• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

C. Teknik Pengumpulan Data

2. Studi Dokumen

Penelitian Pustaka dilaksanakan untuk mengumpulkan sejumlah data meliputi bahan pustaka yang bersumber dari buku-buku, terhadap dokumen perkara serta peraturan-peraturan yang berhubungan dengan penelitian ini.

D. Analisis Data

Data yang diperoleh atau data yang berhasil dikumpulkan selama proses penelitian dalam bentuk data primer maupun data sekunder dianalisis secara kualitatif kemudian disajikan secara deskriptif yaitu menjelaskan, menguraikan dan menggambarkan sesuai dengan permasalahan yang erat kaitannya dengan penelitian yang dilakukan oleh

penulis. Sehingga hasil dari penelitian ini nantinya diharapkan mampu memberikan gambaran secara jelas dan konkrit terhadap objek yang dibahas secara kualitatif dan selanjutnya data tersebut disajikan secara deskriptif yaitu menjelaskan, menguraikan, dan menggambarkan sesuai dengan permasalahan yang erat kaitannya dengan penelitian ini.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Peran Penyidik Kepolisian dalam Penerapan Delik Biasa atas Pelanggaran Hak Cipta

Peran Kepolisian Negara Republik Indonesia dari masa kemasa selalu menjadi bahan pembicaraan berbagai kalangan, mulai dari praktisi hukum maupun akademisi hukum bahkan masyarakat. Upaya pengupasan masalah kepolisian itu dikarenakan adanya faktor kecintaan dari berbagai pihak kepada Lembaga Kepolisian dan ditaruhnya harapan yang begitu besar, agar fungsinya sebagai aparat penegak hukum bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Berdasarkan tugas pokoknya, sebagai penegak hukum dan pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), maka terdapat tiga fungsi utama Polri yaitu bimbingan masyarakat, preventif dan represif. Fungsi bimbingan masyarakat (Bimmas) merupakan upaya untuk menggugah perhatian (attention) dan menanamkan pengertian (understanding) pada masyarakat untuk melahirkan sikap penerimaan (acceptance) sehingga secara sadar mau berperan serta (participation) dalam upaya pembinaan Kamtibmas pada umumnya dan ketaatan pada hukum (law abiding citizen) khususnya. Fungsi preventif (pencegahan) merupakan upaya ketertiban atau perencanaan termasuk memberikan perlindungan dan pertolongan (search and rescue atau SAR). Fungsi

represif merupakan upaya penindakan dalam bentuk penyelidikan dan penyidikan gangguan Kamtibmas atau kriminalitas.

Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan merupakan pelaksana tugas dan wewenang Polri di wilayah Sulawesi Selatan yang berada di bawah Kapolri. Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan bertugas melaksanakan tugas pokok Polri yaitu memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat serta melaksanakan tugas-tugas Polri lainnya dalam daerah hukum Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Susunan organisasi Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan yang terdiri dari unsur pemimpin, unsur pengawasan dan pembantu pimpinan/pelayanan, unsur pelaksana tugas pokok, unsur pendukung, dan unsur pelaksana tugas kewilayaan.

Penanganan kasus pelanggaran dibidang Hak Kekayaan Intelektual oleh Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Sulsel sebelum tahun 2011 hanyalah ditangani oleh penyidik pada Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan. Pada tahun 2011 barulah dibentuk subdit-subdit pada Reserse Kriminal Khusus yang penanganan perkara di setiap subdit berbeda. Subdit I khusus menangani perkara dibidang Industri dan Perdagangan, Subdit II khusus menangani perkara Tindak Perbankan, Subdit III khusus menganani perkara Pidana Korupsi,

dan Subdit IV khusus menangani perkara dibidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan.

Dalam hal hubungannya dengan penelitian Penulis, subdit yang khusus menangani kasus pelanggaran terhadap hak cipta adalah Subdit I yaitu Sub Direktorat Industri dan Perdagangan Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan. Subdit I ini tidak hanya menangani tindak pidana hak kekayaan intelektual tetapi juga tindak pidana pada industri dan perdagangan, perfilman, asuransi, investasi, perlindungan konsumen, karantina, penyiaran, dan juga tindak pidana telekomunikasi/pengawasan frekuensi.

Pada tindak pidana di bidang hak kekayaan intelektual khususnya hak cipta, Penyidik pada Subdit I Reskrimsus Polda Sulsel berperan dalam menindaklanjuti setiap persoalan yang berhubungan dengan tindak pidana di bidang hak cipta. Apabila mendapat laporan atau menemukan sendiri pelanggaran tersebut petugas kepolisian dapat melakukan penindakan. Hal ini pula telah Penulis jelaskan bahwa Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta memberikan klasifikasi delik sebagai delik biasa sehingga para pelaku pelanggar dapat dituntut berdasarkan ketentuan pidana yang terdapat dalam undang-undang tersebut. Karena UUHC telah memberikan kewenangan kepada Penyidik untuk melakukan pemeriksaan terhadap pihak atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang hak cipta.

Menurut keterangan yang diberikan oleh AKBP Amiruddin, Kasubdit Indag Dit Krimsus Polda Sulsel mengatakan seperti halnya Penyidik yang lain, Penyidik pada Subdit I Reskrimsus Polda Sulsel melakukan proses penyidikan terhadap kasus pelanggaran hak cipta berdasarkan Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1981 Tentang KUHAP, Undang-Undang RI No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Perkap 14 Tahun 2012 Tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana.

Adapun kasus yang telah ditangani oleh Subdit Industri dan Perdagangan Reskrimsus Polda Sulsel dalam bidang hak cipta sejak 2011 hingga 2012 ada 2 (dua) kasus. Kasus dengan Laporan Polisi LPB/176/IV/2012 TGL 17 April 2012 dan Laporan Polisi LPB/399/VIII/2012 TGL 15 Agustus 2012 yang kelengkapan berkas kasus tersebut telah dinyatakan P21.

Pada masa sekarang bentuk kejahatan sudah berubah, disamping bentuk kejahatan konvensional, kejahatan terhadap ekonomi memiliki modus operandi yang sulit dalam pengungkapannya dan dilakukan oleh orang berpendidikan tinggi. Kejahatan dilakukan tidak lagi oleh orang miskin, para pejabat maupun pengusaha yang tidak miskin melakukan perbuatan yang merugikan masyarakat. Kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari kelas sosial ekonomi tinggi yang melakukan pelanggaran terhadap hukum yang dibuat untuk mengatur

pekerjaannya. Karena itu, sudah menjadi kenyataan bahwa semakin maju suatu negara akan semakin banyak pula muncul bentuk kejahatan di negara tersebut. Modus operandinya pun semakin canggih melalui teknik-teknik yang tidak mudah dilacak, melakukan pemalsuan dokumen yang sangat rapi dengan penyalahgunaan komputer, termasuk di dalamnya kasus pelanggaran hak Kekayaan Intelektual.

Ditreskrimsus merupakan unsur pelaksana pokok yang berada di bawah Kapolda. Ditreskrimsus bertugas menyelenggarakan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana khusus, koordinasi, pengawasan operasional, dan administrasi penyidikan PPNS sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam melaksanakan tugasnya Ditreskrimsus menyelenggarakan fungsi penyelididkan dan penyidikan tindak pidana khusus antara lain tindak pidana ekonomi, korupsi, dan tindak pidana tertentu di daerah hukum Kepolisian Daerah Sulsel serta menganalisis kasus beserta penanganannya, mempelajarinya dan mengkaji efektivitas pelaksanaan tugas Ditreskrimsus.

B. Kendala Yang Dihadapi dalam Proses Penyidikan Tindak Pidana Pelanggaran Hak Cipta

Adapun kendala yang dihadapi oleh pihak kepolisian pada Subdit I Reskrimsus Polda Sulsel dalam menyelidiki kasus pelanggaran hak cipta,

terutama yang menyangkut pelanggaran hak cipta lagu yaitu Ahli yang sulit didatangkan dari Jakarta serta pencipta lagu yang sulit ditemukan.

Dalam praktiknya tindak pidana hak cipta tidak tepat dimasukkan dalam kategori delik biasa. Oleh karena itu, tindak pidana hak cipta harus diubah dari delik biasa menjadi delik aduan. Setidak-tidaknya ada tiga alasan mengapa saya berpendapat demikian, yaitu pertama, aparat penegak hukum tidak akan bisa menentukan apakah telah terjadi tindak pidana hak cipta tanpa membandingkan barang hasil pelanggaran hak cipta dengan ciptaan aslinya. Hanya pencipta atau pemegang hak ciptanya-lah yang memegang dan mengetahui dengan pasti ciptaan yang asli tersebut. Oleh karena itu, seharusnya tidak mungkin aparat penegak hukum dapat bergerak sendiri tanpa adanya pengaduan terlebih dahulu dari pencipta atau pemegang hak cipta yang merasa dirugikan atas tindak pidana tersebut. Kedua, dalam melakukan proses hukum, aparat penegak hukum tidak mungkin langsung mengetahui apakah suatu pihak telah mendapat izin untuk mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan. Oleh karena itu, pasti ada pengaduan terlebih dahulu dari pencipta atau pemegang hak cipta yang mengetahui dengan pasti bahwa suatu pihak telah melanggar hak ciptanya karena tidak memiliki izin untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya.

Ketiga, dalam praktik, apabila terjadi pelanggaran hak cipta, pihak yang hak ciptanya dilanggar lebih menginginkan adanya ganti rugi dari pihak yang melanggar hak cipta ketimbang pelanggar hak cipta tersebut

dikenakan sanksi pidana penjara atau denda. Oleh karena itu, penyelesaiannya diupayakan secara damai di luar pengadilan. Namun, karena tindak pidana hak cipta adalah delik biasa, sering kali aparat penegak hukum yang mengetahui adanya pelanggaran hak cipta terus melanjutkan proses hukum pidana meski sudah ada kesepakatan damai antara pihak yang dilanggar hak ciptanya dengan pihak yang melanggar hak cipta. Hal ini tentu saja akan menyulitkan posisi para pihak yang telah berdamai tersebut. Indonesia telah memiliki beberapa undang-undang di bidang HKI, yaitu tentang paten, merek, hak cipta, desain industri, rahasia dagang dan desain tata letak sirkuit terpadu. Kecuali undang-undang tentang hak cipta, undang-undang di bidang HKI lainnya menentukan bahwa tindak pidana yang diatur didalamnya merupakan delik aduan.

Sangat aneh ketika tindak pidana hak cipta diatur berbeda dengan tindak pidana dibidang HKI lainnya. Dengan demikian, seharusnya tindak pidana hak cipta diatur sama dengan tindak pidana di bidang HKI, yaitu merupakan delik aduan.

Tetapi apabila ciptaan tersebut ingin digunakan dalam suatu usaha atau mengomersialkan materi hak cipta maka sebagai pelaku usaha yang beritikad baik terlebih dahulu pelaku usaha ini meminta izin kepada pencipta dari ciptaan tersebut. Apabila berhubungan dengan penggunaan ciptaan lagu, pelaku usaha ini dapat meminta izin pengalihan hak ekonomi kepada produser rekaman atau suatu asosiasi yang diberi kuasa oleh pencipta untuk mewakilinya dalam pengalihan hak. Disaat pelaku usaha

ini telah memperoleh pengalihan izin penggunaan lagu dalam bentuk pengumuman, Yayasan Karya Cipta Indonesia yang selanjutnya disingkat YKCI selaku salah satu wadah perantara antara pencipta dan pelaku usaha memberikan sertipikat penggunaan lagu sesuai dengan syarat-syarat tertentu dan dalam jangka waktu tertentu. Jikalau pelaku usaha ini meminta pengalihan izin langsung kepada penciptanya maka bentuk pengalihannnya berbentuk perjanjian lisensi yang selanjutnya lisensi tersebut didaftarkan pada dirjen haki.

Jadi kalau alasannya penegak hukum berkendala dalam menemukan alat bukti sebagaimana alasan beliau di atas bahwa pencipta dan pemegang hak ciptalah yang memegang dan mengetahui dengan pasti ciptaan aslinya, pihak penyidik dapat menanyakan keberadaan lisensi pengalihan hak tersebut atau sertipikat pengalihan hak yang telah mereka peroleh sebelumnya disaat pengurusan izin tersebut atau kalau diperlukan cek lisensi yang terdaftar pada direktorat haki. Apabila pelaku usaha itu tidak memilikinya maka dapat dipastikan pelaku usaha tersebut telah melanggar hak pencipta.

Kedua, apabila alasannya adalah tidak akan mungkin mengetahui apakah suatu pihak telah mendapat izin untuk mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan. Penulis dapat menganalogikan bahwa penggunaan narkoba tanpa resep dari dokter yang telah mengikuti pelatihan di rumah sakit ketergantungan obat merupakan suatu perbuatan yang dilarang, ada pun jenis yang hanya diperbolehkan adalah

psikotropika golongan III dan golongan IV. Hal ini barulah dapat diketahui jika Polisi melakukan penggerebekan atau razia terhadap pelaku yang melakukan perbuatan yang melanggar hukum tersebut. Hal semacam ini pula dapat diberlakukan pada kasus pelanggaran hak cipta. Jadi para pelaku usaha dapat dirazia oleh pihak kepolisian tanpa adanya aduan terlebih dahulu kepada Polisi.

Ketiga, apabila alasannya karena seringkali pencipta lebih menginginkan ganti rugi daripada sanksi pidana diberlakukan terhadap pihak yang melanggar. Penulis berpendapat UUHC telah memberikan hak kepada pencipta untuk dapat melakukan gugatan perdata pada pengadilan negeri dan juga penuntutannya. Delik biasa pada UUHC ini diberikan karena selain kepentingan pribadi pencipta yang dirugikan juga hal ini berimplikasi pada pemasukan negara dari sektor perpajakan. Telah diketahui bahwa sebagian besar pelaku usaha menginginkan perolehan keuntungan dengan cara yang mudah. Jadi untuk alasan menyulitkan para pihak yang ingin berdamai Penulis rasa bukanlah suatu alasan yang tepat karena pelanggaran hak cipta tidak hanya berbicara mengenai pencipta dan pelaku usaha tetapi juga negara yang dalam hal ini turut merasakan kerugian yang ditimbulkan oleh para pelanggar hak cipta.

Potensi kerugian negara dari 60 kasus pelanggaran hak cipta yang telah ditangani oleh Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual diperkirakan mencapai sekitar Rp 100 miliar. Seandainya royalti yang diterima oleh pencipta sebesar peredaran ciptaanya di lapangan maka pencipta akan

membayar pajak yang banyak pula sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dengan pajak itu maka sejahteralah masyarakat Indonesia terlepas dari masalah mafia pajak tentunya. Ini pula membuktikan pelaku usaha yang beritikad buruk juga telah merugikan masyarakat Indonesia.

C. Pemberlakuan Ketentuan Pidana pada Kasus Pelanggaran Hak Cipta Lagu terhadap Rumah Bernyanyi Karaoke di Kota Makassar

Pemberlakuan UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta pada 29 Juli 2003 diyakini banyak pihak mampu memberantas praktik pembajakan hak cipta selama ini di Indonesia. Keyakinan ini didasarkan pada beberapa alasan, di antaranya adanya penyempurnaan terhadap materi UU Hak Cipta sendiri.

Beberapa penyempurnaan dalam UUHC meliputi; 1). Database merupakan salah satu ciptaan yang dilindungi; 2). Penggunaan alat apa pun baik melalui kabel maupun tanpa kabel termasuk internet, untuk pemutaran produk-produk cakram optik (optical disk) melalui media audio, media audiovisual, dan/atau sarana telekomunikasi; 3). Penyelesaian sengketa oleh pengadilan niga arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa; 4) penetapan sementara pengadilan untuk mencegah kerugian lebih besar bagi pemegang hak; 5). Batas waktu proses perkara perdata di bidang hak cipta dan hak terkait baik di Pengadilan Niaga maupun di Mahkamah Agung; 6). Pencantuman hak informasi manajemen elektronik dan sarana kontrol teknologi; 7). Pencantuman mekanisme pengawasan

dan perlindungan terhadap produk-produk yang menggunakan sarana produksi berteknologi tinggi; 8). Ancaman pidana atas pelanggaran hak terkait; 9). Ancaman pidana dan denda minimal; 10). Ancaman pidana terhadap perbanyakan penggunaan program komputer untuk kepentingan komersial secara tidak sah dan melawan hukum.

Perlindungan hukum terhadap hak cipta dimaksudkan untuk mendorong individu-individu di dalam masyarakat yang memiliki kemampuan intelektual dan kreativitas agar lebih bersemangat menciptakan sebanyak mungkin karya cipta yang berguna bagi kemajuan bangsa.

Jenis pidana pokok (strafmaat) terhadap pelaku pelanggaran hak cipta adalah berupa sanksi pidana penjara dan sanksi pidana denda. berat ringannya pidana (strafsoort) yang dapat dikenakan terhadap pelaku pelanggaran hak cipta dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Sanksi Pidana Penjara :

Pidana penjara merupakan pidana perampasan kemerdekaan yang waktu atau lamanya dari penjara sementara selama minimal 1 hari sampai dengan pidana penjara seumur hidup. Dalam hal pelanggaran hak cipta, maksimum sanksi pidana penjara yang dapat dikenakan terhadap pelaku pelanggaran hak cipta adalah paling lama 7 (tujuh) tahun.

b. Sanksi Pidana Denda :

Pidana denda adalah pidana yang ditujukan terhadap harta benda, berbeda dengan pidana lainnya seperti pidana mati yang ditujukan kepada jiwa seseorang pelaku tindak pidana, sedangkan pidana penjara dan kurungan ditujukan terhadap kebebasan (kemerdekaan seseorang). Dalam hal pelanggaran hak cipta, sanksi pidana denda yang dapat dikenakan terhadap pelaku pelanggaran hak cipta adalah paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), dan paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)

Berikut Penulis akan menguraian secara lengkap mengenai sistem pemidanaan terhadap pelaku pelanggaran hak cipta sebagaimana yang terdapat dalam ketentuan Pasal 72 UUHC:

(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(4) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(5) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 19, Pasal 20, atau Pasal 49 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2

(dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

(6) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

(7) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 25 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

(8) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 27 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

(9) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 28 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).

Mencermati kategorisasi dari perbuatan pidana tersebut, maka bentuk pelanggaran hak cipta lagu sesungguhnya sejalan dengan rumusan perbuatan yang pertama dan kedua.

Hak cipta sebagai hak monopoli, dimana di dalamnya terdapat dua macam hak, sangat potensial mengalami pelanggaran. Pelanggaran tersebut dapat mencakup pada pelanggaran hak moral dan hak ekonomi.

Pelanggaran hak moral atas ciptaan dapat diwujudkan dengan tidak mencantumkan nama pencipta atau melakukan perubahan atas ciptaan tanpa seizin penciptanya

Sebagaimana data yang telah penulis kumpulkan dengan teknik wawancara dengan pihak kepolisian Sub Industri dan Perdagangan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Daerah Sulawesi Selatan, Pihak Yayasan Karya Cipta Indonesia Wilayah Sulawesi dan Papua serta pihak-pihak Rumah Bernyanyi Karaoke di Kota Makassar. Penulis menemukan

suatu perkara pelanggaran hak cipta lagu dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak ciptaan tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta yang dilakukan oleh Denpasar Mas Karaoke sekitar tahun 2005 sampai dengan 2012 di kota Makassar Sulawesi Selatan.

Denpasar Mas Karaoke telah melakukan dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak hak cipta berupa pengumuman musik / lagu ditempat usahanya tanpa izin dari pemegang hak cipta atau pencipta lagu sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2012 dengan cara pengunjung memesan ruangan untuk melakukan hiburan berupa bernyayi dan pihak manajemen Denpasar Mas Karaoke mengantarkan pengunjung ke dalam ruangan yang telah dipesan, sesampainya diruangan pengunjung bebas memilih kategori lagu yang terdiri dari lagu Indonesia, lagu barat, lagu daerah, lagu keroncong, dan lagu dangdut, seperti lagu daerah bugis makassar (lagu Bangkenga Cini dengan pencipta Iwan Tompo) serta bisa mencari lagu berdasarkan nama artis yang menyayikan atau judul lagu yang kesemuanya itu ditampilkan dilayar monitor yang terdapat dalam ruangan tersebut. setelah selesai melakukan aktivitas bernyanyi pengunjung ke kasir untuk membayar sesuai dengan lama waktu pemakaian ruangan atau room sesuai jenis ruangan yang dipakai. Sebagai pihak yang telah diberi kuasa oleh kurang lebih 3000an pemilik ciptaan lagu di Indonesia, YKCI mengirimkan surat sebanyak 3 (tiga) kali kepada Denpasar Mas Karaoke tetapi pihak Denpasar Mas Karaoke tidak menghiraukan surat tersebut. Oleh karena

Denpasar Mas Karaoke ini telah termasuk dalam kategori users yang bermasalah selanjutnya pihak YKCI melaporkan masalah tersebut ke polisi.

Disaat tulisan ini dibuat perkara ini telah dialihkan ke kejaksaan dan telah dinyatakan P21 (berkas dinyatakan sudah lengkap). Oleh karena perkara ini belum memperoleh keputusan yang inkrahk (yang berkekuatan hukum tetap) dari Majelis Hakim maka terhadapnya berlaku asas praduga tak bersalah (presumption of innocence).

Dari sinopsis kasus yang telah Penulis paparkan dan didasarkan atas kesimpulan yang diambil oleh penyidik di Subdit 1 Reskrimsus Polda Sulsel setelah mendengar keterangan para saksi, keterangan ahli dan keterangan tersangka dihubungkan dengan barang bukti yang ada, pengelola Denpasar Mas Karaoke telah melakukan pelanggaran atas karya cipta lagu. Selama pendirian usaha tersebut. Yohanes Saleha selaku Manajer Denpasar Mas Karaoke dalam penggunaan lagu hasil karya ciptaan seorang pencipta dengan tujuan komersil tidaklah memperoleh izin atau tidak megurus izin penggunaan lagu tersebut dari pencipta atau pemegang hak cipta lagu.

Dalam kasus ini tersangka dipersangkakan melanggar Pasal 72 ayat (1), Jo. Pasal 2 ayat (1) Undang-undang RI No. 19 tahun 2002, tentang Hak Cipta. Pasal 72 Ayat (1) UUHC yang rumusannya adalah sebagai berikut :

Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat

(2) dipidana dengan penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,- (satu Juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) dan atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah).

Uraian dari setiap unsur tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:

Pertama, unsur barangsiapa. Ini menandakan yang menjadi subjek delik adalah “siapapun”. Kalau menurut KUHP yang berlaku sekarang, hanya manusia yang menjadi subjek delik, sedangkan badan hukum tidak menjadi subjek delik. Tetapi, dalam undang-undang khusus seperti undang-undang tindak pidana ekonomi, badan hukum atau korporasi juga menjadi subjek delik. Dalam UUHC, “barangsiapa” bisa ditunjuk antara lain, kepada pelaku dan produser rekaman suara. Pelaku adalah aktor, penyanyi, pemusik, penari, atau mereka yang menampilkan, memperagakan, mempertunjukkan, menyanyikan, menyampaikan, mendeklamasikan atau memainkan suatu karya musik, drama, tari, sastra, folklore, atau karya seni lainnya. Produser rekaman suara adalah orang atau badan hukum yang pertama kali merekam dan memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan perekaman suara atau perekaman bunyi, baik perekaman dari suatu pertunjukan maupun perekaman suara atau perekaman bunyi lainnya. Dalam kasus ini Unsur “Barang Siapa“

ditujukan kepada Manajer Denpasar Mas Karaoke sebagai subjek hukum, maka Penulis berpendapat unsur barang siapa terpenuhi.

Kedua, unsur dengan sengaja dan tanpa hak. Kebanyakan tindak pidana mempunyai unsur kesengajan atau opzet bukan unsur culpa

(kelalaian). Ini adalah layak, oleh karena biasanya yang pantas mendapat hukuman pidana itu ialah orang yang melakukan sesuatu dengan sengaja.

Kesengajan ini dapat berupa kesengajaan yang bersifat tujuan (oogmerk), kesengajaan secara keinsafan kepastian (Opzet bij zekerheidsbewustzijn), dan kesengajaan secara keinsfan kemungkinan (Opzet bij mogelijkheidsbewustzjin).

Mengenai arti tanpa hak dari sifat melanggar hukum, dapat dikatakan bahwa mungkin seseorang tidak mempunyai hak untuk melakukan suatu perbuatan yang sama sekali tidak dilarang oleh suatu peraturan hukum. Menurut ketentuan Pasal 1 angka 4 UUHC, pemegang hak cipta adalah pencipta sebagai pemilik hak cipta atau pihak yang menerima hak tersebut dari pencipta. Pemilik hak cipta dapat mengalihkan atau menguasakan sebagian atau seluruh haknya kepada orang/badan hukum baik melalui perjanjian, surat kuasa maupun dihibahkan atau diwariskan. Tanpa pengalihan atau kuasa tersebut, maka tindakan itu merupakan “tanpa hak” bahwa Denpasar Mas Karaoke telah melakukan dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak hak cipta berupa pengumuman musik / lagu ditempat usahanya tanpa izin dari pemegang hak cipta, pemilik hak terkait atau kuasa atas lagu. Unsur ini terpenuhi karena manajemen Denpasar Mas Karaoke dengan sadar telah mengumumkan atau memperbanyak hak cipta berupa pengumuman musik / lagu ditempat usahanya tanpa izin dari pemegang hak cipta,

pemilik hak terkait atau kuasa atas lagu sendiri yang diakui oleh Yohanes Saleha sendiri.

Hal ini pun didukung oleh keterangan yang mengatakan bahwa Muh. Mustafa selaku Kepala Yayasan Karya Cipta Indonesia Wil.

Sulawesi dan Papua telah mengirimkan surat pemberitahuan, surat pengingat, dan surat peringatan kepada pihak Denpasar Mas Karaoke namun tidak diacuhkan. Inilah hal yang menampakkan bahwa Denpasar Mas Karaoke dengan sengaja melakukan pelanggaran hak cipta.

Keempat, unsur perbuatan dapat dikualifikasikan dalam bentuk mengumumkan. Menurut ketentuan Pasal 1 ayat (5) UUHC, pengumuman adalah pembacaan, penyiaran, pameran, penjualan, pengedaran atau penyebaran suatu ciptaan dengan menggunakan alat apa pun, termasuk media internet, atau melakukan dengan cara apa pun, sehingga suatu ciptaan dapat dibaca, didengar, atau dilihat orang lain; dan unsur memperbanyak (perbanyakan), menurut ketentuan Pasal 1 ayat (6) UUHC, adalah penambahan jumlah suatu ciptaan, baik secara keseluruhan maupun sebagian yang sangat substansial dengan menggunakan bahan-bahan yang sama ataupun tidak sama, termasuk mengalihwujudkan secara permanen atau temporer. Dalam kasus ini Denpasar Mas Karaoke memperdengarkan /mempertontonkan /menyiarkan ciptaan lagu kepada umum yang memutar lagu yang dinyanyikan pengunjung karaoke Denpasar Mas.

Terhadap Perkara Denpasar Mas Karaoke, Penulis belumlah dapat menguraikan bentuk pelanggaran perbanyakan yang dilakukan oleh Denpasar Mas Karaoke karena penelitian terhadap kasus Denpasar Mas Karaoke hanya berdasarkan pada resume laporan Polisi yang tidak dapat membuktikan bahwa rumah bernyanyi karaoke melakukan perbanyakan atas hak cipta lagu. Akan tetapi hal ini tidaklah membuktikan bahwa rumah bernyanyi karaoke tidaklah melakukan pelanggaran dalam bentuk perbanyakan. Penelitian ini akan membuktikan bahwa rumah bernyanyi karaoke selain melakukan pelanggaran dalam hal mengumumkan hak cipta lagu sebagaimana perkara Denpasar Mas Karaoke juga melakukan pelanggaran perbanyakan hak cipta lagu.

Telah diketahui bahwa tidak akan terjadi pelanggaran hak cipta setelah penggunaan materi yang di dalamnya terdapat suatu hak cipta telah memperoleh lisensi dengan syarat dan batasan waktu tanpa mengurangi pembatasan-pembatasan dalam undang-undang.

Setiap tahunnya pihak rumah bernyanyi karaoke memperoleh sertipikat lisensi hak untuk mengumumkan dari YKCI setelah rumah bernyanyi karaoke tersebut membayar royalti kepada YKCI. Diluar dari hak yang diperoleh dari YKCI, rumah bernyanyi karaoke tidak diperkenankan melakukan eksploitasi lain dari materi hak cipta tersebut.

Berikut bentuk perbuatan yang juga Penulis kategorikan sebagai pelanggaran hak cipta. Selain mengumumkan, rumah bernyanyi karaoke

Dokumen terkait