Bab 5. Hasil dan Pembahasan
2.2 Stres kerja perawat di ruang rawat intensif
Berdasarkan hasil yang di dapat, mayoritas perawat pelaksana di ruang rawat intensif RSUD Dr. Pirngadi Medan mengalami stres kerja ringan yaitu sebanyak 35 orang (92,1 %), perawat pelaksana yang mengalami stres kerja sedang yaitu 3 orang (7,9 %), dan tidak ada perawat pelaksana yang mengalami stres kerja berat.
Tabel 5.4 Distribusi frekuensi dan persentase stres kerja perawat di ruang rawat intensif (n=38)
No Stres Kerja Frekuensi Presentase (%)
1 Stres ringan 35 92,1
2 Stres sedang 3 7,9
3 Stres berat 0 0
Jumlah 38 100,0
Stres kerja perawat di ruang rawat intensif RSUD Dr. Pirngadi Medan di indikasikan dari 30 pernyataan. Hasil penelitian diperoleh data paling banyak responden yang menjawab tidak pernah pada item pernyataan no. 26 yaitu sebanyak 33 orang (86,8%), paling banyak responden yang menjawab kadang-kadang pada item pernyataan no. 23 yaitu sebanyak 20 orang (52,6%), paling banyak responden yang menjawab sering pada item pernyataan no. 16 yaitu sebanyak 4 orang (10,5%), paling banyak responden yang menjawab selalu pada item pernyataan no. 1,5,8,12,18 yaitu masing-masing sebanyak 3 orang (7,9%).
Tabel 5.5 Distribusi frekuensi responden berdasarkan indikator variabel stres kerja pada perawat di ruang rawat intensif RSUD Dr. Pirngadi Medan Pernyataan Jawaban Tidak pernah Kadang-kadang Sering Selalu f % F % f % f % 1. Membuat keputusan dengan cepat 26 68,4 7 18,4 2 5,3 3 7,9 2. Membuat keputusan tanpa informasi 24 63,2 13 34,2 1 2,6 - -3. Tidak dapat menyelesaikan tugas dengan baik 24 63,2 10 26,3 2 5,3 2 5,3 4. Membuat keputusan yang serius 30 78,9 5 13,2 3 7,9 -
-5. Tempat kerja kurang pencahayaan
24 63,2 11 28,9 - - 3 7,9
6. Tempat kerja terlalu panas/dingin
23 60,5 15 39,5 - - -
-7. Banyak orang keluar masuk ners statin
25 65,8 13 34,2 - - -
-8. Tempat kerja rentan infeksi nosokomial
16 42,1 19 50 - - 3 7,9
9. Ruang kerja berisik 25 65,8 12 31,6 1 2,6 - -10. Pembagian tugas tidak jelas 24 63,2 11 28,9 3 7,9 - -11. Menutupi keadaan pasien 23 60,5 12 31,6 3 7,9 - -12. Tidak dapat menyelesaikan tugas tepat waktu 27 71,1 8 21,1 - - 3 7,9
13. Atasan tidak memberi kesempatan
21 55,3 17 44,7 - - -
-14. Rekan kerja kurang mendukung
25 65,8 13 34,2 - - -
-15. Rekan kerja tidak menyukai 31 81,6 7 18,4 - - - -16. Merawat banyak pasien 20 52,6 14 36,8 4 10,5 - -17. Sulit mempertahankan standar kerja 21 55,3 17 44,7 - - - -18. Kelelahan saat bekerja 22 57,9 13 34,2 - - 3 7,9
Jawaban Pernyataan Tidak pernah Kadang-kadang Sering Selalu f % F % f % f % 19. Konflik dengan sejawat 20 52,6 18 47,4 - - - -20. Tidak dihargai 22 57,9 13 34,2 3 7,9 - -21. Sakit kepala saat
bekerja secara tim
31 81,6 7 18,4 - - - -22. Kesulitan menjalankan peralatan medis 22 57,9 16 42,1 - - - -23. Kesulitan mengelola tindakan medis yang baru
18 47,4 20 52,6 - - -
-24. Bekerja dengan dokter yang menuntut tindakan cepat 30 78,9 8 21,1 - - - -25. Pasien kurang kooperaif 24 63,2 13 34,2 1 2,6 - -26. Pasien melanggar larangan 33 86,8 5 13,2 - - -
-27. Pasien menolak terapi 20 52,6 15 39,5 3 7,9 - -28. Pasien cacat/cedera 21 55,3 17 44,7 - - - -29. Pasien meninggal
dunia
26 68,4 12 31,6 - - -
-30. Pasien tidak kunjung sembuh
30 78,9 5 13,2 - - 3 7,9
1.3 Perbedaan stres kerja perawat di ruang rawat inap dan ruang rawat intensif RSUD Dr. Pirngadi Medan
Data yang diperoleh diuji normalitas dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov karena jumlah sampelnya 76 (n>50). Hasil uji normalitas yang dilakukan diketahui bahwa data-data berdistribusi tidak normal. Oleh karena itu, peneliti menggunakan uji non-parametrik (Mann-Whitney U) untuk mengidentifikasi perbedaan stres kerja perawat di ruang rawat inap dan ruang rawat intensif.
Tabel 5.6 menunjukkan hasil analisis perbedaan stres kerja antara perawat di ruang rawat inap dan perawat di ruang rawat intensif. Nilai Z hitung tabel berdasarkan ketentuan yang merupakan standar baku untuk tingkat kepercayaan 95% adalah sebesar ± 1,96. Oleh karena nilai Z -4,626 lebih kecil dari (-1,96) maka Ho ditolak. Berdasarkan nilai signifikan yang diperoleh yaitu 0,000 maka
dapat diambil kesimpulan untuk menolak Ho (p=0,000 < α =0,05). Kesimpulannya
adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara stres kerja perawat di ruang rawat inap dan ruang rawat intensif RSUD Dr. Pirngadi Medan. Mean rank yang terdapat dalam tabel menunjukkan bahwa nilai mean stres kerja perawat di ruang rawat inap lebih besar dari pada nilai mean stres kerja perawat di ruang rawat intensif.
Tabel 5.6 Uji perbedaan stres kerja perawat di ruang rawat inap dan ruang rawat intensif
Ruangan n Mean rank Z P
Rawat inap Rawat intensif 38 38 48,12 28,88 -4,626 0,000 2. Pembahasan
2.1 Stres kerja perawat di ruang rawat inap
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setengah dari total responden di ruang rawat inap mengalami stres kerja sedang yaitu sebanyak 19 orang (50 %), 16 orang (42,1 %) mengalami stres kerja ringan, dan sebanyak 3 orang (7,9 %) mengalami stres kerja berat. Rata-rata perawat di ruangan rawat inap mengalami stres kerja sedang, hal tersebut tercermin dari lebih dominannya perawat yang
mengalami gejala-gejala stres. Seperti diketahui 86,8 % perawat mengalami konflik dengan teman sejawat, pasien atau keluarga, selain itu 47,4 % perawat sering kelelahan saat bekerja dan 55,3 % perawat selalu merasa cemas karena kondisi tempat kerja yang rentan terhadap infeksi nosokomial.
Peneliti mendapatkan bahwa konflik dengan teman sejawat merupakan salah satu penyebab stres kerja. Hal ini sejalan dengan pendapat Bayley, Steffen dan Grout (1980) yang menyatakan bahwa konflik dengan dokter, kurangnya dukungan dan konflik dengan perawat lain, kesulitan berhubungan dengan perawat lain, dan staf medis merupakan sumber stres bagi perawat dalam melaksanakan tugasnya. Selain itu beban kerja yang berlebihan juga menjadi penyebab stres kerja perawat di ruang rawat inap.
Peneliti juga mendapatkan bahwa 47,7 % perawat sering kelelahan saat bekerja. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Widyasari (2010) yang mendapatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja dengan stres kerja pada perawat. Semakin berat perawat mengalami kelelahan dalam bekerja maka semakin berat pula tingkat stres kerja yang dialami oleh perawat. Hal ini juga didukung oleh Munandar (2001), yang menyatakan jika beban kerja perawat tinggi, seharusnya tinggi pula tingkat stres kerja yang dialami oleh perawat, dimana beban kerja sedang yang tidak segera diatasi akan menambah tingkat stres dalam bekerja. Hasil penelitian ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Cooper (1983, dalam Prihatini, 2007), dimana stres kerja pada
hakekatnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya lingkungan kerja, beban kerja berlebih, dan pekerjaan beresiko tinggi.
Hasil penelitian ini juga mendapatkan bahwa 55,3 % perawat selalu merasa cemas karena kondisi tempat kerja yang rentan terhadap infeksi nosokomial. Hasil ini sejalan dengan penelitian Simanjorang (2008) yang mendapatkan bahwa lingkungan kerja berpengaruh secara signifikan terhadap stres kerja perawat. Apabila stresor lingkungan kerja meningkat maka stres kerja yang dialami perawat juga meningkat. Hal ini juga didukung oleh pendapat Bambang (2000) yaitu dalam melaksanakan tugas perawat selalu berhadapan dengan lingkungan kerja di rumah sakit yang menimbulkan bahaya potensial yaitu kecelakaan kerja yang disebabkan oleh pekerjaan mengangkat pasien , menyuntik, kuman yang berasal dari pasien dan sebagainya. Berdasarkan pengamatan peneliti didapatkan bahwa alat perlindungan diri seperti, sarung tangan dan masker yang tersedia untuk melindungi diri perawat sangat terbatas. Ini adalah salah satu penyebab stres yang dialami oleh perawat. Hasil ini selaras dengan penelitan Simanjorang (2008) yang mendapatkan bahwa dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari perawat selalu berhadapan dengan pasien yang menderita penyakit-penyakit yang mengandung kuman tertentu, hal ini dirasakan perawat sebagai sumber stres kerja. 2.2 Stres kerja perawat di ruang rawat intensif
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hampir seluruh responden di ruang rawat intensif RSUD Dr. Pirngadi medan mengalami stres kerja ringan yaitu sebanyak 35 orang (92,1 %), 3 orang (7,9 %) mengalami stres kerja sedang, dan
tidak ada perawat yang mengalami stres kerja berat. Hasil penelitian ini menemukan bahwa penyebab stres kerja perawat di ruangan rawat intensif RSUD Dr. Pirngadi Medan adalah kesulitan dalam merawat pasien kritis yang tercermin dari jawaban responden yang mengatakan kadang-kadang kesulitan dalam mengelola tindakan medis yang baru sebanyak 20 orang (52,6 %). Hal ini sejalan dengan penelitian Jusnimar (2012) yang mendapatkan bahwa penyebab stres kerja pada perawat ICU adalah selalu menghadapi pasien dengan kondisi kritis dan tidak stabil. Ini juga didukung oleh Widyasari (2002) yang menyatakan bahwa salah satu faktor stres kerja pada perawat adalah kondisi pasien yang kritis.
Peneliti juga mendapatkan bahwa beberapa perawat di ruang rawat intensif merasakan beban kerja yang berlebihan. Hal ini dapat dilihat dari sebanyak 4 orang (10,5 %) yang mengatakan bahwa sering merawat banyak pasien. Hal ini sejalan dengan penelitian Haryanti, Aini, dan Purwaningsih (2013) yang mendapatkan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja perawat. Dimana arah hubungannya adalah positif, semakin meningkat beban kerja akan semakin menyebabkan stres. Penelitian ini juga didukung oleh penelitian Kusbiantoro (2008) yang mendapatkan bahwa tugas dan tanggung jawab perawat yang dianggap menjadi beban kerja di ruangan ICU sangat banyak diantaranya adalah kurangnya tenaga medis di ICU, tanggung jawab dalam melaksanakan perawatan pasien di ICU, kondisi pasien, harapan pimpinan rumah sakit terhadap pelayanan yang berkualitas, tuntutan kelurga untuk keselamatan pasien, pengambilan keputusan yang tepat dan keterampilan yang tidak mampu mengimbangi sulitnya pekerjaan di ICU.
2.3 Perbedaan stres kerja perawat di ruang rawat inap dan ruang rawat intensif