BAB V. PENUTUP
Bagan 3.1 Struktur Organisasi MTs Aswaja Tengaran 2016/2017
STRUKTUR ORGANISASI MTs ASWAJA TENGARAN 2016/2017
Keterangan:
--- = garis koordinasi = garis intruksi
(Sumber: Bagan struktur organisasi MTs Aswaja Tengaran)
BAJURI YAYASAN KHABIBAH, S.Ag. KEPALA SEKOLAH WITRIYANI, S.Pd.I T ATA USAHA
EVI LAILIA F, A. MdEI BENDAHARA M. ZUHDI, S.H M.Pd. PERPUSTAKAAN DIMYATI, S.Pd WAKA HUMAS SUGENG W, S.Ag. WAKA KUR
HAFIDZ Z.A, S.PdI
WAKA SISWA
Witriyani, S.Pd.I
WALI IX A
Dimyati, S.Pd.
WALI VIII B
Edi Cahyono, S.Pd.I
WALI VII A Dra. Yasiroh WALI IX B S Zahroil B, S.Pd. WALI VIII B M Zuhdi, S.H M.Pd. WALI VII B
SISWA
B. Temuan Penelitian
1. Hasil wawancara dengan orang tua yang menyekolahkan anaknya di MTs Aswaja Tengaran.
a. Motivasi Orang tua menyekolahkan anak di MTs Aswaja Tengaran.
Motivasi Orang tau menyekolahkan anak di MTs Aswaja Tengaran sebagaimana yang di tuturkan Bapak LQ sebagai berikut:
“Saya menyekolahkan anak saya di MTs Aswaja Tengaran karena
dari dulu keluarga sekolah disitu (MTs Aswaja) dan itu baik untuk pendidikan, karena juga bisa menjadi orang yang baik. Ada yang menjadi kepala sekolah, dan lain-lain. Saya lebih suka di MTs Aswaja karena keagamaannya lebih banyak, anak bisa lebih mendalami tentang agama, jika di SMP keagamaannya kurang diperhatikan. Tujuannya ya supaya bisa belajar ilmu agama yang mendalam, begitu pula dengan akhlak yang baik dan juga membagakan orang tua, supaya bisa mengatahui sopan santun kepada orang tau maupun orang lain dan terlebih lagi supaya bisa belajar disiplin beribadah. Harapannya supaya anak saya menjadi orang yang berbakti kepada orang tua, bisa mengaji, bisa memahami agama, mengetahui yang salah dan benar, baik atau tidaknya.” (W/M/01/5-06-2017)
Begitu juga dengan yang lain menginginkan anaknya mendalami ilmu agama dengan baik seperti yang di utarakan Ibu SU yaitu:
“Saya menyekolahkan anak saya di MTs Aswaja Tengaran karena
keagamaanya yang lebih banyak, jadi anak bisa mendalami ilmu agama dengan baik, jaman sekarang kalau tidak di didik sejak kecil untuk mendalami agama anak susah untuk memahami baik buruk, haram halal, dan sebagainya. Spp lebih murah dari SMP yang lain, begitu juga agamanya lebih banyak. Tujuannya supaya bisa belajar ilmu agama yang mendalam, begitu pula dengan akhlak yang baik dan juga membagakan orang tua, menjadi anak yang soleh solekhah. Harapan saya biar anak saya menjadi orang yang sukses dunia akhirat, bisa bekerja dengan baik, jujur, dan bijaksana.” (W/M/02/5-06-2017)
Dari Bapak TK menuturkan alasannya yang hampir sama dengan Ibu SU menginginkan anaknya mendalami ilmu agama, yaitu:
“Saya menyekolahkan anak di MTs Aswaja karena murah dan tidak jauh dari rumah kemudian juga supaya bisa mendalami agama, karena dulu juga dari MI Tengaran jadi sekarang di MTs Aswaja supaya keagamaannya tetap terjaga, tidak putus-putus atau terganggu, jika sekolah di SMP yang lain nanti agamanya
tidak lengkap dan tidak sepenuhnya mendidika dalam
keagamaannya. Tujuannya ya karena saya ingin anak saya bisa mengaji, mempunyai dasar-dasar agama, bisa melaksanakan shalat denga tertib dan benar, bisa berbakti kepada orang tua dan bisa membantu orang tua dalam hal keagamaan, dan juga bisa mendapatkan pekerjaan yang baik, tidak ada orang tua yang ingin anaknya menjadi ejekan dan di hina orang lain. Harapanya agar menjadi orang yang sukses nantinya, bisa bekerja dengan baik, bisa menjaga diri dengan baik, biar solatnya baik, agamanya bermanfaat untuk semua orang.” (W/M/03/5-06-2017)
Adapula yang memilih karena SPP yang murah, yang menjadi salah satu motivasi orang tua menyekolahkan di MTs Aswaja Tengaran, hal ini seperti yang di utarakan oleh Ibu KM bahwa:
“Alasanya karena Di MTs itu disamping murah agamanya lebih
banyak dan lebih fokus dalam hal itu(agamanya). Mengapa saya memilih di MTs daripada di SMP karena ya lebih banyak agamanya tadi, kalau di SMP kan cuma sedikit agamanya dan tidak terlalu diperhatikan. Tujuannya biar bisa belajar agama yang baik, tidak bergaul dengan anak-anak nakal. Harapannya supaya menjadi orang yang sukses, memahami agama dengan baik dan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.” (W/M/04/6- 06-2017)
Kemudian menginginkan anaknya dapat mengaji seperti yang di ungkapkan oleh Bapak MN sebagai berikut:
“Alasan saya menyekolahkan anak saya di MTs Aswaja Tengaran karena biar bisa mengaji dan bisa mendalami agama islam dengan baik, soalnya belajar agama itu harus mulai dari awal, kalau tidak nanti setengah-setengah, apalagi zaman sekarang sudah muncul banyak sekali aliran-aliran. Alasan saya menyekolahkan di MTs Aswaja ya karena agamanya tadi, dan juga SPP nya lebih murah, sudah dapet dua keuntungan, SPP murah dan juga mendapatkan ajaran agama yang banyak. Kemudian tujuan supaya biar pintar dan punya dasar agama yang baik, intinya supaya mempunyai dasar agama yang bagus, mengerti antara baik dan tidak. Kemudian harapannya biar menjadi anak yang soleh solehah,
berbakti kepada orang tua, menjadi orang yang sukses”
(W/M/05/6-06-2017)
Begitu juga yang disampaikan oleh Bapak DR karnena jarak sekolahannya dekat dan juga kualitas agamanya bagus, berikut alasannya:
“Alasan saya menyekolahkan disitu karena jaraknya dekat juga,
mutu kualitas agama yang baik, otomatis guru-guru agamanya juga baik. Tujuan saya biar anak lebih bisa memahami dan mendalami ajaran agama yang mungkin se anak smp itu masih pelajaran dasar-dasar agamanya, yang nantinya bisa berkembang dengan ilmu-ilmu yang lebih mendalam lagi. Menyekolahkan di MTs Aswaja itu sangat beruntung banyak sekali ya, selain ilmu umumnya dapat agamnya juga dapat, jadi bisa mendapatkan ilmu sebanding. seumpama di SMP mungkin pelajaran agamanya masih kurang, seminggu mungkin hanya beberapa jam saja. Harapan untuk anak saya supaya bisa belajar agama yang benar dan
nantinya bisa bermanfaat untuk masyarakat dan lainnya.”
(W/M/06/6-06-2017)
Adapula orang tua yang menginginkan anaknya disiplin dalam beribadah seperti yang di utarakan Bapak ST sebagai berikut:
“Karena lebih banyak memahami tentang keagamaan, kemudian
tidak terlalu jauh juga, ya lumayan lah daripada harus sampai salatiga atau ampel, tujuan saya ingin anak saya bisa lancar dalam mengaji ataupun beribadah dan lain sebagainya. Untuk perbandingannya dengan yang lain seperti SMP lainya ya seperti itu tadi, secara pribadi mungkin dari segi pelajarannya kurang, kedisiplinan beribadah juga kurang, mungkin itu saja sih. Harapan saya agar anak bisa menjadi pribadi yang lebih baik, agamanya bermanfaat untuk semua orang, menjadi orang sukses, bisa melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi sampai kuliah nanti,
semoga saya bisa membiayainya sampai nanti.” (W/M/07/6-06- 2017)
Kemudian tanggapan dari Ibu MU sama dengan yang lainnya selain murah juga dapat ilmu agama yang banyak sebagai berikut wawancaranya:
“Alasan ya biar ilmu agamanya lebih banyak, lebih bagus, lebih murah dan juga guru-gurunya juga bisa memperhatikan anak, supaya tidak nakal, kalau di SMP kurang ya dalam agama, solatnya, ya seperti itu lah pokoknya. Harapannya agamanya bisa lebih baik, bisa mengontrol agamanya, biar solatnya bisa rajin, tidak bolong-bolong, kadang-kadang tiga solat yang dua tidak.” (W/M/08/8-06-2017)
Tidak jauh berbeda dengan bapak DR, bapak RB juga mengutarakan sebagai berikut:
“Alasannya karena dekat, lebih murah, agamanya bagus, lebih
mudah untuk mengontrol anak. MTs Aswaja tidak terlalu jelek, ya mungkin masih kurang lah dari segi kelas, juga halamannya belum rapi. Tujuannya ingin anak saya bisa belajar agama dengan baik, bisa menjaga diri dengan agamanya, apalagi juga perempuan harus bisa menjaga diri dengan baik. Kalau di SMP mungkin belum tentu bisa disiplin dalam beribadah, kemudian agamaya juga rendah, tidak maksimal. Saya juga tidak terlalu bisa melihat kegiatannya, kalau disini kan bisa lihat tinggal kesitu udah sampai. Harapan saya agar anak bisa lebih baik lagi dalam beribadah, orang dahulu itu seperti ini, kalau dari kecil sampai besar di tuntun ke jalan agama insya Allah akan dipermudah
rizkinya, lancar dalam pekerjaannya, seperti itu mas.” (W/M/09/8- 06-2017)
Kemudian dari Bapak PU mengutarakan sebagai berikut:
“Alasannya karena ingin anak saya lebih banyak belajar agama, supaya bisa memperdalam ilmu agama biar bisa lebih baik lagi, kenapa saya sekolahkan di situ karena ya di MTs Aswaja saya ingin dididik bukan hanya segi pendidikan saja tetapi juga akhlak yang baik, harapannya bisa lebih menjaga diri dan memiliki akhlak yang baik, bisa menjadi contoh dan panutan semua orang.” (W/M/10/9-06-2017)
Wawancara dari Bapak SC sebagai berikut:
“Karena disitu bagus, pendidikan agamanya bagus tidak asal- asalan, kalau dulu guru saya masih bapak Qodir, pak Muh Amin, tapi sudah pada almarhum, mungkin kalau sekarang ya pak Dimyati, bu Yasiroh, itu yang sudah lama, sekolah disitu ya biar agamanya bagus, setidaknya bisa mendalami lah, kemudian ngajinya juga biar lancar, maksud saya menyekolahkan di MTs Aswaja itu kan juga dekat, apalagi lumayan murah, belum tentu juga kalau di sekolahan sebelah bisa disiplin seperti itu, harapan saya biar menjadi orang yang sukses nantinya, bermanfaat untuk
masyarakat.” (W/M/11/9-06-2017)
b. Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat motivasi Orang tua menyekolahkan anak di MTs Aswaja Tengaran.
Dari hasil wawancara peneliti kepada informan tentang faktor-faktor yang mendukukung dan menghambat motivasi orang tua menyekolahkan anaknya di MTs Aswaja Tengaran tahun 2016/17 antara lain ialah:
Wawancara dari Bapak LQ mengenai faktor pendukung dan penghambat motivasi orang tua menyekolahkan anaknya di MTs Aswaja Tengaran sebagai berikut:
“Disiplin dalam keagamaan, contohnya solat fardhu, ada juga
program membaca al-qur’an pada bulan puasa. Anak akan
tertanam dengan keagamaannya. Dan penghambatnya guru harus lebih ketat dalam mendidik siswa ketika di sekolahan, jika tidak seperti itu anak tetap dendeng (bandel), lebih diperhatikan lagi.
Sarana prasarananya kurang, SDM nya masih sedikit rendah, harus di tambah, supaya lebih baik lagi.” (W/FP/H/01/5-06-2017)
Begitu juga dari Ibu SU yang tidak jauh dari bapak LQ karena disiplin dalam beribadah berikut tanggapannya:
“Bisa disiplin shalat, orang tua juga senang ketika anaknya sudah
bisa memberi nasihat kepada orang tua walaupun hanya sederhana akan tetapi sudah bisa memahami tentang agama yang baik, dan SPP Alhamdulillah juga tidak memberatkan orang tua siswa. Penghambatnya sarananya masih kurang seperti ruang- ruang khusus untuk exstra, halaman yang kurang rapi, perlu di perbaiki.” (W/FP/H/02/5-06-017)
Hampir sama dengan Ibu SU, bapak TK juga mengungkapkan yaitu:
“Faktor pendukungnya adalah karena keagamaan yang mendasar
dipelajari dengan cermat, begitu juga dengan adanya kedisiplinan untuk shalat berjamaah dan ada baca al-qur’an setiap hari. Dan faktor peghambatnya ya mungkin belum ada batas atau bentengnya sehingga siswa-siswinya lebih bebas untuk keluar atau bisa saja membolos. Kemudian halaman yang belum di plaster
sehingga belum terlihat rapi.” (W/FP/H/03/5-06-2017)
Pendapat lain tentang faktor pendukung karena sudah memiliki musolla yang bisa di jadikan tempat religi, seperti yang di ungkapkan oleh Ibu KM seperti berikut:
“pendukungnya mungkin sudah ada musolhanya, anak bisa tertib untuk solat, kegiatannya juga saya kira cukup untuk anak smp. Dan hambatannya Perjalanan cukup jauh jadi harus berangkat pagi-pagi.” (W/FP/H/04/6-06-2017)
Dari faktor pendukung yang semua hampir sama, kemudian hambatannya adalah dari faktor sarana prasarana yang kurang lengkap, hal ini di jawab Oleh bapak MN sebagai berikut:
“Yang jelas di MTs Aswaja adalah sekolah dimana dasar agama
anak bisa belajar dengan baik. Hambatannya sumber daya manusia nya perlu di tambah, agar kualitas sekolah lebih berbobot, walaupun belum negeri akan tetapi kualitas dan kuantitasnya terjamin, sedikit demi sedikit supaya tidak memberatkan. Contohnya pagar dulu nanti baru yang lain, dan sebagainya.” (W/FP/H/05/6-06-2017)
Kemudian hambatan dari orang tua adalah dalam segi perjalanan yang menyeberangi jalan raya, berikut ungkapan dari bapak DR ialah:
“Ada program shalat berjama’ah yang menjadikan anak disiplin beribadah dan juga banyak program-program lain tentang agama. Untuk kekurangannya, lebih hati-hati dalam perjalan ke sekolahan harus menyebrangi jalan raya, semoga ada perbaikan untuk ruangan dan ada tambahan ruangan yang menjadikan kegiatan anak lebih nyaman dan aman juga.” (W/FP/H/06/6-06- 2017)
Hampir sama dengan bapak DR yang terhambat dengan perjalanan, bapak ST mengutarakan bahwa:
“faktor pendukungnya ya itu tadi keagamaannya lebih banyak dan saya pikir baik untuk jenjang kedepan dan yang menghambatannya ya mungkin harus naik sepeda supaya tidak terlambat, kira-kira ya sekitar 2 kiloan, kualitasnya supaya di perbaiki kembali agar lebih terlihat sekolahan yang berbobot, kebanyakan orang tua itu kan juga melihat isi dari sekolahan tersebut, kelengakapnnya apa, anak itu bisa nyaman atau tidak, ya mungkin itu lah kurang lebihnya.” (W/FP/H/07/6-06-2017)
Dari Ibu MU berpendapat bahwa:
“Pendukungnya ya agamanya lebih lengkap, lebih memperhatikan
anak-anaknya, kemudian penghambatnya kalau dibilang tidak
bagus ya gimana, tapi ya kurang bagus, ya seperti itu lah.”
Dari bapak RB berpendapat sama dengan yang lain tentang sarana prasarana yang kurang lengkap, berikut pendapatnya:
“Kelebihan dari Aswaja itu dalam segi agamanya bagus, tertib, disiplin, guru-gurunya saya suka, karena lebih memperhatikan siswannya karena juga tidak banyak banget lah siswanya, jadi lebih terkontrol dalam pelajaran atau di lingkup sekolahan, kemudian yang kurang dari Aswaja itu ya mungkin sarana
prasarananya belum lengkap, halaman masih terlihat
bergelombang, Alhamdulillah ya sudah ada empat kelas, mungkin bisa tambah lagi nantinya, saran saya ya lebih banyak perbaikan walaupun sedikit demi sedikit biar lebih bagus lagi, mungkin itu
saja.” (W/FP/H/09/8-06-2017)
Dari bapak PU berpendapat sebagai berikut:
“Lebih banyak agamanya yang menjadikan perilaku anak bisa
menjadi baik, disiplin dalam solat, biasanya jika rumah sering bolong-bolong, kalau hambatannya ya seperti itu lah, Aswaja dari
dulu ya itu belum ada lapangan sendiri.” (W/FP/H/10/9-06-2017) Akan tetapi juga ada yang menerima apa adanya dengan yang dimiliki sekolahan, seperti pendapat bapak SC sebagai berikut:
“faktor pendukungnya ialah guru-guru yang baik dalam pendidikan dari segi keagamaan menguasai benar, jadi tidak terlalu khawatir untuk segi keagamaan, kalau di MTs itu seimbang agamanya dapat umumnya juga dapat, hambatannya menurut saya tidak terlalu saya fikirkan, mungkin masih kurang segi sarana prasarana, tapi menurut saya yang penting sekolah sungguh-
BAB IV
PEMBAHASAN
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan melalui wawancara pada informan atau orang tua maka peneliti menganalisis yang terkait dengan motivasi orang tua menyekolahkan anak di MTs Aswaja Kec. Tengaran Kab. Semarang 2016/2017. Setelah peneliti melakukan wawancara langsung dengan orang tua siswa, maka peneliti menemukan beberapa hal sebagai berikut:
C. Motivasi orang tua menyekolahkan anak di MTs Aswaja Kec. Tengaran Kab. Semarang
Berdasarkan hasil wawancara yang termasuk kategori motivasi intrinsik orang tua menyekolahkan anak di MTs Aswaja Kec. Tengaran Kab. Semarang:
1. Mempunyai keinginan agar anak menjadi generasi yang baik 2. Agar memperoleh ilmu agama yang mendalam
3. Agar menjadi anak yang soleh solekhah 4. Agar berguna bagi agama, nusa dan bangsa 5. Agar mudah mendapatkan pekerjaan yang layak
Dalam M/01 dan M/02 bisa dijelaskan pada hadis Bukhori yang menunjukan bahwa kewajiban dan tanggungjawab orang tua mendidik anak untuk yang lebih baik. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu
َمْلاَو ،ِوِتْيَ ب ِلْىَأ ىَلَع ٍعاَر ُلُجَّرلاَو ،ٍعاَر ُرْ يِمَلأْاَو ،ِوِتَّيِعَر ْنَع ٌلوُؤْسَم ْمُكُّلُكَو ،ٍعاَر ْمُكُّلُك
ُةَأْر
ىَلَع ٌةَيِعاَر
ِوِتَّيِعَر ْنَع ٌلوُؤْسَم ْمُكُّلُكَو ،ٍعاَر ْمُكُّلُكَف ،ِهِدَلَوَو اَهِجْوَز ِتْيَ ب.
“Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab
atas orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan isteri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu
sekalian akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya.”
(Bukhori:5188)(Kitab Bukhori, jilid I, hal. 273).
Begitu juga yang dilakukan Rasulullah ketika ingin berperang, rasul melarang untuk tidak ikut berperang semuanya, dan disuruhlah kembali ke tempat untuk menuntut ilmu agar dapat meneruskan pendidikan supaya tidak terputus ilmu yang telah dimiliki para sahabat-sahabat nabi. Hal ini dijelaskan dalam surat at-Taubah: 122.
اوُرِذْنُ يِلَو ِنيِّدلا ِفِ اوُهَّقَفَ تَيِل ٌةَفِئاَط ْمُهْ نِم ٍةَقْرِف ِّلُك ْنِم َرَفَ ن َلَْوَلَ ف ًةَّفاَك اوُرِفْنَ يِل َنوُنِمْؤُمْلا َناَك اَمَو
َنوُرَذَْيَ ْمُهَّلَعَل ْمِهْيَلِإ اوُعَجَر اَذِإ ْمُهَمْوَ ق
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”(Departemen Agama, 2005).
Ayat di atas melarang para sahabat untuk berperang seluruhnya. Akan tetapi selayaknya ada diantara mereka yang mau memperdalam ilmu agama dan mendengarkan ayat-ayat yang turun bagi Nabi saw untuk mereka sampaikan bagi sahabat lain yang pergi berjihad. Yang diperkuat dengan hadist nabi.
)ملسم هاور( ِد ْه َّللا َل ِا ِد ْح َم ْلا َن ِم ِمْلِعْلا ُبَلَط
“Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat”(H.R Muslim)(Musrif, 2005:295)
Dalam rangka menanamkan aqidah kepada anak, pertama kali yang dilakukan oleh orang tua mengajarkan kalimat syahadat kepada anak, dengan memperdengarkan kalimat tersebut kepada anak. Maka sebagai orang tua yang bijaksana dan mempunyai pengetahuan yang tinggi harus mengerti hal tersebut selain mampu mengajari anaknya untuk berpikir dan memberikan ilmu kepada anaknya tersebut.
Orang tua yang menginginkan anaknya menjadi anak yang soleh solehah sudah menjadi keinginan yang mendalam untuk semua orang tua,
dalam hal ini dijelaskan dalam surat Saba‟: 37.
َلِمَعَو َنَمآ ْنَم َّلَِإ ٰىَفْلُز اَنَدْنِع ْمُكُبِّرَقُ ت ِتَِّلاِب ْمُكُد َلَْوَأ َلََو ْمُكُلاَوْمَأ اَمَو
َنوُنِمآ ِتاَفُرُغْلا ِفِ ْمُىَو اوُلِمَع اَِبِ ِفْعِّضلا ُءاَزَج ْمَُلَ َكِئَٰلوُأَف اًِلِاَص
“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga)”( Departemen Agama, 2005).
Secara garis besar pendidikan yang harus ditekankan bagi orang tua dalam keluarga terhadap anaknya dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1. Menanamkan dan Melaksanakan Pembinaan Akidah dan Akhlak. 2. Menanamkan dan Melakukan Pembinaan Kepribadian dan Sosial.
3. Menanamkan dan Melaksanakan Pembinaan Intelektual.
Pada M/03, M/07, dan M/08 dijelaskan pada ayat al-qur‟an surat at- Thaha:132.
َو
اَهْ يَلَع ِْبَِطْصاَو ِة َلََّصلاِب َكَلْىَأ ْرُمْأ
ۖ
اًقْزِر َكُلَأْسَن َلَ
ۖ
َكُقُزْرَ ن ُنَْنَ
ۖ
ٰىَوْقَّ تلِل ُةَبِقاَعْلاَو
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam
mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kami-lah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang
yang bertaqwa.”( Departemen Agama, 2005)
Begitu juga dijelaskan oleh hadis Rasulullah sebagai berikut:
لاِب ْمُكَدَلَْوَأ اْوُر ُم
ْمُهَ نْ يَ ب اْوُ قِّرَ فَو ،ٍرْشَع ُءاَنْ بَأ ْمُىَو ،اَهْ يَلَع ْمُىْوُ بِرْضاَو ،َْيِْنِس ِعْبَس ُءاَنْ بَأ ْمُىَو ِةَلَ َّص
)دواد وبأو دحمأ هاور( ِع ِجاَضَمْلا ِفِ
“Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun, dan kalau sudah
berusia 10 tahun meninggal-kan shalat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita).”(HR. Ahmad dan Abu Daud).
Pada ayat di atas menjelaskan bahwa jika anak kita sudah berumur 10 tahun, hendaknya sang ayah mengajaknya untuk menunaikan kewajiban shalat
dengan berjama‟ah di awal waktu di masjid. Ini merupakan pendidikan praktis
yang sangat bermanfaat, karena dalam benak si anak akan tertanam kebiasaan dan perhatian yang mendalam tentang kewajiban yang sangat mulia ini. Terdapat banyak sekali hikmah dan manfaat yang terkandung di dalamnya.
Hal ini juga menjelaskan pada FP/H.01 sampai 04, 06 dan FP/H.09 yang juga mengharapkan anaknya disiplin dalam shalat dan mengaji, dapat
memahami tentang agama yang baik. Orang tua yang merasa senang ketika anaknya bisa mandiri dalam beribadah tanpa harus di ingatkan kembali.
ۖ ُهاَوَى َعَبَّ تاَو ِضْرَْلأا َلِإ َدَلْخَأ ُوَّنِكَٰلَو اَِبِ ُهاَنْعَ فَرَل اَنْ ئ ِش ْوَلَو
ِلَثَمَك ُوُلَ ثَمَف
َكِلَٰذ ۖ ْثَهْلَ ي ُوْكُرْ تَ ت ْوَأ ْثَهْلَ ي ِوْيَلَع ْلِمَْتَ ْنِإ ِبْلَكْلا
َنوُرَّكَفَ تَ ي ْمُهَّلَعَل َصَصَقْلا ِصُصْقاَف ۖ اَنِتاَيآِب اوُبَّذَك َنيِذَّلا ِمْوَقْلا ُلَثَم
“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya
dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”(QS. Al-A’raf: 176)(Departemen Agama, 2005)
Dalam surat al-A‟raf:176 menjelaskan tentang pengaruh terhadap jiwa dan akal. Biasanya anak itu menyukai cerita-cerita.untuk itu orang tua sebisa mungkin untuk memberikan masalah yang berkaitan denga keteladanan baik yang menyentuh perasaan anak tersebut. Hal itu bisa dilihat pada M/05:
“..biar bisa mengaji dan bisa mendalami agama islam dengan baik, soalnya belajar agama itu harus mulai dari awal, kalau tidak nanti setengah-setengah, apalagi zaman sekarang sudah muncul banyak sekali aliran-aliran”.
Hal ini juga hampir sama pada M/06 yang juga menginginkan anaknya mempelajari dasar-dasar agama yang nantinya akan berkembang dan mendalaminya.
Dari data diatas maka dapat diketahui bahwa sebagian dari orang tua siswa MTs Aswaja Tengaran memiliki motivasi untuk masa depan anaknya agar menjadi orang yang berakhlak baik, religius, dan mampu membedakan
hal yang benar dan salah, mampu mendalami ilmu agama (Islam), menjadi anak yang solekhah.
Lingkungan keluarga terutama peran orang tua sangat peting karena orang tua adalah orang yang pertama kali mengenal dan memberikan pendidikan pada anak. Seperti yang di sabdakan Rasulullah SAW sebagai