BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Peran Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surakarta
3. Struktur Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Kantor Pelayanan Pajak adalah instansi vertikal Direktorat Jenderal Pajak yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak. Kantor Pelayanan Pajak mempunyai tugas melaksanakan pelayanan, pengawasan administratif, dan pemeriksaan sederhana terhadap Wajib Pajak di bidang Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, dan Pajak Tidak Langsung Lainnya dalam wilayah wewenangnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Susunan Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta terdiri dari:
a. Kepala Kantor b. Sub. Bagian Umum
c. Seksi Pengolahan data dan informasi d. Seksi Pelayanan
e. Seksi Penagihan
f. Seksi Pengawasan dan Konsultasi g. Seksi Peraeriksaan
h. Kelompok Fungsional pemeriksa i. Account Representative
j. Staf
Struktur Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta dirancang dan dibentuk sesuai dengan prinsip modernisasi yaitu dengan berbasis "fungsi". Perubahan paradigma organisasi ini guna memberikan pefayanan yang terbaik dan pelayanan prima kepada Wajib Pajak. Dengan berbasis "fungsi" ini, seluruh unit kerja akan dapat memberikan pelayanan penuh secara optimal kepada Wajib Pajak. Berikut ini penulis sajikan bagan struktur organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta.
Gambar 3 : Bagan Struktur Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta
4. Uraian Tugas Jabatan Struktural Organisasi Kantor Felayanan Pajak Pratama Kota Surakarta
Adapun tugas pokok Sub Bagian dan Seksi adalah sebagai berikut:
a. Sub Bagian Umum : melaksanakan urusan kepegawaian, keuangan, tata usaha dan rumah tangga.
b. Seksi Pengolahan data dan informasi : melakukan pengumpulan, pencarian dan pengolahan data, pengamatan potensi perpajakan, penyajian informasi perpajakan, perekaman dokumen perpajakan,
pelayanan dukungan teknis komputer, pemantauan aplikasi e-SPT dan e-Filing serta penyiapan laporan kerja.
c. Seksi Pelayanan : melakukan penetapan dan penerbitan produk hukum perpajakan, pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan, penerimaan dan pengelolahan Surat Pemberitahuan, serta penerimaan surat lainnya, penyuluhan perpajakan, pelaksanaan regristrasi Wajib Pajak, serta melakukan kerjasama perpajakan.
d. Seksi Pengawasan dan Konsultasi (ada 4 Seksi) : masing-masing seksi mempunyai tugas melakukan pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak, bimbingan/himbauan dan konsullasi teknis perpajakan kepada Wajib Pajak, penyusunan profil Wajib Pajak (company profil), analisis kerja Wajib Pajak, melakukan rekonsiliasi data Wajib Pajak dalam rangka melakukan intetisifikasi serta evaluasi hasil banding.
e. Seksi Pemeriksaan: melakukan penyusunan rencana pemeriksaan, pengawasan pelaksaan aturan pemeriksaan, penerbit dan penyaluran Surat Perintah Pemeriksaan Pajak (SP3), serta administrasi pemeriksaan perpajakan lainya
f. Seksi Penagihan: melakukan urusan penatausahaan piutang pajak, penundaan dan angsuran tunggakan pajak, penagihan aktif, usulan penghapusan piutang pajak, penyimpanan dokumen-dokumen penagihan.
g. Kelompok Fungsional pemeriksa: melakukan kegiatan sesuai dengan jabatan fungstonal masing-masing di bidang pemeriksaan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
5. Dasar Hukum Pelaksanaan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta dalam Meningkatkan Kesadaran Membayar Pajak Orang Pribadi
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta sesuai dengan adanya program sadar membayar pajak berwenang untuk melakukan program-program peningkatan kesadaran membayar pajak sesuai dengan kemampuan masing-masing wilayah dalam hal ini di Kota Surakarta. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pendapatan negara dan menyadarkan masyarakat tentang arti pentingnya pajak demi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian, Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta dalam menjalankan kewenangannya untuk mengadakan dan melaksanakan program peningkatan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak, tetap harus memperhatikan ketentuan hukum yang sudah ada. Hal ini agar dalam menjalankan kewenangannya Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta mempunyai dasar hukum yang jelas.
Dasar hukum yang digunakan dalam pelaksanaan kesadaran membayar pajak adalah Undang-Undang Nomor 28 tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.
Dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan dijelaskan bahwa yang menjadi subyek pajak adalah orang pribadi, badan, dan bentuk usaha tetap. Dalam hal ini sasaran dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta dalam peningkatan pajak penghasilan adalah orang pribadi. Dengan demikian pelaksanaan peningkatan kesadaran membayar pajak yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta mengacu pada Undang-Undang tersebut dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan dijelaskan bahwa yang menjadi obyek pajak penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima
atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apapun. Dari ketentuan tersebut Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta melakukan peningkatan kesadaran membayar pajak untuk menambah kekayaan dan konsumsi negara.
Dalam Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan disebutkan bahwa besamya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk yang sebutkan dalam huruf a butir 2 biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan dalam bentuk uang. Jadi hal tersebut yang menjadi obyek pajak orang pribadi dalam pelaksanaan peningkatan kesadaran membayar pajak yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta.
Kemudian Pasal 9 ayat (1) huruf i menjelaskan bahwa untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi wajib pajak atau orang yang menjadi tanggungannya. Dengan demikian, biaya untuk keperluan pribadi wajib pajak atau orang yang menjadi tanggungannya, pada hakikatnya merupakan penggunaan penghasilan oleh wajib pajak yang bersangkutan.
6. Pelaksanaan Peniagkatan Kesadaran Membayar Pajak Penghasilan Orang Pribadi
Kesadaran kritis (critical consciousness), sebagaimana Paulo Freire (2003) tampaknya telah ada pada publik. Kesadaran kritis diartikan sebagai kesadaran yang melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Masyarakat melihat bahwa sistem perpajakan yang ada masih belum memadai untuk diterapkan pada masyarakat. Dari sudut pandang
publik, sistem tidak hanya sekedar tnenyangkut pembayaran pajak pada internet-banking (e-payment), pendaftaran nomor pokok Wajib Pajak (NPWP) melalui peralalan elektranik (e-registration), atau pelaporan SPT yang juga eleklronik (e-filling) sebagaimana berkembang, tetapi juga menyangkut aparat maupun petugas pajak (fiskus) di lapangan. Artinya, dukungan sistem yang baik tanpa fiskus yang jujur pajak tidak akan menjadi apa-apa.
Sistem pajak, dalam pandangan publik tidak selalu mengandung pengertian 'pemungutan' pajak, namun juga mengandung pengertian sosialisasi pajak itu sendiri. Karena itu, sence of duty serta sence of obligation fiskus pajak lebih dituntut oleh publik. Karena publik menyadari bahwa pemahaman mereka tentang perpajakan masih belum optimal, khususnya tentang Pajak penghasilan (PPh). Up grade sistem pelayanan memang haras dilakukan, tetapi masyarakat kelas bawah yang relatif tidak mempunyai akses yang cukup terhadap sistem itu menjadi tidak tergarap potensi pajaknya.
Faktor kesadaran publik terhadap pajak sebetulnya bukan karena faktor-faktor 'kesadaran' itu sendiri, tetapi publik lebih taat dan takut terhadap hukum ketimbang kesadaran. Semestinya hal ini dapat direduksi dan dieliminasi dengan memberikan kepercayaan (trust) pada publik bahwa fiskus juga konsisten terhadap etika dan norma pekerjaan yang dilakukannya. Trust, kata Fukuyama (2002), dapat muncul karenakohesifitasantarakebajikansosial dan modal sosial (social capital). Trust seperti kejujuran, sence of obligation, dengan demikian menjadi modal utama bag! timbulnya kesadaran masyarakat dalam membayar pajak.
Dari hasil penelitian di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surakarta dalam upaya peningkatan kesadaran membayar pajak penghasilan orang pribadi, Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta sesuai hasil wawancara dengan Bapak Gathot Subroto selaku Kepala Seksi
Pengawasan dan Konsultasi 1 dapat dijelaskan langkah- langkah pelaksanaan sebagai berikut:
a. Mengadakan Sosialisasi
Dalam hal mengadakan sosialisasi mengenai masatah perpajakan kepada masyarakat, Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta khususnya melalui seksi pelayanan bersama staf telah melakukan beberapa cara atau metode, yaitu:
1. media massa, dalam hal ini Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta mensosialisasikan hal-hal yang berhubungan dengan kesadaran membayar pajak melalui media televisi yaitu bekerja sama dengan TA TV dalam waktu penayangan antara pukul 14.00 -17.00 WIB serta melalui media radio yaitu bekerja sama dengan Solo Pos FM. Hal ini dikarenakan lebih menjangkau kepada masyarakat untuk dapat lebih memahami dan mengetahui tentang periunya kesadaran membayar pajak.
2. penyuluhan langsung, Penyampaian dalam metode ini melibatkan langsung para staf Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta dengan wajib pajak. Tempat dilaksanakan untuk mensosialisasikan tersebut diantaranya di Kantor Kelurahan se-Surakarta sudah hampir tujuh puluh persen antara lain, kelurahan Mojosongo, Kampung Sewu, Keratonan, Sangkrah dan Kantor Instansi Pemerintah seperti Dinas Pekerjaan Umum, Tata Kota, Kesehatan, Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Lalu Lintas dan Angkutan jalan, Perindustrian Perdagangan dan Penanaman Modal, Tenaga Kerja serta kantor maupun perusahaan milik swasta dan BUMN seperti Kantor Keuangan Daerah, Kantor Pengelolaan Aset Daerah, Bank BCA, PT Telkom, PT KA1. Sasaran penyuluhan tersebut yaitu pegawai negeri atau swasta dan para pensiunan pegawai negeri yang berpenghasilan kena pajak.
b. Penyebaran Info
Penebaran info adalah salah satu cara yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta, dalam metode ini Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta melalui seksi pengawasan dan informasi beserta account reprecentative melakukan dengan cara, yaitu:
1. display pajak, metode ini hampir sama dengan metode iklan, akan tetapi dalam metode ini menggunakan berbagai macam sarana seperti penyebaran pamfJet setiap 3 bulan, pemasangan baliho , pemasangan spanduk-spanduk di kantor, bank serta pusat perbelanjaan, serta brosur pajak yang isinya mengenai jenis-jenis pajak serta tulisan untuk mengajak para Wajib Pajak untuk memenuhi kewajibannya dalam hal membayar pajak. Metode ini di gunakan agar lebih memasyarakatkan tentang kesadaran membayar pajak di wilayah Kota Surakarta.
2. penerbitan buku pajak, cara ini di tempuh oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta agar masyarakat lebih mengenai serta memahami berbagai jenis pajak, bagaimana cara membayar pajak sehingga masyarakat lebih mudah dalam mengidentifikasi pajak dan juga kewajiban pajak apa yang harus dipenuhi atau di bayar oleh masyarakat selaku wajib pajak.
B. Faktor-faktor yang menjadi hambatan dalam meningkatkan kesadaran membayar Pajak Penghasilan Orang Pnbadi dan Solusinya
1. Faktor-faktor yang menjadi hambatan dalam meningkatkan kesadaran membayar Pajak Penghasilan Orang Pribadi
Dari hasil wawancara dengan Bapak Gathot Subroto selaku Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi 1 dapat diperoleh hasil penelitian mengenai faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam meningkatkan kesadaran membayar Pajak Penghasilan Orang Pribadi ialah sebagai berikut:
a. Ditinjau dari sudut pandang Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kota Surakarta
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Gatot Subroto dijelaskan bahwa pembayaran pajak yang dilakukan di bank mungkin terkendala dengan sistem on-line yang dilaksanakan oleh bank tersebut sering terjadi permasalahan atau hank dengan sistem tersebut. Hal ini sangat menggangu dalam pembayaran dan menggangu kenyamanan wajib pajak karena kemungkinan harus menunggu lama dalam proses pembayaran pajak tersebut.
Resistensi pada pajak yang negatif dari wajib pajak sendiri membuat kesadaran untuk membayar pajak dari masyarakat berkurang. Hal ini mengakibatkan berkurangnya penghasilan yang diperoleh negara karena kesadaran untuk membayar pajak berkurang. b. Wajib Pajak
Dilihat dari sudut pandang wajib pajak, masih banyak wajib pajak yang belum paham mengenai Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT). Kemudian wajib pajak berhak untuk mengajukan penangguhan untuk pembayaran pajak, hal ini secara tidak langsung akan menghambat dalam hal peningkatan kesadaran pembayaran pajak. 2. Solusi yang menjadi hambatan dalam meningkatkan kesadaran
membayar pajak penghasilan orang pribadi
Setelah melihat berbagai hambatan dalam pelaksanaan peningkatan membayar pajak Penghasilan Orang Pribadi dari hasil wawancara dengan Bapak Gathot Subroto selaku Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi I memberikan solusi, yaitu:
a) dalam hal penggunaan sistem on-line yang sering teijadi permasalahan atau hank, maka Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surakarta bersama dengan Pihak Bank BRI biasanya melayani pembayaran secara manual dengan memperpanjang waktu pembayaran pajak yang semestinya pelayanan pembayaran pajak dari pukul 08.00- 16.30 WIB menjadi pukui 17.00 WIB.
b) dilakukan kampanye atau sosialisasi mengenai kesadaran untuk peningkatan membayar pajak lebih digencarakan sejak usia dini agar masyarakat selaku wajib pajak sadar akan pentingnya pajak bag' negara. Kemudian tnelakukan pendekatan langsung kepada masyarakat sejak dini agar nantinya kesadaran untuk membayar pajak dapat terbina di dalam diri masyarakat.
c) serta adanya kerja sama antara Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surakarta dengan Bank Negeri maupun Swasta dalam hal peminjaman kredit yang diberlakukannya sebuah aturan kepada pihak peminjam yaitu harus melampirkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) sebagai syarat mengajukan pinjaman kredit bank. Hal ini juga ikul mcndukung dalam membina kesadaran membayar pajak khusunya Pajak Penghasilan.
d) Adanya sistem antrian yang merupakan efisiensi dari segi pelayanan yang dilakukan oleh Kantor Pajak Pratama Kota Surakarta turut memperlancar bag! wajib pajak yang akan menjalankan kewajibannya yaitu membayar pajak.
Hambatan-hambatan serta solusi diatas yang telah penulis jelaskan, maka berdasarkan Tugas serta Fungsi Pokok Kantor Pelayanan Pajak berdasarkan Keputusan Presiden No 84 Tahun 2001 tentang kedudukan, tugas, fungsi susunan organisasi, dan tata kerja instansi vertikal di lingkungan Departemen Keuangan, Kantor Pajak Pratama Kota Surakarta telah menjalankan tugas serta fungsinya dengan baik yang juga akan berdampak penghasilan negara di bidang pajak khususnya Pajak Penghasilan.
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Peran Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta dalam meningkatkan kesadaran membayar pajak penghasilan orang pribadi dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Dari hasil analisis deskriptif bahwa peran Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta dalam meningkatkan kesadaran membayar pajak penghasilan orang pribadi dapat berjalan dengan baik serta sudah sesuai dengan tugas dan rungs! pokoknya. Dalam hal ini Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta melaksanakan perannya dalam meningkatkan kesadaran membayar pajak penghasilan orang pribadi dengan cara Preventive atau pencegahan
2. Hambatan yang muncul dalam pelaksanaan kesadaran membayar pajak tergolong dalam tnasalah teknis pembayaran pajak dengan sistem online. Serta masalah sosiologis mengenai resistetisi pada pajak yang negatif dari wajib pajak sendiri. Hal ini mengakibatkan berkurangnya penghasilan yang diperoleh negara karena kesadaran untuk membayar pajak berkurang. Solusi untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut adalah melayani pembayaran secara manual serta dilakunya kampanye peningkatan kesadaran membayar pajak.
B. Saran-Saran
Kantor Pajak Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta pada khususnya harus lenbih bisa meningkatkan kesadaran membayar pajak dari wajib pajak dengan cara:
1. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta harus lebih transparansi dalam mengelola hasil pendapatan pajak dengan cara memberikan informasi atau laporan kerja pertahun kepada masyarakat baik melalui
media massa atau pun memuatnya di papan pengumuman Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kota Surakarta.
2. Meningkatkan kepercayaan para wajib pajak di Surakarta kepada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surakarta melalui sosialtsasi tentang art! pentingnya serta manfaat dalam membayar pajak dengan cara memberikan gambaran secara nyata tentang penggunaan hasil pajak khususnya pajak penghasilan orang pribadi pada setiap sosialisasi secara berkaia.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Badudu - Zein. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa
Indonesia.
Balai Pustaka, Jakarta. Erly Suandy, 2000. Hukum Pajak, Salemba Empat, Jakarta Fidel. 2008. Pajak Penghasilan (Pembahasan UU No. 36/2008 tentang Pajak
Penghasilan Dengan Komentar Pasal Per Pasal). Jakarta :Carofm Publishing.
Hadi Purnomo. 2004. Hak dan Kewajiban Wajib Pajak. Dtrektorat Jendral Pajak. Jakarta.
HB Sutopo. 2002. Pengantar Penelitian Kualitatif (Dasar-Dasar Teoritis dan Praktis). Pusat Penelitian Surakarta.
Koentjoroningrat. 1993. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta : Gramedia.
Lexi J Maleaong. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Liberty Pandiangan, 2009. Modernisasi Pelayanan Perpajakan. Jakarta: Elex Media.
Mardiasmo. 2008, Perpajakan edisi Revisi 2008. Yogyakarta : CV. Andy Offset. Safri Numata. 2005. Pengantar Perpajakan. Yayasan Obor Indonesia. Santoso Brotodiharjo. 1989. Pengantar Ilmu Hukum Pajak. Yogyakarta
Soerjono Soekanto. 2001. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta : Universitas Indonesia Ul-Pers.
Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : CV. Alfabeta
Sutrisno Hadi. 1989. Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan Singkat). Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Waluyo dan Wirawan B. Ilyas. 2000. Perpajakan Indonesia, Salemba Empat, Cetakan II, Jakarta.
Winarno Surachman. 1990. Pengantar Penelitian flmiah. Bandung: Tarsito.
Peraturan Perundang-Undangan
Undang Nomor 28 tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No 98/KMK.01/2006 tentang Account Representative pada Kantor Pelayanan Pajak yang telah menginplementasikan organisasi modem.
Website
http://www.pajak.go.id/index. php?option=comjx)ntent&view=article&id=7285& Itemid=l75 (Diakses tanggal 25 Juli 2009)
http://www. wlkipedia.. org/w/index.php.title=Pajak (Diakses tanggal 15 Juli 2009)