HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Strategi Perencanaan
Dalam menyusun suatu strategi pengembangan wilayah, sebelumnya perlu dilakukan suatu analisa yang mendalam. Pada penelitian ini metode analisis data yang digunakan adalah dengan Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats Analysis), yaitu analisis potensi/kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman/kendala. Analisis ini diawali dengan inventarisasi dan klasifikasi terhadap permasalahan/kelemahan dan kelebihan/kekuatan baik secara internal pengembangan
wilayah di Kecamatan Tarutung, maupun secara eksternal yang berasal dari lingkungan di luar Kecamatan Tarutung.
Analisis Data Input
Proses analisis dimulai dengan pendalaman atau identifikasi lingkungan strategis, kemudian dilanjutkan dengan analisis faktor internal dan faktor eksternal. Proses analisis akan menghasilkan beberapa asumsi atau peluang strategis untuk mendapatkan faktor-faktor kunci keberhasilan (Utami, 2008).
Analisis Lingkungan Strategis yang mempengaruhi kinerja dalam proses perencanaan dan pengembangan wilayah di Kecamatan Tarutung dibagi atas faktor internal dan eksternal. Faktor internal, mencakup kekuatan (S = Strengths) dan kelemahan (W = Weakness). Sementara yang tergolong dalam faktor eksternal adalah peluang (O = Opportunities) dan ancaman (T = Threaths). Dari hasil pengamatan dan wawancara di lapangan, diperoleh daftar faktor internal dan eksternal dalam usaha pengembangan wilayah di Kecamatan Tarutung sebagaimana berikut:
Faktor Internal
Faktor internal yang merupakan suatu kekuatan untuk pengembangan wilayah adalah:
1. Luas lahan kelas I (pertanian sangat intensif) seluas 4.913 Ha.
2. Kecamatan Tarutung termasuk daerah pertanian, sehingga potensi pengembangan
sektor industri pengolahan sebagai sektor unggulan masih besar.
3. Luas wilayah Kecamatan Tarutung seluas 107,68 Km2
Faktor internal yang merupakan suatu kelemahan adalah sebagai berikut: .
1. Kecamatan Tarutung merupakan wilayah ibu kota Kabupaten Tapanuli Utara sehingga pengembangan sektor di luar pertanian akan berkembang.
2. Pertambahan penduduk yang terus meningkat akan mengakibatkan pertambahan
lahan terbangun.
3. Adanya alih fungsi lahan pertanian untuk permukiman Analisis Faktor Internal
Hasil analisis Gambar 4.7 peta Eksisting Penggunaan Lahan menunjukkan lahan belum tebangun masih luas.Luas lahan kelas I (pertanian sangat intensif) cukup besar 4.913 Ha.
Gambar 4.7. Peta Eksisting Penggunaan Lahan
Kecamatan Tarutung termasuk daerah pertanian, sehingga potensi pengembangan sektor industri pengolahan sebagai sektor unggulan masih besar, dan
luas wilayah Kecamatan Tarutung yang sedang (107,68 Km2
Tabel 4.10. Analisis Faktor Internal Pengembangan Wilayah Kecamatan Tarutung
) memudahkan dalam perencanaan pengembangan wilayah. Kecamatan Tarutung merupakan wilayah ibu kota Kabupaten Tapanuli Utara sehingga pengembangan sektor di luar pertanian akan berkembang, pertambahan penduduk yang terus meningkat akan mengakibatkan pertambahan lahan terbangun dan perubahan penggunaan lahan pertanian untuk permukiman. Faktor–faktor tersebut merupakan bagian dari kekuatan dan kelemahan yang perlu diperhitungkan atau mempengaruhi dalam pengembangan wilayah Adapun secara rinci hasil analisis faktor internal pada Tabel 4.10.
1. Faktor Internal Strategis Bobot Rating Skor 1. Kekuatan
a. Luas lahan kelas I (pertanian sangat intensif) cukup besar 4.913 Ha.
b. Kecamatan Tarutung termasuk daerah pertanian, sehingga peluang pengembangan sektor industri pengolahan sebagai sektor unggulan masih besar.
c. Luas wilayah Kecamatan Tarutung seluas 107,68 Km2 0,20 0,20 0,10 4 3 1 0,80 0,60 0,10 Jumlah 0,50 1,50 2. Kelemahan
a. Kecamatan Tarutung merupakan wilayah ibu kota Kabupaten Tapanuli Utara sehingga pengembangan sektor di luar pertanian akan berkembang.
b. Pertambahan penduduk yang terus meningkat akan mengakibatkan pertambahan lahan terbangun. 0,20 0,15 -3 -2 -0,60 -0,30
c. Perubahan penggunaan lahan pertanian untuk permukiman
0,15 -2 -0,30
Jumlah 0,50 -1,20
Jumlah (1 + 2) 1,00 0,30
Sumber: Hasil Analisis, 2011 Faktor Eksternal
Beberapa peluang yang mendukung pengembangan wilayah di Kecamatan Tarutung adalah:
1. Berkembangnya teknologi sistem informasi geografi (SIG) dalam perencanaan
evaluasi sumberdaya lahan.
2. Kebijakan pemerintah pusat tentang otonomi daerah sehingga Kecamatan Tarutung
mempunyai otoritas dalam pengembangan wilayah.
3. Kerjasama atau kemitraan dengan daerah sekitar dalam pengembangan wilayah
cukup besar.
4. Kebutuhan produk pertanian yang terus meningkat.
Faktor lingkungan yang menjadi ancaman pengembangan wilayah yakni:
1. Perkembangan kecamatan lain dalam mengembangkan sektor-sektor
perekonomiannya menjadi sektor unggulan termasuk sektor pertanian.
2. Luas wilayah kecamatan lain di Kabupaten Tapanuli Utara yang lebih besar
dibanding Kecamatan Tarutung.
3. Pasar komoditi pertanian yang tidak stabil
4. Adanya perdagangan bebas yang menyebabkan produk pertanian bersaing dengan
produk negara lain. Analisis Faktor Eksternal
Hasil identifikasi faktor eksternal selanjutnya dilakukan tahap analisis faktor eksternal yakni peluang dan ancaman sebagaimana Tabel 4.11 berikut:
Tabel 4.11. Analisis Faktor Eksternal Pengembangan Wilayah Kecamatan Tarutung
Faktor Eksternal Strategis Bobot Rating Skor
1. Peluang
a. Berkembangnya teknologi SIG dalam
perencanaan evaluasi sumberdaya lahan
b. Kebijakan pemerintah pusat tentang otonomi
daerah memberikan wewenang dalam pengembangan wilayah
c. Kerjasama atau kemitraan dengan daerah
sekitar dalam pengembangan wilayah
d. Kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri
terhadap produk pertanian
0,10 0,15 0,05 0,20 2 3 1 4 0,20 0,45 0,05 0,80 Jumlah 0,50 1,50 2. Ancaman
a. Perkembangan kabupaten/kota lain dalam
mengembangkan sektor-sektor perekonomian menjadi sektor unggulan
b. Pasar komoditi pertanian yang tidak stabil
c. Perdagangan bebas yang menyebabkan produk
pertanian bersaing dengan produk negara lain.
0,20 0,15 0,15 -3 -2 -2 -0,60 -0,30 -0,30 Jumlah 0,5 -1,20 Jumlah (1+2) 1,00 0,30
Sumber: Hasil Analisis, 2011
Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor eksternal yang dominan adalah perkembangan teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG) evaluasi sumberdaya lahan, potensi kemitraan dengan daerah sekitar, kebijakan pemerintah pusat tentang otonomi daerah dan kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri terhadap produk pertanian. Perkembangan kabupaten/kota lain dalam mengembangkan sektor-sektor perekonomian menjadi sector unggulan, pasar komoditi pertanian yang tidak stabil
dan adanya perdagangan bebas yang menyebabkan produk pertanian bersaing dengan produk negara lain.
Perkembangan faktor ini berada di luar wilayah Kecamatan Tarutung, sehingga dibutuhkan kerjasama antar wilayah terkait untuk memaksimalkan kemampuan dan meminimalkan ancaman yang dimulai sejak penyusunan perencanaan pengembangan wilayah. Perkembangan teknologi SIG dalam evaluasi sumberdaya lahan dapat digunakan dalam pengembangan wilayah sehingga data-data spasial evaluasi sumberdaya lahan yang dihasilkan dapat menjadi referensi perencanaan pengembangan wilayah.
Pada Tabel 4.11 diperoleh jumlah skor faktor strategi internal (kekuatan dan kelemahan) adalah sebesar 0,3. Faktor eksternal (peluang dan ancaman) adalah sebesar 0,3. Selanjutnya berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan pada tabel internal dan eksternal, maka kwadran SWOT dapat digambarkan sebagai berikut:
1 O III I 0,30 W -1 0,30 1 S IV II -1 T
Gambar 4.8. Kwadran SWOT
Dari gambar kwadran SWOT tersebut di atas dapat dilihat bahwa posisi SWOT berada pada kuadran I, yaitu kemampuan Lahan Kecamatan Tarutung menghadapi peluang yang sangat besar dan memiliki kekuatan-kekuatan internal. Fokus strategi yang harus dilakukan adalah memaksimalkan kekuatan-kekuatan internal.
Pencocokan
Langkah berikutnya adalah tahap pencocokan. Dengan menggunakan strategi silang, tahap pencocokan dengan matrik TOWS atau SWOT dalam Analisis SWOT dihasilkan beberapa asumsi strategis sebagai bahan untuk pencapaian kemungkinan alternatif strategi pengembangan wilayah di Kecamatan Tarutung. Strategi dan hasil dari pencocokan tersebut selanjutnya dilakukan proses penetapan ”Asumsi Alternatif Strategis”. Berdasarkan matrik SWOT, diperoleh berbagai asumsi alternatif strategi
yang dapat dilakukan dalam upaya pengembangan wilayah di Kecamatan Tarutung yaitu:
Strategi Strenghts-Opportunities, yaitu: memanfaatkan kekuatan untuk meraih peluang, dengan strategi yang mungkin dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Memanfaatkan potensi lahan dengan teknologi SIG.
2. Memanfaatan lahan belum terbangun dengan kebijakan penggunaan lahan dalam
konteks otonomi daerah.
3. Memaksimalkan penggunaan lahan dengan menjalin kerjasama dengan daerah
sekitar.
Strategi Weaknesses-Opportunities, yaitu: meminimalkan kelemahan untuk mencapai dan memanfaatkan peluang yang ada, dengan strategi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Mengimplementasikan teknologi SIG dalam pemanfaatan kesesuaian lahan
pertanian.
2. Meningkatkan kerjasama dengan daerah sekitar dalam menumbuhkan sektor-sektor
unggulan.
Strategi Strengths-Threats, yaitu: strategi yang memanfaatkan kekuatan untuk mengurangi ancaman, dengan strategi alternatif yang dapat dilakukan adalah mengoptimalkan potensi lahan belum terbangun dalam memacu tumbuhnya sektor-sektor unggulan.
Strategi Weaknesses-Threats, yaitu: merupakan taktik untuk bertahan yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan-kelemahan internal serta menghindar dari
ancaman-ancaman lingkungan, dengan strategi alternatif yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan potensi lahan untuk memfasilitasi pertumbuhan sektor-sektor unggulan.