• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA FARADITHA

4.1 Kepribadian Tokoh Utama

4.1.3 Struktur Kepribadian Superego (Das Uberich) Metta

Superego adalah sistem kepribadian yang berhubungan dengan nilai nilai

moralitas kehidupan. Superego ini terbentuk melalui internalisasi berbagai nilai dan norma yang represif yang dialami seseorang sepanjang perkembangan kontak sosialnya dengan dunia luar, terutama dimasa kanak-kanak. Superego ini merupakan dasar moral dari hati nurani. Aktivitas superego ini berupa, kritik diri, larangan, dan berbagai tindakan refleksi lainnya. Berikut beberapa kutipan dari novel sin yang menggambarkan struktur kepribadian superego yang ada di dalam diri Metta.

“Ini siapa?” Tunjuk sonya tiba-tiba mengarah tepat kepada Metta.

Raga yang ditanya seperti itu menatap Metta sesaat sebelum cewek itu yang mengambil alih.

“Gue ceweknya Raga.” Metta menyodorkan tangannya penuh percaya diri

“Ayok, kenalan sama gue.” Lanjut Metta.

Anak itu memandang sekilas pada tangan Metta. “Bang Raga gak punya pacar. Jangan ngaku-ngaku, deh.” Kata sonya. (Faraditha 2017 : 66)

Kutipan di atas menggambarkan tentang Metta yang bertemu dengan adiknya Raga bernama Sonya. Anak itu bingung siapa Metta, ia tidak pernah melihatnyaa sebelumnya. Akhirnya ia bertanya pada abangnya Raga, namun sebelum Raga

40

menjawabnya Metta dengan inisiatif sendiri memperkenalkan dirinya pada sonya.

Sesuai dengan nilai moral di negara kita saat bertemu dengan orang baru,Metta memperkenalkan dirinya dan mengajak sonya bersalaman. Hal yang di lakukan Metta ini sejalan dengan superego mengendalikannya untuk berbuat sesuatu yang sesuai dengan moral realita.

TV yang menyala di depannya berbunyi nyaring agar kesunyian tidak terlalu terasa. Setelah selesai makan, ia beranjak ke dapur, membuang sampah makanannya, lalu kembali ke ruang tv. Mengambil ponsel dan menelpon sebuah nomor. (Faraditha 2017:102)

Kutipan di atas menunjukan superego Metta yang menyuruh gadis itu membuang sampah dan tidak meninggalkannya di sana. Anjuran menjaga kebersihan dalam kehidupan sudah menjadi bagian dari kehidupan Metta. Dan inilah superego-nya, ketika larangan, anjuran, dan perintah yang berasal dari luar diterima sepenuhnya yang lambat laun di hayati sebagai miliknya.

“Lo kenapa jadi betah nongkrong di sini? Tanya Raga kepada Metta yang sudah duduk di kursi panjang terlebih dulu. Tempat di mana biasanya dia duduk.

“Nah” Metta yang melihat kedatangan Raga langsung menepuk nepuk tempat kosong disebelahnya. “ Sini duduk. Di tungguin dari tadi.”

“Gue di situ, lo yang geser (Faraditha 2017:108)

Kutipan di atas menceritakan tentang Metta yang dengan sabar menunggu Raga di taman belakang sekolah. Ia duduk sendiri di kursi panjang taman itu sambil menunggu Raga. ketika ia melihat Raga datang senyum pun terukir di wajahnya,

41

dan superego yang merupakan struktur kepribadian yang berlandaskan pada nilai-nilai membuat Metta dengan refleks mempersilahkan Raga duduk di sebelahnya.

Setelah keluar dari jalan tol, hamparan pepohonan mulai terlihat di sekitar.

Suasana sunyi terpecah oleh kalimat tiba-tiba Metta.

Nyokab gue hari ini ulang tahun, Gue mau ngerayain, lo kan pacar gue jadi sekalian mau gue kenalin.”

“Siapa yang pacar lo?” Tanya Raga

“Ck. Tuh kan mulai.” Ucap Metta

“Lagian, kenapa bukan sama teman-teman lo aja. Kenapa maksa gue buat nganterin?” Tanya Raga

“Nah, temen-temen gue aja gak pernah gue ajakin. Jadi, lo salah satu orang yang beruntung kali ini.” Jawab Metta (Faraditha 2017 :127)

Dalam kutipan diatas di gambarkan tentang Metta yang mau mengajak Raga untuk merayakan ulang tahun ibunya. Raga tidak habis pikir dengan Metta, ia bertanya pada gadis itu kenapa harus dirinya lah yang menamani gadis itu merayakan ulangtahun ibunya, tapi Metta tidak mau tau, ia hanya ingin Raga menemaninya karna Raga adalah pacarnya. Dari kutipan di atas terlihat jelas superego yang di miliki Metta yang ingin merayakan ulang tahun sang ibunda dan

Metta pun melaksanakannya. Ia tidak melupakan hari penting wanita yang sangat ia sayangi, yaitu Ibu-nya.

42

“Tidak apa-apa mbo,” Jawab Metta (Faraditha 2017 : 128)

Dari kutipan di atas terlihat bawa Metta datang di tempat di mana ia merayakan ulang tahun ibunya. Tapi sesampainya di sana ia bertemu dengan si Mbo yang terlihat senang melihat Metta. Ketika si Mbo menyambut Metta, gadis itu pun dengan ramah membalasnya. Ia juga bertanya balik tentang bagaimana kabar si Mbo sebagai bentuk perhatian dan rasa hormat kepada yang lebih tua.

Metta meletakkan kotak kue di atas rumput dan membukanya, menampilkan ukiran selamat ulang tahun dan nama Rinjani di atasnya, tanpa lilin.

“selamat ulang tahun, bu.” Ucap Metta sambil mengusap batu nisan berwarna abu-abu.

“hari ini Ibu ulang tahun lagi. Enggak kerasa ya, sesuai janji Metta tahun lalu, kali ini kuenya rasa coklat. Ada hiasan bunga-bunganya juga.”

Raga masih diam di tempatnya berdiri. Menemukan gundukan tanah di tengah halaman luas ini adalah hal yang cukup mengejutkan baginya.

“hari ini Metta enggak sendirian...” Metta menoleh ke arah Raga dan melambai menyuruh Raga mendekat. (Faraditha 2017:129)

Dari kutipan di atas di ceritakan tentang betapa sayangnya Metta kepada almarhum ibunda tercinta, ia membawa kue sesuai yang di janjikannya tahun lalu, meskipun sudah tidak mungkin lagi seorang yang sudah meninggal bisa

43

menikmati kue tersebut namun Metta dengan tulus selalu membawa kue untuk merayakan ulang tahun sang ibunda. Ia juga memperkenalkan Raga pada ibunya, ia tidak melupakan lelaki yang ia paksa untuk menemaninya datang ke sana. Dari sini terlihat bahwa Metta adalah gadis penyayang orangtua dan tidak pernah lupa dengan ibunya meskipun sudah tiada.

Lo lagi ngerjain apaan sih dari tadi? Tanya Metta melihat Raga terus fokus pada kertas folio bergaris.

“Tugas.” Jawab Raga

Metta bergeser mendekat dan meletakkan ddagunya di lengan Raga.

“Tugas apa?”

“Tugas yang harusnya gue kerjain kemarin dan dikumpul hari ini.” Jawab Raga

Metta tersentak “Lo sih ngajak gue jalan!” Merasa bersalah, Metta merebut buku paket dan kertas folio dari tangan Raga. “Biar gue yang kerjain.” (Faraditha 2017: 189)

Dari kutipan di atas terlihat kepribadian Superego Metta yang merasa bersalah pada Raga karna harus membawanya jalan kemarin. Meskipun bukan Metta yang mengajak jalan keluar tapi ia tau semua itu dilakukan Raga demi dirinya. Hal itu pun membuat ia merasa bersalah karna Raga tidak dapat menyelesaikan tugas yang harusnya diselesaikannya semalam dan sehingga membuat Raga kewalahan menyelesaikannya saat ini karna harus di kumpul hari ini juga. Tentu saja sebagai manusia Metta memilki perasaan bersalah, dan inilah yang saat ini ia alami.

Sebagai bentuk permintaan maafnya ia menawarkan diri untuk membantu Raga mengerjakan tugasnya tersebut.

44

Raga terkekeh. Mengambil alih buku itu dan melanjutkan tugasnya.

“Gue kipasin aja.” Metta mengambil buku asal di atas meja dan mengipaskan ke arah Raga. “ Apa mau gue pijitin?”

“Gue beliin makanan di kantin mau?”

“Atau minuman?”

“Atau gue minta izin sama guru biar lo bisa ngerjain tugas sampai selesai?”

Raga mengangkat matanya dari buku. Ia melihat Metta sangat bersemangat ingin membantunya. (Faraditha 2017: 190)

Dari kutipan di atas terlihat kepribadian superego Metta kembali merasa bersalah pada Raga karna tidak dapat membantunya untuk menyelesaikan tugas Raga yang menurutnya sangat sulit. Oleh karena itu, ia menawarkan banyak hal untuk mengurangi rasa bersalah itu, seperti mengipas, menawarkan beli makan dan lain sebagainya.

“Metta,” panggilan itu membuat Metta menurunkan ponsel dan berusaha tersenyum.

“Yang sabar ya, masih sempat kok, nak. Nanti mama bilangin sama bu Lastri buat ngerjain gaunnya lebih cepat.” Metta mengangguk. Meski kekesalannya belum juga surut. Carlita mengusap pipinya. “Percaya sama mama, Raga juga sama semangatnya kayak kamu ngurus pernikahan ini.” (Faraditha 2017: 432)

Dari kutipan di atas terlihat Metta yang sedang marah namun tetap menghormati Carlita sebagai orang tua dari Raga. Saat carlita memanggilnya waktu sedang bermain ponsel, segera ia menutup ponselnya dan mendengarkan Carlita berbicara padanya.

45

4.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepribadian Tokoh Utama Metta