• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR PENELITIAN HIBAH BERSAING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN AKHIR PENELITIAN HIBAH BERSAING"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR

PENELITIAN HIBAH BERSAING

KAJIAN PRIORITAS DAN MODEL IMPLEMENTASI

PROGRAM CSR (COORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY)

DI PROVINSI RIAU DALAM PERSPEKTIF

INDEKS KEPUASAN PUBLIK

Tahun Ke 1 dari Rencana 2 Tahun

TIM PENELITI :

Ketua

: Dr. Meyzi Heriyanto, S.Sos, M.Si

(NIDN: 0031087502)

Anggota

: 1. Adianto, S.Sos, M.Si

(NIDN: 0031058006)

2. Hasim As’ari, S.Sos, M.Si

(NIDN: 0014117904)

UNIVERSITAS RIAU

DESEMBER 2015

(2)
(3)

RINGKASAN

Penelitian ini ingin mengkaji secara komprehansif tentang bagaimana proses implementasi program corporate social responsibility (CSR) oleh PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pasific Indonesia (CPI) di Provinsi Riau, apakah proses implementasi program corporate social responsibility (CSR) mampu memberdayakan masyarakat serta mengidentifikasi berbagai variabel yang dapat mempengaruhi proses implementasi meliputi variabel : komunikasi, sumber daya, disposisi (sikap pelaksana) dan struktur birokrasi. Di samping mengidentifikasi berbagai variabel hambatan maupun pendukung dalam proses implementasi program corporate social responsibility (CSR). Kemudian menentukan prioritas program corporate social responsibility (CSR) PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pasific Indonesia (CPI) di Provinsi Riau yang harus dilaksanakan berdasarkan analisis indeks kepuasan publik. Serta merumuskan suatu model implementasi program corporate social responsibility (CSR) yang tepat pada PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pasific Indonesia (CPI) di Provinsi Riau. Metode penelitian dilakukan dengan mixed methods yaitu mengkombinasikan pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran angket , indept interview dan observasi terhadap multistakeholders. Analisis data akan mempergunakan teknik triangulasi sumber data.

Hasil penelitian yang diperoleh yaitu : Pertama, Implementasi program CSR yang dilakukan pada PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai berjalan baik pada wilayah ring 1 perusahaan dan berjalan kurang baik pada wilayah ring 2 dan ring 3 perusahaan. Kedua, Implementasi program CSR yang dilakukan pada PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) pada umumnya berjalan dengan kurang baik diseluruh wilayah yang diteliti dalam penelitian ini. Ketiga, Faktor-faktor yang menghambat implementasi program CSR pada PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai adalah faktor sosialisasi program, faktor budaya dan maind set masyarakat, faktor ketersediaan SOP program, faktor sinergitas, faktor kompetensi implementor dan faktor anggaran. Sedangkan faktor yang mendukung implementasi program CSR PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai adalah faktor relasi dan binaan program serta faktor kerjasama dan koordinasi dengan pihak pemerintah dan tokoh masyarakat. Keempat, Faktor yang menghambat implementasi program CSR pada PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) adalah faktor SDM pelaksana program, faktor ketersediaan SOP, faktor budaya dan maind set masyarakat serta faktor anggaran. Sedangkan faktor yang mendukung implementasi program CSR pada PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) adalah faktor koordinasi dengan pemerintah kecamatan. Kelima, Prioritas program CSR yang diharapkan dilaksanakan oleh PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai berdasarkan kebutuhan publik, terdiri dari program pengembangan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan dan pengembangan usaha kecil, program pendaur ulangan sampah dan composting melalui pemanfaatan sampah menjadi produk bernilai guna, program bantuan pendidikan bagi anak-anak miskin dan program penyediaan air bersih. Keenam, Prioritas program corporate social responsibility (CSR) yang diharapkan dilaksanakan oleh PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) pada wilayah operasionalnya berdasarkan kebutuhan publik, terdiri dari pengembangan usaha tempatan, bidang ekonomi kerakyatan, bidang pendidikan dan bidang infrastruktur.

(4)

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN DAFTAR ISI RINGKASAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Perumusan Masalah... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Corporate Sosial Responsibility (CSR) ... 6

B. Konsep Implementasi Kebijakan ... 9

C. Kajian Sebelumnya ... 19

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN A. Tujuan Penelitian ... 23

B. Manfaat Penelitian ... 23

BAB IV METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 25

B. Sumber Data ... 25

C. Tehnik Pengumpulan Data ... 26

D. Tehnik Analisa Data ... 26

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Implementasi Program Corporate Social Responsibility (CSR) oleh PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) di Provinsi Riau ... 27

B. Faktor-faktor yang Menhambat dan Mendukung Implementasi Program Corporate Social Responsibility (CSR) oleh PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) di Provinsi Riau ... 82

C. Prioritas Program Corporate Social Responsibility (CSR) oleh PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) di Provinsi Riau yang harus dilaksanakan berdasarkan Indeks Kepuasan Publik ... 91

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan... 97

(5)

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN :

1. Instrumen Penelitian ... 102 2. Personalia Tenaga Peneliti berserta Kualifikasinya ... 121 3. Dokumentasi Penelitian Lapangan ... 122 4. Surat Izin Permohonan Data Penelitian dari LPPM Universitas Riau 130 5. Bukti Luaran Hasil Penelitian ... 132

(6)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Program Corporate Social Reponsibility (CSR) merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perusahaan sesuai dengan isi pasal 74 Undang-undang Perseroan Terbatas (UUPT) yang baru, yakni Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007. Melalui undang-undang ini setiap industri wajib untuk melaksanakanya, tetapi kewajiban ini bukanlah suatu beban yang memberatkan. Karena dalam pasal ini dijelaskan setiap perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya dibidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Tanggung jawab sosial dan lingkungan merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai upaya perseroan yang biaya pelaksanaanya dilakukan dengan memperhatikan keputusan dan kewajaran. Oleh karena itu industri berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan mempertimbangkan faktor lingkungan hidup. Sehingga dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan catatan keuangan perusahaan semata (single bottom line), melainkan sudah meliputi keuangan, sosial, dan aspek lingkungan biasa disebut (Triple bottom line) sinergi tiga elemen ini merupakan kunci dari konsep pembangunan berkelanjutan.

Konsep tanggung jawab sosial perusahaan telah dikenal sejak awal 1970, yang secara umum diartikan sebagai kumpulan kebijakan dan praktik yang berhubungan dengan stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum, penghargaan masyarakat, lingkungan, serta komitmen dunia usaha untuk berkontribusi dalam pembangunan secara berkelanjutan. CSR (Corporate Social Reponsibility) tidak hanya merupakan kegiatan kreatif perusahaan dan tidak terbatas hanya pada pemenuhan aturan hukum semata. Pelaksanaan tanggung jawab sosial dikenal dengan istilah corporate social responsibility (CSR) oleh perusahaan merupakan suatu bentuk komitmen perusahaan untuk membangun kualitas kehidupan yang lebih baik bersama stakeholders terkait, terutama masyarakat disekitar perusahaan tersebut berada. Karena peran corporate social responsibility (CSR) ternyata saat ini semakin penting bagi masyarakat di sekitar perusahaan dalam upaya menyeimbangkan pembangunan, baik ekonomi, sosial dan lingkungan.

(7)

Provinsi Riau merupakan salah satu daerah di wilayah Indonesia yang diberikan otonomi daerah untuk mengelola seluruh potensi daerahnya. Pengelolaan potensi yang dilakukan membuat Provinsi Riau menjadi salah satu provinsi terkaya di Indonesia, dimana kekayaan Provinsi Riau berasal dari berbagai sumber, seperti kekayaan alam, migas, industri, perdagangan dan sebagainya. Fakta ini didukung dari tulisannya Chaidir (2003), sebagai mantan Ketua DPRD Provinsi Riau yang menitikberatkan kekuatan Provinsi Riau dalam melaksanakan otonomi secara garis besar, yaitu : Pertama, sumber daya alam dan kapasitas industri sebagai modal yang dimiliki untuk membiayai seluruh kegiatan pembangunan, pemerintahan dan meningkatkan kesejehateraan masyarakat. Kedua, letak geografis yang strategis sebagai modal untuk membuka hubungan bilateral di bidang ekonomi, sosial dan budaya dengan Negara-negara tentangga dalam upaya meraih peluang investasi guna mendorong pertumbuhan di Provinsi Riau. Otonomi daerah yang diserahkan kepada Provinsi Riau, juga memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah untuk lebih dekat dan lebih cepat menangani urusan-urusan masyarakat secara langsung dengan kebijakannya. Selain itu, dalam jangka panjang otonomi daerah menciptakan iklim kompetisi pertumbuhan pembangunan dengan memperhatikan transparansi, akuntabilitas dalam manajemen sumber daya alam dan manusia. Walaupun demikian perlu juga diperhatikan bahwa otonomi daerah dapat menimbulkan kerentanan pada praktik kebijakan yang mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok (vested interest) dan besarnya tekanan terhadap sumber daya alam untuk mengejar pendapatan sehingga kurang memperhatikan keberlanjutan pembangunan.

Implementasi otonomi yang dilakukan oleh daerah memberikan peluang kepada daerah untuk mengelola SDA sendiri atau berkolaborasi dengan pihak lain. Fakta ini juga terjadi di Provinsi Riau dalam mengelola sumber daya minyak yang dimiliki, dimana ada perusahan negara yaitu PT. Pertamina (Persero) dan perusahaan asing yaitu PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI). Dalam upaya mengelola dan mengoperasional perusahaan minyaknya, PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) tentunya beroperasi di sekitar lingkungan masyarakat. Realitas ini menuntut PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) memberikan tanggung jawab sosialnya terhadap masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasionalnya. Tanggung jawab sosial yang diberikan oleh PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dituangkan melalui program corporate social responsibility (CSR). program

(8)

corporate social responsibility (CSR) yang dilaksanakan oleh PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) merupakan bentuk kepedulian dan rasa tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat sekitar wilayah kerjanya yang terkena dampak operasional perusahaan. Dari data yang diperolah, melalui observasi yang dilakukan bahwa PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) memiliki program corporate social responsibility (CSR) sebagai berikut :

Tabel I.1

Program Corporate Social Responsibility (CSR)

Pada PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) Program Corporate Social

Responsibility (CSR) PT.

Pertamina (Persero) RU II Dumai

Output Program Program Corporate Social

Responsibility (CSR) PT.

Cevron Pacific Indonesia (CPI) Riau

Output Program

1. Pertamina dan pendidikan

Program ini bertujuan untuk memberikan bantuan kepada siswa-siswa yang tidak mampu dalam pembiayaan belajarnya dan membarikan bantuan infrastruktur terhadap kebutuhan pendidikan di wilayah operasional perusahaan

1. Bidang pendidikan dan pelatihan

Program ini bertujuan untuk memberikan bantuan infrastruktur dan fasilitas pendidikan serta beasiwa cerdas bagi masyarakat di wilayah

operasionalnya.

2. Pertamina dan kesehatan Program ini bertujuan untuk memberikan bantuan kepada masyarakat terhadap upaya peningkatan kesehatan dan pembiayaan

pengobatan bagi balita dan ibu hamil.

2. Bidang kesehatan Program ini bertujuan untuk membantu infrastruktur kesehatan bagi masyarakat dan pembiayaan kesehatan bagi penyakit-penyakit tertentu.

3. Pertamina dan Society Program ini bertujuan untuk

memberdayakan masyarakat dalam bidang infrastruktur dan peduli bencana alam.

3. Bidang infrastruktur Program ini bertujuan untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan infrastrukturnya dalam hal fasilitas umum. 4. Pertamina dan

Lingkungan

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian

masyarakat akan lingkungan hidup dan pelentarian alam.

4. Bidang ekonomi kerakyatan Program ini bertujuan untuk memberikan bantuan pelatihan dan modal usaha kepada masyarakat dalam meningkatkan

ekonominya. 5. Pertamina program

kemitraan dan bina lingkungan

Program ini bertujuan untuk memberdayakan ekonomi masyarakat melalui pola kemitraan dan pembinaan. 5. Bidang pengembangan usaha tempatan

Program ini bertujuan untuk membina masyarakat suku pedalaman dalam memberdayakan diri dan ekonominya. Sumber : PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI), 2015

(9)

Tabel I.1 ini menjelaskan bahwa PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) sudah menyusun program corporate social responsibility (CSR) dalam upaya untuk menunjukkan kepedulian dan rasa tanggung jawabnya kepada masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasionalnya. Bentuk kepedulian dan rasa tanggung jawab ini merupakan wujud pertanggungjawaban sosialnya kepada masyarakat di sekitar wilayah perusahaan. Tetapi supaya tidak terjadi tumpang tindih implementasi program kepada masyarakat perlu dilakukan sinergitas program pemerintah daerah dengan program corporate social responsibility (CSR) yang dilaksanakan oleh PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI). Hal ini dilakukan supaya program corporate social responsibility (CSR) PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) dan program pemerintah daerah benar-benar dapat menyentuh seluruh kebutuhan masyarakat. Oleh karenanya pihak PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) melalui program corporate social responsibility (CSR) harus menemukan prioritas program yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan publik.

Namun realitas yang ditemukan di lapangan, program corporate social responsibility (CSR) yang diterapkan oleh PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) sebagai bentuk pertanggung jawaban sosialnya kepada masyarakat sekitar, terkadang sering berbenturan dengan program-program pemerintahan daerah, terutama program-program-program-program pemerintah daerah yang berhubungan dengan pemberdayaan masyarakat miskin melalui bantuan modal atau keuangan, seperti program PNPM, program ADD, program PPD, program UEK/D dan sebagainya. Oleh karenanya dibutuhkan kesinergian antara pemerintah daerah dan PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) yang memiliki tanggung jawab sosial dalam menentukan program-progam yang berhubungan dengan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya dengan membuat prioritas program corporate social responsibility (CSR) yang dibutuhkan dan model implementasi program corporate social responsibility (CSR) yang tepat. Latar belakang tersebut menarik peneliti untuk mengkaji secara lebih komprehansif tentang prioritas dan model implementasi program corporate social responsibility (CSR) yang dilaksanakan oleh perusahaan BUMN dan perusahaan swasta.

(10)

B. Perumusan Masalah

Implementasi program corporate social responsibility (CSR) yang tepat guna dan tepat sasaran bagi masyarakat yang ada di sekitar wilayah operasional PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI), tentunya sangat diharapkan. Oleh karena dari latar belakang dan realitas implementasi yang ditemukan di lapangan, maka permasalahan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana implementasi program corporate social responsibility (CSR) oleh

PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pasific Indonesia (CPI) di Provinsi Riau ?

2. Apa saja faktor-faktor yang menghambat dan mendukung implementasi program corporate social responsibility (CSR) oleh PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pasific Indonesia (CPI) di Provinsi Riau ?

3. Apakah prioritas program corporate social responsibility (CSR) PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pasific Indonesia (CPI) di Provinsi Riau yang harus dilaksanakan berdasarkan perspektif indeks kepuasan publik ?

(11)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Corporate Social Responsibility (CSR)

Corporate Social Responsibility (CSR) telah menjadi hal yang diperbincangkan dalam berbagai diskusi yang terkait dengan kebijakan publik. Corporate Social Responsibility (CSR) adalah sesuatu yang berkaiatan dengan governance perusahaan dan prosedur etika bisnis (Wise dan Ali, 2009). Menurut World Business Council on Sustainable Development (WBCSD) corporate social responsibility (CSR) adalah suatu komitmen dari perusahaan untuk berperilaku etis (behavioral ethics) dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable economic development). Corporate social responsibility (CSR) merujuk pada semua hubungan yang terjadi antara sebuah perusahaan dengan semua stakeholders, termasuk didalamnya adalah pelanggan, pegawai, komunitas, pemilik atau investor, pemerintah, supplier, bahkan competitor. Tentunya tanggung jawab sosial perusahaan tidak hanya dalam bidang pembangunan sosial dan ekonomi tetapi juga dalam hal lingkungan hidup.

Oyama dalam Tauginiene (2010) menyatakan bahwa corporate social responsibility (CSR) merupakan kegiatan khusus bagi perusahaan besar dan tidak bagi perusahaan kecil. Dengan pelayanan CSR akan membuat klien perusahaan lebih tertarik, meningkatnya profit, dan membuat perusahaan lebih berbeda dipandang masyarakat. Selanjutnya Positive Outcome website mendefinisikan CSR adalah kontribusi perusahaan kepada masyarakat melalui kegiatan bisnis mereka. Hal tersebut berupa investasi sosial dan bagian program bantuan dari kebijakan publik. Definisi lain dari CSR adalah kegiatan yang terdiri dari unilateral dan voluntir, kebijakan lingkungan sosial dengan alternative instrumen dengan perjanjian kerja sama bukan legislasi atau penawaran tapi partnership dengan berbagai pihak (Fanteneau, 2003).

Corporate social responsibility (CSR) menurut Carrol adalah konsep keterlibatan perusahaan dalam menjaga dan atau meningkatkan kualitas masyarakat dan lingkungan sekitar perusahaan. Atau dengan kata lain corporate social responsibility (CSR) adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh perusahaan, baik dalam hal etika, hukum, komersial, maupun public interest, untuk memenuhi bahkan melampaui harapan stakeholder terhadap perusahaan bersangkutan. (Sofyan Djalil, 2003)

(12)

Substansi keberadaan prinsip tanggung jawab sosial dan lingkungan bagi perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) adalah dalam rangka memperkuat kemampuan perusahaan untuk beradaptasi dengan lingkungannya, komunitas dan stakeholder yang terkait dengannya, baik lokal, nasional, maupun global. Didalam implementasinya diharapkan agar unsur-unsur perusahaan, pemerintah dan masyarakat saling berinteraksi dan mendukung, supaya corporate social responsibility (CSR) dapat diwujudkan secara komprehensif. Sehingga dalam pengambilan keputusan, menjalankan keputusan dan pertanggungjawabannya dapat dilaksanakan bersama. Melakukan program corporate social responsibility (CSR) yang berkelanjutan akan memberikan dampak positif dan manfaat yang lebih besar baik kepada perusahaan itu sendiri maupun para stakeholder yang terkait. Memang pada saat ini di Indonesia, praktek corporate social responsibility (CSR) belum menjadi suatu keharusan yang umum, namun dalam abad informasi dan teknologi serta adanya desakan globalisasi, maka tuntutan terhadap perusahaan untuk menjalankan corporate social responsibility (CSR) akan semakin besar. Tidak menutup kemungkinan bahwa corporate social responsibility (CSR) menjadi kewajiban baru standar bisnis yang harus dipenuhi.

Ada empat manfaat yang diperoleh bagi perusahaan dengan mengimplementasikan CSR. Pertama, keberadaan perusahaan dapat tumbuh dan berkelanjutan dan perusahaan mendapatkan citra positif dari masyarakat luas. Kedua, perusahaan lebih mudah memperoleh akses terhadap kapital (modal). Ketiga, perusahaan dapat mempertahankan sumber daya manusia (human resources) yang berkualitas. Keempat, perusahaan dapat meningkatkan pengambilan keputusan pada hal-hal yang kritis (critical decision making) dan mempermudah pengelolaan manajemen risiko (Effendi, 2010).

Pada tahun 2004 ISO menerbitkan panduan dan standardisasi untuk tanggung jawab sosial yang diberi nama ISO 26000 : Guidance Standard in Social Responsibility. ISO 26000 menjadi standart pedoman untuk penerapan corporate social responsibility (CSR). ISO 26000 mengartikan corporate social responsibility (CSR) sebagai tanggung jawab suatu organisasi yang atas dampak dari keputusan dan aktivitasnya terhadap masyarakat dan lingkungan, melalui perilaku yang transparan dan etis yang :

(13)

1. Konsistensi dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat.

2. Memperhatikan kepentingan dari para stakeholder.

3. Sesuai hukum yang berlaku dan konsistensi dengan norma-norma internasional.

4. Terintegrasi di seluruh aktivitas organisasi, dalam pengertian ini meliputi kegiatan, produk maupun jasa.

Didalam ISO 26000, corporate social responsibility (CSR) mencakup 7 (tujuh) isu pokok, yaitu :

a) Pengembangan masyarakat b) Konsumen

c) Praktek kegiatan institusi yang sehat d) Lingkungan

e) Ketenagakerjaan f) Hak azasi manusia

g) Organizational governance

Prinsip-prinsip dasar corporate social responsibility (CSR) yang menjadi landasan pelaksanaan yang menjiwai atau menjadi informasi dalam pembuatan keputusan dan kegiatan corporate social responsibility (CSR) menurut ISO 26000 meliputi :

1. Kepatuhan kepada hukum

2. Menghormati instrument/badan-badan internasional 3. Menghormati stakeholders dan kepentingannya 4. Akuntabilitas

5. Transparansi

6. Perilaku yang beretika

7. Melakukan tindakan pencegahan

8. Menghormati dasar-dasar hak asasi manusia

Menurut Thiel (2010) Ada beberapa kunci pokok yang mendorong corporate social responsibility (CSR) lebih baik, yaitu :

(14)

a. Enlightened self interest. Perusahaan hendaknya menciptakan sinergi dan etika, membangun hubungan sosial dan pasar ekonomi global yang berkelanjutan, tenaga kerja dan masyarakat yang dapat bekerja sama.

b. Social investment. Perusahaan hendaknya berkontribusi terhadap infrastruktur fisik, sosial capital untuk meningkatkan bagian kerja bisnisnya.

c. Transparancy and trust. Perusahaan yang memiliki ratingpersepsi rendah di masyarakat, maka untuk meningkat harapannya perusahaan harus lebih terbuka, akuntabel, dan memperbaiki laporan ke masyarakat tentang lingkungan dan sosial mereka.

d. Increased public expectation of business. Perusahaan global diharapkan bekerja lebih dan memberikan kontribusi terhadap ekonomi melalui pajak dan penyediaan lapangan kerja (Anonim, 2004).

Corporate social responsibility (CSR) merupakan suatu konsep yang penting untuk dilaksanakan oleh perusahaan, hal ini dimaksudkan untuk menciptakan hubungan timbal balik yang saling sinergis antara perusahaan dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Perusahaan yang telah beroperasi di suatu wilayah tertentu, memiliki kewajiban untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan tersebut. Selanjutnya perusahaan juga seharusnya turut berperan serta dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitarnya.

B. Konsep Implementasi Kebijakan

Sebuah kebijakan adalah sebuah rencana tindakan yang sengaja dibuat untuk memandu keputusan dan mencapai tujuan-tujuan yang rasional. Terminologi kebijakan dapat diaplikasikan kepada pemerintahan, organisasi dan kelompok di sektor swasta dan individu. Kebijakan berbeda dari peraturan atau hukum, dimana hukum dapat menyuruh atau melarang perilaku tertentu. Sedangkan kebijakan hanya memberikan panduan bertindak menuju hal-hal yang paling mungkin dilakukan untuk mencapai hasil yang diharapkan. Suatu studi kebijakan biasanya mengacu pada proses pembuatan keputusan-keputusan penting dalam sebuah organisasi, termasuk identifikasi dari berbagai alternatif dan pemilihan salah satu diantaranya berdasarkan dampak yang akan dihasilkan. Kebijakan dapat dipahami sebagai mekanisme politik, manajemen, keuangan dan administrasi untuk mengatur upaya pencapaian tujuan-tujuan tertentu.

(15)

Untuk melihat keberhasilan suatu kebijakan, maka sangat bergantung pada implementasi kebijakan itu sendiri. Dimana, implementasi menyangkut tindakan seberapa jauh arah yang telah diprogramkan itu benar-benar memuaskan. Akhirnya pada tingkatan abstraksi tertinggi implementasi sebagai akibat ada beberapa perubahan yang dapat diukur dalam masalah-masalah besar yang menjadi sasaran program. Menurut Hasel Nogi (2003) implementasi kebijakan merupakan rangkaian kegiatan setelah suatu kebijakan dirumuskan. Tanpa suatu implementasi maka suatu kebijakan yang telah dirumuskan akan sia-sia. Sedangkan memurut Grindle (1980) implementasi kebijakan sesungguhnya bukan sekedar berhubungan dengan mekanisme penjabaran atau operasional dari keputusan politik ke dalam prosedur-prosedur rutin lewat saluran birokrasi melainkan lebih dari itu yaitu menyangkut masalah konflik, keputusan dan siapa yarg, akan memperoleh apa dan suatu kebijakan. Ripley dan Franklin dalam Sujianto (2008) menegaskan implementasi yang berhasil tidak hanya ada dua perspektif saja. Pertama, keberhasilan diukur melalui tingkat kepatuhan birokrasi level bawah terhadap birokrasi level atas. Kedua, keberhasilan implementasi dicirikan oleh kelancaran rutinitas dan tidak adanya masalah. Keberhasilan suatu program dapat dilihat jika program itu berjalan sesuai dengan model-model yang telah ditetapkan.

Kemudian menurut Ripley (1985) implementasi merupakan suatu tahapan diantara pembuatan kebijakan dan konsekuensi dari kebijakan. Dimana ia menempatkan implementasi pada tabap ketiga dalam proses kebijakan. Tahap pertama penyusunan agenda, tahap kedua fomulasi kebijakan, tahap ketiga implementasi kebijakan dan tahap keempat dampak dari kebijakan. Selanjunya beliau menegaskan bahwa implementasi yang berhasil tidak hanya ada dua perspektif yaitu keberhasilan diukur melalui tingkat kepatuhan birokrasi level bawah terhadap birokarasi level atas dan keberhasilan impelementasi dicarikan oleh kelancaran rutinitas dan tidak adanya masalah. Sementara ada perspektif lain yang mengatakan bahwa implementasi yang berhasil mengarah pada kinerja yang diinginkan dari suatu program dan dampak dari program. Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya, tidak lebih dan tidak kurang. Untuk mengimplementasikan kebijakan publik, maka ada dua pilihan langkah yang ada yaitu langsung mengimplementasikan dalam betuk, program-program atau melalui formulasi kebijakan derivate atau turunan dan kebijakan publik tersebut. (Riant Nugroho, 2008)

(16)

Dalam pelaksanaan program, implementasi kebijakan sesungguhnya bukanlah, sekedar berhubungan dengan mekanisme penjabaran keputusan keputusan politik ke dalam prosedur-prosedur rutin lewat saluran birokrasi, melainkan lebih menyangkut masalah konflik, keputusan dan siapa yang memperoleh ana dari suatu kebijakan. (Grindle, 1980) Kemudian Ripley dan Franklin dalam Winarno (2012) mengemukakan implementasi adalah apa yang terjadi setelah undang-undang ditetapkan yang memberikan otoritas program, kebijakan, keuntungan (benefit), atau suatu jenis keluaran yang nyata.

Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya (Nugroho, 2008). Tidak lebih dan tidak kurang. Untuk mengimplementasikan kebijakan publik maka ada dua pilihan langkah yang ada, yaitu langsung mengimplementasikan dalam bentuk program-program atau melalui formulasi kebijakan derivate atau turunan dari kebijakan publik tersebut. Sedangkan menurut Van Meter dan Van Horn dalam Winarno (2012) mengemukakan implementasi kebijakan sebagai tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu/kelompok pemerintah maupun swasta yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan-keputusan kebijakan sebelumnya.

Keberhasilan suatu program dapat dilihat jika program itu berjalan sesuai dengan model-model yang telah ditetapkan. Linders and Peters memberikan alternatif dalam menafsirkan keberhasilan implementasi dengan mengevaluasi kinerja kebijakan dan berusaha menentukan ada atau tidaknya perubahan yang nyata dalam populasi target atau kondisi sebagai akibat suatu intervensi kebijakan pemerintah. Kesulitannya adalah jika lingkungan sosial dan ekonomi dimana program itu diimplementasikan tidak dipahami secara utuh atau kondisinya yang berubah dengan cepat. Kemudian Meter and Horn mengemukakan identifikasi indikator-indikator kinerja implementasi merupakan tahap yang krusial dalam menganalisis mengenai implementasi. Indikator kinerja menafsirkan sejauhmana standart dan tujuan kebijakan direalisasikan. Tetapi pilihan kinerja tergantung pada maksud dan tujuan penelitian itu sendiri. (Sujianto, 2008)

Dalam hal yang berbeda menurut Erwan dan Dyah Ratih (2012) implementasi kebijakan bisa menjadi jembatan, karena melalui tahapan yang

(17)

delevery mechanism dimana ketika berbagai policy output yang dikonversi dari policy input disampaikan kepada kelompok sasaran sebagai upaya nyata untuk mencapai tujuan kebijakan. Sedang menurut Subarsono (2012) kebijakan yang telah direkomendasikan untuk dipilih oleh policy makers bukanlah jaminan bahwa kebijakan tersebut pasti berhasil dalam implementasinya. Ada banyak variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan baik yang bersifat individual maupun kelompok atau institusi. Implementasi dari suatu program melibatkan upaya-upaya policy makers untuk mempengaruhi perilaku birokrat pelaksana agar bersedia memberikan pelayanan dan mengatur perilaku kelompok sasaran.

Kemudian Soluhuddin Kusumanegara (2010) menjelaskan implementasi merupakan sebagai proses administrasi dari hukum (statuta) yang didalamnya tercakup keterlibatan berbagai macam aktor, organisasi, prosedur dan tehnik yang dilakukan agar kebijakan yang telah ditetapkan mempunyai akibat yaitu tercapainya tujuan kebijakan. Selanjutnya Budi Winarno (2012) mengatakan implementasi dikonseptualisasikan sebagai suatu proses atau rangkaian keputusan dan tindakan yang ditujukan agar keputusan-keputusan diterima oleh lembaga legislatif bisa dijalankan.

Oleh karena itu dalam upaya melaksanakan implementasi kebijakan dengan benar dan berhasil, maka perlu dilakukan pemilihan modal implementasi yang tepat. Untuk itu perlu dikenali beberapa alternatif model implementasi kebijakan yang dapat digunakan. Dalam hal ini dipelajari beberapa model implementasi kebijakan, yaitu Model Van Meter and Van Horn, Model Edward III, Model Mazmanian and Sabatier, Model Grindle serta Model Cheema and Rondinelli. Untuk mengetahui pemaparan masing-masing secara lebih jelas dari model-model implementasi kebijakan dapat dilihat sebagai berikut :

Model Van Meter and Van Horn

Model implementasi kebijakan yang dikembangkan oleh Van Meter dan Van Horn (1975) disebut sebagai A Model or The Policy Implementation Process, yang mengemukakan adanya enam variabel yang membentuk ikatan (linkage) antara kebijakan dan pencapaian (performance). Model ini menunjukkan hubungan antara variabel-variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable) mengenai kepentingan-kepentingan, serta hubungan di antara variabel bebas , yaitu :

(18)

1) Standard dan tujuan. kebijakan (policy standards obiectives)

Ukuran atau standard dan tujuan kebijakan memberikan perhatian utama pada faktor-faktor yang menentulan hasil kerja, maka identifikasi indikator-indikator hasil kerja merupakan hal yang penting dalam analisis. Karena indikator ini menilai sejauhmana standard dan tujuan kebijakan keseluruhan kebijakan, ini terbukti karena mudah diukur dengan berbagai kasus.

2) Sumber daya kebijakan (policy resources)

Bukan hanya standard dan tujuan tetapi juga dalam menjelaskan implemetasi kebijakan juga membutukan sumber daya yang digunakan untuk memudahkan administrasi.

3) Aktivitas pengamatan dan komunikasi interorganisasional

Suatu implementasi yang efektif memerlukan standard dan tujuan program yang dipahami oleh masing-masing individu yang bertanggung jawab agar implementasi tercapai. Oleh sebab itu memerlukan komunikasi yang konsisten dengan tujuan mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. Efektivitas komunikasi memerlukan mekanisme dan prosedur yang jelas dimana otoritas yang lebih tinggi dapat memungkinkan pelaksana akan bertindak dengan cara yang konsisten.

4) Karakteristik pelaksana

Komponen ini terjadi dari struktur formal organisasi dan atribut-atribut formal dari personil selain hubungan pelaksana dengan partisipan dalam sistem penyampian kebijakan. Lebih jelasnya karekteristik berhubungan dengan kemampuan dan kriteria staf tingkat pengawas hirarkis terhadap keputusan sub unit dalam proses implementasi.

5) Kondisi ekonomi, sosial dan politik

Didalam implementasi kebijakan dipengaruhi oleh beberapa aspek diantaranya adalah pengaruh ekonomi, sosial dan politik. Ada beberapa hal yang berhubungan dengan faktor ekonomi, sosial dan politik diantaranya:

- Apakah sumber daya ekonomi tersedia dalam organisasi pelaksana cukup

memadai untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan.

- Sejauhmana kondisi sosial ekonomi yang akan mempengruhi pelaksanaan

(19)

- Bagaimana sifat umum tentang seberapa jenis masalah kebijakan yang

terkait

- Apakah kelompok elit menyetujui atau menentang pelaksanan kebijakan. - Apakah karakteristik partisipan dan organisasi pelaksana ada oposisi atau

dukungan partisipan untuk kebijakan tersebut. 6) Disposisi atau sikap pelaksana

Disposisi atau sikap pelaksana sangat menentukan keberhasilan implementasi, sebab hal ini berkaitan dengan persepsi pelaksana dalam yuridis dimana kebijakan disampaikan. Ada tiga unsur yang mempengaruhi pelaksana dalam mengimplementasi kebijakan, yaitu :

- Kognisi (pemahaman dan pengetahuan) pelaksana terhadap kebijakan. - Arah respon pelaksana terhadap implementasi menerima atau menolak. - Intensitas dari respon pelaksana.

Model Goerge Edward III

Menurut Edward III dalam bukunya " Implementing Public Policy ", studi implementasi kebijakan adalah krusial bagi administrasi publik dan kebijakan publik. Implementasi kebijakan adalah tahap pembuatan kebijakan antara pembentukan kebijakan dan konsekuensi-konsekuensi kebijakan bagi masyarakat yang dipengaruhinya. (" The study of policy implementation is crucial for the study of public administration and public policy. Policy implementation, as we have seen, is the stage of policy making between the establishment of a policy and the consequences of the policy for the people whom it affects.") (Edward III, 1980)

Pendapat George Edward III dalam Sujianto (2008), ia mengembangkan model dengan mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan kebijakan, yaitu:

a) Komunikasi

Komunikasi merupakan alat kebijakan untuk menyampaikan perintah-perintah dan arahan-arahan (informasi) dari sumber pembuat kebijakan kepada mereka-mereka diberikan wewenang dan tanggung jawab untuk melaksanakan kebijakan tersebut. Tipe komunikasi yang diajukan adalah komunikasi vertikal, dimana komunikasi vertikal ini mencakup lima hal yaitu : 1).

(20)

Petunjuk-petunjuk tugas yang spesifik, seperti perintah kerja, 2). Informasi yang dimaksudkan menghasilkan pemahaman mengenai tugas dan hubungannya dengan tugas-tugas organisasi lainnya, 3). Informasi praktek-praktek dan prosedur keorganisasiannya, 4). Perintah-perintah dan 5). Arahan-arahan dan pelaksanaan yang dikirimkan kepada para pelaksana program. b) Sumber daya

Sumber daya merupakan salah satu faktor penting dalam implementasi kebijakan/program, karena bagaimanapun baiknya kebijakan itu dirumuskan tanpa ada dukungan sumber daya yang memadai, maka kebijakan akan mengalami kesulitan dalam mengimplementasikannya. Berarti tanpa sumber daya yang memadai implementansi kebijakan akan mengalami kegagalan. Oleh karena itu sumber daya yang dimaksudkan mencakup : 1). Jumlah staff pelaksana yang memadai dengan keahlian yang memadai, 2). Informasi, 3). Wewenang atau kewenangan dan 4). Fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk menjamin kebijakan dijalankan sesuai dengan yang diharapkan.

c) Disposisi

Disposisi atau sikap para pelaksana diartikan sebagai kemauan atau niat para pelaksana untuk melaksanakan kebijakan atau sebagai motivasi phisikologis para pelaksana untuk melaksanakan kebijakan. Ada tiga hal yang terdapat didalam disposisi atau sikap pelaksana yang merupakan unsur penting dalam implementasi kebijakan, yaitu : 1). Pemahaman dan pengetahuan (kognisi), 2). Arah respon dari para pelaksana terhadap implementasi kebijakan (penerimaan dan penolakan) dan 3). Intesitas dari respon.

d) Struktur birokrasi

Struktur birokrasi adalah struktur kelembagaan pelaksana program. Ada dua unsur atau bagian dalam hal ini, yaitu : 1). Prosedur rutin atau standart prosedur operasi dan 2). Fragmentasi (pemecahan/pembagian untuk beberapa bagian kekuasaan).

Model Daniel Mazmanian and Paul A. Sabatier

Sabatier and Mazmanian memberikan perhatian yang lebih pada birokrasi. Mereka menganggap bahwa suatu implementasi akan efektif apabila birokrasi

(21)

pelaksananya mematuhi apa yang telah digariskan oleh peraturan (petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis). Karena itulah model ini disebut sebagai model top-down. Dengan asumsi tersebut, maka tujuan dan sasaran program harus jelas dan konsisten, karena ini merupakan standar evaluasi dan sarana yang legal bagi birokrasi pelaksana untuk mengerahkan sumberdaya.

Menurut Mazmanian and Sabatier ada tigas kelompok variabel yang mempergauhi keberhasilan implementasi, yaitu :

1. Karakteristik dari masalah (tractability of the problems), dalam karakteristik masalah dilihat dari :

a. Tingkat kesulitan teknis dari masalah yang bersangkutan. b. Tingkat kemajemukan kelompok sasaran.

c. Proporsi kelompok sasaran terhadap total populasi. d. Cakupan perubahan perilaku yang diharapkan.

2. Karakteristik kebijakan/undang-undang (ability of statute implementation), dalam karakteristik kebijakan dilihat dari :

a. Kejelasan isi kebijakan.

b. Seberapa jauh kebijakan tersebut memiliki dukungan teoritis. c. Besarnya alokasi sumberdaya finansial terhadap kebijakan tersebut.

d. Seberapa besar adanya keterpautan dan dukungan antar berbagai instansi pelaksana.

e. Kejelasan dan konsistensi aturan yang ada pada badan pelaksana. f. Tingkat komitmen aparat terhadap tujuan kebijakan.

g. Seberapa luas akses kelompok-kelompok luar untuk berpartisipasi dalam implementasi kebijakan.

3. Variabel lingkungan (nonstatutory variables effecting implementation), dalam variabel lingkungan dilihat dari :

a. Kondisi sosial ekonomi masyarakat dan tingkat kemajuan teknologi. b. Dukungan publik terhadap sebuah kebijakan.

c. Sikap dari kelompok pemilih.

d. Tingkat komitmen dan ketrampilan dari aparat implementor. (Subarsono, 2012)

(22)

Model Grindle

Grindle menyatakan bahwa proses umum implementasi dapat dimulai ketika tujuan dan sasaran telah dispesifikasikan, program-program tindak telah di desain, dan ketika dana telah dialokasikan untuk pencapaian tujuan. Ketiga hal tersebut merupakan syarat-syarat dasar (Basic Conditions) untuk eksekusi suatu kebijakan publik (Grindle, 1980).

Keberhasilan implementasi menurut Grindle dalam Subarsono (2012) diperngaruhi oleh dua variabel besar dan satu variabel tambahan, yakni :

1. Isi kebijakan (content of policy), dilihat dari :

 Kepentingan-kepentingan yang dipengaruhi

 Tipe keuntungan (dapat terbagi/tidak terbagi, jangka pendek/panjang)  Tingkat perubahan perilaku

 Lokasi dari implementasi (secara geografi dan organisasional)  Pelaksana program yang ditunjuk (kapasitas memanage program)  Sumber daya

2. Lingkungan implementasi (context of implementation), dilihat dari :

 Kekuasaan, kepentingan dan strategi aktor-aktor yang terlibat  Karakteristik institusi dan regim yang berkuasa

 Tingkat kepatuhan (compliance) dan daya tanggap (responsiveness).

3. Hasil kebijakan (output of policy), dilihat dari :

 Dampak pada masyarakat/individu  Perubahan dan penerimaan masyarakat

Model G. Shabbir Cheema and Dannis A. Rondinelli

Dalam menganalisis implementasi program-program pemerintah yang bersifat desentralisasi menurut Cheema and Rondinelli dalam Subarsono (2012), dilihat dari empat kelompok variabel yang mempengaruhi kinerja dan dampak suatu program yaitu :

1. Kondisi lingkungan, dilihat dari :

 Tipe sistem politik

(23)

 Karakteristik struktur politikal lokal  Kendala sumberdaya

 Sosio cultural

 Derajat keterlibatan para penerima program  Tersedianya infrastruktur yang cukup

2. Hubungan antar organisasi, dilihat dari :

 Kejelasan dan konsistensi sasaran program  Pembagian fungsi antar instansi yang pantas

 Standarisasi prosedur perencanaan, anggaran, implementasi dan evaluasi  Ketepatan, konsistensi dan kualitas komunikasi antar instansi

 Efektivitas jejaring untuk mendukung program

3. Sumber daya organisasi untuk implementasi program, dilihat dari :

 Kontrol terhadap sumber dana

 Keseimbangan antara pembagian anggaran dan kegiatan program  Ketepatan alokasi anggaran

 Pendapatan yang cukup untuk pengeluaran  Dukungan politik pemimpin pusat

 Komitmen birokrasi

4. Karakteristik dan kemampuan agen pelaksana, dilihat dari :

 Ketrampilan teknis, manajerial dan politis petugas

 Kemampuan untuk mengkoordinasi, mengontrol dan mengintegrasikan

keputusan

 Dukungan dan sumber daya politik instansi  Sifat komunikasi internal

 Hubungan yang baik antara instansi dengan kelompok sasaran

 Hubungan yang baik antara instansi dengan pihak di luar pemerintah dan

NGO

 Kualitas pemimpin instansi yang bersangkutan  Komitmen petugas terhadap program

(24)

Maka dari beberapa penjelasan tentang model implementasi yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa implementasi kebijakan sebagai suatu proses melaksanakan keputusan kebijakan yang biasanya dalam bentuk undang–undang, peraturan- pemerintah, peraturan daerah dan program-program pemenintah. Dimana dalam aktivitas ini bertipe pernyataan tentang tujuan yang akan dicapai yang dirancang melalui kegiatan-kegiatan administratif yang nyata, seperti pendanaan, perencanaan dan pengorganisasian.

C. Kajian Sebelumnya

Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan tentang implementasi program Corporate social responsibility (CSR) yang dilakukan beberapa peneliti, menemukan hasil diantaranya sebagai berikut :

1. Thiel (2010) yang melakukan penelitian di Singapura menemukan 7 (tujuh) kunci yang mesti dipelajari untuk menghasilkan model corporate social responsibility (CSR) yang inovator. Tujuh kunci tersebut adalah : Pertama, Corporate social responsibility dimulai dari individual. Hasil penelitian menemukan bahwa banyak faktor membuat implementasi CSR efektif, tapi faktor individual yang berkeinginan untuk memperbaiki negeri, perusahaan dan masyarakat ke arah yang lebih baik. Untuk diharapkan kepada pemimpin global/perusahaan mengkaitkan CSR dengan pekerja individual, kepemimpinan dan nilai organisasi sebagai inti strategi bisnis global. Kedua, Pelaksanaan CSR yang efektif adalah harus secara kolektif dan kolaborasif. keseluruhan praktik CSR global menginginkan pemimpin perusahaan global beserta karyawannya secara simultan berpengetahuan budaya secara bersamaan. Dengan demikian, isu-isu global yang kompleks dapat dipecahkan dengan sukses ketika pemimpin global dan para pekerja individual untuk berkolaborasi. Ketiga, Corporate social responsibility dapat meningkatkan Return on Investment ketika ekonomi, sosial dan lingkungan berkinerja sama. Jika kinerja ekonomi baik akan berkontribusi untuk bidang sosial. Karena itu, kinerja ekonomi, penting untuk meningkatkan keunggulan bersaing dan kualitas hidup hal tersebut dikarenakan ekonomi, keunggulan bersaing, dan masyarakat dan sumber daya alam saling berkaitan. Dengan demikian, ROI meningkat ketika organisasi global terintegrasi dengan ekonomi, sosial dan

(25)

kinerja lingkungan telah sama. Keempat, Human Research Development dapat memacu cross cultural CSR dalam sebuah organisasi global. Sumber daya manusia merupakan modal strategik yang sangat penting dalam perencanaan strategi ekonomi. Sumber daya manusias yang profesional akan membantu kompetensi antar budaya dan manajer untuk bekerja lebih efektif dalam mengelola para pekerja dengan budaya beragam. Karena itu HRD berperan dalam meningkatkan daya saing organisasi perusahaan global melalui implementasi CSR yang baik. Kelima, Corporate social responsibility menginginkan etika individu, penegakan hukum, mekanisme pengawasan, struktur, sistem dan praktik bisnis. Keenam, Corporate social responsibilitymenginginkan para pemimpin global mereka mengintegrasikan antar lintas budaya CSR dalam budaya organisasi. Gaya negoisiasi budaya, dimana berpijak pada negoisiasi strategis dan taktik yang dilakukan manajer dari berbagai manajer yang berbeda budaya merupakan aspek yang sensitif manajemen. Karena itu CSR yang efektif dalam organisasi global yaitu bagaimana pemimpin global memadukan antar lintas budaya dalam budaya organisasi. Ketujuh, Corporate social responsibility menginginkan dukungan dan intervensi pemerintah.Dukungan pemerintah dan intervensi CSR penting untuk masyarakat dan bisnis global yang berkelanjutan.

2. Ghazali Syamni (2012) yang melakukan penelitian di PT. Arum NGL Lhokseumawe Aceh, menemukan hal-hal sebagai berikut : Pertama, PT. Arun NGL Lhokseumawe Aceh dalam menjalankan bisnisnya peduli terhadap tuntutan usaha pengembangan sosial sesuai dengan kemampuan perusahaan. Program pengembangan sosial PT. Arun setiap tahun dikembangkan dan berkelanjutan atau sustainable. Corporate Social responsibility (CSR) PT.Arun NGL di arahkan pada beberapa bidang program, seperti : program ekonomi, pendidikan, kesehatan, pengembangan SDM lokal, lingkungan dan bidang keagamaan. Kedua, Salah satu program CSR bidang kegamaan menjadi perhatian dari PT.Arun, hal itu disebabkan karena PT. Arun NGL berada di Aceh yang notabene daerah yang memiliki latar keagamaan yang kuat. Di samping itu CSR bidang pendidikan memiliki dominasi, hal tersebut karena masyarakat propinsi Aceh memiliki tingkat pendidikan yang rendah maka PT.Arun pemerintah dan sektor swasta lain membantu untuk percepatan program pendidikan bagi masyarakat sekitar indusri khususnya.

(26)

3. Hasan Asy’ari (2009) yang melakukan penelitian pada PT. Newmont, dalam mengimplementasikan tanggung jawab sosialnya, PT Newmont melakukan kegiatan-kegiatan pembangunan masyarakat yaitu : Pertama, Pendidikan, berupa pembangunan sarana pendidikan dan beasiswa mencakup pembangunan dan renovasi sekolah, penyediaan buku-buku dan alat bantu belajar mengajar, mendanai dua buah perpustakaan keliling dan memberikan beasiswa kepada pelajar yang berasal dari Nusa Tenggara Barat dan membantu siswa-siswi yang tidak mampu membayar uang sekolah dan membeli buku. Kedua, Infrastruktur, berupa pengembangan kawasan buyat pantai sebagai sarana dan objek wisata. Proyek infrastruktur utama lainnya adalah membantu pemerintah dan desa setempat membangun system kebersihan dan pembuangan sampah di Benete, Maluk, Sekongkang Atas dan Sekongkang Bawah. Ketiga, Perbaikan Kesehatan, berupa pembangunan pusat kesehatan desa oleh NMR, pemberian suplai peralatan, penyediaan staff medis dan kendaraan yang beroperasi memberikan pelayanan ke desa-desa sekitar, termasuk juga bantuan bulanan juga diberikan oleh NMR untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan di sarana kesehatan. Keempat, Pendidikan Kejuruan dan Pengembangan Bisnis, berupa para kontraktor lokal dalam kegiatan-kegiatan di pertambangan, mendukung pembangunan dan pelatihan personil, membantu dalam proyek perluasan pertanian, dan penggerak lain dari pertumbuhan ekonomi. Kelima, Program Pertanian dan Perikanan berupa pelatihan dalam teknik kultur kelautan kepada para nelayan untuk mengembangkan pengolahan rumput laut, menyediakan pinjaman untuk perbaikan peralatan nelayan dan mengurangi praktek penangkapan ikan yang merusak, serta kesempatan untuk mempelajari teknik pertanian baru lewat tempat-tempat demonstrasi pertanian dan mendukung kemampuan petani untuk memperoleh penghasilan tetap dan meningkatkan kualitas tanaman. Keenam, Program Perbaikan Habitat Laut Minahasa, berupa prakarsa dan pendanaan. Program ini terdiri dari dua komponen, yaitu : a). Reef Ball Project, dan Program Rehabilitasi Hutan Bakau. Proyek ini sedemikian suksesnya hingga dipamerkan di Konferensi ke-10 PBB mengenai Pembangunan Yang Berkesinambungan pada tahun 2002, kemudian di

(27)

majalah National Geographic bulan Agustus 2006 dan bulan lalu di panduan menyelam dan wisata Sulawesi Utara yang berjudul “Teluk Buyat dan

Sekitarnya”. b) Yayasan Minahasa Raya, Sebagai bagian dari program

penutupan, NMR telah mengalokasikan 1,5 juta USD untuk pendirian sebuah yayasan yang akan meneruskan pembangunan masyarakat local dan pengembangan kegiatan bisnis di masa depan yang akan berlangsung dalam jangka waktu panjang setelah tambang tak lagi beroperasi.

4. Armel Yentifa dan Desi Handayani (2008) yang melakukan penelitian pada PT. Semen Padang Sumatera Barat, menemukan hal-hal berikut : Pertama, PT. Semen Padang telah mengimplementasikan program CSR sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dimana seluruh perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau yang berkaitan dengan sumber daya alam diwajibkan untuk menyelenggarakan corporate social responsibility (CSR), yaitu suatu bentuk kepekaan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial perusahaan untuk ikut memberikan manfaat terhadap masyarakat dan lingkungan dimana perusahaan itu beroperasi. Kedua, PT. Semen Padang mengimplementasikan program CSR dalam 2 (dua) bentuk program, yaitu Program Kemitraan dengan menyediakan bantuan modal usaha atau pinjaman lunak untuk pengusaha kecil menengah yang diikuti dengan upaya pembinaannya serta Program Bina Lingkungan dengan memberikan bantuan-bantuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Implementasi program CSR lewat Program Kemitraan mengandung semangat tanggung jawab sosial perusahaan untuk memberi manfaat kepada masyarakat sekitar dengan melakukan pemberdayaan (Community Empowerment) dan berkelanjutan (sustainable). Sementara implementasi program CSR lewat program Bina Lingkungan lebih mengarah kepada corporate charity. Sangat disayangkan, ternyata alokasi dana pertahunnya untuk Program Bina lingkungan lebih besar dari pada Program Kemitraan, dimana alokasi untuk Program Kemitraan yang lebih bersifat pemberdayaan dan berkelanjutan ini hanya seperempat dari total alokasi dana CSR PT.Semen Padang. Tiga perempatnya lagi untuk Program Bina Lingkungan.

(28)

BAB III

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian

Penelitian tentang prioritas dan model implementasi program CSR (coorporate social responsibility) di Provinsi Riau dalam perspektif indeks kepuasan publik, yang memilihi lokasi penelitian di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) operasional Rumbai, Tapung dan Minas memiliki tujuan penelitian sebagai berikut :

1. Untuk mengkaji dan menganalisis secara komprehansif tentang implementasi program corporate social responsibility (CSR) di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) operasional Rumbai, Tapung dan Minas.

2. Untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang menghambat maupun pendukung dalam implementasi program corporate social responsibility (CSR) di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) operasional Rumbai, Tapung dan Minas.

3. Untuk mengkaji dan menganalisis prioritas program corporate social responsibility (CSR) di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) operasional Rumbai, Tapung dan Minas yang harus dilaksanakan berdasarkan perspektif indeks kepuasan publik.

B. Manfaat Penelitian

Penelitian tentang prioritas dan model implementasi program CSR (coorporate social responsibility) di Provinsi Riau dalam perspektif indeks kepuasan publik, yang memilihi lokasi penelitian di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) operasional Rumbai, Tapung dan Minas ini memiliki manfaat untuk :

(29)

1. Pengembangan Ipteksosbud

Corporate social responsibility (CSR) merupakan bentuk pertanggungjawaban sosial yang ditunjukkan perusahaan kepada masyarakat yang ada disekitar lingkungan usahanya. Oleh karena itu riset ini akan melihat proses implementasi program corporate social responsibility (CSR) yang diterima oleh masyarakat yang ada di wilayah kerjanya serta melihat program corporate social responsibility (CSR) apa yang seharusnya menjadi prioritas perusahaan untuk selalu berkelanjutan untuk dilaksanakan. Hasil riset ini juga nantinya diharapkan dapat memberikan masukkan kepada perusahaan untuk bisa mengembangkan program corporate social responsibility (CSR) yang lebih tepat guna dan berhasil guna untuk mencapai perberdayaan masyarakat yang berbasis kesejahteraan. Oleh sebab itu output dari penelitian ini akan dipublikasikan di jurnal ilmiah ataupun media massa guna mengembangkan model implementasi program corporate social responsibility (CSR) yang tepat. Selain itu juga hasil riset ini bisa bermanfaat bagi pengembangan keilmuan studi implementasi kebijakan sebagai lahan untuk melakukan kajian-kajian yang berikutnya.

2. Berguna bagi perusahaan pelaksana program corporate social responsibility (CSR)

Hasil riset ini juga berguna untuk menyelesaikan masalah perusahaan yang kebingungan dalam mengimplementasikan program corporate social responsibility (CSR) yang dimilikinya. Sebab masih banyak tuntutan yang diinginkan oleh publik terhadap ketermanfaatan (benefeceries) dari program corporate social responsibility (CSR). Sehingga tidak terkesan implementasi program corporate social responsibility (CSR) hanya sekedar melaksanakan tuntutan Undang-undang atau tanggung jawab sosial semata saja.

(30)

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan mengintegrasikan antara pendekatan mixed method yaitu kombinasi riset kuantitatif dan kualitatif dalam berbagai proses riset (desain, cara pengumpulan data dan analisis data) untuk dapat memberikan pemahaman yang lebih baik akan suatu masalah penelitian. Lokasi penelitian dilaksanakan pada PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) operasional Rumbai, Tapung dan Minas di Provinsi Riau. Dipilihnya dua perusahaan ini dikarenakan perusahaan tersebut mewakili perusahaan miliki pemerintah yaitu PT. Pertamina (Persero) dan perusahaan milik swasta yaitu PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI). Sehingga dengan adanya kajian ini diharapkan ada perbandingan implementasi dan prioritas program corporate social responsibility (CSR) yang dilaksanakan oleh perusahaan miliki pemerintah dan swasta yang memang benar-benar dapat memberdayakan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan.

B. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini akan diambil dari data primer dan sekunder di lapangan. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumbernya, yakni yang berasal dari responden/informan dengan cara interviue, angket maupun observasi. Responden data kajian ini diambil dari kelompok sasaran program corporate social responsibility (CSR) yang dilakukan oleh PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) operasional Rumbai, Tapung dan Minas di Provinsi Riau. Sedangkan informan dalam kejian ini adalah para pelaksana program corporate social responsibility (CSR) yang terlibat langsung ataupun tidak langsung yang berasal dari PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) operasional Rumbai, Tapung dan Minas di Provinsi Riau.

(31)

C. Tehnik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode mixed method yang dilakukan melalui pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan melalui survey lapangan dengan menyebarkan angket terhadap sejumlah responden yang diambil secara random purposive sampling masing-masing wilayah dipilih 20 orang responden. Sedangkan pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara secara mendalam (indept interview) kepada informan yang diambil secara snowball sampling. Serta untuk mempertajam hasil penelitian dilakukan juga pengamatan/observasi secara langsung di lokasi penelitian.

D. Tehnik Analisis Data

Analisis data akan mempergunakan teknik triangulasi sumber data. Data kuantitatif yang diperoleh dari kuesioner akan diolah mempergunakan program SPSS. Selanjutnya, tahapan analisis data kuantitatif sebagai berikut: (1) melakukan entri data; (2) melakukan cleaning data; (3) mengeluarkan output data kuantitatif deskriptif berupa tabel silang dan tabel frekuensi; (4) menyusun kategori jawaban yang muncul dari sebaran data deskriptif; (5) memberikan interpretasi awal terhadap kecenderungan data deskriptif. Sedangkan Pengolahan

data kualitatif dilakukan dengan mempergunakan pendekatan ‘cross check’

informan untuk memberikan pemahaman secara lebih mendalam berbagai pernyataan yang dikemukan oleh responden, serta berdasarkan hasil observasi dan telaah data sekunder. Data kualitatif akan dipergunakan sebagai basis dalam memberikan interpretasi terhadap kecenderungan data kuantitatif dari angket.

(32)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ilmiah memerlukan data yang akurat dan disusun dengan metode tertentu, sehingga nantinya akan ditemukan hasil yang valid. Selain itu juga sistematika penulisan dari sisi bahasa maupun isinya dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya. Penelitian ini membahas teori yang dikemukakan oleh Goerge C. Edwards III yang sesuai untuk menjawab permasalahan penelitian, sehingga diharapkan nantinya antara teori dan kenyataan lapangan dapat disesuaikan dalam menyelesaikan permasalahan implementasi program corporate social responsibility (CSR) oleh PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pasific Indonesia (CPI) di Provinsi Riau, dimana lokasi yang sudah dipilih yaitu PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) operasional Rumbai, Tapung dan Minas di Provinsi Riau. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis mixed yaitu dengan menggabungkan tehnik menganalisa data kuantitatif dan kualitatif yang nantinya diharapkan dapat menggambarkan secara utuh kenyataan mengenai permasalahan yang diteliti.

A. Implementasi Program Corporate Social Responsibility (CSR) Oleh PT. Pertamina (Persero) Dan PT. Cevron Pasific Indonesia (CPI) Di Provinsi Riau

Implementasi kebijakan merupakan kegiatan yang kompleks dengan begitu banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu implementasi kebijakan. Pendekatan yang digunakan dalam menganalisis implementasi kebijakan tentang konservasi energi adalah teori yang dikemukakan oleh George C. Edwards III. Dimana implementasi dapat dimulai dari kondisi abstrak dan sebuah pertanyaan tentang apakah syarat agar implementasi kebijakan dapat berhasil, menurut George C. Edwards III ada empat variabel dalam kebijakan publik yaitu komunikasi (communications), sumber daya (resources), sikap (dispositions atau attitudes) dan struktur birokrasi (bureucratic structure). Keempat faktor ini harus dilaksanakan secara simultan karena antara satu dengan

(33)

yang lainnya memiliki hubungan yang erat. Tujuan kita adalah meningkatkan pemahaman tentang implementasi kebijakan. Penyederhanaan pengertian dengan cara menurunkan melalui eksplanasi implementasi kedalam komponen prinsip. Implementasi kebijakan adalah suatu proses dinamik yang mana meliputi interaksi banyak faktor. Sub kategori dari faktor-faktor mendasar ditampilkan sehingga dapat diketahui pengaruhnya terhadap implementasi.

1. Komunikasi

Implementasi akan berjalan efektif apabila ukuran-ukuran dan tujuan-tujuan kebijakan dipahami oleh individu-individu yang bertanggungjawab dalam pencapaian tujuan kebijakan. Kejelasan ukuran dan tujuan kebijakan dengan demikian perlu dikomunikasikan secara tepat dengan para pelaksana. Konsistensi atau keseragaman dari ukuran dasar dan tujuan perlu dikomunikasikan sehingga implementors mengetahui secara tepat ukuran maupun tujuan kebijakan itu. Komunikasi dalam organisasi merupakan suatu proses yang amat kompleks dan rumit. Seseorang bisa menahannya hanya untuk kepentingan tertentu, atau menyebarluaskannya. Di samping itu sumber informasi yang berbeda juga akan melahirkan interpretasi yang berbeda pula. Agar implementasi berjalan efektif, siapa yang bertanggungjawab melaksanakan sebuah keputusan harus mengetahui apakah mereka dapat melakukannya. Sesungguhnya implementasi kebijakan harus diterima oleh semua personel dan harus mengerti secara jelas dan akurat mengenahi maksud dan tujuan kebijakan. Jika para aktor pembuat kebijakan telah melihat ketidakjelasan spesifikasi kebijakan sebenarnya mereka tidak mengerti apa sesunguhnya yang akan diarahkan. Para implemetor kebijakan bingung dengan apa yang akan mereka lakukan sehingga jika dipaksakan tidak akan mendapatkan hasil yang optimal. Tidak cukupnya komunikasi kepada para implementor secara serius mempengaruhi implementasi kebijakan. Komunikasi merupakan salah-satu variabel penting yang mempengaruhi implementasi kebijakan publik, komunikasi sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik. Implementasi yang efektif akan terlaksana, jika para pembuat keputusan mengetahui mengenai apa yang akan mereka kerjakan. Infromasi yang diketahui para pengambil keputusan hanya bisa didapat melalui komunikasi yang baik.

(34)

Tiga instrumen yang digunakan dalam mengukur implementasi Program Corporate Social Responsibility (CSR) di PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dan PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI) operasional Rumbai, Tapung dan Minas di Provinsi Riau melalui variabel komunikasi, yaitu : Pertama, sosialisasi yaitu kemampuan implementor menyampaikan program corporate social responsibility (CSR) yang dimiliki oleh perusahaannya. Kedua, informasi yaitu kemampuan implementor untuk menyampaikan berita tentang program corporate social responsibility (CSR) yang akan dilakukan oleh perusahaan. Ketiga, penyampaian program yaitu kemampuan implementor secara langsung untuk menyampaikan program corporate social responsibility (CSR) yang dikelola oleh perusahaan. Untuk mengetahui tanggapan responden yang digali melalui penyebaran angket, dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel V.1

Tanggapan Publik terhadap Variabel Komunikasi

tentang Program Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT. Pertamina (Persero) dan PT. Cevron Pasific Indonesia (CPI) di Provinsi Riau

No. Wilayah Penelitian Tanggapan Publik Jumlah

SB B KB TB ABS

1. PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai

a. Kelurahan Jaya Mukti (Ring 1) 0 10 (50 %) 1 (5 %) 0 9 (45 %) 20 (100 %) b. Kelurahan Tanjung Palas (Ring 1) 0 16

(80 %) 1 (5 %) 0 3 (15 %) 20 (100 % c. Kelurahan Buluh Kasap (Ring 2) 0 5

(25 %) 10 (50 %) 0 5 (25 %) 20 (100 %) d. Kelurahan Teluk Binjai (Ring 2) 0 0 7

(35 %)

0 13

(65 %)

20 (100 %) e. Kelurahan Bukit Datuk (Ring 2) 0 10

(50 %) 1 (5 %) 0 9 (45 %) 20 (100 %) f. Kelurahan Bukit Timah (Ring 2) 0 7

(35 %) 1 (5 %) 0 12 (60 %) 20 (100 %) 2. PT. Cevron Pacific Indonesia (CPI)

a. Kecamatan Minas

 Kelurahan Minas Jaya (Ring 1) 0 0 10 (50 %) 6 (30 %) 4 (20 %) 20 (100 %)

 Kepenghuluan Minas Timur (Ring 1) 0 0 0 9 (45 %) 11 (55 %) 20 (100 %) b. Kecamatan Rumbai

 Kelurahan Muara Fajar (Ring 1) 0 0 0 10 (50 %)

10 (50 %)

20 (100 %)

 Kelurahan Umban Sari (Ring 1) 0 7 (35 %)

0 0 13

(65 %)

20 (100 %)

 Kelurahan Limbungan (Ring 1) 0 4 (20 %)

0 0 16

(80 %)

20 (100 %)

 Kelurahan Lembah Damai (Ring 1) 0 9 (45 %)

0 0 11

(55 %)

20 (100 %) c. Kecamatan Tapung dan Tapung Hilir

 Desa Petapahan Jaya (Ring 1) 0 0 16 (80 %)

0 4

(20 %)

20 (100 %)

 Desa Cinta Damai (Ring 3) 0 0 0 20

(100 %)

0 20

(100 %) Sumber : Data Olahan Lapangan, 2015

(35)

Dari tabel V.1 diatas dapat diketahui bahwa tanggapan publik yang sudah terpilih untuk memberikan jawaban untuk masing-masing Kelurahan di wilayah operasional PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai umumnya beragam. Di Kelurahan Jaya Mukti, tanggapan publik menjelaskan bahwa komunikasi yang dilakukan pihak PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dalam mengimplementasikan program CSR kepada masyarakat sudah berjalan dengan baik, dengan persentase sebesar 50 %. Fakta ini menjelaskan bahwa komunikasi yang dilakukan oleh PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dalam upaya memberikan informasi, sosialisasi dan penyampaian program CSR sudah sampai kepada masyarakat sebagai calon pemanfaat program. Strategi komunikasi yang dilakukan oleh PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh pemuda, tokoh-tokoh perempuan dan seluruh stakeholders yang bisa berperan dalam menyebarkan informasi, mensosialisasikan program dan penyampaikan program kepada para calon pemanfaat program. Sehingga untuk wilayah Kelurahan Jaya Mukti pada dasarnya komunikasi tentang program CSR PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai sudah sampai kepada masyarakat. Apalagi Kelurahan Jaya Mukti merupakan salah satu ring 1 perusahaan dalam melaksanakan program CSR-nya, sehingga setiap permohonan dan pengajuan dari masyarakat kepada PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai selalu mendapat pertimbangan untuk direalisasikan. Walaupun PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dalam mensetujui usulan permohonan dari masyarakat tetap mengikuti prosedur dan tata cara yang sudah ditetapkan. Dimana prosedur dan tata cara tersebut dituangkan dalam form lembar evaluasi pertimbangan pemberian bantuan community development (CD) atau CSR seperti dibawah ini :

Gambar

Gambar 1  :  Wawancara dengan Kepala Sekolah SMAN 3 Tapung
Gambar 3  :  Wawancara dengan aparatur desa di Desa Cinta Damai
Gambar 6  :  Wawancara dengan pihak Pertamina (Persero) RU II Dumai
Gambar 9  :  Wawancara dengan Plt. Lurah Tanjung Palas Kota Dumai
+5

Referensi

Dokumen terkait

Pendidikan tinggi itu mempunyai peran yang sangat strategis dalam membangun kemerdekaan manusia, karena di perguruan tinggi mahasiswa diberi kebebasan untuk

Untuk tanaman bawang merah SPT C memiliki faktor pembatas C- Organik 0,48% S3 (sesuai marginal) maka perlu perbaikan tanah dengan cara pemberian pupuk kompos dan SPT A, SPT

Prinsip dari titrasi teofilin dengan metode Volhard adalah penambahan AgNO 3.. berlebih ke dalam

Salah satu subsektor unggulan yang ada adalah Perikanan Tangkap yang berada di Kawasan Prigi yang berada di .Kawasan pesisir prigi berpotensi untuk

Analisa dilakukan selama penelitian dan secara menyeluruh mulai dari tahap kalibrasi, pemaparan gas pencemar karbon monoksida (CO), menentukan tanaman yang memiliki

Bagaimanakah wujud bangunan Dog shelter di Yogyakarta yang mampu mewadahi sekaligus mempengaruhi perilaku pengguna bangunan dari sebuah penataan ruang luar dan

Contohnya ada sebagian masyarakat kita meniru gaya hidup bangsa lain yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita, seperti mabuk-mabukan, suka berpesta pora,

Tanah kas desa (TKD) merupakan bagian terpenting dalam sebuah desa karena bisa dikelola langsung oleh perangkat desa maupun dengan cara disewakan ke pihak ketiga