• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

A. Landasan Teori

3. Struktur Modal

3. Struktur Modal a) Pengertian Modal

Modal merupakan faktor yang amat penting bagi perkembangan dan kemajuan lembaga keuangan syariah sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat (Muhammad, p. 102). Secara tradisional, modal didefinisikan sebagai sesuatu yang mewakili kepentingan pemilik dalam suatu perusahaan berdasarkan nilai buku. Modal didefinisikan sebagai kekayaan bersih (net worth) yaitu selisih antara nilai buku dari aktiva dikurangi dengan nilai buku dari kewajiban (liabilites) (Zainul, 2002, p.157).

Dalam bank syariah modal bank dibagi menjadi dua yaitu modal inti dan modal pelengkap.

1) Modal inti terdiri dari:

a) Modal Setor, yaitu modal yang disetor secara efektif oleh pemilik. Bagi bank milik koperasi, modal setor terdiri dari simpanan pokok dan simpanan wajib para anggotanya.

b) Agio Saham, yaitu selisih lebih dari harga saham dengan nilai nominal saham.

c) Modal Sumbangan, yaitu modal yang diperoleh kembali dari sumbangan saham, termasuk selisih nilai yang tercatat dengan harga (apabila saham tersebut dijual).

d) Cadangan Umum, yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang ditahan dengan persetujuan RUPS.

e) Cadangan Tujuan, yaitu bagian laba setelah pajak yang disisihkan untuk tujuan tertentu atas persetujuan RUPS.

f) Laba Ditahan, yaitu saldo laba bersih setelah pajak yang oleh RUPS diputuskan untuk tidak dibagikan.

g) Laba Tahun Lalu, yaitu laba bersih tahun lalu setelah pajak, yang belum ditetapkan penggunaannya oleh RUPS. Jumlah laba tahun lalu hanya diperhitungkan sebesar 50 % sebagaimodal inti.

h) Laba Tahun Berjalan, yaitu laba sebelum pajak yang diperoleh dalam tahun berjalan. Laba ini diperhitungkan hanya 50% sebagai inti, bila tahun lalu rugi harus dikurangkan terhadap modal inti.

i) Bagian kekayaan bersih anak perusahaan yang laporan keuangannya dikonsolidasikan, yaitu modal inti anak perusahaan setelah dikompensasikan dengan penyertaan bank pada anak perusahaan tersebut.

Bila dalam pembukuan bank terdapat goodwill, maka jumlan modal inti harus dikurangkan dengan nilai goodwill tersebut. Bank

Syariah dapat mengikuti sepenuhnya pengkategorian unsur-unsur tersebut di atas sebagai modal inti, karena tidak ada hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Syari’ah (Muhammad, 2005, p. 249-250).

2) Modal pelengkap terdiri atas cadangan-cadangan yang bentuk bukan dari laba setelah pajak serta pinjaman yang sifatnya dipersamakan dengan modal dalam hal tertentu, dan dalam keadaan lain dapat dipersamakan dengan utang. Untuk modal pinjaman ini BIS (Bank Intenational (Settlement) menyebutnya dengan istilah "hybrid capital instrument" atau debt/equity capital instrumen; Dahulu sering pula disebut dengan istilah modal quasi. Pada "Laporan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum", dapat dibaca perincian modal pelengkap sebagai berikut:

a) Modal pinjaman.

b) Pinjaman subordinasi (maksimum 50% dari modal inti).

c) Peningkatan harga saham pada portofolio tersedia untuk diiual (50%).

d) Cadangan revaluasi aktiva tetap.

e) Cadangan umum PPAP (maksimum 1,25% dari ATMR). f) (ATMR= aktiva tertimbang menurut risiko)( Herman, 2012, p.

85-86).

Khusus menyangkut modal pinjaman dan pinjaman subordinasi, bank Syariah tidak dapat mengkategorikannya sebagai modal, karena sebagaimana diuraikan di atas, pinjaman harus tunduk pada prinsip qard dan qard tidak boleh diberikan syarat-syarat seperti ciri-ciri di atas atau syarat-syarat yang diharuskan dalam ketentuan tersebut (Muhammad, 2005, p. 251).

Dari hal ini dapat dilihat bahwa bank syariah adalah salah satu lembaga keuangan syariah yang cukup unik. Sebab dalam mekanismenya produk dapat dilakukan dalam jual beli atau memberikan dana untuk investasi. Hal ini tidak dapat dijalani oleh

selain bank syariah. Dengan demikian, beragamnya model transaksi tersebut menunjukkan peluang besarnya aktiva yang dapat di produktif.

b) Pengertian Sruktur Modal

Capital structure atau struktur modal merupakan proporsi atau perbandingan dalam menentukan pemenuhan kebutuhan belanja perusahaan, apakah dengan cara menggunakan utang, ekuitas, atau dengan menerbitkan saham (Brigham dan Gapenski: 2003). Sedangkan menurut Keown, et.al. (2005), struktur modal adalah panduan atau kombinasi sumber dana jangka panjang yang digunakan oleh perusahaan.

Fungsi modal dalam industri perbankan sangat penting karena selain digunakan untuk kepentingan ekspansi dan operasional, juga untuk memenuhi likuiditas. Dalam hal ini Bank wajib memenuhi ketentuan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang berlaku untuk peningkatan modal atau disebut Capital Adequacy Ratio (CAR) (Scohib, 2016, p. 3).

Salah satu cara untuk menguji kecukupan modal adalah dengan melihat rasio modal itu terhadap berbagai aset bank yang bersangkutan. Dimana, rasio kecukupan modal bank adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank mencari sumber dana untuk membiayai kegiatannya. Salah satu penilaian modal perbankan yaitu dengan menganalisis rasio permodalanya yang dijelaskan dengan CAR (Capital Adequecy Ratio) (Darmawi, 2012, p. 93).

Setiap keputusan pendanaan mengharuskan manajer perusahaan mempertimbangkan manfaat dan biaya dari masing-masing sumber dana yang akan dipilih karena masing-masing sumber dana memiliki pengaruh keuangan yang berbeda-beda. Dari beberapa uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan struktur modal adalah perbandingan antara modal sendiri dengan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR).

Rumus untuk mencari capital adequacy ratio (CAR) (Mila, 2017, p. 231)

Alasan CAR digunakan dalam penelitian ini dan tidak menggunkan DER adalah sebagai beriku:

1. Nilai DER tidak digunakan penelian ini karena tidak dapat menggambarkan modal perusahaan secara lebih detail dan hanya melihat jumlah modal sendiri dengan hutang jangka panjang, berbeda dengan CAR yang lebih detail dalam menggambarkan keadaan modal diperbankkan dan resikonya.

2. semakin tinggi nilai CAR mengindikasikan bahwa bank telah mempunyai modal yang cukup baik dalam menunjang kebutuhannya serta menanggung risiko-risiko yang ditimbulkan termasuk di dalamnya risiko kredit. Sehingga bank dengan CAR yang besar cenderung akan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank tersebut.

Kebijakan struktur modal melibatkan adanya suatu pertukaran antara risiko dan return:

1) Penggunaan lebih banyak utang akan meningkatkan risiko yang ditanggung oleh para pemegang saham, misal risiko insolvabilitas, kenaikan suku bunga dan financial distress.

2) Namun, penggunaan utang yang lebih besar biasanya akan menyebabkan terjadinya ekspektasi return atas ekuitas menjadi lebih tinggi. Misalnya adanya penghematan pajak karena bunga yang akhirnya dapat meningkatkan Earning Per Share dan return on Equity.

Faktor-faktor utama yang mempengaruhi keputusan struktur modal adalah:

1) Stabilitas penjualan. Sebuah perusahaan yang penjualannya relatif stabil dapat dengan aman mengambil lebih banyak utang dan menanggung beban tetap yang lebih tinggi daripada perusahaan dengan penjualan yang tidak stabil.

2) Struktur aktiva. Perusahaan yang aktivanya cocok sebagai jaminan atas pinjaman cenderung lebih banyak menggunakan utang. Aktiva untuk tujuan umum yang dapat digunakan oleh banyak bisnis dapat menjadi jaminan yang baik, dan sebaliknya pada aktiva untuk tujuan khusus. Jadi, perusahaan real estat biasanya suangat terungkit, sedangkan perusahaan yang terlibat dalam riset teknologi tidak.

3) Leverage operasi. lika hal-hal yang lain dianggap sama, perusahaan dengan leverage operasi yang lebih sedikit memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menerapkan leverage keuangan karena perusahaan tersebut akan memiliki risiko bisnis yang lebih kecil. 4) Tingkat pertumbuhan. Jika hal-hal yang lain dianggap sama,

perusahaan yang tumbuh dengan cepat harus lebih banyak mengandalkan diri pada modal eksternal. Lebih jauh, biaya emisi yang terkait dalam penjualan saham biasa melebihi biaya yang terjadi ketika menjual utang, yang selanjutnya mendorong perusahaan yang tumbuh dengan pesat untuk lebih mengandalkan diri pada utang. Namun pada waktu yang sama, perusahaan-perusahaan ini sering kali menghadapi ketidakpastian yang lebih besar, yang cenderung mengurangi keinginan mereka untuk menggunakan utang.

5) Profitabilitas. Kita sering mengamati bahwa perusahaan-perusahaan yang memiliki tingkat pengembalian atas investasi yang sangat tinggi menggunakan utang yang relatif sedikit. Meskipun tidak terdapat pembenaran teoretis atas fakta ini, salah satu penjelasan praktis adalah bahwa perusahaan-perusahaan yang sangat menguntungkan seperti Intel, Microsoft, dan Coca-Cola memang sebenarnya tidak banyak membutuhkan pendanaan melalui utang. Tingkat pengembalian mereka yang tinggi memungkinkan mereka melakukan sebagian besar pendanaan secara internal.

6) Pajak. Bunga adalah beban yang dapat menjadi pengurang pajak, dan pengurang pajak adalah hal yang sangat berharga bagi perusahaan dengan tarif pajak yang tinggi. Oleh karena itu, semakin tinggi tarif pajak sebuah perusahaan, semakin besar manfaat yang diperoleh dari utang.

7) Pengendalian. Dampak utang versus saham pada posisi pengendalian manajemen dapat memengaruhi struktur modal. Jika manajemen saat ini memiliki kendali atas pengambilan suara (memiliki lebih dari 50 persen saham) tetapi berada dalam posisi di mana mereka tidak dapat membeli saham lagi, manajemen mungkin akan memilih utang untuk pendanaan-pendanaan baru. Di laih pihak, manajemen mungkin memutuskan untuk menggunakan ekuitas jika situasi keuangan perusahaan begitu lemahnya sehingga penggunaan utang dapat mungkin memiliki risiko gagal bayar yang serius, karena jika perusahaan mengalami gagal bayar, para manajer tersebut sudah dapat dipastikan akan kehilangan pekerjaan mereka. Akan tetapi, jika penggunaan utang terlalu sedikit, manajemen dapat menghadapi risiko diambil alih. Jadi, pertimbangan pengendalian dapat mengarah pada pengunaan dari utang maupun ekuitas, karena jenis modal yang paling dapat melindungi manajemen akan bervariasi dari situasi yang satu ke situasi yang lainnya. Kejadian apa pun, jika manajemen sama sekali tidak merasa aman, mereka akan mempertimbangkan situasi pengendalian.

8) Sikap manajemen. Karena tidak ada yang dapat membuktikan bahwa satu struktur modal akan mengarah pada harga saham yang lebih tinggi daripada struktur modal yang lainnya, manajemen dapat menerapkan pertimbangan mereka sendiri atas struktur modal yang tepat. Beberapa manajemen cenderung lebih konservatif daripada yang lainnya, dan akibatnya menggunakan lebih sedikit utang daripada rata-rata perusahaan di dalam industri

mereka, sedangkan manajemen yang agresif menggunakan lebih banyak utang di dalam pencarian mereka akan laba yang lebih tinggi.

9) Sikap pemberi pinjaman dan agen pemberi peringkat. Tanpa melihat analisis para manajer atas faktor-faktor leverage yang tepat bagi perusahaan mereka sendiri, perilaku pemberi pinjaman dan agen pemeringkat sering kali memengaruhi keputusan struktur keuangan. Dalam sebagian besar kasus yang terjadi, perusahaan akan mendiskusikan struktur modalnya dengan pemberi pinjaman dan agen pemberi peringkat dan memberikan bobot yang lebih besar pada saran mereka. Sebagai contoh, sebuah perusahaan fasilitas umum besar baru-baru ini mendapat informasi dari Moody's dan Standard & Poor bahwa obligasinya akan diturunkan peringkatnya jika perusahaan tersebut menerbitkan obligasi lagi. Hal ini memengaruhi keputusannya untuk mendanai ekspansinya dengan itas biasa.

10) Kondisi pasar. Kondisi dari pasar saham dan obligasi yang mengalami perubahan dalam baik jangka panjang maupun jangka pendek dapat memberikan arti yang penting pada struktur modal sebuah perusahaan yang optimal. Sebagai contoh, selama anjloknya kredit yang belakangan ini terjadi, pasar obligasi sampah mengering, dan tidak ada pasar dengan tingkat suku bunga yang "wajar" untuk obligasi jangka panjang baru dengan peringkat di bawah BBB Karenanya, perusahaan dengan peringkat rendah yang membutuhkan 'modal terpaksa harus berpaling ke bursa saham atau pasar utang jangka pendek tanpa memperhitungkan sasaran struktur modal mereka. Namun ketika kondisi ini mulai membaik, perusahaan-perusahaan tersebut akan menjual obligasi untuk menjadikan struktur modal kembali ke sasaran semula.

11) Kondisi internal perusahaan. Kondisi internal sebuah perusahaan juga dapat memiliki pengaruh pada sasaran struktur modalnya.

Sebagai contoh, seandainya sebuah perusahaan baru saja menyelesaikan sebuah program penelitian dan pengembangan dengan sukses, dan perusahaan tersebut meramalkan keuntungan yang lebih tinggi dalam waktu yang tidak berapa lama lagi. Akan tetapi, keuntungan yang tinggi ini tidak diantisipasi oleh para investor, sehingga tidak tercermin dalam harga sahamnya. Perusahaan ini tidak akan memilih untuk menerbitkan saham-perusahaan akan lebih memilih untuk mendanai dengan utang sampai keuntungan yang lebih tinggi tadi terwujud dan tercermin dalam harga sahamnya. Baru setelah itu perusahaan akan menjual penerbitan saham biasa, melunasi utangnya dan kembali ke sasaran struktur modalnya. Hal ini telah dibahas sebelumnya dalam kaitannya dengan informasi asimetris dan pensinyalan.

12) Fleksibilitas keuangan. Seorang bendahara perusahaan yang cerdas membuat pernyataan sebagai berikut kepada penulis: Perusahaan kami dapat meraih lebih banyak uang dari keputusan penganggaran modal dan operasional yang baik daripada dari keputusan-keputusan pendanaan yang baik. Memang, kami tidak memahami dengan pasti bagaimana keputusan pendanaan dapat memengaruhi harga saham kami, tetapi kami tahu dengan pastibahwa penolakan usaha yang menjanjikan karena tidak tersedianya dana akan mengurangi profitabilitas perusahaan kami di masa mendatang. Karena alasan ini tujuan utama saya sebagai seorang bendahara adalah selalu berada dalam suatu posisi di mana perusahaan dapat mendapatkan modal yang dibutuhkan untuk mendukung operasi(Brigham, 2006, p. 42-45)

c) Fungsi Modal Bank

Dalam cakupan yang luas modal bank mempunyai beberapa fungsi yaitu fungsi perlindungan, fungsi kepercayaan, fungsi operasi, fungsi pengaturan dan representasi kepemilikan.

Orang seringkali menyatakan bahwa fungsi primer dari modal bankadalah untuk melindungi deposan terhadap kerugian. Walaupun pernyataan ini mengandung kebenaran, tetapi tidak lengkap dan tidak cukup mengungkapkan sifat sebenarnya dari fungsi protektif modal bank. Untuk setiap macam risiko ada kebijakan untuk perlindungannya. Misalnya, sebagian besar kerugian bank dapat ditutup dengan penghasilan sekarang (current earnings) dan bukan dengan modal bank. Kebanyakan aktiva bank yang tampak lemah, nyatanya dapat mengatasi kerugian yang relatif kecil, asal saja memperoleh cukup waktu dan ditangani oleh manajemen yang kompoten dan penghasilan yang layak, serta keadaan konjungtur yang baik. Jika modal bank dikatakan sebagai proteksi terhadap kerugian, maka proteksi itu adalah proteksi terakhir. Dana modal merupakan proteksi terhadap deposan apabila bank dilikuidasi atau dibekukan.

2) Memupuk Kepercayaan Deposan

Akan tetapi, jika sebuah bank berpenghasilan rendah dan pengawasan internnya longgar serta banyak aktiva yang riskan dan spekulatif, maka biasanya pengawas bank telah mengamati dan bertindak sebelum dana modal rusak berat. Jadi, penting sekali memandang fungsi modal bank, bukan sebagai "bantalan kelebihan aktiva untuk menutup kerugian bank agar tetap solver, melainkan sebagai suatu faktor terpenting untuk mempertahankan kepercayaan publik akan bank itu. Dengan perkataan lain, fungsi esensial dari modal bank adalah menjaga agar bank tetap buka dan beroperasi sehingga waktu dan penghasilan bank dapat menutup kerugian-kerugian dan mendorong kepercayaan deposan dan pengawas bank yang cukup terhadap bank itu. Dengan demikian, bank tidak menghadapi likuidasi yang mahal itu.

Modal hanyalah salah satu faktor yang menentukan kekuatan bank dan sistem perbankan. Faktor seperti mutu manaje dan aset,

pendapatan dan likuidas sama pentingnya dengan modal. Faktor terakhir yang tidak boleh dilupakan adalah pengaruh kekuatan ekonomi.

3) Fungsi Operasi

Fungsi operasional meliputi antara lain penyediaan dana untuk pembelian tanah, gedung dan mesin-mesin, serta perlengkapan dan persediaan penyangga untuk menyerap kerugian operasi yang kadang-kadang terjadi.

Fungsi operasional modal bank dianggap sekunder, dibandingkan dengan perusahaan bukan bank. Hal itu disebabkan dana yang dioperasikan bank adalah dana dari deposan. Sebagaimana halnya pada setiap perusahaan, sebagian modal bank itu diperlukan untuk pengadaaan alat-alat kerja.

4) Fungsi Representasi Kepemilikan

Sebuah fungsi penting lain dari modal adalah representasi pemilikan pribadi dalam bank-bank komersil. Adanya saham modal inilah yang membedakan bank komersil dari bank tabungan bersama dan asosiasi kredit yang bersaing dengan bank komersil untuk tabungan-tabungan. Perbankan struktural ini menimbulkan sejumlah masalah perpajakan dan kebutuhan cadangan yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini.

5) Fungsi Pengatur Tidak Langsung

Pengaturan yang berkaitan dengan modal bank adalah persyaratan minimum yang diperlukan untuk memperoleh izin pendirian bank baru dan membuat cabang, membatasi pinjaman bank, investasi dan pengambilalihan. Pengaturan modal bank juga mempunyai pengaruh terhadap perusahaan induknya jika akan melakukan pengambilalihan.

d) Sumber Pemodalan Bank Syar’iah

Pengkategorian modal pinjaman sebagai salah satu sumber permodalan bank seperti diuraikan yang dianut oleh perbankan konvensional. Dalam pandangan Syariah, modal pinjaman (subordinated loan) itu termasuk dalam kategori qard, yaitu pinjaman harta yang dapat diminta kembali. Dalam literatur fiqih Salaf Ash Shalih, qard dikategorikan dalam aqad tathawwu' atau akad saling membantu dan bukan transaksi komersial Pemberi pinjaman tidak boleh minta imbalan atas pemberian pinjaman tidak boleh meminta imbalan atas pemberian pinjaman tersebut, karena setiap pemberian pinjaman yang disertai dengan permintaan imbalan termasuk kategori riba. Penerima pinjaman wajib menjamin pengembalian pinjaman tersebut pada saat jatuh tempo. Oleh karena itu qard mempunyai derajat preferensi yang tinggi, setara dengan kewajiban atau utang lainnya. Berdasarkan karakteristik tersebut, maka tidak beralasan bagi qard untuk ikut menanggung risiko atau memberikan proteksi terhadap kegagalan bank ataupun memberikan proteksi terhadap kepentingan deposan. Dengan demikian pinjaman subordinasi tidak dapat diper timbangkan untuk diperhitungkan sebagai modal bagi bank Syariah (Zainul, 2002, p. 160).

e) Kecukupan Modal Bank Syari’ah

Tingkat kecukupan modal bank dinyatakan dengan suatu rasio tertentu yang disebut rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR). Tingkat kecukupan modal ini dapat diukur dengan cara membandingkan modal dengan dana-dana pihak ketiga dan membandingkan modal dengan aktiva berisiko.

1) Membandingkan modal dengan dana pihak ketiga

Dilihat dari sudut perlindungan kepentingan para deposan, perbandingan antara modal dengan pos-pos pasiva merupakan petunjuk tentang tingkat keamanan simpanan masyarakat pada bank.

Dari perhitungan tersebut diketahui bahwa rasio modal atas simpanan cukup dengan 10% dan dengan rasio itu permodalan bank dianggap sehat. Rasio antara modal dan simpanan masyarakat harus dipadukan dengan memperhitungkan aktiva yang mengandung risiko. Oleh karena itu modal harus dilengkapi dengan berbagai cadangan sebagai penyangga modal, sehingga secara umum modal bank terdiri dari modal inti dan modal pelengkap.

2) Membandingkan modal dengan aktiva beresiko

Ukuran kedua inilah yang dewasa ini menjadi kesepakatan BIS (Bank for International Settlements), yaitu organisasi bank sentral dari negara-negara maju yang disponsori oleh Amerika Serikat, Kanada, negara-negara Eropa Barat dan Jepang. Kesepakatan tentang ketentuan permodalan itu dicapai pada tahun 1988, dengan menetapkan CAR, yaitu rasio minimum yang dasarkan pada perbandingan antara modal dengan aktiva bersiko.

Kesepakatan ini dilatar belakangi oleh hasil pengamatan ahli perbankan negara-negara maju, termasuk para pakar IMF dan World Bank, tentang adanya ketimpangan struktur dan Hal ini didukung oleh beberapa indikasi berikut:

a) Krisis pinjaman negara-negara Amerika Latin telah mengganggu kelancaran arus peredaran uang internasional. b) Persaingan yang dianggap unfair antara bank-bank Jepang

dengan bank-bank Amerika dan Eropa di Pasar Uang Internasional. Bank-bank Jepang memberikan pinjaman amat lunak (bunga rendah) karena ketentuan CAR di negara itu amat lunak, yaitu antara 2% sampai 3% saja.

c) Terganggunya situasi pinjaman internasional yang berakibat terganggunya perdagangan internasional.

Berdasarkan indikasi-indikasi itu, BIS menetapkan ketentuan perhitungan Capital Adequacy Ratio (CAR) yang harus diikuti oleh bank-bank di seluruh dunia sebagai aturan main dalam kompetisi yang fair di pasar keuangan global, yaitu rasio minimum 8% permodalan terhadap aktiva berisiko (Muhammad, 2005, p. 251).

f) Rasio Untuk Menguji Kecukupan Modal Bank

Salah satu cara untuk menguji kecukupan modal adalah dengan melihat rasio modal itu terhadap berbagai aset bank yang bersangkutan. Walaupun suatu rasio dapat membantu sebagai titik awal dalam menganalisis kecukupan modal suatu bank, namun rasio tersebut janganlah diangggap sebagai tujuan tersendiri. Rasio hanya merupakan indikator saja, sehingga belum cukup untuk menarik kesimpulan. Karena itu, penyelidikan kecukupan modal yang harus dilakukan tidak terbatas pada rasio saja.

Rasio modal dapat diukur dalam kaitannya dengan berbagai rekening neraca seperti total deposit, total aset atau aset berisiko. Rasio modal bank terhadap rekening neraca ini harus dapat memberikan petunjuk sampai seberapa jauh bank tersebut bisa menderita kerugian (dalam satu dan lain bentuk), tapi masih memiliki modal yang cukup banyak untuk menjamin keamanan dana milik deposan.

Rasio modal bank terhadap total deposit merupakan rasio yang dulu dipergunakan untuk mengukur dan menentukan kecukupan modal. Tetapi karena kecukupan modal harus menunjukkan sampai seberapa jauh modal sebuah bank dapat menyerap kerugian tetapi masih dapat melindungi deposan, maka ukuran kecukupan modal betul-betul harus dikaitkan dengan sebuah rekening dalam neraca.

Rekening dalam neraca itu mungkin bisa mengalami kerugian yang tercermin dalam neraca bank pada sisi aset, yang ditunjukkan oleh berkurangnya nilai asset. Berdasarkan alasan tersebut, maka suatu ukuran kecukupan modal vang baik harus dikaitkan dengan aset ini

dan bukannya dengan deposit. Oleh karena itulah, rasio modal terhadap aset lebih tepat digunakan.

Kebaikan rasio modal terhadap deposit terletak pada kesederhanaannya. Karena itulah, masih sering dipakai sebagai pengujian pertama yang cepat untuk kecukupan modal. Sangat mudah menghitung rasio yang sederhana dan membandingkan dengan rasio modal bank-bank lain. Ini tentu merupakan keuntungan bagi bankir, sehingga ia dengan mudah dapat membandingkan posisi banknya dengan bank-bank lain.

Manajemen bank tidak boleh merasa puas dengan rasa aman yang semu pada kondisi perekonomian yang sedang baik. Kondisi ekonomi yang memburuk merupakan penyebab yang utama terjadinya

Dokumen terkait