• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III STUDI : SEBUAH PERBANDINGAN

3.1. Studi Banding 1 - Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta

Museum Ullen Sentalu, terletak di daerah Pakem, Kaliurang, Kabupaten Sleman, adalah sebuah museum yang menampilkan budaya dan kehidupan para bangsawan Dinasti Mataram (Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Praja Mangkunegara dan Kadipaten Pakualaman) beserta koleksi bermacam-macam batik (baik Yogyakarta maupun Surakarta). Museum ini juga menampilkan tokoh raja-raja beserta permaisurinya dengan berbagai macam pakaian yang dikenakan sehari-harinya18.

Gambar 3.1. Kolase Foto Museum Ullen Sentalu Sumber :https://mamanya.files.wordpress.com

18

34

Joshua D P Hutapea | 110406042

Dirancang oleh Yoshio Taniguchi dari MoMA Architect (Museum of Modern Art), membuktikan bahwa arsitektur sebagai karya seni tertinggi tidak tampil sebagai rancangan sendiri yang terpisah, tapi menyatu dengan koleksi museum yang berada didalamnya dalam sebuah habitat. Itulah yang dilakukan museum Ullen Sentalu yang dirancang mulai dari ruang tata pamer, struktur ruangan dan lay out bermacam bangunan, bukan untuk tampil sendiri-sendiri tidak terintegrasi tapi menyatu dengan koleksi didalamnya sehingga dapat mengingatkan kembali (mnemonic) memori kolektif sebuah peradaban yang sudah berlangsung ribuan tahun. Mataram Kuno yang diwakili dengan bermacam bangunan candi terbuat dari batu andesit yang tersebar di „bhumi mataram‟ ditampilkan dalam tata ruang pameran tetap: Guwo Selo Giri (Gua Batu Gunung) yang terletak tiga meter dibawah permukaan tanah menyerupai gua masa silam atau bunker bangunan modern dengan struktur seluruhnya mirip bangunan candi, yaitu terdiri dari batu andesit yang dibiarkan terbelah tanpa polesan.

Unsur arsitektur vernakular yang menyatu dengan alam sekitarnya muncul secara penuh dengan penggunaan batu andesit yang ditambang dari area sekitar lokasi museum, kemudian dibangun dengan tehnologi lokal dan dikerjakan oleh pekerja dari desa Kaliurang yang ahli dalam membelah batu dan menyusunnya menjadi bangunan. Kesan menyatu dengan alam disekitarnya dan kenangan (mnemonic) akan kebesaran mahakarya arsitektur Hindu-Budha milik dinasti Mataram Kuno dikembangkan lebih jauh menjadi bangunan yang akan mengingatkan siapapun yang pernah berkunjung ke permandian Tamansari akan lorong Sumur Gumuling menuju masjid bawah tanah di Taman Sari yang

dibangun oleh dinasti Mataram Kini. Keluar dari lorong Guwo Selo Giri terhampar tangga „stairway to heaven‟ menuju Taman Kaswargan (Heavenly Hills) dengan struktur punden berundak yang akan mengingatkan kebudayaan megalitikum yang pernah ada ratusan ribu tahun silam atau mengingatkan tangga Hastonorenggo di bukit Imogiri, menuju ke persemayaman raja-raja Mataram Kini.

Sementara itu Kampung Kambang yang terletak diatas air (mengambang) dibangun menyerupai kampung rumah orang Kalang yang tinggal di ibukota kuno Mataram Kini atau Mataram Islam periode Pertama (Mataram Islam periode Kedua adalah kurun waktu setelah perjanjian Giyanti) di Kotagede dengan jalanan sempit menyerupai gang dan dibuat berkelak-kelok menyerupai struktur labirin Minoan. Pengunjung yang tidak ditemani oleh educator tour akan mudah tersesat, karena sesuai namanya labirin yang berfungsi untuk menyesatkan orang tapi dalam rancangan museum dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa keingin-tahuan (curiousity) yang ditumbuh-kembangkan, setelah curiousity rangkaian tour pertama atas Guwo Selo Giri dibawah permukaan tanah. Konon menurut legenda yang masih hidup hingga saat ini, labirin adalah ruang bawah tanah istana Minoan yang didalamnya dipelihara monster Minotaur berujud kepala banteng dengan tubuh manusia. Setiap tahunnya, monster itu menuntut korban 7 gadis dan 7 perjaka dari Yunani, sebelum akhirnya ditumpas oleh pangeran Theseus putra raja Aegean dari Yunani. Bentuk labirin di Kampung Kambang, selain membuat pengunjung curious, dimaksudkan untuk mengingatkan (mnemonic) akan kampung warga Kalang di Kotagede. Dimana diantara jalanan di kampung sempit

36

Joshua D P Hutapea | 110406042

itu terdapat rumah saudagar yang menyimpan bermacam benda berharga mirip koleksi dalam sebuah museum.

Guwo Selo Giri (Gua Batu Gunung) adalah ruang pamer untuk koleksi tetap (Exhibition Hall for Permanent Collection) yang terdiri dari lobby dan hall utama. Pada bagian lobby terdapat beragam foto lukisan cat minyak dari berbagai ukuran dengan tema Tari dan Musik Tradisional Jawa. Tata pamer (lay out display) dengan menempatkan semua lukisan pada dinding dimaksudkan untuk memberi jarak pandang dan ruang gerak (prosemic) bagi pengunjung yang ingin melihatmya secara perspektif dan bukan close up. Di ruangan juga terdapat seperangkat alat musik gamelan yang merupakan simbol kebesaran (masterpiece) kebudayaan Jawa, khususnya dari Kraton.Karena setiap raja Jawa yang bertahta memiliki mandat agung untuk menciptakan koreografi, setidaknya satu jenis tarian, sebagai simbol hanggabeni ikut melestarikan warisan budaya leluhur. Sedangkan di sudut ruangan yang merupakan centerpoint dimana setiap pengunjung setelah melewati pintu masuk akan langsung melihatnya, ditempatkan lukisan berjudul Tari Topeng. Seperangkat musik Gamelan yang sebagian besar tersebut juga membuktikan kebesaran kebudayaan Jawa karena jenis musik perkusi (diketuk/ dipukul) adalah jenis musik paling kuno milik hampir seluruh peradaban umat manusia dimuka bumi dan sementara bangsa lain masih berbentuk sederhana, pada Kebudayaan Jawa telah berkembang sangat lengkap dan rinci. Pada bagian hall utama terdapat deretan foto dokumenter dan lukisan milik Kraton dan Pura milik dinasti Mataram Kini yang terdiri dari foto dan lukisan para raja, ratu dan putri bangsawan dari Kraton Surakarta Hadiningrat dan

Pura Mangkunegara dari Solo dan Kration Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Paku Alam dari Jogja. Pada ujung Guwo Selo Giri terhampar tangga menuju Kampung Kambang dan Taman Kaswargan19.

3.2. Studi Banding 2 – Luce Memorial Chapel, Taichung, China

Luce Chapel adalah sebuah Chapel untuk kaum Nasrani yang merupakan sebuah fasilitas dari Taichung University di Taichung, Taiwan. Chapel ini dirancang oleh arsitek senior I.M.Pei –yang juga sebelumnya bertanggungjawab dalam perancangan masterplan dan rencana pengembangan awal Taichung University- dalam kolaborasi dengan Chi-kuan Chen dan Chao-kang Chang. Chapel ini didedikasikan kepada Rev. Henry W.Luce, seorang misionaris asal Amerika yang melayani di China di akhir abad ke-1920.

Dirancang dengan luas lantai sekitar 477 m2, termasuk sebuah nave dengan 500 tempat duduk, sebuah mimbar dan ruang-ruang robing.Dengan empat dinding melengkung yang menjulang setinggi 19,2 meter, menghasilkan sebuah focal landmark di kampus.

I.M. Pei sangat berhati-hati dalam merancang sesuatu agar sesuai dengan konteks lingkungan di Taiwan, dengan dinding yang terbuat dari reinforced

19

Museum Ullen Sentalu Official Website,http://ullensentalu.com/konten/21/0/arsitektur#d=desain 20

38

Joshua D P Hutapea | 110406042

concreteuntuk mengakomodir stabilitas terhadap gempa bumi dan daya tahan terhadap kondisi udara yang lembab dan angin topan Taiwan. Konstruksi dari bekisting yang rumit dilakukan secara lokal oleh para tukang yang bekerja.

Gambar 3.2. Luce Memorial Chapel Sumber :http://www.arcspace.com

Untuk menghasilkan bentuk yang diinginkan, tulangan memperkuat dan menopang permukaanyang melengkung, dan tulangan tersebut semakin besar ke bawah untuk menghindari tekukan dari material.

Eksterior dari Chapel ini dilapisi dengan keramik kaca berbentuk diamond yang seakan menonjolkan diri ke langit dan latar belakang universitas yang hijau. Interiornya merefleksikan bentukan diamond yang sama yang terbuat dari susunan beton yang menyerupai waffle slab, dengan bentukan yang begitu rupa untukmenyalurkan beban yang terkonsentrasi di tanah.

Gambar 3.3. Interior Luce Memorial Chapel Sumber :https://farm3.staticflickr.com

Keempat dindingnya seolah berdiri sendiri satu dengan yang lain, namun sebenarnya semuanya saling terkoneksi melalui sebuahglazed slotsdan sebuah small structural bow tiesyang dipasangkan di bagian atas langit-langit chapel21.

Gambar 3.4. Ilustrasi Struktur Massa Chapel

21

I.M.Pei Works : Luce Memorial Chapel, http://www.archdaily.com/95708/ad-classics-luce-memorial-chapel-i-m-pei

40

Joshua D P Hutapea | 110406042

Sumber :http://www.archdaily.com

Dokumen terkait