BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Hasil Penelitian
3. Struktur Dasar Keseluruhan
Peneliti menemukan bahwa pada subjek satu atau T merasa tidak siap
ketika suami meninggal karena proses yang dialami berlangsung cepat dan
tidak pernah ada keluhan sakit yang dirasakan suami sebelumnya. T kaget
dan tidak mengira jika suami akan meninggal. T tidak ikhlas dengan
kepergian suami yang mendadak. T merasa sedih, bingung menjalani hidup,
memikirkan anak-anak dan biaya hidup. T seperti tidak punya kejelasan
akan masa depan untuk diri dan anak-anaknya. Saat suami T meninggal, T
berpikir bahwa sebaiknya ia tidak terlalu banyak berinteraksi dengan orang
lain terutama laki-laki karena mengingat status yang disandang T sekarang
adalah janda. T membutuhkan waktu satu tahun agar dapat beraktifitas
normal seperti sebelumnya. Setelah suami meninggal, T tidak berdaya
menjalani hari-harinya tanpa sang suami. T mulai menarik diri dari
lingkungan karena masih merasa sedih dan bingung menjalani hidup. Dalam
hari-hari berdukanya, T lebih mendekatkan diri pada Tuhan. T setiap hari
pergi ke masjid untuk solat dan mendengarkan ceramah agar membuat
batinnya tenang. T juga berhenti berjualan soto karena dengan membuka
warung soto membuat intensitas pertemuan yang sering dan panjang dengan
pembeli dan T menghindari itu karena T tidak ingin banyak berinteraksi
dengan lawan jenis. Saat suami meninggal, T merasa putus harapan, T putus
asa dengan kejadian yang menimpanya.
Tetapi T mendapatkan dukungan sosial yang besar dari keluarga dan
anak-anak. Dukungan yang didapat berupa dukungan emosi dan
instrumental. T tidak mendapatkan dukungan keuangan dari keluarga tetapi
anak tertua T membantu perekonomian keluarga. Dukungan ini menjadikan
T dapat bangkit dan meneruskan hidup demi diri dan anak-anak. T tetap
harus bertahan hidup tanpa suami dan mencari nafkah sendiri untuk
keluarga.
Setelah suami meninggal, T mulai dapat merelakan kepergian suami.
Walaupun begitu, T masih mengingat kenangan kebersamaan dengan suami
dan anak-anaknya. T mengenang saat-saat menyenangkan bersama
suaminya. Suami T sering mengajak berjalan-jalan sepulang kerja.
Kenangan akan sifat-sifat suaminya juga masih membekas hingga sekarang.
Maka dari itu, T mulai menghindari tempat atau situasi yang dapat
mengingatkan tentang suaminya. T masih teringat dan merasa sedih. Lalu T
mulai beradaptasi dengan status janda yang disandang. Muncul perasaan
minder dengan status janda yang disandang sekarang. T memandang negatif
status janda yang disandang karena T merasa rendah jika bergaul dengan
pria beristri di lingkungan tempat tinggalnya, T merasa tidak berharga.
Selain itu, T juga memikirkan pandangan orang lain terhadap dirinya. T
berpikir jika ia tidak bangkit dan mulai menjalani kehidupannya, orang akan
memandang T tidak dapat berbuat apa-apa setelah suami meninggal. Oleh
karena itu, T mulai menjaga jarak dengan lingkungan karena T merasa tidak
bebas ketika bergaul dengan pria beristri dengan status jandanya. T bersikap
hati-hati di masyarakat. T mengurangi berkumpul dan mengobrol dengan
tetangga terutama dengan pria beristri. Hal ini dilakukan untuk menjaga
perasaan dan juga untuk menghindari perbincangan di lingkungan.
T sudah dapat bangkit dan bertahan hidup tanpa suami. T menjalankan
usaha laundry untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. T harus bekerja dari
pagi untuk mulai mencuci baju-baju di laundry. Anak pertama T yang
memberikan modal untuk usaha laundry. Banyak perubahan aktifitas yang
dirasakan T. Sewaktu suami T masih hidup, ia tidak perlu bekerja dari pagi
dan jika T sakit ia bisa berhenti bekerja. Tetapi sekarang T tidak punya
pilihan lain selain harus bekerja dalam kondisi apapun. Tetapi T merasa
bebas dalam mengurus rumah tangga karena sudah tidak melayani suami dan
T mengalami perubahan tanggungjawab sebagai seorang istri.
T tidak menikah kembali setelah menjadi janda. T takut untuk kembali
menikah. Suami T pernah berpesan sebelum meninggal bahwa T tidak boleh
menikah lagi jika suami meninggal. Hal itu yang menjadikan T tetap
menjanda hingga sekarang. Selain itu, T takut jika mendapatkan suami yang
tidak sama dengan suami terdahulu sehingga membuat T masih merasa rindu
dengan suaminya.
T memiliki harapan untuk masa depannya bersama anak-anak. T
berharap agar diberi kesehatan sehingga dapat bersama anak-anak dan
mengasuhnya sampai tua. T juga berharap agar anak-anak dapat
menyelesaikan kuliahnya seperti pesan suami sebelum meninggal.
2. Subjek 2
Pada subjek dua atau E telah mengetahui jika suami memiliki penyakit
sejak muda. Ketika suami meninggal, E merasa sedih, bingung menjalani
hidup, memikirkan anak-anak dan biaya hidup. Setelah suami meninggal, E
juga menarik diri dari lingkungan karena masih merasa sedih dan bingung
menjalani hidup. Dalam kesedihannya, E tidak mengikuti kegiatan apapun. E
hanya berdiam diri di rumah dan mengurus anak-anak. E membutuhkan
waktu satu tahun agar dapat beraktifitas normal seperti sebelumnya. Tetapi E
memiliki harapan untuk segera bangkit dari kesedihan dan melanjutkan
hidup demi diri dan anak-anak.
E mendapatkan dukungan sosial yang besar dari keluarga, teman,
tetangga dan anak-anak. Dukungan ini menjadikan E dapat bangkit dan
meneruskan hidup demi diri dan anak-anak. Tantangan yang harus dihadapi
E adalah harus bertahan hidup tanpa suami dan mencari nafkah sendiri untuk
keluarga serta membesarkan anak-anak. E mendapatkan bantuan biaya dari
keluarga besar untuk kebutuhan anak-anak.
Setelah suami meninggal, E mulai dapat merelakan kepergian suami
masing. E mulai beradaptasi dengan status janda yang disandang. Muncul
perasaan minder dengan status janda yang disandang sekarang. E merasa
minder dengan status jandanya karena ia melihat teman-teman dan
saudaranya belum ada yang menjadi janda seperti dirinya. Tetapi E mencoba
berpikir positif dan E tidak mempedulikan omongan di masyarakat tentang
status jandanya. E tetap beraktifitas seperti biasa dan bergaul di masyarakat.
Hal yang dipikirkan E adalah bagaimana mencari uang untuk anak-anak dan
fokus membesarkan anak-anak. E juga sering mengenang kebersamaan
dengan suami. Sewaktu hidup suami E sering mengajak pergi anak-anak ke
taman bermain ketika akhir pekan. Hal itu sering dilakukannya.
E mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan membuka usaha salon,
laundry dan kost-kostan. Usaha ini juga sebagai penyaluran hobi E yang
senang untuk memotong rambut. E menjadikan hobi sebagai penyaluran dari
rasa sedih dan juga untuk mencari nafkah. Banyak perubahan yang E
rasakan ketika menjadi janda. Sewaktu suami masih hidup, E tidak harus
bekerja karena sumber keuangan utama berasal dari suami. Tetapi sekarang
E harus bekerja sendiri. E juga kehilangan teman berbagi karena E terbiasa
menceritakan segala hal pada suaminya. Sekarang peran teman berbagi
digantikan oleh ketiga anak perempuan E.
Setelah menjadi janda,E tidak menikah kembali E takut untuk kembali
menikah karena suami E pernah berpesan sebelum meninggal bahwa E tidak
boleh menikah lagi jika suami meninggal. Hal itu yang menjadikan E tetap
menjanda hingga sekarang. Jika E menikah kembali, ia harus meninggalkan
rumah dan anak-anak. E memilih untuk tidak menikah karena ia tidak rela
meninggalkan anak-anak.
Sekarang E sudah dapat menerima dirinya sebagai seorang janda. E
merasa bahwa menjadi janda adalah sebuah takdir yang harus dijalani. E
sudah terbiasa menjalani hari-harinya. E juga tidak perduli omongan orang
yang memandang negatif status jandanya. Di dalam masyarakat, E
berperilaku seperti orang pada umumnya. E juga memiliki harapan untuk
masa depannya bersama anak-anak. E berharap agar diberi kesehatan
sehingga dapat bersama anak-anak dan mengasuhnya sampai tua. E juga
berharap agar anak-anak dapat menyelesaikan kuliahnya seperti pesan suami
sebelum meninggal.
Dalam dokumen
Dinamika psikologis pengalaman hidup wanita usia dewasa madya setelah kematian pasangan - USD Repository
(Halaman 69-75)