BAB VII GAMBAR PERANCANGAN
Diagram 3.1 Struktur organisasi LPPM ITB
3.4.2 Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) ITB
Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) ITB mempunyai tujuan dan fungsi yang hampir sama dengan LPPM.
A. Sejarah Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) ITB
LAPI ITB didirikan sebagai organisasi yang berstatus badan hukum pada tanggal 16 Juni 1959. Dengan bertumpu pada kekuatan ITB, LAPI ITB mendukung pencapaian
academic exellent ITB ke tingkat yang lebih tinggi.
B. Visi dan Misi LAPI ITB
Visi : Menjadi Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri yang terkemuka, beretika, profesional, dan mampu meningkatkan kemampuan bangsa dalam menghadapi kompetisi global, melalui penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Misi : Mendukung pencapaian academic excellent ITB melalui kegiatan
kemitraan yang bermanfaat dengan mensinergikan potensi dan keunggulan masing- masing, serta pendayagunaan modal dasar dan kompetensi yang ada di dalam maupun di luar ITB.
C. Aktifitas dan Pelayanan LAPI ITB
PT.LAPI ITB menawarkan tiga (tiga) layanan dan produk utama di bidang teknologi, sains dan seni yaitu :
1. Pelatihan
• In-house Training
• Public Training
• Layanan Khusus
PT LAPI ITB menyediakan layanan khusus berupa: o Sertifikasi
o Seminar/lokakarya/workshop tentang topik-topik terkini 2. Konsultasi
• Studi
• Survei dan Investigasi
• Perencanaan dan Desain
• Manajemen Proyek dan Supervisi 3. Pengembangan Teknologi Tepat Guna
BAB IV ELABORASI TEMA
4.1 Pengertian Tema
Tema merupakan pokok pikiran yang akan diangkat dari sebuah uraian. Dalam dunia arsitektur tema merupakan pokok pikiran yang digunakan sebagai solusi permasalahan di dalam proses perancangan, tema akan membatasi dan menyederhanakan berbagai konsep perancangan. Pada perancangan Gedung CAS dan Gedung CRCS ini, tema yang dipakai antara lain ”arsitektur berkelanjutan”.
Arsitektur
• Seni atau ilmu bangunan. ,adalah:
2
• Menurut
paling tua yang masih ada hingga sekarang), bangunan yang baik haruslah memilik keindahan/estetika (venustas), kekuatan (firmitas), dan kegunaan/fungsi (utilitas).
• Arsitektur adala
luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yait tersebut.3
• Arsitektur adalah ekspresi dan wahana suatu kebudayaan dalam fikir alam, cita rasa dan ungkapan langsung paling jelas, bagaimana suatu masyarakatberfilsafat hidup dan menangani kehidupan.4
Berkelanjutan
• Berkelanjutan, mempunyai kata dasar lanjut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, lanjut adalah 1 tidak selesai hanya di situ saja; ada rentetannya; bersambung, 2 terus-menerus; berlarut-larut; berlama-lama. Sedangkan berkelanjutan adalah berlangsung terus-menerus; berkesinambungan.
,adalah:
2
W.J.S. Poerwardimin, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1976
3
:Wikipedia
4
• Menurut Standar Akuntasi Pemerintahan, berkelanjutan adalah investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki terus menerus tanpa ada niat untuk memperjualbelikan atau menarik kembali.
Pengertian Arsitektur yang berkelanjutan, seperti dikutip dari buku James Steele,
Suistainable Architecture adalah,
”Arsitektur yang memenuhi kebutuhan saat ini, tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang, dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Kebutuhan itu berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain, dari satu kawasan ke kawasan lain dan paling baik bila ditentukan oleh masyarakat terkait”.
Arsitektur berkelanjutan (sustainable architecture) adalah sebuah konsep terapan dalam bidang arsitektur untuk mendukung konsep berkelanjutan, yaitu konsep mempertahankan sumber daya alam agar bertahan lebih lama, yang dikaitkan dengan umur potensi vital sumber daya alam dan lingkungan ekologis manusia, seperti sistem iklim planet, sistem pertanian, industri, kehutanan, dan tentu saja arsitektur.
Sumber: Architecture Journal
4.2 Interpretasi Tema
Ada 6 prinsip dasar dalam menjalankan konsep arsitektur berkelanjutan menurut Brenda dan Robert Vale, yaitu :
1. Konservasi energi
2. Bekerja-sama dengan iklim
3. Minimalisir penggunaan material alam baru 4. Penghargaan terhadap pemakai
5. Penghargaan terhadap site 6. Holisme (prinsip kesucian).
A.d.
1. Konservasi energi
• Bangunan seharusnya meminimalkan penggunaan kebutuhan akan energi.
• Perlindungan sumber daya alam.
• Pendayagunaan alam sebagai sumber energi bagi keperluan studi dan rekreasi.
• Memanfaatkan limbah sebaik-baiknya seperti dengan manjadikan limbah sebagai sumber energi biogas atau pupuk.
• Penentuan lokasi yang paling tepat guna dengan cara pemilihan sumber daya alam yang sesuai dengan kebutuhan dari fungsi bangunan atau proyek.
2. Bekerja sama dengan iklim
• Bangunan bekerja sama dengan iklim dan sumber energi alam.
• Memanfaatkan energi yang tersedia di alam, matahari, angin, hujan, dan air.
• Pencahayaan alami pada siang hari.
• Penghawaan alami.
3. Meminimalisir penggunaan material alam baru
• Penggunaan material daur ulang.
• Penggunaan material yang dapat diperbaharui.
• Merancang bangunan dari sisa bangunan yang sebelumnya.
• Penggunaan material yang ramah lingkungan. 4. Penghargaan terhadap pemakai
Arsitektur berkelanjutan menyadari bahwa pengguna atau pemakai dari bangunan harus diperhatikan kebutuhannya. Untuk itu dilakukan pendekatan yang memperhatikan kenyamanan penggunanya namun selaras dengan prinsip arsitektur berkelanjutan yang lainnya.
5. Penghargaan terhadap site
• Seminimal mungkin merubah tapak. Misalnya dengan mempertahankan kontur tanah. Tidak mengambil jalan pintas dengan cara cut dan fill site dalam pembangunan di tapak. Memberi pori-pori bagi tanah agar tetap memiliki aliran udara.
• Menurut seorang arsitek Australia, Glenn Murcutt “Seorang harus menyentuh bumi secara ringan” yang ia kutip dari kata-kata orang Aborigin. Kata-kata ini meliputi interaksi bangunan dan sitenya merupakan suatu hal yang sangat penting dalam penerapan Green Architecture. Suatu bangunan yang menghabiskan banyak energi, menghasilkan sumber polusi dan menjadi asing bagi penggunanya tidak menyentuh bumi secara ringan.
6. Holisme
Seluruh prinsip-prinsip Green Architecture digabungkan dalam suatu pendekatan holistik pada lingkungan yang dibangun.
Sebagai konsep, pembangunan berkelanjutan mencakup hampir semua segi kehidupan, mulai dari kebijakan politik pemerintah, strategi bisnis, sampai gaya hidup. Oleh karena itu, dalam konteks global, penerapan kebijakan arsitektur berkelanjutan secara langsung berintegrasi dengan 3 aspek utama:
• Lingkungan (Environment Sustainability)
• Ekonomi (Economic Sustainability)
• Sosial (Social Sustainability)
Indikator lingkungan
• Penggunaan air, pengolahan air bersih dan air kotor, pengolahan air hujan , meliputi sebagai berikut:
• Penggunaan energi
• Pengolahan limbah atau sampah
• Pemilihan material dan komponen bahan
• Situasi tapak Indikator ekonomi
• Pendayagunaan komponen lokal demi memajukan pendapatan lokal , meliputi sebagai berikut:
• Efisiensi bangunan
• Fleksibilitas dalam tata ruang dalam dan luar bangunan
• Biaya-biaya yang keluar sejak proyek pembangunan akan dimulai
• Alokasi total dana yang dipakai untuk membangun Indikator sosial
• Kenyamanan pengguna bangunan , meliputi:
• Akses dalam bangunan yang baik
• Kemudahan akses menuju lokasi bangunan
• Partisipasi dan kontrol
Tujuan diterapkanya kebijaksanaan arsitektur berkelanjutan adalah untuk:
• Menyelamatkan manusia dan lingkungan dari bahaya yang dihadapinya.
• Menunjukkan komitmen kota terhadap lingkungan, ekonomi, dan pelayanan sosial.
• Menghasilkan penghematan dana bagi pembangunan.
• Menyediakan lingkungan kerja yang sehat bagi staf dan pengunjung.
• Mempercepat pencapaian tujuan kota dalam melindungi, mengkonservasi, dan meningkatkan sumber-sumber lingkungan didaerah.
Pengaruh bangunan pada lingkungan menurut Peter Graham, harus memikirkan life
cycle dari bangunan yang mengefek pada bahan bangunan yang digunakan (Diagram
4.2). Sementara siklus bahan atau rantai bahan yang utuh menurut Heizn Frick, adalah