• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Objek Penelitian

4.6. Keadaan Sosisial Ekonomi Penduduk

5.2.4. Struktur Vegetasi

Pada Gambar 3 yang menduduki strata (lapisan) tertinggi, tengah dan terendah. Jenis yang memiliki lapisan tertinggi adalah jenis ka’ne, sengon dan mahoni yang mempunyai tinggi 13 meter, lapisan tengah oleh jenis bayam jawa dengan tinggi 9 meter sedangkan lapisan terendah adalah jenis langsat dan pette’

dengan tinggi 5 meter.

Pada Gambar 4 juga memiliki lapisan- lapisan yang sama dengan gambar 3, namun yang membedakannya adalah jenis dan tingginya. Lapisan tertinggi dari jenis sengon dengan tinggi 18 meter, lapisan tengah dari jenis pinang dengan

34 tinggi 7 meter dan lapisan terendah adalah jenis suren dengan tinggi 5 meter.

Penutupan tajuk pada pola agroforestry agrisilvikultur sebesar 15,8% dan 20%.

Hasil yang diperoleh sejalan dengan pendapatan, bahwa dalam komunitas hutan sebagai akibat dari persaingan muncul jenis-jenis tertentu yang lebih brkuasa dan menempati lapisan teratas. Hasil ini juga menunjukkan bahwa pola agroforestry yang ada menghasilkan pengaruh yang sangat baik terhadap lingkungan serta keanekaragaman itu sendiri.

35 VI. PENUTUP

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat disimpulkan : 1. Komposisi jenis tumbuhan pada lokasi penelitian di Kawasan Hutan Desa

Kindang Nilai yang di perlihatkan adalah indeks nilai penting (INP) pada pola agroforestry. Analisis INP yang diperoleh dari penjumlahan dominansi relative (DR), Kerapatan relative (KR) Dan frekuensi relatif(FR).

2. Pola dominansi di kawasan hutan Kindang pola dominasi tergolong rendah, dimana dominasi tidak terpusat pada satu jenis, tetapi beberapa jenis yang mendominasi secara bersama- sama.

3. Nilai keanekaragaman jenis tertinggi ditemukan pada pola agroforestry dimana tingkat pohon dan tiang jenis suren mendominasi setiap nilai keanekaragaman, sedangkan pada tingkat pancang dan tumbuhan bawah yang mendominasi adalah jenis kopi.

4. Struktur populasi jenis- jenis penting yang mempunyai nilai ekonomis dan tersebar pada lokasi pengamatan jenis sengon dan kemiri.

5. Struktur vegetasi mempunyai dua sampel plot pengamatan pada pola agroforestry agrosilvikultur dengan penutupan tajuknya 15.8% dan 20% yang berarti sinar matahari bisa mencapai lantai hutan.

36 6.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan adanya penelitian lanjutan untuk mengetahui :

1. Perlu pengelolaan secara insentif agar jenis yang sudah ada di Kawasan Hutan Lindung Desa Kindang dapat dipertahankan kelestarian lingkungannya.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor lingkungan terhadap keanekaragaman jenis yang ada di Kawasan Hutan Lindung Desa Kindang.

3. Dalam penelitian ini menggunakan pola agroforestry agrosilvikultur dalam pelestarian lingkungan, tetapi tidak diteliti apakah dampak yang merugikan petani sekitar kawsan hutan.

37 DAFTAR PUSTAKA

Budiadi. 2005. Agroforesrty, Mungkinkah Mengatasi Permasalahan Sosial dan Lingkungan?. Humniora. V ( 3/XVII) : 3-4

Dephutbun .1999.Undang-Undang No. 41 Tahun 1999. Tentang Kehutanan.

Jakarta : Departemen Kehutanan dan Perkebunan.

Http://www.bpdaspemalijratun.net/index.php.?option=comcontent&view=article

&id=57:jenis-agroforestry, ,[diakses tanggal 29 Maret 2013 Pukul 15.00 WITA]

John dan Kathy MC kinnon.1993. Pengololaan kawasan hutan lindung di Daerah Tropika Gadjah Mada press.

King and chalder, dalam Andayani (2005), agroforestry : Post Harvest Technology Devalopment anda Dissemination of Agroporestry-Based Products. Presentasi workshop agroporestry 2004, fakultas kehutana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Noordwijk M dan B Lusiana. WaNuLCAS: a model of wate, nutrient and light capture in agroforestry systems. Agroforestry systems

Nair PKR (1993) An Introduction to Agroforestry. Kluer Academis Publisher. The Netherlands, 499 pp

Pemerintah Republik Indonesia 1990. Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1990.

Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Jakarta

Http:/www.worldagroforestry.org/SEA/Publications/files/lecturenote, ,[diakses tanggal 10 september 2012 Pukul 15.00 WITA]

Sabarnurdin,M. Sambas (2002). Agroforestry : Konsep, Prospek dan tantangan Presentasi Workshop Agroforestry 2002, Fakultas Kehutanan Universitas gaja Madah, Yogyakarta.

Suharjito , D,. Sundawati, L., Suryanto, Utami, S.R., 2003 Bahan Ajar Agroporestry: Aspek sosisal dan ekonomi dan budaya agroporestry world agroporestry cente ICRAF, Bogor, Indonesia.

Tim Penyusun 2014. Pedoman Penulisan skripsi Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar

38 Van Noordwijk M dan B Lusiana. 1999. WaNuLCAS: a model of water, nutrient and light captur in agroforesrty systems. Agroforestry Systems 43: 217-242.

Young A. 1997. Agroperestry For Soil Manajemen (2nd edition), CAB International, Walingford, UK.

Yooung A and P Muraya. 1991. SCUAF: soil canges under agroforestry. Agryc.

Sys. Info. Technol. Newsletter 3: 20-23.

39

LAMPIRAN

40 Lampiran 1. Tali Sheet Pengamatan

Tabel 7. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 1

TALI SHEET PENGAMATAN

41 Tabel 8. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 2

TALI SHEET PENGAMATAN

42 Tabel 9. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 3

TALI SHEET PENGAMATAN

43 Tabel 10. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 4

TALI SHEET PENGAMATAN

44 Tabel 11. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 5

TALI SHEET PENGAMATAN

45 Tabel 12. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 6

TALI SHEET PENGAMATAN

46 Tabel 13. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 7

TALI SHEET PENGAMATAN

47 Tabel 14. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 8

TALI SHEET PENGAMATAN

48 Tabel 15. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 9

TALI SHEET PENGAMATAN

49 Tabel 16. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 10

TALI SHEET PENGAMATAN

Lokasi : Desa Kindang Tanggal : 05/ Juni/ 2014

Tipe Hutan : Hutan Lindung

Koordinat

50 Tabel 17. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 11

TALI SHEET PENGAMATAN

51 Tabel 18. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 12

TALI SHEET PENGAMATAN

52 Tabel 19. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 13

TALI SHEET PENGAMATAN

PANCANG T.Total (cm)

1 Cengkeh 2 200

53 Tabel 20. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 14

TALI SHEET PENGAMATAN

54 Tabel 21. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 15

TALI SHEET PENGAMATAN

55 Tabel 22. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 16

TALI SHEET PENGAMATAN

56 Tabel 23. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 17

TALI SHEET PENGAMATAN

57 Tabel 24. Tali Sheet Pengamatan Pada Plot 18

TALI SHEET PENGAMATAN

58

Tabel 25. INP Pada Tingkat Pohon

Pohon

No Nama Daerah ilmiah Diamet

er

59

Tabel 26. INP Pada Tingkat Tiang

Tiang

60

Tabel 27. INP Pada Tingkat Pancang

No Ilmiah KEHADIRAN

61

Tabel 28. INP Pada Tingkat Semai(Tumbuhan Bawah)

Tumbuhan bawah

62 Lampiran 3. Foto Dokumentasi Penelitian

Gambar 7. Kawasan Hutan Lindung Desa Kindang

Gambar 8. Pembuatan Plot 1

63 Gambar 9. Pengukuran Tinggi Bebas Cabang

Gambar 10. Tanaman Tumbuhan Bawah

64 Gambar 11. Tanaman Pertanian Dan Tanaman Kehutanan

Gambar 12. Tanaman Pertanian dan Tumbuhan Bawah

65 Gambar 13. Pengukuran Tinggi Bebas Cabang

Gambar 14. Pembuatan Plot 2

66 Gambar 15. Pembuatan Plot 3

Gambar 16. Mengukur Keliling Pohon Pinang

67 Gambar 17. Mengukur Keliling Pohon Suren

Dokumen terkait