BAB V ANALISIS TEMUAN
V.4 Strategi Untuk Mengatasi Hambatan
Dari beberapa hambatan yang dihadapi oleh Badan PP dan KB kota Medan dalam implementasi pengarusutamaan gender, hanya ada beberapa hambatan yang diberikan strategi untuk mengatasi hambatan tersebut.
Meskipun merupakan salah satu hambatan tersulit yang dihadapi, Badan PP dan KB selalu berupaya untuk melakukan sosialisasi tentang pemahaman gender dan pengarusutamaan gender yang sebenarnya, sehingga pemikiran/faktor budaya patriarki dapat menghilang secara perlahan dari kalangan pemerintah ataupun masyarakat.
Untuk pendidikan dan pelatihan program kegiatan yang responsif gender serta penganggaran yang responsif gender juga, badan PP dan KB tetap melaksanakannya. Hal ini bertujuan agar mereka (para pembuat kebijakan & anggaran) lebih mengerti tentang pengarusutamaan gender ini.
Hambatan untuk keterbatasan dana juga diberikan strategi oleh badan ini yaitu dengan berusaha untuk tetap menganggarkan biaya untuk program dan kegiatan yang responsif gender. Hal tersebut dikatakan oleh informan kepada peneliti bahwa mereka akan terus berusaha menganggarkan biaya meskipun pemerintah tidak memenuhi seluruh permintaan yang mereka anggarkan.
74
V.5 Kinerja Implementasi Berdasarkan Teori Van Meter Dan Van Horn 1. Ukuran-Ukuran Dasar dan Tujuan Kebijakan
Van Meter dan Van Horn (dalam Sulaeman, 1998) mengemukakan untuk mengukur kinerja implementasi kebijakan tentunya perlu menegaskan standar dan sasaran tertentu yang harus dicapai oleh para pelaksana kebijakan. Kinerja kebijakan pada dasarnya merupakan penilaian atas tingkat ketercapaian standar dan sasaran tersebut. Pemahaman tentang maksud umum dari suatu standar dan tujuan kebijakan adalah penting. Implementasi kebijakan yang berhasil, bisa jadi gagal (frustated) ketika para pelaksana (officials), tidak sepenuhnya menyadari terhadap standar dan tujuan kebijakan. Standar dan tujuan kebijakan memiliki hubungan erat dengan disposisi para pelaksana (implementors). Arah disposisi para pelaksanaterhadap standar dan tujuan kebijakan juga merupakan hal yang krusial. Implementor mungkin bisa jadi gagal dalam melaksanakan kebijakan, dikarenakan mereka menolak atau tidak mengerti apa yang menjadi tujuan suatu kebijakan.
Ukuran-ukuran dasar kinerja implementasi pengarusutamaan gender memang tidak dicantumkan dalam Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Namun, hal tersebut dapat terlihat dari tujuan implementasi pengarusutamaan gender yaitu terwujudnya Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG), yang merupakan suatu keadaan dimana laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses segala bidang, baik itu pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.
75
Dalam hal ini, pemahaman pegawai Badan PP dan KB kota Medan tentang pengarusutamaan gender sudah dapat dikatakan baik. Berdasarkan hasil wawancara, pegawai Badan PP dan KB dinilai oleh peneliti sudah memahami pengarusutamaan gender dengan baik. Pegawai badan PP dan KB kota Medan telah memahami dan dapat mengartikan pengarusutamaan gender sebagai suatu strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender antara laki-laki dan perempuan, serta upaya untuk memberdayakan kaum perempaun agar tidak terdiskriminasi. Pemahaman lain juga ditunjukkan melalui berbagai program dan kegiatan yang telah disusun dan telah bersifat responsif gender.
2. Sumber-Sumber Kebijakan
Ketersediaan sumber daya yang memadai juga menjadi faktor pendukung keberhasilan dari sebuah kebijakan yang ditetapkan. Sumber daya menunjuk kepada seberapa besar dukungan sumber daya manusia, finansial dan fasilitas untuk melaksanakan program atau kebijakan. Dalam praktek implementasi kebijakan, kita sering sekali mendengar para pejabat maupun pelaksana mengatakan bahwa kita tidak mempunyai cukup dana untuk membiayai program-program yang telah direncakan. Dengan demikian, besar kecilnya dana akan menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan implementasi kebijakan (Winarno, 2004:112).
Sumber daya finansial yang digunakan Badan PP dan KB berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Medan. Berdasarkan informasi dari informan, anggaran tersebut tidak selalu terealisasi. Karena itu para
76
implementor juga banyak mengharapkan bantuan dana dari donatur. Dalam mengimplementasikan pengarusutamaan gender di kota Medan, badan PP dan KB telah menyusun berbagai macam program dan kegiatan untuk pelaksanaannya. Seluruh kegiatan tersebut tentunya memerlukan dana agar dapat terlaksana dengan baik. Namun, bantuan yang diberikan donatur bukan hanya berupa uang, melainkan ada pula bantuan berupa fasilitas untuk pelaksanaan pelatihan dan pendidikan. Bantuan dari donatur juga tidak dapat diprediksi kapan akan datang, bahkan dalam satu tahun bisa tidak ada bantuan dari donatur. (Wawancara dengan Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Perempuan, ibu Eli Ratna, tanggal 15 September 2015).
Dilihat dari sumber-sumber dana yang didapat oleh badan PP dan KB berdasarkan hasil wawancara, dapat disimpulkan dana yang diterima oleh badan ini masih tergolong kurang untuk melaksanakan kegiatan yang telah disusun. Hal ini mempengaruhi kinerja badan PP dan KB terutama dalam mengimplementasikan pengarusutamaan gender, dimana karena minimnya dana maka pengarusutamaan gender kemungkinan besar tidak dapat berjalan dengan baik. Karena minimnya dana tersebut juga, maka program dan kegiatan yang telah disusun dilaksanakan hanya dengan seadanya saja agar dana yang dimiliki mencukupi untuk kegiatan tersebut.
3. Komunikasi Antar Organisasi dan Kegiatan-Kegiatan Pelaksanaan
Komunikasi merupakan faktor yang penting dalam menjalankan sebuah kebijakan. Dalam komunikasilah pesan-pesan disampaikan dan juga berbagai
77
informasi terkait pelaksanaan dari suatu kebijakan. Komunikasi yang tidak baik dapat menimbulkan kesalahpahaman yang menimbulkan pelaksanaan kebijakan tidak berjalan baik. Komunikasi dilakukan antar sesama implementor atau badan pelaksana kebijakan dan juga komunikasi kepada kelompok sasaran dari kebijakan tersebut.
Komunikasi di dalam dan antara organisasi-organisasi merupakan suatu proses yang kompleks dan sulit. Dalam meneruskan pesan-pesan ke bawah dalam suatu organisasi atau dari suatu organisasi ke organisasi lainnya, para komunikator dapat menyimpannya atau menyebarluaskannya, baik secara sengaja atau tidak sengaja. Lebih dari itu, jika sumber-sumber informasi ataupun sumber yang sama memberikan interpretasi yang tidak konsisten terhadap ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan atau bahkan bertentangan, maka para pelaksana kebijakan akan mendapatkan kesulitan yang lebih besar untuk melaksanakan maksud-maksud dari kebijakan.Semua pelaksana harus memahami apa yang diidealkan oleh kebijakan yang implementasinya menjadi tanggungjawab mereka. Hanya saja komunikasi adalah proses yang rumit, yang sangat potensial untuk terjadi penyimpangan. Hal ini menyangkut persoalan kewenangan dan kepemimpinan. Organisasi atasan (superior) mestinya mampu mengkondisikan organisasi bawahan atau pelaksana untuk memiliki idealita sebagaimana yang dikehendaki oleh kebijakan (Wibawa, 2004: 20).
Komunikasi yang terjalin antar organisasi, dalam hal ini antar SKPD, dinilai kurang baik karena berdasarkan informasi yang didapat masih ada sikap kurang peduli dari tiap SKPD dalam menangani masalah gender dan
78
mengimplementasikan pengarusutamaan gender pada setiap perencanaan dan penganggaran program kegiatan mereka. Hal tersebut disampaikan peneliti karena pada kenyataannya Badan PP dan KB juga merasa kesulitan untuk mendapatkan data terpilah dari tiap SKPD, padahal untuk menyusun data terpilah sebenarnya bukanlah tugas yang sulit, namun SKPD sangat lambat dalam memproses data terpilah tersebut. Komunikasi juga hanya terjadi ketika rapat dilakukan dan rapat ini juga tidak dilakukan dengan rutin karena terhambat oleh minimnya dana.
Selain komunikasi yang dilakukan dengan sesama implementor atau badan pelaksana di kota Medan, implementor juga melakukan komunikasi dengan kelompok sasaran yang dalam hal ini adalah masyarakat luas, yang diwakili oleh ibu-ibu PKK. Komunikasi yang dilakukan adalah berupa sosialisasi atau penyuluhan. Sosialisasi ini juga tidak dilakukan secara rutin karena masalah biaya yang tidak mendukung.
Komunikasi yang kurang baik inilah yang mengakibatkan kinerja badan PP dan KB menjadi terhambat sehingga proses implementasi pengarusutamaan gender menjadi kurang berjalan dengan baik di kota Medan. Padahal sebagai implementor yang baik, seharusnya koordinasi serta komunikasi antar pihak implementor harus terjalin dengan baik agar apa yang dicita-citakan dapat terwujud sesuai dengan yang diinginkan bersama. Dalam hal ini, yang dicita-citakan adalah terwujudnya KKG di kota Medan.
79 4. Karakteristik Badan-Badan Pelaksana
Karakteristik badan-badan pelaksana tidak terlepas dari struktur birokrasi. Struktur birokrasi diartikan sebagai karakteristik, norma dan pola hubungan yang terjadi berulang-ulang dalam badan-badan eksekutif yang mempunyai hubungan baik potensial maupun nyata dengan apayang mereka miliki dengan menjalankan kebijakan. Komponen dari model ini terdiri dari ciri-ciri struktur formal dari organisasi dan atribut-atribut yang tidak formal dari personil mereka. Disamping itu, perhatian juga perlu ditujukan kepada ikatan-ikatan badan pelaksana dengan pemeran-pemeran serta dalam sistem penyampaian kebijakan (Winarno, 2004: 116).
Dengan menjalankan kegiatan evaluasi, Badan PP dan KB sekaligus mengawasi serta memantau instansi pemerintah pada tingkat sejajarannya hingga ke kelurahan dalam melaksanakan kegiatan yang responsif gender.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki pegawai pada badan PP dan KB mengenai gender dan pengarusutamaan gender sudah baik, dan kemauan mereka untuk memahami permasalahan gender juga ditemukan oleh peneliti, yaitu dimana jika dilihat dari latar belakang pendidikan terakhir setiap informan (perwakilan pegawai), dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya tidak ada satu orang pun dari mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan khusus mengenai studi perempuan atau pun gender. Namun, setelah ditempatkan di Badan PP dan KB kota Medan, mereka terdorong untuk harus mempelajari setiap permasalahan yang berkaitan dengan studi perempuan, diantaranya adalah mengenai
80
pengarusutamaan gender, gender, trafficking, kekerasan rumah tangga, keadilan dan kesetaraan gender, dan sebagainya untuk bekal mereka dalam menjalankan tugasnya di instansi tersebut.
5. Kondisi-Kondisi Ekonomi, Sosial dan Politik
Kondisi-kondisi ekonomi, sosial, dan politik merupakan variabel selanjutnya yang diidentifikasi oleh Van Meter dan Van Horn. Kondisi sosial, ekonomi dan politik juga berpengaruh terhadap efektivitas implementasi kebijakan.
Kinerja implementasi pengarusutamaan gender di kota Medan juda dipengaruhi oleh kondisi sosial, ekonomi dan politik. Di lingkungan sosial, pemahaman mengenai pengarusutamaan gender dinilai masih kurang baik. Hal ini mempengaruhi kinerja implementasi pengarusutamaan gender. Kurangnya pemahaman pengarusutamaan gender di lingkungan sosial dapat dilihat dari rendahnya anggaran dana yang diberikan pemerintah dalam mengatasi permasalahan gender serta pemberdayaan perempuan. Dalam lingkungan politik juga, pemerintah lebih menomorduakan permasalahan pengarusutamaan gender, sehingga alokasi dana yang diberikan untuk permasalahan gender ini sering dirasa tidak adil. Hal ini dikarenakan adanya pemikiran para pejabat bahwa gender hanyalah menyangkut masalah perempuan saja.
81 6. Kecenderungan Pelaksana (Implementors)
Kecenderungan pelaksana kebijakan diperngaruhi oleh badan-badan pelaksananya. Apakah pengaruh yang ditimbulkan mempermudah atau menghalangi implementasi tergantung pada orientasi badan pelaksananya. Kecenderungan individu pelaksana juga dapat dipengaruhi oleh ikatan-ikatan formal dan ikatan informal dari badan itu dengan badan “pembuat kebijakan” atau badan “pelaksana kebijakan”. (Winarno, 2002:121).
Kecenderungan yang dapat dilihat oleh peneliti selama penelitian berlangsung adalah kurang tertatanya pengarsipan data yang ada pada badan tersebut. Peneliti melihat, terutama data yang sudah lama tidak dapat dengan segera ditunjukkan kepada peneliti, bahkan ada pula data yang telah hilang. Kecenderungan lain adalah dalam menyusun rencana kegiatan, badan PP dan KB cenderung membuat kegiatan yang lebih menekankan pada bidang Keluarga Berencana, bukan pada bidang Pemberdayaan Perempuan.
82 BAB VI
PENUTUP
VI.1 Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan hasil analisis temuan yang dilakukan oleh peneliti, maka dapat ditarik kesimpulan tentang kinerja Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana dalam implementasi pengarusutamaan gender di Kota Medan dengan gambaran sebagai berikut :
1. Dalam mengimplementasikan pengarusutamaan gender, kegiatan yang paling utama yang dilakukan oleh badan PP & KB kota Medan adalah kegiatan sosialisasi dan koordinasi. Selain itu, kegiatan lain yang dilakukan adalah menangani kasus terhadap kaum perempuan, misalnya kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan terhadap perempuan.
2. Pada tahun 2012, pemerintah telah membetuk lembaga P2TP2A dengan tujuan untuk membantu meningkatan peran dan kualitas perempuan serta perlindungan anak dari tindakan-tindakan yang merugikan dan mengancam keberlangsungan hidup perempuan dan anak. Namun, lembaga P2TP2A ini belum mengerjakan tugasnya dengan maksimal. Pemerintah Provinsi yang lebih banyak menangani kasus trafficking.
3. Hambatan yang dihadapi dalam proses implementasi pengarusutamaan gender di kota Medan, yaitu :
a. Minimnya anggaran dana yang diperoleh Badan PP dan KB. b. Kurangnya koordinasi antar SKPD.
83
c. Minimnya jumlah perempuan di posisi pengambil keputusan. d. Faktor budaya patriarki masih melekat.
e. Terbatasnya data.
4. Strategi yang dilakukan untuk mengatasi hambatan yang dihadapi Badan PP dan KB dalam implementasi pengarusutamaan gender adalah :
a. Melakukan sosialisasi tentang pemahaman gender dan pengarusutamaan gender yang sebenarnya, sehingga pemikiran/faktor budaya patriarki dapat menghilang secara perlahan dari kalangan pemerintah ataupun masyarakat.
b. Melakukan pendidikan dan pelatihan dalam menyusun program kegiatan yang responsif gender serta penganggaran yang responsif gender.
c. Tetap menganggarkan biaya untuk program dan kegiatan yang responsif gender, meskipun pemerintah tidak memenuhi seluruh permintaan yang telah dianggarkan.
5. Berdasarkan pengamatan peneliti, kelemahan yang dimiliki Badan PP dan KB kota Medan adalah :
a. Kurang baik dalam hal mengarsipkan data sehingga menjadi kesulitan pada saat data diperlukan.
6. Meskipun terdapat kelemahan serta menghadapi hambatan dalam mengimplementasikan pengarusutamaan gender, Badan PP dan KB ternyata memiliki beberapa pencapaian dari beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan, yaitu :
84
a. Terbentuknya Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Medan pada tahun 2012.
b. Terlaksananya sosialisasi kepada instansi pemerintah dan kepada masyarakat yang diwakilkan oleh ibu-ibu PKK.
c. Diraihnya penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya Tingkat Utama pada tahun 2007.
VI.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, ada beberapa saran yang disampaikan oleh peneliti terkait kinerja Badan PP & KB kota Medan dalam mengimplementasikan pengarusutamaan gender, yaitu:
1. Sebagai lembaga pemerintah yang berbentuk Badan yang seharusnya saling bekerjasama dan saling membantu antara satu bidang dengan bidang lainnya, peneliti berharap agar ke depannya, Badan PP dan KB kota Medan tidak bekerja secara sendiri-sendiri untuk bidangnya masing-masing. Karena setiap tugas yang terdapat dalam tupoksi masing-masing bidang adalah tanggung jawab bersama bagi Badan PP dan KB.
2. Badan PP dan KB perlu memperhatikan pengarsipan data yang ada di Badan tersebut, karena apabila data diperlukan, dapat dengan mudah ditemukan, terutama pada saat akan dilakukan evaluasi kegiatan.
85
DAFTAR PUSTAKA
Danin, Sudarma. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: Pustaka Setia.
Dunn, William. 2000. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta:Gajah Mada University Press.
Ikbar, Yanuar. 2012. Metode Penelitian Sosial Kualitatif. Bandung: PT. Refika Aditama.
Komite Nasional Lutheran World Federation. 2012. Luther dan Pendidikan. Medan: Tried Rogate.
Miles, M.B. dan A.M., Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. Penerjemah Tjetjep Rohidi. Jakarta: UI Press.
Muleong, Lexi J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Nugroho, Riant. 2006. Kebijakan untuk Negara-negara Berkembang (Model-model Perumusan Implementasi dan Evaluasi). Jakarta: Elex Media Komputindo.
Singarimbun, Masri. 1995. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES.
Subagyo, Joko. 2004. Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
86
Sugiono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Wibawa, Samudra. 1994. Evaluasi Kebijakan Publik. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Peraturan Perundang-Undangan
Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 Tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional
Peraturan Walikota Medan Nomor 4 Tahun 2010 Tentang Rincian Tugas Pokok Dan Fungsi Badan Pemberdayaan Perempuan Dan Keluarga Berencana Kota Medan
Internet
Gugus Tugas Nasional Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang Pemerintah Indonesia
tanggal 08 Desember 2014.
Saraswati, Tumbu. Pengarusutamaan Gender Dalam Kebijakan Pembangunan.
87 tanggal 13 Oktober 2015, pukul 12.46 WIB