• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA A.Landasan Teori

1. Struktur Modal

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori

Landasan teori ini akan menjabarkan teori-teori yang mendukung hipotesis serta dapat dijadikan bahan acuan untuk menganalisis hasil penelitian. Dalam landasan teori akan dipaparkan teori serta argumentasi yang disusun sebagai tuntunan dalam memecahkan masalah yang ditemukan dalam rangkaian penelitian serta perumusan hipotesis.

1. Struktur Modal

a. Pengertian Struktur Modal

Manajer keuangan harus bisa menentukan kebijakan pembelanjaan yang akan dilakukan dalam perusahaan. Kebijakan pembelanjaan ini terkait dengan masalah keputusan pendanaan. Manajer keuangan harus menentukan bagaimana aktiva keseluruhan perusahaan dibiayai, dengan menggunakan modal sendiri, pinjaman atau menggunakan keduanya. Masalah pendanaan ini perlu diperhitungkan secara rinci dan matang. Selain jumlah yang harus diperhitungkan, sumber pendanaan tersebut juga perlu dipertimbangkan oleh perusahaan dan manajer keuangan.

Komponen struktur modal dapat dilihat di laporan keuangan perusahaan, tepatnya di bagian kanan neraca perusahaan. Pembiayaan pembelanjaan permanen bagi perusahaan terdiri dari hutang jangka panjang dan modal sendiri. Berbagai teori lahir untuk menjelaskan pengertian dari struktur modal.

15 Teori yang paling terkenal dalam menjelaskan struktur modal adalah teori Modigliani dan Miller (1958) atau yang bisa disebut sebagai teori MM.

Struktur modal merupakan campuran sumber-sumber dana jangka panjang yang digunakan perusahaan (Arthur J. Keown dan J. William Petty, 2010). Struktur modal merupakan gambaran kebijakan perusahaan dalam menentukan jenis sekuritas yang dikeluarkan. Masalah struktur modal erat kaitannya dengan masalah kapitalisasi. Karena jenis-jenis modal yang membentuk kapitalisasi disebut sebagai struktur modal. Keputusan struktur modal berkaitan dengan pemilihan sumber dana baik yang berasal dari dalam maupun luar perusahaan. Sumber dana modal sangat berpengaruh pada nilai perusahaan.

Struktur modal adalah kombinasi atau perimbangan antara uang dan modal sendiri (saham preferen dan saham biasa) yang digunakan perusahaan untuk merencanakan mendapatkan modal (Ambarwati, 2010). Modal pribadi dan modal asing sangat menentukan keberlangsungan usaha. Hutang yang digunakan perusahaan merupakan beban yang harus ditanggung perusahaan.

Menurut Institute of Chartered Accountants of India, mengatakan bahwa struktur modal mengacu pada percampuran modal yang digunakan pada perusahaan (Kulkarni dan Chirputkar, 2014). Keputusan struktur modal diantaranya termasuk pembiayaan, jumlah dana, dan percampuran diantara keduanya.

Menurut (Rodoni dan Ali, 2010), Capital Structure atau struktur modal adalah perbandingan yang digunakan dalam menentukan kebutuhan belanja

16 perusahaan dengan dana yang digunakan berasal dari perpaduan sumber dana jangka panjang yang diperoleh baik dari luar maupun dalam perusahaan.

Menurut Gleason et al dalam Abeywardhana (2015) perusahaan memilih hutang dan modal campuran dengan menyeimbangkan biaya dan keuntungan. Perusahaan akan menggunakan strategi dalam kinerja usahanya yang berbeda untuk mendapatkan keuntungan dan meningkatkan nilai perusahaan.

Sedangkan menurut Mardiyanto (2008), Struktur modal didefinisikan sebagai perpaduan antara utang jangka panjang dengan tingkat ekuitas perusahaan. Dapat disimpulkan pula struktur modal merupakan struktur keuangan dikurangi dengan utang jangka pendek yang dimiliki perusahaan. Utang jangka pendek tidak diperhitungkan dalam struktur modal karena sifat dari hutang jangka pendek yang cepat berubah sesuai dengan tingkat penjualan. Berbeda dengan hutang jangka panjang yang memiliki sifat tetap dengan jangka waktu yang panjang (seperti satu tahun). Sehingga keberadaan hutang jangka panjang ini harus diperhitungkan oleh manajer keuangan dalam perusahaan.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa struktur modal adalah kumpulan dari berbagai macam jenis modal baik yang berasal dari dalam maupun luar perusahaan yang digunakan untuk pembiayaan kebutuhan perusahaan.

b. Faktor-Faktor yang Menentukan Struktur Modal

Struktur modal merupakan permasalahan yang penting dalam perusahaan, kondisi struktur modal yang baik atau buruk akan berpengaruh langsung pada kondisi keuangan perusahaan. Struktur modal perusahaan dikatakan baik jika

17 utang yang dimiliki perusahaan lebih kecil dibanding modal yang dimiliki perusahaan. Dengan begitu beban yang ditanggung oleh perusahaan jumlahnya kecil. Begitu pula sebaliknya, struktur modal dikatakan dalam kondisi buruk apabila utang perusahaan sangat besar sehingga beban yang ditanggung oleh perusahaan pun besar.

Menurut Brealey (2007), menyebutkan ada empat faktor utama yang digunakan untuk menyusun struktur modal, yaitu

1) Pajak

Perusahaan yang konsisten dalam menghasilkan keuntungan adalah perusahaan yang akan sering membayar pajak. Jika tingkat pajak perusahaan lebih tinggi dari tingkat pajak pemegang obligasi, memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan dari hutang.

2) Resiko

Kesulitan keuangan dinilai mahal bagi perusahaan yang mampu bertahan. Sama halnya dengan yang lain, kesulitan keuangan lebih mungkin dialami bagi perusahaan yang memiliki risiko bisnis yang tinggi. Itu sebabnya perusahaan yang memiliki resiko tinggi cenderung akan mimilih untuk mengurangi hutangnya.

3) Tipe Aset

Biaya financial distress tergantung pada tipe aset yang dimiliki perusahaan.

18 4) Financial Slack

Teori mengatakan bahwa perusahaan lebih suka menerbitkan hutang dibandingkan saham jika keuangan internal tidak mencukupi.

Menurut (Brigham dan Houston, 2001) empat faktor yang mempengaruhi keputusan struktur modal adalah

1) Resiko Bisnis atau tingkat resiko yang terkandung dalam operasi perusahaan apabila perusahaan tidak menggunakan hutang. Makin besar resiko bisnis suatu perusahaan, makin rendah rasio utang yang optimal.

2) Posisi Pajak

Jika besar pendapatan perusahaan telah terhindar dari pajak karena perhitungan penyusutan, bunga pada hutang yang beredar atau kerugian pajak yang dikompensasi ke muka, maka tambahan hutang tidak banyak memberi manfaat sebagaimana yang dirasakan perusahaan dengan tariff pajak efektif yang lebih tingi.

3) Fleksibilitas Keuangan

Kemampuan untuk menambah modal dengan persyaratan yang wajar dalam keadaan yang buruk. Keberadaan dana yang dimiliki perusahaan sangat mempengaruhi struktur modal perusahaan.

4) Konservativitas atau agresivitas manajemen

Sebagian manajer perusahaan lebih agresif untuk memanfaatkan hutang, sehingga perusahaan lebih cenderung menggunakan utang untuk meningkatkan laba. Ini bukan salah satu faktor yang tidak

19 mempengaruhi struktur modal yang optimal atau yang memaksimalkan nilai, tetapi akan mempengaruhi struktur modal yang ditargetkan dan ditetapkan manajer.

c. Teori Struktur Modal

1) Trade Off Theory

Menurut Brealey et al,.(2012) trade off muncul karena manajer sering menganggap keputusan utang-ekuitas perusahaan sebagai trade off antara perlindungan pajak bunga dan biaya masalah keuangan. Model ini menjelaskan keseimbangan antara keuntungan dan kerugian akibat penggunaan hutang. Dimana dalam keadaan pajak nilai perusahaan akan naik minimal dengan biaya modal yang minimal.

Sedangkan menurut Brigham dan Houston (2006) trade off theory menyatakan bahwa perusahaan menyeimbangkan manfaat dari pendanaan dengan suku bunga dan biaya kebangkrutan yang lebih tinggi. Model trade-off disebabkan karena struktur modal optimum. Dalam teori trade-off hutang akan meningkatkan nilai perusahaan sampai pada titik tertentu, namun apabila sudah terlalu banyak dikhawatirkan akan menyebabkan kebangkrutan.

Trade off theory merupakan model struktur modal yang mempunyai asumsi bahwa struktur modal perusahaan merupakan keseimbangan antara keuntungan penggunaan hutang dengan biaya financial distress (kesulitan keuangan) dan agency cost (biaya keagenan). Berdasarkan trade off theory, tingkat laverage dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan perusahaan. Perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi cenderung membiayai

20 investasinya dengan mengeluarkan saham, karena harga sahamnya relatif tinggi. Perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi cenderung menanggung costs of financial distress yang besar, karena memiliki risiko keberangkutan yang tinggi. Dengan demikian, tingkat pertumbuhan berhubungan negatif dengan tingkat leverage.

Menurut Brigham (2001), hutang mempunyai keuntungan:

a) Biaya bunga yang mempengaruhi penghasilan pajak, sehingga hutang menjadi lebih rendah.

b) Kreditur hanya mendapatkan biaya bunga yang bersifat relatif tetap, kelebihan dan kekurangan akan menjadi klaim bagi pemilik perusahaan. Ada beberapa hal yang membuat perusahaan tidak biasa menggunakan hutang sebanyak-banyaknya karena semakin tinggi hutang akan semakin tinggi pula kemungkinan kebangkrutan. Biaya kebangkrutan mencakup:

a) Biaya Langsung

Biaya yang dikeluarkan untuk membayar biaya administrasi, biaya pengacara, biaya akuntan dan biaya-biaya lainnya.

b) Biaya Tidak Langsung

Biaya yang terjadi karena dalam konsisi kebangkrutan perusahaan lain tidak mau berhubungan dengan perusahaan secara normal.

Trade off Theory menekankan adanya keuntungan dari hutang. Hutang dinilai memiliki nilai manfaat yang tinggi bagi pertumbuhan perusahaan. Namun, keberadaan hutang memiliki dua sisi yang harus sama-sama diperhatikan. Perusahaan dinilai tidak baik pula jika tidak memanfaatkan

21 adanya hutang karena hutang dapat meningkatkan nilai perusahaan. Sedangkan sisi negatif dari hutang jika perusahaan tidak dapat mengendalikan hutang maka kemungkinan yang akan terjadi pada perusahaan adalah resiko kebangkrutan. Oleh karena itu, manajemen keuangan perusahaan harus membuat resiko keuangan yang mampu menstabilkan kondisi dan keberlangsungan perusahaan.

2) Packing Order Theory

Teori Packing Order menjelaskan urutan-urutan pendanaan. Menurut teori ini manajer keuangan tidak memperhitungkan tingkat bunga yang optimal. Teori ini menjelaskan mengapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan yang tinggi justru mempunyai tingkat hutang yang lebih kecil. Tingkat hutang yang kecil dikarenakan perusahaan tidak membutuhkan dana eksternal. Keuntungan yang tinggi menjadi dana internal perusahaan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan investasi perusaahaan.

Teori Pecking-order didasarkan pada empat fakta yang diobservasi oleh Myers tentang perilaku keuangan perusahaan. Pertama, kebijakan deviden adalah “sticky”. Manajer cenderung mempertahankan pembayaran deviden yang stabil, deviden tidak meningkat ataupun menurun dalam menanggapi fluktuasi keuntungan yang sementara. Kedua, perusahaan lebih memilih pembiayaan internal (laba dan mempertahankan kas) untuk pendanaan eksternal dalam bentuk apapun, utang atau ekuitas. Ketiga, jika perusahaan harus memperoleh pembiayaan eksternal, maka pertama kali yang akan dilakukan perusahaan adalah mengeluarkan sekuritas yang paling aman.

22 Teori ini didasarkan pada informasi asimetrik, yaitu sebuah informasi yang menunjukkan bahwa manajemen mempunyai informasi yang lebih banyak berupa resiko, prospek dan nilai perusahaan dibanding dengan pemodal publik. Manajemen sebagai pihak yang memiliki informasi lebih banyak dibanding pemodal karena manajemen adalah pihak yang mengambil keputusan keuangan, dan keputusan lainnya terkait keberlangsungan hidup perusahaan. (Pramesti & Susilowibowo, 2014).

Dalam teori ini menjelaskan tentang manfaat dari hutang yang harus diketahui oleh perusahaan. Sama halnya yang terjadi pada perusahaan-perusahaan kecil mereka cenderung enggan menggunakan dana dari pihak eksternal atau hutang, mereka lebih percaya dan yakin pada dana internal yang dimiliki. Ketidakpercayaan pada dana eksternal karena mereka tidak berani mengambil resiko hutang yang diambil.

3) Teori Modigliani dan Miller (MM)

Teori ini mendukung adanya hubungan antara struktur modal dengan biaya modal. Berdasarkan pendekatan laba bersih operasi yang menyatakan bahwa struktur modal tidak mempengaruhi biaya modal perusahaan dan juga nilai dari perusahaan. Menurut teori ini nilai total perusahaan dipengaruhi oleh investasi yang dilakukan perusahaan dan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba (Pramesti & Susilowibowo, 2014).

Modigliani dan Miller mengasumsikan bahwa pasar modal bersifat sempurna dan tidak ada pajak. Teori ini juga menyatakan bahwa nilai perusahaan dan posisi kemakmuran pemegang saham tidak dipengaruhi oleh

23 struktur modal. Mereka juga memperhatikan pajak dan penggunaan hutang yang dapat memaksimumkan nilai perusahaan dan kemakmuran pemegang saham (Moeljadi, 2006).

Dalam teori ini menjelaskan bahwa nilai perusahaan tidak dipengaruhi oleh adanya struktur modal (Brigham dan Houston, 2001). Menurut teori ini tidak ada masalah bagi perusahaan dalam membiayai kegiatan operasi, struktur modal tidak relevan. Teori ini dianggap tidak relevan dalam dunia keuangan dikarenakan adanya asumsi-asumsi yang dianggap tidak realistis. Meskipun demikian teori ini merupakan teori yang memiliki peran besar untuk mengembangkan riset selanjutnya tentang struktur modal.

Modigliani dan Miller mengembangkan teori trade-off dari struktur modal. Mereka menunjukkan bahwa hutang bermanfaat karena bunga dapat dikurangkan dalam menghitung pajak, tetapi utang juga menimbulkan biaya yang berhubungan dengan kebangkrutan yang aktual dan potensial. Menurut teori MM, struktur modal dikatakan dalam kondisi optimal jika manfaat pajak dari utang dan biaya yang berkaitan dengan kebangkrutan berada dalam kondisi seimbang.

Dapat disimpulkan bahwa empat teori struktur modal ini mendukung adanya hutang yang mampu meningkatkan nilai perusahaan. Hutang memiliki dua sisi yang harus dipertimbangkan oleh perusahaan. Satu sisi hutang memiliki manfaat dan satu sisi hutang dikatakan sebagai resiko yang harus ditanggung oleh perusahaan. Hutang yang berlebihan akan mendatangkan

24 resiko kebangkrutan. Dua sisi ini merupakan bagian dari keputusanaan keuangan bagi perusahaan.

d. Jenis-Jenis Modal

Jenis-jenis modal dibagi kedalam dua jenis (Riyanto, 2010) :

1. Modal Asing atau hutang merupakan modal yang berasal dari luar perusahaan dan bersifat sementara bekerja di dalam perusahaan dan dianggap sebagai utang bagi perusahaan yang wajib dikembalikan. Dalam hal ini hutang dibagi kedalam tiga kategori yaitu hutang jangka panjang, jangka pendek, dan jangka menengah. Hutang jangka pendek merupakan hutang yang harus dikembalikan dalam waktu kurang dari satu tahun atau tepat satu tahun. Hutang jangka panjang merupakan salah satu jenis hutang yang memiliki jangka waktu pengembalian lebih dari satu tahun. Sedangkan hutang jangka menengah merupakan salah satu jenis hutang yang dalam pelunasannya memiliki jangka waktu kurang dari satu tahun. 2. Modal Sendiri merupakan modal yang berasal dari pemilik perusahaan dan

tertanam dalam perusahaan untuk jangka waktu yang tidak ditentukan waktunya. Oleh karena itu, modal sendiri ditinjau dari sudut likuiditas merupakan “dana jangka panjang tidak tentu waktunya”. Modal sendiri dapat berasal dari dalam perusahaan maupun dari luar perusahaan. Modal ini berasal dan dibentuk sendiri oleh perusahaan. Sumber intern berbentuk keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Sedangkan modal sendiri yang

25 berasal dari pihak eksternal ialah modal yang berasal dari pemilik perusahaan.

e. Sumber-Sumber Modal

Besar kecilnya kebutuhan modal dipengaruhi oleh besar kecilnya kebutuhan maupun ukuran perusahaan. Semakin besar dan berkembangnya perusahaan maka kebutuhan akan modal juga semakin meningkat. Maka perusahaan perlu mencari sumber pembiayaan lainnya.

Dilihat dari asalnya sumber penawaran modal terdiri dari : 1. Sumber Intern (Internal Resource)

Modal yang berasal dari sumber internal, yaitu modal atau dana yang dibentuk atau dihasilkan sendiri dari dalam perusahaan. Sumber modal ini dapat berupa laba ditahan (retained earning) dan akumulasi penyusutan (accumulation depreation). Besarnya modal dari laba ditahan tergantung dari besarnya laba yang diperoleh dalam periode tertentu dan kebijakan deviden dari perusahaan yang bersangkutan. Sedangkan pada akumulasi penyusutan dibentuk dari depresiasi setiap tahunnya dan tergantung pada metode yang digunakan oleh perusahaan yang bersangkutan.

2. Sumber Ekstern (Eksternal Resource)

Sumber eksternal berasal dari luar perusahaan diambilkan dari sumber-sumber modal yang berada diluar perusahaan dan dinamakan pembelanjaan dari luar perusahaan (exsternal financing). Dana ini dapat berasal dari para kreditur (modal asing) dan pemilik, peserta atau pengambil bagian di dalam perusahaan (modal sendiri).

26 2. Kredit

a. Pengertian Kredit

Kredit berasal dari bahasa latin “credo” yang memiliki arti saya menaruh. Kredit adalah penyerahan barang, jasa, atau uang dari satu pihak (kreditor atau pemberi pinjaman) atas dasar kepercayaan kepada pihak lain (nasabah atau penghutang) dengan janji membayar dari penerima kredit kepada pemberi kredit pada tanggal yang telah disepakati kedua belah pihak (Rivai dan Veithzal, 2007).

Kredit merupakan bentuk dari uang tetapi memiliki tipe yang berbeda dari uang pada umunya, bentuknya tidak harus nyata, meskipun begitu kredit sering dijamin oleh sesuatu, yaitu uang di bank, emas, atau beberapa barang nyata lainnya (MacDonald dan L.Gastmann, 2001).

Dalam Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 dijelaskan bahwa kredit merupakan penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Kredit berasal dari bahasa latin “credere” yang berarti percaya. Maksud dari percaya adalah pemberi kredit percaya pada penerima kredit bahwa kredit yang disalurkan pasti akan dikembalikan sesuai dengan persetujuan. Sedangkan bagi penerima kredit maka dia memiliki kewajiban untuk mengembalikan pinjamannya tersebut sesuai dengan waktu atau jatuh tempo yang disepakati. (Kasmir, 2008).

27 Selain kredit ada yang disebut dengan pembiayaan. Pada dasarnya kredit dan pembiayaan memiliki maksud yang sama, yang membedakan hanyalah tatacara pengelolaan dan imbalan yang diberikan. Pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.

Kredit diberikan oleh perbankan berdasarkan prinsip konvensional, sedangkan pembiayaan diberikan oleh bank syariah berdasarkan prinsip bagi hasil. Keuntungan yang didapat juga berbeda. Keuntungan kredit diperoleh dari bunga sedangkan pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah berupa imbalan atau bagi hasil.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kredit merupakan salah satu bentuk pinjaman uang maupun lainnya yang diberikan kreditor pada debitor dengan suatu jaminan yang harus dibayar atau dikembalikan berdasarkan waktu yang telah disepakati secara bersama.

b. Unsur-Unsur Kredit

Sebelum kredit disalurkan pada nasabah tentu ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk dianalisis. Analisis ini diantaranya terkait latar belakang perusahaan atau nasabah, prospek usaha, jaminan yang mampu diberikan, dan hal-hal lain. Analisis ini dilakukan untuk menilai apakah nasabah layak atau tidak untuk mendapatkan kredit. Ada beberapa unsur yang perlu

28 dipertimbangkan ketika akan menyalurkan kredit oleh bank atau lembaga pembiayaan lainnya.

Unsur-unsur tersebut diantaranya: 1) Kepercayaan

Keyakinan yang diberikan oleh pemberi kredit kepada debitor akan kemampuan debitor untuk mengembalikan kredit yang diberikan (uang barang atau jasa) sesuai dengan jangka waktu yang disepakati. Hal ini dilakukan oleh bank untuk memastikan kemampuan nasabah dalam mengembalikan pinjamannya dengan menyelidiki latar belakang nasabah secara internal maupun eksternal.

2) Kesepakatan

Kesepakatan atau perjanjian ini dilakukan antara dua pihak dalam memenuhi hak dan kewajiban masing-masing.

3) Jangka Waktu

Waktu atau masa yang sudah disepakati dua belah pihak untuk mengembalikan kredit. Waktu yang biasa disepakati biasanya jangka pendek (kurang dari setahun) dan jangka panjang (satu tahun atau lebih).

4) Risiko

Resiko adalah keadaan yang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Hal ini berkaitan dengan kesepakatan pengembalian (jangka waktu pengembalian kredit). Resiko yang dihadapi yaitu berupa kredit

29 macet (pengembalian kredit yang tidak tepat waktu). Resiko ini bisa terjadi baik sengaja atau tidak sengaja oleh nasabah. Kredit macet ini akan merugikan bank yang menyalurkan kredit macet. 5) Balas Jasa

Keuntungan yang diperoleh bank atas jasanya menyalurkan kredit. Bank konvensional akan mendapatkan keuntungan berupa bunga, sedangkan bank syariah akan mendapatkan bagi hasil yang telah disepakati.

c. Tujuan Kredit

Kredit memiliki fungsi dan tujuan. Tujuan dan fungsi kredit tidak hanya menguntungkan salah satu pihak saja. Masyarakat, pemerintah dan banyak pihak lainnya dapat memanfaatkan kredit untuk menjalankan usahanya. Adapun tujuan dari pemberian kredit adalah;

1) Mencari Keuntungan

Keuntungan yang diterima yang akan diperoleh oleh bank yaitu berupa bunga. Bunga merupakan bentuk balas jasa dan biaya administrasi kredit yang dibebankan kepada nasabah. Keuntungan ini sangat penting bagi keberlangsungan hidup bank.

2) Membantu Usaha Nasabah

Dana yang diperoleh dari kredit ini dapat digunakan untuk mengembangkan dan memperluas usaha debitur.

30 3) Membantu Pemerintah

Keuntungan yang diperoleh pemerintah melalui penyaluran kredit berupa penerimaan pajak, selain itu dapat membuka kesempatan kerja melalui perluasan usaha yang membutuhkan tenaga kerja baru. Kredit juga membantu pemerintah dalam meningkatkan jumlah barang dan jasa yang beredar di masyarakat. Devisa negara juga dapat meningkat apabila produk dari kredit yang dibiayai untuk keperluan ekspor.

Kredit memiliki banyak manfaat untuk berbagai kalangan. Kredit merupakan salah satu solusi bagi pihak yang kekurangan dana dalam menjalankan usaha maupun berniat menjalankan usaha atau kegiatan namun tidak memiliki dana yang mendukung usaha maupun kegiatannya. Meskipun memiliki manfaat sebagai salah satu tambahan modal dan usaha, kredit ini dapat dinilai merugikan bagi pihak yang tidak dapat memenuhi tanggung jawabnya. Karena kredit ini merupakan salah satu bentuk pinjaman atau hutang yang berikan kepada pihak yang kekurangan dana.

Menurut Ismail (2010) fungsi dari adanya kredit dalam melayani kebutuhan dan meningkatkan usaha masyarakat yaitu;

a) Meningkatkan arus tukar menukar barang dan jasa

b) Kredit merupakan alat yang dipakai untuk memanfaatkan idle found (pihak yang kelebihan dana). Tentu ini akan sangat efektif karena dana tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak yang membutuhkan dana.

31 c) Kredit dapat menciptakan alat pembayaran yang baru, sebagai contoh

kredit Koran yang diberikan bank kepada usahawan.

d)Kredit sebagai alat pengendali harga. Pemberian kredit yang ekspansif akan mendorong meningkatnya jumlah uang yang beredar, dan peningkatan peredaran uang tersebut akan mendorong kenaikan harga. e) Kredit dapat mengaktifkan dan meningkatkan manfaat ekonomi yang

ada. Kredit produktif yaitu kredit modal kerja atau investasi. Kredit tersebut memiliki dampak pada kenaikan makroekonomi.

d. Jenis-Jenis Kredit

Menurut Kasmir (2008) secara umum jenis-jenis kredit dapat dilihat dari berbagai segi diantaranya sebagai berikut:

1) Dilihat dari segi kegunaan

a. Kredit Investasi merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan perluasan usaha atau membangun proyek atau untuk keperluan rehabilitasi.

b. Kredit Modal Kerja merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan meningkatkan produksi dalam operasionalnya.

2) Dilihat dari segi tujuan kredit

a. Kredit Produktif merupakan kredit yang digunakan untuk meningkatkan usaha, produksi dan investasi.

b. Kredit Konsumtif merupakan kredit yang digunakan untuk

Dokumen terkait