Pengertian umum semantik adalah disiplin ilmu bahasa yang menelaah makna suatu bahasa. Semantik dalam skema Van Dijk dikategorikan sebagai makna lokal, yakni makna yang muncul dari hubungan antar kalimat, hubungan
37 Eriyanto, Analisis Wacana, h. 231.
38 Alex Sobur, Analisis Teks Media, h. 78.
antar proposisi yang membangun makna tertentu dalam suatu bangun teks. Semantik tidak hanya mendefinisikan bagian mana yang terpenting dari struktur wacana, tetapi juga yang mengiringi kearah sisi tertentu dari suatu peristiwa.pada intinya, semantik membahas tentang makna yang ditekan kan dalam sebuah teks dan membahas tentang hubungan antar kalimat yang mempunyai makna tertentu dalam sebuah teks yang mempunyai makna tersirat.
Terdapat beberapa strategi semantik yaitu pertama;
latar. Latar merupakan bagian berita atau cerita yang mempengaruhi semantik (arti) yang ditampilkan. Latar yang dipilih menentukan kemana arah pandangan khalayak dibawa. Tujuan dari latar teks ini adalah membongkar apa maksud yang ingin disampaikan oleh pembuat teks. Kedua;
detail. Elemen wacana detail berhubungan dengan kontrol informasi yang ditampilkan seseorang (komunikator atau penulis skenario). Komunikator menampilkan informasi yang menguntungkan dirinya dan citra baik secara berlebihan dan digambarrkan secara mendetail. Dalam hal ini penulis skenario secara sengaja membuat sesuatu secara mendetail dengan tujuan menciptakan citra tertentu kepada khalayak. Ketiga; maksud. Elemen ini hampir sama dengan detail. Elemen maksud melihat informasi yang menguntungkan komunikator dan akan dirugikan secara
eksplisit dan jelas. Sebaliknya informasi yang merugikan akan disampaikan secara tersamar, implisit dan tersembunyi. Tujuan akhir dari maksud adalah memberikan informasi yang menguntungkan komunikator. Keempat;
peranggapan. Elemen ini merupakan pernyataan yang digunakan untuk mendukung makna suatu teks, dan biasanya pernyataan tersebut dipandang terpercaya sehingga tidak perlu dipertanyakan kembali. Disebut peranggapan karena pernyataan tersebut merupakan kenyataan yang belum terjadi, namun didasarkan pada anggapan yang masuk akal.39
b) Sintaksis
secara terminologi, kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani (sun = dengan + tattei = menempatkan), berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Dapat dikatakan bahwa sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat klausa, dan frase. Inti dari sintaksis adalah mengelompokan kata-kata menjadi sebuah kalimat.40
Dalam sintaksis ada beberapa strategi elemen yang mendukung, pertama; koheren. Koheren adalah pengaturan secara rapi kenyataan dan gagasan, fakta, ide yang menjadi
39 Alex Sobur, Analisis Teks Media, h. 78-79.
40Alex Sobur, Analisis Teks Media, h. 80.
suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang dikandungnya. Koherensi dalam analisis wacana adalah pertalian dan jalinan antar kata, proposisi atau kalimat. Dua buah kalimat atau proposisi yang menggambarkan fakta berbeda dapat dihubungkan dengan memakai koheren. Sehingga fakta yang tidak berhubungan sekalipun dapat menjadi perhubungan ketika komunikator menghubungkannya. Koherensi dapat ditampilkan melalui sebab akibat, bisa juga sebagai penjelas dan mudah. untuk diamati. Di antaranya kata hubung yang dipakai (dan, akibat, tetapi, lalu, karena meskipun) menyebabkan makna berlainan ketika hendak menghubungkan proposisi.41
Kedua; bentuk kalimat. Bentuk kalimat adalah bentuk sintaksis yang berhubungan dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas, logika kausalitas, akan diterjemahkan dalam bahasa menjadi susunan subjek (yang menerangkan) dan predikat (yang diterangkan). Bentuk kalimat bukan hanya persoalan teknis kebenaran tata bahasa, tetapi menentukan makna yang dibentuk oleh susunan kalimat. Dalam kalimat yang berstruktur aktif, seseorang yang menjadi subjek dari pernyataannya, sedangkan dari struktur pasif seseorang menjadi objek dari pernyataannya. Penempatan itu dapat mempengaruhi
41 Alex Sobur, Analisis Teks Media, h. 81.
makna timbul karena akan menunjukan bagian mana yang lebih ditonjolkan kepada khalayak.42
Ketiga; kata ganti. Kata ganti merupakan elemen untuk memanipulasi bahasa dengan menciptakan suatu komunitas imajinatif. Kata ganti timbul untuk menghindari pengulangan kata dalam kalimat-kalimat berikutnya dan menghindari segi-segi yang negatif. Dalam analisis wacana, kata ganti merupakan alat yang dipakai oleh komunikator untuk menunjukan dimana posisi seseorang dalam mengungkapkan sikapnya, seseorang dapat menguraikan kata ganti “saya” atau “kami” yang menggambarkan bahwa sikap tersebut adalah sikap resmi komunikator semata-mata. Tetapi ketika memakai kata ganti ”kita” menjadi sikap tersebut sebagai representasi dari sikap bersama dari suatu komunitas tertentu.43
c) Stilistik
Pusat perhatian stilistika adalah style, yaitu cara yang digunakan seorang pembicara atau penulis untk menyatakan maksud dengan menggunakan bahasa sebagai sarana. Apa yang disebut gaya bahasa itu sesungguhnya terdapat dalam segala ragam bahasa: ragam lisan dan tulisan, ragam sastra dan ragam non sastra, karena gaya
42 Alex Sobur, Analisis Teks Media, h. 81.
43 Alex Sobur, Analisis Teks Media, h. 82-83.
bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu untuk maksud tertentu. Akan tetapi secara tradisional gaya bahasa selalu ditautkan dengan teks sastra, khususnya teks secara tertulis. Intinya, stilistik merupakan kata yang digunakan untuk mengkonstruksi wacana, atau gaya bahasa yang digunakan untuk mengkonstruksi wacana, atau gaya bahasa yang digunakan oleh penulis.44
d) Retoris
Strategi dalam level retoris merupakan gaya yang diungkapkan ketika seseorang berbicara atau menulis.
Misalnya dengan pemakaian kata yang berlebihan (hiperbolik) atau bertele-tele. Retoris mempunyai fungsi persuasif dan berhubungan erat dengan bagaimana pesan itu ingin disampaikan kepada khalayak.45
Van Dijk membagi elemen retoris menjadi tiga bagian, pertama; grafis. Grafis merupakan bagian untuk memeriksa apa yang ditekankan atau ditonjolkan (yang berarti dianggap penting) oleh seseorang yang diamati dari teks. Dalam wacana skenario , grafis biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat lain dibandingkan tulisan lain (pemakaian huruf tebal, miring, garis bawah, dan huruf
44 Alex Sobur, Analisis Teks Media, h. 82.
45Alex Sobur, Analisis Teks Media, h. 83-84.
yang dibuat dengan ukuran besar). Bagian yang ditulis berbeda adalah bagian yang dianggap penting oleh komunikator, dimana ia menginginkan khalayak menaruh perhatian lebih pada bagian tersebut.46
Kedua; metafora. Metafora merupakan ornamen dari suatu berita atau script film. Metafora tertentu dipakai oleh pembuat teks secara strategis sebagai landasan berpikir, alasan pembenar atas pendapat atau gagasan tertentu kepada publik. Pembuat teks menggunakan kepercayaan masyarakat ungkapan sehari-hari, peribahasa, pepatah, petuah leluhur, kata-kata kuno, yang semuanya dipakai untuk memperkuat pesan utama.
Ketiga; ekspresi. Ekspresi dimaksudkan untuk membantu menonjolkan atau menghilangkan bagian tertentu dari teks yang disampaikan. Elemen ini merupakan bagian untuk memeriksa apa yang ditekankan dan ditonjolkan (yang berarti dianggap penting) oleh seseorang yang dapat diamati dari teks. Dalam teks tertulis, ekspresi ini muncul misalnya dalam bentuk grafis, gambar atau foto, sedangkan dalam film, ekspresi biasanya muncul dari wajah pemain atau biasanya kalimat yang dilontarkan yang berasal dari teks skenario.47
46 Eriyanto, Analisis Wacana pengantar analisis media, h. 259.
47 Eriyanto, Analisis Wacanapengantar analisis media, h. 259.
b. Kognisi Sosial
Kognisi sosial adalah titik kunci dalam memahami sebuah produksi teks atau cerita, maksudnya adalah selain meneliti teks penulis juga meneliti proses terbentuknya teks. Kognisi sosial menggambarkan bagaimana kesadaran mental penulis skenario membentuk teks. Untuk mengetahui hal tersebut, maka diperlukan wawancara mendalam kepada penulis skenario.48
c. Konteks Sosial
Menurut Van Dijk, wacana yang terdapat dalam sebuah teks adalah bagian dari wacana yang berkembang dalam masyarakat, sehingga untuk meneliti suatu teks perlu dilakukan wawancara seputar bagaimana wacana tentang suatu hal diproduksi dan dikonstruksi dalam masyarakat. Pada intinya, konteks sosial itu berhubungan dengan pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat atas suatu wacana.49