BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
B. Struktur Organisasi
Untuk memperlancar kegiatan perusahaan dalam proses pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, maka perlu adanya pembagian tugas yang jelas. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya pelaksanaan tugas yang tumpang tindih maupun ketidak jelasan wewenang dan tanggung jawab dari para pelaksana organisasi usaha.
Oleh karena itu, perlu di usahakan terciptanya suatu tim kerja yang kompak, saling membantu dan menunjang satu sama lainnya dalam pelaksanaan pekerjaan sebagai upaya pencapaian tujuan dari perusahaan.
KPP Pratama Bantaeng memiliki struktur organisasi yang cukup kompleks, karena mempunyai kegiatan dan tugas yang berbeda-beda.
Dalam hal ini perusahaan dan anak perusahaan serta unit usaha yang tergabung didalamnya.
Pimpinan dalam menjalankan tugas atau dalam mengelola perusahaan di bantu oleh pejabat dan staf. Pejabat ini terdiri dari kanwil DJP Sulawesi selatan, ada kepala KPP Pratama banateng. KP2KP bonto
sunggu, KP2KP sungguminasa, KP2KP Takalar, dan sub bagian umum serta berbagai seksi lainnya seperti seksi pengolahan data dan informasi, seksi penagihan, seksi pengawasan konsultasi 1, seksi pengawasan konsultasi 2, seksi ekststensifikasi perpajakan, seksi pemeriksaan dan kepatuhan internal, dan seksi pelayanan.
Dari berbagai tugas yang di laksanakan pegawai atau karyawan KKP Pratama Bantaeng sangat signifikan adanya kesadaran akan tanggung jawab masing-masing yang harus di perhatikan pula adalah kedisiplinan dalam menjalankan tugas, di kantor KPP Pratama Bantaeng memiliki tempat yang sangat strategis di tengah-tengah kota Bantaeng yang memudahkan seseorang mendapatkan pelayanan yang di inginkannya. Terlihat dari struktur ke organisasiannya sudah mencerminkan pengaruh yang sangat bagus dalam mengatur berbagai pelayanan di dalam KPP Pratama Bantaeng, seperti yang terlihat dalam struktur berikut:
Gambar. 4 Struktur Organisasi KPP Pratama Bantaeng
Sumber Umar Mulyadi (2013: 23), Dengan melihat skema struktur organisasi KPP Prtama Bantaeng tersebut berikut ini penjelasan singkat mengenai tugas, wewenang, dan tanggung jawab masing-masing bagian tersebut yaitu:
1. Direktur utama/ wakil direktorat
a) Memimpin dan menentukan kebijaksanaan perusahaan
b) Mengurus dan menjaga perusahaan, menetapkan tata tertib serta menjalankan perusahaan.
c) Mengusahakan hubungan yang baik antara perusahaan dengan pemerintah serta masyarakat setempat.
d) Mengesahkan rencana anggaran pendapatan dan belanja tahunan perusahaan.
e) Wakil direktorat sebagai kuasa usaha yang mengurus dan menjaga perusahaan serta tugas lain direktur apabila direktur tidak ada ditempat.
2. Sub bagian Umum
Tugas sub bagian umum tugasnya yaitu melakukan tupoksi dibidang keuangan, kepegawaian, perlengkapan barang, dan lainnya yang menunjang jalannya keanggotaan perkantoran.seperti:
a. Urusan kepegawaian b. Keuangan
c. Tata usaha
3. Seksi pengolahan data dan informasi
Tugas pada bagian data dan informasi yaitu bertugas untuk mengamati pengolahan data serta informasi yang masuk di perusahaan pajak tersebut, dalam pengelolaan ini banyak hal yang perlu diperhatikan, termasuk dalam hal ketelitian dalam menginput atau mengolah data dan informasi.seperti:
a. Melakukan pengumpulan, pencarian, dan pengolahan data b. Penyajian informasi perpajakan
c. Perekaman dokumen perpajakan
d. Urusan tata usaha penerimaan perpajakan e. Pengelokasian PBB & PBHTB
f. Pelayanan dukungan tekhnis computer g. Pemantauan aplikasi e-SPT dan e-filing h. Pelaksanaan i-SISMIOP dan SIG
i. Penyiapan laporan kinerja 4. Seksi penagihan
a. Mempunyai tugas melakukan urusan penatausahaan piutang pajak, penundaan dan angsuran tunggakan pajak.
b. Penagihan aktif
c. Usulan penghapusan piutang pajak
d. Penyimpanan dokumen-dokumen penagihan 5. Seksi pelayanan
a. Melakukan penetapan dan penerbitan produk hukum perpajakan
b. Pengadmininstrasian dokumen dan berkas perpajakan
c. Penerimaan dan pengelolaan surat pemberitahuan, serta surat penerimaan lainnya.
d. Penyuluhan perpajakan
e. Pelaksanaan registrasi wajib pajak f. Melakukan kerjasama perpajakan 6. Seksi ekstensifikasi
a. Melakukan pengamatan potensi perpajakan b. Pendapatan objek dan subjek pajak
c. Pembentukan dan pemutakhiran basis data nilai objek pajak dalam menunjang ekstensifikasi.
7. seksi pengawasan dan konsultan 1 dan 2
a. melakukan pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan wajib pajak
b. bimbingan/ himbauan kepada wajib pajak dan konsultasi teknis perpajakan.
c. Penyusunan profil wajib pajak d. Analisis kinerja wajib pajak
e. Rekonsiliasi data wajib pajak dalam rangka melakukan intensifikasi
f. Usulan pembetulan ketetapan pajak, usulan pengurangan PBB
& BPHTB, serta melakukan evaluasi hasil banding.
BAB V
PEMBAHASAN PENELITIAN
A. Rasio Efektivitas Pendapatan Asli Daerah
Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan pendapatan asli daerah yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditentukan berdasarkan potensi riil daerah. Kemampuan daerah dalam menjalankan tugas di kategorikan efektif apabila rasio yang di capai mencapai minimal sebesar 1 (satu) atau 1oo% (seratus persen), namun demikian semakin tinggi rasio efektivitas, menggambarkan kemampuan keuangan daerah yang semakin baik.
Daerah di kabupaten Bantaeng sebelum otonomi daerah mempunyai rata-rata efektivitas PAD sebesar 1,01% sedangkan rata-rata di Era Otonomi Daerah sebesar 2,40%. Untuk pos pajak daerah sudah memenuhi target yang ditetapkan, karena mempunyai Rasio efektivitas lebih dari 1 (satu) atau di atas 100%, jika di bandingkan di Era otonomi daerah, Rata-rata Efektivitas PAD mengalami peningkatan.
Untuk pos Restribusi di kabupaten Bantaeng sebelum otonomi daerah mempunyai rata-rata efektivitas PAD sebesar 1,25% sedangkan rata-rata di era otonomi daerah sebesar 1,81%. Untuk pos restribusi daerah sudah memenuhi target yang di tetapkan sehingga mempunyai
53 52
rasio efektivitas lebih dari 1 (satu) atau lebih dari 100%. Namun jika di bandingkan dengan pada era otonomi daerah, Rata-Rata efektivitas PAD mengalami peningkatan.
Sedangkan untuk pos bagian laba usaha milik daerah mempunyai rata-rata efektivitas PAD sebesar 0,94% sedangkan rata-rata di era otonomi daerah sebesar 1,91%. Untuk pos bagian laba usaha milik daerah sudah memenuhi target yang ditetapkan sehingga mempunyai Rasio efektivitas lebih dari 1 (satu) atau lebih dari 100%.
B. Kontribusi Pajak Parkir
Pendapata asli daerah (PAD) merupakan penerimaan dari pungutan pajak daerah, retribusi daerah, pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan pendapatan lain-lain. Pajak daerah adalah pajak yang pengelolaan dan pemungutannnya dilaksanakan oleh pemerintah daerah dan untuk kepentingan daerah itu sendiri.
Pajak atas penyelenggaraan tempat parkir, merupakan sector potensial dalam peningkatan efektivitas penerimaan pajak parkir dan kontribusi yang diberikan oleh tempat parkir dapat memacu pembangunan ekonomi kota Bantaeng. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat efektivitas dan kontribusi pajak parkir terhadap
PAD kota Bantaeng. Penelitian dilakukan pada dinas pendapatan daerah kota Bantaeng. Metode analisis yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan data sekunder. Di lakukan untuk memperoleh gambaran mekanisme penerimaan pajak parkir di kota Bantaeng dari data kuantitatif serta untuk mengetahui efektivitas penerimaan pajak parkir dan kontribusinya terhadap PAD dalam rangka menuju kemandirian daerah. Tingkat efektivitas tertinggi pajak parkir tahun 2008-2012 bervariasi. Tingkat efektivitas tertinggi pajak parkir setiap tahun 2011, dan terendah tahun 2009. Secara keseluruhan kontribusi pajak parkir tahun 2008-2012 memberikan kontribusi yang kurang terhadap PAD. Persentase kontribusi pajak parkir tersebar tahun 2011 dan terendah tahun 2009.
C. Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Kab. Bantaeng menarget peningkatan pendapatan daerah sebesar 4,94 persen dari Rp 590,1 miliar menjadi Rp 619,3 miliar pad 2014.
Target tersebut tertuang dalam Rancangan Anggaran Pendapatn dan BELANJA DAERAH (RAPBD).
Penyerahan RAPBD tersebut dilakukan dalam sidang paripurna DPRD Bantaeng, pada tahun 2013 Pendapatan Asli Daerah (PAD) sudah
dinyatakan meningkat sebesar Rp 34, 95 miliar, naik 16, 08 persen dari RP 30,11 miliar. Sumber lainnya diharapkan dari dana perimbangan sebesar Rp 495, 24 miliar lebih, naik 5,40 persen dari target tahun sebelumnya yang mencapai Rp 468, 88 miliar lebih serta pendapatan lain-lain yang sah sebesar Rp 89,09 miliar lebih atau turun 1,17 persen dari target tahun sebelumnya sebesar RP 90, 15 milir lebih. Menurut penelitian, pendapatan daerah dalam APBD tahun 2014 masih di dominasi oleh sumber dana perimbangan pemerintah kepada pemerintah daerah.
Dalam penilain resiko kemandirian daerah dalam penyelenggaraan otonomi daerah sebesar 7,06 persen yang di peroleh dari perbandingan PAD dengan penjumlahan dana perimbangn dan pinjaman daerah. Dari sisi belanja, pemda mengalokasikan belanja yang mendukung pembangunan infrastruktur, penciptaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan melalui hasil-hasil musyawarah
D. ALUR PENERIMAAN PAJAK BANTAENG
Penerimaan pajak di kantor pajak Pratama kabupaten Bantaeng, Sulawesi selatan, tahun pajak 2011 mencapai tingkat yang sangat tinggi, yaitu Rp 320 milliar, melampau target yang di tetapkan sebesar Rp 311 milliar atau mencapai 103 persen. Alur penerimaan pajak di kab.
Bantaeng dapat kita lihat pada gambar berikut:
Gambar. 5 penerimaan pajak Bantaeng
Sumber : Aziz ahmadi, pada KPP Pratama Bantaeng
Hasil dari tahap-tahap bagan di tas Mengenai mekanisme penerimaan Dana dan Pendistribusian Dana pajak yaitu:
a. Pajak yang kita bayarkan setiap tahunnya akan masuk ke APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara)
b. Setelah itu dana uang pajak di alokasikan ke masing-masing provinsi/ Kabupaten/ Daerah.
Wajib Pajak
Bank Persepsi
Kantor Pos
Rek. Bendahara Pengelolaan Negara
Rek. Negara (APBN)
E. Kinerja Keuangan Daerah Pertumbuhan PAD
Dengan menggunakan tahun 2013 sebagai tahun dasar, maka dapat di lihat angka pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD) selama tahun (2013-2017) seperti yang di tampilkan seperti tabel berikut:
Tabel. 3 Pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah Tahun 2009-2013
TAHUN PAJAK
Sumber: Karyawan KPP Pratama Bantaeng
Sumber KPP Pratma Bantaeng (2007), dari tabel tersebut dapat di ketahui bahwa pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD) selama lima tahun, baik secara total maupun per komponen Pendapatan Asli Daerah (PAD) mengalami pertumbuhan yang positif, kecuali komponen PAD dari
hasil pengelolaan kekayaan Daerah dan lain-lain PAD yang sah. Selama periode penelitian, Pendapatan Asli Daerah Kab. Bantaeng mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 24,71% pertahun, atau telah terjadi kenaikan PAD sebesar 98,85%, yaitu dari Rp 198.901.635,04 di tahun 2003 meningkat menjadi Rp 474.322.732.532,00 di tahun 2007. Tahun 2004 adalah periode yang memiliki pertumbuhan PAD tertinggi (33,55%), sementara tahun 2005 merupakan periode pertumbuhan PAD terendah (11,60%) dalam periode penelitian. Walaupun pertumbuhan per komponen PAD cenderung tidak stabil, namun pertumbuhan PAD Kab.Bantaeng selama periode penelitian mengalami pertumbuhan yang positif dan relatif stabil.
F. Kontribusi Pajak Dan Retribusi Daerah terhadap PAD
Kontribusi pajak dan retribusi daerah terhadap PAD pada tahun 2009- 2013 dapat di sajikan dalam table berikut:
Tabel. 4 Kontribusi Pajak Daerah Terhadap PAD 2009-2013
TAHUN PAJAK
Total 1.340.178.650.000 418,45 109.206.560.000 32,45 1.624.100.960.000 Rata-Rata 268.035.730.000 83,69 21.841.310.000 6,49 324.820.190.000
Sumber: karyawan KPP Pratama Bantaeng
kontribusi pajak daerah terhadap PAD adalah sebesar 83,69%
pertahun, sedangkan kontribusi daerah terhadap PAD hanya 6,49%. Hal ini menunjukkan bahwa pajak daerah memiliki peran besar dan selalu menjadi primadona dalam penerimaan PAD setiap tahunnya dibandingkan dengan sumber PAD lainnya. Pajak daerah yang
memiliki kontribusi besar dalam pembentukan pajak daerah adalah dari pajak kendaraan kendaraan (33,97%), bea balik nama kendaraan bermotor (43,27%), dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (23,28%). Sementara itu, kontribusi tiga jenis pajak daerah, lainnya (pajak kendaraan di atas air, bea balik nama kendaraan di atas air, dan pajak pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan) masih sangat kecil dalam pembentukan pajak daerah, yaitu hanya berkisar antara 0,004%-0,161%.
Temuan dilapangan menunjukkan adanya kendala dalam pengelolaan pajak kendaraan di atas air, bea balik nama kendaraan di atas air, dan pajak pemanfaatan air bawah tanah dan kendala air permukaan. Kendala ini meliputi aspek minimnya sarana dan fasilitas pemungutan dan informasi tentang pajak daerah, kurangnya pengawasan, dan kurang andalnya data dari instansi terkait,
Berbeda dengan pajak daerah, kontribusi retribusi daerah terhadap PAD selama lima tahun masih sangat kecil. Total penerimaan retribusi daerah selama periode penelitian berjumlah Rp 109.206.558.465,00
atau Rp21.841.311.693 pertahun. Secara rata-rata, kontribusi retribusi daerah terhadap PAD sebesar 6,49% per tahun. Angka ini menunjukkan masih kecilnya peran retribusi daerah dalam pembentukan PAD.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan dan uraian-uraian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka penulis dapat menarik kesimpulan, sebagai berikut:
a. Pajak parkir kabupaten bantaeng merupakan sektor potensial dalam meningkatkan efektivitas penerimaan pajak parkir dan kontribusi sangat memacu pembangunan ekonomi kota Bantaeng, terlihat pada data pajak parkir yaitu tahun 2009 kurang akan tetapi pada tahun 2011 perkembangannya sangat pesat.
b. Pada daerah kabupaten Bantaeng juga sudah menargetkan pendaptan asli daerah sebesar 4,94% dari Rp 590,1 milliar menjadi 619,3%
target tersebut tertuang pada rancangan anggaran pendapatan dan belanja daerah (RAPBD).
c. Pada sidang paripurna tahun 2013 pendapatan asli daerah sudah dinyatakan meningkat sebesar Rp 34,95 milliar, naik 16,08 dari Rp
63 62
30,11 milliar. Dana perimbangan sebesar Rp 495,24 milliar lebih, naik 5,40% dari target tahun sebselumnya mencapai 468,88 milliar.
B. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian pada KPP Pratama Bantaeng , maka penulis mengemukakan saran untuk dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menemukan kebijaksanaan khususnya dari segi peningkatan pendapatan asli daerah, adapun saran sebagai berikut:
a. Disarankan pada KPP Pratama Bantaeng untuk lebih meningkatkan efektivitas penerimaan pajak dalam hal menambah pendapatan asli daerah.
b. pemerintah kabupaten bantaeng sebaiknya memperhatikan lagi potensi-potensi daerahnya untuk menggali sumber pendapatan asli daerahnya agar kedepan nanti pemerintah daerah kabupaten Bantaeng dapat menjadi pemerintah yang mandiri.
5