• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PENINGKATAN EFISIENSI DAN MARGIN PEMASARAN MELALUI REVITALISASI TATANIAGA PRODUK AGROFORESTRI

B. Pola tataniaga produk non kayu (dari lahan milik dan kawasan hutan)

IV. STRATEGI PENINGKATAN EFISIENSI DAN MARGIN PEMASARAN

IV. STRATEGI PENINGKATAN EFISIENSI DAN MARGIN PEMASARAN

Tingkat efisiensi pemasaran suatu produk termasuk produk agroforestri dengan menggunakan beberapa parameter ekonomi antara lain: profit margin, marketing margin, mark up on selling, on cost, efisiensi ekonomi, elastisitas transmisi, korelasi harga, integrasi pasar, indeks tingkat daya saing dengan metode market share/MS, dan revealed comparative advantage/RCA merupakan variabel penting untuk mendeteksi profil tataniaga. Hasil analisis masing-masing parameter mampu menjelaskan fenomena sistem pemasaran yang sedang berjalan sehingga dalam periode selanjutnya digunakan sebagai input untuk menyusun strategi upaya peningkatan pendapatan produsen secara agregat (Agasha, 2004; M.A Gold, L.D Godsey and S.J. Josiah, 2004; Hansen E, Seppala J and Juslin H, 2002, Andayani W, 2010, AA.Aiyeloja and OI Ajewole, 2006 ). Dalam penelitian ini, parameter efisiensi pemasaran yang dikaji hanya profit dan marketing margin saja karena beberapa faktor yaitu: (1) parameter mark up on selling dan on cost, serta integrasi pasar memerlukan informasi tentang struktur pasar komoditi yang ada dan memerlukan data series, sehingga dengan beberapa kendala seperti data dasar yang tidak tersedia menyulitkan penulis untuk mengkaji dan kalau dipaksakan mungkin hasilnya akan menghasilkan nilai yang memiliki akurasi yang rendah, dan (2) parameter efisiensi ekonomi, elastisitas transmisi dan indeks daya saing analisisnya memerlukan informasi data trend penjualan dan permintaan secara series, dimana informasi tersebut di tingkat beberapa pedagang tidak dikumpulkan datanya secara rutin oleh instansi terkait, misalnya: statistik, perdagangan, kehutanan dan perkebunan. Dengan beberapa alasan tersebut maka kajian efisiensi hanya menggunakan dua parameter seperti tersebut di atas, dan dari dua parameter tersebut sebenarnya secara implisit dapat diketahui apakah komoditi yang diperdagangkan tersebut memiliki tingkat efisiensi pemasaran maksimum atau belum.

Problem pemasaran yang terjadi pada produk agroforestri yang utama adalah adanya perbedaan harga yang signifika antara harga yang diterima produsen dan yang dibayar konsumen pada sistem tataniaga yang berjalan. Kondisi tersebut terjadi secara agregat, sehingga dampak secara keseluruhan adalah bahwa profil tataniaga tersebut menunjukkan fenomena pemasaran dengan kriteria tingkat efisiensi yang rendah. Kondisi tersebut tidak dapat dibiarkan, karena tujuan pemasaran secara umum adalah tercapainya tingkat efisiensi dengan kriteria wajib memenuhi beberapa syarat sebagai berikut: (1) mampu mentransfer produk yang diperdagangkan dari produsen awal ke konsumen akhir dengan biaya minimum, (2) mampu menciptakan distribusi pendapatan yang adil dari harga yang dibayar konsumen terhadap semua lembaga dalam pola tataniaga yang berjalan (Andayani, 2002; Awang, et al., 2002; Andayani, 2005; Sukartawi, 2002; Sukadaryati, 2006). Oleh karena itu, perlu dilakukan revitalisasi sistem tataniaga pada pemasaran produk agroforestri dimana petani sebagai produsen utama memiliki banyak keterbatasan terkait dengan aspek bisnis yang dilakukannya. Strategi revitalisasi yang diusulkan adalah, mengatasi keterbatasan dan sekaligus meminimumkan faktor-faktor penyebab, mengapa efisiensi dan margin tataniaga yang dialami petani masih rendah. Strategi yang disarankan antara lain melalui beberapa hal sebagai berikut: (1) membentuk lembaga di tingkat petani, misalnya koperasi, dan lembaga lain sejenis, (2) memperpendek rantai/pola/sistem tataniaga yang saat ini berjalan, (3) meningkatkan posisi tawar dengan strategi meminimumkan kendala yang dimiliki petani, (4) adanya dukungan kebijakan pemerintah melalui regulasi dan aturan lain terkait yang mampu bersifat sebagai insentif bagi petani, dan (5) meningkatkan nilai tambah/added value, dan daya saing pada sistem tataniaga yang lebih transparan supaya pemasaran produk agroforestri lebih terintegrasi baik vertikal maupun horizontal. Strategi tersebut diharapkan dapat dilaksanakan dengan baik, karena usahatani

Prosiding Seminar Nasional Agroforestri 2013 697 agroforestri sebenarnya merupakan sistem agribisnis, dimana kegiatannya meliputi aspek mulai dari sub sistem pengadaan input, produksi, prosesing, pemasaran dan kelembagaan (sebagai supporting institution, yang antara lain meliputi aspek kebijakan dan regulasi, dan pembiayaan). Dengan demikian jika usahatani agroforestri mampu menjadi unit bisnis yang fisibel meliputi aspek on-farm dan off-farm diharapkan kendala yang menjadi faktor penyebab rendahnya tingkat efisiensi pemasaran dapat diantisipasi sampai ke tingkat yang paling rendah/minimum.

V. KESIMPULAN

Problem pemasaran/tataniaga produk agroforestri yang saat ini dihadapi petani/produsen, baik yang dihasilkan dari lahan milik melalui pola hutan rakyat, maupun dari kawasan hutan negara melalui skema PHBM perlu ditangani dengan baik oleh semua elemen masyarakat yang terkait (petani, pemerintah, dan stakeholder lain). Petani produsen sudah selayaknya memperoleh haknya dalam sistem tataniaga produk yang saat ini berjalan secara konkrit yaitu dengan mendapatkan margin yang layak sesuai dengan pengorbanan yang dilakukan dalam proses produksi. Rendahnya margin yang diterima petani disebabkan karena panjangnya rantai pemasaran mulai dari petani s/d konsumen akhir. Sampai dengan saat ini, petani/produsen masih memiliki posisi tawar yang rendah dalam memasarkan produknya, sehingga dibutuhkan dukungan pemerintah yang serius untuk meningkatkannya ketahap yang seimbang.

UCAPAN TERIMA KASIH

Melalui kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah ikut membantu dalam rangka melaksanakan studi tentang pemasaran produk agroforestri baik terhadap pihak pemberi dana, petani sebagai responden, dan institusi terkait sebagai pemberi informasi sebagai data primer dan sekunder yang sangat berguna untuk analisis kebijakan. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada rekan-rekan sebagai berikut: Slamet Riyanto, Agus Affianto, Agung, Bima, Sasmito, Yossy, dan Rame Priyanto.

DAFTAR PUSTAKA

AA.Aiyeloja., and OI. Ajewole. 2006. Non-timber forest products marketing in Nigeria. A Case Study of Osun State. Educational Research and Reviews Vol.1 (2), pp.52-58.

Agasha, A. 2004. Markets and marketing strategies of agroforestry products in Wakiso District. MSc.Thesis, Faculty of Forestry and Nature Conservation, Makerere University.

Andayani, W., 2002.Financial analysis of sengon community forest potential in the form of agroforestry , in Wonosobo District (in Indonesia).J.Hutan Rakyat, Vol 4 (2) Center for Community Forestry Studies, Fac.Forestry, Gadjah Mada University, pp.1-23.

Andayani, W. 2005. Ekonomi Pengelolaan Hutan Rakyat : Aspek Kajian Pola Usahatani dan Pemasaran Kayu Rakyat dalam Kelangkaan Air : Mitos Sosial, Kiat dan Ekonomi Rakyat. Seri Bunga Rampai Hutan Rakyat. Penyunting San Afri Awang, Debut Press. Yogyakarta.

Andayani, W. 2010. Analisis efisiensi pemasaran kacang mete (Cashew Nuts) di Kabupaten Wonogiri, Prosiding Agroforestri Tradisional di Indonesia: 195-208.

Awang, S.A., W. Andayani, B. Himmah, W.T. Widayanti, dan A. Affianto. 2002. Hutan Rakyat: Sosial Ekonomi dan Pemasaran. BPFE. Yogyakarta.

Gold, MA; Godsey, LD and Josiah, SJ. 2004. Market and marketing strategies for Agroforestry specialty products in North America. Agroforestry Systems 61: 371-382. Kluwer Academic Publishers Printed in the Netherlands.

698 Prosiding Seminar Nasional Agroforestri 2013

Hansen E., Seppala J. and Juslin H. 2002. Marketing strategies of software sawmills in Western North America. Forest Product Journal 52 (10) : 19-25.

Sinclair, SR.1992. Forest product marketing. NewYork: Mc Graw-Hill, Inc.403 p.

Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Manajemen Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian: Teori dan Aplikasinya. Edisi Revisi. P.T. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Sukadaryati. 2006. Potensi Hutan Rakyat di Indonesia dan Permasalahannya. Dalam : Kontribusi Hutan Rakyat Dalam Kesinambungan Industri Kesinambungan Industri Kehutanan. Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 di Bogor,Jawa Barat, 21 September 2006.

Prosiding Seminar Nasional Agroforestri 2013 699 VALUASI PENGGUNAAN LAHAN DALAM PENGEMBANGAN AGROFORESTRI DI SULAWESI SELATAN

Arif Rahmanulloh dan M. Sofiyuddin World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia

E-mail: [email protected]

ABSTRACT

Agroforestry development should address the following aspects: increased productivity, sustainability of the system and adoptability as alternative land use by farmers (Raintree & Young, 1983). To develop agroforestry development plan, it need to recognize existing problems and defined it clearly (Widianto et al, 2003). Land-use valuation is one of methods to look for the efficiency of farming systems. This study aims to characterize current land use systems both in Bantaeng and Bulukumba districts, South Sulawesi. The identification was performed to find the major land use systems in the area, which used as main source of livelihood. Each land-used was assessed to define financial profitability as well as the labor engagement figure. Due to the different life cycle period, Equivalent Annual Annuity (EAA) is employed to compare the performance of each system. The discussion was explored using Raintree & Young criteria’s. The valuation suggests a range of major land-use systems in the study area which is grouped into (1) crops, (2) simple mixed garden, (3) complex mixed garden, (4) timber garden and (5) monoculture plantation. The valuation result draws figure of land-use productivity at the diagnostic stage of agroforestry development. Some options of agroforestry development are offered based on land-use typology and the livelihood figure.

Keywords: land valuation, net present value, agroforestry productivity, financial profitability, agroforestry development

I. PENDAHULUAN

Pengembangan agroforestri setidaknya harus meliputi beberapa aspek antara lain peningkatan produktivitas sistem agroforestri (productivity), keberlanjutan sistem (sustainability) dan tingkat kemudahan untuk diadopsi (adoptability) sebagai alternative penggunaan lahan (Raintree & Young, 1983). Dalam menyusun rencana pengembangan agroforestri perlu memahami bagaimana permasalahan sistem yang ada dan dirumuskan secara jelas (Widianto et al, 2003). Berbagai permasalahan yang dihadapi petani antara lain produktivitas lahan yang menurun, kualitas bibit yang rendah, hama penyakit sampai harga komoditas yang naik turun. Permasalahan menjadi semakin kompleks karena kondisi social-ekonomi petani (misalnya kesejahteraan) yang beragam berhubungan erat dengan pengelolaan lahan.

Valuasi penggunaan lahan adalah salah satu cara untuk melihat tingkat efisiensi sistem penggunaan lahan di suatu wilayah. Secara spefisik, valuasi atau penilaian finansial penggunaan lahan akan memberikan gambaran surplus suatu pengusahaan dan tingkat penggunaan tenaga kerja. Di tingkat bentang lahan suatu wilayah, valuasi penggunaan lahan telah dilakukan dalam penelitian sistem usaha tani di tanah gambut dan mineral di Tanjung Jabung Barat (Sofiyuddin et al, 2012) dan analisa opportunity cost REDD+ untuk mempromosikan rehabilitasi hutan tropis di Berau (Rahmanulloh et al, 2011). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi terkini sistem penggunaan lahan yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat terkait dengan strategi pengembangan agroforestri di Sulawesi Selatan.

700 Prosiding Seminar Nasional Agroforestri 2013 II. METODE

Dokumen terkait