• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.2 Stratigrafi Daerah Penelitian

Daerah penelitian terletak pada cekungan Ombilin dengan stratigrafi batuan dari tua–muda berumur pra-Tersier–Kuarter. Kolom stratigrafi regional cekungan Ombilin menurut Silitonga dan Kastowo (1995) serta Koesoemadinata dan Matasak (1981). (Gambar II.2).

4

Gambar II. 2 Kolom stratigrafi regional Cekungan Ombilin ( Silitonga dan Kastowo, 1995., Koesoemadinata dan Matasak, 1981)

Berdasarkan kolom stratigrafi di atas dan berdasarkan peta geologi regional lembar Solok menurut Silitonga dan Kastowo (1995) pada daerah penelitian terdapat beberapa Formasi, yaitu: Anggota batugamping Formasi Kuantan dengan Litologi penyusun berupa batugamping, batusabak, filit, serpih terkersikkan dan kuarsit.

Kemudian Anggota Filit dan Serpih Formasi Kuantan dengan litologi penyusun formasi ini antara lain, serpih, filit, sisipan batusabak, kuarsit, batulanau, rijang, dan aliran lava. Anggota Bawah Formasi Ombilin yang tersusun atas batupasir kuarsa mengandung mika sisipan arkose, serpih lempungan, konglomerat kuarsa, dan batubara.

5 II.3 Fisiografi Regional

Secara regional, fisiografi Pulau Sumatera terdiri beberapa zona fisiografi, diantaranya zona Bukit Barisan, zona Sesar Semangko, zona Dataran dan Perbukitan, zona Bukit Tiga Puluh, zona Busur Luar dan zona Paparan Sunda (Van Bemmelen, 1949). Daerah penelitian terletak pada daerah Sumatera Barat, yang secara fisiografi dibagi menjadi tiga zona, yaitu wilayah pegunungan vulkanik, wilayah perbukitan Tersier, dan wilayah dataran rendah (Sandy,1985). (Gambar II.3)

Gambar II. 3 Fisiografi regional daerah Sumatera Barat (Sandy, 1985)

Wilayah pegunungan vulkanik membujur pada bagian tengah provinsi Sumatera Barat, dari utara-selatan, dengan patahan Semangko ditengahnya, sedangkan perbukitan lipatan Tersier membentang dibagian Timur pegunungan vulkanik.

II.4 Tatanan Tektonik

Pulau Sumatera berada pada jalur gunung api yang terbentuk akibat pertemuan dua lempeng, yaitu Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia (Katili, 1974). Pulau Sumatera terletak di selatan dari Lempeng Eurasia

6

yang berinteraksi dengan Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke arah utara–

timurlaut. Pada pra-Tersier kerangka Pulau Sumatera terdiri dari lempeng mikro benua dan samudra yang diakresikan yaitu lempeng mikro Mergui, Malaka, dan Malaya Timur yang menyatu membentuk Sundaland pada akhir Trias (Barber dkk., 2005). Di bagian barat sundaland terjadi akresi lebih lanjut dari daratan Woyla pada masa Mesozoik Akhir dan membentuk batasan yang jelas terhadap lempeng mikro Mergui (Pulonggono dan Cameron, 1984). Pegunungan Barisan di Pulau Sumatera Barat terbentuk dari graben hasil dari aktivitas tektonik yang terjadi pada awal Tersier yang bagian timurnya menyingkap batuan non-vulkanik dari sikuen pra-Tersier. Struktur geologi pada daerah penelitian dipengaruhi oleh Sesar Takung dengan orientasi barat barat laut– timur barat daya pada bagian timur laut dan sistem sesar utama Sumatera dengan orientasi barat laut–tenggara di bagian barat daya.

Terjadinya kompresi karena subduksi lempeng Indo–Australian dibawah Sundaland pada awal Eosen Tengah yang menghasilkan regime tektonik ekstensional sehingga terbentuk graben. Graben merupakan hasil strike-slip fault Tersier dari sistem sesar utama Sumatera yang dilanjutkan dengan pergerakan sesar berorientasi barat laut–tenggara yang membentuk graben berikutnya (Situmorang dkk.,1991).

II.5 Geomorfologi

Analisis geomorfologi yang dilakukan dengan menggunakan data peta rupa bumi dengan skala 1:25.000, serta citra satelit. Penentuan satuan geomorfologi didasarkan pada aspek relief, pola pengaliran, morfogenetik, dan morfometri.

Kawasan Geopark Silokek terdiri dari empat bentukan asal yaitu bentuk asal struktural, bentuk asal denudasional, bentuk asal karst, dan bentuk asal fluvial (Gambar IV.4) .

Morfologi bentukan asal struktural dominan disusun oleh material batuan dari Anggota Bawah Formasi Ombilin yang teridiri dari lempung dan napal dengan sisipan batupasir, konglomerat mengandung kapur dan berfosil. Dominasi lempung dan napal pada wilayah ini menghasilkan kawasan yang relatif datar hingga landai dengan sedikit perbukitan di bagian tepinya. Topografi datar hinga landai dengan

7

kelerengan <5%. Morfologi ini menempati sekitar 15 % dari kawasan Geopark Silokek.

Gambar II. 4 Geomorfologi Geopark Silokek

Morfologi bentukan asal fluvial, dicirikan oleh bentuk lahan berupa dataran aluvial.

Morfologi ini menempati sekitar 20 % dari kawasan Geopark Silokek dan dimanfaatkan sebagai pemukiman dan lahan pesawahan. Litologi yang menempati morfologi ini adalah endapan aluvial terdiri atas batuan metamorf dan batugamping.

Morfologi bentukan asal denudasional, dicirikan dengan kenampakan bukit terisolir yang tersusun atas litologi granit sebagai contoh adalah Bukit Mambuik. Morfologi ini menempati sekitar 20 % dari kawasan Geopark Silokek.

Morfologi bentukan asal karst, dicirikan dengan batugamping tua dengan umur lebih dari 350 juta tahun. Morfologi ini menempati sekitar 45 % dari kawasan Geopark Silokek (Badan pengelola geopark)

II.6 Konsep Dasar Geowisata

Konsep kotak geowisata memiliki peran penting sebagai acuan terbentuknya Daya Tarik Geowisata (DTG) berdasarkan sifat dan ruang lingkupnya. Konsep ini merupakan modifikasi pennjabaran konsep sifat dan ruang lingkup geowisata (Dowling dan Newsome, 2016), yang mencakup proses, bentuk, dan pariwisata dengan menambahkan tiga elemen lainnya, yaitu geodasar, geohistory, dan geo+.

Modifikasi tersebut didasarkan bahwa geowisata juga melibatkan aspek non-geologi yang masih memiliki keterikatan dengan aspek non-geologi, seperti flora, fauna, budaya, arkeologi, sejarah, hingga legenda serta mitos. Secara keseluruhan konsep

8

kotak geowisata mencakup enam elemen yaitu (1) proses, (2) bentuk, (3) pariwisata, (4) geodasar, (5) geohistory, dan (6) geo+ (Brahmantyo, 2013) yang dapat dilihat pada (Gambar II.5).

Berdasarkan Peraturan Presiden No. 9 tahun 2019 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark), Taman Bumi yang selanjutnya disebut adalah sebuah wilayah geografi tunggal atau gabungan, yang memiliki situs warisan geologi (geosite) dan bentang alam yang bernilai, terkait aspek warisan geologi (geoheritage), keragaman geologi (geodiversity), keanekaragaman hayati (biodiversity), dan keragaman budaya (cultural diversity), serta dikelola untuk keperluan konservasi, edukasi, dan pembangunan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan dengan keterlibatan aktif dari masyarakat dan pemerintah daerah, sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap bumi dan lingkungan sekitarnya.

Gambar II. 5 Kotak Geowisata (Brahmantyo, 2013)

Sedangkan menurut UNESCO (2004), geopark adalah sebuah kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi terkemuka (outstanding), termasuk nilai arkeologi, ekologi, dan budaya yang ada di dalamnya. Masyarakat setempat juga diajak berperan serta untuk melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam.

9

Unsur utama di dalam geopark terbagi 3 yaitu unsur geodiversity, biodiversity, dan culturaldiversity. Konsep asas geopark menurut UNESCO adalah pembangunan ekonomi secara mapan melalui warisan geologi atau geotourism. Tujuan dan sasaran dari geopark adalah untuk melindungi keragaman bumi (geodiversity) dan konservasi lingkungan, pendidikan, dan ilmu kebumian secara luas.

10

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di instansi terkait dengan kurun waktu kurang lebih selama 30 hari, yaitu terhitung pada tanggal 25 Agustus 2021 – 25 September 2021.

Adapun tempat dan waktu pelaksanaan pengerjaan Kerja Praktek adalah sebagai berikut :

Instansi : Geopark Information Center Geopark Silokek

Alamat : Muaro Sijunjung, Kec. Sijunjung, Kab. Sijunjung, Prov. Sumatera Barat

Waktu : 25 Agustus – 25 September 2021

Dengan penempatan penelitian secara khusus adalah sebagai berikut : Tempat : Geosite Ngalau Basurek

Alamat : Muaro Sijunjung, Kec. Sijunjung, Kab. Sijunjung, Prov. Sumatera Barat

Waktu : 25 Agustus – 25 September 2021

Tabel III. 1 Jadwal Pelaksaaan Penelitian

No. Uraian Kegiatan Agustus, minggu ke-

1 2 3 4

1. Studi literatur, perencanaan kegiatan lapangan 2. Pengenalan instansi dan observasi

3. Pengamatan dan pengambilan data lapangan 4. Pengelolaan, analisis data, dan penyusunan

laporan

III.2 Alat dan Bahan

Beberapa peralatan dan bahan yang digunakan sebagai penunjang selama penelitian ini adalah :

1. Buku lapangan 2. Kompas geologi

3. Palu batuan beku dan sedimen 4. Plastik sampel

5. HCL

11 6. Pahat

7. Clipboard

8. Komparator beku dan sedimen 9. Kamera

10. Borang penilaian geosite

III.3 Tahap Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian ini, terbagi beberapa tahap pelaksanaan, yakni :

III.3.1 Tahap Persiapan

Pada tahap persiapan ini dimulai dengan pengadaan peta topografi, peta geologi regional, peta lintasan geologi, foto udara (citra satelit), serta literatur yang berkaitan dengan daerah penelitian, lalu dilanjutkan dengan analisis peta topografi dan interpretasi foto udara (citra satelit). Dari data-data sekunder tersebut dirancang perizininan dengan Badan Pengelola Geopark Silokek dan kepada pengurus nagari Silokek yang meliputi Kepala Desa dan Kepala Adat, rencana lintasan penelitian, dan kegiatan untuk tahapan selanjutnya.

III.3.2 Tahap Eksplorasi dan Observasi

Tahap eksplorasi dan observasi yaitu memetakan, mengekplorasi, serta mengobservasi kawasan Geosite Ngalau Basurek meliputi geodiversity, biodiversity, cultural diversity, seluruh komponen dan juga aspek-aspek geosite yang menunjang untuk diberikan nilai sesuai dengan keadaan yang dimiliki oleh masing-masing geosite yang teramati.

III.3.3 Tahap Pengolahan dan Analisis Data

Pada tahap ini data yang diperoleh pada tahapan eksplorasi dan observasi seluruhnya diolah dan dianalisis menggunakan parameter satandar penilaian yang mengacu pada Petunjuk Teknis Asessmen Sumber Daya Warisan Geologi ESDM (2017). Beberapa aspek penilaian yang ada di dalamnya adalah asessmen nilai–nilai sains (scientific values), asessmen nilai–nilai edukasi (education values), asessmen nilai–nilai pariwisata (tourism values), asessmen nilai–nilai degradasi (risk

12

degradation). Dengan metode ini dapat diketahui besar bobot- bobot penilaian pada masing-masing asessmen sehingga akan didapatkan suatu nilai yang dijadikan sebagai pedoman dalam pengelolaan warisan geologi.

III.4 Diagram Alir Penelitian

Tahapan atau proses yang dilakukan dalam penelitian ini digambarkan dalam diagram alir pada Gambar III.1.

Gambar III. 1 Diagram alir penelitian.

13

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Observasi

Setelah melakukan tahap persiapan berupa pengadaan peta topografi, peta geologi regional, peta lintasan geologi, citra satelit, dan literatur yang berkaitan dengan daerah penelitian serta tahap eksplorasi dan observasi berupa memetakan, mengeksplorasi serta mengobservasi kawasan Geosite Ngalau Basurek meliputi geodiversity, biodiversity, cultural diversity, maka didapatkan hasil:

IV.1.1 Stratigrafi

Stratigrafi daerah penelitiaan tersusun atas satu formasi yaitu Formasi Kuantan (PCkl) yang tersusun atas batugamping sabak, filit, serpih terkersikkan, dan kuarsit.

Gambar IV. 1 Peta lokasi daerah penelitian

IV.1.2 Implementasi Kotak Geowisata

Secara keseluruhan, konsep kotak geowisata mencakup 6 elemen yaitu (1) proses, (2) bentuk, (3) pariwisata, (4) geodasar, (5) geohistory, dan (6) geo+ (Brahmantyo, 2013). Hal-hal yang dapat menunjang 6 elemen tersebut pada Geosite Ngalau Basurek mencakup:

14 1). Proses

Pada Geosite Ngalau Basurek dapat ditemukan keunikan yaitu berupa goa yang memiliki umur yang sudah tua yaitu 350 juta tahun, yang tersusun atas batugamping kristalin dan memiliki banyak urat yang diisi oleh mineral kalsit. Kenampakan luar Geosite Ngalau Basurek dapat dilihat pada (Gambar IV.2) .

Gambar IV. 2 Kenampakan dinding luar Ngalau Basurek

Keberadaan sungai bawah tanah di dalam Ngalau Basurek baik berupa genangan maupun berupa aliran menandakan bahwa Ngalau Basurek merupakan goa aktif.

Sungai bawah tanah pada Geosite Ngalau Basurek dapat dilihat pada Gambar IV.3.

Gambar IV. 3 Sungai bawah tanah pada Geosite Ngalau Basurek

15

Batugamping bersifat porous atau berpori sehingga ketika air hujan mengenainya akan langsung jatuh melewati pori pada lapisan batuan baik secara vertikal maupun secara horizontal. Air akan jatuh ke bawah permukaan tanah dan kemudian terakumulasi dalam suatu pola aliran sungai dan akan membentuk sungai bawah tanah (underground river). Pada Geosite Ngalau Basurek memiliki lubang- lubang yang tersingkap di dinding goa sebagai akibat dari adanya aliran sungai bawah tanah. Fenomena ini disebut dengan Patholes (Gambar IV.4).

Gambar IV. 4 Patholes yang terbentuk pada dinding Ngalau Basurek

2). Bentuk

Elemen ini mempresentasikan bentang alam yang menarik di daerah penelitian.

Geosite Ngalau Basurek adalah sebuah goa yang menjulang tinggi. Keunikan dan keunggulan dari Geosite Ngalau Basurek yaitu memiliki ornamen goa karst yaitu adanya stalaktit yang terbentuk akibat adanya pelarutan sehingga air mengalir dari atas dinding goa mengarah ke bawah yang membawa kalsium karbonat (CaCO3) yang mengendap dan mengeras sehingga membentuk ornamen kerucut menggantung di langit goa (Gambar IV.5).

A B

16

Gambar IV. 5 Ornamen stalaktit di Ngalau Basurek

Ornamen stalakmit juga terbentuk akibat adanya pengendapan kalsium karbonat namun terbentuk di dasar goa (Gambar IV.6).

Gambar IV. 6 Ornamen stalakmit

17

Kemudian tiang (column) dalam geologi disebut speleothem yang merupakan hasil pertemuan stalaktit dengan stalakmit yang pada akhirnya membentuk tiang yang menghubungkan stalaktit dan stalakmit menjadi satu (Gambar IV.7).

Gambar IV. 7 Ornamen tiang (speleothem)

Ornamen selanjutnya adalah flowstone yang merupakan bentuk ornamen gua yang terbentuk dari milyaran tetesan air disebabkan oleh aliran air dan menyelubungi batuan Gambar IV.8)

Gambar IV. 8 Ornamen flowstone

18 3). Pariwisata

Pada kotak pariwisata, pariwisata harus terintegrasi dengan baik, secara keseluruhan elemen pariwisata terdiri dari beberapa indikator yaitu, berupa atraksi, aksesibilitas, amenitas, dan perencanaan dan manajemen. Setelah Geosite Ngalau Basurek berkembang menjadi lokasi wisata, Ngalau Basurek menyuguhkan atraksi berupa climbing , susur goa, dan arung jeram. Untuk susur goa dapat dilihat pada (Gambar IV.9). Pada Geosite Ngalau Basurek arung jeram disediakan di Sungai Batang Kuantan yang dapat melihat kenampakan luar dari Ngalau Basurek (Gambar IV.10).

Gambar IV. 9 Susur goa oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Industri Padang (STTIND)

Gambar IV. 10 Arung jeram di Sungai Batang Kuantan

19

Aksesibilitas menuju tempat ini dapat ditempuh melalui tiga jalan yakni, Muaro Sijunjung, Kecamatan Sumpur Kudus, dan Kecamatan Kamang Baru. Jika dari Muaro Silokek akses jalannya sudah cukup baik karena sudah beraspal, tetapi disepanjang jalan terkadang ditemukan batang pohon yang tumbang dari atas bukit.

Jika dari Kecamatan Sumpur Kudus, akses jalannya masih belum diaspal keseluruhan. Sementara dari arah Kecamatan Kamang Baru, akses jalannya sudah cukup baik.

Gambar IV. 11 Climbing di dinding luar Ngalau Basurek

Untuk menuju Geosite Ngalau Basurek dapat ditempuh menggunakan kendaraan pribadi baik merupakan kendaraan roda empat ataupun kendaraan roda dua, karena pihak pengelola Geopark Ngalau Basurek belum menyediakan kendaraan umum untuk menuju ke lokasi. Meskipun begitu, telah disediakan area parkir untuk

20

kendaraan pribadi roda dua sampai roda empat di sekitar pintu masuk. Harga tiket wisata senilai Rp. 10.000/orang untuk akhir pekan yaitu hari jumat, sabtu, dan minggu, untuk hari biasa senin, selasa, rabu, kamis tiket wisata yaitu senilai Rp.

5.000/orang. Kegiatan susur goa telah menyediakan alat pengaman seperti head-lamp, helm, dan sepatu boot. Kegiatan panjat tebing dapat dilakukan di sekitar Ngalau Basurek namun belum adanya perlengkapan yang disediakan oleh pihak pengelola menyebabkan pengunjung harus membawa perlengkapannya masing- masing. Panjat tebing dilakukan dengan total ketinggian berkisar 7–10 m di dinding luar Geosite Ngalau Basurek. Dalam pemenuhan amenitas baik fasilitas dan infrastruktur di Geosite Ngalau Basurek sudah cukup memadai yaitu seperti adanya kotak sampah, pusat informasi, papan penunjuk arah, pos Geosite, helm, headlamp, dan tempat untuk beristirahat di dekat pintu masuk geosite (Gambar IV.12).

Gambar IV. 12 A) Pusat informasi, B) Penunjuk arah menuju Ngalau Basurek

Objek wisata Ngalau Basurek telah memiliki pos geosite. Pos Geosite digunakan sebagai tempat penyimpanan alat seperti helm, headlamp, dan untuk registrasi pengunjung. Geosite Ngalau Basurek belum memiliki manajemen perancanaan dan pengembangan. Sehingga pemenuhan sarana pendukung pariwisata belum memadai. Hal ini terlihat dengan belum disediakan fasilitas penunjang aliran listrik, seperti kamar mandi, sarana ibadah, toko cinderamata, dan sarana kesehatan di

A B

21

sekitar geosite. Hal tersebut perlu diperhatikan guna menciptakan kenyamanan dan keselamatan wisatawan.

4). Geodasar

Menurut Kotak Geowisata (Brahmantyo, 2013) elemen geodasar adalah pengetahuan dasar ilmu kebumian yang memiliki peran penting dalam memahami bentuk dan proses pariwisata geologi yang disampaikan melalui interpretasi aktif seperti melalui pemandu wisata serta pasif dengan menggunakan buku panduan, brosur, dan internet (Brahmantyo, 2013). Ngalau Basurek sudah cukup baik, dengan Masyarakat Sadar Wisata (Masata) yaitu masyarakat umum yang ikut andil dalam pemanduan wisata yang terdiri dari mahasiwa Universitas di Sijunjung dan juga warga lokal. Selain itu adanya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) berisi remaja lokal Silokek yang aktif memandu wisata di Ngalau Basurek (Gambar IV.13).

Gambar IV. 13 Foto bersama Masyarakat Sadar Wisata (Masata) di Geosite Ngalau Basurek

Geopark Silokek berada di bawah naungan Disparpora (Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga) Kabupaten Sijunjung yang mengacu pada Peraturan Bupati Kabupaten Sijunjung No.10 Tahun 2019. Pihak Geopark Information Center (GIC) mengambil peran dalam pelatihan pemandu wisata. Informasi geodasar telah diberikan pada saat pelatihan ke pemandu wisata, sehingga para Masata dan

22

Pokdarwis Ngalau Basurek telah memahami proses geologi yang membentuk Ngalau Basurek. Selain itu, informasi geodasar juga dijelaskan secara singkat pada papan informasi yang terpasang di Geosite Ngalau Basurek.

5). Geohistory

Ngalau Basurek memiliki umur yang diperkirakan berusia 350 juta tahun yang lalu yang berada pada Formasi Kuantan dengan umur Paleozoikum yang terdiri batugamping kristalin akibat dari rekristalisasi dan dapat membentuk ornamen goa seperti stalaktit, stalakmit, flowstone, dan speleothem. Geosite Ngalau Basurek berada pada provinsi Sumatera Barat dengan terrain Sumatera Barat dan kelompok batuannya adalah peusangan berumur Permian hingga Trias. Terrain Sumatera Barat berasosiasi dengan Terrain Cathaysia yang terendapkan dekat dengan garis katulistiwa yang memiliki iklim tropis, hal tersebut mengakibatkan batuan yang terbentuk kaya akan fosil flora dan fauna seperti contohnya fosil bivalvia yang ditemukan di Geopark Silokek. Dapat dilihat pada (Gambar IV.4).

Gambar IV. 14 Fosil bivalvia di Geopark Silokek

Secara tektonik, terrain Sumatera Barat merupakan bagian dari Terrain Malaya Timur namun mengalami pemisahan pada umur Trias atau awal Mesozoikum. Pada awal Trias berkembang sesar mendatar (strike-slip) yang menyebabkan terrain

23

Sumatera Barat yang awalnya berada di sebelah timur Kalimantan bergerak ke arah barat. Karena terrain Sumatera Barat merupakan bagian dari Cathaysia yang memiliki kondisi iklim yang hangat atau tropis dan terdiri dari batugamping yang memiliki carbonate factory dengan tipe T yaitu tropis. Ngalau (goa) ini bisa naik ke permukaan karena adanya tektonik yang mempengaruhi yaitu adanya pergeseran akibat adanya strike-slip pada umur Trias yang menghasilkan tinggian. Hal tersebut juga dibuktikan dengan adanya bukit barisan yang berumur Oligosen. (Barber dkk., 2005 )

6). Geo+

Pada Kotak Geowisata, elemen Geo+ merupakan faktor pendukung kegiatan geowisata, seperti fenomena geologi yang menjadi legenda dan mitos masyarakat setempat, flora dan fauna yang menjadi daya tarik geowisata serta keterkaitan daya tarik geowisata terhadap sejarah, sosial, dan budaya masyarakat setempat (Brahmantyo, 2013). Ngalau Basurek memiliki ikon atau ciri khas yang membuat geosite ini menjadi terkenal, seperti kata Basurek dalam bahasa minang bermakna tulisan karena di Geosite Ngalau Basurek ditemukan tulisan pada dinding goa (Gambar IV.15). W.H. de Greve adalah seorang geolog dari belanda yang hadir ke Sijunjung untuk kegiatan eksplorasi emas.

Gambar IV. 15 Prasasti yang menunjukan W.H. de Greve pada tahun 1927

24

Geosite Ngalau Basurek menyimpan keasrian ekosistemnya. Tumbuhan yang hidup dan berkembang di kawasan ini sangatlah beragam tetapi hampir sama dengan tumbuhan yang biasa ditemukan untuk sisi luar Ngalau Basurek (Gambar IV.17), dan untuk sisi dalam Ngalau Basurek tidak ditemukan tumbuhan yang berkembang.

Hewan yang berkembang di dalam Ngalau Basurek seperti kelelawar, jangkrik atau nama lokalnya sipungguak, burung walet, kaki seribu, dan laba-laba. Pada desa Silokek juga terdapat Kesenian Anak Nagari yaitu Tari Mandulang Ameh (Gambar IV.16) yang bercerita tentang kebiasaan kehidupan masyarakat nagari Silokek dari masa lalu hingga sekarang. Mulai dari mencari ikan, mencari kayu, mendulang emas, dan mencuci di sungai. Tari Mandulang Ameh ini juga dilakukan saat penyambutan acara besar yang ada di Kabupaten Sijunjung untuk menyambut tamu.

Gambar IV. 16 Tarian mandulang ameh

Beberapa elemen Kotak Geowisata yang telah disebutkan di atas telah terpenuhi dengan baik dan akan menjadi nilai unggul Geosite Ngalau Basurek, karena pengembangan aktivitas wisata di lokasi dapat dikembangkan dengan lebih leluasa dan lebih beragam. Maka dari itu, sangat diharapkan untuk wisatawan tidak jenuh dan mampu menambah waktu lebih lama untuk tinggal di Nagari Silokek, khususnya berkunjung ke Geosite Ngalau Basurek.

25 IV.1.3 Hasil Penilaian Parameter Geowisata

Dalam rangka membangun sistem manajemen sumber daya warisan geologi diperlukan kebijakan teknis sebagai pedoman dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya warisan geologi. Salah satunya perangkat dalam pedoman pengelolaan warisan geologi tersebut adalah petunjuk teknis untuk menilai potensi suatu situs warisan geologi. Petunjuk teknis ini diharapkan bisa menjadi acuan pengelolaan warisan geologi tidak hanya pelestarian lingkungan melalui geokonservasi tetapi untuk kepentingan lain seperti untuk pendidikan, keilmuan dan pariwisata berbasis geologi. Asessmen yang digunakan yaitu meliputi asessmen nilai sains, asessmen nilai edukasi, asessmen nilai pariwisata, dan asessmen nilai degradasi (KESDM, 2017). Penilaian diklasifikasikan menjadi tiga kategori: nilai <200 masuk dalam kategori kurang, nilai 201-300 masuk dalam kategori sedang, dan 301-400 masuk dalam kategori baik.

IV.1.3.1 Asessmen Nilai – Nilai Sains

Faktor-faktor yang digunakan dalam melakukan asesemen kuantitatif nilai-niliai sains meliputi: lokasi yang mewakili kerangka geologi, lokasi kunci penelitian, pemahaman keilmuan, kondisi situs geologi, keanekaragaman geologi, persebaran geosite dalam suatu wilayah, dan hambatan dalam penggunaan lokasi geosite.

Berdasarkan penilaian diperoleh nilai 245 dikategorikan sebagi kategori sedang.

Tabel IV. 1 Hasil penelitian geosite meliputi asessmen nilai–nilai sains

No. Kriteria Bobot(%) Skor NA

26 IV.1.3.2 Asessmen Nilai – Nilai Edukasi

Faktor-faktor yang digunakan dalam melakukan asesemen kuantitatif nilai-niliai edukasi meliputi: kerentanan suatu geosite, pencapaian lokasi, hambatan pemanfaatan lokasi, fasilitas keamanan, sarana pendukung, kepadatan penduduk, hubungan dengan unsur lain, status lokasi, kekhasan, kondisi pada pengamatan

Faktor-faktor yang digunakan dalam melakukan asesemen kuantitatif nilai-niliai edukasi meliputi: kerentanan suatu geosite, pencapaian lokasi, hambatan pemanfaatan lokasi, fasilitas keamanan, sarana pendukung, kepadatan penduduk, hubungan dengan unsur lain, status lokasi, kekhasan, kondisi pada pengamatan

Dokumen terkait