Bab VI Hasil dan Pembahasan
KAJIAN PUSTAKA
2.4 Strip Path/Koridor
Suatu koridor biasanya pada sisi kiri kanannya telah ada bangunan -bangunan yang berderet memanjang disepanjang ruas jalan tersebut. Keberadaan
bangunan-bangunan tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan menampilkan kualitas fisik ruang pada lingkungan tersebut.
Koridor dibentuk oleh dua deretan massa (Bangunan atau pohon) yang membentuk sebuah ruang untuk menghubungkan dua kawasan/wilayah kota secara netral. Dengan kata lain, koridor meupakan ruang berupa plaza, jalan atau Lorong, memanjang yang terbentuk pleh deretan bangunan, pohon, atau street furniture untuk menghubungkan dua kawasan dan menampilkan kualitas fisik ruang tersebut (Zahnd, 1999).
Menurut Saragi (2012), koridor jalan terdiri dari permukaan jalan, tepi jalan antara trotoar dan garis batas tanah, dan setiap ruang yang merupakan bagian dari bangunan dan garis properti, atau dalam kalimat lain unsur pembentuk koridor yaitu jalan beserta bangunan-bangunan disekitarnya sehingga koridor tersebut membentuk suatu arsitektur kota.
Dapat disimpulkan, kita dapat menemui karakter koridor melalui pengamatan terhadap serangkaian fisik elemen maupun perasaan ruang yang terbentuk dari fisik komponen pembentuk karakter kawasan tersebut.
Terdapat dua macam Urban koridor menurut Bishop (1989:93) dalam Dipta (2015), diantaranya sebagai berikut:
a. Koridor Komersil
Koridor komersil yaitu koridor yang memiliki aktivitas padar dan di awali dari bagian-bagian komersil menuju pusat Urban seperti komplek bangunan perkantoran, dan perdagangan jasa yang teletak di sepanjang koridor. Koridor
komersil mempunyai jalur pejalan kaki atau pedestrian untuk pergerakan pejalan kaki dan pengendara transportasi yang lewat di suatu kota.
b. Scenic Koridor
Scenic koridor yaitu koridor yang memiliki pemandangan alam yang natural dan unik sehingga memberikan pengalaman menghibur bagi pejalan kaki maupun pengendara trasportasi. Koridor Scenic kurang terlalu umum jika dibandingkan dengan koridor komersil di kawasan perkotaan. Koridor ini umumnya banyak dijumpai di daerah pedesaan.
Roger Trancik (1986) berpendapat bahwa suatu ruang (space) dibatasi oleh suatu void dan solid. Roger Trancik dalam teori desain kota dalam bukunya
“Finding Lost Space” untuk mengidentifikasi tekstur kota dan keteraturan konfigurasi bentuk massa bangunan dengan ruang terbuka secara fungsional maupun tipologikal bentuk kota dilihat secara figurative, disebut Figure Ground (Plan) Theory.
Sistem jaringan jalan akan menimbulkan kesan keteraturan dan kenyamanan sebuah yang teratur sehingga membentuk potongan garis segi empat atau blok-blok kawasan (grid), tidak teratur (irregular), atau jalan melingkar dengan suatu pusat jalan (radial). Keterlingkupan dalam sebuah koridor akan berpengaruh pada kenyamanan pengguna melalui elemen fisik pembentuk karakter visual seperti bangunan, vegetasi, dan elemen parker yang berasa pada bahu jalan. keberadaan elemen-elemen tersebut akan membentuk sebuah space dari perbandingan elemen dinding dan lantai koridor.
Spesifikasi dan karakteristik fisik dan non fisik pada suatu koridor jalan sangat besar pengaruhnya dalam menentukan wajah dan bentuk koridor itu sendiri. Keberadaan suatu koridor sebagai pembentuk arsitektur kawasan kota tidak lepas dari elemen-elemen pembentuk citra koridor tersebut (Krier,1979), yaitu wujud bangunan, figure ground, street, dan pedestrian.
Koridor sebagai ruang aktivitas manusia, pergerakan (sirkulasi) manusia dan transportasi, dan parkir memiliki dua pengaruh pada kualitas lingkaran, yaitu kelangsungan aktivitas komersial dan kualitas visual yang kuat terhadap struktur dan bentuk fisik kota.
Ruang fisik yang terbentuk pada jalur koridor ini terbentuk oleh skala atau perbandingan dari elemen pembentuknya, yaitu lebar jalan, panjang jalan, bentuk pedestrian, ketinggian elemen vertical bangunan, bentuk massa dan fasad bangunan dan fungsi kegiatan yang terjadi (Moughtin, 2007).
2.4.1 Koridor Komersial
Koridor merupakan elemen yang signifikan dalam the new urbanism disamping dua elemen lain yaitu neighborhood dan district.
Koridor menurut Duany dan Plater-Zyberk dalam The New Urbanism adalah penghubung dan juga pemisah antara lingkungan perumahan dengan distrik yang selayaknya tidak sekedar menjadi ruang sisa melainkan menjadi elemen urban yang dicirikan dengan terlihatnya kesinambungan atau kontinuitas (Duany and Plater-Zyberk 1994, xx).
Duany dan Plater-Zyberk memperhatikan peranan koridor dalam kaitannya
dengan dua elemen utama yang berfungsi sebagai magnet dalam dinamika kota yaitu neighborhood dan district. Aktivitas antara dua elemen ini memungkinkan adanya pergerakan tinggi di antara keduanya. Aktivitas tinggi inilah yang mendorong koridor akan menjadi ruang yang cenderung dinamis mengikuti pertumbuhan dari kedua elemen magnet (Bentley 1985, 30). Koridor adalah elemen yang mewadahi relasi antara dua elemen dengan mutual support. Dalam kasus studi dimana koridor menghubungkan antara beberapa kota baru dan akses ke kota induk, peran koridor meningkat dan lebih dari sekedar sirkulasi penghubung atau bahkan pemisah.
Permasalahan Koridor Komersial
Koridor komersial di Amerika terbentuk sebagai penghubung antara area urban dan sub urban di Amerika. Koridor komersial yang dikenal sebagai Commercial Strip di Amerika dibangun pada sisi jalan dengan mobilitas kecepatan tinggi. Komersial strip sebagai penghubung area urban dan sub urban mengakomodasi kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Sehubungan dengan fungsinya ini, bangunan pada commercial strip dibangun dengan setback yang cukup untuk parkir kendaraan.
Evolusi commercial strip di Amerika yang dapat dipelajari adalah dibangunnya bangunan yang disebut sebagai taxpayer. Bangunan-bangunan ini merupakan Bangunan-bangunan sementara yang dibangun untuk
beroperasi secara komersial dan dikenai semacam pajak sewa oleh pemerintah. Taxpayer dibangun pada periode jeda menanti harga pasar yang lebih tinggi. Fisik bangunan tax payer ini cenderung bersifat seragam dan semi permanen sehingga pada saat harga mulai bergerak naik dapat digantikan dengan bangunan baru yang permanen baik dari bentuk dan fungsinya (Manning 2009, 8).
Gambar Bangunan Taxpayer yang tipikal dibangun pada tahun 1920-an di Amerika (Manning 2009, 8)
Gejala ini juga ditemukan pada koridor komersial yang menjadi penghubung kota baru. Bangunan sementara terlihat mengisi ruang di antara fungsi permanen yang sudah terlebih dahulu mengisi yaitu fungsi industri. Pergantian fungsi dan elemen fisik bangunan ini terutama dapat diamati melalui morfologi koridor yang memperlihatkan bagaimana perubahan terjadi pada setback, dimensi tapak dan bangunan, aksesibilitas tapak dan kepadatan massa bangunan. Hal lain yang berkaitan dengan fungsi adalah bagaimana aktivitas dimungkinkan terjadi berkaitan dengan moda transportasi yang digunakan maupun pejalan kaki.
Menurut Krier sebuah commercial street harus dirancang berbeda dengan jalan yang murni untuk hunian. Jalan ini harus lebih sempit, memungkinkan orang untuk melihat barang-barang yang ditampilkan di window display toko-toko seberang jalan tanpa harus menyeberang.
Kriteria desain commercial street ini lebih banyak ditemukan pada kota-kota tua. Kemudahan aksesibilitas dan fasilitas pedestrian yang baik memungkinkan commercial street secara aktif digunakan. Berbeda dengan jalan-jalan yang sudah mengakomodasi kendaraan dengan kecepatan yang relatif tinggi seperti yang terjadi di sub urban (Krier 1979, 21). Krier memberikan pemahaman tentang elemen kota yang lebih banyak dapat diamati di pusat-pusat kota. Perbedaan yang paling menyolok pada kota-kota modern sekarang adalah adanya aktivitas kendaraan yang lebih dominan. Tipologi bentuk elemen ruang kota yang diklasifikasikan oleh Krier dapat dijadikan sebagai referensi dalam mengamati dan mendeskripsikan koridor sub urban. Hal ini dapat diamati melalui pengaruh potongan dan tampak bangunan pada ruang kota (Krier 1979, 24–25).