HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Struktur komunitas mangrove
Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian didapatkan 4 jenis yang termasuk kategori pohon, dan 5 jenis kategori anakan (Tabel 4.3 dan Tabel 4.4). Stasiun III merupakan daerah yang bervegetasi heterogen. Sedangkan pada stasiun I dan II vegetasi homogen yaitu Nipah (Nypa fruticans) dan Berembang (Sonneratiacaseolaris).
28
Tabel 4.3 Indeks nilai penting vegetasi mangrove kategori pohon pada stasiun 3.
Nama Lokal Spesies Jumlah Individu KR (%) FR (%) DR (%) INP (%) Buta- buta Excoecharia agallocha 14 50,00 30,00 42,77 122,77
Teruntun Lumnitzera racemosa 4 14,29 20,00 32,16 66,4 Mata
Buaya Bruguiera hainesii 8 28,57 30,00 15,91 74,48 Prepat Sonneratia alba 2 7,14 20,00 9,16 36,30
Total 28 100 100 100 300
Tabel 4.4 Indeks nilai penting vegetasi mangrove kategori anakan pada stasiun 3.
Nama Lokal Spesies Jumlah Individu KR (%) FR (%) DR (%) INP (%)
Teruntun Lumnitzera racemosa 4 14,29 20,00 14,29 48,58
Mata
Buaya Bruguiera hainesii 6
21,43 30,00 18,39 69,81
Dungun Heritiera littoralis 1 3,57 10,00 1,55 15,12
Buta-buta Excoecaria agallocha 16 57,14 30,00 64,58 151,72
Nyirih Xylocarpus granatum 1 3,57 10,00 1,19 14,76
Total 28 100 100 100 300
Hasil analisis vegetasi mangrove menunjukkan bahwa spesies buta-buta (Excoecaria agallocha) memiliki INP tertinggi untuk kategori pohon dan anakan sebesar 122,77 % dan 151,72%. Tingginya nilai INP pada spesies E. agallocha
diduga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya kepadatan kijing pada stasiun III. Hal ini dikarenakan sifat hidup E. agallocha yang akan menggugurkan daun pada musim-musim tertentu, sehingga produksi serasah meningkat. Tingginya serasah akan menyebabkan peningkatan kandungan bahan organik pada kawasan ini. Kandungan bahan organik yang tinggi dapat mempengaruhi ketersediaan makanan bagi kijing. Hal yang sama dinyatakan oleh Efriyeldi (2012), bahwa daerah dengan kandungan bahan organik yang tinggi memiliki kepadatan populasi bivalvia jenis Pharella acutidens yang tinggi juga.
Nilai INP yang tinggi pada jenis E. agallocha pada stasiun III diduga karena pada stasiun ini merupakan daerah yang paling sesuai bagi perkembangan pohon buta-buta, serta ketersedian unsur hara tanah yang akan mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan. Hal yang sama diungkapkan oleh Resosoedarmo et al
(1989), dalam suatu komunitas pengendali kehadiran jenis-jenis dapat berupa satu atau beberapa jenis tertentu atau dapat pula sifat-sifat fisik habitat.
29
Hasil analisis vegetasi mangrove juga menunjukkan adanya perbedaan antara spesies pada kategori pohon dan anakan pohon. Pada kategori pohon tidak ditemukan spesies Xylocarpus granatum (Nyirih), sedangkan pada kategori anakan spesies ini ditemukan dengan nilai INP terendah (14,76%). Fenomena ini diduga terkait aktivitas penebangan hutan mangrove yang dilakukan oleh masyarakat sekitar lokasi penelitian. Spesies ini merupakan spesies yang paling banyak di tebang untuk di manfaatkan sebagai bahan bangunan, perahu (bahan konstruksi ringan). Sehingga spesies ini tidak ditemukan dalam ukuran yang termasuk kedalam kategori pohon (diameter >10 cm).
Hasil pengamatan menunjukkan pada stasiun III kerapatan pohon sebesar 155,5 ind/ha, dan kerapatan anakan sebesar 933,3 ind/ha. Kerapatan keseluruhan antara pohon dan anakan sebesar 1088,85 ind/ha, oleh karena itu vegetasi mangrove pada stasiun III termasuk dalam kondisi sedang. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 201 (2004), kondisi hutan mangrove dikatakan baik bila vegetasi mangrovenya memiliki kerapatan vegetasi
≥ 1500 ind/ha, kondisi sedang bila memiliki kerapatan vegetasi ≥ 1000 ind/ha sampai < 1500 ind/ha dan kondisi rusak bila memiliki kerapatan vegetasi < 1000 ind/ha.
4.5 Sedimen
Hasil analisis ukuran butiran sedimen menunjukkan perbedaan komposisi butiran disetiap stasiunnya. Skala ukuran butiran tanah sesuai dengan kelas ukuran butiran yang dikeluarkan oleh United State Department of Agricultural (USDA, 2006) ukuran secara umum dibagi menjadi 3 kelas ukuran yaitu, pasir (Sand), debu (Silt), dan Liat (Clay). Hasil analisis seperti pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Tekstur tanah berdasarkan komposisi ukuran butiran tanah berdasarkan USDA. Stasiun Fraksi Total % Tekstur Pasir % Debu % Liat %
I (Nypa fruticans) 44,56 31,28 24,16 100 Lempung
II (Soneratia spp) 32,56 33,28 34,16 100 Lempung Berliat III (Heterogen) 50,56 27,28 22,16 100 Lempung Liat Berpasir
30
Hasil analisis menunjukkan bahwa tekstur tanah di ketiga stasiun adalah lempung (liat), dengan karakteristik tanah berwarna hitam, memiliki butiran yang halus, USDA (2006) menyatakan bahwa ukuran butiran lempung (liat) adalah <0,002 mm, jenis tekstur ini memiliki sifat yang unik keras apabila dalam keadaan kering dan lengket apabila dalam keadaan basah.
Hasil pengamatan tekstur tanah, memperlihatkan adanya perbedaan tekstur pada setiap stasiun penelitian. Stasiun I diperoleh tekstur lempung (Loam), stasiun II lempung berliat (Clay loam), sedangkan pada stasiun III tekstur tanahnya lempung liat berpasir (Sandy-clay Loam). Perbedaan tekstur ini diduga berkaitan dengan jenis vegetasi. Vegetasi yang berbeda memiliki jenis perakaran yang berbeda pula, sehingga kemampuan dalam menjerat partikel sedimen akan berbeda. Hal yang sama diungkapkan oleh Indah et al, (2009) bahwa sistem perakaran mangrove mempengaruhi kelas tekstur yang terbentuk pada kawasan hutan mangrove. Komposisi fraksi merupakan faktor yang terpenting dalam penentuan kelas tekstur tanah. Jumlah fraksi tertentu akan membentuk satu jenis takstur tanah. Komposisi tekstur berdasarkan USDA (2006) seperti pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Proporsi fraksi menurut kelas tekstur tanah
No Kelas Tekstur Tanah Proporsi (%) Fraksi Tanah
Pasir Debu Liat
1. Pasir (Sandy) >85 <15 <10 2. Pasir berlempung (Loam Sandy) 70-90 <30 <15 3. Lempung berpasir (Sandy loam) 40-87,5 <50 <20 4. Lempung (Loam) 22,5-52,5 30-50 10-30 5. Lempung liat berpasir (Sandy clay loam) 45-80 <30 20-37,5 6. Lempung liat berdebu (Sandy silt loam) <20 40-70 27,5-40 7. Lempung berliat (Clay loam) 20-45 15-52,2 27,5-40 8. Lempung berdebu (Silty loam) <47,5 50-87,5 <27,5
9. Debu (Silt) <20 >80 <12,5
10. Liat berpasir (Sandy clay) 45-62,5 <20 37,5-57,5 11. Liat berdebu (Silty clay) <20 40-60 40-60 12. Liat (Clay) <45 <40 >40 Sumber : USDA (2006)
31
Pada stasiun I substrat yang didapat adalah lempung (Loam), jenis tekstur ini terbentuk karena pada stasiun I fraksi pasir berada pada kisaran 44,56 %, debu 31,28 %, dan liat 24,16%. Stasiun II dibentuk oleh fraksi pasir sebesar 32,56%, debu 33,28%, dan liat 34,16%, dari komposisi ini maka kelas tekstur termasuk kedalam lempung berliat (Clay loam). Pada stasiun III didapat tekstur berupa lempung liat berpasir (Sandy clay loam) yang terbentuk dari komposisi fraksi pasir sebesar 50,56%, debu 27,28%, dan liat 22,16%. Hal ini sesuai dengan USDA (2006) bahwa substrat lempung terbentuk dari fraksi pasir 22,5 - 52,5%, fraksi debu 30 - 50%, dan fraksi liat 10 - 30%. Substrat lempung berliat terbentuk dari komposisi fraksi pasir 20 - 45%, debu 15 - 52,5%, dan liat 27,5 - 40%. Selanjutnya pada stasiun III didapat substrat lempung liat berpasir, jenis ini terbentuk dari pasir 45 - 80%, debu <30%, dan liat 20 - 37,5%. Nilai dari masing- masing fraksi dimasukkan kedalam segitiga tekstur tanah untuk mendapatkan kelas tekstur (Gambar 4.4).
Gambar 4.4 Tekstur Sedimen berdasarkan USDA (2006). (a). Stasiun 1, (b). Stasiun 2, dan (c). Stasiun 3.
32
Stasiun I dan stasiun II yang merupakan hutan mangrove dengan vegetasi nipah dan berembang memiliki kelas tekstur berupa lempung dan lempung berliat, hal ini diduga karena tingginya nilai fraksi liat dan debu. Fraksi liat dan debu akan membentuk lumpur. Selain itu tekstur lempung juga diduga terbentuk karena stasiun I dan II merupakan stasiun yang berada pada muara sungai dan daerah pembuangan limbah tambak yang banyak membawa partikel lumpur dari daratan. Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Patang (2009) bahwa muara sungai merupakan salah satu sumber lumpur yang ada pada hutan mangrove. Selain itu dekomposisi serasah akan berpengaruh pada pembentukan tekstur tanah, serasah dan akar mangrove akan membantu proses pengikatan partikel debu dan liat sehingga lama-kelamaan partikel tersebut akan mengendap dan membentuk lumpur (Setiawan, 2013).
Pada ketiga stasiun ditemukan bahwa fraksi pasir merupakan fraksi yang mendominasi dari kedua fraksi lainnya dengan nilai 32,56 - 50,56 %. Hal sama juga didapat oleh Natan (2008) pada hutan mangrove Teluk Ambon bagian dalam dengan persentasi pasir berkisar 73,95 - 87,15%. Pada stasiun III ditemukan fraksi pasir mendominasi sebesar 50,56%, sehingga terbentuk tekstur berupa lempung liat berpasir, hal ini diduga karena stasiun ini berada pada paluh yang lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas laut, sehingga partikel substrat juga didominasi oleh substrat pasir. Patang (2013) menjelaskan bahwa daerah yang tidak banyak mendapatkan masukan dari daratan akan memiliki substrat yang didominasi oleh substrat laut yakni pasir.
Pada stasiun III terdapat tekstur lempung liat berpasir merupakan daerah dengan kepadatan kijing tertinggi sebesar 2,93 Ind/m2. Hal ini terkait dengan kondisi substrat yang di dominasi oleh fraksi pasir. Substrat pasir akan menyebabkan terdapatnya rongga, sehingga substrat akan lebih sulit mengeras dalam kondisi kering. Hal yang sama disampaikan oleh Fitriana, 2005; Putri, 2005 bahwa tipe substrat perairan sangat menentukan penyebaran jenis-jenis hewan bentos yang hidup di dalamnya, seperti kerang pada umumnya hidup dengan membenamkan diri ke dalam sedimen pasir atau pasir berlumpur.
33