• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. Data Sekunder

5.2 Strategi Pengembangan Usahatani Kopi Arabika

Proses pengambilan keputusan strategi selalu berkaitan dengan pengembangan, misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan. Dalam penyusunan strategi pengembangan usahatani kopi arabika (Arabica Coffee) peneliti melakukan analisis SWOT denagn terlebih dahulu mengidentifikasi faktor kekuatan (Strenghts), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunies) dan ancaman (Threats).

37

Tabel 12. Matriks Faktor Internal dan Faktor Eksternal Usahatani Kopi Arabika (Arabica Coffee) di Desa Buntu Mondong Kecamatan Buntu Kabupaten Enrekang.

Faktor Internal

Kekuatan Kelemahan

1. Tersedianya lahan pertanian yaitu dengan luas lahan 2496 Ha. 2. Kopi arabika memiliki cita rasa

khas yang unik yaitu rasa kecut.

3. Tersedianya sumber daya

manusia yaitu tenaga kerja dari Desa Buntu Mondong itu sendiri. 4. Petani kopi arabika memiliki

cara unik dalam pengolahan pasca panennya karena tidak memisahkan kulit dan biji kopi saat disangrai.

5. Masa produksi kopi jangka panjang karena kopi arabika bisa bertahan sampai dengan 20 tahun.

6. Daerah penghasil kopi arabika

mudah di akses karena

merupakan jalan menuju

Gunung Latimojong tempat

persinggahan pengunjung dari luar daerah Kabupaten Enrekang seperti Palopo, Toraja, Makassar.

1. Petani kopi arabika sulit

mendapatkan bibit yang berkualitas karena masih menggunakan bibit kopi dari penyamaian sendiri. 2. Teknologi yang digunakan petani

belum modern hanya menggunakan teknologi manual seperti cangkul, parang, semprot manual.

3. Tingkat pemeliharaan tanaman kopi arabika rendah karena membiarkan tumbuh dan hanya merawat tanaman kopi pada saat menjelang musim panen saja.

Faktor eksternal

Peluang Ancaman

1. Permintaan kopi arabika sangat besar karena banyak diminati oleh masyarakat baik di daerah itu sendiri maupun dari luar daerah seperti Kalosi dan Toraja.

2. Memberikan keuntungan atau laba yang besar dalam menjalankan

1. Banyaknya pesaing dari kecamatan lain seperti Kecamatan Bungin, Baraka dan Enrekang.

2. Pengaruh perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu

3. Serangan hama dan penyakit pada

38

usahatani kopi arabika karena permintaan kopi arabika yang besar dan mudah dipasarkan.

3. Menghasilkan kualitas kopi arabika terbaik karena proses

penjemurannya diatas atap rumah.

mengakibatkan menurunnya

produktifitas tanaman kopi contoh hama yang menyerang tanaman kopi seperi bubuk buah, karat daun kopi, hama kutu buah adapaun penyakit yang menyerang seperti karat daun dan bercak daun

4. Harga kopi arabika tidak menentu dan hampir setiap hari mengalami penurunan.

Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2020

Berdasarkan Tabel 12, menunjukkan faktor internal dan eksternal kopi arabika di Desa Buntu Mondong Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang. Faktor internal terdiri dari 5 kekuatan dan 3 kelemahan, sedangkan faktor eksternal terdiri dari 4 pelua ng dan 4 ancaman.

a. Identifikasi Faktor Internal Kekuatan

1. Tersedianya Lahan Pertanian yaitu Dengan Luas Lahan 2496 Ha.

Tersedianya lahan pertanian dengan luas 2496 Ha di Desa Buntu Mondong Kecamatan Buntu Batu menjadi salah satu kekuatan besar dalam pengembangan usahatani kopi arabika Desa Buntu Mondong karena lahan merupakan salah satu faktor produksi utama, semakin luas lahan maka poteni produksi juga besar, begitupun sebaliknya. Berdasarkan data responden jumlah luas lahan yang ditanami kopi arabika secara keseluruhan yaitu 2496 Ha dengan rata-rata 0,5–1 Ha per petani responden, dan status kepemilikan lahan tersebut merupakan milik dari masing-masing responden. Adapun kondisi lahan di Desa Buntu Mondong yaitu tanah gembur dan subur sehingga cocok digunakan untuk bercocok tanam. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Akhmad dkk (2017) yang

39

menjelaskan yang menjadi faktor kekuatan yaitu potensi lahan usaha tani kopi arabika di Desa Sunjaya, Lembang memanfaatkan lahan perhutani KPH Bandung Utara. Potensi lahan keseluruhan mancapai 352 Ha, dengan tingkat pemanfaatan baru sekitar 150 Ha atau 42,6%. Hal ini terlihat dari total pemanfaatan lahan usaha tani masih rendah sehingga lahan yang dapat dimanfaatkan masih besar, mencapai 200 Ha atau 57,4%. Kondisi ini merupakan peluang sekaligus tantangan dimasa depan dalam meningkatkan pemanfaatan lahan dan peningkatan kapasitas produksi.

Menurut hasil wawancara bapak NR ( umur 68 tahun) mengatakan bahwa :

“Luas lahan yang saya miliki bisa dikatakan cukup luas untuk membudidayakan tanaman kopi arabika, dengan luas lahan kurang lebih 1,75 Ha, karena semakin luas lahan maka potensi produksi juga besar”.

Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa semakin luas lahan yang ditanami kopi arabika, maka semakin banyak pula produksi kopi arabika yang dihasilkan. Begitupun sebaliknya semakin sempit luas lahan yang ditanami kopi arabika maka semakin kurang pula produksi kopi yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena lahan merupakan salah satu faktor produksi utama dalam pengembangan usahatani kopi arabika di Desa Buntu Mondong.

2. Kopi Arabika Memiliki Cita Rasa Khas yang Unik Yaitu Rasa Kecut.

Kopi arabika di Desa Buntu Mondong memiliki cita rasa khas yang unik karena memiliki cita rasa kecut dan memiliki tekstur yang lembut dan saat diseduh mengeluarkan aroma yang tajam. Kopi arabika Buntu Mondong memiliki mutu yang bagus, cita rasa kopi enak, rasa kecut yang membuat pecinta kopi tidak pernah puas dengan ciri khas kopi yang tumbuh di pegunungan Latomojong. Hal

40

ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Akhmad dkk (2017) yang menjelaskan bahwa adapun yang menjadi kekuatan yaitu memliki citra positif kopi arabika asal Desa Suntejaya, lembang karena petani responden telah berusaha untuk menghasilkan kopi arabika dengan mutu yang sesuai dengan standar nasional indonesia (SNI). Kriteria mutu biji kopi yang meliputi aspek fisik, cita rasa dan kebersihan serta aspek keseragaman dan konsistensi sangat ditentukan oleh perlakuan pada setiap tahapan proses pengolahannya.

Menurut hasil wawancara bapak RM (umur 40 tahun) mengatakan:

“Yate kopingki jio Buntu Mondong eda na susi kopi jio kampong leko

sanga yate kopi den rasa macukka na, nah iyamo pa bedai solah to kopi leko”.

“ Kopi dari Desa Buntu Mondong sangat berbeda dari kopi daerah lainnya karena kopi dari daerah tersebut memiliki rasa khas (kecut), yang menjadikan kopi tersebut berbeda dengan kopi dari daerah lainnya”. Dari hasil wawancara diatas bahwa dapat disimpulkan bahwa kopi arabika di Desa Buntu Mondong memiliki ciri khas yaitu rasa kecut yang berbeda dari daerah lainnya. Hal ini yang menyebabkan karena beberapa faktor seperti dalam proses pengolahannya yang tidak memisahkan kulit dan biji kopi saat disangrai dan proses pasca panen yang penjemurannya dilakukan diatas atap rumah.

3. Tersedianya Sumber Daya Manusia Seperti Tersedianya Tenaga Kerja yang Ada di Desa Buntu Mondong Itu Sendiri.

Tersedianya sumber daya manusia di Desa Buntu Mondong Kecamatan Buntu Batu menjadi salah satu kekuatan ketiga dalam pengembangan usahatani kopi arabika karena tersedianya tenaga kerja yang ada di Desa Buntu Mondong itu

41

sendiri, tenaga kerja itu sendiri adalah masyarakat yang ada di Desa Buntu Mondong baik itu tenaga kerja dalam keluarga maupun tenaga kerja masyarakat dari Desa Buntu Mondong itu sendiri. Adapun data tenaga kerja di Desa Buntu Mondong yaitu untuk laki-laki sebanyak 50 orang data tenaga kerja untuk perempuan yaitu 180 orang . Hal ini sejalan dengan hasil penelitiaan (Akhmad dkk, 2017) yang menyatakan bahwa yang menjadi kekuatan yaitu tersedianya sumber daya manusia dari daerah itu sendiri dengan alasan rata-rata tenaga kerja pada usahatani kopi arabika berasal dari daerah sekiar lokasi usahatani, dimana usahatani kopi arabika tersebut mampu menyediakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, menjalin keberlanjutan peningkatan produksi kopi arabika serta berpotensi memberikan kontribusi nyata bagi perolehan devisa negara”.

Menurut hasil wawancara bapak RD (umur 45 tahun) mengatakan bahwa :

“Maregemi ditanan te kopi ka bisa miki tambai tau mangkande gajih di

kua na den na tambah i balanca allo-allona, na marege to toh pakande gaji inde sanga pada kita unara lan kampong si tambai, na eddamo den tiroh tau leko jio salianan”

“Kelebihan menanam tanaman kopi karena kita sudah membuka lowongan kerja dalam menambah penghasilan untuk kehidupan sehari hari, dan juga mempunyai kelebihan memiliki tenaga kerja yang ada di desa kita sendiri, sehingga kita tidak mencari tenaga kerja dari luar desa”.

Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa faktor tenaga kerja sangatlah penting bagi sebuah usahatani kopi arabika di Desa Buntu Mondong, tenaga kerja dibutuhkan agar proses pembudidayaan kopi arabika bisa berjalan dengan cepat. Petani kopi arabika di Desa Buntu Mondong menggunakan tenaga kerja yaitu masyarakat di Desa Buntu Mondong itu sendiri.

42

4. Petani Kopi Arabika Memiliki Cara yang Unik Dalam Pengolahan Pasca Panen Karena Tidak Memisahkan Kulit dan Biji Kopi Saat Penejemuran dan Langsung Disangrai.

Petani kopi arabika di Desa Buntu Mondong memiliki cara yang unik dalam pengolahan pasca panen karena dalam pengolahannya, ada yang menggunakan cara sederhana (tidak menggunakan mesin modern) dan ada juga petani yang tidak memisahkan kulit dan biji, tetapi petani langsung menjemur kopi tersebut kemudian disangrai. Adapun keunggulan kopi jika disangrai dengan kulitnya yaitu aroma dan dan cita rasanya asam dan kecut seperti pada asamnya buah segar yang dibakar. Begitu pula saat diseduh aroma asam dan kecut sangat kuat. Meski cita rasanya begitu kental, namun tetap aman untuk kesehatan saat dikomsumsi.

Menurut hasil wawancara bapak ANS (umur 41 tahun) mengatakan bahwa: “Yake kami jion te kampong yanna panenkan eda ki pake masina ka

yarah ki pake to masina manual solah eda di pasisarak kuli solah biji kopinna na tapa langsung di ba´te te kopingki”

“Bila menjelang p anen petani kopi memiliki cara unik dalam proses pasca panennya karena tidak memisahkan kulit dan biji kopi langsung dijemur dan kemudian disangrai”.

Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulakan bahwa petani di Desa Buntu Mondong memiliki cara yang unik dalam pasca panennya yang berbeda dari daerah lainnya, karena petani di Desa Buntu Mondong tidak memisahkan kulit dan biji kopi saat penjemuran dan langsung disangrai. Hal ini disebabkan karena petani kopi arabika di Desa Buntu Mondong tidak memiliki teknologi yang modern.

43

5. Masa Produksi Jangka Panjang Karena Kopi Arabika Bisa Bertahan Sampai Dengan 20 Tahun.

Masa produksi kopi arabika di Desa Buntu Mondong yang panjang, memungkinkan petani memperoleh masa panen yang lebih panjang pula. Dari penanaman kopi arabika hingga dapat menghasilkan buah kopi arabika yang relatif singkat, dalam 2 tahun tanaman kopi arabika sudah bisa dipetik atau dipanen. Tingkat pemeliharaan kopi rendah dan masa produksi kopi arabika umur menjadi produktif karena kopi arabika di Desa Buntu Mondong bisa bertahan sampai dengan 20 tahun dan jika dibandingkan dengan kopi robusta hanya bisa bertahan 14 - 17 tahun. Hal ini disebabkan karena dalam membudidayakan tanaman kopi arabika di Desa Buntu Mondong petani merawat budidaya tanaman kopi arabika seperti penyulaman, pemupukan, pemangkasan dan penyiangan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Akhmad dkk (2017) yang menyatakan bahwa yang menjadi kekutan yaitu masa produksi jangka panjang karena umur produkstif kopi arabika bisa bertahan sampai 20 tahun. Umur tanaman kopi yang dimiliki responden berkisar antara 3-8 tahun. Masa produksi kopi arabika yang panjang, memungkinkan petani meperoleh masa panen yang panjang.

Menurut hasil wawancara bapak HRT (umur 70 tahun) mengatakan :

“Masa produksinna te kopi arabika malondo waktunna sanga bisa iya tuoh selama 20 tahun, yake ditananni sampaina tuoh buanna madiwi i sanga bisa miki kita panen selama 2 tahun”.

“Masa produksi kopi arabika memiliki masa yang panjang yaitu bisa bertahan selam 20 tahun, dari penanaman kopi arabika hingga menghasilkan buah kopi arabika relatif singkat, dalam 2 tahun tanaman kopi arabika sudah bisa dipetik atau di panen”.

44

Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa masa produksi kopi arabika di Desa Buntu Mondong Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang memiliki masa produksi jangka panjang, karena kopi arabika bisa bertahan sampai dengan 20 tahun, karena dari mulai penanaman kopi arabika yang relatif singkat, dalam 2 tahun tanaman kopi arabika di Desa Buntu Mondong sudah bisa dipetik atau dipanen. Hal ini disebabkan karena dalam membudidayakan tanaman kopi arabika di Desa Buntu Mondong petani merawat budidaya tanaman kopi arabika seperti penyulaman, pemupukan, pemangkasan dan penyiangan.

6. Daerah Penghasil Kopi Arabika Mudah Diakses Karena Merupakan Jalan Akses Menuju Gunung Latimojong dan Tempat Persinggahan Pengunjung Dari Luar Daerah Kabupaten Enrekang Seperti Palopo, Toraja dan Makassar.

Penghasil kopi arabika di Desa Buntu Mondong selain mudah diakses masyarakat juga mempunyai suguhan pemandangan yang indah hingga puncak bukitnya, selain penghasil kopi arabika juga merupakan jalan akses menuju Gunung Latimojong dan sebagai tempat untuk persinggahan para pengunjung dan para penikmat dari luar kabupaten seperti Palopo, Toraja dan Makassar untuk melihat langsung bagaimana proses budidaya tanaman kopi secara langsung. Menurut hasil wawancara bapak MNS (umur 36 tahun) mengatakan :

“Yate kampongki merege na olah tau saba jio i randan bata na iyah topa na ola toh tau yato male jio buntu latimojong, iyah topa na nai te kampongki leppang toh pengunjung niso kopi apalagi te sanga denmo te na bangun resting jio kampongki jadi manyaman toh tau langsung leppang niso kopi sekalian kita pemandanganna Buntu Mondong jarege”

“Di Desa Buntu Mondong merupakan jalan akses untuk menuju Gunung Latimojong dan di desa ini juga sebagai tempat persinggahan pengunjung

45

dari luar untuk minum suguhan kopi khas Buntu Mondong di tambah pemerintah Desa Buntu Mondong sudah membangun resting kecil bagi pengunjung dari luar untuk menikmati suguhan kopi Buntu Mondong dan sekalian melihat langsung pemandangan Buntu Mondong yang indah” Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa di Desa Buntu Mondong sebagai salah satu daerah penghasil kopi arabika yang merupakan tempat untuk persinggahan para pengunjung dari luar daerah seperti Palopo, Toraja dan Makassar dan juga merupakan jalan akses menuju Gunung Latimojong yang dimana di Desa Buntu Mondong mempunyai suguhan pemandangan yang indah.

b. Identifikasi Faktor Internal Kelemahan

1. Petani Kopi Arabika Sulit Mendapatkan Bibit Berkualitas Karena Masih Menggunakan Bibit dari Penyemaian Sendiri.

Petani kopi arabika di Desa Buntu Mondong sulit mendapatkan bibit yang berkualitas karena masih menggunakan bibit dari hasil penyamain sendiri. Dalam keberhasilan pengembangan kopi arabika yang berkelanjutan diperlukan ketersediaan benih yang unggul dan juga benih yang bermutu. Dalam penggunaan bibit yang unggul di awal penanaman sangat berpengaruh terhadap mutu produk kopi arabika yang dihasilkan nantinya. Secara umum petani kopi arabika di Desa Buntu Mondong masih menggunakan bibit kopi dari hasil penyamaian sendiri, dikatakan belum berkualiatas jika menggunakan bibit dari penyamaian sendiri karena lebih membutuhkan waktu yang lama untuk berbuah, selain itu proses perawatan mulai dari pembibitan hingga bibit siap tanam juga sangat lama dan tidak menutup kemungkinan hasil panennya akan bermutu baik dan berkualitas. Adapun menurut Triharyanto, (2013) mengatakan bahwa pada umumnya petani

46

kopi arabika menggunakan bibit dari penyamaian sendiri, penggunaan bibit dari penyemaian sendiri dilakukan secara turun temurun dalam kurun waktu yang lama, akibatnya bibit yang digunakan mempunyai mutu yang rendah. Hal ini dikarenakan karena bibit tersebut telah banyak terinveksi oleh virus dan telah diketahui bahwa ternyata petani lebih sering menggunakan bibit dari hasil panennya sendiri yang digunakan secara berulang-ulang sehingga mutu bibit kopi arabika menurun dan rentan terhadapa hama dan penyakit .Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Akhmad dkk (2017) yang menjelaskan bahwa yang menjadi kelemahan yaitu sulit mendapatkan bibit berkualitas karena untuk keberhasilan pengembangan kopi yang berkelanjutan diperlukan ketersediaan benih unggul yang bermutu yang bersumber dari kebun sumber benih bersrtifikat dan sertifikasi benih, petani kopi arabika masih menggunakan bibit dari hasil sendiri atau membeli dari petani kopi arabika.

Menurut hasil wawancara bapak RDN (umur 33 tahun) mengatakan:

“Yake kami pake unah pakan bibi pole penyemaian sanga masussah pakan nampa bibit marege. Yamo na mela gaja kembuah sanga tangia bibi marege di pake inde kampong”.

“Petani Desa Buntu Mondong masih menggunakan bibit dari hasil penyamain sendiri karena masih sulit mendapatkan bibit yang berkualitas”.

Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa yang menjadi kendala dalam menjalankan usahatani kopi arabika di Desa Buntu Mondong karena sulit mendapatkan bibit yang berkualitas. Hal ini yang menyebabkan petani kopi arabika di Desa Buntu Mondong hanya menggunakan bibit dari dari penyamaian sendiri, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk berbuah,

47

selain itu proses perawatan mulai dari pembibitan hingga bibit siap tanam juga sangat lama dan tidak menutup kemungkinan hasil panennya akan bermutu baik dan berkualitas dan telah diketahui bahwa ternyata petani lebih sering menggunakan bibit dari hasil panennya sendiri yang digunakan secara berulang-ulang sehingga mutu bibit kopi arabika menurun dan rentan terhadapa hama dan penyakit.

2. Teknologi yang Digunakan Petani Belum Modern Hanya Menggunakan Semprot Manual, Parang dan Cangkul.

Petani kopi arabika di Desa Buntu Mondong masih menggunakan teknologi manual atau sederhana seperti masih menggunakan semprot manual, parang dan cangkul. Petani kopi arabika di Desa Buntu Mondong masih menggunakan alat-alat sederhana, alat yang digunakan petani kopi arabika di Desa Buntu Mondong tergolong masih sangat sederhana karena pada saat pemangkasan saja masih menggunakan parang, pada saat penyemprotan masih menggunakan semprot yang manual dan pada saat pemanenan juga masih manual dan proses pimisahan biji kopi baik dengan biji yang sudah rusak masih dilakukan dengan cara manual.

Menurut hasil wawancara bapak BTM (umur 35 tahun) mengatakan:

“Alat yang digunakan oleh petani kopi arabika di Desa Buntu Mondong

masih tergolong sederhana, misalnya pada pemangkasan saya masih menggunakan parang, pada saat penyemprotan saya masih menggunakan semprotan manual, dan saat pemanenan dan proses pemisahan biji kopi yang baik dan biji yang rusak masih dilakukan dengan cara manual” Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa dalam usahatani kopi arabika di Desa Buntu Mondong masih menggunakan alat yang sederhana

48

seperti pada saat proses pemangkasan masih menggunakan parang , penyemprotan masih menggunakan semprot manual dan panen dan pasca panen yang masih menggunakan alat sederhana. Hal ini disebabkan karena keterbatasan modal yang dimiliki oleh petani kopi arabika di Desa Buntu Mondong.

3. Tingkat Pemeliharaan yang Masih Rendah Karena Membiarkan Tanaman Kopi Tumbuh dan Hanya Merawat Jika Menjelang Panen Saja.

Dalam pemeliharaan tanaman kopi di Desa Buntu Mondong masih belum efesien karena dalam dalam pemeliharaanya masih menggunakan teknologi yang manual seperti pada penyemprotan masih menggunakan semprot manual dan pada saat pemanggakasan masih menggunakan parang dan sabit dan petani hanya. petani hanya memperhatikan dan merawat tanaman kopi jika akan menjelang panen saja. Petani di Desa Buntu Mondong melakukan perawatan seperti penyiangan, pemupukan, membersihkan gulma dan rumput liar saat menjelang panen dan petani tidak melakukan perawatan setelah sudah tanam. Sehingga mengakibatkan kurangnya produksi kopi arabika di Desa Buntu Mondong, petani juga masih menggunakan sistem manual yang belum menggunakan teknolgi yang modern.Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hardianti (2019) yang menjelaskan bahwa yang menjadi faktor kelemahan yaitu pemeliharaan kopi arabika yang rendah hal ini dikarenakan para petani tidak terlalu memperhatikan tanaman kopi arabika. Mereka membiarkan tanaman mereka. Mereka hanya membiarkan kopi tumbuh begitu saja dan akan dirawat pada saat menjelang musim panen saja. Seharusnya petani merawat tanaman kopi arabika dengan cara yaitu :

49

 Pemberian Pupuk

Pemberian pupuk pada tanaman kopi arabika dilaksanakan pada awal musim penghujan dimana kondisi tanah dalam kondisi tanah sedang lembab.  Pengaturan Air

Tanaman kopi arabika menyukai media yang lembab dan banyak mengandung air. Pemberian ait dilakukan dengan mengatur saluran air sedemiian rupa sehingga memungkinkan kebutuhan air setiap tanaman terpenuhi.

 Pembersihan Gulma

Keberadaan gulma menyebabkan persaingan dalam memperoleh bahan makanan yang mengandung di dalam tanah, gulma yang hidup di lahan kopi harus dibersihkan dengan rutin minimal setiap seminggu sekali.

 Pemangkasan Tanaman

Pemangkasan bertujuan untuk menciptakan cabang-cabang yang baru, meningkatkan produktifitas tanaman. Selain itu, pemangasan juga bermanfaat pada kondisi lahan dapat menerima sinar matahari yang optimal.

 Pemberantasan Hama dan Penyakit

Tidak hanya buah kopi yang diserang hama dan penyakit, bagian lain dari pohon kopi seperti akar ,batang, daun dan bunga pun bisa di serang hama dan penyakit. Pengendalian terhadap hama dan penyakityang merusak tanaman kopi arabika bisa dilakukan dengan metode alami ataupun metode kimiawi.

Menurut hasil wawancara bapak SK (umur 55 tahun) mengatakan:

“Yake kami jionte kampong eda ki pake masina kassing saba edda ki punnai kami masina toh na pakemo toh tau to (marege), yarah ki punnai

Dokumen terkait