kerja dan kontribusinya dalam peningkatan kesejahteraan petani.
1.1. Sumbangan Pertanian dalam PDB dan Ekspor
Pertanian masih menjadi salah satu sektor strategis dalam perekonomian Indonesia, yang ditunjukkan oleh kontribusinya terhadap PDB nasional. Berdasarkan data BPS, PDB sektor pertanian termasuk perikanan dan kehutanan dalam dua tahun terakhir adalah sebesar 13 – 14 persen dari nilai total PDB Nasional. Angka ini cukup signifikan, karena kontribusi sektor pertanian tersebut menempati urutan ketiga setelah sektor industri (27 – 28 persen) dan sektor perdagangan, hotel dan restoran (14 – 16%).
Menurunnya kontribusi sektor pertanian yang diiringi dengan meningkatnya kontribusi sektor industri, sejalan dengan pergeseran perekonomian yang semakin mengarah ke sektor sekunder. Secara luas, tidak berarti bahwa kontribusi sektor pertanian secara keseluruhan (agribisnis) terus mengecil, karena yang dicatat dalam sektor pertanian adalah aspek produksi primernya saja (produksi on farm), sehingga pengolahan/industri pertanian yang semakin meningkat nilainya tercatat dalam sektor industri.
Apabila dilihat laju pertumbuhannya, dalam dua tahun terakhir PDB sektor pertanian hanya tumbuh sebesar 4,5%. Laju pertumbuhan tersebut berada di bawah sektor pengangkutan dan komunikasi yang besarnya 12,2%. Sedangkan sektor industri yang kontribusi terhadap PDB nya paling besar ternyata hanya tumbuh 3,1%.
Dilihat dari komposisi PDB berdasarkan angka konstan, Nilai PDB 2006 triwulan 1 dan 2 menunjukkan peningkatan dibandingkan triwulan yang sama pada 2005 di dalam sektor pertanian, sub sektor tanaman bahan makanan masih dominan. Nilai PDB TBM 2005 adalah sebesar Rp 125,8 triliun meningkat dibanding 2004 (Rp 248,2 triliun).
Tabel I. 1. Prosentase Kontribusi Sektor terhadap PDB Nasional Tahun 2005-2006
2005 2006 Lapangan
Usaha Triwln I Triwln II Triwln I Triwln II
Laju tumbuh*
Pertanian, Peternakan, Kehutanan, Perikanan
14,5 13,9 13,5 13,3 4,5
Pertambangan
& Penggalian
9,2 10,1 10,2 10,5 4,5
Industri Pengolahan
27,8 27,9 28,8 28,9 3,1
Listrik, Gas dan Air Bersih
0,9 0,9 0,9 0,9 5,7
Konstruksi 6,3 6,3 6,4 6,5 7,7
Perdagangan, Hotel dan restoran
16,2 16,1 15,0 14,9 4,7
Pengangkutan
& Komunikasi
6,4 6,5 7,0 7,0 12,2
Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan
8,5 8,4 8,3 8,2 5,2
Jasa-jasa 10,2 10,0 9,8 9,8 5,7
PDB 100,0 100,0 100,0 100,0 5,0
PDB Tanpa Migas
90,5 89,4 88,6 87,7 5,5
Keterangan: * Laju Pertumbuhan Semester I 2006 terhadap Semester I 2005 Sumber : BPS
Dilihat dari perkembangan antar triwulanan, sub sektor tanaman bahan makanan nampak berfluktuasi dibandingkan sub sektor lainnya.
Hal ini disebabkan oleh dominannya produksi padi dalam sub sektor tanaman bahan makanan, yang sangat dipengaruhi oleh musim dan ketersediaan air. Kelangkaan dan kompetisi penggunaan air antar sektor maupun antar tanaman mengakibatkan adanya fluktuasi ini.
Demikian pula kompetisi penggunaan lahan, dengan dengan sesuai dinamika harga antar komoditas pertanian.
Pertanian dan Perekonomian Nasional
Tabel I. 2. PDB Sektor Pertanian Berdasar Harga Konstan (Miliar Rupiah)
2005* 2006**
Sektor/
Subsektor I II III IV Total I II
Pertanian 63.783,1 65.156,2 69.643,3 55.808,7 254.391,3 66.539,5 67.601,3 TBM 37.576,1 32.307,2 32.294,4 23.579,8 125.757,5 38.837,0 33.700,8 Perkebunan 5.754,7 10.724,9 14.582,5 9.367,8 40.429,9 6.293,4 11.147,6 Peternakan 8.041,5 7.909,4 8.214,9 8.415,4 32.581,2 8.496,3 8.190,3 Kehutanan 3.616,5 4.567,1 4.411,9 4.386,4 16.981,9 3.567,8 4.535,3 Perikanan 8.794,3 9.647,6 10.139,6 10.059,3 38.640,8 9.345,0 10.027,3 PDB 427.760,3 434.998,9 448.287,5 438.500,2 1.749.546,9 448.284,4 457.082,5 PDB Non Migas 391.088,2 399.091,4 411.858,7 402.185,8 1.604.224,1 412.374,5 420.839,3
Keterangan: * Angka sangat sementara; ** Angka sangat sangat sementara Sumber : BPS, 2006
Demikian pula, sub sektor perkebunan merupakan sub sektor dengan peningkatan yang cukup besar dibanding perikanan dan kehutanan yang relatif stabil. Pada triwulan pertama, PDB harga konstan sub sektor tersebut sebesar Rp 6,2 triliun dan menjadi Rp 11,1 triliun pada triwulan kedua pada tahun yang sama. Hal ini disebabkan sangat besarnya fluktuasi harga komoditas ini di pasar dunia. Dalam tiga tahun terakhir harga komoditas minyak saawit dan karet terus meningkat. Hal ini seiring dengan peningkatan harga minyak dunia.
Peningkatan harga minyak sawit disebabkan meningkatnya peruntukan CPO untuk produksi biofuel sebagai pengganti/alternatif dari BBM. Demikian pula dengan meningkatnya harga BBM, produksi karet sintetis (syntetic rubber) semakin mahal dan menurun sehingga permintaan karet alam (natural rubber) meningkat.
Sub sektor kehutanan masih relatif kecil kontribusinya terhadap PDB nasional. Pada triwulan kedua tahun 2006, kontribusi sub sektor kehutanan terhadap PDB hanya Rp 4,5 triliun. Angka ini merupakan kontribusi tertinggi kedua dari sub sektor tersebut setelah triwulan kedua 2005. Pada tahun 2005, jumlah kontribusi sub sektor kehutanan hanya Rp 16,9 triliun. Jumlah ini tentu masih sangat sedikit dibandingkan kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan yang mencapai Rp 125,8 triliun. Relatif rendahnya kontribusi PDB sub sektor kehutanan disebabkan karena menurunnya pasokan kayu yang semula banyak berasal dari illegal logging. Sementara produksi kayu dari hutan tanaman industri masih sangat terbatas.
1.2. Perdagangan
Peranan sektor pertanian dalam perdagangan internasional, dapat ditunjukkan oleh posisi beberapa komoditas pertanian di pasar dunia.
Beberapa komiditi unggulan Indonesia di pasar dunia adalah karet, tembakau dan minyak kelapa sawit. Berdasarkan data nilai ekspor beberapa komoditas pertanian, dapat terlihat bahwa karet, kopi dan minyak kelapa sawit menunjukkan nilai ekspor yang meningkat dari tahun 2001 sampai tahun 2005 (Tabel I.3). Ketiga komoditas tersebut mengalami peningkatan nilai ekspor sampai dua kali pada tahun 2005
Pertanian dan Perekonomian Nasional
Tabel I. 3. Perkembangan Nilai Ekspor Beberapa Komoditas Pertanian (Nilai FOB Juta US $)
Tahun Komoditas
2001 2002 2003 2004 2005 Karet 786,2 1.037,6 1.495,8 2.180,0 2.582,5
Kopi 203,5 218,8 250,9 281,6 497,8
Teh 94,7 98,0 91,8 64,8 47,9
Tembakau 80.776,2 66.450,2 44.486,1 45.613,2 62.896,5 Lada Putih 60.077,6 58.968,5 54.710,8 29.650,7 34.650,8 Lada Hitam 39.922,3 29.167,2 38.048,9 21.271,4 21.996,9 Minyak Kelapa
Sawit
1.080,9 2.092,4 2.454,6 3.441,8 3.756,3 Sumber: BPS, 2006
Beberapa kendala yang dihadapi dalam persaingan perdagangan dunia adalah rendahnya kualitas komoditas pertanian. Hal ini dapat disebabkan masih rendahnya tingkat inovasi teknologi yang diterapkan serta rendahnya pengawasan terhadap nilai mutu produk tersebut.
Berbagai isu dunia mengenai perdagangan dunia, misalnya kebijakan tarif dan keamanan produk, turut membatasi ekspor pertanian Indonesia. Oleh karena itu, dukungan kebijakan pemerintah masih sangat dibutuhkan guna peningkatan ekspor pertanian Indonesia.
Tabel I. 4. Nilai Ekspor Indonesia Menurut Sektor Januari – Oktober 2005 dan 2006
Nilai FOB (Juta US$) Uraian Jan-Okt
2005
Jan-Okt 2006
% Perubahan Jan-Okt 2006
thd 2005
% Peran thd Total Jan-
Okt 2006 Total Ekspor 70.650,8 82.207,8 16,4 100,0
Migas 15.792,8 17.541,1 11,1 21,3 Non Migas 54.858,0 64.666,7 17,9 78,7
Pertanian 2.396,1 2.822,5 17,8 3,4 Industri 46.371,7 53.164,6 14,7 64,7 Pertamb & lainnya 6.090,2 8.679,6 42,5 10,6
Sumber : BPS, 2006
Secara keseluruhan, nilai ekspor pertanian serta perbandingannya dengan sektor lainnya dapat dilihat pada Tabel I.4.
Dalam tabel tersebut, dapat dilihat bahwa nilai ekspor pertanian, walaupun mengalami peningkatan 17,8 persen dalam satu tahun
terakhir, namun ternyata nilai ekspor pertanian hanya mampu berperan sekitar 3,4 persen terhadap nilai ekspor Indonesia secara keseluruhan pada periode Januari – Oktober 2006. Sedangkan industri dan pertambangan masih memegang peranan penting, dengan berperan sekitar 64,7 persen dan 10,6 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih diperlukan upaya peningkatan produktivitas dan kualitas pertanian dalam meningkatkan nilai ekspor pertanian.
1.3. Tenaga Kerja
Penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian adalah sebesar 42,3 juta atau sekitar 44,4 persen dari total tenaga kerja Indonesia yang besarnya mencapai 95,2 juta jiwa (Tabel I.5). Besarnya presentase ini menempatkan pertanian sebagai sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar, diikuti sektor perdagangan sebesar 19,5 persen dan sektor industri 12,2 persen. Keberadaan tenaga kerja yang besar di sektor pertanian ini merupakan beban yang berat karena kontribusi sektor pertanian terhadap PDB hanya menempati urutan ketiga. Sebaliknya, sektor industri yang memiliki kontribusi terhadap PDB yang besar hanya memapu menyerap 12,2 persen. Demikian pula jika dibandingkan dengan penyerapan tenaga kerja di sektor lain.
Tabel I. 5. Tenaga Kerja (TK) menurut Sektor tahun 2006*
Sektor Rata-rata TK (juta orang)
Prosentase TK (sektor/nasional) Pertanian, Kehutanan, Perburuan &
Perikanan
42,3 44,5
Pertambangan & penggalian 1,0 1,0 Industri Pengolahan 11,6 12,2 Listrik, Gas & Air 0,2 0,2
Bangunan 4,4 4,6
Perdagangan, RumahMakan & Hotel 18,6 19,5 Angkutan, Pergudangan & Komunikasi 5,5 5,8 Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan
Bangunan , Tanah & Jasa Perusahaan
1,2 1,2
Jasa Kemasyarakatan 10,6 11,1
Pertanian dan Perekonomian Nasional
Terkonsentrasinya tenaga kerja di sektor pertanian mencerminkan bahwa sektor lain belum mampu menyerap tenaga kerja sebagaimana yang diharapkan. Hal ini bisa terjadi karena relatif kurang berkembangnya sektor-sektor lain, masuknya sektor industri relatif lambat pertumbuhannya dalam dua tahun terakhir. Yang kedua, sektor-sektor lain memiliki standar kualitas tenaga kerja, sedangkan sektor pertanian tidak mensyaratkan standar kualitas. Sebagai contoh, untuk menjadi pekerja di sektor industri membutuhkan ijazah dan keahlian tertentu. Demikian pula untuk memasuki sektor angkutan dan komunikasi yang sangat berkaitan dengan teknologi (IT). Untuk dapat menyebarkan tenaga kerja ke sektor – sektor lain, diperlukan pertumbuhan yang lebih besar pada sektor-sektor, penyebaran penggunaan tenaga kerja (padat tenaga kerja) dan peningkatan standar kualitas SDM tenaga kerja Indonesia. Dengan semakin tingginya kualitas SDM tenaga kerja dan diiringi dengan pasar tenaga kerja yang fleksibel, persebaran tenaga kerja antar sektor akan seimbang. Dengan demikian, beban berat tidak hanya berada di sektor pertanian dan pendapatan tenaga kerja secara umum dapat meningkat.
Tabel I. 6. Jumlah Tenaga Kerja Sektor Pertanian, 2000 dan 2005
Tahun
2000 2005 Sub Sektor
(000
orang) (%)* (000
orang) (%)*
Pertumbuhan 2000-2005
(%) Tan. Pangan, Perkebunan
& Hortikultura
35.618 39,7 36.349 38,3 0,4
Peternakan 1.856 2,1 2.448 2,6 5,7
Kombinasi Pertanian, Perkebunan & Peternakan
5 0,0 301 0,3 127,0 Jasa Pertanian,
Perkebunan & Peternakan
1.075 1,2 440 0,5 -16,4 Perburuan & Penangkaran
Satwa Liar
2 0,0 61 0,1 96,3
Kehutanan 456 0,5 550 0,6 3,8
Perikanan 1.665 1,9 1.666 1,8 0,0
Jumlah Pertanian 40.677 45,3 41.814 44,0 0,6
Indonesia 89.838 100,0 94.948 100,0 1,1
Ket : * persentase terhadap jumlah tenaga kerja Indonesia Sumber : BPS 2005
Dilihat dari persebaran sub sektor dalam sektor pertanian, dapat dikatakan hampir tidak terjadi perubahan yang signifikan atas jumlah tenaga kerja yang ada di sub sektor Tanaman Pangan, Perkebunan dan Hortikultura dari tahun 2000 sampai tahun 2005. Kecenderungan yang terjadi adalah meskipun secara absolut penyerapan tenaga kerja di sektor ini masih meningkat, namun prosentasenya terhadap tenaga kerja seluruhnya dalam lima tahun terakhir makin menurun, yaitu dari 39,6 persen menjadi 38,3 persen (Tabel I.6). Demikian juga untuk sub sektor lainnya, kondisi lima tahun terakhir relatif tetap, dan peningkatan yang terjadi tidak cukup signifikan.
1.4. Rumah Tangga Pertanian
Penghitungan jumlah rumah tangga di dasarkan kepada keberadaan dapur dalam rumah. Apabila terdapat beberapa kepala keluarga yang tinggal dalam satu rumah dengan dapur yang sama akan dihitung menjadi satu rumah tangga. Dengan demikian penghitungan jumlah rumah tangga akan berbeda dengan jumlah tenaga kerja maupun jumlah kepala keluarga (KK). Dilihat dari jenisnya, rumah tangga dapat dibedakan menjadi rumah tangga pertanian dan non pertanian. Selain itu, rumah tangga juga dapat dibedakan menjadi rumah tangga jawa – luar jawa dan rumah tangga kota – desa.
Jumlah rumah tangga Indonesia pada tahun 2003 adalah 52,9 juta. Sedangkan yang termasuk sebagai rumah tangga pertanian adalah 47,0 persen atau sekitar 24,9 juta (Tabel I.7). Selebihnya, 53,0 persen atau sekitar 28 juta adalah rumah tangga non pertanian. Rumah tangga pertanian sebenarnya mengalami penurunan prosentase walaupun secara nominal meningkat. Pada tahun tahun 1993, jumlah rumah tangga pertanian adalah 50,6 persen dan akhirnya turun menjadi 47,01 persen pada tahun 2003. Sedangkan antara tahun 1983 dan 1993 tidak dapat dibandingkan karena kriteria yang digunakan berbeda.
Penurunan antara selang waktu 1993 - 2003 ini diduga karena semakin turunnya minat rumah tangga untuk bekerja di sektor pertanian.
Sebaliknya mereka memilih bekerja di sektor lain karena dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi.
Pertanian dan Perekonomian Nasional
Tabel I. 7. Jumlah Rumahtangga menurut Jenisnya
1983 1993 2003 Jenis
Rumah
tangga Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Rata-rata Pertumbuhan
1993 – 2003 (%) Pertanian 18.995 60,2 20.831 50,6 24.869 47,0 1,8 Non
Pertanian
12.537 39,8 20.372 49,4 28.036 53,0 3,2 Jumlah 31.532 100,0 41.203 100,0 52.904 100,0 2,5 Sumber : BPS
Dilihat dari wilayahnya seperti dijelaskan dalam Tabel I.8, rumah tangga tanaman pangan, hortikultura dan peternakan lebih banyak berada di Jawa. Rata-rata 56,2 dari rumah tangga tersebut berada di pulau Jawa dan rata-rata 87,2 berada di perdesaan Indonesia.
Sedangkan untuk rumah tangga perkebunan, sekitar 75,3 persen berada di luar Jawa dan sekitar 93,7 persen berada di perdesaan Indonesia.
Tabel I. 8. Jumlah Rumahtangga Sektor Pertanian Tahun 2003*
Padi-Palawija Hortikultura Peternakan Perkebunan Wilaya
h Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jawa 10.834 59,3 4.747 56,1 3.002 53,3 1.717 24,7 Luar
Jawa
7.425 40,7 3.710 43,9 2.626 46,7 5.226 75,3 Kota 2.267 12,4 1.128 13,3 709 12,6 435 6,3 Desa 15.992 87,6 7.329 86,7 4.919 87,4 6.508 93,7 Jumlah 18.259 100,0 8.457 100,0 5.628 100,0 6.943 100,0 Keterangan: * tidak termasuk Perikanan dan Kehutanan
Sumber : SUSENAS, 2003
1.5. Pendapatan dan Nilai Tukar Petani
Nilai Tukar Petani (NTP) dianggap sebagai salah satu indikator kesejahteraan petani. Hal ini dikarenakan NTP mencerminkan nilai harga yang diterima petani yang dibandingkan dengan nilai harga yang harus dibayarkannya untuk memenuhi kebutuhannya (baik produksi maupun kebutuhan sehari-hari). Apabila dilihat dari tiga tahun terakhir, NTP cenderung berada di atas 100, yang menunjukkan bahwa nilai harga yang diterima petani lebih besar dibandingkan nilai harga
yang harus dibayarkannya. Dengan demikian, petani dapat dianggap telah mampu memenuhi kebutuhannya.
Dari kurun waktu 2004 – 2006, hanya terdapat dua bulan dimana NTP berada di bawah 100, yaitu bulan Nopember dan Desember 2005 yang nilainya masing-masing 99,5 dan 98,7. Nilai ini mengindikasikan bahwa pada kedua bulan tersebut, nilai yang harus dibayar petani lebih besar daripada nilai harga yang diterimanya. Dari nilai tersebut, berarti baru sekitar 98 – 99 persen dari jumlah kebutuhan/pengeluaran yang dapat dipenuhi dari total penerimaan petani tersebut.
Tabel I. 9. Perkembangan Nilai Tukar Petani Tahun Bulan
2004 2005 2006 Januari 104,4 101,3 100,7
Pebruari 103,5 100,1 100,7
Maret 103,4 100,3 101,0
April 103,3 100,8 101,1
Mei 103,9 101,7 101,7
Juni 104,8 101,1
Juli 105,8 102,8
Agustus 102,2 101,7
September 101,0 101,8
Oktober 100,7 100,2
Nopember 100,6 99,5
Desember 101,0 98,7
Rata-rata tahunan 102,9 100,8 101,1 Sumber: BPS, beberapa tahun penerbitan
Tanaman Bahan Makanan
BAB II
TANAMAN BAHAN MAKANAN
Tanaman bahan makanan merupakan sub sektor paling utama dari sektor pertanian. Berbeda dari pengelompokan profil pangan dan pertanian sebelumnya, dalam bagian ini tanaman bahan makanan akan mencakup pula uraian tentang sayur-sayuran dan buah-buahan. Pada profil sebelumnya, sayur-sayuran dan buah-buahan menjadi bagian tersendiri dalam pembangunan hortikultura. Penggabungan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemahaman menyeluruh tentang bahan makanan itu sendiri dimana sayur-sayuran dan buah-buahan juga merupakan unsur penting dalam pangan masyarakat yang perlu dipromosikan tingkat konsumsinya.
Pembahasan akan meliputi aspek produksi, luas panen, produktivitas, sebaran wilayah, sebaran agroekosistem, dan neraca perdagangan (ekspor-impor). Selain itu, bagian akhir tulisan akan mendiskusikan mengenai strategi pengembangan pembangunan tanaman bahan makanan.
2.1. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas
2.1.1. Padi
Selama kurun waktu 1999-2005, produksi padi dalam negeri terus mengalami peningkatan, kecuali pada tahun 2001. Rata-rata kenaikan produksi adalah sekitar 0,6 ton per tahun atau 1,6 persen per tahun; sedangkan, kenaikan produksi tertinggi dicapai pada tahun 2004 yang meningkat sekitar 2 juta ton dibandingkan produksi pada tahun 2003. Data tentang produksi, luas panen, dan produktivitas padi Indonesia disajikan pada Tabel II.1. Tahun 2005, produksi padi mencapai 54,2 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka tetap produksi padi ini lebih tinggi daripada angka ramalan III 2005 yang memperkirakan produksi padi 2005 sekitar 53,9 juta ton (GKG).
Kenaikan produktivitas lebih merupakan faktor penjelas terjadinya kenaikan produksi padi pada tahun 2005 ini.
Tabel II. 1. Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Padi Indonesia Tahun Produksi
(juta ton)
Luas Panen (juta ha)
Produktivitas (ku/ha) 1999 50,9 12,0 42,5 2000 51,9 11,8 44,0 2001 50,5 11,5 43,9 2002 51,5 11,5 44,7 2003 52,1 11,4 45,4 2004 54,1 11,9 45,4 2005 54,2 11,8 45,8 2006*) 54,7 11,9 46,1 Keterangan: *) Angka Ramalan III BPS, 2006
Sumber : BPS, 2006
Untuk tahun 2006 ini, BPS memperkirakan bahwa tingkat produksi padi yang dapat dicapai adalah sekitar 54,7 juta ton (Angka Ramalan III 2006 BPS). Angka ramalan ini dihitung berdasarkan angka realisasi produksi Januari-Agustus 2006 dan angka perkiraan September-Desember 2006. Berbeda dengan tahun 2005 yang kenaikan produksi lebih disebabkan oleh kenaikan produktivitas, pencapaian produksi padi 2006 ini disebabkan baik oleh kenaikan luas panen maupun kenaikan produktivitas (Tabel II.1.).
0 10 20 30 40 50 60
1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006*)
Luas P anen (juta ha) P ro duktivitas (ku/ha) P ro duksi (juta to n)
Sumber: Diolah dari BPS, berbagai tahun penerbitan
Tanaman Bahan Makanan
2.1.2. Palawija
Permasalahan penyediaan bahan makanan tidak hanya terkait dengan produksi padi. Komoditas palawija juga mempunyai peran penting dalam penyediaan bahan makanan bagi masyarakat. Bagian ini akan menyajikan perkembangan produksi beberapa komoditas palawija (jagung, kedele, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar) dari 2000-2006. Tabel produksi beberapa komoditas palawija disajikan pada Tabel II.2. dan visualisasi perkembangannya disajikan pada Gambar II.1.
Tabel II. 2. Produksi Palawija di Indonesia (juta ton), 2000-2006 Tahun Jagung Ubi Kayu Kedele Kc. Tanah Kc. Hijau Ubi Jalar
2000 9,7 16,1 1,0 0,7 0,3 1,8 2001 9,3 17,1 0,8 0,7 0,3 1,7 2002 9,7 16,9 0,7 0,7 0,3 1,8 2003 10,9 18,5 0,7 0,8 0,3 2,0 2004 11,2 19,4 0,7 0,8 0,3 1,9 2005 12,5 19,3 0,8 0,8 0,3 1,9 2006*) 12,1 19,9 0,8 0,8 0,3 1,8 Keterangan: *) Angka Ramalan III 2006, BPS
Sumber : BPS, beberapa tahun penerbitan
Dalam kurun waktu 2000-2006, hanya jagung dan ubi kayu yang produksinya mempunyai kecenderungan meningkat. Produksi jagung meningkat dari 9,7 juta ton pada tahun 2000 menjadi 12,0 juta ton pada tahun 2005, namun diperkirakan akan menurun menjadi 12,1 juta ton pada tahun 2006. Selain itu, peningkatan produksi juga terjadi pada komoditas ubi kayu yang meningkat dari 16,1 juta ton pada tahun 2000 menjadi 19,5 juta ton pada tahun 2005; bahkan BPS memperkirakan produksi ubi kayu pada tahun 2006 akan bisa mencapai 19,9 juta ton. Di lain pihak, produksi komoditas palawija lainnya (kedele, kacang tanah, kacang hijau, dan ubi jalar) relatif tidak mengalami kenaikan produksi dalam kurun waktu tersebut.
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006*)
(juta ton)
Jagung Kedele Kc. Tanah Kc. Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar
Sumber: Diolah dari Tabel 2.4
Gambar II. 2. Perkembangan Produksi Komoditas Palawija, 2000-2006
Dalam aspek produktivitas, komoditas kedele dan jagung mampu meningkat produktivitasnya. Laju perkembangan produktivitas jagung relatif lebih cepat, sedangkan peningkatan produktivitas kedele lebih lambat (Tabel II.3.). Pada tahun 2006, diperkirakan produktivitas kedele akan sama dengan tahun sebelumnya, yaitu sekitar 1,3 ton/ha.
Sedangkan, produktivitas jagung diperkirakan sekitar 3,5 ton/ha.
Tabel II. 3. Perkembangan Produktivitas dan Luas Panen Kedele dan Jagung, 2000-2006
Komoditas 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006*) Kedele
Produktivitas (ton/ha)
1,2 1,2 1,2 1,3 1,3 1,3 1,3
Luas Panen (juta ha)
0,8 0,7 0,5 0,5 0,6 0,6 0,6
Jagung Produktivitas (ton/ha)
2,8 2,8 3,1 3,2 3,3 3,5 3,5
Luas Panen (juta ha)
3,5 3,3 3,1 3,4 3,4 3,6 3,5
Tanaman Bahan Makanan
Selain masalah stagnasinya tingkat produktivitas, upaya peningkatan produksi kedele domestik masih terkendala oleh tidak meningkatnya luas areal penanaman kedele. Hal ini tercermin dari menurunnya luas areal kedele tahun 2006 dibandingkan dengan luas areal tahun 2000-2001. sementara, itu, selama tiga tahun terakhir (2004-2006), luas areal tanam kedele tetap sama yaitu sekitar 600 ribu ha. Hal yang sama juga terjadi pada luas areal tanaman jagung dimana luas areal tahun 2006 diperkirakan akan sama dengan luas areal pada tahun 2000. Namun demikian, terjadi kecenderungan peningkatan luas areal dalam kurun waktu 2002-2006.
2.1.3. Sayur-sayuran dan Buah-buahan
Produksi sayur-sayuran dan buah-buahan menunjukkan pola yang meningkat (2004-2006). Tingkat produksi sayur-sayuran tahun 2004 sekitar 9,1 juta ton dan menjadi 9,2 juta ton. Rata-rata pertumbuhan produksi sayur-sayuran dalam kurun waktu tersebut sekitar 0,54% per tahun. Sementara itu, produksi buah-buahan tahun 2004 sekitar 14,3 juta ton dan menjadi 15,5 juta ton atau meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 3,91% per tahun (Tabel II.4.).
Tabel II. 4. Perkembangan Produksi Sayuran dan Buah-buahan (ton) Komoditas 2004 2005 2006 Pertumbuhan
(%/tahun) Sayur-sayuran 9.059.676 9.101.987 9.157.404 0,5 Buah-buahan 14.348.456 14.786.599 15.492.248 3,9 Sumber: Ditjen Hortikultura, 2006
Secara lebih rinci, Tabel II.5. menyajikan perkembangan produksi dan luas panen dari beberapa komoditas sayur-sayuran dan buah-buahan. Tidak sama dengan gambaran produksi agregat sayur- sayuran, produksi kentang dan kubis mengalami penurunan dalam kurun waktu 2004-2005, seiring dengan penurunan luas panen pada kurun waktu yang sama. Kecenderungan penurunan produksi sejak tahun 2002 terjadi pada bawang merah, yang di lain pihak terjadi peningkatan luas panen bawang merah dalam kurun 2002-2004.
Tabel II. 5. Perkembangan Produksi dan Luas Panen Beberapa Sayur- sayuran dan Buah-buahan
Produksi (ribu ton) Luas Panen (ribu ha) Komoditas
2002 2003 2004 2005 2002 2003 2004 2005 Kentang 893,7 1.010,0 1.072,0 1.009,6 57,2 65,8 65,0 61,6 Bawang
Merah 766,4 762,7 757,0 732,6 79,8 87,9 89,0 83,6 Kubis 1.232,9 1.348,6 1.433,0 1293,0 60,2 64,7 68,0 57,8 Mangga t.a 1.526,0 1.437,0 1.412,9
Durian t.a 741,5 676,0 566,0
Pisang t.a 4.175,7 4.874,0 5.177,6 Keterangan: t.a (tidak ada data)
Sumber : Statistik Pertanian, beberapa tahun penerbitan
Kenaikan produksi buah-buahan secara agregat juga tidak terjadi pada kinerja produksi mangga, durian, dan pisang. Kecenderungan peningkatan produksi hanya terjadi pada pisang yang meningkat produksinya dari 4,2 juta ton pada tahun 2003 menjadi 5,2 juta ton pada tahun 2005. Di lain pihak, produksi mangga dan durian malah mengalami penurunan dalam kurun 2003-2005.
2.2. Sebaran Produksi/Agroekosistem
Bagian ini akan menyajikan data tentang sebaran produksi dan produktivitas beberapa komoditas bahan makanan menurut wilayah dan menurut agroekosistemnya. Sebaran menurut agroekosistem hanya akan membahas tentang padi/beras, sedangkan sebaran produksi dan produktivitas menurut wilayah akan mencakup padi dan beberapa komoditas palawija.
2.2.1. Padi
Selama ini, Pulau Jawa masih merupakan produsen utama padi.
Berdasarkan data tahun 2002-2006, rata-rata produksi padi Pulau Jawa sekitar 29,2 juta ton (Tabel II.6.); atau, kontribusi Pulau Jawa terhadap
Tanaman Bahan Makanan
tahun 2006, BPS memperkirakan bahwa produksi padi Pulau Jawa akan mencapai 30 juta ton (GKG). Kontribusi besar Pulau Jawa terhadap produksi padi nasional ini disebabkan oleh tingkat produktivitas Pulau Jawa yang relatif lebih tinggi. Walaupun luas panen padi di Luar Jawa relatif lebih tinggi (rata-rata 6,1 juta ha atau 52,1 persen), namun karena produktivitasnya lebih rendah maka kontribusi Luar Jawa terhadap produksi padi nasional masih relatif lebih rendah. Berdasarkan data tersebut (lihat kembali Gambar II.3.), pola kontribusi Jawa dan Luar Jawa terhadap produksi dan luas panen padi nasional diperkirakan tidak banyak mengalami perubahan.
Tabel II. 6. Sebaran Wilayah Produksi Padi di Indonesia, 2002-2006 Wilayah 2002 2003 2004 2005 2006*)
Luas Panen (ha)
J a w a 5,6 5,3 5,7 5,7 5,7 Luar Jawa 5,9 6,1 6,2 6,1 6,2 Indonesia 11,5 11,4 11,9 11,8 11,9 Produktivitas (ku/ha)
J a w a 51 52,4 51,9 52,2 52,5 Luar Jawa 38,7 39,2 39,4 39,8 40,2 Indonesia 44,7 45,4 45,1 45,7 46,1
Produksi (juta ton)
J a w a 28,6 28,1 29,7 29,8 30,0 Luar Jawa 22,9 24 24,4 24,4 24,7 Indonesia 51,5 52,1 54,9 54,2 54,7 Sumber : BPS, beberapa tahun penerbitan
Keterangan : *) Angka Ramalan III BPS, 2006
Pada tahun 2005, secara lebih rinci, daerah produsen utama padi nasional adalah Jawa Barat (9,8 juta ton), Jawa Timur (9 juta ton), dan Jawa Tengah (8,4 juta ton). Sedangkan, wilayah di luar Jawa yang berkontribusi besar terhadap produksi nasional adalah Sumatera Utara (3,5 juta ton), dan Sulawesi Selatan (3,4 juta ton). Dari sisi produktivitas, produktivitas paling tinggi terjadi di Propinsi Bali (5,5 ton per ha) dan semua propinsi di Jawa mempunyai produktivitas sekitar 5,1 ton per ha. Di lain pihak, propinsi yang masih rendah produktivitasnya (kurang dari 3 ton per ha) antara lain Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau.
Sumber: BPS, beberapa tahun penerbitan
Gambar II. 3. Perkembangan Pangsa Produksi dan Luas Panen Padi antara Jawa dan Luar Jawa, 2002-2006
Upaya peningkatan produksi padi nasional memang tergantung pada tingkat produktivitas dan luas panen. Dengan memperhatikan keterbatasan lahan pertanian di Pulau Jawa, peluang peningkatan produksi padi di Jawa relatif terbatas pada upaya peningkatan produktivitas. Dari sisi luas panen, tantangan paling besar di Jawa adalah bagaimana mempertahankan lahan-lahan produktif tanaman padi yang sudah ada. Sedangkan, di Luar Jawa, upaya peningkatan produksi masih dapat dilakukan baik melalui peningkatan luas panen maupun peningkatan produktivitas.
Tabel II. 7. Perkembangan Persentase Sebaran Luas Panen dan Produksi Padi menurut Agroekosistem, 2000-2006
Luas Panen Produksi Tahun
Sawah Ladang Sawah Ladang
2000 89,8 10,2 94,8 5,2
2001 90,4 9,6 94,9 5,2
2002 91,3 9,6 95,0 5,1
2003 90,4 9,6 94,8 5,2
2004 90,8 10,2 94,6 5,7
2005 90,5 9,5 94,7 5,3
2006*) 90,8 9,2 94,7 5,1
Produksi Padi Luas Panen Padi
55,53 53,93 54,10 54,98 54,84 44,47 46,07 44,44 45,02 45,16
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
2002 2003 2004 2005 2006
(%)
Jawa Luar Jawa
48,70 46,49 47,90 48,31 47,90 51,30 53,51 52,10 51,69 52,10
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
2002 2003 2004 2005 2006
(%)
Jawa Luar Jawa
Tanaman Bahan Makanan
Berdasarkan agroekosistemnya, data BPS tahun 2000-2006 menunjukkan bahwa rata-rata 94,8 persen produksi padi berasal dari padi sawah. Sedangkan, dari sisi luas panen, padi sawah mempunyai kontribusi terhadap luas panen padi sekitar 90,6 persen (Tabel II.7).
Angka rinci tentang perkembangan sebaran produksi, luas panen, dan produktivitas menurut agroekosistemnya disajikan pada Tabel II.8.
Tabel II. 8. Sebaran Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Padi menurut Agro-Ekosistem, 2000-2006
Tahun Sawah Ladang Padi
Luas Panen (Juta ha)
2000 10,6 1,2 11,8
2001 10,4 1,1 11,5
2002 10,5 1,1 11,5
2003 10,4 1,1 11,5
2004 10,8 1,1 11,9
2005 10,5 1,1 11,6
2006*) 10,8 1,1 11,9
Produktivitas (Ku/ha)
2000 46,3 22,9 44,0
2001 46,0 23,7 43,9
2002 46,8 24,3 44,7
2003 47,5 25,2 45,4
2004 47,5 25,9 45,4
2005 47,8 25,5 45,7
2006*) 48,1 26,1 46,1
Produksi (Juta ton)
2000 49,2 2,7 51,9
2001 47,9 2,6 50,5
2002 48,9 2,6 51,5
2003 49,4 2,7 52,1
2004 51,2 2,9 54,1
2005 50,2 2,8 53,0
2006*) 51,8 2,8 54,7
Sumber : BPS, beberapa tahun penerbitan Keterangan: *) Angka Ramalan III BPS, 2006
Tabel II.8. juga memberikan gambaran bahwa luas panen tidak mengalami perubahan dari tahun ke tahun (kecuali tahun 2004 dan
2006). Kenyataan ini mengindikasikan bahwa kenaikan produksi padi dari tahun ke tahun lebih disebabkan oleh peningkatan produktivitas (dimana produktivitas padi sawah dan padi ladang keduanya mengalami kenaikan).
2.2.2. Palawija
Pulau Jawa merupakan sentra produksi komoditas jagung, kedele, dan ubi kayu (Tabel II.9.). Pusat produksi yang kedua untuk komoditas jagung dan ubi kayu adalah Pulau Sumatera. Sedangkan untuk komoditas kedele, Bali dan Nusa Tenggara merupakan lokasi produksi yang kedua setelah Pulau Jawa.
Tabel II. 9. Perkembangan Sebaran Wilayah Produksi Jagung, Ubi Kayu, dan Kedele, 2005-2006
Jagung Ubi Kayu Kedele
Propinsi
2005 2006*) 2005 2006*) 2005 2006*)
Jawa 59,5 58,2 55,1 52,5 69,7 69,2
Sumatera 21,2 20,3 30,3 33,1 8,3 7,4 Bali & Nusa Tenggara 5,8 6,5 5,9 5,4 14,9 15,7
Kalimantan 1,5 1,9 2,5 2,6 0,9 1,0
Sulawesi 11,7 12,9 4,7 5,1 5,1 5,4 Maluku & Papua 0,3 0,3 1,5 1,4 1,2 1,3 Luar Jawa 40,5 41,8 44,9 47,5 30,3 30,8
Indonesia 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Keterangan: *) angka ramalan III 2006
Sumber: Angka Ramalan III BPS, 2006
Berdasarkan data yang sama (2005-2006), pangsa produksi dari ketiga komoditas antara Jawa dan luar Jawa tidak banyak mengalami perubahan. Namun demikian, terdapat perbedaan keragaan di antara ketiganya (Gambar II.4.). Pangsa produksi jagung di Pulau Jawa akan semakin menurun, seiring dengan peningkatan pangsa produksi di Sulawesi dan Bali-Nusa Tenggara. Penurunan pangsa produksi di Jawa juga terjadi pada komoditas ubi kayu; sedangkan pangsa produksi ubi kayu di Sumatera dan Sulawesi cenderung meningkat. Di lain pihak, perkembangan pangsa produksi kedele antara Jawa dan luar Jawa
Tanaman Bahan Makanan
Sumber: Tabel II.9.
Gambar II. 4. Perkembangan Sebaran Wilayah Produksi Jagung, Ubi Kayu, dan Kedele, 2005-2006 (dalam %)
2.2.3. Sayur-sayuran dan Buah-buahan
Pulau Jawa masih merupakan sentra produksi kentang, bawang merah, dan kubis masih (Tabel II.10.). Selain itu, untuk ketiga komoditas tersebut, di luar Jawa, secara relatif, Pulau Sumatera merupakan sentra produksi yang berlokasi di luar Jawa; jumlah produksi di pulau-pulau lain relatif tidak signifikan. Dalam satuan besaran (magnitude), produksi kentang, bawang merah, dan kubis di Pulau Jawa berfluktuasi; begitu juga dengan produksi kentang dan kubis di luar Jawa. Sedangkan, produksi bawang merah di luar Jawa mengalami penurunan dalam kurun 2003-2005. Penurunan produksi juga terjadi untuk ketiga komoditas di Pulau Sumatera.
59,5
40,5 58,2
41,8
- 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Jawa Luar Jawa
2005 2006
55,1
44,9
52,5 47,5
- 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Jawa Luar Jawa
2005 2006
69,7
30,3 69,2
30,8
- 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Jawa Luar Jawa
2005 2006
Produksi Jagung Produksi Ubi Kayu
Produksi Kedele
Tabel II. 10. Sebaran Produksi Kentang, Bawang Merah, dan Kubis menurut Wilayah (ribu ton)
Kentang Bawang Merah Kubis
Wilayah
2003 2004 2005 2003 2004 2005 2003 2004 2005 Jawa 598,8 685,0 619,5 590,1 596,0 576,2 836,7 915,0 830,2 Bali & Nusa Tenggara 6,6 8,0 7,9 100,8 95,0 96,5 55,5 61,0 45,7 Sumatera 340,7 276,0 212,0 44,2 44,0 38,4 374,1 365,0 332,6
Kalimantan - - 0,0 0,2 - 0,1 0,9 2,0 1,1
Sulawesi 63,8 99,0 166,1 25,4 190,0 17,7 77,6 83,0 76,5 Maluku & Papua 0,1 4,0 4,0 2,0 3,0 3,7 3,8 7,0 6,9 Luar Jawa 411,2 387,0 390,1 172,6 161,0 156,4 511,9 518,0 462,8 Indonesia 1.010,0 1.072,0 1.009,6 762,7 757,0 732,6 1.348,6 1.433,0 1.293,0 Sumber : Statistik Pertanian, 2004; Departemen Pertanian, 2006
Tanaman Bahan Makanan
Secara proporsi menurut wilayah, pangsa produksi kentang antara Jawa dan luar Jawa berfluktuasi yang masih didominasi oleh Pulau Jawa sekitar 61,4% pada tahun 2005 (Tabel II.11. dan Gambar II.4.). Peningkatan pangsa produksi kentang paling besar terjadi di Pulau Sulawesi yang meningkat dari 6,3% tahun 2003 menjadi 16,4%
dari total produksi nasional tahun 2005.
Tabel II. 11. Perkembangan Distribusi Sebaran Wilayah Produksi Kentang, Bawang Merah, dan Kubis (%)
Kentang Bawang Merah Kubis
Wilayah
2003 2004 2005 2003 2004 2005 2003 2004 2005 Jawa 59,3 63,9 61,4 77,4 78,7 78,7 62,0 63,9 64,2 Bali & NT 0,7 0,7 0,8 13,2 12,5 13,2 4,1 4,3 3,5 Sumatera 33,7 25,7 21,0 5,8 5,8 5,2 27,7 25,5 25,7 Kalimantan - - 0,0 0,0 - 0,0 0,1 0,1 0,1 Sulawesi 6,3 9,2 16,4 3,3 25,1 2,4 5,8 5,8 5,9 Maluku &
Papua 0,0 0,4 0,4 0,3 0,4 0,5 0,3 0,5 0,5 Luar Jawa 40,7 36,1 38,6 22,6 21,3 21,3 38,0 36,1 35,8 Indonesia 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Sumber: Diolah dari Tabel II.10.
Untuk komoditas bawang merah dan kubis, terjadi peningkatan pangsa produksi di Pulau Jawa (dan/atau penurunan pangsa produksi di luar Jawa). Tabel II.11. juga menunjukkan adanya fluktuasi pangsa produksi bawang merah yang sangat tajam di Pulau Sulawesi dimana pangsa produksi pada tahun 2003 dan 2005 sekitar 3,3% dan 2,4%, sedangkan pada tahun 2004 sekitar 25,1% dari total produksi bawang merah nasional. Di luar Jawa, pusat produksi bawang merah berlokasi di Bali dan Nusa Tenggara. Sementara itu, pusat produksi kubis di luar Jawa berlokasi di Pulau Sumatera.
Sumber: Tabel II.11.
Gambar II. 5. Perkembangan Pangsa Produksi Kentang, Bawang Merah, dan Kubis antara Jawa dan Luar Jawa, 2003-2005
Produksi mangga dan durian secara nasional menunjukkan terjadinya penurunan produksi. Secara agregat, kecenderungan penurunan produksi ini juga terjadi di Jawa dan luar Jawa dalam kurun waktu 2003-2005 (Tabel II.12.). Di lain pihak, produksi pisang semakin meningkat dalam kurun waktu yang sama, baik di Jawa maupun di luar Jawa. Namun, dalam data yang lebih detail, terdapat juga penurunan produksi pisang, yaitu di Pulau Maluku dan Papua.
59,3
40,7 63,9
36,1 61,4
38,6
- 10 20 30 40 50 60 70
Jawa Luar Jawa
2003 2004 2005
77,4
22,6 78,7
21,3 78,7
21,3
- 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Jawa Luar Jawa
2003 2004 2005
62,0
38,0 63,9
36,1 64,2
35,8
- 10 20 30 40 50 60 70
Jawa Luar Jawa
2003 2004 2005
Produksi Kentang Produksi Bawang Merah
Produksi Kubis
Tanaman Bahan Makanan
Tabel II. 12. Sebaran Produksi Mangga, Durian, dan Pisang menurut Wilayah (ribu ton)
Mangga Durian Pisang Wilayah
2003 2004 2005 2003 2004 2005 2003 2004 2005 Jawa 1.211,0 1.126,0 1.108,3 224,5 176,0 141,0 2.625,0 3.108,0 3.270,0 Bali & Nusa Tenggara 128,4 141,0 133,0 8,0 13,0 18,9 175,0 247,0 297,7 Sumatera 88,6 68,0 57,3 370,0 343,0 271,8 753,7 940,0 1.008,9 Kalimantan 17,3 16,0 25,1 90,0 95,0 73,1 244,0 241,0 260,8 Sulawesi 74,6 81,0 77,6 43,5 44,0 54,6 234,0 296,0 301,0 Maluku & Papua 5,7 5,0 11,6 5,5 5,0 7,2 144,0 42,0 39,2 Luar Jawa 314,6 311,0 304,6 517,0 500,0 426,0 1.550,7 1.766,0 1.907,6 Indonesia 1.526,0 1.437,0 1.412,9 741,5 676,0 566,0 4.175,7 4.874,0 5.177,6
Sumber : Statistik Pertanian, beberapa tahun penerbitan
Pulau Jawa merupakan sentra produksi mangga dan pisang, sedangkan produksi durian lebih banyak dihasilkan oleh luar Jawa terutama di Pulau Sumatera (Tabel II.13.). Selama kurun waktu 2003- 2005, tidak ada perubahan signifikan terhadap pangsa wilayah produksi mangga dan pisang antara Jawa dan luar Jawa, dimana Pulau Jawa masih mendominasi jumlah produksi. Sedangkan untuk komoditas durian, dominasi pangsa produksi durian di luar Jawa semakin meningkat dari 69,7% tahun 2003 menjadi 75,3% tahun 2005.
Tabel II. 13. Sebaran Distribusi Wilayah Produksi Mangga, Durian, dan Pisang (%)
Mangga Durian Pisang Wilayah
2003 2004 2005 2003 2004 2005 2003 2004 2005 Jawa 79,4 78,4 78,4 30,3 26,0 24,9 62,9 63,8 63,2 Bali & NT 8,4 9,8 9,4 1,1 1,9 3,3 4,2 5,1 5,8 Sumatera 5,8 4,7 4,1 49,9 50,7 48,0 18,0 19,3 19,5 Kalimantan 1,1 1,1 1,8 12,1 14,1 12,9 5,8 4,9 5,0 Sulawesi 4,9 5,6 5,5 5,9 6,5 9,6 5,6 6,1 5,8 Maluku &
Papua 0,4 0,3 0,8 0,7 0,7 1,3 3,4 0,9 0,8 Luar Jawa 20,6 21,6 21,6 69,7 74,0 75,3 37,1 36,2 36,8 Indonesia 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Sumber: Diolah dari Tabel II.12.
2.3. Pola Panen Tahunan: Padi
Menurut data BPS sejak 2000-2005, masa panen padi di musim penghujan berkisar antara bulan Februari-April; sedangkan masa panen di musim kemarau pada bulan Juli-September. Karena kontribusi padi sawah relatif besar, maka pola panen bulanan padi nasional mengikuti pola panen padi sawah. Di lain pihak, padi ladang hanya mengalami puncak panen sekali setahun, yaitu pada bulan Februari-Maret. Pola panen padi sawah, padi ladang, dan padi tahun 2000-2006 disajikan pada Gambar II.7.
Tanaman Bahan Makanan
Sumber: Angka Ramalan III BPS, 2006
Gambar II. 6. Pola Panen Padi Sawah, Padi Ladang, dan Padi, 2000- 2006
Pada tahun 2006, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memperkirakan bahwa awal musim penghujan akan mengalami keterlambatan selama sebulan. Hal ini akan mengakibatkan masa tanam dan masa panen padi tahun 2007 juga akan mengalami kemunduran.
2.4. Ketersediaan, Kebutuhan, dan Tingkat Kecukupan Beras
Dalam bagian ini, fokus pembahasan hanya pada komoditas beras sebagai bahan pangan utama masyarakat. Tabel II.14. menyajikan perkembangan tingkat kecukupan beras dalam kurun waktu 1997- 2004. Selama waktu tersebut, produksi beras domestik belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan konsumsi domestik. Walaupun demikian, tingkat kecukupan yang dicapai sudah mencapai rata-rata 95,18%.