• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. Struktur organisasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero)

PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional Office merupakan salah satu kantor regional dari 17 kantor yang ada di seluruh Indonesia. PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional office merupakan salah satu kantor regional yang difokuskan untuk menangani nasabah-nasabah corporate atau dalam bahasa asuransi biasa disebut nasabah kumpulan. Struktur organisasi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional terdiri dari seorang Regional Manager yang dibantu oleh 4 (empat) kepala bagian yang terdiri dari unit pertanggungan, operasional, ekskaso dan administrasi keuangan. Dari unit- unit tersebut seorang kepala bagian dibantu oleh beberapa pegawai dengan status kepala seksi, dimana bagian pertanggungan memiliki 4 (empat) kepala seksi,

bagian pertanggungan 3 (tiga) kepala seksi, bagian ekskaso 1 (satu) kepala seksi dan bagian operasional 2 (dua) kepala seksi.

Dilihat dari struktur organisasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional Office memiliki sebuah struktur yang sangat kompleks yang tidak dimiliki kantor regional lain. Hal tersebut membuat kantor pelayanan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional Office terlihat sebagai sebuah kantor regional yang sangat besar. Oleh karena itu diharapkan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional Office dapat menyumbang 40% pendapat premi se-indonesia, sehingga sesuatu yang tidak mustahil pencapaian target premi di tahun 2014 dapat tercapai. Struktur Organisasi dapat dilihat pada Lampiran 4. 4.1.5 Produk dan Layanan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III

Regional Office

1. Produk Kumpulan (Corporate)

JS Siharta (Simpanan Hari Tua)

Produk Asuransi ini sangat bermanfaat bagi para karyawan untuk mewujudkan hari tua yang bahagia. Produknya meliputi dana hari tua, santunan duka, santunan cacat dan santunan rawat inap.

JS Personal Accident (Kecelakaan Diri)

Produk ini dapat dimanfaatkan untuk mengganti biaya rawat inap di rumah sakit, mendapatkan santunan cacat apabila tertanggung cacat karena kecelakaan dan santunan duka bila tertanggung meninggal karena kecelakaan maupun bukan karena kecelakaan.

2. Produk Pensiun

Jaminan Hari Tua (JHT)

Jaminan Hari Tua merupakan produk yang dirancang untuk merencanakan masa depan keuangan pemegang polis.

Tunjangan Hari Tua

Melalui produk ini, Jiwasraya membantu mengelola perencanaan financial untuk menanggulangi menurunnya nilai ekonomis akibat berkurangnya produktivitas yang disebabkan penambahan usia, kecelakaan dan kematian.

4.2. Karakteristik Responden

Berdasarkan data perusahaan saat ini di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) khususnya tempat penelitian dilakukan yaitu di kantor PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional Office jumlah populasi sebanyak 40 pegawai. Jumlah tersebut terdiri dari 4 (Empat) bagian utama yaitu Bagian Operasional yang diwakili 4 responden yang terdiri dari 1 orang Kepala Bagian, 2 Orang Kepala Seksi dan 2 orang Administrator, Bagian Pertanggungan yang diwakili 15 responden yang terdiri dari 1 orang Kepala Bagian, 4 orang Kepala Seksi dan 10 orang Administrator, Bagian Administrasi Keuangan diwakili 7 responden yang terdiri dari 1 orang Kepala Bagian, 3 orang Kepala Seksi, dan 3 orang Administrator, dan untuk Bagian Ekskaso diwakili 5 responden yang terdiri dari 1 Kepala Bagian, 1 orang Kepala Seksi, dan 3 orang Administrator. Sedangkan untuk bagian lain terdiri dari Pejabat Fungsional yang diwikili 5 responden, Juru layan 2 responden dan Satpam 2 responden. Karakteristik jabatan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Karakteristik jabatan

Responden dari penelitian ini di dominasi oleh karyawan berjenis kelamin pria, dimana presentase jumlah responden pria sebesar 55% dan responden wanita sebesar 45%. Hal ini disebabkan populasi di PT Asuransi Jiwasraya (persero) Jakarta III Regional Office lebih didominasi oleh pegawai berjenis kelamin pria dibandingakan dengan berjenis kelamin wanita. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Jenis kelamin responden

Jenis Kelamin Jumlah Responden Persentase (%)

Wanita 18 45

Pria 22 55

Jabatan Jumlah Responden Persentase (%)

kepala bagian 4 10 kepala seksi 10 25 Administrator 17 42 pejabat fungsional 5 13 juru layan 2 5 Satpam 2 5

Hasil penelitian menunjukan sebaran umur responden dari yang tertinggi sebesar 33% terdapat pada kategori usia 36 – 40 tahun, kemudian diurutan kedua kategori usia 26 – 30 tahun dengan presentase sebesar 20%, diurutan ketiga terdapat pada kategori usia 31 – 35 dan diatas 45 tahun dengan presentase sebesar 15 % dan terdendah sebesar 8% untuk kategori usia 40 – 45 tahun. Karakteristik responden berdasarkan umur responden dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Distribusi umur responden

Usia Jumlah Responden Persentase (%)

< 25 5 12 26 – 30 8 20 31 – 35 5 12 36 – 40 13 33 40 – 45 3 8 > 45 6 15

Mayoritas responden berpendidikan sarjana dengan presentase sebesar 72% . Kemudian dapat dilihat juga untuk pendidikan tertinggi responden adalah S2 dengan presentase 5% yang berada diurutan ke empat. Sedangkan di urutan kedua dengan presentase 15% merupakan responden berpindidikan SMA sedangkan untuk responden berpendidikan Diploma menduduki peringkat ketiga dengan presentase sebesar 8%. Dilihat dari hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berpendidikan sarjana. Perbedaan tingkat pendidikan sangatlah berpengaruh terhadap penilaian mengenai gaya kepemimpinan dan budaya organisasi. Semakin tinggi tingkatan pendidikan seseorang maka akan semakin berbeda pula penilaian yang diberikan terhadap gaya kepemimpinan serta budaya organisasi yang sedang diterapkan. Seseorang yang memiliki pendidikan lebih tinggi akan melakukan penilaian secara objektif dengan melihat latar belakang pemimpin tersebut baik dilihat dari aspek kemampuan managerial, tanggung jawab, serta tingkat intelligence yang dimiliki. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Distribusi pendidikan responden

Masa kerja terlama responden rata-rata sekitar 11 – 15 tahun sebesar 35% dan > 16 tahun dengan presentase 18% yang dapat dilihat pada gambar 9. Masa kerja responden dibawah satu tahun sebesar 25 % cukup banyak dikarenakan dalam kurun waktu 2 tahun PT Asuransi Jiwasraya (Persero) banyak melakukan

rekruitmen pegawai mengingat banyak nya posisi posisi yang kosong di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) karena banyak pula pegawai yang telah pensiun

atau memasuki usia pensiun. Selain itu juga hal ini menunjukan bahwa dalam ketatnya persaingan bisnis Asuransi Jiwa di Indonesia PT Asuransi Jiwasraya (Persero) mampu bertahan sekaligus berkembang dan tumbuh lebih baik, salah satunya ditunjukan dengan banyaknya rekruitmen pegawai baru yang dilakukan oleh bagian SDM untuk ditempatkan di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) seluruh Indonesia dalam kurun waktu 2 tahun belakangan ini. Selanjutnya diurutan ketiga responden untuk masa kerja terlama 6 – 10 tahun dengan presentase 15% dan diurutan terkahir atau urutan ke-empat untuk masa kerja atara 2 – 5 tahun dengan nilai presentase 7%. Karakteristik responden berdasarkan masa kerja dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Distribusi masa kerja

Pendidikan Jumlah Responden Persentase (%)

S1 29 72

S2 2 5

Diploma 3 8

SMA 6 15

Masa Kerja Jumlah Responden Persentase (%)

<1 Tahun 10 25

2-5 Tahun 3 7

6-10 Tahun 6 15

11-15 Tahun 14 35

4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas 4.3.1 Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengetahui kelayakan butir pertanyaan pada penelitian. Uji validitas yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan software Microsoft Excel dengan metode Pearson correlation Product Moment. Pengujian validitas menggunakan jumlah Pegawai sebanyak 30 orang, dengan menggunakan nilai r-tabel yang diperoleh dari df (degree of freedom) = n-k. Pada penelitian ini terdapat satu variabel dependen dan 7 variabel independen, variabel independen terdiri dari Gaya Kepemimpinan Kharismatik, Visioner, Transformasional Telling, Selling, Participative dan Delegating.

Pengujian validitas dilakukan terhadap variabel independen yaitu Gaya Kepemimpinan Kharismatik dengan jumlah butir pertanyaan sebanyak 4 pertanyaan, Gaya Kepemimpinan Visioner dengan jumlah butir pertanyaan sebanyak 4 pertanyaan, Gaya Kepemimpinan Transformasional dengan jumlah butir pertanyaan sebanyak 4 pertanyaan, Gaya Kepemimpinan Telling sebanyak 4 pertanyaan, Gaya Kepemimpinan Selling dengan jumlah butir pertanyaan sebanyak 4 pertanyaan, Gaya Kepemimpinan Participating dengan jumlah butir pertanyaan sebanyak 4 pertanyaan dan Gaya Kepemimpinan delegating sebanyak 4 butir pertanyaan. Hasil pengujian validitas dengan nilai df = 30-2 = 28 yang menghasilkan r-tabel sebesar 0,361, hasil uji validitas dapat dilihat pada lampiran 3. Berdasarkan lampiran 7 dapat terlihat bahwa nilai r-hitung dari semua butir pertanyaan lebih besar dari nilai r-tabel. Maka dapat disimpulkan bahwa 16 butir pertanyaan untuk variabel Gaya Kepemimpinan dinyatakan valid.

4.3.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui konsistensi dan keandalan kuesioner yang dijawab oleh pegawai dalam mengukur gejala yang sama atau untuk mengetahui tingkat kesalahan pengukuran. Untuk pengujian reliabilitas digunakan Software SPSS 15.0 for Windows. Suatu konstruk variabel dinyatakan reliabel jika memiliki nilai Cronbach’s Alpha> dari 0,60. Hasil dari pengujian reliabilitas dari varibel independen menggunakan Software SPSS 15.0 for Windows memiliki nilai alpha cronbach’s untuk variabel independen sebesar 0,647. Nilai tersebut lebih besar dari 0,60 yang artinya butir pertanyaan kuesioner pada variabel independen dapat dinyatakan reliabel.

4.4. Analisis Deskriptif Gaya Kepemimpinan

Analisis deskriptif bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi karyawan dalam menilai gaya kepemimpinan yang diterapkan di PT Asuransi Jiwasraya (persero) Jakarta III Regional Office. Hasil dari perhitungan terhadap persepsi Gaya Kepemimpinan berdasarkan pernyataan yang disebarkan kepada 40 pegawai di lingkungan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional Office menggunakan alat analisis deskriptif dengan teknik statistik modus yang berarti teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai yang sering muncul sehingga memperoleh gambaran yang sebenarnya mengenai kondisi pegawai tentang pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Budaya Organisasi. Teori Gaya Kepemimpinan pada penelitian ini adalah Gaya Kepemimpinan Kharismatik, Transformasional, Visioner, dan Situasional (Telling, Selling, Participating, dan Delegating).

4.4.1 Persepsi pegawai terhadap gaya kepemimpinan kharismatik

Gaya Kepemimpinan Kharismatik dalam penelitian ini menggambarkan bahwa pemimpin selalu berusaha mengedepankan hubungan dengan bawahan yang orientasi relasional bukan kekuasaan dan berusaha agar tugas-tugas terselenggara dengan sebaik-baiknya. Pemimpin kharismatik memiliki lima ciri, yaitu memiliki visi, mau mengambil resiko dalam melaksanakan visi, peka terhadap keadaan lingkungan dan pengikutnya, dan mempunyai perilaku yang tidak biasa. Berdasarkan hasil perhitungan bahwa pegawai setuju terhadap pimpinan yang berusaha agar pekerjaan dapat dikerjakan dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab dengan persentase sebesar 45%. Para pegawai sangat setuju terhadap pimpinan yang mengutamakan kesejahteraan para pegawainya dengan persentase sebesar 50%. Pegawai setuju terhadap pimpinan yang masih memiliki rasa egoisme yang tinggi dalam kepemimpinanya di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional Office dengan persentase sebesar 45%. Pegawai setuju terhadap segala keputusan yang ditetapkan oleh pimpinan perusahaan dengan sepenuh hati, optimal, dan tanggung jawab dengan persentase sebesar 42.5%. Perhitungan persepsi responden tentang Gaya Kepemimpinan Kharismatik dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Persepsi pegawai terhadap gaya kepemimpinan kharismatik

Oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan berdasarkan perhitungan yang didasari oleh persepsi pegawai mengenai gaya kepemimpinan kharismatik, pegawai setuju dengan skor akhir 40.6% bahwa terdapat gaya kepemimpinan kharismatik di dalam Regional Manager PT Asuransi Jiwasraya (persero) Jakarta III Regional Office yang dalam keseharianya Regional Manager selalu mengkoordinasikan tugas-tugas kepada bawahan melalui pendekatan-pendekatan relasional seperti meeting kecil meskipun hal tersebut dilakukan kepada pegawai yang masih bersifat administrator. Sehingga bawahan pun tidak sungkan untuk selalu meminta pendapat kepada Regional Manager apabila terdapat permasalahan yang menyangkut organisasi.

4.4.2 Persepsi pegawai terhadap gaya kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan Transformasional dalam penelitian ini menggambarkan bahwa pimpinan memberikan dan mencurahkan perhatian pada kebutuhan pengembangan diri pengikut, mengubah paradigma pengikut terhadap masalah dengan cara-cara baru, dan mempunyai kemampuan untuk memotivasi pengikut dalam mencapai tujuan. Persepsi gaya kepemimpinan Transformasional dapat dilihat pada Tabel 8.

N % N % N % N %

Pimpinan saya berusaha agar pekerjaan dapat dikerjakan dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab.

0 0 10 25 18 45 12 30 Setuju

Saya memiliki keyakinan bahwa pimpinan saya mengutamakan kesejahteraan pegawainya.

0 0 8 20 12 30 20 50 Sangat Setuju

Pimpinan saya memiliki rasa egoisme yang tinggi dalam kepemimpinanya di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional Office

1 3 10 25 18 45 11 27,5 Setuju

Saya melaksanakan keputusan yang ditetapkan oleh pimpinan perusahaan dengan Sepenuh hati, Optimal dan Tanggung Jawab.

2 5 7 17,5 17 42,5 14 35 Setuju

Jumlah 3 1,88 35 21,88 65 40,6 57 35,63 Setuju

Skor Nilai Gaya Kepemimpinan Kharismatik

Keterangan 4

3

Tabel 8. Persepsi pegawai terhadap gaya kepemimpinan transformasional

Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 8. Pegawai setuju terhadap pimpinan yang membuat dirinya merasa bangga menjadi rekan kerjanya dengan persentase sebesar 47.5%. Para pegawai tidak setuju terhadap pimpinan yang merupakan symbol kesuksesan bagi prestasi kerjannya dengan persentase sebesar 40%. Pegawai setuju terhadap pimpinan yang mengembangkan cara-cara untuk mendorong apa yang benar – benar diperhatikan di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional Office dengan persentase sebesar 37.5%. Dan pegawai sangat setuju terhadap pimpinan yang selalu mendorong pegawainya untuk selalu berprestasi dengan persentase sebesar 50%. Dapat ditarik kesimpulan bahwa pegawai merasa gaya kepemimpinan transformasional merupakan gaya kepemimpinan yang paling melekat dalam diri Regional Manager dengan skor akhir 38.75 %. Salah satu penerapan gaya transformasional yaitu Regional Manager PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional Office selalu mengajak meeting pagi terhadap seluruh pegawai, dengan begitu Regional Manager dapat mengetahui permasalahan-permasalahan yang sedang dialami antar bagian dan beliau akan memberikan masukan serta motivasi agar permasalahan dapat terpecahkan, sehingga tujuan perusahaan yaitu pencapaian premi sebesar 1.1 triliun di tahun 2014 dapat terealisasikan.

4.4.3 Persepsi pegawai terhadap gaya kepemimpinan visoner.

Kepemimpinan Visioner dalam penelitian ini menggambarkan bahwa pimpinan memiliki kemampuan untuk menciptakan suatu visi yang realistis, dapat

N % N % N % N %

Pimpinan membuat saya merasa bangga menjadi rekan kerjanya.

0 0 4 10 19 47,5 17 42,5 Setuju

Saya berfikir bahwa atas an merupakan s imbol kesuksesan bagi prestasi kerja saya.

0 0 16 40 11 27,5 13 32,5 Tidak Setuju

Pimpinan mengembangkan cara-cara untuk mendorong apa yang benar-benar diperhatikan.

2 5 11 27,5 15 37,5 12 30 Setuju

Pimpinan mendorong saya

untuk berprestasi. 1 2,5 7 17,5 12 30 20 50 Sangat Setuju

Jumlah 3 1,88 38 23,75 57 35,6 62 38,75 Sangat Setuju

4 Skor Nilai Gaya Kepemimpinan Transformasional

Keterangan 3

dipercaya, dan atraktif dengan masa depan organisasi. Persepsi gaya kepemimpinan Visioner dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Persepsi pegawai terhadap gaya kepemimpinan visoner

B

Berdasarkan Tabel 9 hasil perhitungan, Para pegawai sangat setuju terhadap pimpinan yang selalu melibatkan dalam merumuskan tujuan yang ingin dicapai dengan persentase sebesar 17.5%. Pegawai setuju terhadap pimpinan yang selalu berkomunikasi terhadap pegawainya dalam mengutarakan visi dan misi yang ingin dicapai di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional Office dengan persentase sebesar 37.5%. Pegawai setuju terhadap pimpinan perusahaan yang dapat menjelaskan dengan baik tentang visi yang akan dicapai dengan persentase sebesar 47.5%. Berdasarkan persepsi pegawai yang didasarkan atas penilaian terhadap gaya kepemimpinan visioner, menunjukan bahwa pegawai setuju seorang pemimpin terutama di PT Asuransi Jiwasraya (persero) Jakarta III Regional Office harus memiliki visi misi yang jelas mengingat kantor regional ini merupakan salah satu cabang khusus yang dimiliki oleh PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Hal yang dapat dilihat dan dinilai oleh pegawai terhadap kepemimpinan Regional Manager yang sedang menjabat, bahwa visi yang ditunjukkan oleh Regional Manager saat ini yaitu menjadikan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional Office sebagai salah satu kantor Regional yang dapat menjadi contoh kantor Regional lainnya di seluruh indonesia dalam mengelola nasabah pertanggungan kumpulan yang bersegmentasi Program Manfaat Karyawan

N % N % N % N %

N % N % N % N %

Pimpinan saya mempunyai ide- ide tentang visi dan misi apa yang ingin diwujudkan.

0 0 11 27,5 16 40 13 32,5 Setuju

Pimpinan saya melibatkan saya dalam merumuskan tujuan yang ingin dicapai.

0 0 12 30 21 52,5 7 17,5 Sangat Setuju Pimpinan saya berkomunikasi

baik dengan saya dalam mengutarakan ide-idenya tentang visi yang ingin

0 0 13 32,5 15 37,5 12 30 Setuju

Pimpinan saya mampu menjelaskan dengan baik tentang visi yang akan dicapai.

0 0 4 10 19 47,5 17 42,5 Setuju

Jumlah 0 0 40 2,2 71 39,4 49 38,3 Setuju Skor Nilai Gaya Kepemimpinan Visioner

Keterangan

1 2 3 4

sehingga PT Asuransi Jiwsraya (Persero) Jakarta III Regional Office dapat memberikan solusi bagi kebutuhan asuransi dan perencanaan keuangan bagi nasabahnya. Sementara itu visi jangka pendek yang dituju yaitu membawa PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional Office untuk dapat mencapai target yang telah di tetapkan sebesar 1.1 triliun di tahun 2014 ini.

4.4.4 Persepsi pegawai terhadap gaya kepemimpinan situasional indikator telling.

Telling dalam penelitian ini menggambarkan bahwa pimpinan memberikan instruksi kepada karyawan tentang apa, bagaimana, bilamana, dan dimana harus melakukan tugas tertentu. Komunikasi yang dilakukan cenderung satu arah, yaitu dari pimpinan ke karyawan. Persepsi gaya kepemimpinan situasional telling dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Persepsi pegawai terhadap gaya kepemimpinan situasional telling

Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 10, pernyataan mengenai gaya kepemimpinan berdasarkan gaya Situasional Telling menunjukan bahwa pegawai sangat setuju dengan persentase sebesar 45.6%. Pegawai sangat setuju terhadap pimpinan selalu memberitahukan dengan jelas dan secara detail mengenai tujuan, apa, bagaimana, dan kapan melakukan suatu pekerjaan dengan persentase sebesar 57.5%. Para pegawai setuju terhadap pimpinan melakukan pengawasan yang ketat terhadap pegawaidalam melakukan suatu pekerjaan sebesar 40%. Pegawai setuju

N % N % N % N %

Pimpinan memberitahukan dengan jelas dan secara detail mengenai tujuan, apa, bagaimana, dan kapan melakukan suatu pekerjaan

0 0 1 2,5 16 40 23 57,5 Sangat Setuju

Pimpinan melakukan pengawasan yang ketat terhadap pegawai dalam melakukan suatu pekerjaan

1 2,5 10 2,5 16 40 13 32,5 Setuju

Pimpinan perus ahaan bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan oleh pegawai.

0 0 4 10 20 50 16 40 Setuju

Pimpinan perus ahaan menerapkan komunikasi s atu arah dalam arti kata pimpinan lebih banyak bicara

sedangkan pegawai lebih banyak mendengarkan.

2 5 10 25 21 52,5 7 17,5 Setuju

Jumlah 3 1,88 25 15,63 73 45,6 59 36,88 Setuju Keterangan Pertanyaan

Gaya Kepemimpinan Situasiona Indikator Telling

terhadap pimpinan perusahaan yang bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan oleh pegawai dengan presentase sebesar 50%. Dan pegawai setuju terhadap pimpinan perusahaan yang selalu menerapkan komunikasi satu arah dalam arti kata pimpinan lebih banyak bicara sedangkan pegawai lebih banyak mendengarkan dengan persentase sebesar 52.5%. Oleh karena itu, berdasarkan persepsi pegawai mengenai gaya kepemimpinan situasional telling, menunjukkan bahwa mereka berpendapat jika Regional Manager selalu memberikan instruksi- intruksi penting jika terdapat permasalahan yang cukup sulit dipecahkan terutama yang menyangkut dengan kepentingan pemegang polis, dan beliu akan mengkomunikasikanya kepada pejabat yang dianggap lebih tinggi terlebih dahulu di kantor yaitu kepala bagian sebelum diinstruksikan ke pegawai lainnya.

4.4.5 Persepsi pegawai terhadap gaya kepemimpinan situasional indikator selling.

Selling dalam penelitian ini ditandai dengan komunikasi dua arah dari pemimpin, walaupun masih memberikan pengarahan tetapi pemimpin meminta masukan dari bawahan sebelum membuat keputusan. Pemimpin Juga memberikan dukungan sosioemosional agar bawahan turut bertanggung jawab. Persepsi pegawai terhadap gaya kepemimpinan situasional selling dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Persepsi pegawai terhadap gaya kepemimpinan situasional selling.

N % N % N % N %

Pimpinan mengajarkan dan mengajak pegawai untuk bertanggung jawab terhadap dalam setiap keputusan dan pekerjaan.

0 0 4 10 21 52,5 15 37,5 Setuju

Pimpinan lebih banyak menjelaskan daripada menginstruksikan mengenai cara melakukan pekerjaan yang baik.

0 0 5 12,5 18 45 17 42,5 Setuju

Pimpinan tidak mempercayai pegawai dalam melakukan pekerjaan.

0 0 9 22,5 13 32,5 18 45 Sangat Setuju

Pimpinan dan pegawai selalu berdiskusi dalam setiap membuat keputusan.

1 2,5 16 40 18 45 5 12,5 Setuju

Jumlah 1 0,63 34 21,25 70 43,8 55 34,38 Setuju

Keterangan

Pertanyaaan 1 2 3 4

Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 11, pernyataan mengenai gaya kepemimpinan berdasarkan gaya Situasional Selling menunjukan bahwa pegawai setuju dengan persentase sebesar 43.8%. Pegawai setuju terhadap pimpinan yang mengajarkan dan mengajak pegawai untuk bertanggung jawab terhadap dalam setiap keputusan dan pekerjaan dengan presentase sebesar 52.5%. Para pegawai setuju terhadap pimpinan yang lebih banyak menjelaskan dari pada menginstruksikan mengenai cara melakukan pekerjaan yang baik dengan presentase sebesar 45%. Pegawai sangat setuju terhadap pimpinan yang tidak mempercayai pegawai dalam melakukan pekerjaan dengan presentase sebesar 45%. Dan pegawai setuju terhadap pimpinan dan pegawai yang selalu berdiskusi dalam setiap pengambilan keputusan dengan presentase sebesar 45%.

Berdasarkan penilaian pegawai terhadap gaya kepemimpinan situasional selling, menunjukan bahwa pegawai menilai Regional Manager PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Jakarta III Regional Office selalu mengajarkan kepada pegawai nilai-nilai tanggung jawab kepada seluruh jajaran pegawainya. salah satu tanggung jawab yang ditekankan adalah selalu memberikan pelayanan yang maksimal kepada pemegang polis karena mereka merupakan sumber dari pendapatan perusahaan. Selain itu Regional Manager tidak pernah menekan secara berlebihan kepada pegawai menyangkut pekerjaaan beliau selalu percaya dan memberikan kebebasan kepada bawahanya kecuali pekerjaan tersebut memang benar-benar urgent.

4.4.6 Persepsi pegawai terhadap gaya kepemimpinan situasional indikator participating.

Participating dalam gaya ini ditandai dengan kerja sama antara pemimpin dan bawahan dalam pengambilan keputusan. Melalui komunikasi dua arah dan memberikan kemudahan akses informasi penting. Pemimpin selalu melibatkan bawahan untuk berpartisipasi di dalam setiap aktivitas kerja.Situasi seperti ini tentunya akan mendorong anak buah untuk berkembang dan memacu kreativitas. Demikian juga terhadap anak buah yang bermotivasi tinggi serta sangat responsif, maka pemimpin tidak perlu lagi memberikan instruksi yang berlebihan. Persepsi gaya kepemimpinan situasional participating dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Persepsi pegawai terhadap gaya kepemimpinan situasional participating

Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 12, pernyataan mengenai gaya kepemimpinan berdasarkan gaya situasional participating menunjukan bahwa pegawai setuju dengan persentase sebesar 47.5%. Pegawai setuju terhadap pimpinan dan pegawai yang sama-sama bertanggung jawab dalam setiap keputusan yang berhubungan dengan pekerjaan persentase sebesar 52.5%. Pegawai setuju terhadap pimpinan yang sepenuhnya melakukan komunikasi dua arah dalam arti kata, pimpinan lebih banyak mendengarkan dengan presentase sebesar 47.5%. Pegawai setuju terhadap pimpinan yang memberikan kesempatan kepada karyawan untuk saling bertukar pikiran atau ide dengan persentase sebesar 42.5%. Sedangkan yang terakhir pegawai setuju dengan persentase sebesar 47.5% terhadap pimpinan tidak melakukan pengawasan dalam bekerja.

4.4.7 Persepsi pegawai terhadap gaya kepemimpinan situasional indikator delegating.

Delegating dalam gaya ini ditandai dengan kebebasan dan pendelegasian tugas serta wewenang yang luas kepada bawahan. Pemimpin hanya memberikan sedikit pengarahan dan pengawasan, karena kemampuan dan keahlian bawahan sangat tinggi dalam menyelesaikan tugasnya dengan efektif dan efesien. Persepsi pegawai terhadap gaya kepemimpinan delegating dapat dilihat pada Tabel 13.

N % N % N % N %

Pimpinan dan Pegawai sama- sama bertanggung jawab dalam setiap keputusan yang berhubungan dengan pekerjaan.

1 2,5 1 2,5 21 52,5 17 42,5 Setuju

Pimpinan sepenuhnya melakukan komunikasi dua arah dalam arti kata, pimpinan

Dokumen terkait