• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterangan:

Ojie (pemilik) : Pemodal, memberikan arahan, ide, desain, memotong bahan baku dan finishing.

Pak Boy : Memotong bahan baku. Pak Iwan : Memotong bahan baku. Pak Heru : Memotong bahan baku. Pak Ai : Memotong bahan baku.

Ojie

Pak Joni : Crof/ membentuk/mengukir bahan baku.

Ibu Tuti : Meronce/ menjalin benang menjadi rantai kalung atau gelang. Sari : Meronce/ menjalin benang menjadi rantai kalung atau gelang. Lia : Meronce/ menjalin benang menjadi rantai kalung atau gelang. 2.4. Sejarah Berdirinya IMEJI

IMEJI merupakan nama sebuah toko di Pasar UD Pajus Baru Medan yang menjual berbagai macam benda aksesoris seperti: kalender, lampu hias, poster, jam, boneka, kertas kado, kotak musik, dan bingkai foto. Pemilik toko IMEJI bernama Ibu Awi (40). Ibu Awi adalah kakak kandung dari Pak Muslim (37) yang tinggal bersama suami dan anak-anaknya di kota Medan. Sebelum menjadi seorang pengusaha aksesoris, Ibu Awi hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Namun Pak Muslim yang sudah lama (kurang lebih dua belas tahun) menekuni bidang usaha aksesoris akhirnya mengusulkan Ibu Awi untuk membuka sebuah usaha.

Berita tentang dibangunnya Pajus Baru sebagai ganti Pajus Lama sangat ramai dibicarakan oleh khalayak ramai, bahkan Ibu Awi sempat membaca berita tersebut di salah satu media cetak di Kota Medan. Setelah mendapat informasi tentang dibukanya Pasar UD Pajus Baru Medan, beliau pun mulai mendiskusikannya dengan suami beliau. Ternyata suami dan anak-anaknya mendukung keinginan beliau untuk berwirausaha. Kemudian beliau pun menyewa sebuah toko di Pasar UD Pajus Baru Medan dengan membayar uang sewa 40 juta per tahun.

Toko tersebut kemudian diberikan nama IMEJI oleh Ibu Alwi. Imeji sendiri sebenarnya tidak memiliki arti khusus. Kata IMEJI terbersit dalam pikiran Ibu Awi karena menurut beliau kata tersebut menarik dan mudah untuk diingat. Pada saat melakukan observasi pertama sekali ke Pajus, beliau terlebih dahulu memperhatikan pangsa pasar. Pangsa pasar menurut beliau adalah situasi pasar yang ada kaitannya

dengan jalannya suatu usaha. Adapun pangsa pasar yang dimaksud adalah sebagai berikut:

- Lokasi tempat yang strategis. Transportasi ke lokasi usaha harus lancar, agar mudah untuk dijangkau oleh masyarakat luas. Jika tempatnya tidak strategis dan jauh dari pemukiman, maka orang lain akan malas untuk datang berkunjung ketempat tersebut.

- Melihat tipe pengunjung yang datang. Sebelum memutuskan untuk menjual aksesoris, beliau terlebih dahulu mengobservasi siapa saja yang menjadi pengunjung Pajus. Setelah melakukan observasi tersebut, beliau akhirnya dapat mengetahui bahwa orang yang datang ke Pajus kebanyakan datang datang dari kalangan anak-anak muda seperti anak sekolah, mahasiswa, dan pekerja. Sedangkan dari kalangan orang tua, jumlahnya hanya sedikit.

- Melakukan observasi terhadap usaha di Pajus. Beliau melakukan obervasi atau pengamatan terhadap usaha apa saja yang dijalankan di Pajus. Hal ini dilakukan untuk menambah informasi bagi beliau dalam membuat pertimbangan tentang barang apa yang akan dijual.

Bedasarkan observasi pangsa pasar tersebut Ibu Awi memperoleh pemikiran bahwa dengan lokasi yang strategis, pengunjung yang didominasi oleh kalangan anak anak muda, dan usaha aksesoris yang belum banyak dijalankan oleh sesama pedagang merupakan sebuah peluang yang sangat bagus untuk mengembangkan usaha aksesoris yang pada umumnya disenangi oleh kalangan muda. Oleh karena itu beliau berpikiran bahwa aksesoris sebagai usaha yang cocok untuk dijual di tokonya.

Anak-anak muda mempunyai tingkat emosi yang meletup-letup, dalam artian mudah terpengaruh dengan hal-hal baru yang berkaitan dengan tren yang sedang

berlaku saat ini. Biasanya untuk mengekspresikan perasaannya, mereka suka mengoleksi benda-benda yang berkaitan dengan idola mereka itu. Beliau berpendapat demikian karena beliau juga pernah muda dan merasakan semangat muda pada eranya. Sehingga sedikit banyaknya pasti ada suatu kesamaan hobi atau kesenangan bagi anak-anak muda yang cenderung dipengaruhi oleh tren yang sedang berlaku sekarang ini.

Sebagai orang yang baru menjalankan bisnis aksesoris, Ibu Awi merasa perlu belajar lebih banyak bagaimana cara menjalankan usaha dan cara menghadapi pelanggan dengan baik dari orang yang sudah berpengalaman sebelumnya. Pak Muslim sebagai adik sekaligus sebagai orang yang sudah lama berpengalaman di bidang aksesoris turut membantu dan memberikan beberapa masukan. Menurut pendapat Pak Muslim karena sasaran pasarnya adalah dari kalangan anak muda, maka sebagai pedagang aksesoris mereka penting untuk mengetahui apa saja yang menjadi hobi atau kesenangan dari pelanggannya.

Hal tersebut menjadi penting karena saat seorang pelanggan datang dan menanyakan benda yang sedang dicarinya maka si pedagang tentu harus mengetahui benda apa yang dimaksud. Jika si pedagang sudah mempunyai gambaran tentang benda apa yang dimaksud oleh si pelanggan, maka si pedagang akan dapat lebih mudah untuk mencarinya dan memberikan penjelasan tentang benda tersebut. Hal tersebut dapat diketahui dari sejumlah referensi dari internet, koran, majalah, maupun dari hasil wawancara dan pembagian pertanyaan kuisioner yang diberikan kepada sejumlah orang. Pertanyaan yang dituliskan dalam kuisioner tersebut berisi tentang seputar hobi, idola, dan benda-benda aksesoris apa saja yang menjadi kesukaan dan yang mereka inginkan.

Berdasarkan jawaban-jawaban yang mereka berikan, Ibu Awi akhirnya tahu apa yang menjadi kesukaan dan yang di cari oleh anak-anak muda. Beliau pun akhirnya memutuskan untuk menjual pernak-pernik aksesoris seperti: kalender, lampu hias, poster, jam hias, boneka, kertas kado, kotak musik, dan bingkai foto. Awal berjualan Ibu Awi yang belum terbiasa berbisnis terkadang masih malu-malu untuk menyapa pelanggan. Melihat hal tersebut akhirnya Pak Muslim ikut turun tangan untuk membantu beliau berjualan. Pak Muslim yang juga mempunyai banyak teman relasi dalam usaha aksesoris dari berbagai daerah, mempermudah beliau dalam melakukan pemesanan pernak-pernik aksesoris yang akan dijual.

Usaha Ibu Awi yang menjual pernak-pernik aksesoris, namun tidak ada menjual perhiasan aksesoris seperti kalung, gelang, cincin, dan anting membuat Pak Muslim berpikir untuk membuka usaha aksesoris yang berbeda dengan kakaknya. Beliau akhirnya memutuskan untuk fokus menjual aksesoris perhiasan seperti kalung, gelang, cincin, dan anting. Menurut beliau usaha aksesoris perhiasan cukup menjanjikan, karena aksesoris perhiasan tidak pernah ada kata kedaluarsa. Jika barangnya tidak laku dapat dimodifikasi kembali menjadi lebih menarik. Hal tersebut juga didukung dengan adanya keahlian sekaligus hobi beliau dalam memodifikasi aksesoris.

Oleh karena itu, setelah meminta izin terlebih dahulu kepada Ibu Awi, beliau akhirnya menempatkan sebuah lemari berukuran 60cm x 100cm di depan teras toko IMEJI untuk menghemat biaya sewa tempat yang dirasa cukup mahal. Di lemari terbuka tersebut yang merupakan hasil modifikasi beliau sendiri, beliau memajang benda-benda aksesoris yang tidak ada dijual oleh Ibu Awi seperti cincin, gelang, anting, kalung, gantungan kunci, slayer, dan stiker.

Alasan beliau memajang barang dagangannya di dalam sebuah lemari terbuka adalah, karena aksesoris akan terlihat lebih menarik jika dalam keadaan berkumpul, sehingga memberikan efek banyak. Aksesoris yang dipajang pada lemari terbuka akan menarik pandangan banyak orang yang melewatinya, selain itu pandangan mereka juga akan menjadi lebih terfokus pada benda-benda di dalamnya.

Foto 1.

Aksesoris Dipajang Dalam Sebuah Lemari Terbuka yang Berukuran 60cm x 100cm

Sumber: Toko IMEJI, Pasar UD Pajus Baru Medan

Pak Muslim juga menjelaskan bahwa, ada anggapan bagi sebagian masyarakat, dimana aksesoris yang dijual di pinggir jalan atau tempat terbuka itu terkesan harganya lebih murah dibandingkan dengan aksesoris yang ada dijual di dalam toko. Anggapan itu muncul karena aksesoris yang dijual ditempat terbuka

harga dapat ditawar sedangkan aksesoris yang dijual di toko harganya sudah ditentukan dan tidak bisa ditawar lagi. Sehingga dengan adanya perspektif tersebut, orang-orang tidak merasa khawatir atau segan untuk sekedar mampir dan melihat pajangan aksesoris tersebut.

Kebanyakan orang tujuan awalnya mungkin tidak ada niat untuk membeli aksesoris. Namun setelah melihat ada aksesoris yang dipajang ditempat terbuka, orang tersebut akan tertarik dan berhenti sebentar untuk melihatnya. Kemudian mereka akan mulai memperhatikan satu-persatu benda yang dipajang. Setelah itu jika tertarik pada satu benda orang tersebut akan mencoba memakai dan mengira-ngira apa benda itu cocok untuk dia pakai.

Pak Muslim sendiri tidak melarang pengunjung untuk mencoba aksesoris yang dipajang, karena itu adalah salah satu trik untuk memberikan pelayanan bagi si pelanggan. Saat orang tersebut merasa cocok dengan benda yang dipakainya, dia akan mulai menanyakan berapa harganya. Biasanya orang tersebut akan menawar harga lebih rendah dari harga awal yang ditawarkan oleh si pedagang. Pak Muslim menyadari bahwa lokasi tempat beliau berjualan memang memungkinkan orang untuk melakukan tawar-menawar harga.

Oleh karena itu, beliau tidak akan marah atau merasa kecewa saat ada orang yang menawar aksesorisnya dengan harga yang jauh lebih murah dari penawaran awal. Beliau akan mencoba menyesuaikan harga dengan permintaan si pembeli. Bagi beliau bisnis aksesoris bukan hanya tentang keuntungan material saja, tapi juga menjalin silaturahmi yang baik antara pedagang dan pembeli. Kesan yang baik akan membuat si pembeli merasa dihargai dan tidak jera untuk kembali ke tempat itu lagi.

Beliau tidak perlu membayar biaya sewa tempat kepada Ibu Awi, karena beliau masih ada ikatan saudara kandung. Bagi mereka saudara itu harus saling membantu. Bahkan Pak Muslim juga tidak membuat nama usaha sendiri di tempatnya menjual aksesoris perhiasan. Jika ada orang yang bertanya apa nama usahanya, beliau akan mengatakan IMEJI karena tempat usahanya berada persis di depan teras toko IMEJI itu sendiri. Beliau merasa tidak perlu membuat nama lain karena tempat usahanya adalah milik kakaknya juga. Penghasilan dari usaha masing-masing adalah milik masing-masing, namun mereka juga tidak jarang saling membagi hasil jika sedang ramai dan memperoleh keuntungan lebih.

Selain itu Pak Muslim dan istrinya kadang ikut membantu Ibu Awi melayani pembeli jika sedang ramai oleh pengunjung, karena Ibu Awi sendiri juga tidak mempunyai karyawan. Ibu Awi kadang dibantu oleh anaknya saat sedang ada waktu luang saja, karena anak-anaknya masih ada yang sekolah dan kuliah. Anak-anaknya kadang datang bersama teman-temannya ke toko tersebut. Sambil mengobrol mereka juga sambil melayani pembeli yang datang ke tempat tersebut.

Pak Muslim yang lebih banyak mengetahui pasar sumber tempat memperoleh benda-benda aksesoris, sering diminta untuk memesan barang aksesoris dari teman-teman relasinya. Beliau mempunyai banyak relasi dalam bidang aksesoris, karena sebelumnya beliau pernah merantau dan tinggal di Jakarta selama dua belas tahun. Beliau mengatakan pendidikan formalnya yang terakhir hanya lulusan SMP. Beliau tidak menyelesaikan pendidikan SMA karena beliau sering bermain-main dan tidak serius belajar waktu sekolah sehingga beliau memutuskan untuk berhenti dan tidak melanjutkan sekolah lagi. Berbekal ijazah SMP beliau akhirnya merantau dari Medan ke Jakarta.

Pak Muslim yang berdarah campuran ayah Melayu, dan ibu Jawa tidak mengalami kesulitan saat berkomunikasi dengan orang-orang yang beliau temui disana, karena kenalan beliau adalah mayoritas suku Jawa dan Sunda. Disana beliau mencari pekerjaan dan sekalian menambah wawasan. Namun mencari di Kota Jakarta tidak semudah yang beliau pikirkan selama ini. Akhirnya beliau mengikuti ajakan temannya untuk ikut bergabung dalam kegiatan komunitas mereka. Kegiatan komunitas teman-temannya saat di Jakarta menurut beliau berbeda dengan yang ada di Kota Medan. Komunitas di Kota Medan menurut beliau kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat dan masyarakat, sehingga kegiatan mereka kurang terarah untuk kemajuan pembangunan Kota Medan itu sendiri.

Komunitas yang terbentuk di Jakarta menurut beliau kebanyakan lebih terarah dan kreatifitas mereka lebih dihargai disana. Pemerintah setempat kadang mau melakukan sosialisasi bagi komunitas yang ada disana. Mereka diajak untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan pembangunan Kota Jakarta melalui bakat yang mereka miliki. Salah satu contohnya adalah komunitas graffiti yang pernah beliau ikuti. Mereka pernah diminta oleh pemerintah setempat untuk melukis dinding tembok sebuah bangunan, melukis wajah lima orang Presiden Indonesia, dan memperbaiki dinding bangunan tua dengan sebuah lukisan hasil kreatifitas mereka.

Selain itu dalam komunitas lain yang juga pernah diikuti oleh beliau, disana mereka saling bertukar informasi dan belajar mengkreasikan benda-benda yang sudah tidak terpakai lagi. Mereka memodifikasinya menjadi sebuah aksesoris yang menarik. Komunitas mempunyai ikatan persaudaraan yang sangat solid. Mereka mempunyai prinsip “One for all, all for one”, yaitu satu untuk semua, semua untuk satu. Sehingga dengan adanya prinsip yang tertanam dalam pribadi setiap anggota, mereka akan

saling bantu-membantu antara sesama anggota dan itu adalah menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka.

Memang ada juga komunitas yang hanya untuk kepentingan bersenang-senang saja, namun menurut beliau baik-buruknya sesuatu itu tergantung bagaimana kita menyikapinya saja. Meski sering ikut bergabung dengan berbagai kegiatan, namun beliau tidak terikat dengan salah satu komunitas yang diikutinya itu. Beliau lebih senang berteman dengan semua orang tanpa harus terikat, dalam artian beliau bebas bergaul tanpa perlu merasa ada halangan.

Pada tahun 2000 Pak Muslim menikah dengan Ibu Iroh (32). Saat itu mereka tinggal di Jakarta dengan menjual berbagai macam aksesoris, mulai aksesoris gantungan kunci, poster, bingkai foto, stiker, kalung, gelang, cincin, dan anting-anting. Namun usaha mereka disana kurang berjalan dengan lancar, penghasilan tidak sesuai dengan pengeluaran mereka. Beliau mengatakan bahwa biaya hidup di Jakarta sangat tinggi, seperti sewa rumah yang mahal, serta bahan dan peralatan yang juga serba mahal. Melihat kondisi tersebut mereka akhirnya memutuskan untuk pindah ke Kota Medan tahun 2004. Alasan mereka pindah ke Medan adalah karena keluarga Pak Muslim kebanyakan tinggal di Medan, dan menurut beliau biaya hidup di Medan lebih rendah dibandingkan saat di Jakarta.

Tahun 2004 beliau mulai merintis usahanya kembali. Beliau membeli sebuah beca barang, yaitu beca barang yang dibantu dengan menggunakan sepeda dayung yang dibeli dengan harga yang murah. Awalnya beca itu dibeli untuk digunakan sebagai alat mata pencahariannya untuk mengangkut barang. Namun penghasilan dari bekerja sebagai tukang beca yang mengangkut barang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga intinya, yaitu istri dan anaknya.

Kemudian beliau mengingat usaha aksesoris yang dulu pernah dikerjakannya. Setelah itu muncullah ide dalam pikiran beliau untuk kembali menjual aksesoris, namun karena modal tidak cukup untuk menyewa tempat maka beliau memutuskan untuk memanfaatkan beca barangnya. Beliau memodifikasi lemari kayu yang tidak terpakai lagi sebagai tempat untuk memajang benda-benda aksesorisnya. Kemudian lemari tersebut diletakkan dan diikat di atas beca barang tersebut. Saat itu aksesoris yang dijual di atas becanya adalah seperti: kalung, cincin, gelang, anting-anting, gantungan kunci, pita dan ikat rambut, kalender, poster, dan striker. Setelah itu beliau berkeliling menjajakan aksesorisnya dari satu tempat ke tempat lainnya sambil mengayuh sepedanya. Beliau menamakannya “SERBU” kepanjangan dari Serba Seribu. Jadi aksesoris yang dijual rata-rata harganya di mulai dari seribu rupiah.

Trik tersebut ternyata cukup mengundang minat dan perhatian banyak orang. Harga yang terjangkau dan cara berjualan yang unik, membuat anak-anak hingga orang dewasa ramai untuk membelinya. Aksesoris yang paling laris dijual adalah aksesoris perhiasan seperti kalung, gelang, anting, dan cincin. Beliau mengatakan orang kebanyakan lebih tertarik menggunakan aksesoris perhiasan, karena aksesoris perhiasan bisa menambah daya tarik dari si pemakainya.

Saat itu menurut beliau di tempat tersebut belum ada yang menjual aksesoris dengan cara dibawa berkeliling dengan menggunakan beca barang. Setiap hari mulai dari jam 12.00 sampai jam 18.00 WIB beliau menjual aksesoris keliling dari satu gang ke gang lainnya, dan setiap hari pula orang ramai datang untuk membelinya. Sehingga keuntungan yang beliau dapatkan saat itu sangat lumayan banyak, karena menggunakan sepeda dayung sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya lebih.

Hal inilah yang membuat beliau ingin mengembangkan usahanya tersebut. Beliau akhirnya membeli sebanyak 100 beca barang, kemudian beliau mempekerjakan orang-orang yang kebanyakan adalah pemuda setempat yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Mereka bekerja mulai jam 12.00 sampai jam 18.00 WIB. Seiring berjalannya waktu persaingan pun semakin ketat. Para pedagang mulai banyak yang menjual aksesoris dan perlengkapan rumah tangga lainnya dengan cara membawa berkeliling dengan menggunakan sepeda barang dan juga sepeda motor.

Pembeli juga tidak ramai seperti dulu lagi. Hal tersebut membuat beliau memutuskan untuk berhenti berjualan keliling. Beca dayungnya kemudian dijual dan uang hasil pedagangan beca ditambah dengan hasil dari selama beliau berjualan keliling digunakan menjadi modal untuk menambah barang dagangannya di tempat yang baru. Beliau mulai mencari sebuah tempat untuk menjual aksesorisnya.

Namun karena terkendala dengan biaya sewa toko yang mahal, akhirnya beliau memutuskan untuk berjualan di pinggir jalan yang tempatnya berada di depan Museum SUMUT. Di tempat tersebut beliau menaruh sebagian benda-benda aksesorisnya diatas sebuah meja kecil dan sebagian lagi disimpan dalam kardus untuk menghemat tempat. Alasan beliau berjualan di tempat tersebut adalah karena Museum SUMUT merupakan salah satu tempat yang ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Sehingga aksesoris-aksesoris yang beliau jual bisa dijadikan sebagai kenang-kenangan bagi orang yang datang berkunjung ke tempat tersebut.

Namun perkiraan beliau ternyata tidak tepat. Pedagangan benda aksesoris di tempat tersebut tidak begitu laris terjual. Penyebabnya karena benda aksesoris yang biasa beliau jual, seperti: kalung, cincin, gelang, anting-anting, gantungan kunci, pita

dan ikat rambut, kalender, poster, dan striker dapat dengan mudah ditemui dipasaran, atau dengan kata lain tidak memiliki keunikan sehingga kurang diminati oleh pembeli. Sementara orang yang datang berkunjung ke museum tentu menginginkan benda aksesoris yang dapat dijadikan sebagai cendera mata yang menjadi ciri khas dari Kota Medan itu sendiri.

Pada tahun 2006 beliau kemudian harus berpindah tempat lagi, karena ditempat tersebut akan dilakukan penertiban jalan termasuk terhadap pedagang kaki lima. Pedagang-pedagang kaki lima termasuk pak Muslim, dilarang untuk berjualan ditempat tersebut. Pak Muslim hanya bisa pasrah dan mencoba untuk tetap bersabar saat mendengar berita adanya penertiban bagi pedagang kaki lima di tempat tersebut. Beliau sadar tidak mempunyai surat izin usaha di tempat itu. Oleh karena itu, meski sedikit kecewa namun beliau tetap mentaati peraturan pemerintah tersebut.

Meski demikian beliau tidak patah semangat untuk kembali melanjutkan usahanya berjualan aksesoris, karena beliau merasa punya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecilnya. Beliau pun kembali mencari tempat untuk berjualan. Berkat informasi yang beliau peroleh dari teman-temannya, akhirnya beliau tertarik untuk menjalankan usahanya di Pajak USU (pajus lama) yang berada di Jln. Jamin Ginting yang berlokasi di dalam kampus USU. Ketertarikan beliau untuk berjualan di tempat tersebut karena letaknya yang strategis, ramai dikunjungi oleh orang banyak, dan peminat aksesoris pada umumnya adalah kaum muda seperti mahasiswa.

Pengalaman yang diperoleh selama berjualan aksesoris, beliau jadikan sebagai sebuah proses pembelajaran. Berdasarkan pengalaman itulah beliau mencoba memperbaiki strateginya untuk berjualan. Mulai dari penyusunan letak aksesoris yang

akan dijual. Menurut beliau aksesoris yang diletakkan di atas sebuah meja, terutama pada jenis aksesoris perhiasan itu tidak tepat dilakukan, karena membuatnya tidak terlihat menarik dan terkesan sedikit. Hal ini terbukti dengan sedikitnya pengunjung yang tertarik untuk membeli aksesoris yang beliau jual saat di lokasi Museum.

Berbeda halnya dengan aksesoris yang diletakkan dalam sebuah lemari terbuka. Aksesoris menjadi terlihat lebih banyak dan lebih menarik karena terlihat beranekamacam, sehingga akan menimbulkan rasa ingin tahu orang yang melihatnya. Selain itu perhatian orang tersebut juga akan lebih terfokus melihat ke dalam isi lemari yang hanya terbuka pada bagian depan dan samping kiri-kanan. Berdasarkan pertimbangan dua hal tersebut, beliau akhirnya memutuskan untuk mencoba kembali cara lama yang sebelumnya pernah dilakukan, yaitu menyusun benda-benda aksesoris dalam sebuah lemari terbuaka yang berukuran 60cm x 100cm.

Tidak hanya itu saja, jika proses berjualan yang dilakukan sebelumnya adalah membeli barang dari grosir, kemudian langsung menjualnya pada konsumen. Kini beliau mencoba berinovasi dengan melakukan modifikasi bentuk, warna, maupun memperbaharui benda-benda aksesoris yang beliau jual. Hasil dari modifikasi yang

Dokumen terkait