BAB VI. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Bagaimana Implementasi Kebijakan Pengembangan UMKM di Dinas
4. Struktur Birokrasi
Variabel pertama yang mempen George C. Edward III (1980) menamakan model implementasi kebijakan publiknya dengan istilah Direct and Indirect Impact on Implementation. Dalam pendekatan yang dijelaskan oleh Edward III,
terdapat empat variabel yang sangat menentukan keberhasilan implementasi suatu kebijakan, yaitu:
Hal yang mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu kebijakan menurut Edward III adalah komunikasi menurutnya akan sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik. Implementasi yang efektif terjadi apabila para pembuat keputusan sudah mengetahui apa yang akan mereka kerjakan. Pengetahuan atas apa yang akan mereka kerjakan dapat berjalan bila komunikasi berjalan dengan baik sehingga setiap keputusan kebijakan dan peraturan implementasi harus ditransmisikan atau dikomunikasikan kepada bagian personalia yang tepat. Selain itu, kebijakan yang dikomunikasikan harus tepat, akurat, dan konsisten. Komunikasi atau pentransmisian informasi
diperlukan agar para pembuat keputusan dan para implementor akan semakin konsisten dalam melaksanakan setiap kebijakan yang akan diterapkan dalam masyarakat.
Terdapat tiga indikator yang dapat digunakan dalam mengukur keberhasilan variabel komunikasi tersebut di atas, yaitu:
a. Transmisi, penyaluran komunikasi yang baik akan dapat menghasilkan suatu implementasi yang baik pula. Sering kali yang terjadi dalam penyaluran komunikasi adalah adanya salah pengertian, hal ini disebabkan karena komunikasi telah melalui beberapa tingkatan birokrasi sehingga apa yang diharapkan terdistorsi di tengah jalan. b. Kejelasan, komunikasi yang diterima oleh para pelaksana kebijakan
haruslah jelas dan tidak membingungkan. Ketidakjelasan pesan kebijakan tidak selalu menghalangi implementasi, pada tataran tertentu, namun para pelaksana membutuhkan kejelasan informasi dalam melaksanakan kebijakan agar tujuan yang hendak dicapai dapat diraih sesuai konten kebijakan.
c. Konsistensi, perintah yang diberikan dalam pelaksanaan suatu komunikasi haruslah konsisten untuk diterapkan. Ini karena jika perintah yang diberikan sering berubah-ubah, maka dapat menimbulkan kebingungan bagi pelaksana di lapangan.
Variabel kedua yang mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu kebijakan adalah sumber daya.Sumber daya merupakan hal penting lainnya
menurut George C. Edward III dalam mengimplementasikan kebijakan. Indikator sumber-sumber daya terdiri dari beberapa elemen yaitu:
a. Staf, sumber daya utama dalam implementasi kebijakan adalah staf atau sumber daya manusia (SDM). Kegagalan yang sering terjadi dalam implementasi kebijakan salah satunya disebabkan oleh karena staf yang tidak mencukupi, memadai, ataupun tidak kompeten di bidangnya. Penambahan jumlah staf atau implementor saja tidak mencukupi, tetapi diperlukan pula kecukupan staf dengan keahlian serta kemampuan yang diperlukan kompeten dan kapabilitas dalam mengimplementasikan kebijakan atau melaksanakan tugas yang diinginkan oleh kebijakan itu sendiri.
b. Informasi, dalam implementasi kebijakan, informasi mempunyai dua bentuk yaitu informasi yang berhubungan dengan cara melaksanakan kebijakan. Implementor harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan di saat mereka diberi perintah untuk melakukan tindakan. Dan informasi mengenai data kepatuhan dari para pelaksana terhadap peraturan dan regulasi pemerintah yang telah ditetapkan. Implementor harus mengetahui apakah orang lain yang terlibat di dalam pelaksanaan kebijakan tersebut patuh terhadap hukum.
c. Wewenang, pada umumnya kewenangan harus bersifat formal agar perintah dapat dilaksanakan. Kewenangan merupakan otoritas atau legitimasi bagi para pelaksana dalam melaksanakan kebijakan yang ditetapkan secara politik. Ketika wewenang itu nihil, maka kekuatan
para implementor di mata publik tidak terlegitimasi, sehingga dapat menggagalkan proses implementasi kebijakan. Tetapi, dalam konteks yang lain, ketika wewenang formal tersebut ada, maka sering terjadi kesalahan dalam melihat efektivitas kewenangan. Di satu pihak, efektivitas kewenangan diperlukan dalam pelaksanaan implementasi kebijakan tetapi disisi lain, efektifitas akan menyurut manakala wewenang diselewengkan oleh para pelaksana demi kepentingannya sendiri atau demi kepentingan kelompoknya.
d. Fasilitas, fasilitas fisik juga merupakan faktor penting dalam implementasi kebijakan. lmplementor mungkin memiliki staf yang mencukupi, mengerti apa yang harus dilakukannya, dan memiliki wewenang untuk melaksanakan tugasnya, tetapi tanpa adanya fasilitas pendukung (sarana dan prasarana) maka implementasi kebijakan tersebut tidak akan berhasil.
Variabel ketiga yang mempengaruhi tingkat keberhasilan implementasi kebijakan publik, bagi George C. Edward III, adalah disposisi. Disposisi atau sikap dari pelaksana kebijakan adalah faktor penting ketiga dalam pendekatan mengenai pelaksanaan suatu kebijakan publik. Jika pelaksanaan suatu kebijakan ingin efektif, maka para pelaksana kebijakan tidak hanya harus mengetahui apa yang akan dilakukan tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk melaksanakannya, sehingga dalam praktiknya tidak terjadi bias.
Hal-hal penting yang perlu dicermati pada variabel disposisi, menurut Edward III, adalah:
a. Efek Disposisi, disposisi atau sikap para pelaksana akan menimbulkan hambatan-hambatan yang nyata terhadap implementasi kebijakan bila personil yang ada tidak melaksanakan kebijakan-kebijakan yang diinginkan oleh pejabat-pejabat tinggi. Oleh karena itu, pemilihan dan pengangkatan personil pelaksana kebijakan haruslah orang-orang yang memiliki dedikasi pada kebijakan yang telah ditetapkan, lebih khusus lagi pada kepentingan masyarakat.
b. Melakukan Pengaturan Birokrasi (stffing the bureaucracy), dalam konteks ini Edward III mensyaratkan bahwa implementasi kebijakan harus dilihat juga dalam hal pengaturan birokrasi. Ini merujuk pada penunjukan dan pengangkatan staf dalam birokrasi yang sesuai dengan kemampuan, kapabilitas, dan kompetensinya. Selain itu, pengaturan birokrasi juga bermuara pada pembentukan sistem pelayanan publik yang optimal, penilaian personil dalam bekerja, hingga metode bypassing personil
c. Insentif, Edward III menyatakan bahwa salah satu teknik yang disarankan untuk mengatasi masalah kecenderungan para pelaksana adalah dengan memanipulasi insentif. Pada umumnya orang bertindak menurut kepentingan mereka sendiri, maka memanipulasi insentif oleh para pembuat kebijakan mempengaruhi tindakan para pelaksana kebijakan. Dengan cara menambah keuntungan atau biaya tertentu
mungkin akan menjadi faktor pendorong yang membuat para pelaksana kebijakan melaksanakan perintah dengan baik. Hal ini dilakukan sebagai upaya memenuhi kepentingan pribadi (self interest) atau organisasi.
Variabel keempat, menurut George C. Edward III, yang mempengaruhi tingkat keberhasilan implementasi kebijakan publik adalah struktur birokrasi. Walaupun sumber daya untuk melaksanakan suatu kebijakan tersedia, atau para pelaksana kebijakan mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, dan mempunyai keinginan untuk melaksanakan suatu kebijakan, kemungkinan kebijakan tersebut tidak dapat terlaksana atau terealisasi karena terdapat kelemahan dalam struktur birokrasi. Kebijakan yang begitu kompleks menuntut adanya kerjasama banyak orang, ketika struktur birokrasi tidak kondusif pada kebijakan yang tersedia, maka hal ini akan menyebabkan sumber-sumber daya menjadi tidak efektif dan tidak termotivasi sehingga menghambat jalannya kebijakan. Birokrasi sebagai pelaksana sebuah kebijakan harus dapat mendukung kebijakan yang telah diputuskan secara politik dengan jalan melakukan koordinasi dengan baik.
Dua karakteristik, menurut Edward III, yang dapat mendongkrak kinerja struktur birokrasi atau organisasi ke arah yang lebih baik adalah:
a. Membuat Standar Operating Procedures (SOP) yang lebih fleksibel, SOP adalah suatu prosedur atau aktivitas terencana rutin yang memungkinkan para pegawai (atau pelaksana kebijakan seperti aparatur, administratur, atau birokrat) untuk melaksanakan
kegiatan-kegiatannya pada setiap harinya (days-todays politics) sesuai dengan standar yang telah ditetapkan atau standar minimum yang dibutuhkan masrakat.
b. Melaksanakan fragmentasi, tujuannya untuk menyebar tanggung jawab sebagai aktivitas, kegiatan, atau program pada beberapa unit kerja yang sesuai dengan bidangnya masing-masing. Dengan terfragmentasinya struktur birokrasi, maka implementasi akan lebih efektif karena dilaksanakan oleh organisasi yang kompeten dan kapabel.
Merilee S. Grindle (1980) Keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh dua variabel besar, yakni isi kebijakan (con tent of policy) dan lingkungan implementasi (context of implementation). Variabel isi kebijakan ini mencakup:
1. Sejauh mana kepentingan kelompok sasaran atau target groups termuat dalam isi kebijakan.
2. Jenis manfaat yang diterima oleh target group, sebagai contoh, masyarakat di wilayah slum areas lebih suka menerima program air bersih atau perlistrikan daripada menerima program kredit sepeda motor.
3. Sejauh mana perubahan yang diinginkan dari sebuah kebijakan. Suatu program yang bertujuan mengubah sikap dan perilaku kelompok sasaran relatif lebih sulit diimplementasikan dari pada program yang sekedar memberikan bantuan kredit atau bantuan beras kepada kelompok masayarakat miskin.
Sedangkan variabel lingkungan kebijakan mencakup beberapa hal yaitu:
1. Seberapa besar kekuasaan, kepentingan, dan strategi yang dimiliki oleh para aktor yang terlibat dalam implementasi kebijakan.
2. Karakteristik institusi dan rejim yang sedang berkuasa. 3. Tingkat kepatuhan dan responsivitas kelompok sasaran.
Dari berbagai definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh berbagai actor pelaksana kebijakan dengan sarana-sarana pendukung berdasarkan aturan-aturan yang mencapai tujuan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
2. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
UMKM adalah kependekan atau singkatan dari Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Berdasarkan Undang-Undang nomor 20 tahun 2008 mengenai pemberdayaan UMKM, pengertian UMKM dijabarkan menjadi 3 pengertian.
1. Usaha Mikro
Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam undang-undang yaitu memiliki aset kurang dari 50 juta di luar tanah dan bangunan dan omset maksimal 300 juta per tahun, laba usaha 2,5 juta perbulan.
2. Usaha Kecil
Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri dan dilakukan oleh orang peroranganatau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar.Memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini, yaitu memiliki aset 50 sampai 500 juta dan omset 300 sampai dengan 500 juta.
3. Usaha Menengah
Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar.Memenuhi kriteria usaha menengah dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini, yaitu memiliki aset 500 juta sampai 10 M dan omset 2,5 M sampai dengan 50 M.
Menurut Kwartono (2007) UMKM adalah kegiatan ekonomi rakyat yang punya kekayaan bersih maksimal Rp 200.000.000 dimana tanah dan bagunan tempat usaha tidak diperhitungkan.Dan atau mereka yang mempunyai omset penjualan paling banyak Rp 1.000.000.000 dan milik warga negara Indonesia.
Menurut Rudjito (2003) UMKM adalah usaha yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian negara Indonesia, baik dari sisi lapangan kerja yang tercipta maupun dari sisi jumlah ushanya.
Menurut Ina Primana (2009) UMKM adalah pengembangan empat kegiatan ekonomi utama yang menjadi motor penggerkan pembangunan Indonesia, yaitu:
1. Industri manufaktur 2. Agribisnis
3. Bisnis kelautan 4. Sumber daya manusia
Disamping itu, Ina Primana juga mengatakan bahwa UMKM dapat diartikan sebagai pengembangan kawasan andalan untuk mempercepat pemulihan perekonomian untuk mewadahi program prioritas dan pengembangan berbagai sector dan potensi. Sedangkan usaha kecil merupakan peningkatan berbagai upaya pemberdayaan masyarakat.
Menurut Zulkarnain (2006) Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memenuhi kriteria sebagai:
1. Usaha memiliki kekayaan paling banyak 200 juta rupiah, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
2. Usaha memiliki penjualan tahunan paling banyak 1 milliar rupiah. 3. Usaha yang berdiri sendiri, bukan perusahaan atau cabang perusahaan
yang dimiliki, dikuasai, atau terafiliasi, baiklangsung maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau skala besar.
4. Berbentuk badan usaha yang dimiliki perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, termasuk koperasi.
Dari definisi di atas usaha kecil dapat disimpulkan bahwa di dalam usaha kecil ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu:
a. Pemusatan kepemilikan dan pengawasan ditangan seseorang atau beberapa orang.
b. Terbatasnya pemisahan dalam perusahaan.
Menurut M. Tohar (2011) usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil, memenuhi kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta kepemilikan sebagaimana diatur dalam undang-undang.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Kabupaten Gowa Nomor 8 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Gowa, yaitu melaksanakan kewenangan desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantu serta kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota di bidang Koperasi dan UMKM sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Gowa mempunyai fungsi:
a. Perumusan kebijakan teknis dan program operasional Pembinaan dan Pengembangan Koperasi dan UMKM.
b. Penyusunan Pedoman tentang Kelembagaan Koperasi, usaha Mikro, Kecil dan Menengah serta memfasilitasi pembiayaan dan simpan pinjam.
c. Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.
d. Pelaksanaan tugas Pendidikan dan Pelatihan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.
e. Pelaksanaan urusan tata usaha Dinas. B. Kerangka Pikir
Gambaran kerangka pikir yang terkait dengan Implementasi Kebijakan Pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Gowa, dimana implementasi kebijakan pengembangan yang ditujukan kepada para pelaku UMKM di Kabupaten Gowa dan masyarakat yang bekerjasama dengan pemerintah ataupun pihak swasta, terdapat pula factor penghambat dan pendukung sehingga terlaksananya pengembangan UMKM ini. Berdasarkan Undang-Undang nomor 20 tahun 2008 mengenai pemberdayaan UMKM dan Peraturan Pemerintah Kabupaten Gowa nomor 8 tahun 2008 tentang organisasi, tata kerja koperasi dan UMKM Kabupaten Gowa. Bentuk implementasi kebijakan pengembangan UMKM dapat diliat dari setiap kebijakan yang diimplementasikan oleh Dinas Koperasi Dan UMKM Kabupaten Gowa.
Gambar 2.1 Kerangka Pikir C. Fokus Penelitian
Dalam bagan di atas dapat dipertimbangkan bahwa penelitian ini bertitik pada bentuk implementasi kebijakan dari pemerintah terhadap pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang ada di Kabupaten Gowa dan juga factor pendukung dan penghambat implementasi kebijakan pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah yang ada di Kabupaten Gowa, berutujuan untuk
Model implementasi kebijakan publik George C. Edward III (1980):
1. Komunikasi 2. Sumber daya 3. Disposisi
4. Struktur birokrasi
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI DINAS KOPERASI DAN UMKM KABUPATEN GOWA
Bentuk Implementasi kebijakan pengembangan dan pemanfaatan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Gowa.
meningkatkan taraf perekomonian dan kesejaterahan para pelaku usaha dan masyarakat yang nantinya akan berdampak besar terhadap perekonomian di Indonesia.
D. Deskripsi Fokus Penelitian
Penelitian ini adalah hal penting yang menjadi tugas pemerintah terkhususnya di Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Gowa dalam melakukan peranannya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pengembangan setiap pengusaha pada sector usaha mikro, kecil dan menengah yang ada di Kabupaten Gowa.
1. Komunikasi adalah hal yang sangat penting untuk memaksimalkan sosialisasi yang dilakukan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Gowa kepada para pelaku usaha di sector usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang ada di Kabupaten Gowa.
2. Sumber daya adalah hal yang sangat mendesak bagi setiap pengusaha yang bergerak di sector usaha mikro, kecil dan menengah di Kabupaten Gowa karena menjadi factor yang dapat mengembangkan usaha-usahanya.
3. Disposisi atau sikap dari pelaksana kebijakan adalah faktor penting dalam pendekatan mengenai pelaksanaan suatu kebijakan publik. Begitu pula yang diimplementasikan oleh Dinas Koperasi dan UMKM kepada pera pelaku usaha mikro, kecil dan menengah yang ada di Kabupaten Gowa.
4. Struktur organisasi adalah patokan untuk mengaplikasikan kebijakan-kebijakan yang ada di Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Gowa, semakin tersrukturnya maka semakin maksimal pula setiap kebijakan yang akan diaplikasikan kepada para pelaku usaha di sector UMKM yang ada di Kabupaten Gowa.
5. Faktor Pendukung adalah factor-faktor yang mendukung implementasi kebijakan pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah di Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Gowa seperti adanya bentuan sosialisasi dari para tokoh masyarakat untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan implementasi kebijakan pengembangan UMKM yang ada di Kabupaten Gowa.
6. Faktor Penghambat adalah factor-faktor yang menghambat implementasi kebijakan pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah di Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Gowa seperti pendataan usaha mikro, kecil dan menengah yang terbilang lawas.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian akan dilakukan selama 2 bulan dari 16 September sampai dengan 16 oktober 2019. Terkait untuk mencari data dan juga mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang telah diterapkan oleh pemerintah. Tempat dilaksanakannya penelitian ini yaitu di Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Gowa dan disetiap usaha-usaha di sektor UMKM yang ada di Kabupaten Gowa. B. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan melakukan pengambilan data, wawancara. Metode tersebut untuk membuktikan setiap fakta terkait dengan implementasi kebijakan Dinas Koperasi dan UMKM Gowa dalam pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan juga terkait dengan factor pendukung dan factor penghambat implementasi kebijakan pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah yang ada di Kabupaten Gowa.
Jenis dan Sumber Penelitian: 1. Data primer
2. Data Sekunder C. Sumber Penelitian
Sumber data primer yaitu sumber data yang pokok utama dan langsung dengan kata lain sumber data itu diperoleh dari Pegawai Negeri Sipil di Dinas Koperasi dan UMKM Kabupeten Gowa, wawancara kepada para pelaku di sektor
usaha mikro, kecil dan menengah yang ada di Kabupaten Gowa. Sumber data sekunder yaitu data pendukung dokumentasi atau pustaka referensi-referensi peraturan perundang-undangan, observasi yang diperoleh dari lokasi penelitian.
D. Informan Penelitian
Untuk mengukur bagaimana implementasi dari kebijakan pemerintah terhadap pengembangan UMKM yang ada di Kabupaten Gowa terkhusus di Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah yang ada di Kabupaten Gowa. Adapun teknik penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan purpose sampling, yaitu teknik pengambilan informan didasarkan atas tujuan tujuan tertentu (orang yang dipilih betul-betul memiliki kriteria sebagai informan).
Tabel 3.1 Informan Penelitian
No. Nama Informan Inisial Jabatan/Pekerjaan
1. Amiruddin, SE.M.Si AM
Kasubag Keuangan dan Perencanaan Dinas Koperasi dan UMKM
2. HJ. Darmawati R.SE.MBA DR
Sekertaris Dinas Koperasi dan UMKM
3. Nur Ummi Amriyani.S.IP NUA
Kepala Seksi Pengembangan UMKM
4. Muhammad Dziaul MD Pengelola Kedai HW Online 5. Muh. Nur Ikhsan MNI Pengelola Assipa Production 6. Santi Qeisya SQ Pengelola Qeisya Stokis Jazeera
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan cara pengamatan langsung terhadap pengimplementasian kebijakan pemerintah terhadap pengebangan UMKM.
2. Wawancara
Wawancara yaitu mengajukan pertanyaan kepada informan untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan implementasi kebijakan Dinas Koperasi dan UMKM tehadap pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah termasuk juga para pelaku UMKM itu sendiri guna mendapatkan factor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat implementasi kebijakan tersebut.
3. Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi yaitu melakukan kajian terhadap bahan-bahan tertulis yang menjadi dokumen yang tersimpan.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik kualitatif proses pengolahaan data dimulai dengan mengelompokkan data yang telah diperoleh dari penelitian di lapangan, yaitu dari hasil observasi yang sudah dituliskan dalam bentuk catatan lapangan, hasil wawancara, serta dokumentasi berupa artikel, gambar atau foto, dan sebagainya untuk diklasifikasikan dan dianalisa dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber. Proses analisis data ditempuh melalui proses reduksi data, sajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Mereduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian, pengabsahan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan yang muncul di lapangan. Data-data tersebut dipisahkan sesuai dengan permasalahan yang dimunculkan, kemudian dideskripsikan, diasumsi, serta disajikan dalam bentuk rupa sehingga kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasikan.
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disederhanakan dalam pengertian sejumlah data yang terkumpul melalui teknik observasi, teknik wawancara dan dokumentasi digabung menjadi satu kemudian dicoba untuk dibakukan dan diolah serta dipilah-pilah menurut jenis atau golongan pokok bahasannya. Karena data yang diperoleh masih dalam bentuk uraian panjang, maka perlu sekali untuk direduksi. Penyajian data dimaksudkan sebagai langkah pengumpulan informasi yang tersusun dan memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.Selain mereduksi dan menyajikan data, tindakan selanjutnya adalah verifikasi dan menarik kesimpulan. Verifikasi dilakukan untuk memeriksa dan mencocokkan kebenaran data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi lalu disimpulkan. Simpulan tersebut tidak mutlak tetapi sifatnya lentur, dalam arti ada kemungkinan berubah setelah diperoleh data yang baru.
G. Keabsahan Data
Peneliti dalam melakukan teknik pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan trianggulasi. Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut. Pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi dan wawancara dengan informan. Oleh karena itu, untuk mendapatkan data yang valid dan ada kecocokan satu sama lain, peneliti mengadakan trianggulasi sumber data melalui pemeriksaan terhadap sumber lainnya yaitu dengan membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian