HASIL DAN PEMBAHASAN
4. Struktur Birokrasi
Membahas badan pelaksana suatu kebijakan, tidak dapat dilepaskan dari struktur birokrasi. Struktur birokrasi adalah karakteristik, norma-norma, dan pola-pola hubungan yang terjadi berulang-ulang dalam badan-badan eksekutif yang mempunyai hubungan baik potensial maupun nyata dengan apa yang mereka miliki dalam menjalankan kebijakan. ada beberapa unsur yang mungkin berpengaruh terhadap suatu organisasi dalam implementasi kebijakan, seperti kompetensi dan ukuran staf suatu badan, tingkat pengawasan hirarkhis terhadap keputusan-keputusan sub unit dan proses-proses dalam badan pelaksana, sumber-sumber politik suatu organisasi (misalnya dukungan di antara anggota legislatif
dan eksekutif), vitalitas suatu organisasi, tingkat komunikasi “terbuka”, yaitu
jaringan kerja komunikasi horizontal maupun vertikal secara bebas serta tingkat kebebasan yang secara relatif tinggi dalam komunikasi dengan individu-individu di luar organisasi dan kaitan formal dan informal suatu badan dengan badan pembuat keputusan atau pelaksana keputusan. Bila sumber daya cukup untuk melaksanakan suatu kebijakan dan para implementor mengetahui apa yang harus dilakukan , implementasi masih gagal apabila struktur birokrasi yang ada menghalangi koordinasi yang diperlukan dalam melaksanakan kebijakan. Kebijakan yang komplek membutuhkan kerjasama banyak orang, serta pemborosan sumberdaya akan mempengaruhi hasil implementasi. Perubahan yang dilakukan tentunya akan mempengaruhi individu dan secara umum akan mempengaruhi sistem dalam birokrasi.
Birokrasi merupakan salah-satu institusi yang paling sering bahkan secara keseluruhan menjadi pelaksana kegiatan. Keberadaan birokrasi tidak hanya dalam struktur pemerintah, tetapi juga ada dalam organisasi-organisasi swasta, institusi pendidikan dan sebagainya. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu birokrasi diciptakan hanya untuk menjalankan suatu kebijakan tertentu. Implementasi kebijakan yang bersifat kompleks menuntut adanya kerjasama banyak pihak. Ketika strukur birokrasi tidak kondusif terhadap implementasi suatu kebijakan,
maka hal ini akan menyebabkan ketidakefektifan dan menghambat jalanya pelaksanaan kebijakan. Berdasarkan penjelasan di atas, maka memahami struktur birokrasi merupakan faktor yang fundamental untuk mengkaji implementasi kebijakan publik.
Tiga instrumen yang digunakan dalam mengukur implementasi Program Corporate Social Responsibility (CSR) di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) operasional Rumbai, Tapung dan Minas di Provinsi Riau melalui variabel struktur birokarasi, yaitu : Pertama, keterlibatan stakeholders yaitu kemampuan implementor untuk mengikutsertakan setiap elemen dari publik dalam implementasi program corporate social responsibility (CSR) yang dikelola oleh perusahaan. Kedua, kertajangkauan program yaitu kemampuan implementor untuk dapat mengimplementasikan program corporate social responsibility (CSR) yang dimilikinya kepada setiap elemen masyarakat yang berada di wilayah operasional perusahaannya. Ketiga, kinerja kelembagaan yaitu hasil kerja yang diperolah implementor dalam mengimplementasikan program corporate social responsibility (CSR) yang dimiliki perusahaan. Untuk mengetahui tanggapan responden yang digali melalui penyebaran angket, dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel V.4
Tanggapan Publik terhadap Variabel Komunikasi
tentang Program Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pasific Indonesia (CPI) di Provinsi Riau
No. Wilayah Penelitian Tanggapan Publik Jumlah
SB B KB TB ABS
1. PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai
a. Kelurahan Jaya Mukti (Ring 1) 0 5 (25 %) 2 (10 %) 0 13 (65 %) 20 (100 %) b. Kelurahan Tanjung Palas (Ring 1) 0 8
(40 %) 2 (10 %) 0 10 (50 %) 20 (100 % c. Kelurahan Buluh Kasap (Ring 2) 0 0 5
(25 %)
0 15
(75 %)
20 (100 %) d. Kelurahan Teluk Binjai (Ring 2) 0 0 12
(60 %)
0 8
(40 %)
20 (100 %) e. Kelurahan Bukit Datuk (Ring 2) 0 6
(30 %) 1 (5 %) 0 13 (65 5) 20 (100 %) f. Kelurahan Bukit Timah (Ring 2) 0 0 6
(30 %) 2 (10 %) 12 (60 %) 20 (100 %) 2. PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI)
a. Kecamatan Minas
Kelurahan Minas Jaya (Ring 1) 0 3 (15 %) 0 6 (30 %) 11 (55 %) 20 (100 %)
Kepenghuluan Minas Timur (Ring 1) 0 1 (5 %) 0 2 (10 %) 17 (85 %) 20 (100 %) b. Kecamatan Rumbai
Kelurahan Muara Fajar (Ring 1) 0 2 (10 %) 0 13 (65 %) 5 (25 %) 20 (100 %)
Kelurahan Umban Sari (Ring 1) 0 5 (25 %)
0 0 15
(75 %)
20 (100 %)
Kelurahan Limbungan (Ring 1) 0 1 (5 %) 0 4 (20 %) 15 (75 %) 20 (100 %)
Kelurahan Lembah Damai (Ring 1) 0 3 (15 %)
0 0 17
(85 %)
20 (100 %) c. Kecamatan Tapung dan Tapung Hilir
Desa Petapahan Jaya (Ring 1) 0 0 11 (55 %) 7 (35 %) 2 (10 %) 20 (100 %)
Desa Cinta Damai (Ring 3) 0 0 0 20
(100 %)
0 20
(100 %) Sumber : Data Olahan Lapangan, 2015
Dari tabel V.4 diatas dapat diketahui bahwa tanggapan publik yang sudah terpilih untuk memberikan jawaban untuk masing-masing Kelurahan di wilayah operasional PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai umumnya cenderung untuk tidak memberikan tanggapan. Di Kelurahan Jaya Mukti, tanggapan publik menjelaskan bahwa struktur birokrasi yang ikut serta bekerja dalam mengimplementaskan program CSR kepada masyarakat di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai banyak publik yang tidak memberikan tanggapan, dengan
persentase sebesar 65 %. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak ingin memberikan tanggapan tentang struktur birokrasi yang dilaksanakan oleh PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dalam mengimplementasikan program CSR. Ketidakinginan masyarakat untuk berpersepsi disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat akan adanya keterlibatan stakeholders dalam kegiatan CSR yang dilakukan oleh pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai. Bahkan pihak pengelola program CSR dari pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai juga belum pernah secara langsung memberikan penjelasan kepada masyarakat akan adanya program CSR. Karena selama ini informasi program CSR yang diperoleh hanya dari masyarakat yang sudah pernah menerima program atau kelurahan yang memang memperoleh informasi dari pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai. Sehingga bentuk keterlibatan stakeholders dalam kegiatan program CSR yang dilaksanakan oleh PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai memang belum terjadi. Selama ini pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai hanya memberikan secara langsung bantuan kepada masyarakat atau melalui pihak kelurahan. Dimana bantuan-bantuan yang sifatnya pemberdayaan kepada masyarakat, pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai hanya mengawasi pelaksanaannya. Tetapi setelah itu, pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai belum pernah melibatkan stakeholders untuk sama-sama ikut serta dalam mengawasi pelaksanaan program CSR yang sudah digulirkan kepada masyarakat.
Kemudian untuk Kelurahan Tanjung Palas, tanggapan publik menjelaskan bahwa struktur birokrasi yang ikut serta bekerja dalam mengimplementaskan program CSR kepada masyarakat di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai banyak publik yang tidak memberikan tanggapan, dengan persentase sebesar 50 %. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat enggan memberikan tanggapan tentang pelaksanaan struktur birokrasi yang dilakukan pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dalam mengimplementasikan program CSR. Keengganan masyarakat ini disebabkan ketidaktahuan masyarakat akan struktur birokrasi yang dikembangkan oleh PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dalam mengimplementasikan program CSR-nya. Sebab apabila struktur birokrasi diterapkan dalam implementasi program CSR, seharusnya pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai melibatkan stakeholders yang ada di kelurahan untuk ikutserta secara langsung dalam
kegiatan CSR PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai. Tetapi realitasnya implementasi program CSR murni dilaksanakan oleh pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai itu sendiri tanpa ada melibatkan stakeholders. Apabila ada, keterlibatannya hanya sekedar dalam memberikan informasi kepada pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai tentang siapa masyarakat yang bisa mengikuti program yang disediakan. Selain itu juga pihak unit PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai yang mengelola program CSR tidak pernah secara langsung memperkenalkan dirinya kepada masyarakat. Sehingga masyarakat tidak mengenali siapa saja SDM yang terlibat dalam pengelolaan program CSR yang dilaksanakan oleh PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai.
Selanjutnya untuk Kelurahan Buluh Kasap, tanggapan publik menjelaskan bahwa struktur birokrasi yang ikut serta bekerja dalam mengimplementaskan program CSR kepada masyarakat di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai banyak publik yang tidak memberikan tanggapan, dengan persentase sebesar 75 %. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat enggan menilai dan menanggapi struktur birokrasi yang melaksanakan program CSR pada PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai. Keengganan ini disebabkan ketidaktahuan masyarakat terhadap struktur birokrasi yang menjalankan program CSR PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai. Karena selama ini masyarakat belum pernah diajak duduk bersama dalam upaya menginformasikan dan mensosialisasi program CSR yang disediakan oleh PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai. Apalagi masyarakat diajak terlibat langsung dalam kegiatan CSR PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai yang akan diberikan kepada masyarakat. Sehingga dengan kata lain, masyarakat tidak pernah menerima sosialisasi program CSR yang diberikan oleh PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai. Akibatnya masyarakat juga tidak mengetahui unit atau kinerja unit yang mengelola program CSR di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai.
Sedangkan untuk Kelurahan Teluk Binjai, tanggapan publik menjelaskan bahwa struktur birokrasi yang ikut serta bekerja dalam mengimplementaskan program CSR kepada masyarakat di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai banyak publik yang memberikan tanggapan kurang baik, dengan persentase sebesar 60 %. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat menilai struktur birokrasi yang dilaksanakan PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dalam upaya
mengimplementasikan program CSR masih berjalan dengan kurang baik. Artinya pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai belum dapat melibatkan sepenuhnya masyarakat dalam kegiatan program CSR yang dimilikinya. Karena program CSR yang pernah diberikan pada kelurahan ini umumnya yang bersifat charity saja, sehingga masyarakat hanya berperan serta pada pelaksanaan kegiatan itu saja. Misalnya dalam kegiatan perayaan ulang tahun RI, biasanya pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai akan memberikan bantuan charity kepada masyarakat. Dalam pelaksanaan kegiatan ini masyarakat akan terlibat secara langsung, tetapi apabila kegiatan sudah selesai maka keterlibatannya juga selesai. Selain itu juga masyarakat tidak mengetahui kinerja unit pelaksana program CSR pada PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai. Karena unit pelaksana program CSR belum pernah secara langsung bersosialisasi kepada masyarakat di kelurahan ini.
Setelah itu di Kelurahan Bukit Datuk, tanggapan publik menjelaskan bahwa struktur birokrasi yang ikut serta bekerja dalam mengimplementaskan program CSR kepada masyarakat di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai banyak publik yang tidak memberikan tanggapan, dengan persentase sebesar 65 %. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat enggan memberikan tanggapannya tentang struktur birokrasi yang dilaksanakan oleh PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dalam mengimplementasikan program CSR. Keengganan masyarakat ini umumnya disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat akan pelaksanaan struktur birokrasi dari program CSR yang dikerjakan oleh PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai. Karena dalam pelaksanaan struktur birokrasi, seharusnya PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai harus melibatkan seluruh stakeholders dimasyarakat, kegiatan CSR yang dilakukan terjangkau bagi masyarakat dan adanya pengenalan unit kerja yang mengelola program CSR. Namun dari seluruh kegiatan struktur birokrasi yang dapat dilakukan, ternyata tidak dilaksanakan oleh pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai. Sehingga masyarakat sama sekali tidak dilibatkan dalam kegiatan program CSR yang diberikan oleh PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai. Sebab program CSR di kelurahan ini keseluruhannya disalurkan melalui pemerintah kelurahan, kemudian pemerintah kelurahan yang akan menyampaikannya kepada masyarakat.
Terakhir di Kelurahan Bukit Timah, tanggapan publik menjelaskan bahwa struktur birokrasi yang ikut serta bekerja dalam mengimplementaskan program CSR kepada masyarakat di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai banyak publik yang tidak memberikan tanggapan, dengan persentase sebesar 60 %. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak ingin menilai penerapan struktur birokrasi yang dilakukan oleh PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dalam mengimplementasikan program CSR. Ketidakinginan masyarakat memberikan tanggapan disebabkan ketidaktahuan masyarakat akan pelaksanaan struktur birokrasi yang dilakukan oleh PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai. Karena selama ini belum pernah ditemukan adanya pertemuan atau sosialisasi yang dilakukan secara langsung oleh pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai kepada masyarakat dalam mengimplementasikan program CSR. Sehingga masyarakat memang tidak mengenali unit kerja yang bertanggang jawab dalam pelaksanaan program CSR di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai. Realitas ini tentunya membuat kemungkinan masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan CSR PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai sangat tidak mungkin.
Dari keseluruhan tanggapan responden tentang struktur birokrasi dalam mengimplementasikan program CSR pada PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dapat disimpulkan bahwa masyarakat enggan dan tidak ingin memberikan tanggapannya. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat memang tidak berkeinginan dalam menanggapi penerapan struktur birokrasi yang dilakukan PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai. Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat akan penerapan struktur birokrasi, yang berupa keterlibatan stakeholders, keterjangkauan program dan kinerja unit pelaksana program CSR. Karena mengenai keterlibatan masyarakat dalam kegiatan CSR hanya terjadi pada masyarakat di wilayah operasional yang masuk kedalam ring 1 perusahaan, itupun tingkat keterlibatan masyarakat hanya kepada yang sudah pernah menerima bantuan dari pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai saja. Sedangkan masyarakat yang tidak pernah menerima program CSR dari PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai tidak terlibat dalam kegiatan CSR yang dilaksanakan. Kondisi ini yang membuat masyarakat enggan dan tidak ingin memberikan tanggapan terhadap penerapan struktur birokrasi yang dilakukan PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dalam mengimplementasikan program CSR-nya.
Berikutnya dari tabel V.4 diatas juga dapat diketahui bahwa tanggapan publik yang sudah terpilih untuk memberikan jawaban untuk masing-masing Kelurahan di wilayah operasional PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) umumnya beragam. Di Kelurahan Minas Jaya Kecamatan Minas Kabupaten Siak, tanggapan publik menjelaskan bahwa struktur birokrasi yang dilakukan pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dalam mengimplementasikan program CSR kepada masyarakat banyak yang tidak memberikan tanggapan, dengan persentase sebesar 55 %. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak ingin memberikan tanggapan tentang struktur birokrasi yang diterapkan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dalam mengimplementasikan program CSR. Ketidakinginan masyarakat untuk memberikan tanggapan disebabkan masyarakat tidak mengetahui penerapan struktur birokrasi yang dilakukan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI). Penerapan struktur birokrasi yang dilakukan pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dengan melibatkan stakeholders dalam melaksanakan program, membuat program terjangkau oleh masyarakat dan unit kerja yang melaksanakan program dikenali oleh masyarakat belum terlaksana sama sekali. Artinya masyarakat tidak pernah dilibatkan oleh unit kerja pelaksana program CSR PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dalam upaya memberikan programnya kepada masyarakat yang berada di wilayah operasional kerjanya.
Kemudian untuk Kepenghuluan Minas Timur Kecamatan Minas Kabupaten Siak, tanggapan publik menjelaskan bahwa struktur birokrasi yang dilakukan pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dalam mengimplementasikan program CSR kepada masyarakat masih berjalan tidak baik, dengan persentase sebesar 85 %. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat menilai struktur birokrasi yang diterapkan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dalam mengimplementasikan program CSR masih berjalan tidak baik. Artinya masyarakat sebagai bagian stakeholders tidak dilibatkan sepenuhnya dalam kegiatan program CSR yang dilakukan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI). Sebab program CSR yang dilakukan di kepenghuluan ini lebih cenderung kepada masyarakat atau komunitas adat terpencil seperti Suku Sakai yang ada di wilayah kepenghuluan ini. Keterlibatan komunitas ini juga tidak sepenuhnya, karena biasanya ada oknum yang menjadi pengendali dalam penerapan program CSR
yang diperuntukkan bagi komunitas adat terpencil yaitu Suku Sakai. Apalagi Suku Sakai yang pada umumnya hanya memiliki tidak pendidikan yang rendah, hanya sering dijadikan alat bagi oknum-oknum tertentu untuk memperoleh bantuan program CSR dari PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI). Untuk itu apabila program CSR PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) ingin diterapkan dengan struktur birokrasi yang baik, pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) harus mengenalkan unit pelaksanannya dan melibatkan seluruh stakeholders dalam pelaksanaan kegiatan CSR yang diberikan kepada masyarakat.
Selanjutnya untuk Kelurahan Muara Fajar Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru, tanggapan publik menjelaskan bahwa struktur birokrasi yang dilakukan pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dalam mengimplementasikan program CSR kepada masyarakat masih berjalan dengan tidak baik, dengan persentase sebesar 65 %. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat menilai penerapan struktur birokrasi yang dilakukan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dalam mengimplementasikan program CSR masih tidak baik. pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) hanya melibatkan masyarakat dalam kegiatannya hanya kepada masyarakat yang dibinanya saja. Pemilihan masyarakat yang dibina juga tidak berasal dari pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) melainkan dari pihak pemerintah kelurahan. Seperti pada pelaksanaan program CSR yang memberikan pelatihan bordir kepada kaum perempuan dan pemberian peralatan bordir, penunjukkan penerima hanya ditentukan sepihak oleh pihak kelurahan tanpa ada upaya pengidentifikasian potensi masyarakat yang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Sehingga masyarakat yang dekat dengan pihak kelurahan saja yang mendapat informasi adanya program CSR dari PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI). Celakanya lagi program CSR seperti itu hanya sekali diberikan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI), sehingga tidak dapat digilirkan kepada masyarakat yang memiliki potensi di bidang bordir.
Sedangkan untuk Kelurahan Umban Sari Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru, tanggapan publik menjelaskan bahwa struktur birokrasi yang dilakukan pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dalam mengimplementasikan program CSR kepada masyarakat banyak yang tidak memberikan tanggapan, dengan persentase sebesar 75 %. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak
ingin memberikan tanggapannya terhada struktur birokrasi yang dilaksanakan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dalam mengimplementasikan program CSR. Ketidakinginan masyarakat berpersepsi ini disebabkan ketidaktahuan masyarakat akan pelaksanaan struktur birokrasi yang dilakukan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI). Masyarakat tidak mengetahui adanya keterlibatan stakeholders dalam kegiatan program CSR yang dilakukan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI). Apabila ada masyarakat yang terlibat, itu karena program CSR yang diberikan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) sudah diserahkan seluruh pelaksanaannya kepada masyarakat. Tetapi keterlibatan masyarakat dari mulai mengidentifikasi kebutuhan masyarakat yang dapat dipenuhi melalui program CSR belum pernah dilakukan. Sebab proses pemberian bantuan dari pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) umumnya dilakukan oleh pihak kelurahan atau LPM yang diperuntukkan bagi pemenuhan fasilitas umum.
Setelah itu di Kelurahan Limbungan Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru, tanggapan publik menjelaskan bahwa struktur birokrasi yang dilakukan pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dalam mengimplementasikan program CSR kepada masyarakat banyak yang tidak memberikan tanggapan, dengan persentase sebesar 75 %. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat enggan untuk memberikan tanggapannya tentang struktur birokrasi yang dilaksanakan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dalam mengimplementasikan program CSR. Keengganan masyarakat untuk memberikan tanggapan disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat akan pelaksanaan struktur birokrasi oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI). Sebab selama ini masyarakat memang belum pernah dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan program CSR yang dilaksanakan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI). Bahkan banyak masyarakat yang tidak mengetahui apa program CSR PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) tersebut. Karena selama ini, apabila masyarakat menerima bantuan dari PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) hanya bersifat eksidental atau donasi yang dikarenakan masyarakat mengadakan kegiatan-kegiatan tertentu. Sehingga bantuan yang diberikan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) merupakan bentuk hal yang wajar oleh masyarakat, karena perusahaan ini berada disekitar wilayah kelurahan mereka. Namun pemberian bantuan yang dilakukan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI), dikarenakan perusahaan melaksanakan program CSR selama ini tidak diketahui oleh masyarakat.
Kemudian untuk Kelurahan Lembah Damai Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru, tanggapan publik menjelaskan bahwa struktur birokrasi yang dilakukan pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dalam mengimplementasikan program CSR kepada masyarakat banyak yang tidak memberikan tanggapan, dengan persentase sebesar 85 %. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat enggan dan tidak ingin memberikan tanggapannya terhadap struktur birokrasi yang dilaksanakan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dalam mengimplementasikan program CSR. Ketidakinginan masyarakat ini disebabkan masyarakat tidak mengetahui penerapa struktur birokrasi yang dilakukan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI). Karena apabila penerapan struktur birokrasi dinilai dari keterlibatan stakeholders dalam kegiatan program CSR, secara langsung masyarakat tidak begitu dilibatkan dalam pelaksanaan bantuan yang diberikan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI). Sebab pengerjaan bantuan yang diberikan bukan dilakukan oleh masyarakat, tetapi dikerjakan oleh tukang atau pekerja yang sudah disiapkan oleh pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) atau pihak LPM/kelurahan. Sehingga masyarakat tidak pernah dilibatkan secara langsung terhadap kegiatan yang merupakan bantuan dari pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI). Selain itu juga bantuan yang diberikan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) pada umumnya merupakan bantuan donasi dan infrastruktur, sedangkan bantuan yang merupakan pemberdayaan bagi masyarakat dalam berbagai bidang masih belum diterima oleh masyarakat. Padahal bantuan yang berbasis pemberdayaan kepada masyarakat inilah yang nantinya dapat memberikan peluang kepada masyarakat untuk membenahi dan memperbaiki perekonomian kehidupannya.
Selanjutnya di Desa Petapahan Jaya Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar, tanggapan publik menjelaskan bahwa struktur birokrasi yang dilakukan pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dalam mengimplementasikan program CSR kepada masyarakat masih berjalan dengan kurang baik, dengan persentase sebesar 55 %. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat menilai struktur birokrasi yang dilaksanakan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dalam mengimplementasikan program CSR masih berjalan kurang baik. Artinya pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) belum sepenuhnya memberikan kesempatan
kepada masyarakat untuk terlibat langsung dalam kegiatan yang dikerjakan dari bantuan pihak perusahaan. Hal ini terjadi karena semua kegiatan bantuan yang diberikan oleh pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) selalu diberikan kepada tenaga kerja yang profesional. Sehingga bentuk keterlibatan masyarakat sangat kecil sekali. Apabila ada keterlibatan hanya diberikan kepada pihak yang mengusulkan bantuan dalam hal pengawasan kegiatan atau bantuan yang sedang dikerjakan. Selain itu juga karena bentuk bantuan yang diberikan oleh pihak PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) cenderung kepada bantuan infrastruktur, maka pengerjaannya selalu dilimpahkan kepada tenaga yang profesional. Sedangkan bentuk bantuan yang sifatnya peningkatan kapasitas masyarakat, masih belum dilakukan. Sebab apabila kegiatan ini dapat dilaksanakan, maka keterlibatan masyarakat akan kegiatan tersebut akan menjadi sangat besar dalam program CSR