RISNAWATI 105730 2348 10
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR
2014
IV
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, karena rahmat dan hidayahnyalah sehingga penulisan skripsi ini dapat di selesaikan pada waktunya skripsi ini disusun dengan judul “Efektivitas Penerimaan Pajak Daerah Sebagai Sumber Pendatan Asli Daerah (PAD) kab.Bantaeng” di maksudkan untuk memenuhi salah satu syarat guna menyelesaikan studi jurusan akuntansi, program studi akuntansi pada Universitas Muhammadiyah Makassar.
Penulis menyadari bahwa sejak penyusunan proposal dan skripsi ini rampung banyak hambatan, rintangan dan halangan, namun berkat motivasi dan doa dari berbagai pihak semua ini dapat teratasi dengan baik. Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini, penulis berharap dengan selesainya skripsi ini bukanlah akhir dari sebuah karya melainkan awal dari semuanya, awal dari perjuangan hidup.
Ucapan terima kasih yang tulus di sertai rasa penghormatan yang teramat sangat penulis haturkan kepada kedua orangtua tercinta ayahanda Muh.Baso dan Ibunda Suriati yang kubanggakan dan
IV
V
1. DR H. Irwan Akib, M.Pd, selaku rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. DR. Mahmud Nuhung, MA dekan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Ismail Badollahi, SE,M,Si.,Ak ketua jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Abd. Salam, HB SE,M,Si,,AK sekretaris jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Makassar.
5. Idham Khalid, SE,MM dan Faidhul Adziem SE, M.Si selaku pembimbing 1 dan 2 yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai.
6. Kedua nenekku tersayang H.rabakking dan Rabanti sebagai orang tua keduaku yang selalu membantu biaya sekolah dan menyayangiku serta berjasa selama pendidikanku hingga ssat ini.
VI
8. Untuk kakak tersayang Yadwal Irfan yang selama ini selalu memberikanku motivasi dan dorongan dalam penyelesaian studi selama di bangku kuliah.
9. Untuk murobbiyahku tercinta, jazakillah khoir yang telah memberikan bekal dan keseimbangan jasmani dan rohani serta mempertemukanku dengan hidayah-Nya. dan untuk teman-teman tarbiyahku, jazakillah khair yang telah menjadi seperjuanganku dalam perbaikan diri menjadi Mahasiswi yang Islami.
10. Saudari-saudariku di aspuri rindam yang saya sayangi dan saya cintai Mahyaya Nur, khaerun Ni,ma, Mita, Odha, vita, Inna, k’arfah, Indri, indah, Tika dan lain-lain, canda tawa yang telah kita lalui bersama di kediaman tercinta, kita bagaikan satu ikatan keluarga yang senantiasa saling menyayangi, melindungi, merindukan, dan saling melengkapi kekurangan, Kebersamaan kita akan tersimpan selalu di memoriku
11. Sahabat-sahabtku yang berjasa dalam kehidupanku selama di bangku kuliah yang saya sayangi dan saya cintai ada Lindah,
VII
12. Keluarga besar Ak.12 2010 tanpa terkecuali yang selama ini selalu berjuang bersama, saling memberikan motivasi dan semangat.
13. Serta teman-teman mahasiswa khususnya angkatan 2010 yang sama-sama berjuang untuk menyelesaiakan skripsinya masing-masing.
Tiada imbalan yang dapat di berikan oleh penulis, hanya kepada ALLAH SWT, penulis menyerahkan segalanya dan semoga bantuan yang diberikan selama ini bernilai ibadah di sisi-Nya. Mudah-mudahan skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak utamanya kepada almamater.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Makassar, Mei 2014
Penyusun
RISNAWATI
III
Bapak Idham Khalid, SE, MM dan Bapak Faidhul Adziem SE, M.Si)
Penelitian ini bersifat deskriptif yang artinya peneliti mendiskripsikan obyek penelitian dari sudut pandang peneliti baik secara kualitatif, obyek peneliti yang akan didiskripsikan meliputi obyek penerimaan PAD, wajib pajak dan aparat pemungutan, sarana dan fasilitas yang menunjang pemungutan dan mekanisme pemungutannya.
Alat yang dipergunakan untuk mengetahui apakah besarnya kontribusi pajak daerah terhadap Pendapatan Asli daerah (PAD) adalah ratio, dan sedangkan tingkat efektivitas pemungutan pajak daerah kota Bantaeng adalah analisis efektivitas. Hasil pendiskripsian yang dilakukan pada obyek penelitian adalah masih adanya obyek penerimaan PAD yang belum digali, dan ada obyek penerimaan PAD yang pemungutannya belum maksimal, wajib pajak yang sudah mempunyai ketaatan yang baik sebesar 80%
mekanisme pemungutan yang sudah berjalan secara baik sebesar 80,70% . Dari hasil pendiskripsian dan analisis tersebut, menunjukkan bahwa pemungutan pajak daerah sudah dilakukan berjalan efektif, namun demikian masih perlu peningkatan karena terdapat kendala-kendala dalam proses pemungutan seperti dalam hasil pendiskripsian di atas. Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti dapat mengimplikasikan bahwa sebaiknya pemerintah kota Bantaeng lebih meningkatkan lagi upaya efektif pemungutan PAD yaitu mencarikan atau minimalisi kendala-kendala yang di hadapi dalam proses pemungutan PAD.
Kata kunci: Efektivitas penerimaan pajak, pendapatan Asli daerah (PAD)
VII
ABSTRAK ... III KATA PENGANTAR... IV DAFTAR ISI ... VII DAFTAR GAMBAR... IX DAFTAR TABEL ... X
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Masalah Pokok ... 5
C. Tujuan dan Kegunaan Peneltian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
A. Pengertian Efektivitas ... 6
B. Pendapatan Asli Daerah (PAD) ... 8
C. Perkembangan Pendapatan Asli Daerah ... 11
D. Pengertian Pajak dan Jenisnya ... 12
E. Tata Cara Pemungutan Pajak dan Retribusi ... 17
F. Pembayaran Pajak dan Surat Setoran (SSP) ... 23
G. Alur Penerimaan Pajak ... 24
H. Fungsi Pajak ... 27
I. Peranan Pajak dalam Pembangunan ... 29
J. Kerangka Fikir ... 32
K. Hipotesis ... 35
VIII
C. Jenis dan Sumber Data ... 37
D. Metode Analisis ... 37
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ... 39
A. Sejarah Singkat Perusahaan ... 39
B. Struktur Organisasi ... 45
BAB V PEMBAHASAN PENELITIAN ... 52
A. Rasio Efektivitas Pendapatan Asli Daerah ... 52
B. Kontribusi Pajak parkir ... 53
C. Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)... 54
D. Alur Penerimaan Pajak Bantaeng ... 55
E. Kinerja Keuangan Daerah Pertumbuhan PAD... 57
F. Kontribusi Pajak Dan Retribusi Daerah terhadap PAD ... 59
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 62
A. Kesimpulan ... 62
B. Saran ... 63
DAFTAR PUSTAKA ... 64
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam dunia usaha mengingingkan perkembangan masyarakat untuk meningkatkan segala aktivitas menuntut diadakannya pembangunan di segala sektor guna terwujudnya suatu negara berkembang untuk menuju ke negara maju harus mengadakan pembangunan disegala bidang, seiring dengan itu, menetapkan pembangunan nasional yang merupakan kegiatan yang berlangsung secara terus menerus guna tercapainya tujuan, tidak terlepas dari masalah pembiayaan pembangunan itu sendiri.
Guna terwujudnya kemandirian suatu bangsa atau negara dalam usahanya untuk menyikapi masalah pembiayaan pembangunan maka salah satu jalan yang ditempuh pemerintah adalah menggali sumber dana dari dalam negeri berupa retribusi. Pemungutan retribusi yang dilakukan untuk pembangunan berguna bagi kepentingan bersama.
Telah diketahui bahwa APBN yang dibuat pemerintah bahwa salah sumber penerimaan yang menjadi pokok penerimaan dari sektor pajak. Dari tahun ke tahun kita dapat melihat bahwa penerimaan retribusi terus
1
meningkat dan memberi andil yang besar dalam penerimaan negara.
Penerimaan dari sektor retribusi selalu dikatakan merupakan primadona dalam membiayai pembangunan nasional
Seiring dengan perkembangan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di era reformasi ini, maka pembangunan nasional memasuki era desentralisasi atau lebih dikenal dengan dengan otonomi daerah sekarang ini. Otonomi Daerah bertumpuh pada pembangunan yang dilakukan oleh daerah-daerah Tingkat II atau pada Tingkat Kota dan Kabupaten.
Segala bentuk pembangunan dalam sistem otonomi daerah ditentukan dan dilaksanakan oleh daerah Tingkat II sendiri, sebagaimana diamanatkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), bahwa pembangunan daerah merupakan bagian integral dan pembangunan nasional yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu serta diarahkan agar pembangunan dapat berlangsung secara berdaya dan berhasil guna dari setiap daerah
Lebih lanjut lagi dalam Undang-Undang Nomor. 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah bahwasanya pemerintah daerah diberi otonomi yang nyata dan bertanggung jawab untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, sehingga melihat kenyataan, maka diperlukan dana yang cukup besar untuk membiayai keperluan daerah mengenai pembangunan.
Pelaksanaan otonomi daerah yang menuntut adanya pembiayaan menuju pembangunan disegala bidang guna peningkatan kesejahteraan masyarakat di dalam penerapannya belum berada dalam kondisi ideal, tetapi peranan daerah diharapkan mampu untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahannya, sehingga pemerintah daerah harus memiliki wewenang yang lebih banyak dan lebih besar untuk menetapkan retribusi daerah setempat dan menetapkan jumlah atau besarnya nilai pungutan terrtera di atas pelayanan masyarakat yang lebih disediakannya.
Pemerintah daerah dituntut untuk memiliki kecakapan dalam mengelola keunggulannya baik dari segi tata usaha penerimaan maupun pengelolaan dalam rangka Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Peran pemerintah beserta kemampuannya dalam bidang keuangan dan ekonomi daerah di dalam usaha peningkatannya telah dilakukan dengan cara pengambilan serangkaian kebijaksanaan dimana kebijaksanaan itu diarahkan pada terciptanya kemandirian dan kemampuan daerah dalam mengelolah potensio daerah yang ada untuk menyelenggarakan pemerintahannya sendiri.
Besarnya penerimaan daerah khususnya di Kota Bantaeng, salah satunya berasal dari retribusi dan pajak daerah yang relatif memadai. Tetapi masih perlu upaya untuk meningkatkannya. Oleh karena itu, diperlukan usaha peningkatan penerimaan daerah yang berasal dari pajak daerah dan retribusi daerah potensial dan lebih mencerminkan kegiatan daerah.
Permasalahan ini dapat ditanggulangi dengan adanya menyederhanaan dan perbaikan jenis dan struktur perpajakan daerah, untuk meningkatkan pendapatan daerah dan memperbaiki sistem administrasi perpajakan dan retribusi daerah.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berasal dari pajak dan retribusi daerah memiliki potensi yang untuk ditingkatkan salah satunya adalah pendapatan pajak dan retribusi yang diterima pemerintah Kota Bantaeng dari perusahaan umum daerah.
Sebagai sarana pelayanan masayarakat wajib pajak, pada kantor pajak tidak hanya dipatuhi untuk pribadi juga untuk dinas-dinas atau per instansi baik pemerintah maupun instansi swasta, tetapi juga pengumutan pajak secara paksa dan tidak mendapat balas jasa, bersamaan dengan itu, maka pajak sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah. Di berlakukanlah pungutan berupa pajak bagi setiap wajib pajak..
Berdasarkan uraian menyangkut pemungutan pajak di Kota Bantaeng
dengan judul “ efektivitas penerimaan pajak daerah sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD) Kab.Bantaeng.”
B. Masalah Pokok
Berdasakan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka masalah pokok yang diajukan, adalah “Bagaimanakah efektivitas penerimaan pajak daerah dalam upaya meningkatkan pendapatan asli daerah.?”
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan penelitian adalah :
a. Untuk mengetahui efektivitas penerimaan pajak daerah khususnya di kota Bantaeng.
2. Kegunaan Penelitian sebagai :
a. Bahan masukan atau sumbangan pikiran kepada dinas pajak daerah sebagai sumber pendapatan asli daerah di kota Bantaeng.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Efektivitas
Menurut Sumardji P, dkk (2006: 201), efektiviats adalah tingkat dimana kinerja yang sesungguhnya sebanding dengan kinerja yang di targetkan.
Menurut susilo (2004:29), efektivitas adalah suatu kondisi atau keadaan, dimana dalam memilih tujuan yang hendak dicapai dan sarana atau peralatan yang di gunakan, disertai tujuan yang diinginkan dapat di capai dengan hasil yang memuaskan. Sedangkan Gobson, dkk (2005), efektivitas dalam konteks perilaku organisasi merupakan hubungan optimal antara produksi, kualitas, efesiensi, fleksibilitas, kepuasan, sifat keunggulan, dan pengembangan.
Adisasmita R (2006:124), efektivitas adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki.
Menurut Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan Keuangan Daerah mengemukakan bahwa efektif merupakan
6
pencapaian hasil program dengan target yang telah ditetapkan, yaitu dengan cara membandingkan keluaran dengan hasil.
Menurut Mardiasmo, (2005: 40) efektivitas merupakan hubungan antara realisasi PAD yang di kelola oleh dinas pendapatan Daerah dengan potensinya berdasarkan anggapan bahwa semua wajib pajak atau retribusi daerah dapat membayar seluruh pajak atau retribusi yang menjadi kewajibannya pada tahun berjalan pajak yang terhutang.
Pengertian efektivitas yang umum menunjukkan pada taraf tercapainya hasil, dalam bahasa sederhana hal tersebut dapat dijelaskan bahwa efektivitas dari pemerintah daerah adalah tujuan pemerintah daerah tersebut dapat di capai dengan target yang telah ditetapkan, yaitu dengan cara membandingkan keluaran dengan hasil.
Kesimpulan dari beberapa pendapat di atas bahwa efektivitas merupakan perbandingan antara target pajak dengan realisasi penerimaan pajak. Jadi hasil dari perbandingan tersebut menunjukkan tingkat efektivitas pajak, semakin mendekati angka satu semakin baik efektivitasnya
5 5 5 5 5 5
B. Pendapatan Asli Daerah
Pendapatan asli daerah adalah semua hak daerah yang di akui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode anggaran tertentu (UU.No 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah), pendapatan daerah berasal dari penerimaan dana perimbangan pusat dan daerah, juga yang berasal daerah itu sendiri yaitu pendapatan asli daerah serta lain-lain pendapat yang sah.
Perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah adalah sistem pembagian keuangan yang adil, proporsional, demokratis, transparan, dan berpotensi, tanggung jawab dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi, dengan mempertimbangkan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah serta besaran penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan (UU.No 32 tahun 2004).
Pengertian pendapatan asli daerah menurut undang-undang No. 28 tahun 2009 yaitu sumber keuangan daerah yang di gali dari wilayah daerah yang bersangkutan yang terdiri dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
Menurut Nurcholis (2007: 182), pendapatan asli daerah adalah pendapatan yang diperoleh daerah dari penerimaan pajak daerah, retribusi daerah, laba perusahaan daerah, dan lain-lain yang sah.
Dari beberpapa pendapat di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pendapatan asli daerah adalah semua penerimaan keuangan suatu daerah, dimana penerimaan keuangan itu bersumber dari potensi-potensi yang ada di daerah tersebut, misalnya pajaknya pajak daerah, retribusi daerah dan lain-lain, serta penerimaan keuangan tersebut di atur oleh peraturan daerah.
Adapun sumber-sumber pendapatan asli daerah menurut Undang- Undang RI No.32 tahun 2004 yaitu:
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Yang Terdiri Dari:
a. Hasil pajak daerah yaitu pungutan daerah menurut peraturan yang ditetapkan oleh daerah untuk pembiyaan rumah tangganya sebagai badan hukum pajak publik. Pajak daerah sebagai pungutan yang di lakukan pemerintah daerah yang hasilnya digunakan untuk pengeluaran umum yang balas jasanya tidak langsung diberikan sedang pelaksanaannya bisa dapat di paksakan.
b. Hasil retribusi daerah yaitu pungutan yang telah secara sah menjadi pungutan daerah sebagai pembayaran pemakaian atau karena memperoleh jasa atau karena memperoleh jasa pekerjaan, usaha atau milik pemerintah daerah bersangkutan.
Retribusi daerah mempunyai sifat-sifat yaitu pelaksanaannya
bersifat ekonomis, ada imbalan langsung walau harus memenuhi persyaratan-persyaratan formil dan materiil, tetapi ada alternatif untuk mau tidak membayar, merupakan pungutan yang sifatnya budgetnya tidak menonjol, dalam hal-hal tertentu retribusi daerah adalah pengembalian biaya yang telah di keluarkan oleh pemerintah daerah untuk memenuhi permintaan anggota masyarakat.
c. Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Hasil perusahaan milik daerah merupakan pendapatan daerah dari keuntungan bersih perusahaan daerah yang berupa dana pembangunan daerah dan bagian untuk anggaran belanja daerah yang di setor ke kas daerah, baik perusahaan daerah yang dipisahkan, sesuai dengan motif pendirian dan peneglolaan, maka sifat perusahaan daerah adalah suatu kesatuan produksi yang bersifat menambah pendapatan daerah, memberikan jasa, menyelenggarakan kemanfaatan umum, dan memperkembangkan perekonomian daerah.
d. Lain-lain pendapatan daerah yang sah ialah pendapatan- pendapatan yang tidak termasuk dalam jenis-jenis pajak daerah, retribusi daerah, pendapatan dinas-dinas. Usaha daerah yang sah mempunyai sifat yang membuka bagi pemerintah daerah untuk
melakukan kegiatan yang menghasilkan baik berupa materi dalam kegiatan tersebut bertujuan untuk menunjang, melapangkan, atau memantapkan suatu kebijakan daerah disuatu bidang tertentu.
e. Dana perimbangan diperoleh melalui bagian pendapatan daerah dari penerimaan pajak bumi dan bangunan baik dari pedesaan, perkotaan, pertambangan sumber daya alam dan serta biaya perolehan hak atas tanah dan bangunan. Dana perimbangan terdiri atas dana bagi hasil, alokasi umum, dan alokasi khusus.
f. Lain-lain pendapatan daerah yang sah adalah pendapatan daerah dari sumber lain misalnya sumbangan pihak ketiga kepada daerah yang di laksanakan sesuai dengan perturan perundang- undangan yang berlaku.
C. Perkembangan Pendapatan Asli Daerah
Perkembangan perekonomian kabupaten Bantaeng sangat di topang oleh pertumbuhan kegiatan ekonomi yang tersebar secara sektoral dan spatial. Perluasan kegiatan ekonomi tersebut membawa dampak pada kenaikan pendapatan masyarakat sebagai dampak dari semakin meningkatnya keikutsertaaan masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya ekonomi yang ada. Hal ini tentunya akan berdampak pada potensi yang semakin besar dari jenis-jenis pajak yang dapat di kumpulkan dari kegiatan
ekonomi daerah. Sebagaimana dijelaskan di atas desentralisasi fiskal membawa dampak pada keterbukaan dan perluasan kewenangan bagi pemerintah daerah dalam mengoptimalkan penerimaan daerah. Dalam hal ini perkembangan dalam PAD akan mencerminkan kemampuan daerah dalam mendorong realisasi penerimaan daerah yang semakin meningkat.
Sumber-sumber PAD (pajak daerah, restribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, lain-lain pendapatan yang sah) yang ada dapat di perluas lagi sehingga dapat memberikan penerimaan yang optimal.
D. Pengertian Pajak Dan Jenisnya 1. Pengertian Pajak
Peraturan perpajakan di Indonesia telah di atur dalam undang- undang perpajakan No. 147/ 1997 meneganai tata cara pemungutan pajak kepada konsumen, dan tujuan tentang pemungutan pajak yang dituangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945, dengan sasaran utamanya adalah pemungutan pajak dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan kas Negara guna membiayai pembangunan infra struktur Negara serta meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Pemungutan pajak mempunyai makna tertentu, dalam hal ini bagaimana cara meningkatkan pembangunan yang dapat dinikmati masyarkat umum. Untuk membicarakan pajak lebih lanjut beberapa ahli
memberikan definisi atau pengertian pajak berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.
Sommer field (1991: 42) menyatakan bahwa pajak adalah suatu pengalihan sumber-sumber yang wajib dilakukan dari sektor swasta kepada sektor pemerintah berdasarkan peraturan tanpa mendapat suatu imbalan kembali yang langsung dan seimbang agar pemerintah dapat melaksanakan tugas-tugasnya dalam menjalankan roda pemerintah.
Fielman.N.J (2004: 6) menyatakan bahwa pajak adalah prestasi yang di paksakan sepihak oleh dan terutang kepada penguasa (menurut norma-norma yang di tetapkannya secara umum), tanpa adanya kontra prestasi, dan semata-mata di gunakan untuk menutup penguluaran- pengeluaran umum.
Pengertian diatas bahwa pajak sebagai paksaan untuk membayar tanpa adanya imbalan kepada si pembayar pajak, karena pajak itu pungutan kepada wajib pajak dengan tidak mengenal siapakah dia demi kepentingan Negara untuk menutupi pengeluaran-pengeluaran untuk kepentingan Negara.
Prof. Dr. P.J.A Adriani (2010: 7) mengatakan bahwa pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat di paksakan) yang terutang oleh mereka yang wajib membayarnya menurut peraturan, tanpa mendapat prestasi
kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran umum terkait dengan tugas Negara dalam menyelenggarakan pemerintahan.
Masqodin (2001: 12) menyatakan bahwa pajak adalah suatu pengalihan sumber-sumber yang wajib dilakukan dari sector swasta (dalam pengertian luas) kepada sektor pemerintah (kas Negara) berdasarkan undang-undang atau peraturan, sehingga dapat di paksakan tanpa ada kontra prestasi yang langsung dan seimbang yang dapat ditunjukkan secara individual.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan,sebagai berikut:
a. Pajak harus di paksakan kepada wajib pajak.
b. Pemungutan pajak tanpa ada imbalan atau kontra prestasi langsung maupun tidak langsung.
c. Pajak dipungut tujuan untuk menambah kas Negara.
d. Pajak dipungut dari rakyat dan untuk rakyat.
e. Dapat menutupi pengeluaran pemerintah.
Sonahmidjaya soeparman (2002: 24) mengemukakan bahwa pajak adalah iuran wajib berupa uang atau barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma hokum guna menutupi biaya produksi barang-
barang dan jasa kolektif dalam mencapai dan mengatur kesejahteraan umum.
Prof. Dr.Rochmat soemitro, S.H (2010: 7) mendefinisikan bahwa pajak adalah sebagai iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang- undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa-jasa timbal (kontra-prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
Beberapa definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli-ahli perpajakan di atas dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur:
a. Iuran rakyat kepada Negara, yang berhak memungut pajak adalah Negara iuran tersebut berupa uang.
b. Berdasarkan undang-undang, pajak dipungut berdasarkan undang-undang yang berlaku serta aturan pelaksanaannya.
c. Tanpa jasa timbale balik atau kontra prestasi, dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontra prestasi individual oleh pemerintah.
d. Digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara, yakni pajak digunakan sebagai pembiyaan rutin Negara demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat.
e. Pajak dipungut untuk menutupi segala kekurangan terhadap pengeluaran untuk kepentingan Negara.
2. Jenis-Jenis Pajak
Jenis-jenis pajak dan penggolongannya menurut Agus setiawan (2004:34) dapat di bagi menjadi:
a. Menurut Golongannya
1. Pajak langsung adalah pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak dan tidak dilimpahkan kepada orang lain.
2. Pajak tidak langsung adalah pajak yang pada akhirnya dapat di bebankan atau dilimpahkan kepada orang lain.
b. Menurut Sifatnya
1. Pajak Subjektif yaitu pajak yang berdasarkan pada subjeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri wajib pajak.
2. Pajak objektif yaitu pajak yang memperhatikan pertama- tama pada objek (benda, peristiwa, perbuatan, atau keadaan) yang menyebabkan timbulnya kewajiban membayar pajak, seperti pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah.
c. Menurut Wewenang Pemungutan
1. Pajak Negara (pusat) yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan membiayai rumah tangga Negara.
2. Pajak Daerah adalah yaitu pajak yang dipungut pemerintah daerah untuk membiayai rumah tangga daerah.
E. Tata Cara Pemungutan Pajak Dan Retribusi
Peran pajak yang kian dominan untuk menopang penerimaan suatu Negara telah membuatnya menjadi primadona sumber penggalangan dana.namun demikian, hal tersebut tidak dapat dilakukan secara serampangan, semena-mena, dan mengabaikan rasa keadilan. Demi keadilan, dalam pemungutan pajak ditentukan sistem, cara, asas, dan syarat yang diatur dalam undang-undang perpajakan. Oleh karena itu, dalam pemungutan pajak diperlukan penetapan tentang system, cara, asas, dan syarat pemungutan pajak yang disepakati bersama antara rakyat selaku
penanggung pajak melalui perwakilannya di parlemen dan pemerintah selaku pemungut pajak (fiskus). Menurut Silaholo Cyrus bagan
Gambar. 1 sistem, dan syarat pemungutan pajak yaitu:
Sumber : menurut Silaholo Cyrus
Sistem
Cara
Asas
Syaraf
1. Self Assesment System 2. Official Assesment System 3. With Holding Tax
1. Domisili 2. Sumber 3. Kebangsaan 1.Stelsel Ril 2.Stelsel Fiktif 3.Stelsel Campuran
1.Keadilan 2.Yuridis 3.Ekonomi 4.Finansial 5.Sederhana Pemungutan
Pajak
1. Sistem Pemungutan Pajak
Hingga saat ini ada 3 sistem yang di aplikasikan dalam pemungutan pajak. Di antaranya yaitu:
a. Self Assesment System
Dalam memory penjelasan Undang-Undang di nyatakan bahwa anggota masyarakat wajib pajak diberi kepercayaan untuk melaksanakan gotong royong nasional melalui sistem menghitung, memperhitungkan, dan membayar sendiri pajak terutang (self assessment), sehingga melalui sistem ini administrasi perpajakan diharapkan dapat dilaksanakan dengan lebih rapi, terkendali, sederhana,dan mudah dipahami oleh anggota masyarkat Wajib Pajak.
b. Official Assement System
Sistem pemungutan pajak ini adalah tata cara pelaksanaan sistem pemungutan yang memberi wewenang pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terhutang oleh wajib pajak, dengan cirri-cirinya:
1) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terhutang ada pada fiskus.
2) Wajib Pajak bersifat passif
3) Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat keputusan (SK) pajak oleh fiskus.
c. With Holding Tax
Dengan sistem ini pemungutan dan pemotongan pajak dilakukan melalui pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan wajib pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terhutang pada pihak ketiga, pihak selain fiskus dan wajib pajak, sistem ini juga tercermin pada pelaksanaan pengenaan pajak pengahasilan dan pajak pertambahan nilai.
2. Asas Pemungutan Pajak
a) Asas Domisili, yaitu bahwa pajak dibebankan pada pihak yang tinggal dan berada diwilayah suatu Negara tanpa memperhatikan sumber atau asal objek pajak yang diperoleh atau diterima wajib pajak.
b) Asas sumber, yaitu bahwa pembenan pajak oleh Negara hanya terhadap objek pajak yang bersumber atau berasal dari wilayah teritorialnya tanpa memperhatikan tempat tinggal wajib pajak.
c) Asas Kebangsaan, yaitu bahwa status kewarganegaraan seseorang menentukan pembebanan pajak terhadapnya. Perlakuan perpajakan antara warga Negara Indonesia dan warga Negara Asing itu berbeda.
3. Cara Pemungutan Pajak
a) Stelsel Riil atau Nyata (Riele Stelsel)
Merupakan cara pengenaan pajak yang didasarkan pada objek yang sesunggunhnya, yang benar-benar ada, dan dapat ditunjuk. Sebagai contoh, dalam pajak penghasilan, yang dimaksud penghasilan disini adalah penghasilan sesungguhnya yang di peroleh atau diterima dalam satu tahun sehingga pengenaaan pajaknya baru dapat dilakukan pada akhir tahun tersebut.
b) Stelsel Fiktif (Fictieve Stelsel)
Merupakan cara pengenaan pajak yang didasarkan pada suatu anggapan yang dilegalkan oleh undang-undang. Sebagai contoh, penetapan besaran angsuran pajak di awal tahun yang didasarkan pada anggapan bahwa pendapatan tahun ini adalah sama dengan pendapatan tahun lalu.
c) Stelsel Campuran
Pada dasarnya merupakan gabungan dari dua stelsel yang ada yaitu stelsel riil dan stelsel fiktif.pada awal tahun pajak menggunakan stelsel fiktif dan setelah akhir tahun menggunakan stelsel riil.
Contohnya adalah pajak penghasilan.
4. Syarat pemungutan Pajak a) Syarat Keadilan
Pemungutan pajak dilaksanakan secara adil baik dalam peraturan maupun realisasi pelaksanaannya.
b) Syarat Yuridis
Pemungutan pajak harus berdasarkan undang-undang yang ditujukan untuk menjamin adanya hokum yang menyatakan keadilan yang tegas, baik untuk Negara maupun untuk warganya.
c) Syarat Ekonomis
Pemungutan pajak tidak boleh menghambat ekonomi rakyat, artinya pajak tidak dipungut apabila justru menimbulakan kelesuan perekonomian masyarakat.
d) Syarat Finansial
Pemungutan pajak dilaksanakan dengan pedoman bahwa biaya pemungutan tidak boleh hasil pemungutannya.
e) Syarat Sederhana
sistem pemungutan pajak harus dirancang sesederhana mungkin untuk memudahkan pelaksanaan hak dan wajib pajak.
F. Pembayaran Pajak Dan Surat Setoran (Ssp)
Menurut Siti Resmi (2011: 31) pembayaran pajak dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:
1) Membayar sendiri pajak yang terutang.
a. Pembayaran angsuran setiap bulan (PPh pasal 25), yaitu pembayaran pajak penghasilan secara angsuran. Hal ini dimaksudkan untuk meringankan beban wajib pajak dalam melunasi pajak yang terutang dalam 1 tahun pajak. Wajib pajak diwajibkan untuk mengangsur pajak yang akan terutang pada akhir tahun dengan membayar sendiri angsuran pajak setiap bulan.
b. Pembayaran PPh pasal 29 setelah akhir tahun, yaitu pelunasan pajak penghasilan yang dilakukan sendiri oleh wajib pajak pada akhir tahun pajak apabila pajak terutang untuk suatu tahun pajak lebih besar dari total pajak yang dibayar sendiri dan pajak yang dipotong atau dipungut pihak lain sebagai kredit pajak.
2) Melalui pembayaran pajak di luar negeri (PPh Pasal 24).
3) Pemungutan PPN oleh pihak penjual atau oleh pihak yang ditunjuk pemerintah (misalnya bendaharawan pemerintah).
4) Pembayaran pajak-pajak lainnya yaitu:
a. Pembayaran pajak Bumi dan Bangunan (PBB), yaitu pelunasan berdasarkan surat pemberitahuan pajak Terutang (SSPT).
b. Pembayaran Bea perolehan hak atas tanah dan Bangunan (BPHTB), yaitu pelunasan pajak atas perolehan hak atas tanah dan bangunan.
c. Pembayaran Bea materai, yaitu pelunasan pajak atas dokumen yang dapat dilakukan dengan cara menggunakan benda materai berupa materai tempel atau kertas bermaterai atau dengan cara lain seperti mengguanakan mesin teraan.
Pelaksanaan pembayaran pajak dapat dilakukan kantor penerima pembayaran dengan menggunakan surat setoran pajak (SSP) yang dapat di ambil di kantor Pelayanan Pajak (KKP) atau dengan cara lain melalui pembayaran pajak secara elektronik.surat setoran pajak (SSP).
G. Alur Penerimaan Pajak
Penerimaan pajak diperoleh dari berbagai sumber. Seacar umum yaitu penerimaan pajak yang meliputi pajak pengahasilan (PPh), pajak pertambahan nilai (PPN), pajak bumi dan bangunan (PBB), bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), cukai, dan pajak lainnnya, serta pajak perdagangan (bea masuk dan pajak/ pungutan ekspor) merupakan sumber penerimaan utaman dari APBN. Sealin itu, penerimaan Negara
buakn pajak (PNBP) meliputi penerimaan dari sumber daya alam, setoran laba BUMN, dan penerimaan bukan pajak lainnya, walaupun memberikan kontribusi yang lebih kecil terhadap total penerimaan anggaran, jumlahnya semakin meningkat secara signifikan tiap tahunnya. Berbeda dengan sistem penganggaran, pada sistem ini penganggaran saat ini sumber-sumber pembiayaan (pinjaman) tidak lagi di anggap bagian dari peneriamaan.
Di dalam APBN dijelaskan bahwa sumber pendapatan dan pendisrtibusiannya. Pendapatan yang paling besar dari pemerintah berasal dari pajak.penghasilan dari pajak yang diterima dapat di alokasikan ke berbagai sector pembangunan. Dengan pedoman APBN, pendapatan yang di terima yang bersumber dari pajak dapat di gunakan untuk membangun sarana-sarana umum seperti jembatan, jalan, taman umum dan pengeluaran lainnya yang bersifat umum. Berikut ini adalah alur penerimaan pajak
Gambar. 2 penerimaan Pajak
Sumber: Hery purwono (2010: 124)
Pendataan
Pendaftaran WP Daerah
Berkas NPWP Berkas SPTPD
penetapan
Berkas SKP Daerah Verifikasi Data Bukti Pembayaran
Surat Tanda setoran (STS)
Evaluasi Pelaporan Laporan Rutin
Bulanan
H. Fungsi Pajak
Terdapat dua fungsi pajak, yaitu fungsi budgetair (sumber keungan Negara) dan fungsi regularend (pengatur).
a. Fungsi Budgetair (Sumber Keuangan Negara)
Pajak mempunyai fungsi budgetair, artinya pajak merupakan salah satu sumber penerimaan pemerintah untuk membiayai pengeluaran baik rutin maupun pembangunan. Sebagai sumber keuangan Negara, pemerintah berupaya memasukkan uang sebanyak-banyaknya untuk kas Negara. Upaya tersebut ditempuh dengan cara ekstensifikasi maupun intensifikasi pemungutan pajak melalui penyempurnaan peraturan berbagai jenis pajak seperti pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai (PPN), dan pajak penjualan atas barang mewah (PPNBM), pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan lain-lai
b. Fungsi Regularend (Pengatur)
Pajak mempunyai fungsi pengatur, artinya pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang
sosial dan ekonomi, serta mencapai tujuan-tujuan tertentu di luar bidang keuangan.
Contoh penerapan pajak sebagai fungsi pengatur adalah:
1. Pajak yang tinggi di kenakan terhadap barang-barang mewah. Penjualan atas barang mewah di kenakan pada saat terjadi transaksi jual beli barang mewah. Semakin mewah suatu barang maka tariff pajaknya semakin tinggi sehingga barang tersebut semakin mahal harganya. Pengenaam pajak ini dimaksudkan agar rakyat tidak berlomba-lomba untuk mengonsumsi barang mewah (mengurangi gaya hidup mewah)
2. Tarif pajak progresif dikenakan atas penghasilan, dimaksudkan agar pihak yang memperoleh penghasilan tinggi memberikan kontribusi (membayar pajak) yang tinggi pula, sehingga terjadi pemerataan pendapatan.
3. Tarif pajak sebesar 0% dimaksudkan agar pengusaha terdorong mengekspor hasil produksinya dipasar dunia sehingga dapat memperbesar devisa Negara.
I. Peranan Pajak Dalam Pembangunan
Untuk membiayai kegiatan pemerintahan dalam usahanya menunaikan suatu kewajiban tugas yang diembangnya untuk kepentingan umum dan atau kepentingan pembangunan, maka pemerintah dalam hal ini memerlukan biaya guna mewujudkan segala usaha. Semakin banyak kegiatan dan usaha-usaha yang dijalankan oleh pemerintah semakin besar pula biaya yang diperlukan, banyak pula kegiatan yang harus dilaksanakan untuk kebutuhan pembiayaan senantiasa diperlukan.
Kebutuhan akan biaya yang selalu meningkatkan itulah yang mendorong pemerintah untuk senantiasa.
Memikirkan jalan keluarnya, dari mana dan dengan cara bagaimana sehingga dapat diperoleh biaya untuk menutupi kepentingan-kepentingan Negara.
Soenahmidjaya Soeparman (2002: 27) menyatakan bahwa salah satu sumber keuangan Negara yang dapat menunjang pembangunan adalah dari hasil pemungutan pajak. Pemerintah berusaha semaksimal mungkin guna lebih memperlancar pemasukan keuangan Negara melalui sector perpajakan.
Usaha ini mencerminkan dengan adanya undang-undang perpajakan yang baru, yang menggantikan undang-undang perpajakan yang dibuat pada zaman Belanda dahulu, seperti ordonansi pajak.
Indonesia sebagai Negara hukum yang telah menempatkan landasan pemungutan pajak dalam undang-undang dasar 1945 pasal 23 ayat 2 menetapkan bahwa segala pajak untuk keperluan Negara harus didasarkan atas undang-undang. Dan dari penjelasan pasal terlihat bahwa para pendiri Negara menyadari sepenuhnya betapa mendasarnya dan pentingnya peranan pajak untuk kelangsungan hidup Negara dan bahwa dalam memungut pajak azas keadilan dan kepastian harus di atur secara nyata.
Cara dan metode rakyat memanfaatkan waktu sebagai bangsa akan hidup ditetapkan oleh rakyat itu sendiri.
Dengan perantaraan Dewan perwakilan Rakyat, rakyatlah menentukan sendiri nasibnya, oleh karena itu cara hidupnya bagaimana menggunakan sumber alam yang ada dan sumber lainnya, agar hidupnya bisa layak dan bisa mencukupi seluruh kebutuhannya. Untuk menetapkan belanja mengenai hak rakyat dalam menentukan nasibnya sendiri. Segala tindakan menetapkan beban rakyat seperti pajak dan lain-lain harus ditetapkan dengan undang-undang dengan persetujuan dewan perwakilan rakyat.
Adapun undang-undang perpajakan yang baru adalah undang- undang Nomor 6 tahun 1992 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan dan peraturan pemerintah Nomor 35 tahun 1993 tentang pendaftaran, pemberian Nomor pokok wajib pajak, penyampaian surat pemberitahuan dan persyaratan pengajuan keberatan.
Kalau menurut Direktur jenderal pajak Departemen keuangan mengatakan bahwa landasan pemikiran jiwa, sasaran dan tujuan undang- undang pajak yang lama, dirasakan sudah tak sesuai lagi dengan harkat dan jiwa kehidupan bangsa Indonesia yang telah merdeka dan berdaulat, berdasarkan filsafah Pancasila dan undang-undang Dasar 1945.
Sedangkan kalau ditinjau dari segi ketatanegaraan, juga terlihat adanya pokok perbedaan mengenai pelaksanaan pemungutan pajak dizaman kolonial dan dalam kemerdekaan dewasa ini. Kalau zaman kolonial pemungutan pajak semata-mata ditujukan untuk memenuhi kepentingan pemerintah penjajah, dalam alam kemerdekaan pemungutan pajak merupakan perwujudan atas kewajiban kenegaraan dan partisipasi anggota masyarakat dalam memenuhi keperluan pengeluaran Negara dan
pembangunan nasional. Guna tercapainya keadailan social dan kemakmuran yang merata, baik material maupun spiritual.
Membiayai pembangunan selain dari hasil penerimaan dalam negeri, masih ada alternative lain yakni memperbesar hutang luar negeri. Namun hal ini sulit untuk di pertanggung jawabkan, lagi pula membangun dengan hutang berarti yang di biayai oleh pembayaran pajak rakyat negeri lain.
Tentunya menyangkut harga diri sebagai bangsa yang merdeka.
Dengan menyadari tentang kekurangan baik alternative yang disebutkan, maka pilihan tidak ada lain kecuali meningkatkan kemandirian melalui pengumpulan pajak dengan tekad kita membangun dengan kemampuan kita sendiri, adapun di luar itu hanya sebagai pelengkap saja.
J. Kerangka Pikir
Pelaksanaan komputerisasi direktorat jenderal pajak dimulai sejak tahun 1984 hanya digunakan untuk pendaftaran dan pemberian NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) untuk meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan pemungutan pajak yang baik maka di perlukan metode efesiensi dan efektivitas penerimaan pajak.
Efektivitas adalah ukuran kualitas output itu. Ketika mengukur efesiensi, harus diketahui berapa banyak biaya yang harus ditanggung untuk mencapai suatu output tertentu. Ketika mengukur efektiviatas harus diketahui apakah investasi tersebut dapat berguna. Efektivitas merupakan hal terpenting.
Efektivitas juga merupakan suatu kondisi atau keadaan, dimana dalam memilih tujuan yang hendak dicapai dan sarana atau peralatan yang di gunakana, disertai tujuan yang diinginkan dapat di capai dengan hasil yang memuaskan.
pendapatan asli daerah adalah semua penerimaan keuangan suatu daerah, dimana penerimaan keuangan itu bersumber dari potensi-potensi yang ada di daerah tersebut, misalnya pajaknya pajak daerah, retribusi daerah dan lain-lain, serta penerimaan keuangan tersebut di atur oleh peraturan daerah.
Pajak adalah iuran wajib kepada Negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang,
dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi kemakmuran rakyat.
Pajak juga merupakan paksaan harus dibayar yang tidak mendapat imbalan atau kontra prestasi, sehingga wajib pajak tidak ada alas an jika tidak mau membayar kewajibannya sesuai besarnya atau yang terterah pada Surat Pemberitahuan Pembayar Pajak Terhutang (SPPT).
Seorang wajib pajak mendatangi kantor pelayanan pajak melakukan pembayaran sesuai dengan SPT tahun pada itu juga atau pada Bank yang ditunjuk oleh kantor pajak. Pelayanan lebih cepat dan efektif dengan menggunakan SIP.
Sarana dan prasarana dalam meningkatkan kegiatan harus ditunjang oleh sarana yang memadai untuk memperlancar dan mempercepat pekerjaan agar dapat selesai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan atau lebih cepat dari jadwal yang telah ditetapkan.
Untuk lebih jelasnya kerangka pikir dapat diuraikan dalam bentuk skema sebagai berikut:
Gambar. 3 Kerangka Pikir
K. Hipotesis
Berdasarkan masalah pokok dan tujuan penelitian diatas, maka diduga bahwa peranan efektifitas penerimaan pajak daerah dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan dapat memperlancar pengurusan perpajakan di Bantaeng.
Efektivitas Pajak
Pajak Dan Jenisnya Pendapatan Asli
Daerah (PAD)
Pembayaran Pajak pemungutan Pajak
& Retribusi
Penerimaan pajak
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Dan Waktu Penelitian
Untuk memperoleh data yang dibutuhkan, maka penulis memilih kantor pelayanan pajak Bantaeng. Waktu penelitian untuk memperoleh data, maka pengambilan data direncanakan kurang lebih 2 (dua) bulan.
B. Metode Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data, maka penulis mengadakan studi dan pengumpulan data melalui penelitian lapang (field research) dan penelitian pustaka (library research), sebagai berikut :
a. Penelitian Pustaka (Library Research) yaitu penulis mengumpulkan data yang berhubungan dengan teori tata cara pemungutan pajak dalam daerah Bantaeng Untuk memperoleh data dalam fungsi diperoleh dari buku literatur dan catatan perkuliahan. Disamping itu penulis mengumpulkan data yang ada kaitannya dengan permasalahan yang akan di bahas dan dapat mendukung penelitian ini.
36
Untuk mengumpulkan data lapangan yang diperlukan, digunakan tehnik/metode sebagai berikut :
a. Observasi, yaitu mengadakan pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian
C. Jenis Dan Sumber Data 1. Jenis data
a. Data kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari perusahaan yang diteliti dalam bentuk angka-angka dan dapat digunakan untuk pembahasan lebih lanjut.
2. Sumber data
a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dengan jalan mengadakan pengamatan serta wawancara secara langsung dengan kepala Kantor Pelayanan Pajak Bantaeng dan sejumlah personil sehubungan dengan data yang dibutuhkan penyusunan skripsi ini.
D. Metode Analisis
Untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, maka metode analisis yang digunakan adalah :
1. Metode deskriptif kuantitatif, yaitu metode yang menjelaskan tata cara pemungutan retribusi pada kantor pelayanan pajak Bantaeng.
a. metode kuantitatif, yaitu data yang berbentuk angka yang diperoleh dari kantor KPP Pratama Bantaeng seperti yang dibutuhkan oleh penulis adalah daftar peningkatan Pendapatan Asli Daerah.
BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Sejarah Singkat Perusahaan
KPP Pratama Bantaeng berdiri pada tahun 2007 di mana merupakan KP4 dan KP PBB Bantaeng. Di jadikannnya sebagai kantor Pratama adalah dalam rangka modernisasi perpajakan yang dilakukan di Rektorat Jenderal pajak.
Lokasi kantor KPP Pratama Bantaeng saat ini berada di wilayah kabupaten Banteang tepatnya beralamat di Jl. Andi Mannappiang, Lamalaka Bantaeng. Lokasi kantor berjarak sekitar 150 km kea rah selatan dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
Wilayah KPP Pratama Bantaeng yang berada di selatan kota Makassar memiliki wilayah yang terbentang dari timur ke barat sekitar 150 km, sementara dari utara ke selatan berjarak sekotar 90 km ( sebahagiaan memiliki wilayah kepulauan disebelah timur kab.
Takalar).
40 39
Dari ke 4 (empat) kabupaten wilayah kerja KPP pratama Bantaeng kabupaten Gowa memiliki kontribusi dominan yakni sekitar 60 % penyokong target penerimaan pajak KKP Pratama Bantaeng, hal tersebut sangat strategis oleh karena letaknya yang berdekatan dengan kota Sulawesi selatan di bagian selatan.
Di samping luas wilayah kabupaten Gowa yang cukup besar serta jumlah penduduk yang cukup banyak, kabupaten ini memiliki akses ekonomi yang cukup baik dalam pertumbuhan ekonomimya.
Kabupaten Gowa menjadi daerah alternatif pengembangan hunian kota Makassar yang di canangkan untuk berkembang kearah selatan.
Sudah barang tentu banyak developer atau pengembang yang mengincar wilayah ini untuk dijadikan sasaran pembangunan perumahan baik dilevel sederhana hingga hunian mewah.
Pembangunan wilayah kabupaten Gowa sangatlah pesat, baik dibidang suprastruktur maupun fasilitas infrastrukturnya.
Perkembangan pesat pembangunan diwilayah Gowa sudah barang tentu juga menambah income bagi penerimaan pajak KKP Pratama
Bantaeng. Namun sangat ironis pengawasan pemenuhan kewajiban perpajakannnya justru dimonitor dari kantor pajak yang lokasinya sangat berjauhan dengan kegiatan usaha yang sangat pesat tersebut.
KPP Pratama Bantaeng adalah salah satu dari 15 KPP dilingkungan kanwil DJP Sulselbarta merupakan type KPP berstatus sedang dengan jumlah pegawai sekitar 53 orang dan 8 pegawai KP2KP. Terdiri dari 7 seksi yakni sub bagian umum, Seksi PDI, 2 seksi ekstensifikasi perpajakan, seksi pemeriksaan dan fungsional pemeriksa serta 3 unit KP2KP yakni;
1. KPP Pratama Bantaeng : 51 pegawai 2. KP2KP Sungguminasa : 3 pegawai
3. KP2KP Takalar : 3 pegawai
4. KP2KP Bontosunggu, Jeneponto : 3 pegawai Tabel. 1 Struktur Lembaga pemeriksaan
Nama Struktur Jumlah Pegawai KPP Pratama Bantaeng 51 Pegawai
KP2KP Sungguminasa 3 pegawai KP2 KP2KP Takalar 3 Pegawai KP2KP Bontosungguh 3 Pegawai Sumber : karyawan KPP Pratama Bantaeng
Tabel.2 Struktur pegawai di KPP Pratama Bantaeng
NO KODE
SEKSI
SEKSI JUMLAH
1. 1 \ Kepala Kantor pajak 1
2. 901 Sub Bagian Umum 4
3. 902 Seksi Pengolahan
Data dan informasi
4
4. 903 Seksi Pelayanan 9
5. 904 Seksi Penagihan 3
6 905 Seksi Pemeriksaan &
Fungsional
7
7. 906 Seksi Eksentifikasi perpajakan
4
8. 907 Seksi Pengawasan &
Konsultasi 1
10
9 908 Seksi Pengawasan &
konsultasi 2
10
JUMLAH WP 15
Sumber: Data Pegawai Perseksi
Sumber Adi irawan pegawai KKp Pratama Bantaeng (2013:23) hampir 75% pegawai yang bertugas di KPP Pratama Bantaeng bertempat tinggal (homobase) di sekitar wilayah Makassar.
Sehingga setiap minggu mereka harus pulang pergi sejauh 300 km.
untuk bekerja di KKP Pratama Bantaeng. Hal tersebut juga menjadikan pertimbangan invektivitas pekerjaan serta demotivasi dalam peningkatan kualitas kinerja.
Dengan luasa wilayah kerja yang sangat besar bila dibandingkan jumlah pegawai yang sangat dirasakan kurang, sehingga untuk wilayah yang jauh dari KPP Bantaeng dipertimbangkan sangat tidak efektif. Apabila lokasi kantor tersebut dapat dioptimalkan untuk sebesar-besarnya melakukan pengawasan diwilayah yang berpotensi dalam menyumbang setoran kenegera.
Fasilitas kantor antara lain:
1. Computer PC 2. Internet 3. AC ruangan 4. Printer
5. Kursi dan meja 6. Kantin
7. Mushollah
Tugas dan fungsi masing-masing seksi:
1. Subbag Umum : melakukan tupoksi dibidang keuangan, kepegawaian, perlengkapan barang, dan lainnya yang menunjang jalannya kegiatan perkantoran.
2. Seksi pelayanan : mengadministrasikan SPT masa dan Tahunan, melakukan sosialisasi, memberikan pelayanan dibidang perpajakan, serta lainnya.
3. Seksi PDI : mengkompilasi data wajib pajak menyangkut SPT masa dan tahunan.
4. Seksi penagihan : melakukan tindakan penagihan dan menatausahakan dokumen tentang penagihan meliputi surat teguran, surat tagihan pajak, surat lainnya
5. Seksi pengawasan konsultasi : melakukan pengawasan dan konsultasi perpajakan kepada wajib pajak ( bimbingan)
6. Seksi ekstensifikasi perpajakan : menghimbau masyarakat agar memiliki NPWP dan verifikasi lapangan.
7. Seksi pemeriksaan : menatausahakan dokumen pemeriksaan terhadap wajib pajak yang telah diperiksa.
B. Struktur Organisasi
Untuk memperlancar kegiatan perusahaan dalam proses pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, maka perlu adanya pembagian tugas yang jelas. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya pelaksanaan tugas yang tumpang tindih maupun ketidak jelasan wewenang dan tanggung jawab dari para pelaksana organisasi usaha.
Oleh karena itu, perlu di usahakan terciptanya suatu tim kerja yang kompak, saling membantu dan menunjang satu sama lainnya dalam pelaksanaan pekerjaan sebagai upaya pencapaian tujuan dari perusahaan.
KPP Pratama Bantaeng memiliki struktur organisasi yang cukup kompleks, karena mempunyai kegiatan dan tugas yang berbeda-beda.
Dalam hal ini perusahaan dan anak perusahaan serta unit usaha yang tergabung didalamnya.
Pimpinan dalam menjalankan tugas atau dalam mengelola perusahaan di bantu oleh pejabat dan staf. Pejabat ini terdiri dari kanwil DJP Sulawesi selatan, ada kepala KPP Pratama banateng. KP2KP bonto
sunggu, KP2KP sungguminasa, KP2KP Takalar, dan sub bagian umum serta berbagai seksi lainnya seperti seksi pengolahan data dan informasi, seksi penagihan, seksi pengawasan konsultasi 1, seksi pengawasan konsultasi 2, seksi ekststensifikasi perpajakan, seksi pemeriksaan dan kepatuhan internal, dan seksi pelayanan.
Dari berbagai tugas yang di laksanakan pegawai atau karyawan KKP Pratama Bantaeng sangat signifikan adanya kesadaran akan tanggung jawab masing-masing yang harus di perhatikan pula adalah kedisiplinan dalam menjalankan tugas, di kantor KPP Pratama Bantaeng memiliki tempat yang sangat strategis di tengah-tengah kota Bantaeng yang memudahkan seseorang mendapatkan pelayanan yang di inginkannya. Terlihat dari struktur ke organisasiannya sudah mencerminkan pengaruh yang sangat bagus dalam mengatur berbagai pelayanan di dalam KPP Pratama Bantaeng, seperti yang terlihat dalam struktur berikut:
Gambar. 4 Struktur Organisasi KPP Pratama Bantaeng
Sumber : Karyawan KPP Pratama Bantaeng KPDJP
Kanwil DJP Sulawesi Selatan Barat & Tenggara (Arfan)
KKP Pratama Bantaeng
(Agus Salim)
Pegawai Fungsional
4 pegawai
KP2KP Bonto sungguh 3
pegawai
Kp2kp Sungguh
Minasa 3 Pegawai Kp2kp Takalar 3 pegawai
Sub Bagian Umum (Suleha)
Seksi Pengolahan Data & Informasi (Mochamad chanif
Fausan)
Seksi
Penagihan (Andi Sapri)
Seksi pengawasan &
konsul 1 (A.Tendri)
Seksi pengawasan konsul 2 (Taufik Kahar)
S seksi ekstentifikasi perpajakan (Sukirman)
Seksi pemeriksaan (Pius Sumule)
Seksi pelayanan (Dwi Restanto)
Sumber Umar Mulyadi (2013: 23), Dengan melihat skema struktur organisasi KPP Prtama Bantaeng tersebut berikut ini penjelasan singkat mengenai tugas, wewenang, dan tanggung jawab masing-masing bagian tersebut yaitu:
1. Direktur utama/ wakil direktorat
a) Memimpin dan menentukan kebijaksanaan perusahaan
b) Mengurus dan menjaga perusahaan, menetapkan tata tertib serta menjalankan perusahaan.
c) Mengusahakan hubungan yang baik antara perusahaan dengan pemerintah serta masyarakat setempat.
d) Mengesahkan rencana anggaran pendapatan dan belanja tahunan perusahaan.
e) Wakil direktorat sebagai kuasa usaha yang mengurus dan menjaga perusahaan serta tugas lain direktur apabila direktur tidak ada ditempat.
2. Sub bagian Umum
Tugas sub bagian umum tugasnya yaitu melakukan tupoksi dibidang keuangan, kepegawaian, perlengkapan barang, dan lainnya yang menunjang jalannya keanggotaan perkantoran.seperti:
a. Urusan kepegawaian b. Keuangan
c. Tata usaha
3. Seksi pengolahan data dan informasi
Tugas pada bagian data dan informasi yaitu bertugas untuk mengamati pengolahan data serta informasi yang masuk di perusahaan pajak tersebut, dalam pengelolaan ini banyak hal yang perlu diperhatikan, termasuk dalam hal ketelitian dalam menginput atau mengolah data dan informasi.seperti:
a. Melakukan pengumpulan, pencarian, dan pengolahan data b. Penyajian informasi perpajakan
c. Perekaman dokumen perpajakan
d. Urusan tata usaha penerimaan perpajakan e. Pengelokasian PBB & PBHTB
f. Pelayanan dukungan tekhnis computer g. Pemantauan aplikasi e-SPT dan e-filing h. Pelaksanaan i-SISMIOP dan SIG
i. Penyiapan laporan kinerja 4. Seksi penagihan
a. Mempunyai tugas melakukan urusan penatausahaan piutang pajak, penundaan dan angsuran tunggakan pajak.
b. Penagihan aktif
c. Usulan penghapusan piutang pajak
d. Penyimpanan dokumen-dokumen penagihan 5. Seksi pelayanan
a. Melakukan penetapan dan penerbitan produk hukum perpajakan
b. Pengadmininstrasian dokumen dan berkas perpajakan
c. Penerimaan dan pengelolaan surat pemberitahuan, serta surat penerimaan lainnya.
d. Penyuluhan perpajakan
e. Pelaksanaan registrasi wajib pajak f. Melakukan kerjasama perpajakan 6. Seksi ekstensifikasi
a. Melakukan pengamatan potensi perpajakan b. Pendapatan objek dan subjek pajak
c. Pembentukan dan pemutakhiran basis data nilai objek pajak dalam menunjang ekstensifikasi.
7. seksi pengawasan dan konsultan 1 dan 2
a. melakukan pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan wajib pajak
b. bimbingan/ himbauan kepada wajib pajak dan konsultasi teknis perpajakan.
c. Penyusunan profil wajib pajak d. Analisis kinerja wajib pajak
e. Rekonsiliasi data wajib pajak dalam rangka melakukan intensifikasi
f. Usulan pembetulan ketetapan pajak, usulan pengurangan PBB
& BPHTB, serta melakukan evaluasi hasil banding.
BAB V
PEMBAHASAN PENELITIAN
A. Rasio Efektivitas Pendapatan Asli Daerah
Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan pendapatan asli daerah yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditentukan berdasarkan potensi riil daerah. Kemampuan daerah dalam menjalankan tugas di kategorikan efektif apabila rasio yang di capai mencapai minimal sebesar 1 (satu) atau 1oo% (seratus persen), namun demikian semakin tinggi rasio efektivitas, menggambarkan kemampuan keuangan daerah yang semakin baik.
Daerah di kabupaten Bantaeng sebelum otonomi daerah mempunyai rata-rata efektivitas PAD sebesar 1,01% sedangkan rata-rata di Era Otonomi Daerah sebesar 2,40%. Untuk pos pajak daerah sudah memenuhi target yang ditetapkan, karena mempunyai Rasio efektivitas lebih dari 1 (satu) atau di atas 100%, jika di bandingkan di Era otonomi daerah, Rata-rata Efektivitas PAD mengalami peningkatan.
Untuk pos Restribusi di kabupaten Bantaeng sebelum otonomi daerah mempunyai rata-rata efektivitas PAD sebesar 1,25% sedangkan rata-rata di era otonomi daerah sebesar 1,81%. Untuk pos restribusi daerah sudah memenuhi target yang di tetapkan sehingga mempunyai
53 52
rasio efektivitas lebih dari 1 (satu) atau lebih dari 100%. Namun jika di bandingkan dengan pada era otonomi daerah, Rata-Rata efektivitas PAD mengalami peningkatan.
Sedangkan untuk pos bagian laba usaha milik daerah mempunyai rata-rata efektivitas PAD sebesar 0,94% sedangkan rata-rata di era otonomi daerah sebesar 1,91%. Untuk pos bagian laba usaha milik daerah sudah memenuhi target yang ditetapkan sehingga mempunyai Rasio efektivitas lebih dari 1 (satu) atau lebih dari 100%.
B. Kontribusi Pajak Parkir
Pendapata asli daerah (PAD) merupakan penerimaan dari pungutan pajak daerah, retribusi daerah, pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan pendapatan lain-lain. Pajak daerah adalah pajak yang pengelolaan dan pemungutannnya dilaksanakan oleh pemerintah daerah dan untuk kepentingan daerah itu sendiri.
Pajak atas penyelenggaraan tempat parkir, merupakan sector potensial dalam peningkatan efektivitas penerimaan pajak parkir dan kontribusi yang diberikan oleh tempat parkir dapat memacu pembangunan ekonomi kota Bantaeng. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat efektivitas dan kontribusi pajak parkir terhadap
PAD kota Bantaeng. Penelitian dilakukan pada dinas pendapatan daerah kota Bantaeng. Metode analisis yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan data sekunder. Di lakukan untuk memperoleh gambaran mekanisme penerimaan pajak parkir di kota Bantaeng dari data kuantitatif serta untuk mengetahui efektivitas penerimaan pajak parkir dan kontribusinya terhadap PAD dalam rangka menuju kemandirian daerah. Tingkat efektivitas tertinggi pajak parkir tahun 2008-2012 bervariasi. Tingkat efektivitas tertinggi pajak parkir setiap tahun 2011, dan terendah tahun 2009. Secara keseluruhan kontribusi pajak parkir tahun 2008-2012 memberikan kontribusi yang kurang terhadap PAD. Persentase kontribusi pajak parkir tersebar tahun 2011 dan terendah tahun 2009.
C. Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Kab. Bantaeng menarget peningkatan pendapatan daerah sebesar 4,94 persen dari Rp 590,1 miliar menjadi Rp 619,3 miliar pad 2014.
Target tersebut tertuang dalam Rancangan Anggaran Pendapatn dan BELANJA DAERAH (RAPBD).
Penyerahan RAPBD tersebut dilakukan dalam sidang paripurna DPRD Bantaeng, pada tahun 2013 Pendapatan Asli Daerah (PAD) sudah
dinyatakan meningkat sebesar Rp 34, 95 miliar, naik 16, 08 persen dari RP 30,11 miliar. Sumber lainnya diharapkan dari dana perimbangan sebesar Rp 495, 24 miliar lebih, naik 5,40 persen dari target tahun sebelumnya yang mencapai Rp 468, 88 miliar lebih serta pendapatan lain-lain yang sah sebesar Rp 89,09 miliar lebih atau turun 1,17 persen dari target tahun sebelumnya sebesar RP 90, 15 milir lebih. Menurut penelitian, pendapatan daerah dalam APBD tahun 2014 masih di dominasi oleh sumber dana perimbangan pemerintah kepada pemerintah daerah.
Dalam penilain resiko kemandirian daerah dalam penyelenggaraan otonomi daerah sebesar 7,06 persen yang di peroleh dari perbandingan PAD dengan penjumlahan dana perimbangn dan pinjaman daerah. Dari sisi belanja, pemda mengalokasikan belanja yang mendukung pembangunan infrastruktur, penciptaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan melalui hasil-hasil musyawarah
D. ALUR PENERIMAAN PAJAK BANTAENG
Penerimaan pajak di kantor pajak Pratama kabupaten Bantaeng, Sulawesi selatan, tahun pajak 2011 mencapai tingkat yang sangat tinggi, yaitu Rp 320 milliar, melampau target yang di tetapkan sebesar Rp 311 milliar atau mencapai 103 persen. Alur penerimaan pajak di kab.
Bantaeng dapat kita lihat pada gambar berikut:
Gambar. 5 penerimaan pajak Bantaeng
Sumber : Aziz ahmadi, pada KPP Pratama Bantaeng
Hasil dari tahap-tahap bagan di tas Mengenai mekanisme penerimaan Dana dan Pendistribusian Dana pajak yaitu:
a. Pajak yang kita bayarkan setiap tahunnya akan masuk ke APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara)
b. Setelah itu dana uang pajak di alokasikan ke masing-masing provinsi/ Kabupaten/ Daerah.
Wajib Pajak
Bank Persepsi
Kantor Pos
Rek. Bendahara Pengelolaan Negara
Rek. Negara (APBN)
E. Kinerja Keuangan Daerah Pertumbuhan PAD
Dengan menggunakan tahun 2013 sebagai tahun dasar, maka dapat di lihat angka pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD) selama tahun (2013-2017) seperti yang di tampilkan seperti tabel berikut:
Tabel. 3 Pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah Tahun 2009-2013
TAHUN PAJAK
DAERAH
RETRIBUSI DAERAH
HASIL
PENGELOLAAN DAERAH
PAD YANG SAH
PAD
2009 2010 2012 2013
28,20 12,36 24,38 16,98
22,66 51,63 57,27 3,45
10.339,73 (15,92) 0,05 42,53
18,42 (16,15) 206,78 70,17
33,55 11,60 32,56 21,14
Total 81,92 135,01 10.366,39 279,22 98,85
Rata-rata 20,48 33,75 2,591,60 69.81 24,71
Sumber: Karyawan KPP Pratama Bantaeng
Sumber KPP Pratma Bantaeng (2007), dari tabel tersebut dapat di ketahui bahwa pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD) selama lima tahun, baik secara total maupun per komponen Pendapatan Asli Daerah (PAD) mengalami pertumbuhan yang positif, kecuali komponen PAD dari
hasil pengelolaan kekayaan Daerah dan lain-lain PAD yang sah. Selama periode penelitian, Pendapatan Asli Daerah Kab. Bantaeng mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 24,71% pertahun, atau telah terjadi kenaikan PAD sebesar 98,85%, yaitu dari Rp 198.901.635,04 di tahun 2003 meningkat menjadi Rp 474.322.732.532,00 di tahun 2007. Tahun 2004 adalah periode yang memiliki pertumbuhan PAD tertinggi (33,55%), sementara tahun 2005 merupakan periode pertumbuhan PAD terendah (11,60%) dalam periode penelitian. Walaupun pertumbuhan per komponen PAD cenderung tidak stabil, namun pertumbuhan PAD Kab.Bantaeng selama periode penelitian mengalami pertumbuhan yang positif dan relatif stabil.
F. Kontribusi Pajak Dan Retribusi Daerah terhadap PAD
Kontribusi pajak dan retribusi daerah terhadap PAD pada tahun 2009- 2013 dapat di sajikan dalam table berikut:
Tabel. 4 Kontribusi Pajak Daerah Terhadap PAD 2009-2013
TAHUN PAJAK
DAERAH
(%) RETRIBUSI DAERAH
(%) PAD
2009 2010 2011 2012 2013
176.110.550.000 225.774.790.000 253.682.210.000 315.523.690.000 369.087.410.000
88,73 85,30 85,87 84,09 83,65
10.880.090.000 13.345.020.000 20.234.710.000 31.823.730.000 32.922.830.000
5,58 5,04 6,86 8,51 7,54
198.180.900.000 264.678.130.000 295.375.920.000 391.543.280.000 474.322.730.000
Total 1.340.178.650.000 418,45 109.206.560.000 32,45 1.624.100.960.000 Rata-Rata 268.035.730.000 83,69 21.841.310.000 6,49 324.820.190.000
Sumber: karyawan KPP Pratama Bantaeng
kontribusi pajak daerah terhadap PAD adalah sebesar 83,69%
pertahun, sedangkan kontribusi daerah terhadap PAD hanya 6,49%. Hal ini menunjukkan bahwa pajak daerah memiliki peran besar dan selalu menjadi primadona dalam penerimaan PAD setiap tahunnya dibandingkan dengan sumber PAD lainnya. Pajak daerah yang