STUDI ISI ALAT PENCERNAAN DAN DERAJAT KEPENUHAN LAMBUNG
Disusun Oleh:
Kelompok 15
Nurul Hidayah H1G014013
Afief Achyad Kurniadi H1H014011
Satrio Haryu Wibowo H1H014046
Damar Lazuardy R. H1K014015
Ratna Juita S. H1K014034
KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN PURWOKERTO
I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Pencernaan adalah proses panyederhanaan makanan melalui mekanisme fisik dan kimiawi sehingga makanan menjadi bahan yang mudah diserap dan diedarkan ke seluruh tubuh melalui sistem peredaran darah. Saluran pencernaan ikan terdiri dari mulut, rongga mulut, faring, esophagus, lambung, pylorus, usus, rectum dan anus. Lambung merupakan bagian dari alat pencernaan pada ikan, dan isinya berupa cairan dan makanan yang telah dicerna dimulut. Hal itu dapat diketahui dengan mempelajari isi dari makanannya apakah ikan tersebut merupakan pemakan plankton, ikan buas, tumbuh-tumbuhan, dan pemakan segala (Lagler 1997 dalam Mulyadi et al., 2010).
Pakan sangat dibutuhkan oleh ikan untuk melangsungkan hidupnya. Fungsi utama pakan adalah untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan.pakan yang dimakan oleh ikan pertama-tama digunakan untuk kelangsungan mempertahankan hidupnya dan kelebihannya akan dimanfaatkan untuk pertumbuhan. Jenis pakan buatan mempunyai banyak kekurangan dibandingkan pakan alami. Komponen penyusun pakan alami lebih lengkap, sehingga ikan cenderung lebih menyukai ikan alami. Segala sesuatu yang dimakan oleh hewan sebagai makanan yang diperlukan oleh tubuh sebagai sumber energi bagi aktivitas hidupnya berasal dari lingkungannya. Selain itu, makanan mempunyai peranan penting untuk melakukan metabolisme tumbuh dan berkembang. Makanan yang dimakan makhluk hidup bermacam-macam jenisnya yang dicerna dengan sistem pencernaan atau organ pencernaan yang dimiliki oleh hewan tersebut (Mahmud,2012).
Derajat kepenuhan lambung dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kepenuhan lambung, yaitu berat dan ukuran tubuh yang berbeda, perbedaan jenis ikan, ukuran dan bentuk lambung, keadaan tubuh ikan, dan perbedaan habitat ikan. Faktor-faktor ini dipengaruhi oleh kebiasaan makanan (Affandi 2002 dalam Hanan, 2013). Kebiasaan makanan ikan berhubungan dengan bentuk, posisi mulut, gerigi dalam rahang, dan kesesuaian tapis insang. Makanan yang tersedia di alam
dimanfaatkan oleh ikan, pemanfaatan ini dapat diketahui dengan mengambil contoh makanan yang ada pada lambungnya dan dilengkapi dengan daftar pakan harian yang diambil ikan dalam berbagai umur dan ukuran sehingga dapat diketahui penggolongan ikan (Affandi 2002 dalam Hanan, 2013).
Makanan yang dimakan ikan mempengaruhi derajat kepenuhan lambung. Untuk mengetahui derajat kepenuhan lambung ikan, yaitu dengan cara membedah perut ikan dan menimbang material yang terdapat dalam perut ikan. Tetapi harus mengetahui kebiasaan makan dan kebiasaan makanan. Kebiasaan makan ikan tidak harus berdasarkan morfologi mulutnya. Karena morfologi fungsional mulut ikan dapat berubah apabila ikan tersebut mengalami pertumbuhan (Hanan, 2013). Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kepenuhan lambung pada ikan Nilem dan untuk mengetahui kebiasaan makanan Ikan Nilem beserta pakan alaminya.
I.2. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui pakan alami yang disukai ikan. Selain itu, juga untuk mengetahui derajat periodisitas makan berdasarkan derajat kepenuhan lambung.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Semua ikan membutuhkan ketersediaan pakan dari materi dan energi yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan perkembangan dalam melangsungkan hidupnya. Penyediaan materi tergantung pada ikan yang memakan materi dari bahan- bahan organik yang ada pada lingkungannya. Bahan makan yang padat menjadi molekul yang sederhana melalui proses yang disebut dengan digesti. Proses ini disebut dengan proses enzimatik dari polisakarida yaitu zat pati menjadi gula, protein menjadi asam amino, lemak menjadi asam lemak dan gliserol, serta asam laktat menjadi nukleotida (Kimmball 1983 dalam Royan, 2012).
Digesti adalah perombakan makanan dari molekul yang kompleks yangdirombak menjadi molekul yang sederhana, dalam bentuk- bentuk seperti glukosa,asam lemak, dan gliserol serta nutrisi-nutrisi lain yang ada dan bermanfaat bagi tubuhikan. Kecepatan pemecahan makanan dari tubuh ikan dari molekul besar kemolekulyang kecil yang akan diabsorpsi oleh tubuh ikan prosesnya disebut laju digesti.Sedangkan zat-zat yang dibutuhkan dan yang akan diabsorpsi ikan melaui darah juga akan diedarkan keseluruh tubuh untuk keperluan metabolisme (Murtidjo dalam Royan, 2012).
Pakan ikan adalah merupakan campuran berbagai bahan pangan yang biasa disebut dengan bahan mentah atau bahan baku yang baik bagi pertumbuhan ikan,baik yang bersifat nabati ataupun yang bersifat hewani,yang diolah sedemikian rupa sehingga mudah untuk dimakan dan di cerna oleh tubuh ikan. Pakan ikan adalah makanan yang khusus dibuat atau diproduksi agar mudah dan tersedia untuk dimakan. Pakan ikan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan tubuh ikan (Sirregar dalam Royan, 2012).
Komposisi pakan ikan tersebut terdiri dari fitoplankton, zooplankton, dan potongan daun serta larva serangga. Komposisi terbesar terdapat pada fitoplankton dan diikuti zooplankton dan berdasarkan waktu makannya Ikan Nilem (Ostechilus hasselti) aktif mencari makan pada siang hari atau biasa disebut ikan diurnal. Faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi pola pakan ikan antara lain temperatur, umur, ukuran tubuh, aktivitas, stress, jenis kelamin, kekeruhan (pada visibilitas dan kandungan O2)
dan faktor-faktor kimia dalam perairan (kandungan O2, CO2, H2S, pH, dan alkalinitas) (Syamsuri, 2004).
Derajat kepenuhan lambung merupakan volume material lambung yaitu jumlah isi material yang berada pada lambung pada waktu tertentu dibagi dengan volume total lambung yaitu jumlah kapasitas total lambung. Fungsi dari pengukuran derajat kepenuhan lambung ini adalah untuk peggolongan ikan termasuk ke dalam herbivore, karnivora atau omnivore. Derajat kepenuhan lambung dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kepenuhan lambung, yaitu berat dan ukuran tubuh yang berbeda, perbedaan jenis ikan, ukuran dan bentuk lambung, keadaan tubuh ikan, dan perbedaan habitat ikan. Faktor-faktor ini dipengaruhi oleh kebiasaan makanan (Affandi 2002 dalam Hanan, 2013). Kebiasaan makanan ikan berhubungan dengan bentuk, posisi mulut, gerigi dalam rahang, dan kesesuaian tapis insang. Makanan yang tersedia di alam dimanfaatkan oleh ikan, pemanfaatan ini dapat diketahui dengan mengambil contoh makanan yang ada pada lambungnya dan dilengkapi dengan daftar pakan harian yang diambil ikan dalam berbagai umur dan ukuran sehingga dapat diketahui penggolongan ikan (Affandi 2002 dalam Hanan, 2013).
III. MATERI DAN METODE
3.1. Materi
3.1.1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain alat bedah, baki preparat, benang, tabung reaksi, mikroskop, kaca preparat, alat suntik dan pipet tetes.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah berbagai spesies ikan dan aquades.
3.2. Metode
Cara kerja untuk praktikum Biologi Perikanan pada acara studi isi alat pencernaan dan derajat kepenuhan lambung yang pertama ikan dimatikan, kemudian dibedah. Selanjutnya, kedua ujung lambung diikat dengan benang dan bagian depan dan belakang lambung sekitar ikatan diikat. Setelah itu, disuntik dengan aquades sampai penuh dan dicatat penambahan volume aquadesnya. Setelah lambung disuntik kemudian isi lambung dikeluarkan dan dimasukan ke dalam gelas ukur. Selanjutnya dihitung derajat kepenuhan lambungnya menggunakan rumus DKL= volumeisitotallambungvolumeisimaterial x100%. Yang terakhir jenis pakan alami diamati dengan langkah-langkah sebagai berikut diambil beberapa tetes isi lambung dari gelas ukur, kemudian diletakkan di atas gelas preparat. Ditutup dengan cover glass dan diamati dengan mikroskop. Setelah itu, dicatat hasil yang diperoleh.
3.3. Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Pemanfaatan Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Jenderal Soedirman. Praktikum dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada hari Minggu, 8 Oktober dan 15 Oktober 2015 pukul 13.00 WIB sampai selesai.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil
Tabel 7. Hasil Pakan Alami ikan Nilem ( Osteochilus hasselti ) Hasil Pakan Alami
1. Plankton 2. Perifiton 3. Tumbuhan Air
Tabel 8. Pengamatan DKL lambung ikan Nilem ( Osteochillus hasselti ) Lambun
g ke-
Vol. isi total lambung (ml) Volume isi material (ml) Volume air (ml) DKL % 1. 0,2 0,1 0,1 50 2. 0,3 0,1 0,2 33,33 3. 0,3 0,1 0,2 33,33 4. 0,2 0,1 0,1 50 5. 0,3 0,1 0,2 33,33 6. 0,4 0,3 0,1 75 7. 0,3 0,1 0,2 33.33 8. 0,3 0,2 0,1 66,67 9. 0,4 0,2 0,2 50 10. 0,5 0,1 0,4 20 11. 0,4 0,1 0,3 25 12. 0,4 0,1 0,3 25 13. 0,4 0,2 0,2 50 14. 0,3 0,1 0,2 33,33 15. 0,5 0 0,5 - 16. 0,8 0,3 0,5 37,5 17. 0,9 0,2 0,7 22,22 18. 0,9 0,2 0,7 22,22 19. 0,3 -0,5 0,8 -166,7 20. 0,7 0 0,7 0 4.2. Pembahasan
Derajat kepenuhan lambung yang diamati, yaitu pada ikan Nilem ( Osteochillus hasselti ) pertama memiliki derajat kepenuhan lambung 50%, ikan kedua 33,33%, ikan ketiga 33,33%, ikan keempat 50%, ikan kelima 33,33%, ikan keenam 75%, ketujuh
33,33%, kedelapan 66,67%, kesembilan 50%, kesepuluh 20%, kesebelas 25%, kedua belas 25%, ketiga belas 50%, keempat belas 33,33%, kelima belas 0%, keenam belas 37,5%, ketujuh belas 22,22%, kedelapan belas 22,22%, kesembilan belas -166,7%, kedua puluh 0% dan rata-rata derajat kepenuhan lambung ikan Nilem yaitu 23,178%.
Ikan nilem hidup di lingkungan air tawar dengan kisaran kandungan oksigen terlarut yang cukup yaitu 5-8 mg/L. Di daerah tropis umumnya ikan nilem dipelihara dengan baik pada daerah dengan ketinggian 150 – 1000 m dari permukaan laut, tapi ketinggian optimumnya 800 m dari permukaan laut. Ikan nilem akan melakukan pemijahan pada kondisi oksigen berkisar antara 5-6 mg/L, karbondioksida bebas yang optimum untuk kelangsungan hidup ikan yaitu ≤ 1 ppm. Suhu yang optimum untuk kelangsungan hidup ikan nilem berkisar antara 18 - 28°C dan untuk pH berkisar antara 6 - 8,6 ppm, serta kandungan ammonia yang disarankan adalah < 0,5 mg/L (Dewi et al., 2011).
Analisis isi lambung dengan kelas ukuran standard panjang mengindikasikan tingginya derajat dari kecernaan pakan dari semua standard ukuran panjang (Dalu et al, 2012). Hal ini hampir mustahil untuk mengumpulkan informasi yang cukup dari makanan dan makan kebiasaan ikan di habitat alami mereka tanpa mempelajari isi ususnya. Melalui pengetahuan pada sebuah makanan dan kebiasaan makan ikan menyediakan kunci untuk pemilihan spesies yang dapat dibudidayakan dan pentingnya informasi yang diperlukan untuk sukses dalam budidaya ikan dari kebiasaan makan ikan yang berbeda bervariasi dari bulan ke bulan. Daya tampung dari ikan Nilem adalah kurang lebih antara 0 – 75% (Manon, 2011).
Analisis variasi bulanan kepenuhan perut menunjukkan bahwa intensitas makan berfluktuasi sepanjang tahun. fluktuasi bulanan juga disaksikan dalam terjadinya persentase lambung dengan derajat yang berbeda kepenuhan. jelas bahwa persentase yang lebih tinggi dari kepenuhan perut tercatat di pra-musim karena pra-pemijahan proses penggemukan. persentase yang lebih tinggi dari kekosongan perut tercatat di musim hujan, karena kelaparan selama musim berkembang biak (Mushahida-Al- Noor,2013).
Analisis terhadap isi saluran pencernaan ikan dilakukan untuk mengetahui kebiasaan makan nilem. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : ikan hasil tangkapan dibedah dan diambil saluran pencernaannya. Kemudian dimasukkan ke dalam wadah sampel serta diawetkan dengan formalin 5 %. Sampel tersebut diberi label berisi keterangan lokasi dan waktu pengambilan sampel. Isi usus yang berukuran makroskopis dan mikroskopis dipisahkan. Isi alat pencernaan yang telah dipisahkan kemudian diperiksa di bawah mikroskop dan setiap jenis organisme yang terdapat dalam isi alat pencernaan langsung diidentifikasi dan dihitung jumlahnya (Ekawati, 2010).
Derajat kepenuhan lambung dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kepenuhan lambung, yaitu berat dan ukuran tubuh yang berbeda, perbedaan jenis ikan, ukuran dan bentuk lambung, keadaan tubuh ikan, dan perbedaan habitat ikan. Faktor-faktor ini dipengaruhi oleh kebiasaan makanan (Affandi 2002 dalam Hanan, 2013). Kebiasaan makanan ikan berhubungan dengan bentuk, posisi mulut, gerigi dalam rahang, dan kesesuaian tapis insang. Makanan yang tersedia di alam dimanfaatkan oleh ikan, pemanfaatan ini dapat diketahui dengan mengambil contoh makanan yang ada pada lambungnya dan dilengkapi dengan daftar pakan harian yang diambil ikan dalam berbagai umur dan ukuran sehingga dapat diketahui penggolongan ikan (Affandi 2002 dalam Hanan, 2013).
Rostika (2011) menyatakan bahwa ikan Nilem termasuk ikan omnivora, karena ikan tersebut memakan tumbuhan dan hewan yang menempel pada kerikil sebagai pakan alaminya. Haryono (1994) melaporkan bahwa pakan alami ikan Nilem berupa fitoplankton, zooplankton, potongan tumbuhan, detritus, gastropoda, cacing dan potongan hewan. Dalam budidaya ikan Nilem, pakan yang Diberi kan berupa pakan buatan (pelet) yang kandungan dan komposisinya dibuat sama dengan pakan alaminya. Jenis pakan yang dikonsumsi oleh ikan mempunyai keterkaitan dengan system pencernaan dan absorbsi yang dimiliki oleh masing-masing jenis ikan (Fujaya, 2014).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
V.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum studi isi alat pencernaan dan derajat kepenuhan lambung adalah sebagai berikut:
1. Ikan Nilem termasuk golongan ikan herbivora.
2. Pakan alami ikan Nilem adalah plankton, perifiton, dan tumbuhan air, serta derajat kepenuhan lambungnya berkisar antara 0% - 75%.
V.2. Saran
Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk memahami karakteristik ikan terhadap isi lambungnya. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan analisis lebih lanjut supaya data yang didapatkan dapat membantu pembudidaya untuk mendapatkan hasil yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Affandi, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara, Yogyakarta.
Dewi, Imelda Roesma, Putra Santoso. 2011. Morphological divergences among three sympatric populations of Silver Sharkminnow (Cyprinidae: Osteochilus hasseltii C.V.) in West Sumatra. Biodiversitas. 12 (3) : 141-145.
Ekawati, D. 2010. Studi Kebiasaan Makan Nilem (Osteochillus hasselti) yang Dipelihara pada Keramba Jaring Apung di Waduk Ir. H. Djuanda, Jawa Barat. Jurnal Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. 1(2).
Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Cetakan pertama. Rineka Putra. Jakarta.
Hanan, hanifah. 2013. Laporan praktikum FHA laju Pengosongan Lambung. http://www.academia.edu. Diakses pada 3 Desember 2015.
Manon,M.R dan Hossain,M.D. 2011. Food and Feeding Habit of Cyprinus carpio var. specularis. J. Sci. Foundation. 9 (1&2): 163-181.
Mushahida-Al-Noor, Syeda, Sheikh Kamruzzaman, and Md Delwer Hossain. 2013. Seasonal Variation of Food Composition and Feeding Activity of Small Adult Barramundi (Lates calcarifer, Bloch) in the South west Coastal Water near Khulna, Bangladesh. Our Nature. 10 (1): 119-127.
Rostika, Rita, dan Yayat Dhahiyat. 2011. Pengaruh Tingkat Pemberian Pakan Terhadap Laju Pertumbuhan dan Deposisi Logam Berat pada Ikan Nilem di Karamba Jaring Apung Waduk Ir. H. Djuanda. Jurnal Akuatika. 2 (2)
LAMPIRAN 3
Gambar 8. Calothrix
Gambar 10. Lacrymaria sp.
Gambar 11. Navicula insuta
Gambar 12. Synedra ulna Rumus Perhitungan :
Data Perhitungan :
volume isi material
volume totallambung x 100%
= 0,1
0,2 x 100 %
= 50 % Ikan ke-1
volume isi material
volume totallambunng x 100%
= 0,10,3 x 100 %
= 33,33 % Ikan ke-2
volume isi material
volume totallambung x 100%
= 0,1
0,3 x 100 %
volume isi material
volume totallambung x 100%
= 0,1
0,2 x 100 %
= 50 % Ikan ke-4
volume isi material
volume totallambung x 100%
= 0,10,3 x 100 %
= 33,33 % Ikan ke-5
volume isi material
volume totall x 100%
= 0,3
0,4 x 100 %
= 75 % Ikan ke-6
volume isi material
= 0,1
0,3 x 100 %
= 33,33 % Ikan ke-7
volume isi material
volume totallambung x 100%
= 0,20,3 x 100 %
= 66,67 % Ikan ke-8
volume isi maaterial
volume totallambung x 100%
= 0,20,4 x 100 %
= 50 % Ikan ke-9
volume isi material
volume totallambung x 100%
= 0,1
= 20 % Ikan ke-10
volume isi material
volume totallambung x 100%
= 0,1
0,4 x 100 %
= 25 % Ikan ke-11
volume isi material
volume totallambung x 100%
= 0,1
0,4 x 100 %
= 25 % Ikan ke-12
volume isi material
volume totallambung x 100%
= 0,20,4 x 100 %
volume isi mater ial
volume totallambung x 100%
= 0.1
0,3 x 100 %
= 33,33 % Ikan ke-14
volume isi material
volume totallambung x 100%
= 00 x 100 %
= - Ikan ke-15
volume isi material
volume totallambung x 100%
= 0,3
0,8 x 100 %
= 37,5 % Ikan ke-16
volume isi material
= 0,2
0,9 x 100 %
= 22,22 % Ikan ke-17
volume isi material
vol umetotal lambng x 100%
= 0,20,9 x 100 %
= 22,22 % Ikan ke-18
volume isi material
volume totallambung x 100%
= −0.30,5 x 100 %
= -166,7 % Ikan ke-19
Volume isi material
volume totallambung x 100%
= 0,0
= 0 % Ikan ke-20